Actions

Work Header

Pesona tukang AC

Summary:

TOP!Gimyung BOT!Seongeun

Surabaya sedang tidak bersahabat dengan suhu yang menyerupai Planet Mars, dan bagi Gimyung, AC-nya yang mati adalah bencana. Namun, kedatangan Seongeun—si tukang AC kekar bertato dengan dada yang sanggup mengalihkan dunia Gimyung—mengubah hawa panas yang menyiksa menjadi gairah yang tak terbendung.

Kejadian memalukan di kamar mandi mengungkap rahasia yang selama ini Gimyung simpan, namun ia tidak menyangka bahwa Seongeun juga menyimpan kejutan besar di balik celana kerjanya. Di atas meja makan yang dingin, menjadi saksi hasrat mereka yang tak terbendung.

Notes:

Hai! Kalian bisa temuin AU ku di X @claiirthelune ya! Selamat membaca♡

Work Text:

Gimyung mengerang sambil menjatuhkan tas ranselnya ke lantai marmer yang dingin. Meskipun universitasnya berada di kota yang sama, ia tetap memilih tinggal di kos dengan alasan ingin belajar mandiri—walaupun pada kenyataannya, ia tetap pulang ke rumah setidaknya sekali dalam seminggu. apalagi jika ia harus bertahan hidup di Surabaya yang hawanya benar-benar sebelas dua belas dengan Planet Mars.

Ia buru-buru masuk ke kamar. Niatnya adalah tidur siang memeluk guling di bawah suhu dingin yang menyegarkan. Namun, begitu remote AC ditekan, hanya hembusan udara hangat dan menyedihkan yang menyambutnya.

"Ngapain si pake mati segala anjing" desis Gimyung.

Mengingat Surabaya yang panasnya hampir sama seperti mars. hal ini terasa seperti hukuman berat. Sadar usahanya sia-sia, Gimyung menyeret langkah ke teras depan. Siapa tahu ada angin sepoi-sepoi iseng yang lewat dan mau sedikit berbelas kasih. Ia baru saja duduk di kursi rotan dan tak lama bel rumahnya berbunyi.

*𝘿𝙄𝙉𝙂 𝘿𝙊𝙉𝙂

Gimyung bangkit dengan malas. Pikirnya, paling juga kurir paket. Tapi ketika pintu terbuka, matanya langsung membulat.

Di depannya, berdiri seorang laki laki. Badannya kekar, montok, dan seluruh lengannya dipenuhi tato, seperti coretan tinta hitam acak, sambil memanggul kotak perkakas. Wajahnya— yahh lumayan lah, masih muda juga keliatannya. tapi dengan penampilan yang seperti itu membuat Gimyung berpikir, preman mana nih salah alamat?

"Siapa?" tanya Gimyung, sedikit waspada.

"Tukang AC. Dipanggil sama Mas Gitae," jawab laki laki itu dengan santai

"𝘖𝘩, 𝘜𝘯𝘵𝘶𝘯𝘨 𝘣𝘶𝘬𝘢𝘯 𝘱𝘳𝘦𝘮𝘢𝘯" batin Gimyung lega.

"Oh, iya. Masuk aja. Kamarnya di atas, tapi AC-nya udah gue copot dari dinding. Biar gampang."

Laki laki itu mengangguk kaku, membawa masuk dirinya dan kotak peralatannya. Mereka berdua lalu sama-sama mengangkat unit outdoor AC yang berat keluar teras, menempatkannya di lantai. Gimyung hanya berdiri di sana, mengawasi.

Sejak saat itu, Gimyung tidak lagi merasa kepanasan. Entah karena ada angin sepoi-sepoi sungguhan, atau karena fokusnya beralih sepenuhnya pada pemandangan di depannya.

Laki laki bertato itu fokus membongkar mesin AC, memperlihatkan otot-otot lengan dan bahunya. Badannya yang kekar itu bergerak cekatan, tapi Gimyung sadar, pandangannya tidak hanya terpaku pada cara kerja si tukang AC.

"Eh, nama lu siapa?" Gimyung memecah keheningan.

Laki laki itu tidak berhenti bekerja, matanya tetap tertuju pada baut dan kabel. "Seongeun."

"Kalo gue Gimyung," katanya, merasa perlu memperkenalkan diri. "Umur berapa?"

Seongeun akhirnya mendongak sekilas. "22"

"Ohh, seumuran berarti!" Gimyung berseru senang, seperti menemukan teman sebaya. Seongeun hanya mengangguk kecil, kembali fokus pada pekerjaannya.

Gimyung berusaha mencari topik lagi. "Lu kuliah sambil kerja ya?"

Pertanyaan itu membuat Seongeun terdiam cukup lama. Ada jeda sebelum ia menjawab pelan. "Enggak, enggak kuliah."

"terus kok lu bisa benerin beginian?"

"Sering ikut Ayah kerja"

"Ohh." Setelah itu tidak ada percakapan diantara keduanya. Seongeun fokus, dan Gimyung, sayangnya, juga fokus—terlalu fokus—pada wajah Seongeun yang tampak lucu saat sedang serius. Namun, fokus Gimyung yang paling cabul adalah pada dada Seongeun.

"𝘦𝘮𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘢𝘥𝘢 𝘭𝘢𝘬𝘪-𝘭𝘢𝘬𝘪 𝘣𝘪𝘴𝘢 𝘴𝘦𝘨𝘦𝘥𝘦 𝘪𝘵𝘶 𝘺𝘢?" batin gimyung

Gimyung mencoba modus. Ia mendekat, berpura-pura ingin membantu. "Ehh, gue bantu boleh, ya?"

"Gausah, gapapa. Ini kerjaan gua," tolak Seongeun sopan.

"Tapi gue juga pengen belajar benerin barang," desak Gimyung. Seongeun akhirnya menghela napas pasrah.

"Terserah."

Namun, niat Gimyung untuk "membantu" berubah menjadi kekacauan. Bukannya benar-benar membantu, Gimyung malah membuat kekacauan kecil, dengan sengaja bersikap rusuh demi memancing interaksi fisik. Seongeun menjadi jengah. "Kalo nggak bisa, gapapa, biar gue aja."

"Ehh, bisa kok, bisa!" Gimyung panik. Ia takut diusir.

"Gimyung, itu bautnya bukan dipasang di situ," koreksi Seongeun.

"Iya, kah?"

"Bukan gitu caranya. Begini." Seongeun meraih bagian yang dipegang Gimyung. Gimyung hanya melihat bagaimana Seongeun memperbaikinya, namun fokusnya selalu terpecah karena setiap Seongeun bergerak, dadanya seperti bergoyang sedikit.

Saat itu, Seongeun hanya memakai kemeja putih yang sebagian kancingnya dibiarkan terbuka di bagian atas. Apalagi hari ini sangat panas membuat kemejanya terawang karna keringat dan gimyung bisa melihat puting seongeun yang menjiplak. ketika ia membungkuk atau meregangkan badan, Gimyung melihat dengan jelas: kancing kemeja di bagian tengah itu terasa tidak kuat menahan volume dada Seongeun, membuat celah terbuka lebih lebar dari yang seharusnya.

Tiba-tiba, Gimyung sadar. Ada sesuatu yang salah, dan itu ada di balik celana pendeknya.Gimyung Junior sudah berdiri tegak, merespons pemandangan di depannya. Gimyung mencoba menenangkan diri, tetapi ia tahu ia tidak bisa berlama-lama di sana.

"Gue ambilin minum dulu ya, lu pasti haus" katanya cepat. Belum sempat Seongeun menjawab, Gimyung sudah ngibrit duluan, berlari masuk ke rumah, membiarkan Seongeun kebingungan di teras depan.

Gimyung langsung menuju dapur setelah kabur. Ia bersandar ke meja konter, wajahnya memerah karena malu dan hasrat yang tak tertahankan.

"Anjing, gue kok jadi sange gini anjing" bisiknya pada diri sendiri. Ia merutuk pada kejantanannya. "Gimmy junior, nurut Ayah, ya... Kamu jangan berdiri dulu."

Frustrasi, ia mencoba menenangkan napasnya yang terengah-engah. Ia menuangkan air dingin ke mug, dan mengambil gelas. Kasihan, Seongeun itu sudah bekerja sampai berkeringat tanpa diberi minum.

Setelah minuman siap, Gimyung segera membawanya keluar. Ia agak menarik kaosnya ke bawah, sedikit menutupi area yang ia harap tidak terlalu terlihat menggembung di sisi selatannya.

"Itu minum dulu," kata Gimyung, meletakkan gelas di sebelah perkakas Seongeun.

"Iya," jawab Seongeun tanpa menoleh, tangannya masih memegang obeng.

"Gue masuk dulu, ya. Kalo ada apa-apa, masuk aja ke dalam," ujar Gimyung.

"Oke."

Mendengar hal itu, Gimyung langsung melesat masuk. Tujuan utamanya adalah kamar mandi yang terletak di lantai bawah. Ia perlu menuntaskan hasratnya sebelum kewarasannya hilang.

Setibanya di dalam, ia buru-buru melepas kaos dan celana pendeknya. Gimyung menyalakan air shower untuk meredam suara, lalu mulai memegang kejantanannya. Ia mengocoknya pelan dengan satu tangan, terkadang memainkan bagian kepala penisnya. Pikirannya bergerak liar, hanya ada satu wajah yang ia bayangkan, wajah Seongeun.

Kocokan Gimyung semakin lama semakin cepat. Ia sudah merasa ingin keluar. Fantasinya menjadi gila, membayangkan Seongeun melakukan blowjob padanya, mengapit penisnya dengan dadanya yang besar, bahkan menaikinya dan menggoyangkan bokongnya ke atas dan ke bawah.

"𝘏𝘯𝘨𝘩𝘩, Seo... 𝘧𝘶𝘤𝘬"

Panggilan nama itu mengiringi pelepasan Gimyung. Nafasnya tersengal-sengal, tubuhnya dibanjiri keringat, dan ia merasa hawa di sekitarnya tiba-tiba menjadi sangat panas. Setelah tersadar dari euforia singkat itu, Gimyung langsung masuk ke pancuran untuk mandi.

Ketika Gimyung keluar, ia hanya melilitkan handuk di pinggangnya, memperlihatkan otot nya yang tak kalah besar dari Seongeun. Begitu ia melangkah keluar dari area kamar mandi, ia mendapati Seongeun sudah duduk santai di salah satu kursi meja makan kayu panjang, menatapnya.

"Nungguin, ya?" sapa Gimyung, berusaha santai.

"Oh, enggak," jawab Seongeun, mencoba bersikap biasa saja. Namun, matanya tidak bisa tidak melirik. Ia salfok karena Gimyung keluar hanya berbalut handuk. "𝘈𝘯𝘢𝘬 𝘪𝘯𝘪 𝘯𝘨𝘨𝘢𝘬 𝘱𝘶𝘯𝘺𝘢 𝘳𝘢𝘴𝘢 𝘮𝘢𝘭𝘶, 𝘢𝘱𝘢?" batinnya. Lebih parah, ia melihat ada gundukan samar di sisi selatan handuk Gimyung. "𝘔𝘢𝘴𝘪𝘩 𝘵𝘪𝘥𝘶𝘳 𝘢𝘫𝘢 𝘴𝘦𝘨𝘪𝘵𝘶, 𝘢𝘱𝘢𝘭𝘢𝘨𝘪 𝘬𝘢𝘭𝘢𝘶 𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘣𝘢𝘯𝘨𝘶𝘯? 𝘈𝘩𝘩, 𝘮𝘪𝘬𝘪𝘳𝘪𝘯 𝘢𝘱𝘢 𝘴𝘪𝘩 𝘴𝘦𝘰" rutuk Seongeun dalam hati, berusaha mengalihkan pandangan.

"Kenapa?" tanya Gimyung, menyadari tatapan Seongeun.

"Ah, itu..." Seongeun berdeham. "Ada beberapa bagian AC yang harus diganti. Kapilari sama filter dryer-nya udah jelek."

"Ya sudah ganti aja. Nanti uang buat belinya gue kasih," jawab Gimyung santai.

"Oke." Seongeun hendak berdiri. Namun, alih-alih berjalan ke kamarnya untuk berganti pakaian, Gimyung malah menarik kursi dan duduk tepat di hadapan Seongeun. Ia bersandar santai, meskipun handuk di pinggangnya terasa sangat minim.

"Gue pergi dulu," kata Seongeun.

"Mau kemana?"

"Mau beli alat nya yang rusak."

Gimyung mendengus. "Panas-panas gini lu mau keluar? Nanti kulit lu kebakar. Udah jam segini juga"

"Gapapa, udah biasa" balas Seongeun, tersenyum tipis. Sebelum Seongeun berbalik, tangan Gimyung sudah menahan pergelangan tangan berototnya.

"Temenin gue dulu. Nanti kalau sudah agak sorean, lu bisa beli." Mau tak mau, Seongeun duduk kembali di kursinya.

"Seongeun" Gimyung memulai bicara, mencoba bersikap santai, padahal ia sedang menyusun rencana untuk mengobrol lebih jauh.

"Ya?"

"Minta nomor lu boleh? nanti kalau AC gue rusak lagi gue bisa kasih tau lu" Gimyung menyodorkan ponselnya. Seongeun mengambilnya, mencatat nomornya di kontak Gimyung.

Gimyung mencoba mengobrol kembali "Lu suka nge-gym ya? Badanlu bagus" Dalam hati, ia ingin sekali menambahkan, "𝘋𝘢𝘯 𝘥𝘢𝘥𝘢 𝘭𝘶 𝘫𝘶𝘨𝘢 𝘬𝘰𝘬 𝘣𝘪𝘴𝘢 𝘵𝘰𝘣𝘳𝘶𝘵 𝘨𝘪𝘵𝘶" tapi akal sehatnya masih berfungsi. Ia tidak mau dipolisikan karena pelecehan seksual oleh Seongeun.

"Iya"

"Wih, keren!" lalu ia memajukan tubuhnya sedikit. "Eh, btw, tato lu keren banget. Sakit nggak sih bikinnya?"

Seongeun menaikkan alisnya. Gimyung tampak terlalu dekat. Ia bisa mencium aroma sabun mandi dari Gimyung. Seongeun mencondongkan tubuhnya, sedikit berbisik, dengan ekspresi yang sulit diartikan.

"Gimyung."

"Iya?"

"Tadi... Lu di kamar mandi ngapain?" Gimyung langsung membeku. Jantungnya berdebar kencang, seolah alarm bahaya berbunyi.

"Gue denger, lu manggil nama gue, makanya gue kesini" Wajah Gimyung yang baru saja disegarkan oleh air dingin langsung memanas lagi, kali ini karena malu yang mencekik. Ia menelan ludah, berusaha mati-matian agar tidak terdengar panik.

"Hah? Apaan? Di kamar mandi?" Gimyung tertawa keras, tawa yang terdengar sangat dipaksakan. "Oh, itu... itu gue lagi nyanyi, Seo! Nyanyi!"

"Nyanyi?" Seongeun tidak bergeming, ekspresinya tetap datar dan penuh tanda tanya.

"Iya! Kan lagi mandi, jadi nyanyi keras-keras. Itu... gue lagi cover lagu yang lagi viral itu loh, yang penyanyinya namanya siapa ya? Ya pokoknya namanya mirip-mirip lu lah!" Gimyung berbohong tanpa memikirkan detail, berharap Seongeun menelan mentah-mentah kebohongannya.

Seongeun diam sejenak, tatapannya tidak lepas dari mata Gimyung. Gimyung merasa seperti diinterogasi
"Nggak mungkin" kata Seongeun dingin. "Suaranya nggak kayak nyanyi."

Gimyung merasa seluruh darahnya naik ke ubun-ubun. Dia sudah ngeles sejauh ini, tapi Seongeun tidak bodoh. Ia menangkapnya basah.

"Bukan nyanyi?" ulang Gimyung, suaranya tercekat. Ia berpura-pura terkejut. "Masa sih? Itu efek kamar mandi kali, Seo. Akustiknya jelek, jadi suara gue kayak mendesah," ia mencoba meyakinkan dengan ekspresi polos yang gagal total.

"Desah? Siapa yang bilang kalau lu desah?" Seo menatapnya curiga.

"𝘔𝘢𝘮𝘱𝘶𝘴" batin Gimyung. Seongeun hanya menatap Gimyung, matanya menyiratkan bahwa dia sama sekali tidak percaya. Ia menyilangkan tangan di dada, membuat lipatan-lipatan di kemejanya sedikit meregang dan mengekspos garis otot dadanya. Gimyung buru-buru mengalihkan pandangan.

"Gimyung," Seongeun memanggil namanya lagi "santai aja kali, gue juga cowo, gue tau kok" pernyataan itu telak menghantam Gimyung. Ia tidak bisa lagi lari.

"Gue... gue nggak nyebut nama lu kok!" elaknya lagi, tapi ia sadar suaranya terdengar terlalu tinggi. Seongeun mendekatkan wajahnya sedikit ke arah Gimyung yang masih duduk, masih berbalut handuk. Jarak mereka kini sangat dekat, dan Gimyung bisa mencium bau matahari, keringat, dan sabun yang samar-samar dari tubuh kekar itu.

"Yakin?" Seongeun berbisik. Nafas Gimyung tercekat. Ia memutuskan untuk menyerah. "Oke, oke, gue ngaku!" Gimyung mengangkat kedua tangannya. "Iya, gue... gue lagi coli, Gue kan udah lama nggak ngelakuin itu, jadi ya.."

Seongeun menaikkan satu alisnya. "Terus kenapa nyebut nama gue?" Tangan Seomgeun bergerak merabah penis Gimyung yang dibalut handuk. "Lu sange sama gue?"

"Ternyata udah tegang" tangan Seongeun mencoba menyelinap ke dalam handuk dan mengelus penis Gimyung pelan.

"𝘏𝘯𝘨𝘩𝘩.. Seo.."

Seo membuka handuk yang melilit pinggang Gimyung. Handuk itu pun jatuh, terpampang jelas kejantanan Gimyung yang sudah mengeluarkan pre-cum.

"Besar" ucap Seongeun lirih. Mendengar hal itu nafsu Gimyung menjadi jadi. Tak ingin kalah dari Seongeun, Gimyung mencoba meraba kemaluan Seongeun. Ia mengernyit. "Kok rata?" Pasalnya ia berfikir bahwa Seongeun punya kejantanan sama besarnya dengan Gimyung, tetapi apa ini? Tidak ada penis laki laki disana.

Melihat Gimyung yang kebingungan, Seo tersenyum miring. Ia menaiki meja makan dan membuka kakinya lebar lebar. "Kalau penasaran, lihat aja sendiri?"

Oh sial. Jantung Gimyung berdetak kencang, seperti dirinya sedang lomba lari. Perlahan Gimyung merebahkan Seongeun di meja makan. Ia mencium bibir Seongeun dan melumatnya. Lumatan yang semakin lama semakin panas.

tangan Gimyung menurunkan resleting celana dan melepaskan celananya.
Ia terkejut, di balik celana dalamnya ternyata bukan penis, tetapi vagina yang tercetak basah di celana dalamnya. Gimyung memainkan jarinya di vagina yang tertutup kain itu. Gerakan naik-turun, melingkar, hingga mencubit-cubit kecil. Nafas Seongeun tersengal-sengal, ia seperti tersetrum listrik. Tekstur kain yang bergesekan dengan vagina membuatnya semakin basah.

Setelah cukup puas bermain, Gimyung melepaskan celana dalamnya Seongeun dan melemparnya entah kemana. Kini terpampang jelas, vagina kemerahan yang sudah banjir bandang, berkedut-kedut seolah minta di sumpal. Gimyung meneguk ludah, mencoba mengumpulkan kewarasannya

Tiba-tiba, ia merasakan sensasi hangat dan licin di bawah hidungnya. "Eh?" Gimyung menyentuh area itu dengan punggung tangannya, lalu melihat ke telapaknya. Darah. Gimyung mimisan.

Seongeun menatapnya dengan ekspresi panik. "Gapapa, cuma mimisan" Gimyung mengelus paha Seongeun untuk menenangkannya. Ia mengambil tisu yang ada di meja dan mengelap hidungnya. Setelah darah berhenti ia kembali fokus ke kegiatan panasnya tadi.

Tanpa aba aba Gimyung menjilat vagina Seongeun,
yang membuatnya menggeliat. Gimyung menyedot lendir alami Seongeun seperti vacum cleaner, dan menusuk-nusukkan lidahnya ke dalam.

"Klitorismu besar sekali Seongeun, seperti dadamu" Gimyung mengusap "daging" kecil itu dan kembali memakannya. Klitorisnya di sedot, dimainkan dengan lidah, dan digigit kecil. Seongeun mendesah hebat, tangannya menjambak rambut Gimyung dan menjepit kepala Gimyung dengan pahanya seolah tidak mau aksi itu selesai.

"𝘏𝘯𝘨𝘩𝘩 Gim-!" Tubuh Seongeun melengkung indah, mencapai pelepasannya. Vaginanya menyemburkan air bening, tapi kakinya tetap melingkar di leher Gimyung sehingga wajah Gimyung sangat basah sekarang.

*𝙐𝙃𝙐𝙆 𝙐𝙃𝙐𝙆𝙆

Gimyung tersedak. "𝘖𝘩𝘩 𝘴𝘩𝘪𝘵" ia mencoba melonggarkan kaki Seongeun di lehernya agar Gimyung bisa bangkit. Setelah bisa lepas darinya ia berdiri dan mengelap wajah dengan tangannya. "Wajahku basah semua Seongeun" yang di panggil hanya menatap sayu dari bawah dengan badan yang gemeta Penis Gimyung sudah berkedut dari tadi, sudah tak sabar.

Gimyung mengocoknya pelan dan menggesek nya ke klitoris si submisif. Setelah puas ia mencoba memasukkan nya perlahan. "𝘏𝘯𝘯𝘩𝘩" Seongeun mengernyit, rasanya sakit sekali seperti dimasuki tongkat bisbol.

"𝘚𝘩𝘩𝘩, jangan tegang sayang" Gimyung berhenti dari aksinya, ia membungkukkan badannya dan mengecup wajah Seongeun yang penuh keringat. "Aku pelan pelan" Gimyung perlahan memasukkan penisnya hingga sekarang tak terlihat lagi.

"𝘜𝘨𝘩𝘩, Seo jangan di ketatin sayang" Gimyung mencoba mengelus-elus paha Seongeun berharap dia kembali rileks.

"Gimh- penuhh Gimm" racau Seongeun, memegangi perut bagian bawahnya. "𝘴𝘩𝘪𝘵" Gimyung mulai memaju mundurkan penisnya perlahan, desahan Seongeun mulai terdengar. Tubuhnya bergerak ke atas-bawah sesuai irama Gimyung yang perlahan lahan lebih cepat. Dada besarnya juga ikut bergerak. Melihat hal itu Gimyung semakin nafsu. Ia membungkuk dan mulai menyedot puting Seongeun, tangannya juga mencoba meremas payudara yang satunya. Gimyung mulai mempercepat tempo hentakannya.

Seongeun yang atas-bawah di hajar oleh Gimyung merasa pusing, ia pusing dengan kenikmatan sementara ini. Jujur saja Gimyung lah yang pertama kali untuknya dan membuatnya seperti ini.

"𝘈𝘩𝘩 lebih cepeth Gimh!" Mendengar hal itu Gimyung yang sibuk "menyusu" mulai fokud dengan hentakan nya. Ia memegang kedua tangan Seongeun dan mengarahkannya kedepan. Sehingga dada Seongeun tampak lebih besar naik turun karna terjepit oleh lengannya. Gimyung semakin beringas.

"Di dalem sayang?"

"𝘐𝘺𝘢𝘩! 𝘐𝘺𝘢𝘩𝘩! Di dalem!" Seo menganggukan kepalanya tak karuan.

Tak butuh waktu lama, Gimyung melepaskan spermanya di dalam vagina Seongeun. Dan disusul semburan cairan bening yang deras dari vagina itu membasahi lantai. Nafas keduanya terengah engah, saling menatap satu sama lain. Setelah nafas Gimyung kembali teratur, ia mengangkat Seongeun, Seo yang kekuatannya seperti sudah di sedot habis hanya mengalungkan tangannya ke leher Gimyung. Entah mau dibawa kemana, ke kamar mandi atau kamar Gimyung Seo sudah tak peduli.