Actions

Work Header

Kebenaran yang Tidak Pernah Ditanya

Summary:

Bagaimana jika, Suo Hayato berasal dari keluarga yang hanya mengakui keturunan laki-laki? Jadi, dia dibesarkan sebagai anak laki-laki, dan harus terus memainkan peran tersebut bahkan hingga kini.

Dan sekarang, dia punya keterampilan bermain peran yang tidak terkalahkan ...

Chapter 1: Di Toko Aksesoris

Chapter Text

Furin adalah sekolah khusus laki-laki, jadi secara alami semua orang akan menganggap satu sama lain sebagai orang-orang berjenis sama. Bahkan meskipun beberapa mengenakan penampilan yang konstras seperti Tsubakino, orangnya sendiri terang-terangan menyatakan bahwa dia masihlah sama dengan mereka.

Lalu, ada Suo Hayato.

Misteri yang melingkupinya tak berujung, sampai siapapun akan mengerutkan dahi ketika mulai merinci satu-satu. Seperti, apa yang terjadi pada mata kanannya, dan siapa saja yang dia kalahkan saat SMP. Siapa yang mengajarinya bela diri, atau bahkan, apa nama dari teknik yang membuatnya nyaris tak tersentuh itu? 

Namun, semakin dekat seseorang dengannya, daftar pertanyaan itu hanya akan bertambah panjang, tanpa sedikitpun mendapat jawab yang memuaskan. Mengapa dia tidak pernah ikut menyentuh sumpit saat acara makan bersama, mengapa dia selalu mengenakan baju berlapis-lapis bahkan saat liburan di tempat seterik pantai kala musim panas, mengapa dia tidak pernah melepas penutup mata, ketika mereka tidur berjejer di penginapan. Banyak hal. 

Suo selalu membuat heran, di mana dia hanya akan menjawab ala kadarnya dengan senyuman lebar. Lalu, si penanya akan kehabisan kata-kata, dan mengabaikan apapun itu sebagai hal yang normal. 

Contohnya, 'diet' sialan itu.

"Suo-san, kau tidak bosan minum teh?" 

Suatu pagi Nirei mengusiknya dengan pertanyaan sederhana. Itu adalah ketika mereka sarapan di Photos sebelum berangkat ke sekolah. Sakura menyantap sepiring omurice, Nirei melahap setangkup roti isi, selagi Suo hanya menyesap secangkir teh tanpa memakan apa-apa. 

"Uh? Tidak," sahut Suo santai. "Biasanya siapapun tidak akan mudah bosan dengan makanan favoritnya, kan? Lihat, Sakura-kun bahkan memesan menu yang sama setiap hari."

"Teh itu bahkan bukan makanan," sanggah Sakura tepat sasaran. Suo tertawa kecil, berkomentar bahwa kemampuan Sakura dalam melihat celah dalam percakapan telah meningkat, di mana ketua kelasnya itu kemudian mencak-mencak karena merasa selama ini telah diperlakukan seperti orang bodoh.

Duh, bukan seperti itu, pikir Suo dengan senyumannya yang telah menjadi otomatis. "Hm, baiklah, ini bukan berarti aku terbiasa minum teh sejak kecil dulu," ujarnya tenang, yang langsung memantik rasa penasaran dari dua rekannya, sejak itu adalah hal langka bagi Suo buat membahas masa lalu.

"Jadi, apa yang kau minum pas masih kecil?"

"Apa Suo-san dulu juga suka es krim tumpuk lima topping?" 

Suo menatap takjub pada Nirei, dengan keheranan serupa berpendar di mata Sakura. Kotoha yang menyimak hanya bisa tertawa geli, menyampaikan kepada Nirei yang antusias bahwa tidak semua anak punya pengalaman makan es krim yang spektakuler seperti itu. Kemudian, topiknya dengan cepat berubah, dan Suo mengulum senyum lega yang tidak disadari siapa-siapa.

Yah, tidak ada gunanya bercerita tentang orang tuanya yang terobsesi dengan susu peninggi badan, kan? 

Suo punya beberapa saudara laki-laki, dan dia dibesarkan dengan cara yang sama dengan mereka. Dia diberi pakaian, mainan, dan perlakuan seperti saudara-saudaranya. Hanya saja, ketika menyadari bahwa Suo 'terlalu pendek' dibanding anak laki-laki seumurannya, dia mulai diwajibkan untuk minum susu setiap hari.

Tidak ada gunanya beralasan bosan, atau menjelaskan betapa dia tidak menyukai aroma dan rasanya. Suo tetap harus menelannya, atau dia akan ditahan dan diminumkan secara paksa.

Tentu saja, cara itu lama-lama tidak berhasil lagi, sejak Suo diberi didikan bela diri yang sama dengan anak-anak lain, dan dia menjadi lebih jago dari mereka. Tapi, bahkan setelah berhasil melarikan diri dari kewajiban minum susu, dia telah menjadi anak 'perempuan' tertinggi di kelasnya, menjelang kelulusan SD. 

Memasuki SMP, orang tuanya mulai berpikir bahwa Suo terlalu cantik untuk menjadi laki-laki. Dibisiki ide entah dari mana, mereka berpikir bahwa beberapa bekas luka akan membuat wajahnya lebih tegas. Namun, Suo memberontak dalam prosesnya, dan bilah pisau itu secara fatal mengenai mata.  

Darahnya mengalir deras, dan Suo ingat bahwa hal terakhir yang dilihatnya sebelum sebelah mata itu kehilangan fungsi, adalah wajah panik gurunya saat menerobos masuk ke ruangan yang seharusnya rapat terkunci. Tampaknya kakak-kakak Suo telah meminta bantuan, tetapi mereka terlambat untuk mencegah hal buruk terjadi.

Sejak hari itu, gurunya mengambil alih pengasuhan Suo. Namun, tidak pernah ada cara sederhana untuk mengubah cara pikir seorang anak. Suo terlanjur terbiasa untuk diperlakukan sebagai laki-laki, betapapun dia tidak bodoh untuk pelan-pelan memahami bahwa identitas sejatinya adalah seorang anak perempuan. 

Gurunya tidak memaksa ataupun menasehati panjang lebar. Dia hanya melempar tatapan sedih yang tidak dipahami Suo, dan lanjut melatihnya--dan saudara-saudaranya--bela diri. 

"Ngomong-ngomong, antingmu baru, Kotoha-san?" Nirei tiba-tiba bertanya, sebelum mereka meninggalkan cafe untuk berangkat ke sekolah. Sakura sedang mengepaskan sepatunya, dan Suo diam-diam turut memperhatikan anting Kotoha. Benar juga, itu variasi yang belum pernah gadis tersebut pakai sebelumnya. 

"Hehe, kau menyadarinya? Ume memberikannya padaku kemarin, katanya dia mendapatkannya dengan harga murah di festival kembang api."

"Terlihat cocok denganmu," komentar Suo tulus. 

Kotoha berbinar saat menoleh padanya. "Begitukah? Kau mau mencobanya kapan-kapan?" 

"Eh?"

Kotoha tertawa ringan. "Yah, kau tahu, tidak banyak kenalanku yang mengenakan anting, jadi aku tidak bisa mencobakannya pada mereka."

Membayangkan Hiragi atau Umemiya memakai anting memang cukup menggelitik, tetapi masalah pertamanya adalah mereka tidak melubangi telinga. Suo adalah anak Bofurin pertama yang Kotoha lihat mengenakan anting secara rutin, dan itu membuatnya sedikit antusias. 

Sakura mengerutkan dahi, lantas berkomentar dengan nada yang agak keras, "Heh, sebenarnya agak sulit untuk membayangkanmu memakai anting selain yang biasa itu."

Suo menganggukkan kepala dengan maklum. "Bisa dimengerti, itu adalah masalah kesan pertama." Dia kemudian menoleh pada Kotoha, berkata dengan sopan bahwa dia akan mempertimbangkan tawarannya untuk kapan-kapan.

Dengan begitu, mereka meninggalkan Photos, dan berjalan ke sekolah sambilan patroli. Tidak ada banyak masalah, hanya beberapa orang mabuk yang merusuh di toko aksesoris. Sakura melempar mereka ke jalanan, selagi Suo dan Nirei membantu membereskan kekacauan di dalam toko. 

Sembari membantu menyusun kembali kalung, cincin, dan perhiasan lainnya ke rak-rak, Suo tiba-tiba teringat dengan kejadian sepuluh tahun lalu. Ketika dia berusia lima tahun, dan terpaku di hadapan etalase yang memamerkan perhiasan khusus untuk anak-anak perempuan.

'Apa yang kau lakukan, Hayato?' 

'Itu terlihat berkilauan.'

'Anak laki-laki tidak memakai yang begituan.'

Suo kecil lalu ditarik untuk menjauh, dan dia cukup pintar untuk mengingat konsep tersebut, lantas tidak pernah lagi menunjukkan ketertarikan pada hal-hal semisal. 

... Sampai matanya cedera, dan gurunya memberikan sebuah kotak sebagai hadiah keluar dari rumah sakit. Itu berisi penutup mata berbahan leather, dan sepasang anting rumbai yang kelihatan mencolok. 

'Ini untukku, Sensei?'

'Tentu saja, aku baru saja memberikannya, bukan?'

'Ayah akan marah kalau melihatku memakai aksesori. Dia bilang itu cuma untuk perempuan.'

'Kau tidak perlu bertemu ayahmu lagi. Tapi, bagaimana pun, kau juga tidak perlu memakainya kalau tidak suka.'

Itu tidak sesederhana suka dan tidak suka. Namun, Suo paham kebaikan yang ditawarkan sang guru, dengan diberikannya pilihan semacam itu padanya. 

"Suo-san, apa kau memikirkan sesuatu?"

"Ah, sedikit. Kau sudah selesai  merapikan yang di sana, Nirei-kun?"

"Sudah!"

Suo bangkit dari posisinya yang tadi berlutut, menyusul Nirei ke luar toko sambil  menerima ucapan terima kasih yang berulang-ulang dari si pemilik. Sakura sudah menunggu di sisi pintu, dengan wajah memerah karena pujian bertubi-tubi dari penduduk sekitar yang menyaksikan aksinya. 

"Ayo buruan ke sekolah, Nirei, Suo!"

"Baiik ~!" Nirei mengiyakan dengan riang. 

"Kau tidak perlu terburu-buru begitu, Sakura-kun," usik Suo dengan keusilannya yang telah menjadi rutinitas. Anak perempuan--yang dilihat siapapun sebagai laki-laki--itu menyimpan kedua tangannya di belakang punggung, selagi berjalan di sebelah Sakura yang berekspresi canggung. 

Suo adalah pembohong ulung. Namun, selagi leluconnya kadang terlalu jelas, beberapa kebohongannya memang terlalu rapi untuk disadari siapapun. Dia memakai pakaian berlapis-lapis, menjaga lehernya agar tetap tertutup, dan mengatur suaranya agar tidak terdengar seperti perempuan. 

... Atau, dia telah berada di bawah perwalian gurunya, tetapi itu bukan berarti orang tuanya menyerah untuk mengawasi.