Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Fandom:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Stats:
Published:
2021-11-27
Completed:
2021-11-27
Words:
13,998
Chapters:
2/2
Kudos:
2
Hits:
134

Fifty Shades Of Yoo Yongha — Write.as

Chapter Text

 

Fifty Shades Of Yoo Yongha — Write.as

write.as

1,464 views

Fifty Shades Of Yoo Yongha


Tags: 10,1k+ words, long-ass narration, Yongyoh, Top!Yong, Bot!Yoh, Bahasa (semi baku-non baku), arranged marriage, fluff, 🔞, kinda BDSM, mirror-sex


Hari ini tepat satu tahun Yohan melepas masa lajangnya dengan seorang lelaki kaya raya bernama Yoo Yongha. Iya, Yohan telah menikah diumurnya 25 tahun, sementara Yongha berumur 32 tahun. Perbedaan umur mereka memang cukup jauh, namun Yohan sama sekali tidak peduli selama ia bisa hidup dengan tenang tanpa perlu pusing mencari uang.

Awal mula ia bisa menikah dengan pria kaya raya ini pun bisa dibilang klasik. Yongha mengaku tertarik dengannya dan membayar kepada ibunya sejumlah uang yang tidak pernah Yohan sangka, lalu akhirnya mereka menikah.

Lalu mengapa Yohan menyetujuinya? Ia lelah menjadi miskin. Ia bisa berpura-pura mencintai Yongha, menikmati hartanya, menyimpan sedikit di rekeningnya untuk berjaga-jaga bila Yongha membuangnya nanti. Jauh lebih baik dibanding bekerja kesana kemari dengan penghasilan yang minim.

Mengapa seorang Yoo Yongha bisa tertarik padanya? Yohan sendiri tidak tau.

Namun menurutnya, Yongha hanya menikahinya demi formalitas. Ayolah, banyak pebisnis yang kesulitan mencari pasangan karena mereka terlalu gila kerja dan tidak memiliki waktu untuk kencan romantis.

Orang-orang mungkin berfikir Yongha mencintai Yohan seperti kebanyakan drama picisan orang kaya yang menyukai orang miskin. Namun jawabannya tidak. Yohan seratus persen yakin Yongha tidak mencintainya.

Ia bisa seyakin ini karena selama Yohan tinggal di mansion mewah milik Yongha, mereka tidak pernah bersentuhan. Yohan sempat berinisiatif menyentuh Yongha, namun pria itu lebih dulu menolaknya halus.

Selama satu tahun tinggal bersama, Yongha tidak pernah mengecup keningnya sebelum pergi bekerja. Ah, lupakan kecupan kening. Yongha bahkan tidak pernah menggenggam tangannya kecuali saat mereka mengucap janji di altar tahun lalu. Lebih gilanya lagi mereka tidur di kamar yang terpisah. Yongha dibagian kiri bangunan sementara Yohan berada dibagian kanan.

Aneh. Namun lebih anehnya alih-alih merasa bebas, Yohan justru merasa tidak dihargai. Apa ia se-tidak menarik itu hingga Yongha tidak ingin menyentuhnya? Padahal Yohan tidak masalah jika Yongha ingin berhubungan seks atau apapun, lagipula mereka memang sudah menikah.


Yohan bangun pukul 06:30 pagi. Ia memakai bando kelinci sebelum mencuci wajahnya agar rambut kelamnya tidak basah.

Kakinya berderap keluar kamar. Melangkah menuju kesisi kiri bangunan dimana kamar tidur suaminya berada. Begitu sampai di depan pintu kamar, alih-alih membuka pintu, ia hanya mengetuk pintunya perlahan.

“Sudah bangun?”

Tidak ada jawaban.

Perlahan ia membuka pintu kamar itu, mengintip sedikit melalui celah pintu. Samar, suara gemericik air terdengar. Ah, rupanya sudah bangun. Lalu pintu kamar kembali ia tutup.

Ia kembali berderap, kini menuruni anak tangga lalu menuju kearah pantry untuk menyiapkan sarapan. Yohan berencana membuat sarapan yang special mengingat hari ini satu tahun pernikahan mereka.

Sibuk menyiapkan sarapan, akhirnya ia mendengar suara pintu kamar yang terbuka lalu  suara derap langkah yang mendekat.

Senyum mengulas di wajah Yohan. “Selamat pagi. Hari ini aku siapin sarapan yang spesial.”

“Tidak perlu.” Yongha merapikan jas hitamnya. “Saya ada meeting penting pagi ini. Jadi sepertinya akan sarapan di kantor. Maaf.”

Yohan mengangguk paham. “Gapapa.” Netranya menatap sekeliling berusaha mencari topik pembicaraan. Bahkan sudah setahun rasanya masih canggung. “Jadi langsung berangkat?”

Yongha mengangguk. Netranya menatap lamat penampilan Yohan dari atas kebawah, “Saya harap kamu tidak keluar dengan pakaian seperti itu.” Setelahnya ia mengambil tas jinjingnya. “Saya berangkat.”

“Oh, oke. Hati-hati dijalan.” Tangannya melambai meski tidak mendapatkan balasan apapun sampai punggung suaminya menghilang  dibalik pintu.

Tidak ada kecupan, bahkan ucapan untuk anniversary pernikahan mereka. Apa yang Yohan harapkan dari seorang pria yang gila kerja?

Yohan melangkah ke depan kulkas. Memeriksa penampilannya pada pantulan pintu kulkas yang mengkilap. Tidak ada yang salah dengan pakaiannya. Ia menggunakan kaos putih kebesaran dengan celana pendek hitam yang tertutup dibalik kaos dan bando kelinci miliknya di kepala. “Dasar aneh.” Gumannya.

Pada akhirnya semua sarapan yang telah ia siapkan masuk ke dalam perutnya dibandingkan harus membuangnya percuma.


Kakinya melangkah menyusuri kota. Yohan menghabiskan waktunya untuk membeli banyak pakaian atau barang-barang tidak penting ㅡmenghibur dirinya karena tidak mendapatkan hadiah spesial di anniversary pernikahan. Kepalanya menoleh kekanan kiri, mencari presensi temannya yang mengajak bertemu untuk makan bersama.

“Oh, Wooseok!”

Dari kejauhan Wooseok melambaikan tangan lalu berderap mendekat. “Wow! Kim Yohan, lo banyak berubah.”

Yohan hanya tertawa menanggapi. Tentu saja. Terakhir kali ia bertemu dengan Wooseok, saat ia masih bekerja sebagai pengantar pesanan disalah satu kedai pizza. Wooseok adalah pemilik kedainya. Meski begitu, mereka berteman cukup baik.

“Mau langsung makan atau keliling dulu?”

Yohan sedikit berpikir, sebelum memutuskan untuk langsung makan karena perutnya sudah ribut minta diisi. Padahal ia sudah makan banyak tadi pagi.


“Jadi lo beneran nikah sama cowo yang 'itu'.”

Yohan mengangguk sambil melahap slice pizza ditangannya. Maksud Wooseok mengatakan 'itu' karena Yongha pernah mampir ke kedainya untuk menitipkan sepuluh box vitamin hanya karena Yohan terlihat tidak enak badan saat mengantar pesanan pizzanya.

Saat itu Wooseok pikir Yongha hanya orang kaya yang bingung bagaimana menghabiskan uangnya. Tidak menyangka jika pria kaya raya itu tertarik dengan salah satu staffnya dan berujung menikah.

“Kenapa gak ngundang gue?”

Kini Yohan meringis. “Semua temen gue gak gue undang. Takut minder disana soalnya demi Tuhan gue aja minder habis.”

Bukan tanpa alasan Yohan mengatakan ini, karena upacara pernikahan mereka diadakan di gedung mewah di lantai enam puluh dengan tamu undangan yang semuanya orang-orang dengan status sosial tinggi. Tidak ada tikus got seperti Yohan disana. Bahkan saat ia dan suaminya menyapa tamu-pun, ia tidak bisa bicara karena pembahasan mereka hanya mengenai bisnis, brand, saham, property dan warisan.

Tikus got sepertinya tidak akan mengerti.

“Terus sekarang kenapa lo keliatan bosen gitu?”

Yohan mengangkat wajahnya. Netra bulat itu menatap rekannya lamat. “Gue keliatan bosen ya?”

Wooseok mengangguk, “Dia ngebosenin?”

Entahlah. Yohan juga tidak mengerti, suaminya yang membosankan atau justru ia yang tidak menarik?

“Selama setahun ini, dia gak pernah nyentuh gue.”

Wooseok nyaris tersedak nasi. “Apa lo bilang?”

“Gue gak pernah disentuh. Bahkan pegangan tangan aja sewaktu hari pernikahan doang.”

“Gila. Jadi kalian belum nge-seks?”

Gelengan kepala rekannya membuat Wooseok menatap takjub. “Terus ngapain dia nikahin lo?”

“Gue juga nanya hal yang sama. Biasanya orang-orang kaya itu kan brengsek ya. Suka bayar orang buat diajak tidur. Tapi ini malah engga.”

Wooseok berpikir keras, lalu jemarinya menjentik di udara, “Dia aseksual kali?”

“Gak mungkin deh.” Yohan melipat tangannya di atas meja. Mencondongkan sedikit tubuhnya sebelum bergumam pelan, “Dia sering ngeliatin gue kayak nelanjangin gitu. Penuh nafsu, tapi herannya dia gak kegoda buat nyentuh gue.”

“Terus kenapa gak nyentuh lo?” Wooseok memindai tubuh pemuda dihadapannya. “Lo menarik kok.”

“Ya kan.” Jemarinya menyisir helainya kebelakang. “Gue menarik, banyak yang naksir gue.”

“Terus menurut lo kenapa dia gak mau nyentuh lo?”

“Kayaknya dia cowo workaholic yang mengabdi untuk bekerja. Istilahnya cowo sinting yang mau nyari uang tapi gak tau cara ngabisin duitnya.”

Wooseok tertawa, “Enak di lo dong kalo gitu?”

“Ya gak enak juga sih kalo kebutuhan birahi gue gak terpenuhi.”

Tisue yang Wooseok gunakan untuk membersikan mulutnya, ia lempar ke arah Yohan. “Kalo gitu lo duluan yang mepet. Mungkin dia kaku gitu karena kebiasaan kerja, gak pernah punya seseorang yang harus dijaga gitu.”

“Caranya?”

“Lo pernah ke kantornya gak?”

Yohan menggeleng.

Wooseok mendecak kesal. “Kenapa bisa sih Yongha tertarik sama lo.” Nafasnya mendengus gusar, “Coba sekali-sekali lo main ke kantornya terus bawain makan siang atau apa gitu.”

“Gitu?”

“Ya, gitu.”


Pukul empat sore Yohan kembali ke mansion mewah suaminya. Mobilnya terparkir bersama dengan puluhan mobil disana. Saat Yohan bilang suaminya kaya raya, ia tidak berbohong.

Yongha memiliki puluhan mobil limited edition di garasinya. Bahkan terkadang Yohan bingung harus menggunakan mobil yang mana. Luasnya tempat penyimpanan mobil ini hampir sama dengan luas parkiran mall.

Jangan lupakan kolam berenang yang bisa menampung ratusan ikan koi dan mereka tetap bisa berenang bebas seperti dilautan. Bangunan megah berlantai tiga yang membuat Yohan harus mempelajari denahnya selama seminggu penuh, itupun ia masih lupa beberapa tempat. Mansion ini bahkan bisa menampung keluarga besar mereka hingga tujuh turunan dan masih menyisakan kamar kosong.

Yohan juga diberikan dua blackcard yang bisa ia gunakan sesuka hati. Yongha tidak pernah mengeluh jika Yohan membeli barang-barang mahal.

Kakinya berderap masuk ke dalam rumah. Tubuhnya sedikit tersentak melihat presensi suaminya yang tengah meneguk minuman di pantry.

“Loh, kok sudah pulang?”

Yongha menoleh, meneguk airnya hingga tandas lalu mengusap bibirnya dengan punggung tangan. Netranya menatap canggung, “Mau makan malam di luar?”

Netra bulat itu mengerjap, kakinya melangkah mendekat. “Tumben?”

“Eumㅡ saya lupa hari ini satu tahun pernikahan kita. Tadi pagi kamu membuat sarapan spesial karena itu, kan?”

Mulutnya terbuka ingin mengucapkan sesuatu, namun tidak ada kata yang berhasil keluar. Terlalu terkejut karena ternyata suaminya mengingat hari ini.

“Bagaimana? Atau kamu sudah ada acara lain?”

Kepalanya menggeleng rusuh, “Engga, kok. Gara-gara ini kamu pulang cepet?”

“Iya.”

Satu kata yang menjadi jawaban itu berhasil membuat wajah Yohan memanas. Apa yang salah dengannya? Jawaban suaminya hanya satu kata bahkan tidak romantis sama sekali, mengapa ia jadi segugup ini?

“O-oh, oke. Mau makan dimana?”

“Saya yang pilih tempatnya, jam enam nanti kita berangkat.” Setelahnya Yongha berderap melewati Yohan lalu menaiki anak tangga.

Namun ketika di anak tangga ke lima, tubuhnya berbalik. “Kamu bisa pakai sweater merah muda nanti?”

Yohan mengernyit, “Bisa, tapi kenapa?”

Yongha tersenyum tipis, “Kamu terlihat lebih manis, saya suka.” Setelahnya ia kembali melanjutkan langkah lalu menutup pintu kamarnya.

Sementara Yohan masih berdiri disana. Sibuk mengatur debar jantungnya yang tiba-tiba meningkat begitu melihat senyum dan mendengar satu kalimat yang sialnya berhasil membuat wajahnya memerah.


Yohan langsung menggeledah wardrobenya, mencari semua setelan berwarna pinknya lalu mencocokan di depan cermin. Berkali-kali melempar asal pakaian yang dirasanya tidak cocok.

Tunggu.

Ia terdiam. Mengapa ia terlihat seperti seorang gadis yang tengah bersiap untuk kencan pertama? Ini jelas-jelas bukan kencan ala remaja di serial drama. Mereka sudah menikah, pasti kencan mereka nanti seperti pasangan suami-istri kebanyakan.

Namun tetap saja Yohan tidak bisa tenang sebelum mendapatkan pakaian yang pas.

Ia mengerang frustasi. Seharusnya Yongha mengabarinya sejak tadi agar Yohan bisa membeli pakaian baru di mall.

Ah, lupa.

Mereka bahkan sangat jarang menghubungi satu sama lain.


Canggung, canggung, canggung sekali.

Yohan terus merapalkan kata itu dalam hatinya sejak ia menuruni anak tangga dan Yongha telah menunggu di ujungnya. Ia pikir Yongha akan mengulurkan tangannya lalu menggenggam tangan Yohan, namun lupakan saja. Pria itu justru melangkah lebih dulu setelah berhasil membuat Yohan gugup setengah mati.

“Cantik.”

Bahkan saat mereka berada di mobil bugatti chiron merah milik Yongha, Yohan tidak henti memainkan jemarinya. Berusaha mengusir rasa gugupnya.

Kepalanya menoleh keluar, menatap jalanan kota yang masih sangat ramai. Berusaha mencari obrolan untuk menghilangkan sunyi di dalam mobil ini, namun buntu. Ia tidak bisa berpikir.

“Maaf. Saya hampir lupa hari ini.”

Yohan menoleh cepat. “Gak masalah kok. Tiba-tiba kamu inget aja sudah bagus.”

“Saya tidak akan ingat bila sekretaris saya tidak mengatakannya.”

Mulutnya membulat. Yohan pikir Yongha mengingatnya sendiri. Ia lupa pria itu memiliki manusia pengingat hari-hari penting. Lain kali Yohan harus berterimakasih pada sekretaris suaminya.

“Jadi kalau sekretarismu tidak mengingatkan, kita akan melewatkan hari ini begitu saja?”

Yongha mengangguk, “Mungkin juga saya masih di kantor sekarang.”

Oh, lihatlah. Suaminya bahkan tidak bisa berbohong demi menyenangkan hatinya. Lagipula apa juga yang Yohan harapkan dari pria sinting ini.

Sampai di tempat makan malam mereka, Yohan tidak henti menatap takjub. Tempat termewah dan paling romantis di Seoul di sewa penuh oleh suaminya. Benar-benar kebiasaan orang kaya.

Salah satu kursi ditarik, “Silahkan.”

Yohan tersenyum tipis, lalu mendudukan dirinya disana. Setelahnya Yongha duduk dihadapannya.

“Kamu mau makan apa?”

Yohan menggigit bibir bawahnya. Ia tidak mengerti tulisan yang tercetak di menu. Namun dengan yakin ia berucap, “Saya mau makanan paling mahal disini. Minumannya juga, wine yang paling mahal.” Ia beralih menatap suaminya, “Gak masalah, kan?”

Yongha tersenyum tipis, “Tentu saja.” Ia melirik kearah waiters, “Saya samakan saja.”

Selama menunggu pesanan mereka, tidak banyak pembicaraan yang terjadi. Yohan sibuk dengan jemarinya yang bertaut gugup karena Yongha dihadapannya hanya memandangnya dalam diam.

Ingin rasanya Yohan berteriak marah agar pemuda itu berhenti memandangnya intens. Rasanya kesal sekali ketika dirinya tidak bisa mengontrol ekspresi dan rasa gugupnya.

Sampai akhirnya suara dering ponsel suaminya terdengar nyaring, Yohan baru bisa bernafas lega.

Namun Yongha justru enggan menjawab panggilan itu.

“Kenapa dimatiin? Siapa yang nelpon?”

“Junseo, sekretaris saya.”

“Kalau sudah sampai di telfon bukannya ada hal penting?”

Yongha mengangguk, “Benar.”

Yohan mengernyit marah, “Lalu kenapa gak dijawab telfonnya?”

“Kamu lebih penting.”

Oh ayolah, bagaimana bisa suaminya mengatakan hal krusial begini dengan wajah yang biasa saja seolah kalimatnya tidak berpengaruh apapun bagi kesehatan jantung Yohan?

“Tapi itu bukan jadi alasan untuk mengabaikan staffmu. Siapa tau memang ada hal yang benar-benar penting.”

Yongha menyandarkan punggungnya, “Jika saya menjawab telfonnya bisa menghabiskan waktu berjam-jam. Pekerjaan bisa saya bahas besok, tapi hari ini akan berakhir berapa jam lagi.”

Yohan terdiam begitu melihat wajah serius suaminya. Yongha benar-benar ingin merayakan anniversary pernikahan mereka. Apa ini artinya Yongha memang mencintainya?

“Maaf, aku cuma gak mau jadi penghambat pekerjaanmu.”

Suara kekehan terdengar. Yongha mengulurkan tangannya untuk mengusap pipi Yohan, membuat netra pemiliknya membulat kaget.

Ini pertama kalinya kulit mereka bersentuhan dengan sengaja selain di altar.

“Saya paham rasa khawatirmu, tapi kamu tidak pernah jadi penghambat, Yohan.”

Yohan merasa wajahnya memanas. Apa ini artinya Yongha mencintainya?

“Yongha, apa kamuㅡmencintaiku?”

Yongha tersenyum tipis, “Tentu saja, saya mencintai kamu lebih dari apapun, Yohan.”


Yohan terus melantur tak jelas. Entah menggumamkan apa, tapi sejak tadi suaranya terus terdengar. Bahkan ketika Yongha menggendongnya di punggung dan membawanya masuk ke dalam kamar, Yohan tak juga berhenti.

Lain kali Yongha tidak akan mengijinkan suaminya ini untuk minum berlebihan.

Tubuh Yohan dijatuhkan ke ranjang dan langsung meringkuk mencari posisi yang nyaman. Yongha menghela nafas pelan, ia tidak pernah menyangka Yohan akan jadi semabuk ini.

Tangannya melepas sepatu yang dikenakan Yohan, lalu berniat melepas ikat pinggang agar suaminya bisa tidur lebih nyaman. Namun ketika pengaitnya dilepas, kedua pergelangan tangan Yongha justru digenggam erat.

“Yohanㅡ”

Let's do it, Yong.” Netra bulat itu menatap sayu. Bibir merahnya terbuka dengan tetesan liur di sudutnya, ditambah wajah yang merona membuat Yongha mati-matian menahan dirinya.

“Lakuin apa? Jangan ngelantur kamu.”

“Seks.”

Yongha mendelik. Ia tidak menyangka Yohan akan mengatakannya secara gamblang disaat mabuk begini. “No.

Yohan merengut, “Why~? Do you hate me?

I love you.

“Makanya ayo, Yong.”

Yohan menarik tangan suaminya hingga tubuh itu jatuh diatas tubuhnya, lalu melingkarkan lengannya dibahu. “Touch me, please.

“Yohan, kamu sedang mabuk. Saya tidak akan melakukannya ketika kamu mabuk.”

“Lo gak suka sama gue kan?” Meski netra bulat itu masih menatap sayu, ada kilatan marah disana. “Apa gue gak menarik sampe lo gak mau nyentuh gue? Terus buat apa lo nikah sama gue?”

“Yohan, sebaiknya kamu istirahat.”

“Kalo lo gak mau nyentuh, mending ceraiin aja gue.”

Yongha mendengus gusar. Ia meraih kedua tangan Yohan, menggenggam pergelangan tangan itu dengan satu tangannya, lalu ia tahan di atas kepala Yohan. Lampu kamar tidak menyala, pun lampu tidurnya. Hanya ada penerangan dari lampu di luar kamar yang masuk melalui celah pintu yang terbuka. Namun Yohan dapat melihat jelas kilatan marah dari pupil suaminya.

“Jangan pernah bilang cerai lagi. Kamu paham?”

Ekspresi ini, aura ini, suara rendah ini. Selama setahun mereka menikah, ini pertama kalinya Yongha bersikap begini. Biasanya pemuda itu akan bersikap tenang meski Yohan selalu bertingkah kekanakan.

Namun bukannya takut, Yohan justru merasa ada sengatan di perutnya, turn on.

Kepalanya menggeleng rusuh, “Pokoknya lo sentuh gue, sentuh gue!” Yohan berontak. Kakinya menendang-nendang di udara.

“Kim Yohan.” Satu tangannya yang bebas menahan paha Yohan, lalu ia menindih tubuh dibawahnya hingga fabrik yang mereka gunakan saling bergesekan. “Diam.”

Satu kata itu berhasil membuat Yohan berhenti. Netra bulat itu berair, “Yongha benci gue.” Air matanya menetes membuat Yongha terkejut bukan main.

“Hey, baby.” Ia memiringkan kepalanya untuk mengintip wajah Yohan yang menoleh ke samping. “Look at me. Saya akan kasih kamu hadiah.”

Secepat itu Yohan langsung menatap suaminya, “Hadiah?”

Yongha menghela nafas pelan. Ia melepas dasinya, mengikat kedua tangan suaminya lalu kembali menahannya keatas. “Jangan sampai tangan kamu turun, oke?”

Yohan mengangguk patuh membuat senyum mengulas di wajah Yongha, “Good boy.

Kedua tangannya menumpu disisi tubuh Yohan. Netranya menatap lamat, memperhatikan setiap sisi wajah yang membuatnya jatuh hati. “Kenapa bisa kamu berpikir saya membencimu, ketika saya selalu memikirkanmu setiap saat?”

“Tapi lo bahkan gak mau cium gue!” Yohan merengut, berusaha menahan kedua tangannya agar tidak turun.

“Saya nunggu. Saya tau kamu menikah bukan karena mencintai saya, jadi saya menunggu sampai kamu membalas perasaan saya.” Wajahnya mendekat, memberi satu kecupan diujung hidung suaminya, “Saya menghargai perasaan kamu, Yohan.”

“Sekarang gue mau!”

No. Kita bahas lagi setelah kamu sadar, saya gak akan main dengan kondisi kamu yang kayak gini. Saya mau malam pertama kita dengan perasaan kamu yang sudah menerima saya sepenuhnya.” Nafasnya berhembus menyentuh permukaan kulit wajah Yohan, membuat pemuda dibawahnya memejamkan mata. “Untuk sekarang saya akan berikan ciuman sebagai hadiah satu tahun pernikahan kita.”

Setelahnya Yongha memagut ranum kemerahan Yohan. Perlahan, melumatnya begitu lembut seolah Yohan adalah barang yang mudah pecah belah bila disentuh sembarangan. Lidahnya membelai permukaan ranum yang begitu kenyal, menggoda suaminya hingga suara lenguhan terdengar.

Namun ketika Yohan membuka mulutnya, Yongha mengakhiri ciuman mereka.

Nafasnya kembali berhembus menyapu leher jenjang Yohan, membuat pemiliknya mendongak, memberi akses agar Yongha meninggalkan tanda disana.

Namun tidak. Dalam jarak satu senti dengan ujung bibir yang sedikit menyentuh kulitnya, Yongha hanya menghembuskan nafasnya disana. Lalu Yongha menjauhkan wajahnya dan ikatan dasi pada pergelangan tangan Yohan dilepas.

“Saatnya kamu istirahat.” Satu kecupan diberikan di pelipis sebelum seluruh kontak tubuh mereka terlepas. “Selamat malam, Yohan.”


Pagi ini Yohan terbangun dengan kepala yang rasanya sangat berat. Dahinya mengerut menahan sakit. Salahnya karena minum alkohol terlalu banyak.

Pandangannya mengedar menatap sekeliling, menyadari ternyara ia terlelap di kamarnya sendiri. Apa kemarin Yongha menggendongnya sampai sini?

Ia meregangkan kedua tangannya, karena tubuhnya terasa sangat pegal.

Tungguㅡ pegal?

Yohan mengintip tubuhnya dibalik selimut. Pupil bulatnya melebar menyadari ia tidak menggunakan sehelai benangpun.

“Yongha tidurin gue?” Netranya menatap ke langit-langit kamar, mencoba mengingat apa yang mereka lakukan kemarin. Namun nihil. Yohan tidak mengingat apapun.

“Apa engga?” Tanyanya pada diri sendiri.

Pandangannya menatap kearah lantai. Pakaiannya berhamburan disana, apa ini artinya mereka benar-benar tidur bersama?

Yohan bangkit dari tidurnya, duduk di ranjang dengan pikiran yang sibuk mengingat apa yang terjadi kemarin. Heran mengapa tidak ada sedikitpun kejadian yang bisa diingatnya. Apa kemarin ia terlalu mabuk?

“Au ah.” Ia menyingkap selimut yang menutupi kakinya, berniat untuk pergi ke kamar mandi membersihkan diri.

Namun sesuatu menarik perhatiannya.

Tangan mungilnya menarik kain yang berada dibalik selimut. Pupilnya melebar begitu menyadari itu adalah dasi yang digunakan suaminya kemarin malam. Yohan sangat ingat karena kemarin suaminya terlihat sangat tampan.

Kenapa dasinya bisa tertinggal disini?

Perlahan sudut bibirnya tertarik keatas, lalu ia kembali berbaring dan menarik selimut hingga menutupi dari ujung kepala hingga kaki. Tubuhnya bergerak rusuh melampiaskan rasa malu bercampur senangnya. Wajahnya memanas membayangkan ternyata kemarin mereka benar-benar melakukannya.

Sayangnya Yohan tidak mengingat apapun.


Ini pertama kalinya Yohan memasuki gedung pencakar langit dengan logo You Corp. menghias indah. Kakinya melangkah ragu mendekati meja penerimaan tamu.

Ia mengulas senyum tipis, belum sempat mengucapkan apapun wanita dihadapannya sudah lebih dulu menyela,

“Tuan Yohan, ya?”

“Ohㅡiya.”

“Ada yang bisa saya bantu?”

Yohan menggaruk kepalanya yang tidak gatal, “Yongha lagi sibuk gak ya?”

Wanita itu tersenyum ramah, “Kebetulan pak direktur sedang ada meeting di luar sekarang. Mungkin dua jam lagi akan tiba. Tuan mau menunggu atau meninggalkan pesan yang perlu disampaikan?”

Yohan menggigit bibir bawahnya. Tangannya meremat tali paperbag yang ia bawa. Makan siang. Yohan berencana untuk makan siang bersama seperti saran Wooseok. Padahal di rumah ia sudah meyakinkan diri untuk melakukan ini, tapi sekarang rasa yakinnya justru menguap entah kemana.

“Eum.. Bisa saya menunggu di ruangannya?” Tetap saja Yohan tidak akan mundur lagi, untuk kali ini.

Wanita itu tersenyum tipis, “Tentu saja.”


Yves & Hugh

Netranya sibuk memandang segala hal yang mereka lewati. Selama setahun menikah ia tidak pernah menyangka suaminya pemilik perusahaan sebesar ini. Yongha telah melalui banyak hal sampai pada titik ini. Ia bahkan kagum melihat setiap ruangan dan staff yang berlalu-lalang tersenyum ramah.

You Corp. adalah perusahaan yang bergerak dalam berbagai industri. Mulai dari kebutuhan pangan, rumah tangga bahkan elektronik. Brand YH atau Yves & Hugh sendiri telah berhasil mencuri hati masyarakat. Bahkan bisa bersaing dengan brand lokal ternama seperti Samsung dan LG.

Jika Yohan mengingat cerita mengenai suaminya dari bibi yang membantunya membersihkan rumah mewah mereka, suaminya adalah orang yang pekerja keras. Iya, Yohan tidak heran begitu tau bagaimana gilanya Yongha bekerja. Suaminya merintis bisnis ini dari nol, merelakan masa remajanya untuk mempelajari bisnis, mencoba segala hal dikala teman-temannya sibuk berkencan dan berkunjung ke club malam. Yongha menginvestasikan banyak untuk bisnisnya. Dulu perusahaannya nyaris bangkrut, namun suaminya itu keras kepala, memaksa untuk menata ulang segala halnya sekali lagi, dan siapa sangka kini usahanya membuahkan hasil.

Yohan dipersilahkan masuk ke ruangan megah di lantai empat puluh. Ia dibawakan secangkir teh hangat dan beberapa kudapan untuk menemaninya sebelum wanita itu pamit undur diri.

Kakinya melangkah menyusuri ruangan mewah itu. Tema monokrom yang begitu sederhana namun terkesan sangat elegan ditambah kaca bening besar di salah satu dinding yang membuatnya bisa menatap pemandangan luar secara leluasa. Netranya berpindah menatap tembok ruangan yang berisi beberapa penghargaan yang pernah diraih perusahaan. Senyum mengulas melihat bagaimana perubahan suaminya dari tahun ke tahun ketika menerima penghargaan. Yongha terlihat jauh lebih gagah saat ini.

Selesai melihat semua pajangan itu, kakinya berderap menuju meja kerja suaminya. Netra bulatnya melebar melihat foto yang dipajang di meja kerja itu. Foto Yohan yang mengenakan sweater merah muda. Senyumnya semakin mengembang dengan wajah yang terasa memanas. Hal ini bahkan tidak pernah terlintas dalam benaknya.

Satu jam berlalu Yohan menghabiskan waktunya duduk di kursi kerja suaminya sembari memainkan ponsel. Berlagak seperti seorang direktur yang sedang menghabiskan waktu luangnya. Sesekali memeriksa paperbag yang ia taruh diatas meja, memastikan makan siang mereka baik-baik saja.

Setelah satu setengah jam, pintu mewah itu akhirnya terbuka. Yongha melangkah dengan sedikit terburu.

“Oh, udah selesai?” Yohan beranjak dari duduknya.

“Yohan, kenapa kamu bisa disini? Kenapa tidak mengabari saya dahulu?”

Yohan merengut, “Memangnya aku gak boleh kesini?”

“Bukan begitu Yohan.” Nafasnya menghela pelan. “Kalau kamu mengabari saya sebelumnya, kamu tidak perlu menunggu lama.”

“Aku baik-baik aja kok.”

“Saya yang tidak baik-baik saja.” Pergelangan tangan Yohan diremat, lalu dituntun untuk duduk di sofa. Meski mereka duduk bersebelahan, tetap ada jarak diantaranya.

“Kamu ada perlu apa datang kesini?”

“Memangnya kalo kesini harus pake alasan?”

“Bukan begitu.” Yongha mengusap wajahnya kasar, “Maaf. Saya hanya tidak menyangka kamu tiba-tiba datang kesini.”

Yohan melipat tangannya di depan dada. Netra bulatnya menatap tajam, “Kamu punya selingkuhan ya? Makanya kaget aku dateng tiba-tiba?” Tuduhnya.

“Astaga. Engga, Yohan. Saya punya kamu saja sudah cukup. Saya tidak perlu orang lain selain kamu.” Tangannya terangkat, nyaris mengusap pucuk kepala Yohan, namun berakhir mendarat pada sandaran sofa. “Lalu kamu kesini hanya untuk menemui saya?”

Yohan menggeleng, “Aku bawa makan siang, kamu udah makan?”

Netra suaminya mengerjap beberapa kali.

Yohan langsung mendengus gusar, “Pasti udah ya? Harusnya aku ngabarin buat makan siang bareng tadi.”

“Belum. Saya belum makan kok. Saya kaget ternyata kamu menyiapkan makan siang.” Ia mengulas senyum begitu melihat netra bulat itu berbinar senang.

“Oke, kalo gitu makan bareng ya?”

“Hmm.” Ia mengangguk setuju.

Setelahnya Yohan langsung beranjak dari duduknya, mengambil paperbagnya lalu menyusun kotak makannya di atas meja dihadapan mereka.

“Ini kamu masak semuanya sendiri?”

Yohan mengangguk, “Udah aku coba rasanya gak asin kok, hehe.”

Yongha tersenyum tipis, menerima sumpit yang diangsurkan Yohan lalu bersiap menyantap makan siangnya. Satu potong daging masuk ke mulutnya.

Netranya melirik kearah Yohan yang menatap cemas, “Enak kok.”

Yohan langsung menghembuskan nafas lega, kemudian ikut menyantap makanannya.

Tidak banyak pembicaraan yang terjadi diantara mereka, hanya terdengar suara alat makan yang bersinggungan. Yohan sendiri bingung harus membahas hal apa disaat-saat seperti ini, mengingat ini pertama kalinya mereka makan siang bersama di kantor.

Tok tok tok. Cklek.

Yohan nyaris tersedak begitu seseorang membuka pintu ruangan. Ia langsung menghentikan kunyahannya ketika suara langkah kaki itu mendekat ㅡberusaha menjaga sikap sebagai seorang suami dari pemilik perusahaan. Namun Yongha justru tidak peduli dan tetap melanjutkan acara makannya.

“Pak direktur?”

Yohan mendongakan kepalanya menatap seorang lelaki yang berdiri di dekat sofa. Memaksa senyum tipis berusaha bersikap ramah. Ia bisa menebak lelaki itu pasti sekretaris suaminya.

“Oh, tuan Yohan. Maaf jika saya mengganggu waktu kalian.”

Tangannya mengibas diudara, “Gapapa kok, santai aja.”

Junseo balas tersenyum lalu kembali menatap atasannya, “Pak direktur ini iced americano pesanan bapak.” Satu gelas minuman di taruh diatas meja. “Saya pikir bapak sudah kenyang makan di restoran tadi.”

Yohan mendelik. Pandangannya langsung berpindah kearah Yongha yang menatap tajam bawahannya. “Kamu udah makan? Kenapa gak bilang?”

Junseo berusaha menahan senyumnya, “Ini dokumen yang bapak minta tadi.” Satu map dokumen ia taruh diatas meja. “Kalau begitu saya pergi dulu.” Ia membungkuk hormat sebelum keluar dari ruangan bos besarnya.

“Yongha! Kamu udah makan?”

Yongha menghela nafas gusar, “Sudah, tapiㅡ”

“Kalo gitu jangan makan lagi nanti kamu kekenyangan terus sakit perut.” Yohan kembali menutup satu per satu kotak makan siangnya. Benar kata Yongha, seharusnya ia mengabari suaminya itu lebih dulu agar tidak begini jadinya. Ini salahnya.

“Saya masih lapar.”

“Bohong!”

“Sungguh, Yohan.”

Yohan menggeleng, tangannya masih sibuk merapikan kotak makan siang mereka.

“Yohan.”

“Yong, kamu gak harus maksain diri kok. Kalo memang udah makan harusnya bilang aja tadi. Ini juga bukan salahmu. Jangan sampe gara-gara hal sepele kamu jadi sakit terus menghambat kerjaanmu.”

Greb.

Yongha mencekal pergelangan tangan Yohan. “Sudah saya bilang kamu tidak menghambat pekerjaan saya. Tolong jangan ungkit masalah itu lagi.”

“Tapiㅡ”

“Saya memang masih lapar kok. Tadi makanan di restoran tidak terlalu enak jadi saya hanya makan sedikit.”

Netra bulat itu menatap suaminya, “Beneran?”

“Iya. Jadi biar saya habiskan makanannya ya?”

Yohan berusaha menelisik netra suaminya. Mencari kebohongan disana, namun Yongha terlihat sangat serius dengan ucapannya. Mungkin memang benar Yongha hanya makan sedikit tadi.

“Tapi kalo kenyang jangan dipaksain ya?”

“Iya, Yohan.”

Yohan menghela nafas pelan, lalu kembali mengeluarkan kotak makan siang mereka. Melanjutkan acara makan yang sempat tertunda.

Sesekali netranya melirik ke arah Yongha, mengecek apakah suaminya itu berbohong atau tidak. Ia tidak mau suaminya terpaksa menghabiskan makanannya. Tapi Yongha makan terlalu tenang untuk ukuran seseorang yang sudah makan sebelumnya. Jadi Yohan menganggap Yongha tidak berbohong.

“Tadi ada meeting apa?” Yohan bertanya sembari merapikan kotak makan siang mereka yang telah kosong.

“Meeting untuk peluncuran produk kolaborasi terbaru.”

“Oh, jadi kamu sibuk banget dong?”

“Tidak juga, kenapa?”

Yohan menggeleng, “Mau aku beliin vitamin gak? Biar staminamu terjaga.”

“Boleh.”

“Yaudah nanti aku beliin.” Ia merapikan barang bawaannya, “Kalo gitu aku balik ya.”

Yongha mengernyit tak suka, “Langsung balik?”

“Kan kamu harus kerja lagi. Aku gak mau gangguin.”

“Kamu ada urusan setelah ini?”

Yohan memiringkan kepalanya, “Gak ada. Palingan nanti keliling sebentar aja soalnya aku bosen di rumah.”

Yongha menggeser duduknya mendekat hingga lutut mereka bersinggungan, “Bisa disini dulu setidaknya 30 menit?”

Yohan merasa jantungnya berdebar lebih cepat. Padahal baru saja mereka 'berhubungan badan' kemarin ㅡmeski Yohan tidak mengingat apapun. Tapi seharusnya ia tidak gugup lagi berada dalam jarak sedekat ini.

“B-bisa kok.”

Suaminya kembali mengulas senyum yang membuat Yohan harus menahan nafasnya, berusaha meredakan debar jantungnya agar tidak terdengar sampai ke suaminya.

Netra Yongha menatap turun kearah bilah bibir yang kemerahan. Padahal selama setahun belakangan ia berhasil menahan dirinya, tapi mengapa hanya karena ciuman kemarin kini ia tak tahan untuk mencicipi milik Yohan lagi.

“Kalo mau cium, langsung aja. Aku gapapa kok.”

Suara kekehan terdengar membuat Yohan mengepalkan kedua tangannya, berusaha bersikap biasa. Apalagi ketika Yongha mendekatkan wajahnya. Sedikit lagi, sedikit lagi bibir keduanya akan bersentuhan.

Namun dalam sisa jarak kurang dari satu senti, Yohan justru memalingkan wajahnya hingga bibir suaminya hanya berhasil menyentuh pipinya. Yohan tidak bisa, ia terlalu gugup.

“Ma-maaf.”

Yongha mengangguk pelan, menjauhkan tubuhnya dan kembali memberi jarak diantara mereka. Mungkin Yohan memang belum menerima dirinya sepenuhnya. Tidak masalah.

“Tidak perlu minta maaf, kamu tidak salah.”

Meski suaminya mengatakan demikian, Yohan dapat melihat binar kecewa dalam netra itu. Ini salahnya, padahal kemarin mereka telah melakukan hal yang lebih dari sekedar bibir yang bersentuhan.

“Maaf. Padahal kemarin kita udah ngelakuin hal yang lebih, tapi aku masih belum terbiasa.”

“Hal yang lebih?”

Yohan mengangguk pelan. Apa suaminya tidak paham maksudnya? “Maksudku berhubungan badan.” Bisiknya pelan.

Namun Yongha justru tersenyum, “Kita tidak melakukan apapun kemarin, Yohan. Kamu terlalu mabuk jadi langsung terlelap.”

“Hah?” Netra bulatnya melebar. “Bohong! Tadi pagi aku telanjang terus badanku pegal dan ada sisa cairan juga. Di kasur juga ada dasi punyamu.” Jangan-jangan suaminya juga tidak mengingat apapun.

Yongha terkekeh pelan, “Iya, kemarin kamu memang sempat memprovokasi saya. Memang saya juga nyaris lepas kendali sampai mengikat kedua tanganmu menggunakan dasi. Tapi kita tidak melakukan apapun selain berciuman, Yohan.”

“Tapiㅡ”

“Apa bokongmu terasa sakit?”

Netra bulat itu mengerjap. Benar, pantatnya tidak sakit sama sekali. Seharusnya jika mereka memang melakukan itu, pantatnya pasti yang terasa paling sakit, kenapa juga hal ini bisa terlewat dari pemikirannya.

Tapi kenapa dirinya telanjang?

“Sepertinya kamu menyenangkan diri sendiri kemarin.”

Tiba-tiba seluruh ingatannya tentang kejadian kemarin malam melintas dalam benaknya. Yongha yang menggendongnya, dirinya yang memaksa Yongha untuk menyentuhnya, Yongha yang menciumnya lalu pergi meninggalkannya sampai pada dirinya yang melepas pakaian dan menyentuh diri sendiri sambil mendesahkan nama suaminya.

Saat itu Yohan ingin menghilang dari dunia. Ingin mengubur dirinya hidup-hidup agar Yongha tidak melihatnya lagi. Secara tidak langsung dirinya membeberkan kalau ia melakukan masturbasi dan membayangkan sedang berhubungan badan dengan suaminya.

Gila. Yohan ingin pura-pura pingsan saja.

“Aku mau pulang.” Ia langsung beranjak dari duduknya.

“Yohanㅡ”

“Pokoknya aku mau pulang!”

Yongha mengangguk, “Oke. Kalau begitu hati-hati di jalan. Sampai bertemu di rumah.”

Yohan tidak berani menatap netra suaminya, malu. Jadi ia hanya mengangguk sekali lalu berderap keluar dari ruangan itu. Sepertinya dalam beberapa hari ke depan ia tidak akan bisa bertemu dengan Yongha saking malunya.


Sejak kejadian itu Yohan selalu menghindari Yongha. Ia bangun lebih pagi untuk menyiapkan sarapan, lalu membawa bagiannya masuk ke kamar dan mengurung dirinya sampai Yongha pergi ke kantor. Begitu pula saat makan malam, ia akan menyiapkan makanan sebelum Yongha tiba kemudian langsung bersembunyi lagi di kamarnya.

Bukan tanpa alasan Yohan melakukan semua ini. Ia terlalu malu untuk sekedar melihat presensi suaminya. Memikirkan bagaimana penilaian Yongha setelah mengetahui Yohan menjadikannya bahan fantasi liarnya, ia sangat malu.

Sudah hampir seminggu mereka tidak bertukar sapa bahkan Yohan tidak sempat melihat wajah suaminya. Padahal dulu dirinya selalu mencuri kesempatan untuk melihat wajah tampan itu.

Yang lebih menjengkelkannya lagi, Yongha tidak khawatir sama sekali. Suaminya itu hanya sempat menghubunginya sekali melalui panggilan telfon. Menanyakan mengapa ia menghindar. Setelah Yohan mengatakan tidak mau bertemu Yongha sementara waktu, suaminya itu hanya mengatakan 'oke', lalu tidak mengganggu Yohan lagi.

Awalnya Yohan lega karena tidak perlu menyiapkan alasan lebih, namun sekarang ia kesal karena merasa diabaikan. Semuanya serba salah.

Hari ini Yohan bangun pukul 4 pagi. Kakinya berderap menuruni anak tangga lalu menuju ke area pantry untuk menyiapkan sarapan. Sekarang hari jumat, biasanya Yongha akan lembur di kantor sampai malam, maka Yohan menyiapkan sarapan yang lebih bergizi.

Ia bersenandung pelan, tubuhnya bergerak ke kanan-kiri mengikuti irama yang ia lantunkan. Menyiapkan roti panggang dengan telur dan beberapa sayuran. Ia bahkan menghias piringnya agar terlihat lebih cantik. Lalu menutupnya agar tetap hangat.

Selesai.

Cklek.

Kepalanya menoleh cepat kearah pintu yang terbuka. Pupilnya melebar ketika melihat suaminya melangkah menuruni anak tangga. Wajah suaminya masih terlihat mengantuk, sepertinya terpaksa bangun. Namun meski begitu, wajahnya tetap terlihat tampan.

“Yohan, kamu tidakㅡ”

Yohan langsung balik badan, kakinya berderap cepat menuju kamarnya sebelum Yongha sempat menahannya.

“Kim Yohan, berhenti.”

Seperti robot yang dikendalikan, ia berhenti melangkah. Suara serak khas bangun tidur ditambah penekanan pada nada bicaranya membuat Yohan tidak bisa berkutik. Ini pertama kalinya Yongha melafalkan perintah yang terkesan mutlak.

Suara langkah kaki terdengar mendekat.

Yohan merapalkan dalam hati agar jantungnya tidak berdebar cepat, agar dirinya tidak gugup. Namun pertahanannya runtuh begitu suaminya berdiri disamping tubuhnya, “Sampai kapan mau menghindari saya?”

Yohan menggigit bibir bawahnya, “Yong aku ngantuk banget mau lanjut tidur.” Setelahnya ia kembali berderap, semakin cepat hingga berhasil masuk ke dalam kamarnya. Namun sayang sebelum berhasil menutup pintu, Yongha lebih dulu menyelipkan kakinya disana. Tidak mungkin Yohan tega menjepit kaki suaminya.

“Yohan, ayo bicara. Apa salah saya sampai kamu menghindar begini?”

“Ini bukan salah kamu kok.”

“Lalu?”

“Ya pokoknya aku gak mau ketemu kamu dulu.”

Yongha mengintip diantara celah pintu, tapi Yohan justru bersembunyi dibaliknya. Malu jika Yongha melihat wajahnya.

“Yohan.”

“Gak mau.”

Yongha menghela nafas pelan. Tangan kirinya terulur masuk lalu menggenggam pergelangan tangan Yohan yang berpegangan pada knop pintu. “Sayang.”

Deg.

Yohan merasa jantungnya berhenti berdetak selama beberapa detik sebelum gemuruh itu menjadi berkali lipat lebih cepat dari biasanya. Gila. Yohan pasti sudah gila.

Tangannya lemas hingga pegangannya pada knop pintu terlepas. Yongha berhasil mendorong pintu lalu masuk ke dalam kamarnya.

“Kenapa menghindari saya?” Yongha memiringkan kepalanya, mengintip wajah suaminya yang sedari tadi menunduk. “Yohan, saya sedang bicara denganmu.”

“Aku ngantuk, Yong.”

“Saya tidak akan pergi sebelum kamu mengatakan alasannya. Ini hampir satu minggu kamu menghindari saya.”

Tangannya terulur untuk menyentuh dagu Yohan, menariknya hingga netra mereka bertemu. “Saya suka melihat matamu, kenapa kamu justru lihat lantai?”

“Yong, aku malu.” Yohan bergumam pelan. Ia yakin kini wajahnya merah padam.

“Malu kenapa?” Yongha menatap tepat ke dalam netra suaminya, berusaha mengingat hal apa yang membuat pemuda itu malu. “Ah, karena masalah kamu menyenangkan diri sendiri itu?”

Yongha mengatakannya seolah tidak ada yang salah dengan hal itu. Mungkin bagi Yongha memang begitu tapi tidak dengan Yohan. Itu adalah aib baginya.

“KENAPA DIBAHAS LAGI SIH!!” Yohan memekik marah. Ia menepis tangan suaminya lalu naik keatas ranjang dan menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut. “KELUAR! AKU GAK MAU KETEMU KAMU!”

“Yohan, saya tidak masalah dengan itu. Tidak ada yang salah kok. Kenapa harus malu?”

“POKOKNYA PERGI SEKARANG!”

Suara derap kaki kembali terdengar, namun bukannya menjauh, suara itu justru mendekat hingga hilang ketika sisi ranjang sebelah kanannya terasa sedikit turun. Yohan mengumpat dalam hati. Kenapa ia justru ditempatkan dalam situasi seperti ini?

“Kamu tidak kepanasan?”

“ENGGA!” Jawabnya galak.

Yongha terkekeh, “Ya sudah saya tunggu sampai kamu kepanasan.”

Yohan langsung menurunkan selimutnya. Netra bulatnya menatap tajam kearah suaminya yang duduk dipinggir ranjang. “YONG!”

Dalam kesempatan itu Yongha langsung menahan kedua pergelangan tangan suaminya di ranjang agar tidak bisa menutupi wajah lagi. Yohan mendelik, berusaha berontak agar tangannya dilepaskan, namun tidak berhasil.

“Yohan, diam.”

Nada bicara itu lagi.

Tubuhnya langsung berhenti berontak. Ia memalingkan wajahnya, enggan menatap suaminya. Dalam posisi seperti ini Yohan merasa diintimidasi. Suara, nada bicara, cara pandang bahkan aura suaminya sangat berbeda.

“Yohan, saya bicara denganmu.” Yongha mendekatkan wajahnya hingga hembusan nafasnya menerpa sisi wajah Yohan. “Kim Yohan.”

Yohan kembali menghadap suaminya meski netranya berusaha keras menghindari kontak mata, “Yong, maaf. Seharusnya aku gak jadiin kamu fantasi liarku.”

Yongha terkekeh pelan, yang membuat sekujur tubuh Yohan meremang mendengarnya. Oh ayolah, suara itu terdengar sangat seksi, apalagi posisi mereka saat ini adalah posisi yang paling intim selama setahun pernikahan.

“Saya juga pernah menjadikanmu objek fantasi, Yohan.”

“Hah?”

Yohan menatap suaminya tidak percaya. Ia pikir Yongha terlalu sibuk dengan pekerjaan sampai tak sempat masturbasi atau sejenisnya. Selama ini Yohan pikir suaminya punya kelainan seksual karena tidak pernah menyentuhnya.

“Beneran?”

“Iya.”

Netranya mengerjap. Yohan baru menyadari wajah suaminya terlalu dekat dengannya. Jika ia ingat-ingat posisi ini pernah ada dalam mimpinya. Yongha yang menahan kedua tangannya dan menatapnya dengan pandangan yang benar-benar mengunci pergerakannya. Ah tidak, Yohan bisa gila.

“Kalau gitu apa gak mau fantasimu dijadiin kenyataan aja?”

Yohan mengatakannya tanpa berpikir. Lebih tepatnya ia tidak bisa berpikir lagi. Ia menginginkan Yongha menyentuhnya dan sekarang adalah saat yang tepat baginya.

Yongha tersenyum tipis, “Haruskah?”

Yohan mengangguk sebagai jawaban. Netranya menatap penuh harap, “A-aku memang belum tau gimana perasaanku ke kamu, tapi, tapi selama ini aku gak pernah suka sama orang lain, gak pernah mikirin orang lain selain kamu. Apa itu bisa jadi jaminan?” Jelasnya.

Ia berusaha memprovokasi suaminya. Seingatnya Yongha tidak mau menyentuhnya karena merasa Yohan belum sepenuhnya menerima keberadaan suaminya itu. Maka Yohan berusaha menghasut suaminya untuk percaya.

Meski sebenarnya Yohan memang mengatakan yang sejujurnya.

Kedua tangannya dibawa ke sisi atas kepalanya, ditahan dalam satu genggaman. Yohan mengulas senyum, “Jadi kamu tipe orang yang suka berkuasa di ranjang?”

“Saya suka berkuasa dimanapun.”

Ah iya, Yohan lupa suaminya seorang pemilik perusahaan ternama yang tentu saja sangat berkuasa.

“Jangan sampai tanganmu turun sebelum saya ijinkan.”

Yohan mengangguk patuh. Setelahnya Yongha melepas pegangan tangannya, membiarkan Yohan secara mandiri menahan kedua tangannya tetap diam pada tempatnya.

Selama beberapa saat Yongha hanya diam menatap figur suaminya yang terlihat sangat cantik. Netra bulat itu menatapnya dengan penuh godaan, ditambah wajah yang memerah dan bibir bawah yang sengaja digigit.

Ia menghela nafas pelan, sepertinya memang ia tidak bisa menahannya lagi. Maka ia mendekatkan wajahnya, lalu meraup ranum yang membuatnya candu. Bibir kemerahan itu ia lumat perlahan, menyapukan lidahnya pada permukaan kenyal itu, lalu menyesapnya saling berbagi rasa.

Setelahnya lidah Yongha melesak masuk membelai seisi rongga mulutnya. Menggoda lidahnya sebelum membelitnya. Yohan melenguh, kedua tangannya saling meremat satu sama lain berusaha untuk tidak turun dan menyentuh suaminya.

Ciuman Yongha turun ke dagu, membelai rahang hingga ke telinganya, lalu mengulum daun telinganya yang memerah. Yohan menggeliat tak sabaran, kakinya bergerak merespon setiap sentuhan yang diberikan.

Yongha menjauhkan wajahnya, menatap wajah suaminya yang memerah dengan mulut terbuka mengais oksigen. Tangannya terangkat menyibak helai yang menutupi kening Yohan, lalu memberikan kecupan disana. “Yohan, kamu sungguh mau melanjutkannya.”

Yohan mengangguk cepat. Netra bulatnya menatap sayu, “Aku udah jadi anak penurut, kan?” Kedua tangannya masih saling bertautan diatas kepalanya, membuktikan kalau dirinya bisa menuruti perintah suaminya.

Yongha naik keatas ranjang. Bersimpuh diantara kedua kaki Yohan yang terbuka, lalu menindih tubuh dibawahnya. Kecupan-kecupan ringan ia berikan diseluruh sisi wajah Yohan. Menyisakan sedikit jarak diantara wajah mereka, Yongha berbisik pelan, “Kamu cantik sekali, Yohan. Yang paling cantik.”

Mendengar pujian itu tentu saja membuat Yohan seolah melambung tinggi. Netra bulatnya berbinar, ia akan menjadi anak penurut agar mendapatkan pujian yang lebih banyak.

Satu persatu kancing piyamanya terlepas. Yohan sempat menahan nafasnya ketika kulit putihnya terekspose dan merasakan dingin diterpa pendingin ruangan. Namun semuanya hanya sementara, karena begitu Yongha mulai memberikan kecup di dadanya, tubuhnya langsung terasa panas. Jantungnya berdetak cepat, kedua tangannya menggenggam semakin kencang sampai kulitnya memutih.

“Yong-ha.” Suaranya tercekat.

Saat ini Yongha hanya memainkan dadanya menggunakan mulut dan jemari, tapi Yohan sudah merasa gila. Kepalanya pening, namun ia menginginkan lebih.

Tanpa sadar pinggulnya bergerak menggesek milik mereka yang masih tertutupi fabrik. Gesekan antara fabrik dan kemaluannya membuat tubuhnya mengejang nikmat, semakin gencar menggesek mencari nikmat lagi dan lagi.

Suara kekehan rendah milik suaminya terdengar, lalu kecupan ia rasakan di lehernya. “Saya tidak tau kalau ternyata kamu sebinal ini di ranjang, Yohan.”

Yohan tidak menjawab, kepalanya justru mendongak memamerkan leher jenjangnya. Otaknya terlalu macet hingga tak mampu bicara selain mengeluarkan desah.

Yongha tidak pernah tau suara desah suaminya akan terdengar semerdu ini. Rasanya ingin mendengar suara itu lebih lama, lebih keras dan lebih panjang. Maka dirinya kembali menggoda tubuh dibawahnya. Menggigit dan menyesap leher putih itu hingga kemerahan. Satu, dua, tiga, bahkan hampir setiap jengkal kulit putih itu ia tandai.

Tangannya turun mengusap perut rata Yohan, lalu menyelip diantara karet celana sebelum menariknya turun.

Netra bulat itu terpejam ketika seluruh bagian bawahnya tidak tertutupi lagi.

Yongha kembali menindihnya, memberi kecupan di hidung sebelum menggesek ujung hidung mereka. Yohan membuka matanya, menatap lekat wajah tampan suaminya.

“Mau pegang wajahmu.”

Yongha tersenyum tipis, “Silahkan.”

Pupil bulatnya berbinar. Tangannya yang sedari tadi ia tahan diatas kepala kini turun membingkai wajah suaminya. Ibu jarinya mengusap halus, lalu menarik wajah tampan itu untuk kembali menyatukan bibir mereka.

Yongha membiarkan Yohan melumat bibirnya, membelit lidahnya atau apapun yang ingin dilakukan yang lebih muda. Sementara tangannya sibuk mengusap pelan kulit halus Yohan. Dari bahu lalu ke lengan, pinggang, paha hingga kaki jenjang yang menekuk di kedua sisi tubuhnya.

Tangannya kembali naik mengusap paha dalam, menggoda disana sebelum menangkup kejantanan yang sudah menegang hingga tubuh dibawahnya sedikit mengejang geli.

Ciuman mereka terlepas karena Yohan kembali mendesah saat Yongha mengurut bagian selatannya perlahan. Kedua lengannya melingkar di bahu yang lebih tua, menarik wajah Yongha untuk memberikan tanda lagi di lehernya yang tentu saja langsung disanggupi.

Gerakan tangannya semakin cepat. Netranya tak lepas dari wajah berantakan pemuda dibawahnya. Rambut acak, wajah memerah, bibir bengkak yang penuh saliva tak henti mendesah. Berantakan namun begitu indah.

“Yongha, akuㅡ”

“Jangan ditahan, sayang.”

Kedua tangannya meremat seprai yang sudah berantakan, menyalurkan setiap nikmat yang diberikan suaminya. Sepuluh detik berikutnya, tubuhnya mengejang, kepalanya mendongak ditambah dengan desahan panjang ketika ia mencapai putihnya.

Nafasnya tersengal. Peluh keluar di setiap pori-pori kulitnya ditambah dengan cairannya yang mengotori perut. Yohan pikir ia sudah gila.

Sampai ia sadar permainan mereka belum berakhir ketika melihat Yongha melepas piyamanya dan meloloskan celana hingga keadaan mereka tak jauh berbeda. Bedanya, Yongha masih bersih dari tanda dan cairan.

Ah, Yohan jadi ingin memberikan setidaknya satu tanda di leher.

Kedua paha Yohan dibuka semakin lebar. Suaminya terlihat sibuk dibawah sana. Berbeda dengan hari-hari biasanya, kini aura Yongha terasa begitu dominan membuat Yohan tidak berani melawan.

Bukan dominan yang membuatnya merasa takut dan terintimidasi, bukan. Tapi dominan yang membuat Yohan ingin menjadi anak penurut. Ingin terlihat baik dan diberikan banyak pujian. Suaminya memiliki aura yang seperti itu.

“Ini pertama kalinya bagimu, kan? Saya akan melakukannya perlahan.” Yongha mencolek jarinya dengan sisa cairan milik Yohan, lalu memasukan jari tengahnya pada lubang kemerahan itu.

“Akhㅡ” Yohan mengernyit sakit.

“Rileks, sayang.” Tangan lainnya mengusap perut Yohan, memberikan pola melingkar hingga tubuh itu kembali rileks. Perlahan jarinya bergerak, menumbuk mencari titik lemah suaminya.

AhhnnnㅡYongㅡ”

Disana.

Yongha tersenyum tipis, menambahkan satu jarinya sebelum bergerak lebih cepat dan lebih kuat hingga jari-jari kaki Yohan menekuk menahan nikmat. Setelah dirasa cukup, Yongha mengeluarkan jarinya.

“Eung??”

Yohan menatap turun, wajahnya merengut karena bagian bawahnya terasa kosong. “Yong.”

“Iya, sayang.” Seakan tau apa yang diinginkan Yohan, ia langsung mengarahkan miliknya pada lubang yang sudah berkedut minta diisi. Ia mendorong masuk membuat pekikan sakit terdengar.

“Sakitㅡ” Yohan merengek. Sudut matanya telah berair karena menahan sakit.

“Sedikit lagi, sayang.”

Yohan terus merengek, menggumamkan kata sakit sampai akhirnya Yongha berhasil masuk sepenuhnya. Tubuhnya kembali merunduk, memberi kecup di setiap sisi wajah Yohan. “Cantik, masih sakit?”

“Sedikit.”

Mengalihkan dari rasa sakit itu, Yongha kembali membawa Yohan dalam ciuman yang lembut. Tangannya sibuk mengusap halus, sesekali memberi rangsangan pada titik-titik sensitif suaminya.

Move.

Yongha mengangguk. Perlahan ia bergerak, netranya terus memperhatikan perubahan ekspresi Yohan. Memberikan kecupan-kecupan kecil ketika Yohan kembali merintih sakit, sampai akhirnya suara desahan itu kembali terdengar.

Ia kembali menegakkan tubuhnya, kaki kanan Yohan dibawa naik keatas bahunya hingga ia leluasa masuk lebih dalam.

AhhㅡYongㅡcepet.”

Menurut, Yongha mempercepat gerakannya. Tangannya kembali menangkup milik Yohan, mengurutnya dalam ritme yang sama.

Yohan pasti sudah gila. Tenggorokannya terasa sakit, namun tidak bisa berhenti mendesahkan nama suaminya.

Suara desah, geraman, derit ranjang, dan kulit yang bertemu kulit memenuhi ruangan itu. Masih terlalu pagi untuk memulai aktivitas. Kebanyakan orang mungkin masih terlelap, namun mereka sudah sibuk menghangatkan satu sama lain.

Sampai akhirnya Yongha bergerak tak beraturan, semakin cepat dan berantakan. Nafasnya menghela berat bersamaan dengan geraman ketika lubang suaminya terasa mengetat dan membuat miliknya semakin diremas.

“Saya keluarin dimana, Yohan?”

“Dalem, akhhㅡpenuhinㅡdi dalem.”

Yohan mendesah keras, dadanya membusung ketika ia mencapai putih yang kedua kalinya. Lebih banyak dari sebelumnya. Sementara setelah beberapa tusukan sisanya, Yongha menyusul. Memasukan miliknya sepenuhnya ke dalam hingga seluruh cairannya memenuhi Yohan.

Nafas mereka tersengal. Peluh yang menetes membuktikan seberapa panas kegiatan mereka pagi ini.

Yongha tersenyum tipis, telapak tangannya mengusap perut Yohan pelan. “Terasa penuh?”

Yohan mengangguk pelan. Kedua tangannya terulur, meminta Yongha mendekat agar ia bisa memeluk tubuh itu. Ia melingkarkan lengannya di bahu, menenggelamkan wajahnya di ceruk leher suaminya. “Jangan di lepas dulu.”

Pipi gembilnya dikecup berkali-kali, “Kita harus bersih-bersih, nanti saya harus pergi ke kantor.”

Ah, Yohan lupa suaminya masih harus bekerja.

Netra bulatnya menatap sedih, membuat kekehan gemas keluar dari bilah bibir suaminya, “Apa saya bolos saja hari ini?”

Kepalanya menggeleng, “Gak usah, nanti ada hal penting bisa gawat kan.”

“Sudah saya bilang kamu lebih penting, kan?”

“Ih, bukan gitu.” Yohan merengut kesal, “Kerja aja gapapa, tapi berangkatnya agak siangan ya, jam 10?”

Yongha mengangguk setuju, “Oke, jam sepuluh tidak masalah. Sekarang mau apa?”

Netra bulatnya mengerjap, lalu melirik jam digital di nakasnya, masih 05.45. Ia kembali menatap wajah suaminya. “Kalau mau lagi, boleh?”

Setelahnya suara tawa suaminya terdengar. Bukan tawa mengejek tapi tawa gemas. Dengan sisa tawanya ia membalik tubuh mereka hingga kini Yohan berada diatasnya. “Silahkan lakukan apa yang kamu mau.”

Netra bulatnya berbinar senang. Jangan salah sangka, ini bukan berarti dirinya terlalu bernafsu. Yohan hanya ingin menghilangkan rasa canggung diantara mereka. Hanya itu.


Yohan pikir setelah mereka melakukan hubungan badan, situasinya akan berubah. Ia pikir Yongha akan lebih ramah atau mereka akan tidur di ranjang yang sama. Tapi nyatanya tidak ada apapun yang berubah. Bahkan setelah seminggu pasca kejadian itu.

Kesal. Yohan bahkan mengira hari ketika mereka tidur bersama, Yongha sedang mabuk atau kewarasannya hilang untuk sesaat.

Karena kini Yongha bersikap terlalu biasa seolah mereka tidak pernah berbagi kehangatan yang sama. Rasanya mau marah. Yohan ingin memukul suaminya lalu berteriak kalau ia sangat kesal. Tapi mana berani ia melakukan itu.

“Selamat pagi.”

“Pagi. Sarapan dulu habis itu minum vitamin, hari ini kamu ada acara peluncuran produk baru, kan?”

Yongha duduk di kursinya, mengambil nasi goreng bagiannya lalu melahapnya perlahan. “Iya, mungkin nanti saya akan pulang malam, jadi kamu lebih baik makan malam duluan.”

Yohan mengangguk, mengambil posisi duduk dihadapan suaminya, ikut menikmati sarapan buatannya. “Nanti temen-temenku mau main kesini, boleh kan?”

“Boleh.”

“Temenku ada 5 gak masalah?”

“Tidak masalah kok.”

Yohan merengut kesal, padahal niatnya membuat suaminya itu cemburu. “Nanti malem boleh tidur bareng di kamarmu gak?”

Yongha mengangkat wajahnya, menatap Yohan yang sibuk memainkan makanannya menggunakan sendok. “Kamu mau tidur dengan saya?”

“Iya lah!” Jawabnya lantang. Setelahnya ia menyesal karena terlihat terlalu menginginkan hal itu, padahal bukan itu maksudnya. Tapi memang sih ia sangat ingin tidur di samping suaminya, tapiㅡ

Sudahlah.

“Kalau kamu gak mau yaudah tidur dikamar masing-masing aja.”

“Iya. Nanti tidur di kamar saya.”

Pupilnya membulat, “Beneran?” Yohan bahkan lupa ia harus menyembunyikan rasa bahagiannya. “Maksudnya bukannya aku mesum atau gimana tapiㅡ”

“Iya saya tau. Tidak perlu kamu jelaskan, Yohan.”

Yohan mengangguk, “Syukurlah.” Ia akhirnya bisa melahap sarapannya dengan hikmat.

Selesai sarapan Yongha langsung bersiap untuk berangkat kerja. Setelah memastikan tidak ada yang tertinggal, ia menoleh kearah Yohan. “Saya berangkat dulu.”

“Gak ada yang ketinggalan, kan?”

“Tidak ada.”

Yohan memaksa senyum, padahal ia menunggu kecupan di kening, tapi sepertinya ia tidak akan mendapatkannya sama seperti hari yang telah berlalu. Apa yang ia harapkan dari suami yang gila kerja?

“Kalau gitu hati-hati di jalan.”

Yongha mengangguk lalu berderap menjauh. Namun tubuhnya kembali berbalik setelah beberapa langkah. “Saya lupa sesuatu.”

Netra bulat itu berbinar, mungkinkah suaminya akan memberi kecupan di kening? Ada sedikit harapan disana.

Namun Yongha justru sibuk merogoh tasnya lalu mengeluarkan satu kotak beludru merah. “Buat kamu.”

Yohan menatap bingung, namun tetap menerima kotak itu. Ia membuka kotaknya, kalung dengan liontin cincin kecil yang dihiasi dua buah berlian di salah satu sisinya. Sederhana namun cantik. Benar-benar stylenya.

“Ini kamu beli?”

Ada sedikit nada berharap disana. Yohan berharap itu memang hadiah yang dibelikan suaminya untuk anniversary pertama mereka. Namun lagi-lagi apa yang ia harapkan dari suaminya yang kaku?

“Tidak. Itu sponsor dari perusahaan yang kerjasama dengan You Corp. Saya berikan untuk kamu karena sepertinya kamu suka.” Ia kembali menutup resleting tasnya, “Kalau begitu saya berangkat dulu.”

Yohan mengangguk, kembali melambaikan tangannya dan harus menelan pahit karena tidak mendapatkan kecupan di kening.


Pukul 10 malam Yongha baru sampai di rumah mewah mereka. Kepalanya menoleh ke kanan-kiri, mencari keberadaan suaminya. Tapi nihil, mungkin Yohan sedang berada di kamar, pikirnya.

Kakinya berderap menaiki anak tangga menuju ke kamarnya, lalu membuka pintu kamar perlahan.

“Malem banget pulangnya.”

Yongha menatap lamat pemuda yang sudah duduk diatas ranjangnya, bersiap untuk tidur. “Saya kira kamu ada di kamarmu.”

“Tadi kan katanya aku boleh tidur disini.”

Yongha mengangguk. Ia pergi ke sudut ruangan untuk menaruh barang bawaannya, lalu melepas jas yang dipakainya. “Tadi temen-temenmu jadi bertamu?”

“Jadi. Oh, iya kamu udah makan malem?”

“Sudah di kantor.”

“Untunglah.” Yohan beranjak dari duduknya lalu melangkah mendekat. “Tadi aku makan malem sama temen-temen.”

“Oh.” Yongha menatap heran, “Kenapa kamu kesini?”

“Eh? Eumㅡ bantuin kamu buka baju.” Netranya mengerjap, menyadari ada yang salah dengan kata-katanya. “Maksudnya, biasanya di drama-drama kayak gitu, kan? Bukan aneh-aneh kok.” Jelasnya lantang.

Yongha mengangguk paham, “Saya bisa sendiri kok.” Netranya menatap lamat penampilan Yohan yang hanya mengenakan kaos dan celana pendek. “Tadi kamu tidak berpakaian begini kan saat teman-temanmu datang?”

Yohan menunduk memperhatikan penampilannya. “Baru ganti baju kok.”

“Tadi pakaianmu seperti ini juga?”

“Iya, kan di rumah.”

Yongha menghela nafasnya gusar. Ia menarik lepas dasinya lalu membuka simpulnya, “Bukannya saya sudah bilang jangan menggunakan pakaian seperti ini saat bertemu orang lain?”

Netra bulat itu mengerjap, “Aku kira maksudnya keluar rumah, soalnya seharian ini kan aku di rumah.”

“Buka pakaianmu.”

Yohan mengernyit bingung, namun melihat wajah serius suaminya ia mengurungkan protesnya dan memilih mengikuti perintah. Setelah semua pakaiannya terlepas ia kembali berdiri dihadapan Yongha, seolah robot yang menunggu perintah pemiliknya.

Satu persatu tangan Yohan ditarik ke depan dalam satu genggaman lalu diikat menggunakan dasinya, “Siapa saja yang bertamu?”

Meski Yohan tidak tau mengapa kedua tangannya diikat, ia tidak berontak. Ia membiarkan suaminya melakukan apapun. “Hangyul, Wooseok, Yuvin, Seungyoun, Seungwoo.”

Yongha tersenyum miring, “Bukannya dulu kamu sempat bilang Hangyul punya perasaan lebih padamu?”

“Iya, tapi itu dulu.”

“Saya tidak suka kamu terlalu dekat dengan orang lain.”

Yohan memiringkan kepalanya, “Kamu cemburu?”

“Iya.” Satu kata yang menjadi jawaban itu terlontar tanpa ragu. Selesai dengan simpul dasinya, Yongha melepaskan pegangannya pada tangan Yohan. “Tunggu di ranjang.” Setelahnya Yongha masuk ke dalam kamar mandi.

Begitu pintu kamar mandi tertutup rapat, Yohan langsung menjatuhkan dirinya di ranjang. Wajahnya terlalu sumringah untuk ukuran seseorang yang baru saja membuat suaminya marah.

Ia terkikik geli, ternyata perangkap yang dibuatnya berhasil.

Tentu saja Yohan tidak menemui temannya dengan pakaian seperti ini. Ia lebih sering menggunakan training yang nyaman. Celana pendek hanya ia gunakan untuk menggoda suaminya. Tapi siapa sangka Yongha justru percaya ketika Yohan mengatakan demikian.

Seharusnya Yohan takut dengan kemarahan suaminya. Iya, seharusnya begitu. Tapi dibandingkan takut ia justru tidak sabar mendapatkan hukumannya.

Oh, katakan lah Yohan masokis. Tapi dirinya tau batas hukuman yang akan dilakukan Yongha. Ia tau betul Yongha tidak akan memberi hukuman diluar batas toleransinya. Yongha kan mencintainya.

Selama lima belas menit ia menunggu sampai akhirnya Yongha keluar dari kamar mandi dengan handuk yang melilit di pinggang dan handuk kecil yang ia gunakan untuk mengeringkan rambut.

Ia berdiri di depan cermin, netranya menatap pantulan tubuh suaminya di ranjang. Setelah tetesan air tidak jatuh dari helainya lagi, handuk kecil ditangannya ia lempar ke keranjang laundry. Tubuhnya berbalik menghadap ranjang.

“Yohan, sini.”

Yohan mengangkat wajahnya, ia pikir Yongha yang akan mendatanginya. Perlahan, ia susah payah beranjak dari ranjang karena kedua tangannya terikat. Lalu berderap mendekati suaminya.

Kedua tangan Yongha memegang bahunya, mengarahkan tubuh mereka hingga sisi sampingnya terlihat jelas di cermin.

“Bersimpuh.”

Hanya satu kata yang diucapkan penuh penekanan. Bukan sebuah perintah mutlak, nada bicaranya tidak seperti memerintah namun Yohan tidak bisa menolaknya. Ia bersimpuh di hadapan Yongha.

“Angkat tanganmu.”

Menurut, tangannya yang terikat ia angkat keatas kepala dan langsung dipegang dengan satu tangan Yongha, ditahan agar kedua tangan itu tidak turun.

Blowjob.

Kepalanya mendongak. Netra bulatnya menatap wajah suaminya yang menatap datar. Sangat jauh berbeda dengan Yongha Yongha yang pernah ia temui. Apa memang begini jika Yongha sedang marah?

“Handuknya?”

“Gunakan mulutmu, Yohan.”

Yohan meneguk ludahnya kasar. Tidak ada senyum tipis yang biasa menghias wajah suaminya. Pun tidak ada raut marah disana. Yongha tidak berekspresi apapun, dalam netranya tersirat kilat kemarahan.

Yohan menurut, wajahnya mendekat lalu menggigit ujung handuk yang melilit pinggang suaminya lantas menariknya hingga terlepas dan jatuh ke lantai.

Netra bulatnya menatap takut. Ia takut jika seandainya Yongha benar-benar marah dan melakukan hal yang buruk padanya. Ia tidak menyangka Yongha akan semarah ini.

“Kulum.”

Perlahan ia memasukan kejantanan suaminya ke dalam mulutnya, mengulumnya sesuai perintah. Berusaha melakukan yang terbaik untuk menghibur suasana hati suaminya. Lagipula sejak awal ini memang salahnya.

Satu tangan Yongha yang bebas menekan pucuk kepala Yohan, lalu menghentakkan pingulnya lebih cepat. “Lihat ke cermin, Yohan.”

Netra bulat itu melirik ke cermin, menatap pantulan mereka ㅡdirinya yang terlihat begitu tunduk dihadapan Yongha. Mengerikan, namun bukan itu yang terlintas dalam benak Yohan. Ia justru senang melihat dirinya berada dibawah kendali suaminya.

Gila. Iya, Yohan sudah gila.

Yongha memasukan seluruh kejantanannya ke dalam mulut Yohan hingga menyentuh ujung kerongkongannya. Menahannya beberapa saat sebelum mengeluarkan miliknya.

Yohan terbatuk, sedikit tersedak karena tidak biasa melakukan hal seperti ini sebelumnya. Namun Yongha tidak menunjukan rasa khawatir sama sekali.

“Berdiri.” Yongha menarik tangan Yohan hingga pemuda itu kembali berdiri.

“Hadap cermin, nungging.”

Tanpa ada kata penolakan apapun, Yohan melakukan apa yang diperintahkan.

Kedua telapak tangannya yang terikat bertumpu pada cermin, sementara bagian belakangnya menungging seperti keinginan suaminya.

Sekarang sangat terlihat jelas bagaimana wajah telanjang mereka. Yohan bahkan bisa melihat Yongha yang mempersiapkan diri di belakang tubuhnya.

Ketika milik Yongha menembus, ia memekik sakit. Namun tidak seperti sebelumnya, kini Yongha hanya menatapnya datar melalui pantulan diri mereka.

“Lihat dirimu di cermin, Yohan.” Yongha mulai menggerakan pinggulnya, tangannya sedikit menjambak helai belakang Yohan agar pemuda itu fokus menatap cermin.

“Lihat siapa yang menguasai kamu sekarang.” Kalimat itu diucapkan begitu datar, namun sarat akan amarah yang ditahan.

Yohan menatap pantulan mereka di cermin, sangat erotis. Ia tidak pernah membayangkan akan melakukan seks di depan cermin seperti ini. Wajahnya yang memerah dan bibirnya terbuka mendesah nikmat kini terlihat jelas.

Wah, Kim Yohan tidak pernah memikirkan dirinya bisa memiliki ekspresi yang sama seperti tokoh-tokoh dalam video bokep yang sering ditontonnya.

“Sudah lihat bagaimana dirimu?”

Kepalanya mengangguk. Ia tidak bisa menjawab apapun karena mulutnya sibuk mendesah setiap kali Yongha menyentuh titik nikmatnya.

Who owns you, Kim Yohan?

ahhㅡ YooㅡYongha.” Ia menjawab pertanyaan itu susah payah.

Netranya menatap pantulan wajah suaminya, melihat sedikit senyum mengulas disana membuat dirinya ikut tersenyum. Ada perasaan lega ketika ia berhasil mengubah mood suaminya.

“YongㅡI love you.” Tidak tau mengapa kalimat itu tiba-tiba terlontar. Yohan mengatakannya tanpa berpikir. Ia hanya mengikuti hatinya, mengikuti nalurinya.

Wajah Yongha terangkat hingga pandangan mereka bertemu melalui pantulan cermin. Kedua tangannya menarik tubuh Yohan hingga berdiri tegap, masih dengan pinggul yang tetap bergerak.

Bibirnya mencium bahu Yohan lalu meninggalkan tanda kemerahan disana. “I love you too, Yohan.

Bisikan rendah itu membuatnya meremang. Yongha terus memberikan ciuman sepanjang lehernya hingga punggung.

Satu tangan Yongha memilin noktahnya, sementara tangan lainnya turun untuk memijat kejantanan Yohan.

HnnnㅡYong.”

Yohan nyaris menangis karena seluruh rangsangan yang diberikan sekaligus ㅡtanpa henti. Melihat pantulan dirinya di cermin Yohan seperti menonton bokep yang berkali lipat lebih erotis dibanding video-video yang sudah ditontonnya.

Kepalanya menoleh kesamping, bibirnya sibuk mencari-cari milik suaminya. Yohan ingin mendapatkan ciumannya.

“Mau cium.”

Yongha terkekeh pelan, lalu menuruti keinginan Yohan karena demi Tuhan saat ini suaminya terlihat sangat menggemaskan.

Keduanya saling mencumbu satu sama lain, saling meraup rakus seolah tidak puas dengan ciuman yang lembut. Yohan ingin dicumbu hingga hilang akal. Ingin dikuasai Yongha seutuhnya.

Ciuman mereka baru terlepas ketika Yohan mendongak melolongan desah. Ia hampir sampai, tubuhnya sudah terlalu sensitif hingga semua sentuhan itu membuat tubuhnya mengejang.

“Lihat dirimu di cermin.”

Bisikan Yongha membuat netranya kembali menatap cermin. Melihat bagaimana wajahnya yang berantakan, air liur yang menetes dari sudut bibirnya dan mata yang menatap sayu. Jangan lupakan juga peluh disekujur tubuh dan beberapa tanda di leher hingga bahunya. Yohan sangat berantakan.

Yongha menatapnya melalui pantulan cermin. Tatapan yang penuh memuja, “Kamu cantik. Paling cantik di dunia.”

Setelahnya Yohan mencapai putihnya lebih dulu lalu diikuti Yongha yang memenuhi dirinya di dalam sana. Tubuhnya lemas, nyaris ambruk jika Yongha tidak mendekapnya erat.

Tangan Yongha menyentuh perutnya, mengusap-ngusapnya perlahan. “Terasa hangat.”

Wajahnya memanas, entah mengapa ia suka mendapat usapan di perut setelah seluruh cairan suaminya memenuhi dirinya. Tingkah suaminya terlihat sangat menggemaskan bagi Yohan.


Tubuh keduanya ambruk di ranjang. Yongha melepas penyatuan mereka, menyisakan beberapa cairan yang menetes dari lubang itu. Ia membalik tubuh Yohan perlahan agar tidur terlentang dan lebih nyaman.

Yongha duduk disisi ranjang, menarik tangan Yohan yang terikat lalu melepas simpul dasinya. Sedikit meringis begitu menyadari pergelangan tangan suaminya memerah. “Maaf, sepertinya ikatannya terlalu kencang.”

Yohan menggeleng, “Aku yang gak bisa diem daritadi. Tapi gak sakit kok.”

Kedua tangan Yohan dibawa ke depan wajahnya, lalu memberikan kecupan pada garis kemerahan disekeliling pergelangan tangan suaminya. “Lain kali jangan buat saya marah lagi, Yohan.”

Yang lebih muda mengulas senyum tipis, “Maaf tadi sebenernya aku bohong. Aku pake training pas mereka main kesini.”

Yongha mengernyit bingung, “Kenapa kamu bohong?”

“Aku pengen tau kamu cemburu atau engga.”

Nafasnya menghela gusar, “Yohan. Bukan begitu caranya. Saya tidak suka kalau kamu berbohong.”

“Maaf, tapi susah nebak perasaan kamu jadi aku terpaksa lakuin ini.”

“Kamu masih ragu dengan perasaan saya?”

“Bukannya ragu. Tapi kenapa bisa kamu bersikap santai terus biasa aja setelah kita tidur bareng, padahal aku kepikiran terus.”

Ia berbaring di samping Yohan, lalu menarik lengan suaminya dan membawa tubuh itu ke dalam dekapannya. “Saya juga kepikiran terus kok. Cuma ya memang saya susah nunjukin perasaan yang sebenarnya. Maaf kalau buat kamu bingung, saya akan berusaha berubah.”

Yohan menggeleng, menyamankan dirinya dalam dekapan hangat suaminya. “Gak ada yang perlu dirubah kok. Setelah aku pikir-pikir, kayak gini juga gak masalah. Memang sih gak sama kayak pasangan lainnya, tapi bukannya itu justru lebih kerasa spesial?” Kepalanya mendongak, mempertemukan netra mereka.

Senyum kelincinya mencuat, “Aku gapapa kita punya kamar terpisah, gapapa juga kalau kamu susah nunjukin perasaan kamu, kayak biasanya aja. Aku suka kamu yang kayak gitu.”

Yongha tersenyum gemas, “Sungguh?”

Yohan mengangguk, “Tapi kalau aku nginep sering-sering boleh ya?”

Yongha tertawa. Kedua tangannya semakin erat memeluk tubuh suaminya. Gemas sekali. “Boleh. Ada permintaan lain lagi?”

“Eum. Terus sebelum kamu berangkat kerja aku mau dapet cium di kening.”

“Jadi selama ini kamu ngulur waktu setiap saya mau berangkat kerja, karena ini?”

“Bukan gitu!” Yohan mendelik marah tapi suaminya justru semakin tersenyum lebar.

“Ih, beneran Yong.”

“Iya iya.”

“Beneran tau!” Yohan membenamkan wajahnya di dada Yongha dibanding dirinya semakin malu karena tingkah bodohnya.

Yohan merasakan pelukan suaminya mengerat, lalu usapan halus terasa di pucuk kepalanya. “Makasih sudah menerima saya, Yohan.”

Sayang.

“Hm?”

Mau dipanggil sayang.

Yongha tersenyum gemas. Ia menghadiahi kecupan di pucuk kepala suaminya sebanyak tiga kali sebelum bergumam, “Makasih, sayang.”

Dalam pelukan itu Yohan merasa nyaman. Selama setahun melalui hari bersama suaminya yang kaku dan situasi yang canggung, Yohan mempelajari banyak hal. Meski mereka sudah menikah, keduanya tetap adalah seorang individu yang tidak bisa ditebak. Terkadang mereka akan membutuhkan ruang sendiri untuk berpikir dan menenangkan diri. Terkadang mereka tidak ingin bertemu siapapun meski orang yang paling dicintai sekalipun. Makanya Yohan tidak masalah jika mereka punya kamar terpisah, karena ia tau suatu saat nanti ada kalanya mereka butuh waktu sendiri.

Menikah dengan Yongha-pun membuatnya sadar bahwa mencintai bukan sekedar kalimat Aku mencintaimu, bukan juga sekedar sebuket bunga ataupun coklat. Cinta memiliki arti yang lebih dalam dari itu. Meski selama ini ia selalu meragukan perasaan Yongha karena suaminya bersikap kaku dan canggung, namun jika ia perhatikan baik-baik, Yongha benar-benar tulus mencintainya.

Pujian tak langsung, perhatian-perhatian kecil seperti Yongha yang menyukainya memakai sweater merah muda atau diam-diam khawatir karena Yohan tidak ingin bertemu, bahkan berusaha untuk tidak menyentuh Yohan hanya karena takut Yohan belum sepenuhnya menerima pernikahan ini. Dibandingkan mencari kebahagiaan yang besar, hal-hal kecil seperti itu ternyata bisa membuatnya bahagia.

Benar kata pepatah, Bahagia itu sederhana. Buktinya meski pernikahan mereka tidak seperti pasangan lain, namun mereka bisa menemukan kebahagiaan versi mereka.

Ah, sepertinya sekarang Yohan akan semakin mencintai suaminya.


Bonus part:

“Ini obatnya pak.”

Yongha menerima botol obat yang diberikan sekretarisnya, membuka kemasannya lalu meneguknya cepat.

“Siapa suruh tadi memaksa makan padahal bapak sudah makan banyak tadi.”

Ia tersenyum tipis. Tangannya menepuk-nepuk dadanya, rasanya sulit bergerak karena terlalu banyak menampung makan siangnya. “Saya tidak bisa membiarkan Yohan membawa makanannya pulang lagi. Ini pertama kalinya Yohan datang ke kantor setelah setahun kami menikah, mana bisa saya bilang kalau sudah makan.”

Netranya menatap sinis sekretarisnya, “Lagipula kenapa kamu justru bilang di depan Yohan kalau saya sudah makan?”

“Ya, saya kan tidak boleh berbohong, pak.” Ia merapikan dokumen yang telah ditandatangani atasannya. “Terus anniversary kemarin gimana?”

“Ya begitu.”

Junseo memutar bola matanya malas, atasannya ini sangat kaku sekali. “Begitu bagaimana pak? Kalung berliannya udah dikasih? Kemarin saya telfon mau mengingatkan itu malah gak dijawab.”

“Saya lupa. Saya kira kamu akan bahas kerjaan.”

Nafasnya mendengus gusar, sudah ia duga. Bosnya sangat ahli dalam bisnis tapi bodoh sekali kalau sudah urusan cinta. “Mana mungkin. Saya kan tau bapak sudah jauh-jauh hari atur jadwal biar bisa anniversary bareng. Bahkan rela berangkat kerja lebih pagi biar bisa pulang cepet buat ambil kalungnya terus ngajak makan malem.”

”..Sampe semua staff harus rela dateng lebih pagi buat meeting. Mana mungkin saya nelfon masalah kerjaan, bisa dipotong gaji saya. Bapak sendiri yang bilang suami lebih penting dari perusahaan.”

Yongha mendecak kesal, “Jangan dibahas lagi.”

“Terus bapak ngucapin anniversary duluan, kan?”

“Tidak. Saya bilang lupa lalu kamu yang ingatkan.”

Junseo memukul keningnya sendiri. Bisa-bisanya ia punya atasan seperti ini. “Tuan Yohan pasti sakit hati dengernya. Masa suami sendiri lupa sama anniversary pernikahan?”

“Tidak perlu dibahas lagi.”

“Heran deh, bapak itu di kantor aja berani nunjukin bucin ke suami tapi saat berhadapan langsung, nyali ciut.” Kepalanya menggeleng heran. “Nanti kalungnya bapak kasih gak?”

Yongha mengangguk, kembali menandatangani berkasnya.

“Bilang sejujurnya kalau itu hadiah anniversary pernikahan, jangan dibilang sponsor atau produk kerjasama perusahaan.”

Yongha mendecak, “Iya, iya. Sana kerja, sebelum gajimu saya potong.”

“Harusnya gaji saya ditambah karena ngasih masukan.”

Netranya menatap sinis membuat Junseo langsung melanjutkan pekerjaannya dalam diam.

THE END Aiinim 19 November 2020


published with write.as