Work Text:
Laboratorium penelitian biomolekuler selalu terasa terlalu dingin pada jam-jam terakhir sebelum matahari turun. Pendingin ruangan bekerja keras karena server kecil di sudut ruangan masih menyala. Deretan tabung PCR sudah diangkat satu per satu oleh mahasiswa asisten, lalu dibersihkan. Kini tinggal dua dosen yang masih bertahan. Ratio berdiri di sisi meja stainless sambil memegang lembar laporan, sementara Ruan Mei duduk dengan laptop di hadapannya.
Suasana sore itu sunyi. Ratio menelusuri paragraf panjang dalam laporan. Wajahnya tampak serius, tanda kecil bahwa ia sedang memeriksa detail. Tangan kirinya mengetuk meja perlahan tanpa ia sadari. Kebiasaan yang muncul saat ia tidak puas dengan sesuatu.
Mereka sudah terbiasa bekerja seperti ini. Penelitian bersama sudah berlangsung dua semester. Fakultas pernah bilang bahwa kolaborasi mereka dianggap paling produktif. Ratio menerima evaluasi itu tanpa komentar. Ruan Mei tersenyum saat mendengarnya. Namun keduanya tidak pernah benar-benar memikirkan ucapan orang. Mereka sibuk dengan riset, mahasiswa bimbingan, serta kelas yang harus diampu.
“Ruan Mei,” panggilnya tiba-tiba. “Metode Anda valid, tapi eksekusi Anda ceroboh.”
Nada suaranya tidak berubah sejak pertama kali mereka bekerja sama. Datar. Tegas. Terlalu jujur. Seolah kalimat itu sekadar temuan data yang harus disampaikan. Ruan Mei tidak menunjukkan reaksi defensif. Ia menahan napas sebentar. Senyum kecil muncul, namun mata tidak bersinar seperti biasanya.
“Bagian yang mana?”
Ratio mengangkat lembaran kertas. “Yang ini. Urutan langkahmu tidak konsisten dengan daftar material yang kamu tulis.”
“Ah, iya. Saya kelupaan mengubahnya.” Ruan Mei mengambil laptopnya. “Saya revisi sekarang. Sorry kalau berantakan.”
“Nggak perlu minta maaf. Hanya perlu diperbaiki.”
Ruan Mei menunduk sedikit. “Tetap saja. Saya ingin laporan kita rapi.”
Ratio mengangguk. Dialog itu normal. Walaupun ada sesuatu yang membuat Ruan Mei terdiam sedikit lebih lama setelah itu. Ratio memerhatikan hal-hal kecil seperti itu. Terlalu memperhatikan, mungkin. Ia tahu Ruan Mei jarang terlihat kehilangan semangat. Namun hari ini, perempuan itu tampak seperti memaksa dirinya tetap ceria.
Ruan Mei menggeser mouse. “Anda mau saya kirim file final jam berapa?”
“Sekarang,” jawab Ratio.
“Beneran?” Ruan Mei melirik jam. “Masih sore. Anda mau lanjut kerja lagi?”
“Tentu saja.”
“Kalau begitu saya revisi cepat.”
Ratio ingin bilang bahwa ia sebenarnya tidak buru-buru. Namun kalimat itu terasa aneh di lidah. Akhirnya ia memilih diam saja, membiarkan kebohongan kecil itu membebani Ruan Mei. Wanita itu kembali mengetik. Suaranya lembut. Keyboard laptop darinya terdengar stabil, menunjukkan ia benar-benar fokus.
Beberapa menit berlalu. Ratio berdiri di seberang meja sambil tetap menatap lembar laporan. Ia berusaha terlihat biasa saja. Padahal tadi, sebelum memberi komentar, ia sempat menatap wajah Ruan Mei terlalu lama. Ia menangkap sesuatu yang sulit didefinisikan. Keletihan? Kesedihan? Atau hanya penat karena kelas siang tadi?
“Kalau saya terlalu keras, bilang,” tegur Ratio akhirnya. Kalimat itu keluar tanpa rencana. Ia sendiri terkejut.
Ruan Mei berhenti mengetik. Ia menoleh dengan gerakan pelan. “Anda nggak keras.”
“Saya mengkritik terus.”
“Anda mengoreksi,” jelas Ruan Mei. “Itu berbeda.”
Ratio membuka mulut, tetapi tidak menemukan lanjutan. Argumen Ruan Mei tepat, sulit untuk disangkal. Akhirnya, ia kembali tutup mulut. Ruan Mei tersenyum kecil, lalu melanjutkan mengetik.
Ratio tidak berhenti memerhatikan. Ia menyimak cara Ruan Mei mengerutkan alis saat menghapus paragraf panjang. Cara Ruan Mei meluruskan punggung ketika merasa kakinya pegal. Dan, segala detail yang tidak seharusnya menarik baginya.
Beberapa dosen lain sering menyimpulkan bahwa mereka berdua punya hubungan lebih dari rekan kerja. Ratio selalu menyangkal, meski ia tidak pernah memberikan alasan jelas. Ruan Mei hanya tertawa setiap kali ada yang menggoda. Semua orang mengira ia tersenyum karena nyaman. Tidak ada yang tahu bahwa Ruan Mei pernah bertanya diam-diam di dalam hati, apakah Ratio benar-benar tidak merasa apa pun.
Wanita itu menutup file laporan yang sedang dibetulkan lalu menarik napas. Ratio sigap menangkap perubahan ritme napas itu.
“Anda terlihat lelah,” ujar Ratio.
“Sedikit,” sahut Ruan Mei. “Saya habis kelas tiga jam tadi.”
“Anda jarang mengajar sore.”
“Iya. Ada tukar jadwal karena salah satu dosen sakit.”
Ratio menimbang-nimbang sebelum bicara lagi. “Kalau terlalu capek, Anda bisa kirim besok.”
“Tidak apa,” balas Ruan Mei menolak. “Saya lebih suka menyelesaikan sesuatu sebelum pulang.”
Senyum itu kembali. Kali ini ada ketegangan kecil di ujungnya. Ratio tidak pernah pandai menilai emosi manusia, tetapi ia merasakan ketegangan itu seperti gangguan kecil di data yang harus ia periksa lusinan kali. Ia ingin bertanya lagi. Naasnya, ia tidak ingin terdengar peduli berlebihan. Jadi, ia menahan suara.
Ruan Mei mengetik lagi. “Ratio.”
“Ya.”
“Terima kasih sudah nunggu.”
“Saya memang harus menunggu. Kita bekerja bersama.”
Ruan Mei tertawa kecil, suara yang biasanya membuat suasana lab lebih cair. Namun tawa kali ini tidak memiliki daya yang sama. Ratio menoleh sedikit.
“Anda yakin tidak apa?” tanya Ratio. “Kalimat Anda barusan terdengar aneh.”
Ruan Mei menarik kursinya hingga sedikit lebih dekat ke meja. “Saya baik-baik saja. Mungkin hanya lapar.”
“Kita bisa berhenti sebentar dan pergi makan.”
Ruan Mei kembali menatap layar. “Tidak perlu. Lagi pula Anda masih ingin memeriksa data.”
“Kita bisa lanjut setelah makan.”
Ruan Mei menggeleng. “Anda tahu kalau saya berhenti sekarang, saya pasti beli minuman manis dan bukannya makan. Lalu saya tambah ngantuk. Anda nggak mau lihat saya ngantuk di lab.”
Ratio tanpa sadar tersenyum tipis. Benar. Ruan Mei punya kebiasaan membeli cemilan manis setiap kali kelelahan, dan Ratio selalu protes karena itu buruk untuk pola tidur.
“Meski begitu, jangan menyiksa diri,” ucap Ratio kemudian.
“Anda terdengar khawatir.”
“Saya hanya nggak mau penelitian kita kacau karena Anda nggak jaga kesehatan.”
Ruan Mei menelan jawabannya, sadar bahwa percuma mendebat Ratio. Ia mengalihkan pandangan kembali ke layar, menciptakan jarak kecil yang halus namun terasa. Jari-jarinya bergerak di atas keyboard, tetapi gerakannya tidak stabil lagi. Matanya menatap layar, namun fokusnya tidak benar-benar tertambat di sana. Ada kekosongan singkat yang membuat suasana berubah tipis di antara mereka. Ratio menyadarinya, dan pengamatan itu membuat dadanya terasa lebih berat dari yang ia kira.
Satu menit berlalu.
Dua menit.
Ruan Mei memijat pelipis. Ratio tidak tahan melihat itu. “Ruan Mei,” panggilnya.
“Hmm?”
“Ceritakan apa yang membuat Anda nggak fokus hari ini.”
Ruan Mei mengembalikan tangannya ke meja. Ia menatap Ratio lama sebelum bicara. “Nggak ada yang penting.”
“Anda nggak biasanya seperti ini,” sangkal Ratio, air mukanya keruh sekali bahkan lebih keruh dibanding saat menceramahi anak bimbingannya. “Saya mengamati banyak hal. Ini nggak konsisten dengan perilaku harian Anda.”
“Anda mengobservasi saya,” kata Ruan Mei pelan. Wajahnya tetap datar, yang berubah adalah kilat dalam sorot mata hijaunya.
“Tentu saja. Anda rekan penelitian saya.”
Jawaban itu terdengar praktis. Ratio bermaksud begitu. Namun kata-kata itu justru menggores sesuatu di sorot Ruan Mei. Ia tersenyum, tetapi senyum itu tidak naik sampai ke matanya.
“Oh, begitu.”
Ratio tiba-tiba merasa kalimatnya salah. Sayangnya ia tidak tahu bagaimana memperbaikinya tanpa membuat situasi lebih canggung. “Kalau Anda punya masalah lain, Anda bisa cerita,” tuturnya lebih pelan sambil berharap itu mampu menambal sesuatu yang baru saja rusak di antara mereka.
Ruan Mei menunduk. “Saya nggak ingin mengganggu Anda dengan hal pribadi.”
“Saya nggak bilang itu mengganggu.”
“Rasio waktu Anda sudah padat. Anda nggak punya waktu buat urusan seperti itu.”
Ratio tidak menjawab, tidak bisa lagi. Ia tidak menyangka Ruan Mei pernah memikirkan apakah dirinya mau atau tidak mau mendengarkan masalah pribadi seseorang. Ratio sering dianggap tidak punya minat di luar akademik. Kendati begitu, ia tidak ingin Ruan Mei juga memercayai anggapan itu.
Sebelum Ratio sempat menyusun kata, Ruan Mei menutup laptop. “Sudah. Saya revisi bagian metodenya.”
“Bagian hasil?”
“Saya cek besok,” Ruan Mei berdiri. “Kalau Anda tetap ingin menyelesaikan malam ini, saya bisa lanjut beberapa jam lagi.”
“Nggak perlu,” tolak Ratio cepat. “Pergi istirahat.”
Ruan Mei menarik tas. “Apa Anda yakin?”
“Iya.”
“Kalau begitu saya pulang dulu.”
Ruan Mei berjalan menuju pintu. Ratio tidak bergerak. Wanita itu menyapa dengan anggukan kecil sebelum keluar. Langkahnya sedikit lambat dibanding biasanya. Ketika pintu tertutup, Ratio baru sadar bahwa ada sesuatu yang mengganjal di dadanya. Ia merasakannya sejak awal, namun tidak ia akui.
Pria itu meraih laporan. Lembar itu tampak jelas. Tulisan Ruan Mei rapi. Penjelasannya padat dan mudah dipahami. Ia selalu bekerja dengan kualitas tinggi. Hari ini hanya sedikit berantakan. Namun reaksi halus perempuan itu tertanam di kepala Ratio.
Ia kesal kepada dirinya sendiri.
Sangat kesal.
Bukan karena laporan kurang sempurna. Bukan karena revisi tambahan. Ratio tidak tahu bagaimana menghadapi perubahan kecil di ekspresi Ruan Mei. Ia tidak tahu cara menanyakan apa yang sebenarnya terjadi. Ia bahkan tidak tahu apakah Ruan Mei menganggapnya teman. Ratio hanya yakin pada satu hal: ia sangat peduli. Kepedulian yang tidak pernah ia akui.
Pria itu mendesah pelan. Rasio hubungan manusia tidak pernah masuk hitungan. Khusus untuk Ruan Mei, hitungan itu selalu berubah. Iris jingga masih lekat menatap pintu. Pikirannya mulai berputar di luar kendali.
Ruan Mei tidak terlihat marah. Tidak terlihat kecewa besar. Tetapi ada jeda ketika iris zamrudnya menatap Ratio. Jeda kecil yang mengganggu. Jeda yang membuat Ratio bertanya, apakah semua kritik yang ia lontarkan selama ini sudah melukai perempuan itu lebih sering dari perkiraannya.
Jemari menyentuh meja, seolah mencoba menstabilkan pikiran yang terlalu penuh. Ia ingin menyusul Ruan Mei dan bertanya apa yang sebenarnya membuat perempuan itu tampak berbeda hari ini. Namun ia tidak bergerak. Membuat langkah pertama bukan keahliannya.
Pada akhirnya Ratio menutup laporan, menaruhnya ke dalam map, dan mematikan monitor. Malam semakin jatuh, tetapi niat untuk angkat kaki belum terkumpul sehingga hanya mampu berdiri diam selama beberapa detik. Ia membenci ketidakpastian. Dan bagi Ratio, Ruan Mei adalah ketidakpastian terbesar yang pernah ia temui.
Sebab, di balik semua itu, ada satu hal sederhana yang tidak pernah Ratio ucapkan: Ruan Mei tidak pernah marah kepadanya.
Dan entah kenapa, itu membuat Ratio merasa ia tidak pernah cukup berarti.
***
Ruang dosen lantai empat biasanya ramai menjelang siang. Para pengajar berkeliling membawa dokumen, mahasiswa datang untuk konsultasi, dan suara printer bekerja tanpa henti. Hari itu tidak berbeda, kecuali fakta bahwa Ratio lebih banyak diam daripada biasa. Ia duduk di meja kerja, sibuk meninjau hasil laporan mahasiswa bimbingannya. Namun, ia tidak fokus. Setiap suara kecil dalam ruangan terasa seperti gangguan.
Otak masih memikirkan Ruan Mei sejak semalam. Perempuan itu pulang tanpa banyak bicara. Ekspresi kecil yang Ratio tangkap membuat pikirannya bekerja terlalu cepat. Ia mencoba memprosesnya sebagai data sosial, tetapi tidak menemukan konklusi.
Pintu ruang dosen terbuka. Professor Anaxa masuk sambil membawa dua map tebal. Ia berhenti di meja Ratio. “Pagi, Ratio,” sapanya.
“Pagi.”
“Sudah cek email panitia seminar?” tanya Anaxa sambil menata map.
“Sudah. Semua file sudah saya kirim.”
“Bagus. Kamu kerja cepat.”
Ratio hanya mengangguk.
Profesor Anaxa kemudian menoleh pada meja kosong di sebelah Ratio. “Bu Ruan Mei belum datang?”
Sadar atau tidak, tubuh Ratio sedikit tersentak kaku mendengar nama seseorang yang telah mengusik otaknya semalaman penuh. “Belum.”
“Dia bilang mau ke ruang administrasi dulu,” tambah kolega lain, seorang dosen senior.
Ratio menutup file. “Urusan apa?”
“Mungkin soal honor asisten atau jadwal praktikum,” jawab beliau santai. “Ngomong-ngomong soal Bu Ruan… aku dengar sesuatu kemarin.”
Ratio menunggu. Tidak ada ketertarikan yang tampak dari wajahnya, tetapi telinganya tegak menangkap informasi dengan waspada.
“Kamu tahu Bu Ruan punya teman lama di rumah sakit pusat? Yang dokter muda itu?”
Ratio mengangguk perlahan. Ia pernah mendengar nama itu sekali. Tidak penting.
“Nah, teman itu katanya ingin mengenalkan Bu Ruan ke seseorang. Dokter muda yang baru dapat sertifikat spesialis.”
Anaxa menyahut, “Yang dari Fakultas Kedokteran? Yang sering ikut workshop kita?”
“Iya, yang itu. Menurutku mereka cocok. Sama-sama pintar, umur juga dekat.”
Ratio menutup berkas lebih keras dari biasanya, kelebihan tenaga dipicu emosi. “Untuk apa Anda ceritakan itu pada saya?”
Nada Ratio tetap datar, tetapi seniornya tertawa seolah tak peka terhadap nada sinis di dalamnya. “Santai saja. Aku cuma bilang. Toh anak muda zaman sekarang banyak yang dapat pasangan lewat kencan buta. Lucu saja dengarnya.”
Anaxa menambahkan, “Yang menarik, Bu Ruan Mei setuju. Katanya dia nggak keberatan nyoba.”
Dunia Ratio berhenti sejenak. Bukan karena berita itu mengejutkan. Namun karena kata-katanya: setuju dan nggak keberatan nyoba. Rasio emosinya naik drastic, ia berhasil menyembunyikannya. Atau mungkin tidak, karena mimik wajah senior dan Anaxa sedikit pecah.
“Dia setuju?” tanya Ratio. Suaranya terdengar hampir seperti memastikan data eksperimen yang tidak masuk akal.
“Iya, katanya ‘boleh saja’. Pekan ini, sepertinya.”
Ratio tidak berkata apa-apa. Ia menurunkan pandangannya ke laporan mahasiswa. Ia membaca satu paragraf tiga kali tanpa menyerap apa pun. Otaknya semakin penuh dengan asumsi menggelikan. Sepanjang mengenal Ruan Mei, Ratio tidak pernah sangka perempuan cuek itu akan peduli untuk mencoba kencan buta. Ia pikir, Ruan Mei adalah cerminan dirinya dalam koin—mereka tidak berbeda jauh. Hubungan manusia pasti merepotkan baginya juga, tapi realita menamparnya telak sekarang.
Anaxa menepuk bahu Ratio. “Sudah waktunya dia mulai berkencan. Dia dewasa, karier bagus, orangnya baik. Nggak heran kalau banyak yang ingin mengenalkannya ke seseorang.”
Si senior menyeringai. “Lagipula kalau nggak ada yang mau dekati dia, kita curiga juga. Bu Ruan menarik perhatian banyak orang.”
Ratio tidak merespons. Ia tidak mengangkat wajah. Ia hanya memegang kertas lebih erat. Otaknya belum mampu memproses dua kata yang tiba-tiba bersanding: Ruan Mei dan kencan buta.
Anaxa mengangguk sebelum pergi. “Ya sudah. Saya rapat dulu. Nanti kasih kabar kalau butuh bantuan.”
Ketika professor itu keluar ruangan dan pintu tertutup, Ratio baru sudi mengangkat kepala. Wajahnya tetap dingin, tetapi bahunya kaku. Ia menarik napas panjang. Napas itu tidak stabil. Sorotnya kosong menatap layar laptop. Pikirannya berputar cepat, tetapi tidak bisa dirapikan.
Dia setuju kencan buta? Begitu saja? Tanpa pertimbangan?
Ia mencoba memahami.
Ruan Mei ingin berkencan. Dengan orang lain. Dengan laki-laki yang lebih normal. Orang yang jelas dalam mengekspresikan ketertarikan. Orang yang mudah berbicara. Orang yang nggak… seperti aku.
Ratio menutup laptop. Kali ini lebih keras.
Rasa sakit muncul. Bukan karena kecemburuan semata. Rasa sakit itu muncul karena ketakutan yang selama ini ditekan.
Dia akan menemukan seseorang yang lebih mudah dipahami. Seseorang yang nggak bicara dengan logika kaku. Seseorang yang nggak menyembunyikan ketertarikan seperti aku. Seseorang yang bisa membuatnya merasa dihargai tanpa harus dibedah maknanya.
Ketakutan itu benar-benar menusuk.
Dia akan meninggalkanku. Bahkan sebelum aku sempat mendekat.
Ratio berdiri. Kepalanya berdenyut. Ia mengambil jasnya lalu keluar ruangan. Langkah kakinya tergesa ke tangga. Ia tidak ingin bertemu siapa pun. Ia butuh udara. Namun langkahnya terhenti setengah jalan ketika melihat sosok yang baru saja selesai berbicara dengan petugas administrasi.
Ruan Mei.
Perempuan itu berdiri dengan map tipis di tangan. Rambutnya sedikit berantakan karena angin dari koridor. Ia menoleh saat mendengar langkah Ratio.
“Oh. Pagi, Ratio,” sapanya.
Ratio tidak langsung menjawab. Ia mencoba menormalkan wajahnya. “Pagi.”
Ruan Mei mendekat perlahan. “Anda mau ke kelas?”
“Nggak, mau ambil air.”
“Ah.”
Ruan Mei berjalan di sampingnya. Langkahnya ringan. Ia tidak tampak lelah seperti kemarin malam. Akan tetapi, ada sedikit kantung mata yang Ratio tangkap.
“Anda nggak terlihat cukup tidur,” ujar Ratio, suaranya terlalu kaku akibat gagal menenangkan diri dari guncangan emosi.
Ruan Mei menoleh. “Saya tidur, kok. Cuma kebangun beberapa kali.”
“Kenapa?”
“Macam-macam. Saya telat makan, jadi sakit kepala.”
Ratio berhenti berjalan. “Saya sudah bilang Anda harus makan lebih stabil.”
Ruan Mei mengangguk, sungguh datar sekali raut wajahnya meski itu bukan hal aneh. Dari dulu, ia memang seperti itu. “Saya akan berusaha.”
“Apa yang membuat Anda begadang?”
Ruan Mei tertawa kecil. “Nggak perlu ditanya, Ratio. Anda selalu khawatir pada hal kecil.”
Susah payah menelan ludah, Ratio berusaha lebih tegas seperti biasa di tengah campuran emosi. Antara khawatir dan ketakutan bercampur padu dalam dirinya. “Saya harus tahu kalau itu akan mempengaruhi kerja kita.”
Ruan Mei menatapnya lama. “Oh. Itu alasannya.”
Ratio hampir membalas, tetapi suara langkah dari belakang membuat mereka menyingkir ke pinggir koridor. Setelah orang itu lewat, Ruan Mei kembali bicara.
“Saya mau ambil air juga,” ajak dosen itu. “Yuk.”
Mereka berjalan menuju dispenser di ujung lorong. Ruan Mei mengisi botolnya. Ratio berdiri di sampingnya tanpa suara, tetapi pikiran Ratio penuh. Haruskah aku menanyakannya sekarang? Tentang kencan buta itu? Tentang alasannya? Namun sebelum Ratio mengambil keputusan, sebuah suara dari belakang memanggil.
“Ruan Mei!”
Keduanya menoleh. Kolega perempuan dari departemen kimia, Herta, menghampiri dengan wajah antusias. “Jadi, ya? Hari Jumat?” tanyanya.
Ruan Mei tersenyum. “Iya, sepertinya.”
“Dokternya bilang dia siap jam tujuh. Kamu mau tempat yang ramai atau sepi?”
Jawaban Ruan Mei tidak didasari oleh keraguan maupun pertimbangan dahulu. “Yang biasa saja.”
Herta mendengus geli sambil melipat tangan. “Kamu santai banget. Nggak gugup?”
“Nggak juga, aku ikut saja. Pertemuannya kan santai.”
“Dia baik, kok. Dan pintar. Kamu pasti cocok.”
Ruan Mei hanya tertawa. “Semoga begitu.”
Herta menepuk lengannya sebelum pergi. “Nanti kabari aku setelah kencan!”
Saat perempuan itu pergi, Ratio berdiri membeku. Ia tahu reaksi yang seharusnya muncul di wajahnya. Datar. Tenang. Profesional. Namun seluruh tubuhnya terasa menegang. Percakapan dua perempuan itu terlalu santai sekali padahal ada orang asing di dekat mereka. Sudah jelas kencan buta itu topik personal, bagaimana bisa mereka secuek itu?
“Ratio?”
“Jadi Anda… benar-benar setuju,” kata Ratio perlahan. Tubuhnya sungguh kaku dengan sorot kosong ke koridor.
Ruan Mei memegang botolnya lebih erat. “Ah, iya. Saya lupa Anda di sini. Anda dengar?”
“Iya.”
“Oh,” Ruan Mei tersenyum kecil. “Iya. Nggak ada salahnya mencoba.”
Kaku sekali gestur pria itu saat menoleh ke Ruan Mei. Air mukanya makin kacau, tapi Ruan Mei terlalu cuek untuk menyadarinya. “Kenapa?”
“Saya pikir itu jelas,” kata Ruan Mei pelan, alisnya naik sebelah. Cukup bingung mendengar perubahan nada rekan kerjanya sekaligus pertanyaan retorisnya. “Saya sudah lama single. Teman saya khawatir.”
“Kekhawatiran itu bukan alasan.”
“Lalu apa yang Anda ingin dengar?”
“Saya ingin tahu kenapa Anda menerima begitu mudah.”
Ruan Mei menggigit bibir bawah, mulai gelisah melihat sikap Ratio lebih agresif tanpa alasan jelas. “Karena… saya sudah lama nggak punya pasangan. Dan sepertinya waktu saya habis buat kerja. Jadi, kalau ada yang menawarkan sesuatu yang sehat dan nggak aneh, kenapa nggak?”
Kegelisahan masih menyesak dada disertai kebingungan. Meski begitu, Ruan Mei berhasil menuturkan kata-kata terbaik dilapisi nada ringan. Ia tidak mengerti mengapa Ratio tampak kesal. Ranah personal tidak pernah mereka bagi satu sama lain. Mereka hanya sebatas rekan kerja yang sering dipasangkan dalam penelitian. Alhasil, tidak seharusnya Ratio terkesan risih.
“Apakah itu karena saya?” tanya Ratio tiba-tiba.
Ruan Mei tersentak. “Apa maksud…?”
Ratio menatap lurus ke manik zamrud yang sedikit membulat. “Apakah Anda melakukan ini karena saya nggak memberikan apa pun?”
“Ratio…,” Ruan Mei menunduk, panik sekaligus tak siap ditatap setajam itu dalam jarak dekat. “Tidak demikian.”
Sialnya, Ratio malah maju selangkah. Kian mengusir jarak. “Anda ingin melupakan sesuatu?”
Dalam tatapan Ruan Mei, Ratio melihat jawaban yang tidak ia sukai. Perempuan itu tidak langsung mengiyakan. Tidak juga menyangkal. Ia hanya diam terlalu lama.
“Kalau saya jujur,” Ruan Mei mendongak, kembali bertemu mata tajam Ratio, “saya… mencoba berhenti berharap pada sesuatu yang nggak jelas.”
Ratio terpaku, tidak segera menemukan kata untuk menutupi keterkejutannya. Jantungnya berdenyut keras, seolah tubuhnya menolak apa yang baru saja didengar. Jawaban itu di luar perhitungan, menyimpang dari semua asumsi yang selama ini ia repetisi dalam kepalanya. Ia merasa ada sesuatu yang runtuh perlahan, bagian kecil yang selama ini dijaga rapat agar tidak mengganggu logikanya. Sensasi itu membuat napasnya tercekat, keras sekali usaha untuk menjaga wajahnya tetap berusaha datar.
Ruan Mei tersenyum lembut. “Kita bekerja baik. Kita nyaman. Nggak ada masalah. Tapi, Anda nggak pernah menunjukkan… hal lain. Anda juga nggak pernah memberi ruang untuk itu. Jadi, ya… mungkin saya harus melangkah.”
Ultimatum itu terlalu tajam untuk dihunuskan dalam nada halus. Tidak menyalahkan. Tidak menuntut. Hanya kenyataan. Ratio tidak bergerak. Ia ingin bicara, tetapi lidahnya kaku. Ia ingin menyangkal. Ia ingin mengatakan bahwa ia peduli, bahwa ia memperhatikan, bahwa ia mengamati setiap ekspresi kecil Ruan Mei.
Namun tidak ada kata yang keluar.
Senyum Ruan Mei melebar saat mendekap botol lebih erat. Manik zamrudnya tidak kalah lembut menyelami manik jingga yang terbelalak. “Jangan dipikirkan. Nggak ada yang berubah. Kita tetap seperti biasa. Lagipula ini hanya kencan buta. Bukan hal besar.”
“Bukan hal besar?” ulang Ratio, dari sekian kalimat hanya itu yang mampu dikeluarkan.
“Iya.”
Ratio merasa kepalanya hampir meledak.
Mengapa bagimu nggak besar? Mengapa bagimu mudah saja menerima ide itu? Apa aku nggak pernah berarti apa pun?
Sekali lagi, ia tidak bisa mengatakannya. Ia hanya berdiri diam ketika Ruan Mei pergi meninggalkannya untuk kembali ke ruang dosen. Langkah perempuan itu ringan, tetapi Ratio mendengar getaran tipis di langkah itu. Ia tahu. Ruan Mei tidak benar-benar baik-baik saja. Dan, itu menghancurkan Ratio lebih dalam dari yang ia sangka.
Tangan meraih dinding sebelum kemudian menghela napas panjang. Panik. Marah. Bingung. Tersinggung. Tersakiti. Semuanya bercampur seperti variabel yang tidak mungkin dibedakan lagi. Ratio tahu satu hal: ia tidak akan membiarkan kencan itu terjadi tanpa melakukan sesuatu.
***
Ruang kerja Ratio, yang biasanya menjadi zona stabilitas dalam kesehariannya—dengan pencahayaan teratur, meja rapi, dan rak buku sempurna—gagal menjalankan fungsinya hari itu. Dosen itu duduk tegak, seolah tengah meninjau riset. Namun, layar komputernya menampilkan draf artikel yang belum tersentuh. Kursor berkedip cepat, menyindir kekosongan fokus Ratio.
Napasnya tertahan. Ratio berharap kalimat yang ia dengar dari seniornya hanyalah kesalahpahaman, tetapi tiga potong informasi itu terus berputar kasar di benaknya.
"Ruan Mei punya kencan buta minggu ini."
"Temannya mau menjodohkan."
"Dia katanya oke saja."
Ratio mencondongkan tubuh, menekan pelipis, menahan geram yang tidak ia pahami. Bukan karena Ruan Mei mendapat perhatian, itu wajar. Ia adalah perempuan dewasa yang cerdas dan menarik. Yang merenggut stabilitas Ratio adalah jawaban Ruan Mei: tidak menolak. Seolah ia tak memiliki alasan untuk menolak, seolah tidak ada satu pun hal dalam hidupnya yang perlu dipertimbangkan kembali.
Ratio menegakkan punggung, rahangnya mengeras. Secara logis, ini bukan urusannya. Ia bukan pasangan Ruan Mei, tidak pernah menyatakan minat, bahkan jarang bersikap ramah. Ironi itu justru memperparah amarahnya.
Akhirnya, Ratio mengetik sesuatu, tetapi bukan revisi. Ia membuka jendela pencarian dan mengetik nama calon kencan Ruan Mei. Seorang dokter muda dan peneliti paruh waktu, muncul dalam beberapa publikasi. Tampilannya bersih, rapi, dan mudah disukai. Ratio membaca cepat: gelar medis impresif, penelitian stabil, tanpa skandal.
"Sungguh potret ideal pria yang 'cocok secara intelektual dan umur'."
Ratio membenci label itu. Gesekan kursi yang keras memecah kesunyian ruangan. Semakin ia membaca, semakin liar emosinya bergerak. Bagian "volunteer activities" menunjukkan pria itu aktif dalam kegiatan sosial, seminar, bahkan talkshow kesehatan mental.
“Menarik perhatian orang dengan mudah,” bisik Ratio tajam.
Ia menutup berkas CV sang dokter setelah membaca daftar hobinya: mendaki gunung, berenang, masak. Dadanya makin panas. Orang dengan sifat seperti itu mungkin akan membuat Ruan Mei nyaman. Ruan Mei terlalu santai untuk menolak seseorang yang ramah. Ia akan hadir, tersenyum, mendengarkan, dan tertawa kecil pada waktu yang tepat. Dokter itu jelas akan terlihat menyenangkan.
"Nggak penting," geram Ratio sambil mengusap wajah kasar. "Nggak rasional memikirkan ini."
Ironisnya, ia tidak berhenti berpikir. Ia teringat senyum Ruan Mei pagi itu saat ditanya tentang kencan.
"Tidak juga, aku ikut saja. Pertemuannya kan santai."
Nada santai itu menusuk Ratio. Sungguh tidak ada tanda Ruan Mei merasa perlu mempertimbangkan keberadaan Ratio saat membuat keputusan itu. Tubuh tuan itu menunjukkan apa yang ia tolak akui: tangan gemetar, kepala penuh, napas memburu. Ia tahu dirinya bertindak di luar kendali karena didorong oleh tumpukan emosi yang ditekan. Ia membenci kemungkinan kehilangan sesuatu yang tidak pernah ia miliki. Kesadaran itu hanya memperparah gejolak emosinya.
Ratio menutup laptop dengan gerakan tegas. Sinar jingga di senja hari, yang biasanya menenangkan, hari ini terasa meresahkan. Ia menumpukan tangan di bingkai jendela, pikirannya dipenuhi andai-andai yang menyesakkan.
Jika kencan itu berjalan baik.
Jika lelaki itu membuatnya nyaman.
Jika Ruan Mei mempertimbangkan hubungan serius.
"Jika semua itu terjadi, aku nggak punya tempat untuk bicara."
Ratio membenci kata "jika," benci berspekulasi atas hal yang tak dapat ia ukur. Ruan Mei mudah disukai; tenang, tulus, dan tidak rumit. Dokter itu mungkin melihatnya sebagai kandidat ideal hubungan jangka panjang.
"Dia bisa pergi kapan saja," bisiknya.
Kelopak mata terbuka, jemari meremas bingkai jendela. Ketakutan itu nyata. Ratio tidak pernah membayangkan dirinya takut ditinggalkan, tetapi jika konteksnya adalah Ruan Mei, nalurinya menolak ikut bermain dalam penyangkalan. Ia kembali duduk, mencoba menyeduh teh, berharap logika dapat menghalangi perasaan liarnya. Namun, logika Ratio mencatat fakta deskriptif tanpa ampun.
Ruan Mei tidak pernah menunjukkan penolakan terhadap lelaki lain. Ruan Mei tidak pernah mengisyaratkan minat khusus pada Ratio. Ruan Mei terlalu baik pada siapa saja. Ruan Mei tidak pernah marah pada Ratio. Tidak ada indikator Ratio lebih berarti dari kolega lain bagi Ruan Mei.
"Kenapa harus mengganggu seperti ini."
Ia mencoba kembali bekerja, tetapi fokusnya pecah. Wajah Ruan Mei, nada suaranya yang mengiyakan kencan, dan ketidakhadiran niat khusus di balik ucapannya.
"Kencan buta itu bisa berjalan dengan baik," pikirnya dengan kepanikan. "Ruan Mei nggak pandai membaca situasi sosial. Dia bisa saja merasa nyaman."
Kenyamanan itu adalah awal dari banyak hal, dan Ratio menolak kemungkinan orang lain menjadi pusat kenyamanan Ruan Mei. Laptop kembali ditutup, kali ini lebih cepat. Ada dorongan kuat untuk tidak menyerahkan situasi ini pada ketidakpastian.
Akhirnya, Ratio meraih ponsel, membuka kalender fakultas. Ia tahu cara mencari jadwal pertemuan informal di kafe kampus. Ia harus tahu. Ketidaksukaan mencari informasi secara sosial jauh lebih kecil dibanding dorongan emosionalnya saat ini. Ia mengetik pesan singkat pada koleganya.
Kapan Ruan Mei bertemu dokter itu?
Balasan datang cepat.
Besok sore. Mereka ketemu di kafe dekat gerbang selatan.
Ratio menatap layar ponsel, matanya menyempit. Geramnya menajam. Ia mematikan ponsel, menaruhnya pelan.
"Besok," katanya.
***
Sore ini, kampus terlihat lebih sibuk dari biasanya. Mahasiswa keluar masuk gedung dengan ransel setengah terbuka, beberapa dosen menenteng tas berisi alat presentasi, dan petugas keamanan berjaga di setiap sudut. Di tengah arus itu, Ratio berdiri dengan tangan masuk ke saku hoodie abu-abu yang tidak cocok dengan image biasanya. Tudung kepala ditarik rendah, seolah itu membuatnya tidak dikenali.
Faktanya, siapa pun yang mengenalnya akan tahu bahwa dia Ratio. Posturnya sama, langkahnya sama, dan cara ia memasang ekspresi datar itu sangat khas. Hoodie tidak menutupi caranya memandang sekitar seakan sedang menilai struktur bangunan.
Ratio berusaha terlihat santai, jarinya mengetuk-ngetuk sisi ponsel yang disembunyikan di kantong. Ia sudah berdiri di area kampus bagian selatan selama sepuluh menit. Waktu terasa bergerak lambat. Setiap kelompok mahasiswa yang lewat membuatnya semakin tidak sabar. Ia menatap gerbang selatan berkali-kali, memastikan ia tidak melewatkan apa pun.
Saat itu, Ruan Mei akhirnya muncul.
Dosen ahli Biologi itu melangkah ringan, rambut terikat rapi, dan pakaian yang lebih rapi daripada biasanya. Ratio mengerutkan alis. Ia jarang melihat Ruan Mei memilih sesuatu yang terlalu rapi kecuali ada keperluan penting. Dan bagi Ratio, fakta bahwa ini dianggap “keperluan penting” saja sudah membuat dadanya panas.
Pria itu mengikuti langkah ringan Ruan Mei. Tidak terlalu dekat, tidak terlalu jauh. Cukup untuk melihat setiap gerakan perempuan semampai itu dengan jelas. Tudung kepala sedikit turun menutupi mata, tidak sadar bahwa itu membuatnya lebih mencolok. Ia bahkan sempat menunduk ketika dua mahasiswa berlalu, padahal tidak ada alasan bagi siapa pun untuk mencurigainya.
Ini konyol, pikir sang dosen.
Namun ia tidak berhenti.
Ruan Mei melewati sisi taman kecil, mengirim pesan sebentar di ponsel, lalu memasukkan ponselnya kembali ke tas. Tangannya tremor ringan, hampir tidak terlihat. Ratio menangkap itu. Perhatian kecil yang terlalu membuatnya peka. Ada kecemasan tipis di wajahnya. Bukan takut, tetapi seperti seseorang yang berharap tidak membuat suasana canggung.
Ratio menahan napas. “Dia terlihat nggak nyaman,” gumamnya.
Cukup besar keinginannya untuk menghentikan langkah Ruan Mei saat itu juga. Tetapi, ia ingin tahu dokter muda yang akan ditemui Ruan Mei. Memastikan lelaki itu bukan orang yang terlalu mendekati standar ideal—meski biografi dan CV sudah menyangkal angan itu. Sesuatu dalam dirinya menolak membiarkan Ruan Mei masuk ke dalam situasi yang bisa berjalan lancar.
Mereka akhirnya tiba di jalur depan kafe. Ratio tetap menjaga jarak. Ia bahkan memilih berjalan di sisi berlawanan dari trotoar. Dari sana, ia dapat melihat semua gerakan Ruan Mei tanpa terlihat terlalu dekat.
Kafe itu terletak di sudut bangunan lama. Jendelanya lebar. Tumbuhan rambat menghiasi sisi dinding. Biasanya, Ratio tidak peduli detail seperti itu. Hanya untuk hari ini saja ia memerhatikan semuanya. Ia ingin tahu bagaimana lingkungan di mana Ruan Mei akan duduk dan berbicara dengan lelaki lain itu.
Ruan Mei mendekat ke arah lampu jalan yang berdiri tepat sebelum pintu masuk. Ia berhenti, lalu berdiri menghadap ke arah pelataran kecil. Mata menatap layar ponsel, membaca sesuatu, dan wajahnya melunak. Ada senyum kecil yang muncul. Senyum lembut khas dirinya, tetapi terlihat sedikit lebih tenang daripada sebelumnya.
Itu memicu sesuatu yang keras dalam diri Ratio.
Ratio berhenti mendadak. Jantungnya menghentak cepat. Pandangannya menajam. Rasio logikanya langsung kalah. Senyum itu bukan senyum sopan. Bukan senyum basa-basi. Itu senyum ketika Ruan Mei sedang merasa nyaman terhadap sesuatu. Dadanya terasa semakin panas. Tangan di dalam saku hoodie mengepal tanpa disadari.
Ratio menelan napas keras. “Apa dia sedang membalas pesan Luocha?”
Nama itu muncul di kepalanya begitu saja. Ia bahkan tidak ingin menyebutnya. Seandainya Ratio bisa memilih, ia ingin menghapus nama itu dari sistem kampus. Sayang saja, ia tidak punya kuasa untuk itu. Yang ia tahu adalah kenyataan bahwa Ruan Mei sedang tersenyum. Lantas, menghubungkan senyum itu dengan orang lain.
Perutnya terasa tidak nyaman. Punggungnya menegang. Langkahnya sedikit maju tanpa ia sadari. Ia terlalu fokus pada Ruan Mei sampai tidak sadar seorang mahasiswa memanggil, “Pak Ratio?” sambil lewat, lalu cepat-cepat pergi karena Ratio menatap dengan delik terlalu tajam.
Manik jingga kembali fokus pada Ruan Mei. Perempuan itu menyimpan ponselnya setelah melihat jam. Ia menghela napas usai merapikan tasnya. Gesturnya terlihat hati-hati. Sedikit gugup. Ratio mengenal pola itu. Pola yang muncul setiap kali Ruan Mei akan masuk ke situasi sosial yang mengarah pada interaksi personal. Ia tahu itu bukan kegugupan manis. Itu kegugupan seseorang yang ingin mencoba sesuatu karena merasa tidak punya tempat untuk menetap di manapun.
Dada Ratio semakin panas.
Ia memerhatikan Ruan Mei siap melangkah ke arah pintu kafe. Itu momen ketika Ratio semakin kehilangan kendali. Bukan meledak dalam arti berteriak. Bukan membuat keributan. Ledakannya adalah dorongan tiba-tiba untuk maju dan memotong langkah Ruan Mei sebelum perempuan itu sempat melangkah lebih jauh ke arah pintu.
Ratio bisa mendengar degup jantungnya sendiri mengalahkan suara lalu lintas. Tangannya di dalam saku hoodie menggenggam ponsel erat-erat, seolah perangkat kecil itu bisa menahan seluruh kepanikan yang membuat dadanya sempit.
Dia benar-benar datang, pikir Ratio. Dia benar-benar akan bertemu orang itu.
Perutnya menegang.
Luocha. Sialan itu.
Ia membenci fakta bahwa ia bahkan tahu namanya.
Langkahnya semakin melesat maju.
Dan dalam hitungan detik, sebelum Ruan Mei sempat meraih gagang pintu, Ratio sudah berdiri tepat di depannya, menarik pergelangan tangannya dengan gerakan cepat. Bukan kasar, tapi terlalu impulsif untuk ukuran Ratio.
Ruan Mei terlonjak. “Ratio?” napasnya tersentak. “Apa yang—”
“Anda mau ke mana?” Ratio menuntut, suaranya rendah sarat tegang.
Ruan Mei membuka mulut, tapi hanya udara yang keluar. Ia menatap tangan Ratio yang menggenggam pergelangannya, lalu naik ke wajah pria itu. Lagi-lagi dikejutkan oleh mata gelap yang masih menyala oleh ketakutan dan kemarahan.
“Anda… kenapa? Ada apa?”
“Anda mau ketemu seseorang yang bahkan nggak kenal,” Ratio menekankan kata-katanya, setiap suku kata terdengar seperti memarahi dirinya sendiri sama kerasnya dengan memarahi Ruan Mei.
“Saya—” Ruan Mei menarik tangannya pelan, tapi Ratio menahan.
“Kenapa Anda setuju?” Ratio meledak. “Kenapa?!”
Ruan Mei benar-benar terdiam. Untuk pertama kalinya sejak mengenal Ratio, ia melihat ekspresi pria itu bukan hanya terganggu, bingung, atau kesal—tapi takut. Takut dengan cara yang tidak ilmiah, tidak rapi, tidak bisa ia sembunyikan.
“Saya pikir,” Ruan Mei mulai perlahan, “Anda nggak… peduli.”
Ratio tertawa pelan. Tawa yang getir. “Nggak peduli?”
“Iya,” Ruan Mei menelan saliva, terasa sedikit sakit di tenggorokan. “Anda selalu jaga jarak. Dari awal, Anda bilang kita nggak seharusnya bercampur urusan pribadi. Anda mengalihkan pembicaraan tiap kali saya—”
“Itu bukan berarti aku tidak peduli!” sergah Ratio disulut emosi hingga tanpa sadar tidak lagi bersikap formal.
“Habisnya?” suara Ruan Mei pecah sedikit. Manik zamrudnya gemetar. “Aku nggak tahu harus gimana. Kamu nggak menunjukkan apa-apa.”
Ratio menutup mata, memijat pangkal hidungnya, frustasi memuncak sampai jari-jarinya bergetar. “Aku… sial. Aku berusaha menjaga semuanya tetap rasional.”
“Dan itu melukaiku,” Ruan Mei membalas perlahan. Turut tidak mampu menahan diri untuk tetap profesional sejak dibentak oleh Ratio.
Kerongkongan Ratio mengencang. Ia melepaskan genggamannya, tapi hanya untuk langsung—tanpa sadar—memegang pergelangan tangan Ruan Mei dengan kedua tangannya, seolah memastikan wanita itu tidak akan hilang kalau Ratio berhenti menyentuhnya.
“Ruan Mei… blind date itu—statistically—jarang berhasil,” kata pria itu cepat, napasnya berat. “Aku tahu kamu tahu itu. Kamu biasanya akan menganalisis dulu. Kamu akan membandingkan data, background, pola komunikasi. Tapi ini—ini—kamu langsung setuju begitu saja? Dengan orang yang bahkan kamu belum verifikasi? Kamu reckless.”
Mata Ruan Mei membulat kecil seakan Ratio baru saja mengucapkan mantra terlarang. “Reckless? Ratio, aku cuma… mencoba membuka diri.”
“Dengan dia?” Ratio menatap lurus ke manik zamrud yang berkilat emosi. “Dengan seorang pria yang bahkan nggak masuk kategori kompatibel secara… apapun?”
Napas Ruan Mei tercekat, makin terusik. “Kompatibel menurut siapa?”
“Menurut semua variabel!” Ratio mendesis, nyaris putus asa. “Dia bukan tipe yang—bukan seseorang yang—dia—”
Ia berhenti karena otaknya memilih berhenti bekerja. Sementara hatinya terus berbicara. Mulutnya keji sekali dalam melontarkan hina sekaligus kebohongan bodoh. Luocha dalam segi apa pun sangat kompatibel dalam status sosial, terutama kepribadiannya dibanding Ratio. Luocha pandai bersosialisasi, kelebihan yang jelas mampu melengkapi kekurangan Ruan Mei. Mereka dapat menjadi pasangan ideal sampai tua.
Menyisakan Ratio terpuruk sendirian bersama kebodohannya karena terlalu pengecut terhadap Ruan Mei.
Dan, Ratio tidak akan membiarkannya.
“Dia bukan aku,” kata pria itu akhirnya. Pelan, tetapi hancur.
Ruan Mei membeku.
Ratio cepat-cepat menunduk, rahangnya mengeras. “Aku nggak mau kamu pergi,” akunya lebih tenang tapi jauh lebih jujur. “Aku nggak mau kamu ketemu dia. Nggak malam ini. Nggak… dengan alasan apa pun.”
“Ratio…” suara Ruan Mei nyaris tidak terdengar di antara riuh lalu lintas. “Kalau kamu nggak suka aku… kenapa kamu peduli aku pergi sama siapa?”
Kali ini Ratio benar-benar terdiam. Kedua tangannya masih memegang pergelangan tangan Ruan Mei, lebih lembut sekarang, nyaris gemetar. Ia menunduk, mengatur napasnya, seolah sedang berperang dalam dirinya sendiri.
Dia pikir aku nggak suka dia.
Dia pikir aku nggak tertarik.
Dia pikir aku nggak mau dia.
Semua itu menyakitkan dengan cara yang Ratio tidak siap.
Ruan Mei melanjutkan, lebih jujur daripada sebelumnya, “Aku bilang ‘oke’ karena aku pikir aku harus berhenti berharap. Kalau kamu memang nggak menginginkan apapun dari aku… aku harus belajar menerima itu, Ratio.”
Ratio mendongak pelan, pupilnya bergetar. Cahaya senja memantulkan kilau tipis di pupil matanya—entah dari cahaya, entah dari sesuatu yang ingin ia sembunyikan. Ruan Mei menghela napas kecil yang terdengar seperti patahan halus.
“Jadi katakan, Ratio,” Tatapannya menembus iris yang bergetar tersebut. Terbuka. Rawan. “Kalau kamu benar-benar nggak suka aku… aku akan jalan sekarang.”
Refleks, Ratio mengencangkan genggamannya, seolah tubuhnya menjawab lebih dulu daripada otaknya.
“Aku….”
Suaranya patah.
“Ratio,” Ruan Mei berbisik. “Kamu maunya apa dariku?”
Ruan Mei berdiri di depan Ratio dengan napas sedikit memburu. Tangan mereka masih terhubung, meski genggaman pria itu tidak lagi seketat tadi. Ratio menatapnya tanpa berkedip, seolah ia masih mencari alasan yang cukup logis untuk menarik kembali semua tindakan impulsif yang baru ia lakukan, namun tubuhnya tidak memberi ruang untuk mundur.
Angin petang bergeser pelan di antara mereka, seolah menunggu jawaban. Pria yang bisa memecahkan teori kompleks dalam hitungan menit tiba-tiba tidak bisa mengucapkan satu kalimat sederhana.
“Kalau kamu nggak suka aku,” ulang Ruan Mei perlahan, kini lebih tegas dan lantang, “bilang sekarang. Aku akan pergi.”
Kalimat itu menghunus Ratio lebih cepat dari yang bisa ia proses. Bahunya menegang. Genggaman pada pergelangan tangan Ruan Mei menguat, cukup untuk menandai ketakutan yang selama ini disembunyikan.
“Jangan pergi,” jawab Ratio. Suaranya rendah dan kasar.
Ruan Mei mengangkat wajah. “Beri aku alasan.”
Ratio berpaling sejenak, mencoba menenangkan tarikan napas yang tidak teratur. Ia menegakkan kepala lagi dengan raut frustrasi yang memadat di garis rahangnya.
“Kamu benar-benar nggak mengerti? Aku kira kamu memiliki kecerdasan dasar untuk membaca situasi.”
“Aku nggak melihat apa pun,” balas Ruan Mei sengit, alisnya nyaris menyatu seiring kesabaran makin terkikis. “Tolong jelaskan.”
Ratio menggerakkan jari-jarinya, seolah ingin melepaskan kepanikan yang menumpuk di telapak tangannya. “Aku mengikuti kamu sampai sini. Aku menghentikan kamu di tengah jalan. Aku marah karena kamu setuju bertemu orang asing.”
“Itu nggak menjawab apa pun.”
Ratio mendelik tajam. “Kamu ingin jawaban langsung?”
“Aku ingin kejujuran.”
Ketegangan itu bertahan beberapa detik. Ratio membuka mulut, menutupnya lagi, lalu menarik napas panjang yang tidak sepenuhnya berhasil menstabilkan dirinya.
“Baik.”
Iris jingga menatap Ruan Mei tanpa penyangga emosional, tanpa batasan profesional, tanpa filter akademik yang biasa dipakai untuk melindungi diri. Wajahnya penuh tekanan, suara yang keluar terdengar seperti seseorang yang dipaksa mengakui sesuatu yang sudah ia tahan terlalu lama.
“Karena aku menyukaimu,” kata Ratio lugas dalam satu tarikan napas. “Itu alasannya. Puas?”
Ruan Mei membeku. Tidak ada gerakan kecil pada bahunya atau perubahan napas di dadanya. Ia hanya menatap Ratio seperti informasi itu membutuhkan beberapa detik untuk benar-benar masuk akal.
Ratio mengalihkan pandang sebentar, lalu kembali menatap wajah kaku Ruan Mei. “Aku menyukaimu. Sudah lama.”
Ruan Mei memprosesnya dengan perlahan. Suaranya mengalir lebih rendah, nyaris tertutup oleh riuh lalu-lalang sekitar. “Jadi… selama ini aku salah,” gumamnya. “Aku kira kamu nggak tertarik.”
Ratio menghela napas berat, komentar itu memalukan sekaligus melegakan. “Kamu nggak membaca apa pun dengan benar. Kamu selalu melewatkan sinyal dasar.”
“Karena kamu nggak pernah mengatakannya. Kamu menjaga jarak. Kamu dorong aku menjauh. Kamu memperlakukan aku seperti rekan kerja yang harus tetap netral.”
“Itu bukan ketidakpedulian. Itu usaha agar semuanya nggak berantakan.”
“Berantakan bagaimana?”
“Kalau aku dekat dengan kamu, aku kehilangan kontrol,” Ratio menundukkan kepala sebentar, rasanya sungguh memalukan mengakui seluruh sikap bodohnya di usia pertengahan kepala tiga. Lalu menegakkan tubuh lagi, “Aku benci kehilangan kontrol.”
Ruan Mei mengembuskan napas pendek, penuh lega. “Tapi, kamu mau jujur hari ini.”
“Aku nggak punya pilihan,” balas Ratio emosi, matanya tajam lagi. “Kamu akan pergi menemui orang lain.”
Nada itu membuat dada Ruan Mei menghangat. Ia mendekat setengah langkah. “Jadi, kamu menyukaiku. Sungguh?”
Ratio mengangguk kecil, cepat, seperti ingin mengakhiri momen itu secepat mungkin sebelum martabatnya sebagai dosen hancur karena terpergok mahasiswa. “Ya. Selesai.”
Ruan Mei tersenyum lembut, meski matanya sedikit berkaca oleh kejutan yang menyenangkan. “Terima kasih sudah bilang.”
Ratio mengalihkan pandang, pipinya sedikit memerah. “Jangan buat aku mengulangnya.”
“Nggak perlu, aku sudah mendengarnya jelas.”
Keduanya kembali terdiam. Tidak tegang seperti sebelumnya, kini penuh sesuatu yang baru. Rasanya seperti ruang di antara mereka berubah, tetapi tidak ada kata yang cukup untuk menjelaskan bagaimana.
Ratio melepaskan pergelangan tangan Ruan Mei perlahan, walau jemarinya masih ragu untuk benar-benar menjaga jarak. Ruan Mei tidak bergerak pergi. Kepala mereka saling menghadap dalam jarak yang terlalu dekat untuk dua kolega, tetapi tepat untuk dua orang yang akhirnya berhenti menyembunyikan perasaan.
Dan di titik itu, sesuatu di dalam Ratio sudah melewati batas aman yang selama ini ia pertahankan.
***
Ratio tidak memberi Ruan Mei kesempatan untuk memproses pengakuannya. Ia menarik tangan wanita itu dengan gerakan cepat, langkahnya panjang, napasnya masih belum stabil sejak tekanan emosi tadi. Jalan menuju rumahnya terasa sempit karena dorongan yang ditahan terlalu lama. Ruan Mei mengikuti tanpa protes, meski sedikit terkejut dengan kuatnya genggaman Ratio. Tatapan pria itu lurus ke depan, seluruh kesabaran bertahun-tahun runtuh dalam satu malam.
Begitu pintu tertutup, Ratio menahan Ruan Mei di dinding. Rahangnya tegang, suaranya rendah, dan matanya memeriksa tiap sisi wajah Ruan Mei. Aura marahnya belum sepenuhnya hilang, tetapi dorongan lain sudah menggantikan tempatnya. Tubuh condong, menahan kedua lengan Ruan Mei, lalu mencium wanita itu dengan intensitas yang membuatnya sendiri terdengar putus kontrol.
“Napasku berantakan gara-gara kamu,” ucap pria itu dengan suara berat di sela cumbu tergesa. “Aku sudah terlalu lama tahan ini.”
Ruan Mei tidak mundur. Ia mengusap sisi wajah Ratio dengan ujung jarinya, gerakannya lembut penuh niat. Senyumnya muncul singkat, lalu membalas ciuman itu dengan ritme yang mengejutkan Ratio. Tidak agresif, tetapi cukup main-main untuk membuat pria itu mengencangkan pegangan. Lidahnya menyentuh balik dengan rasa ingin tahu. Ia seperti sedang mencoba memetakan reaksi Ratio satu per satu.
“Kalau tahu kamu suka aku,” bisik Ruan Mei pelan sambil menarik napas, “aku nggak akan buang waktu.”
Geram frustasi rendah mengalir dari pria jangkung itu. Perpaduan marah, lega, dan terpancing gairah lekat terasa dari hembus napas. Ia mencumbu Ruan Mei lagi. Kali ini lebih liar, seakan ingin mengejar waktu yang lewat begitu lama. Tangannya bergerak dari pinggang ke punggung, mencari cara untuk mendekatkan tubuh mereka lebih erat. Ia hampir tidak bisa berbicara dengan rapi, tetapi tetap mencoba karena ia selalu butuh verbal.
“Aku benci cara kamu bikin aku nunggu, aku benci caranya aku tetap balik ke kamu setiap saat.”
Ruan Mei menahan tawa kecil. Ia mendorong Ratio sedikit hanya untuk menggoda, lalu menarik pria itu kembali dan mencium bibirnya dengan tekanan yang membuatnya kehilangan ritme napas. Itu bukan sifat Ruan Mei yang biasa. Ada rasa ingin tahu yang lebih dalam dari sekadar kelembutan. Ia sengaja menunda balasan, memberi jarak beberapa detik, lalu kembali menutup bibir Ratio dengan sentuhan yang membuat pria itu hampir menyerah pada dorongan mentahnya.
Ratio memajukan tubuhnya, memerangkap pinggang wanita itu, dan menundukkan kepala untuk mengecup leher. Napasnya berat dan bergetar, berusaha menahan diri tetapi gagal setiap detik. Ruan Mei mengangkat dagunya sedikit, memberi ruang yang Ratio butuhkan sambil mengusap tengkuk belakang pria itu dengan cara perlahan namun menghancurkan konsentrasi.
Ketegangan fisik meningkat drastis. Ratio tetap memegang kendali dengan meninggalkan jejak kemerahan, namun Ruan Mei tidak sepenuhnya pasif. Ia membalas dengan meraba tengkuk belakang hingga turun ke punggung tegap. Sentuhannya lembut sekali, terlalu lembut hingga menimbulkan sensasi geli yang meremangkan bulu kuduk. Sukses membuat Ratio semakin frustasi.
“Jangan mainkan aku,” Ratio memperingatkan dengan suara bergetar. “Aku serius.”
Ruan Mei tersenyum kecil. “Aku juga.”
Rasio dominasi di antara mereka mulai bergerak naik turun. Ratio menariknya lebih dekat, tetapi Ruan Mei sesekali membalas dengan sentuhan ringan yang membuat pria itu berhenti bernapas sejenak. Dialog mereka terselip di antara ciuman yang tidak teratur, napas terputus, serta pengakuan yang meluncur tanpa pikir panjang.
“Setiap kali kamu datang,” Ratio berbisik di leher beraroma melati, “aku selalu berharap kamu tinggal sedikit lebih lama.”
Ruan Mei menahan bahu kokoh, menariknya sedikit agar mata saling bertemu. “Sekarang aku di sini.”
Kali ini, Ratio benar-benar kehilangan kontrol. Ia mencium Ruan Mei lagi, lebih dalam, lebih putus asa. Seluruh bendungan yang ia bangun bertahun-tahun akhirnya pecah. Tidak ada lagi jarak. Tidak ada lagi formalitas. Yang tersisa hanya dua orang yang saling menahan terlalu lama hingga akhirnya runtuh bersama.
“Jangan pergi malam ini,” Ratio mengatakan itu hampir seperti perintah. “Aku nggak mau kamu pergi.”
Ruan Mei membalas dengan anggukan pelan, lalu mencium bibirnya sekali lagi dengan cara yang membuat Ratio menutup mata karena intensitasnya.
“Aku nggak akan pergi.”
Dan dari sana, momentum mereka tidak bisa ditarik mundur lagi.
Ratio menarik Ruan Mei mendekat tanpa jeda, kedua tangannya mantap di pinggang Ruan Mei ketika ia menggendongnya dan melangkah pergi. Ruan Mei terlalu sigap untuk mengikuti ritme, tangan serta kakinya otomatis bergantung pada Ratio. Pria itu rakus mencumbu tengkuk. Sesekali menyapukan lidahnya ke telinga yang telah memerah.
Mereka masuk ke kamar tidur. Ratio duduk di tepi ranjang, kemudian mendudukkan Ruan Mei di pangkuannya. Gerakan itu spontan, namun intensitasnya terkontrol dengan baik; seolah Ratio sudah menahan dorongan ini bertahun-tahun. Ruan Mei menyentuh bahu Ratio, tubuhnya menyesuaikan diri dengan posisi itu, napasnya naik turun lebih cepat dari biasanya.
Ciuman mereka menyatu kembali tanpa jeda. Ratio mencumbu Ruan Mei dalam pola yang tidak rapi namun penuh kebutuhan. Bibirnya sesekali menarik bibir bawah Ruan Mei hingga perempuan itu menarik napas kecil yang terdengar jelas. Ruan Mei mencondongkan tubuh, pinggulnya bergerak perlahan dan tidak disengaja menekan ke depan. Ratio mengeluarkan satu helaan tertahan yang langsung memanaskan suasana.
“Jangan lakukan itu kalau kamu nggak siap aku teruskan,” tegur Ratio rendah sedikit serak, gambaran kejujuran mentah yang selama ini ia sembunyikan. Kalimat itu bukan ancaman, hanya pengakuan terbuka tentang betapa sedikit kendali yang tersisa padanya. “Aku sudah terlalu lama menahan diri.”
Ruan Mei menatapnya sambil tersenyum tipis. “Aku nggak keberatan.”
Nada lembut itu membuat Ratio kehilangan sisa kehati-hatian. Ia bangkit sambil tetap memeluk Ruan Mei, begitu mudah mengangkat tubuh perempuan itu. Ruan Mei mengecup pendek sudut rahang Ratio sebelum menautkan tangan di belakang lehernya, otomatis mengikuti arah tanpa protes. Ratio memojokkannya ke dinding. Gerakannya penuh tekad, tidak ingin memberi ruang pada keraguan sedikit pun.
Atmosfer berubah total. Ratio menatap Ruan Mei dalam jarak satu napas, lengan masih memegang pinggangnya. Seluruh gurat frustrasi, keinginan, dan ketakutan kehilangan yang selama ini menumpuk tampak jelas tanpa penyaringan apa pun.
“Aku nggak mau menahan apa pun malam ini.”
Ruan Mei mencondongkan wajahnya, menempelkan kening mereka. “Kalau begitu… jangan.”
Ratio patuh tanpa ragu.
Ruan Mei terpojok antara dinding dingin dan tubuh tegap Ratio. Napas pria itu mengalir berat menerpa keningnya. Intensitas udara semakin pekat dengan sentuhan halus dari jemari kasar yang cenderung meraba. Bulu kuduk meremang oleh sensasi geli sekaligus candu. Mata jingga Ratio sangat tajam dikuasai gairah, sorotnya gelap menyorot seluruh sisi Ruan Mei bagai pemangsa.
Cardigan rajut terlepas dari bahu, menunjukkan dress tanpa lengan berbahan katun. Kulit putih lembut itu terekspos untuk pertama kalinya ke manik jingga yang tak pernah menangkapnya. Sorot Ratio semakin gelap, tangan kanannya mengangkat tangan kiri Ruan Mei lurus ke atas. Sentuhan halusnya masih meremangkan tubuh hingga Ruan Mei tak sadar kepala Ratio membungkuk turun. Tanpa permisi, pria itu menjilat ketiaknya lalu menghisap kuat. Sukses mengejutkan Ruan Mei, kepalanya mendongak tinggi dengan mata terbelalak dan tubuh gemetar.
“R—Ratio…!”
Ruan Mei tidak tahan untuk tetap diam. Tubuhnya sedikit menggeliat karena tak nyaman dirayap geli sekaligus risih. Sayangnya, pergelangan kirinya dicengkeram kuat di atas. Ratio sendiri sungguh serakah, ia ulangi pola itu beberapa kali hingga membekas kemerahan di sana. Napas Ruan Mei menderu, rona di wajah cantiknya semakin menyalang. Seringai Ratio lebar sekali menikmati parasnya.
Sekujur tubuh gemetar, sensasi panas dan dingin bercampur adu. Ruan Mei malu, ia tak pernah melakukan hal semacam ini. Ia sendiri terkejut seorang manusia berlogika seperti Ratio punya kecenderungan terhadap ketiak. Segala hal di antara mereka terlalu cepat berputar arah, ia belum sepenuhnya beradaptasi.
Tangan kiri Ratio menangkap dagu Ruan Mei lalu menariknya untuk memertemukan mata. Sorot sayu di iris zamrud itu kian menggugah gairah. “Kenapa, Mei?” ledek Ratio dengan seringai lebar. “Kamu tahu betul ini keputusan buruk, ‘kan? Masalahnya, aku sudah berhenti peduli.”
“Aku… nggak akan lari,” balas Ruan Mei cukup tertatih karena deru napas. “Kamu nggak perlu menjepitku seperti ini.”
Ratio mendengus geli seraya menurunkan resleting di belakang dress. Gaun itu melesat ditarik gravitasi, menyisakan bra strapless. Ruan Mei gemetar, hatinya mendumal beberapa kali. Betapa lihainya pria itu melucuti pakaian perempuan seperti seorang ahli. Dari mana Ratio bisa tahu? Dosen temperamental ini tidak pernah dekat perempuan… tunggu, atau pernah? Ah, Ruan Mei kesal.
“Aw…!”
Decakan tajam mengalir bersama sorot menemukan bibir Ruan Mei mengerucut sebal. Wanita itu baru saja mencubit puting kiri Ratio. Tangan mungilnya telah menyelinap ke dalam hoodie dan kaus di luar radar Ratio.
“What was that for?” protes Ratio, sedikit mendelik pada Ruan Mei tanpa berhenti melucuti pakaiannya.
“Untuk seorang dosen yang selalu pakai logika,” Ruan Mei menjeda untuk memberi cubitan lagi, menuai ringis lainnya, “kamu sangat cabul, Ratio.”
“Berhenti bersikap sok tenang, Mei.”
Ruan Mei tersentak merasakan dua jari besar membelai kewanitaannya. Timbul suara memalukan yang sedikit teredam karena masih dilindungi oleh celana dalam. Lututnya melemah, intensitas getarnya bertambah di sekujur kaki jenjang. Ia tak punya pilihan selain mencengkeram bahu Ratio.
“Aku hanya mengamati reaksi kamu,” balas Ruan Mei kala lebih tenang, ia mendongak dan seketika disambut seringai angkuh. Kilat mata Ratio tidak kalah angkuh, meski begitu ia dapat menangkap beberapa kilat tersembunyi yang tak mampu disembunyikan. “Sejauh ini, hasilnya sangat konsisten.”
Ratio bukan tipe yang benar-benar tenang, Ruan Mei tahu itu. Pria itu memasang tembok tinggi agar tak mudah dibaca siapa pun. Emosionalnya cenderung selalu didasarkan logika dan prinsip tegas yang tak tergoyahkan. Ia selalu praktikal dibanding siapa pun. Ruan Mei tahu, nyatanya Ratio lebih emosional dari yang terlihat.
Seperti saat ini.
“Diam,” perintah Ratio dingin seraya memasukkan dua jari ke liang basah. Sempit dan panas beradu menjepit jari, melebihi ekspektasi. “Dengarkan aku.”
Kepala Ruan Mei bersandar ke dinding. Tubuh bawahnya sedikit condong ke depan saat terangkat ditopang oleh tangan Ratio. Lelaki itu tidak segan sama sekali. Pergerakan jemarinya cukup kasar. Itu meraba seluruh dinding, sesekali menekuk ke atas, dan mendorong masuk hingga ujung. Bagian telapaknya menekan klitoris yang masih tersembunyi namun tak selamat dari stimulasi tekanan.
Ruan Mei gigit bibir, berusaha menahan desak suara yang ingin keluar. Naasnya, semakin melawan semakin ketat vaginanya menjepit jari Ratio. Kerakusan tubuhnya sungguh di luar kendali. Itu terlalu responsif seolah tumpukan harap dan rindu mendorongnya sekuat tenaga. Ruan Mei hampir kehabisan akal, bagaimana bisa vaginanya mengeluarkan cairan sederas itu hanya dari stimulasi kecil?
Mata tajam Ratio menikmati rupa kekacauan di wajah Ruan Mei. Payudara bergerak seirama tempo jemari. Kulit mulus telah berkilau dibasahi peluh. Rambut Ruan Mei semakin acak-acakan akibat bergesek dengan dinding. Betapa cantiknya, betapa goyahnya, semua itu karena sentuhan Ratio.
“Kalau kecantikan punya silsilah, punyamu pasti berasal dari sesuatu yang lebih lama dari logika,” desis Ratio sebelum membungkuk dan menghisap puting kanan Ruan Mei. Helai rambutnya sigap dicengkeram oleh jemari kecil tak bertenaga.
Sensasi dari puting dan vagina yang dimanjakan memabukkan kepala. Kewarasan semakin terusir. Sisa-sisa kesadaran dan rasa malu tersingkir oleh dorongan duniawi. Ruan Mei selalu tenang, tidak pernah marah, tidak pernah tersenyum lebih personal kepada siapapun. Malam ini, seluruhnya akan runtuh di bawah kuasa Ratio.
“Hah… Ratio,” desah Ruan Mei berhasil keluar. Mata sayunya bertemu wajah arogan yang sangat rakus menghisap dan menggigit putingnya. “Ratio… kamu terlalu dalam—ahh!—di sana… leher rahim… nghh!”
“Aku tahu,” sahut Ratio remeh tanpa sudi membebakan puting ranum bengkak dari mulutnya. “Rahimmu telah turun, Mei. Benar-benar tak sabaran.”
Sungguh, bagaimana bisa tubuhnya selemah ini terhadap Ratio? Libido Ruan Mei tidak setinggi, ia juga nyaris tak pernah mendambakan hubungan seksual dengan siapapun. Seharusnya, Ratio tidak semudah ini menguasainya. Lihat, Ruan Mei dapat merasakan setiap kedut kencang hingga ujung kaki. Panas dan dingin beradu dengan sengat nikmat, lambat-laun memupuk tekanan di perut bawah yang sulit dicegah.
“Ra—Ratio… keluar, aku—” suara manis itu tercekat, kepala mendongak tinggi seraya menjambak rambut Ratio. Lantas, gelombang ejakulasi pecah serentak. “Ahhh…!”
Jemari Ratio mengocok kencang selagi derai air panas mengalir patah-patah. Kucurannya cukup deras hingga mengarah tinggi membasahi hoodie dan celana. Lantai kayu kacau oleh genangan. Lutut Ruan Mei lemas, tak sanggup menopang diri lagi hingga terhuyung ke Ratio. Dengus geli menerpa wajah lembabnya sebelum kemudian tubuh terangkat dalam gendongan. Lantas, terhempas lembut ke kasur yang penuh aroma parfum mahal.
Ruan Mei kewalahan, napas sulit kembali stabil. Segala gerak kecil terasa menyakitkan bagi tubuh yang sangat sensitif pasca klimaks. Di tepi ranjang, Ratio duduk sambil menanggalkan helai demi helai. Rambutnya semakin acak-acakan akibat diseret pakaian. Punggung gagahnya menggetarkan hati Ruan Mei, ini sungguh akan terjadi. Pergumulan ini bukan sekadar halusinasi.
Ratio berada di atasnya dengan kesadaran penuh atas posisi itu. Kedua pergelangan tangan Ruan Mei ia tahan di sisi kepala, tidak dengan tekanan berlebihan, tetapi cukup untuk menegaskan bahwa ia yang menentukan ruang gerak dan tempo. Sentuhan itu terasa pasti, membawa pesan yang jelas bahwa malam ini bukan tentang negosiasi diam-diam yang biasa mereka lakukan dalam percakapan akademik.
Ruan Mei tidak menunjukkan perlawanan. Bahunya rileks, napasnya teratur meski sedikit lebih cepat dari biasanya, matanya sayu menatap Ratio. Sorot itu tenang, seolah sedang menerima situasi ini sebagai sesuatu yang memang sudah lama menunggu untuk terjadi. Ratio menangkap detail itu, dan kesadarannya terhadap Ruan Mei justru membuat kendalinya semakin ketat, bukan goyah.
Tangan kiri Ratio menggenggam batang kejantanan yang dilumuri precum. Ia luruskan tepat di antara labia lengket yang berkedut kuat. Pergesekan kulit sensitif menghasilkan suara yang mirip kecupan bibir. Lantang menggema di kepala yang pening oleh nafsu. Ratio hanya melirik wajah sembab Ruan Mei untuk mencari izin. Lantas, mendorong pinggul dalam satu hentak mengisi seluruh liang.
Hentakannya nyaris tanpa belas kasih, padahal Ratio dapat merasakan kepala penisnya menghantam pintu rahim. Rasanya seperti tidak cukup. Ia ingin sepenuhnya menenggelamkan diri dalam Ruan Mei hingga tak bercelah. Ia ingin tubuh Ruan Mei mengingat baik-baik penis milik orang yang memberi kepuasan terbaik dalam sepanjang hidup. Ia ingin seluruh sel mengingatnya hingga merasa tak berdaya tiap berpisah terlalu lama. Ia ingin jejak hidupnya tertancap kuat dalam diri Ruan Mei. Cukup kuat sampai Ruan Mei tak mampu melupakannya sampai akhir dunia terjadi.
Ratio menyesuaikan ritme dengan sengaja. Setiap perubahan ia lakukan setelah mengamati respons sekecil apa pun dari wajah pujaannya. “Lihat aku,” ucapnya pelan, namun tegas. “Aku nggak mau kamu mengalihkan perhatian.”
Nada suaranya tidak keras, tetapi tidak memberi ruang untuk disalahartikan. Ruan Mei menurut tanpa banyak gerak, hanya mempertahankan kontak mata itu. Ada sesuatu yang berubah dalam ekspresinya. Bukan takut, bukan ragu, melainkan terbuka dengan cara yang jarang ia tunjukkan pada siapa pun. Ratio merasakan dorongan untuk berkata lebih banyak, dan kali ini ia tidak menahannya.
“Aku selalu berhitung,” lanjutnya, suaranya lebih rendah. “Aku mengukur jarak, risiko, dan konsekuensi. Tapi denganmu, semua itu berantakan.”
Tempo penetrasi berhenti sejenak, memastikan Ruan Mei mendengarnya. Tangan yang menahan pergelangan lentik sedikit mengendur, cukup untuk memberi ruang agar Ruan Mei tahu bahwa kendali ini bukan tentang menahan, melainkan tentang memilih.
Ruan Mei menarik napas dalam. Jarinya bergerak kecil di antara jemari Ratio, respons halus yang terasa sangat sadar. “Aku tahu,” jawabnya lirih. “Kamu selalu terlihat menahan sesuatu.”
Kalimat itu membuat Ratio menegang secara emosional. Palu godam menghantam kesadaran, menyadari bahwa Ruan Mei telah melihat lebih banyak dari perkiraan. Selama ini Ratio menganggap sikap tenang wanita itu sebagai ketidaktertarikan, padahal ternyata hanya tidak memaksa ruang yang tidak dibuka.
“Aku nggak mau menahan apa pun lagi,” kata Ratio, kali ini tanpa upaya menyamarkan perasaannya. “Bukan denganmu.”
Hentakan Ratio berlanjut. Kali ini tidak hanya ke depan, melainkan juga ke bawah hingga menyebabkan guncangan hebat ke ranjang. Derit kayu melengkapi nyanyian merdu Ruan Mei beserta deru napas Ratio. Mata gelap pria itu menikmati pemandangan sensasional Ruan Mei di bawahnya. Mengamati indahnya lekuk semampai dan lembutnya kulit susu dibasahi peluh. Tak kuasa diri menahan hasrat untuk mengacaukan kesempurnaan kulit Ruan Mei. Wanita itu mengerang merasakan gigitan Ratio di tengkuk kanan, sepanjang pundak, dan puting tanpa belas kasih.
Dorongan Ratio sungguh menyiksa kewanitaan rakus yang mencengkeram makin erat. Terbuai oleh sensasi baru atas posisi aman bagi Ratio untuk leluasa. Staminanya terlampau menakjubkan untuk seorang dosen pertengahan kepala tiga—Ruan Mei bahkan syok melihat otot tubuhnya. Ada reputasi yang harus dijaga setengah mati perihal keterampilan seksnya. Oleh karena itu, Ratio tak akan sudi umur sepele itu menodai reputasinya.
“Ahh… fuck,” geram Ratio di tulang selangka Ruan Mei, mata terpejam. Menghayati tiap sensasi dari hentak demi hentak memabukkan, “Tubuh kamu nggak bisa bohong.”
Jujur saja, Ruan Mei tidak mampu mendengar apa pun selain melodi cabulnya sendiri. Lantungan sensual itu menulikan telinganya dari suara Ratio, hanya suara pergumulan basah mereka yang jadi pengiringnya. Kewarasan telah terusir, otaknya dilelehkan oleh kegilaan akibat penis besar yang berambisi menggaruk setiap inci. Ruan Mei bahkan tak peduli bagaimana rupa wajahnya sekarang. Ketenangan telah dihancurkan sedemikian rupa.
Ratio membungkuk seraya menekan perut bawah Ruan Mei. Tangannya menyerang kuncup tegang yang merayu selagi terayun seirama tempo penetrasi, menambah siksaan Ruan Mei sesuai racauannya. Buat wanita itu kacau tanpa sisa. Ratio akan mengabulkannya dengan senang hati, toh ambisinya lebih besar dari itu.
“Damn you, Witch,” umpat Ratio kala lonjakan sensasi menekan dirinya, mengakibatkan tempo pinggulnya melambat, “fuck, take it all. Even though, it’s leaking, take it all. I’ll fill your greedy womb with my seeds!”
Ah, Ruan Mei tidak peduli lagi. Kerinduan mereka mengakibatkan kondom terlupakan. Meski pil cukup efektif, tetap saja masih ada sekian persen kemungkinan untuk tetap terbuahi. Persetan dengan alat pengaman, untuk kali ini saja ia akan membiarkan Ratio berbuat sesuka hati. Akan ia terima seluruh sperma pekat itu penuh kerakusan sesuai perintahnya.
“Ahh! Aku keluar!!”
Erangan Ruan Mei lantang beriringan dengan klimaks Ratio mengisi perutnya secepat kilat. Menghantarkan sensasi luar biasa juga panas yang begitu candu. Perasaan itu segera dibingkai dalam memori selaku pengalaman pertama menerima semburan sperma. Seks tanpa pengaman memang puncak seks sesungguhnya. Kegilaan Ruan Mei menghasut agar memerbanyak seks semacam itu andaikata kewarasan tidak kembali menguasai.
Ratio roboh di atas Ruan Mei, deru napas mereka saling berlomba merebut oksigen. Pekat aroma badan saling bercampur di udara. Panas badan Ratio menghangatkan tubuh gemetar Ruan Mei. Keintiman mereka masih menyatu karena Ratio tak kunjung selesai ejakulasi. Tak elak, benih pekat itu menetes keluar, menggelitik lubang dubur wanitanya. Walau lemas, Ratio menyempatkan diri untuk mengecup bekas gigitan. Memberi sentuhan lembut yang tak dilakukan selama bersetubuh.
“Apa kamu senang sekarang?” tanya Ruan Mei nyaris lirih lantaran deru napas belum stabil.
Dekapan Ratio di perut wanita itu pun mengerat, “I’m sorry, kukeluarkan di dalam.”
Ruan Mei terkekeh lembut, telapak kanan menyentuh kepala Ratio yang bersandar di pundak kanannya. “Nggak masalah, aku bisa beli obat kontrasepsi.”
“So, can we go again?”
“Huh?”
Bukannya menjawab, Ratio bangkit perlahan tanpa menarik kejantanannya keluar. Di tengah kabut bingung sekaligus gelisah, Ruan Mei menyadari kejantanan pria itu tidak menyusut sama sekali usai ejakulasi. Ratio mengangkat kedua kaki jenjang dengan gerakan mantap hingga bertumpu di bahu empunya. Perubahan posisi itu menghapus jarak yang tersisa, membuat kedekatan mereka menjadi total dan tak terelakkan. Ruan Mei terbelalak, napasnya terpecah lebih cepat, tubuhnya langsung menyesuaikan tanpa diminta.
Posisi itu memaksa liang menerima kejantanan lebih dalam. Tatapan mereka saling bertaut, Ruan Mei tidak berusaha menenangkan diri. Tangan yang sebelumnya dicengkeram oleh Ratio itu terulur menyentuh bisep kokoh. Seolah ingin memastikan pria itu benar-benar ada di atasnya. Responsnya menjadi lebih terbuka, lebih jujur, dan tidak lagi disaring oleh kebiasaan diamnya.
“Ratio…!”
Suara merdu itu kembali melantunkan melodi sensual yang memanjakan telinga. Penetrasi berdesak lebih lurus ke bawah dan berkelok ke depan, menekan rahim yang dipenuhi sperma. Suara basahnya semakin nyaring dari perpaduan sperma dan cairan ejakulasi. Wajah merah Ruan Mei mendongak tinggi, tak kuasa menerima cumbu kepala penis dengan tubuh sangat sensitif.
Ratio memerhatikan semua itu dengan fokus penuh. Cengkeramannya kuat menahan kaki-kaki Ruan Mei tetap menekuk. Ia sedikit menurunkan wajahnya, cukup dekat untuk memastikan wanitanya melihat ekspresinya dengan jelas.
“Jangan menjauh,” perintah pria itu rendah. “Aku ingin kamu tetap di sini. Denganku.”
Ruan Mei mengangguk, napasnya terputus-putus, tetapi jawabannya jelas. “Aku nggak ke mana-mana,” katanya lirih, lalu lebih berani, “Aku di sini.”
Tubuh Ruan Mei menjadi semakin responsif, suaranya mengalun tanpa ditahan. Ratio menikmati itu, terlalu menikmati hingga tempo hentakannya lebih kasar. Mata sayu Ruan Mei menatap persatuan intim mereka di bawah. Bagaimana rupa vaginanya diisi penuh oleh penis besar, bagaimana derasnya kucuran cairan mereka mengalir setiap kali penis ditarik keluar, dan bagaimana kasarnya hentakan Ratio menusuk ke dalam.
Tubuh yang dipaksa beradaptasi dengan melentur itu mulai mati rasa. Sekujur saraf disengat kenikmatan seiring tekanan di perut kembali terpupuk. Tidak jauh berbeda, Ruan Mei dapat merasakan kejantanan berkedut dan membesar di dalam. Gurat di paras Ratio lebih kacau, deru napas beratnya menandakan dengan jelas ia akan menggapai puncak lagi. Ekspresi seksi itu memberi stimulasi tambahan bagi Ruan Mei. Puas bahwa dirinyalah yang membuat dosen berlogika itu dimabuk duniawi.
Alhasil, ketatnya remas dinding vagina yang dihasilkan berhasil mengantarkan mereka kembali ke langit ketujuh. Kali ini, Ratio menghentak sedalam mungkin sebelum mengeluarkan seluruh benih panas. Ia tetap menahan kaki Ruan Mei, pinggul sesekali mendorong pelan, tak ingin satu tetes mengalir keluar.
Ruan Mei hampir kehabisan napas hingga harus memasok oksigen melalui mulut. Sekujur tubuhnya nyeri oleh beragam sensasi. Mulai dari sengat-sengat gairah hingga pegal karena dipaksa melenturkan diri. Ratio baru sudi membebaskan kakinya saat kembali roboh di atas Ruan Mei. Ia berguling turun ke sebelah kiri, merebahkan diri di kasur sebelum kemudian merengkuh pinggang ramping.
Persatuan mereka masih belum dilepaskan. Napas cepat mereka berangsur turun perlahan. Sesaat, belum ada yang bertenaga untuk menguntai kata. Hanya mata yang saling bertemu dalam bingkai yang tak jauh berbeda. Iris zamrud sayu berkabut sisa nafsu, sementara iris jingga masih digelapkan hasrat sekaligus kerinduan.
Ratio menarik tubuh Ruan Mei lebih dekat hingga tiada jarak tersisa. Lengannya melingkar kuat, satu tangan bertumpu di belakang kepala Ruan Mei, menahan dengan sikap protektif yang tidak disadari. Sentuhan itu tidak menuntut apa pun, hanya memastikan Ruan Mei aman dalam jangkauannya. Napasnya masih berat, dadanya naik turun pelan, dan ketika ia akhirnya bicara, suaranya terdengar lebih jujur dari sebelumnya.
“Aku nggak bermaksud buat kamu kewalahan, aku nggak pandai berhenti.”
Ruan Mei tidak menjawab dengan asa. Ia menyesuaikan diri di rengkuhan itu, membiarkan kepalanya bersandar lebih nyaman. Detak jantung Ratio masih terasa jelas di telinganya, ritmenya perlahan menjadi stabil. Ia mengangkat tangan untuk mengusap pipi Ratio dengan ibu jari, gerakan lembut yang kontras dengan intensitas sebelumnya.
Ratio menutup mata sejenak, lalu membukanya lagi saat Ruan Mei mendekatkan wajah. Ciuman yang terjadi lambat, tanpa urgensi, hanya pertemuan singkat yang diulang sekali lagi. Jari mereka saling bertaut secara refleks, genggaman itu sederhana namun erat, seolah keduanya sedang memastikan bahwa momen ini tidak akan menguap begitu saja.
“Kamu terlalu keras pada dirimu sendiri,” ujar Ruan Mei pelan.
Ratio mendengus kecil, hampir seperti kebiasaan lama yang kembali muncul. “Aku nggak tahu cara lain.”
Namun lengannya tidak mengendur. Justru sebaliknya, ia menarik Ruan Mei lebih dekat, menempelkan dahi mereka. Keheningan kembali hadir, kali ini tidak berat, hanya tenang. Dalam dekap itu, dengan tangan yang saling menggenggam dan napas yang akhirnya seirama, mereka membiarkan sisa malam berjalan tanpa perlu dibuktikan atau dijelaskan lagi.
***
Kampus tetap sibuk seperti biasa. Koridor masih dipenuhi langkah cepat mahasiswa dihiasi percakapan akademik yang berseliweran tanpa henti. Nama Ratio dan Ruan Mei masih tercantum berdampingan di beberapa proyek penelitian, dan bagi sebagian besar kolega, keduanya tidak terlihat berbeda dari sebelumnya. Tetap profesional. Tetap rapi. Tetap sulit ditebak.
Namun, bagi mereka berdua, ada sesuatu yang telah bergeser secara permanen.
Ratio kini lebih sering menunggu. Sebuah kebiasaan baru yang ia bangun tanpa sadar. Menunggu Ruan Mei menyelesaikan kelasnya. Menunggu catatan revisi terakhir sebelum mereka mengarsipkan laporan. Bahkan menunggu secangkir kopi yang Ruan Mei seduh dengan ritme santainya sendiri. Ia tidak banyak bicara soal itu, tetapi kehadirannya selalu konsisten.
Ruan Mei menyadarinya sejak awal. Ia tidak pernah menyinggung perubahan itu secara langsung, hanya menerima dengan senyum kecil dan langkah yang sengaja diperlambat. Sesekali ia menyentuh pergelangan tangan Ratio saat lewat, atau menyelipkan catatan singkat di antara dokumen, hal-hal kecil yang dulu tidak ia lakukan karena merasa tidak perlu.
Suatu sore, mereka duduk berdampingan di ruang kerja Ratio. Cahaya matahari masuk dari jendela tinggi, memantul di rak buku yang tertata rapi. Tidak ada diskusi berat hari itu. Tidak ada argumen metodologis atau koreksi tajam. Hanya keheningan yang nyaman.
“Kita selesai lebih cepat,” ujar Ruan Mei sambil menutup laptopnya.
Ratio mengangguk. “Untuk sekali ini, iya.”
Ruan Mei melirik, lalu tersenyum. “Kamu kedengaran puas.”
“Jangan salah tafsir,” balas Ratio, tetapi nadanya tidak setajam biasanya. “Aku hanya menghargai efisiensi.”
Ruan Mei tidak membantah. Ia mengulurkan tangannya di atas meja. Ratio menatapnya sesaat, lalu menyambut genggaman itu tanpa ragu. Jari mereka saling bertaut dengan cara yang kini terasa alami, seolah selalu demikian.
Tidak ada deklarasi besar. Tidak ada label yang diumumkan ke siapa pun. Hanya dua orang yang telah berhenti menghindari apa yang mereka pilih untuk pertahankan.
Saat mereka meninggalkan ruangan bersama, langkah mereka seirama. Ratio berjalan sedikit lebih dekat dari biasanya, dan Ruan Mei tidak menjauh. Di tengah kesibukan kampus yang terus bergerak, mereka menemukan ritme sendiri. Tenang, terkendali, dan untuk pertama kalinya, tidak dipenuhi keraguan.
***
