Chapter Text
"Oh? Seo Dal-mi ssi. Kami baru saja membicarakan..mu," Dong-chun memutar kursinya sedikit menghadap ke arah perempuan yang baru membuka pintu dengan tidak membawa apapun selain wajah gusar.
Kedua mata Dal-mi menangkap Ji-pyeong sedang duduk di kursi, sebagaimana dia sering menemukan lelaki itu di ruang kerjanya. Tidak memedulikan pegawai-pegawai yang satu persatu melewatinya untuk keluar makan siang, Dal-mi tetap berdiri seperti terpaku di depan pintu hingga Ji-pyeong menyebrangi ruangan dan menghampirinya.
"Seolleongtang?" Suaranya berat.
Berita tentang Yoon-daepyonim mengundang Dal-mi menjadi tamu di kuliah relai perusahaan rintis yang diadakan Sand Box setiap tahun. Hal itu mungkin sudah terdengar ke seluruh sudut Sand Box. Sebagai pemenang Demo Day ke-12 dan meneken kontrak eksklusif dengan 2STO, ini adalah sebuah kebanggaan untuk bisa berbagi sedikit tentang bagaimana mereka merintis Noongil—hingga perusahaan mereka terpecah belah. Benar-benar menginspirasi anak muda.
"Kau sudah dengar?" tanya Dal-mi yang sebenarnya terdengar seperti pernyataan. Lelaki di depannya tersenyum simpul sebagai jawaban, namun Dal-mi terlalu sibuk menatap makan siangnya dan menambahkan, "Konyol sekali, kan?"
"Dal-mi ssi."
Setiap kali Ji-pyeong memanggilnya, hal itu membuatnya terjaga. Seakan dia harus fokus dan memberi perhatian penuh pada asal suara. Perlahan, Dal-mi mengangkat kepalanya. Menatap wajah tenang Ji-pyeong yang sangat terlatih.
"Noongil saat ini sudah mendapat investor dan telah banyak membantu mereka yang membutuhkan. Apa yang konyol?" Ji-pyeong belum menyentuh makan siangnya sama seperti Dal-mi.
Ya. Noongil saat ini sudah mendapat investor dan entah bagaimana prosesnya, Dal-mi tidak paham. Dia yakin Do-san berperan di balik itu semua. Satu lagi yang membuktikan bahwa dia adalah CEO yang gagal.
"Aku. Aku gagal menjadi seorang pemimpin dan aku gagal mempertahankan Samsan Tech. Sekarang aku bekerja di bawah perusahaan kakakku. Wow, miris sekali."
"Ini bukan tentangmu," Ji-pyeong membalasnya dengan datar, kedua mata memandang lurus lawan bicaranya, "Mereka hadir tidak untuk mendengar kisahmu. Mereka hadir untuk Samsan Tech dan inovasinya." Dia bersidekap di duduknya, mungkin mengungkit Samsan Tech membuatnya merasa tidak nyaman. Entahlah. Namun ucapannya membuat Dal-mi tidak berkedip.
"Lagipula, kesuksesan tidak diukur dari posisimu, Dal-mi ssi. Tidak ada yang namanya mantan pemimpin. Kepemimpinan adalah bagaimana kau memecahkan masalah. Jika kau memiliki prajurit dan ketika prajuritmu berhenti melaporkan masalah, maka hari itu kau berhenti memimpin. Mereka kehilangan kepercayaan diri bahwa kau dapat membantu. Itu adalah kegagalan kepemimpinan."
"Aku melakukannya lagi?" Ji-pyeong mengusap lehernya. Sebuah kebiasaan ketika lelaki itu merasa gelisah. "Yang tadi itu Colin Powell. Aku mengutipnya."
Dal-mi menggeleng dan tersenyum kecil. Dia tahu keheningannya bisa membuat Ji-pyeong berpikir kalau perkataannya telah menyakiti lawan bicaranya. Tapi Ji-pyeong tidak menyakitinya. Dia benar karena Yoon-daepyonim mengundangnya bukan sebagai Seo Dal-mi, tapi sebagai Samsan Tech, pemenang Demo Day yang menciptakan sebuah aplikasi berbasis AI, Noongil.
"Apa yang terjadi pada Samsan Tech, kau menyelesaikannya dengan baik. Dan tawaran Yoon-daepyonim membuktikan bahwa kau dan Samsan Tech bisa memberikan inspirasi bagi yang lain," lanjut Ji-pyeong yang sudah memperbaiki duduknya. Dia terlihat lebih rileks dan hal itu menular pada Dal-mi.
Mendengar ada seseorang mempercayai dirinya terasa sudah cukup bagi Dal-mi. Sangat egois jika Dal-mi hanya memikirkan tentang dirinya dan menolak tawaran Yoon-daepyonim. Seharusnya dia berpikir bahwa kisah Samsan Tech bisa menggerakan lebih banyak anak muda untuk menciptakan inovasi-inovasi yang bisa membuat dunia jauh lebih baik.
"Masalah apapun yang ada di pikiranmu, kau pasti bisa memecahkannya," Ji-pyeong mengangkat tangannya, "Ahjumma. Tolong hangatkan kembali supnya. Terima kasih."
[]
"Selanjutnya?" Dal-mi mengedarkan pandangan ke bangku peserta dan memilih salah satu yang mengangkat tangan, "Ah, ya, anda yang berbaju biru."
"Terima kasih atas kesempatannya. Nama saya Park Cheol," lelaki berbaju biru yang berdiri di antara peserta seminar lainnya memberi salam sebelum melanjutkan, "Seo Dal-mi ssi. Saat ini Noongil sudah mendapat investor. Namun perusahaanmu bubar."
Dal-mi sudah menduga mereka akan menyinggungnya.
"Yang ingin aku tanyakan, sebagai seorang CEO, oh maaf, mantan CEO," ruangan sedikit riuh ketika kalimat terakhir disebutkan. Lelaki berbaju biru tidak berhenti sekalipun ucapannya bisa menyinggung orang, "apa kau tidak pernah menyesali keputusanmu?"
Deja-vu. Pertanyaan ini adalah pertanyaan yang dia lontarkan pada In-jae tahun lalu, di ruangan dan momen yang sama.
Dal-mi yang tadinya duduk, berdiri dari kursinya dan berjalan ke depan panggung. Peserta seminar menatapnya dari tempat duduk masing-masing dan menghentikan aktifitas mereka. Tidak ada yang berbisik-bisik. Tidak ada yang sibuk dengan smartphone. Semuanya menunggu jawaban Dal-mi dan itu membuatnya tersenyum meski pertanyaan tadi menusuknya.
"Terima kasih atas pertanyaannya, Park Cheol ssi," Dia memulainya dengan santai. Gerak tubuhnya juga terlihat luwes. Dia menunjukkan pada semuanya bahwa dia berdiri dengan percaya diri dan telah menyiapkan jawaban yang layak dinantikan. "Penyesalan terdengar negatif sehingga banyak orang menyangkal mereka menyesal agar tidak menjadi pecundang," Dal-mi mengangguk-angguk, menyetujui ucapannya sendiri lalu menebarkan pandangan ke seluruh ruangan, "Kalian pasti juga pernah mendengar pepatah, jalani hidupmu tanpa penyesalan. Semua orang terkesan memusuhinya, ya?"
Dal-mi memberi jeda sebelum melanjutkan, "Aku tidak memusuhinya dan juga tidak menyangkalnya. Namun jika saat ini kukatakan bahwa aku menyesal, maka aku terjebak di masa lalu dan tidak berbuat apa-apa setelahnya. Bukan begitu?" Beberapa orang mengangguk sebagai respons spontan.
"Karena aku telah menghadapi dan menerima apa yang terjadi pada Samsan Tech. Maka jawaban untuk pertanyaan anda di masa sekarang ini adalah: aku tidak menyesal."
Dal-mi menjauhkan mikrofonnya untuk mengembuskan napas yang sedari tadi dia tahan. Ritme jantungnya kembali normal seiringan dengan suara tepuk tangan yang datang satu persatu dari peserta seminar. Kedua matanya menyorot para peserta seakan menebarkan aura positif ke seluruh ruangan. Dia merasa bangga bisa berbicara di atas panggung. Panggung tempat dia memulai dan juga mengakhiri semuanya. Namun hari ini, di panggung yang sama, dia akan memulai hal baru.
Ketika dia berbalik ke kursi, Yoon-daepyonim mengacungkan jempol namun tidak kepadanya. Dia menoleh kembali ke arah peserta seminar, di dekat pintu keluar, seorang lelaki baru saja berbalik meninggalkan ruangan. Bahkan dari kejauhan, Dal-mi mengenal punggung itu.
Han-timjangnim, batinnya.
"Hari ini sungguh menginspirasi. Sepertinya aku akan terus belajar darimu, Seo Dal-mi ssi." Yoon-daepyonim memberinya salam setelah acara itu berakhir, meninggalkan Dal-mi dengan perasaan yang luar biasa lega. Berbicara tentang Samsan Tech di panggung tadi ternyata meringankan bebannya.
Jika ada sebuah pelajaran berharga yang bisa Dal-mi petik dalam setahun terakhir ini adalah berdamai. Berdamai dengan orang-orang di sekitarnya. Juga berdamai dengan diri sendiri. Berdamai dengan masa lalu.
Hidup berdampingan dengan ibu yang telah meninggalkannya belasan tahun membuat Dal-mi merasa tercekik tiap kali berbagi ruangan dengan A-hyeon. Makan bersama di meja makan malah membuat makanannya terasa hambar. Suatu malam A-hyeon masuk ke kamar Dal-mi di saat dia merasa terpuruk setelah Samsan Tech bubar. Dia tahu ibunya itu khawatir namun mereka tidak berbicara. A-hyeon hanya duduk menemani Dal-mi yang sibuk dengan buku-bukunya. Dan ketika Dal-mi terlelap, terkadang dia bisa merasakan A-hyeon mengelus kepalanya.
Dal-mi menunggu permintaan maaf yang tidak kunjung datang. Sampai kapan dia harus merasa tidak nyaman berada di rumah sendiri? Meski rasanya sakit, dia perlahan-lahan mencoba untuk menerima kehadiran ibunya. Dimulai dengan berhenti memanggilnya eomeoni dan mulai memanggilnya eomma seperti dulu. Memaafkan orang terlebih dulu akan memberi hati dan pikiranmu ketenangan.
Lalu dengan bergabung menjadi bagian dari tim perencanaan strategis Injae Company, Dal-mi telah melupakan persaingannya dengan In-jae dan memutuskan untuk bekerja di bawah kepemimpinannya.
Dengan berdamai dengan masa lalumu, maka kau hidup tanpa penyesalan di masa sekarang. Dan apa yang terjadi kemarin telah membentuk dirimu yang sekarang.
Dal-mi tidak ingin hidup dalam penyesalan dan dia juga tidak ingin orang-orang yang dia pedulikan hidup dalam penyesalan. Menyesal tidak melakukan apa-apa atau menyesal telah melakukan hal yang seharusnya tidak dilakukan.
Setelah berminggu-minggu memikirkan banyak cara untuk menyeret In-jae dan mempertemukannya dengan halmeoni, akhirnya tiba di saat Dal-mi menggunakan langkah terkahir. Dia menceritakan penyakit yang diderita halmeoni. Dan setelah mendengar itu, In-jae tergerak untuk mengunjunginya.
"Kau menangis?" A-hyeon menyipitkan mata pada anak sulungnya dan Dal-mi mengikutinya tanpa sadar.
Kedua mata In-jae sembab dengan noda maskara melingkarinya. Dia masih mengatur napas agar tidak kembali sesenggukan. "Tidak." In-jae mengalihkan wajahnya dari pandangan ibunya dan Dal-mi.
"Kau sekarang seperti panda."
"Ini memang mudah luntur. Tak tahan air." In-jae merogoh cermin di dalam tasnya.
"Alasanmu payah," celetuk Dal-mi pelan. Dia mengambil sebutir anggur dan melahapnya, menikmati momen singkat In-jae yang tiba-tiba berjengit kecil saat melihat cermin.
"Sudahlah," halmeoni menengahi mereka, "Kita sudah lama tak bertemu. Jangan bertengkar."
A-hyeon kembali bersuara, "Selama ini kami suruh datang tapi kau tak pernah datang. Ada apa?"
"Tadinya aku mau menemuimu lebih cepat. Tapi marga Won membuatku merasa bersalah," ujar In-jae. Wajahnya melembut menatap halmeoni.
Dal-mi tersentuh mendengarnya. Siapa sangka di balik sikap dinginnya, ternyata In-jae memikirkan hal sedalam itu. Dia senang bisa menyeret kakaknya untuk bertemu halmeoni sebelum terlambat. Selama ini mereka telah hidup mengenakan topeng masing-masing. Malam ini mereka berkumpul dan menunjukkan wajah mereka yang sebenarnya.
Dal-mi berdeham. "Harusnya kau datang saja. Siapa yang peduli dengan itu?"
"In-jae, setelah ini kau harus sering main ke sini," halmeoni mengelus tangan In-jae, membujuk cucu pertamanya itu. "Atau.. akan lebih baik jika kau pindah kemari saja? Kau bisa sekamar dengan Dal-mi."
"Halmeoni!"
Halmeoni tidak memedulikan rengekan cucu nomor duanya, "Rumah kecil ini terasa sangat hidup berkat kalian dan Sundingi."
In-jae menautkan alisnya. Dia tidak mengeluarkan sepatah katapun namun Dal-mi tahu kakaknya itu kebingungan. Tetapi baik Dal-mi dan yang lainnya tidak melanjutkan. Ucapan itu menggantung begitu saja dan mereka beralih ke topik lain. Melupakan Sundingi yang sempat diungkit.
"Kenapa ambil barang di mejaku?" Dal-mi menutup pintu kamarnya dan mendekati In-jae. Suara kotak musik berwarna hitam yang dipegang kakaknya terdengar merdu.
"Kau memperbaiki ini?"
Dal-mi melipat kedua tangannya di depan dada dan menjawab ketus, "Tidak. Itu bisa sendiri."
"Aku ambil karena ini milikku."
"Terserah kau saja."
In-jae menggeleng-geleng sambil membersihkan barang-barang yang tidak berada pada tempatnya dari tempat tidur adiknya itu. "Terima kasih sudah memberitahuku kabar halmeoni. Kau melakukannya agar aku tidak menyesal, kan?"
Dal-mi pura-pura tidak mendengar. Kepalanya tenggelam di balik pintu lemari, mencari baju ganti untuk In-jae yang akan menginap semalam.
In-jae mendengus dan duduk di tempat tidur Dal-mi, "Kurasa seluruh keturunan Seo berkepala batu." Sepasang piyama dengan motif kotak-kotak mendarat di sebelahnya.
"Kita bisa coba mengadunya," Dal-mi mengambil posisi di tempat tidur dan menutup mata ketika In-jae mengganti baju di depannya, mencibir agar perempuan itu menggunakan kamar mandi.
"Kita bisa mengadunya lain kali. Malam ini aku lelah."
In-jae berbaring di sebelah Dal-mi. Mereka menatap langit-langit kamar. Hening. Mereka sama-sama merasa canggung. Berbelas tahun tidak tidur bersama, malam ini mereka seperti saat kecil dulu. Dal-mi melirik In-jae lewat sudut matanya. In-jae sudah berbalik.
"Jangan peluk aku tiba-tiba."
"Siapa juga yang akan memelukmu." Dal-mi menarik selimut sampai ke kepalanya dan berusaha untuk tidur. Setelah segala upayanya tidak berhasil, dia menyibak selimutnya dengan kesal lalu berbaring ke kiri, memandangi punggung In-jae. "Kau sudah tidur?"
"Mm-hmm."
"Aku tidak bisa tidur."
"Bagaimana kalau kau jelaskan padaku siapa Sundingi yang disebut halmeoni?"
"Kau lelah. Tidur sajalah." Dal-mi menutup kembali kepalanya dengan selimut. In-jae tak lagi merespons dan hal itu malah membuat Dal-mi kesal. Dia menyibak selimut untuk kedua kalinya. Perempuan di sebelahnya mencoba untuk tetap sabar dan tidak bereaksi apa-apa.
Dal-mi tidak tahu dari mana dia harus memulai bercerita tentang Sundingi—tentang Han Ji-pyeong. Nam Do-san di surat. Lelaki yang selalu dia ceritakan pada kakaknya itu. In-jae tentu akan bingung karena Nam Do-san yang dia tahu adalah Nam Do-san yang saat ini berada di US. Tapi, In-jae tidak mungkin tertarik mendengar ceritanya, kan?
"Kau masih ingat Nam Do-san yang mengirimku surat?" Dal-mi memulai dengan ragu. Dia meremas selimut.
"Hmm." Komentar yang terdengar malas. Seperti dugaan Dal-mi, In-jae tidak akan tertarik.
"Bukan yang pergi ke Sillicon Valley. Bukan Nam Do-san yang itu."
"Ada dua Nam Do-san?"
"Nam Do-san yang menulis dan mengirim surat untukku bukan Nam Do-san yang kukenalkan padamu saat networking party," Dal-mi melanjutkannya dengan hati-hati.
"Ya. Kau bisa ke intinya saja."
"Han-timjangnim adalah lelaki di balik surat-surat yang menemaniku dulu. Han Ji-pyeong." Dal-mi menunggu In-jae untuk berkomentar, namun In-jae tetap diam. Itu tandanya dia tertarik. Dan tiba-tiba saja Dal-mi jadi bersemangat.
Dal-mi mencurahkan semuanya pada In-jae. Seperti dulu. Seperti saat mereka hanyalah sepasang kakak-adik yang sering bertukar cerita setiap malam sebelum tidur. Seperti saat ada orang yang menjahilinya, Dal-mi akan mencari In-jae untuk mengadu. Untuk mendapat perlindungan. Untuk mendapat dukungan. Dia mengungkapkan kekesalan dan kekecewaannya karena telah dibohongi oleh Ji-pyeong dan Do-san. Ya. Keduanya sama-sama bersalah di mata Dal-mi.
"Haaa. Itu yang terjadi." Dal-mi mendesah dan menyudahi ceritanya.
In-jae berbalik menghadap Dal-mi ketika ceritanya selesai. Kedua mata Dal-mi berbinar-binar. Dia menduga-duga kalau In-jae akan menyumpahi kedua laki-laki itu. Tentu saja seorang kakak akan melindungi adiknya, kan? Namun komentarnya tidak seperti yang Dal-mi harapkan.
"Apa kau pernah berpikir dia menyesal telah melakukan itu?"
"Do-san berulang-ulang kali meminta maaf padaku. Dia sangat menyesal. Aku tahu itu," ujar Dal-mi lirih.
"Bukan," In-jae mengoreksi, "Han Ji-pyeong."
Dal-mi tidak menjawab.
Setelah mengetahui cerita bagaimana Ji-pyeong dan halmeoni bisa bertemu hingga bagaimana Ji-pyeong menulis surat untuknya, tidak sekalipun Dal-mi berpikir apakah penyesalan pernah menghampiri lelaki itu. Apakah dia menyesal tidak menggunakan nama aslinya? Mereka tidak pernah membahasnya. Apakah memang lebih baik untuk tidak membahas surat sama sekali? Apakah dengan begitu tandanya Dal-mi sudah berdamai dengan masa lalunya dan Ji-pyeong?
Begitu banyak pertanyaan dan tidak ada satupun jawaban yang bisa dia temukan.
Han Ji-pyeong tidak terdengar seperti sebuah nama. Han Ji-pyeong lebih mirip seperti sebuah pertanyaan.
Pertanyaan yang tidak bisa Dal-mi pecahkan.
I can't speak like a fool
I still can't leave
I live the day where you stayed
Penyesalan adalah perasaan yang telah hidup bersama Ji-pyeong. Dimulai dari kematian Mongsil, anjing yang dia rawat saat di panti asuhan. Lalu saat dia menuduh halmeoni telah mencuri uangnya. Hingga menggunakan identitas orang lain di surat yang dia kirim untuk Dal-mi, demi sosok yang memenuhi kriteria keinginan halmeoni. Dan juga saat dia tidak berhasil menyelamatkan Samsan Tech dari acquire, di mana seharusnya perasaan itu tidak muncul. Tetapi fakta bahwa Samsan Tech menciptakan Noongil untuk halmeoni membuatnya terpukul.
Jika Dal-mi tahu bagaimana caranya untuk berdamai dengan penyesalan dan masa lalunya, tidak dengan Ji-pyeong. Dia berpikir bahwa penyesalan yang dia rasakan adalah hukuman atas perbuatan yang dia lakukan. Dan setiap kebaikan yang dia terima adalah utang. Bagaimana dia bisa menyelesaikan hukuman dan melunasi utang itu?
Tentu dengan menjalani dan membayarnya.
Setelah Noongil berhasil mendapatkan investor, di saat bersamaan Ji-pyeong berhasil menyelesaikan satu hukumannya.
Lalu sebuah hukuman menghampirinya lagi. Yoon-daepyonim kembali memercayakan dirinya untuk menjadi mentor di Hackathon 2017. Tapi bukankah dia gagal membimbing mereka? Samsan Tech bubar.
Dia teringat dengan nasihatnya sendiri pada saat Dal-mi merasa gagal memimpin sebuah perusahaan. Ji-pyeong menerima tawaran itu. Lagi pula, ini hukuman untuknya, kan? Untuk mencegah perusahaan lain bernasib sama seperti Samsan Tech. Maka dia menerima tawaran Yoon-daepyonim.
Kesibukannya membuat Ji-pyeong tidak sempat mengunjungi halmeoni. Mungkin sudah hampir dua bulan. Dia juga melewatkan hari ulang tahunnya. Dia merasa bersalah karena tidak menyempatkan waktu barang untuk mampir sebentar saja.
Di hari Jum-at malam, setelah pekerjaannya selesai, dia menyetir menuju rumah halmeoni. Waktu baru menunjukkan pukul 19.39, namun halmeoni sudah tidur ketika Ji-pyeong sampai. A-hyeon bercerita kalau akhir-akhir ini halmeoni tidur lebih cepat. Sejak dia tidak menjual corndog lagi, halmeoni menghabiskan sebagian besar waktunya untuk tidur.
Setelah selesai makan malam ditemani ibu Dal-mi, Ji-pyeong pamit untuk pulang. Baru saja dia menutup pintu pagar, seorang perempuan meneriaki namanya.
"YA! Han Ji-pyeong!"
Punggung Ji-pyeong membentur pagar karena terkejut melihat perempuan berambut panjang acak-acakan mengacungkan telunjuk ke arahnya. "Dal-mi ssi?"
"Berani menunjukkan muka di depanku!?" Dal-mi maju dua langkah dengan sempoyongan.
"Kau mabuk?"
"Han Ji-pyeong!!" Teriaknya lagi sekuat tenaga, sampai membuat rambut menutupi wajahnya.
Mendengar Dal-mi meneriaki namanya, Ji-pyeong bergulat dengan perasaan takut karena mengganggu tetangga dan keinginannya untuk tertawa karena perempuan di depannya terlihat sangat—
"Kiyowo."
"Eomma, halmeoni! Sundingi wasseo!" teriak Dal-mi. Sebelah tangannya merangkul Ji-pyeong lalu tangan lainnya melambai-lambai pada ibunya yang sedang membersihkan meja makan.
"Dal-mi?" A-hyeon membantu Ji-pyeong membopong Dal-mi dan mendudukannya di sofa. "In-jae sudah mengirimku pesan kalau mereka malam ini akan pergi minum. Tapi kenapa sampai mabuk begini? Dimana kau temukan dia?"
"Di depan rumah."
"Sendirian?" Tanya A-hyeon dan Ji-pyeong mengangguk. "Terima kasih, Ji-pyeong. Kau bisa pulang. Aku akan mengurus anak nakal ini."
Tiba-tiba Dal-mi bertingkah aneh. Badannya condong ke depan dan hampir saja tersungkur ke lantai jika Ji-pyeong tidak menahannya dari belakang. "Hoeek!"
Dal-mi muntah di lantai, di dekat kaki sofa.
"Seo Dal-mi!" A-hyeon memekik pelan, takut membangunkan halmeoni.
Ji-pyeong menyandarkan Dal-mi pada sandaran sofa. Perempuan mabuk itu mengelap asal bibirnya dan Ji-pyeong segera mengambil tisu dan menyelipkannya pada tangan Dal-mi. Dia menuntun tangan Dal-mi yang memegang tisu untuk menyeka bibirnya.
A-hyeon berkacak pinggang. "Kau tidak tahu malu ya. Bagaimana jodoh bisa datang menghampirimu!?"
"Sudah ada uri Ji-pyeongie. Aku akan menikahinya! Huhahah!"
Ucapan Dal-mi yang di bawah pengaruh alkohol sempat membuatnya kaku hingga suara tawa Dal-mi menyadarkannya kembali. Ji-pyeong ikut tertawa dengan canggung.
"Kau dan mulut besarmu. Besok pasti kau sudah lupa apa yang kau bicarakan. Ji-pyeong tolong bawa dia ke kamar sebelum dia memuntahi sofa. Lebih baik dia memuntahkan isi kamarnya." A-hyeon kemudian berlalu untuk mengambil kain lap, meninggalkan keduanya di ruang tengah sendirian.
Dal-mi terlihat mulai terkantuk-kantuk setelah selesai tertawa. Ji-pyeong kebingungan harus membawanya ke kamar dengan cara apa. Dia memegang kedua sisi bahu Dal-mi dan memaksanya untuk berdiri namun Dal-mi menangkis tangannya.
"Jangan pegang-pegang!"
"Sst!" Sekali lagi Ji-pyeong mencoba untuk membuat Dal-mi berdiri, "Satu, dua, ti-AUUU!" Ji-pyeong hampir terjatuh ke belakang ketika Dal-mi berdiri dan menginjak kaki Ji-pyeong tanpa sengaja.
"Ji-pyeong, kau tak apa? Maaf menyusahkanmu," A-hyeon kembali dengan kain lap dan ember kecil di kedua tangannya.
Ji-pyeong mengangguk mantap dan melanjutkan misinya membopong Dal-mi ke dalam kamar. Kamar yang hanya beberapa langkah dari ruang tengah terasa jauh sekali karena Dal-mi tidak kooperatif. Ji-pyeong bisa saja menggendongnya, tapi... akan selalu ada tapi.
Ini pertama kalinya Ji-pyeong memasuki kamar Dal-mi. Ruangan yang tidak terlalu besar itu sedikit tampak berantakan dengan buku-buku yang berserakan di meja belajar dan baju-baju tak terlipat di atas tempat tidur. Melihat isi ruangan itu seperti melihat sebuah kepribadian baru dari Dal-mi.
Segera Ji-pyeong menyibak selimut, menyiapkan tempat tidur dan sebelah tangannya menuntun Dal-mi untuk berbaring di tempat tidur. Tetapi Dal-mi—si keras kepala—bahkan di saat mabuk dia bisa melawan. Menolak untuk berbaring. Dengan sisa tenaga, Dal-mi berusaha duduk dan Ji-pyeong yang hampir menyerah, membantunya untuk duduk.
"Han-timjangnim?"
Sebutan itu lagi.
Dal-mi hanya mengenalnya dengan sebutan itu. Sebuah identitas yang memberikan jarak di antara mereka. Bahkan setelah sering berjumpa di luar kantorpun, mereka tidak melepas keformalan itu.
"Apa kau merasa sakit?" Ji-pyeong duduk di sisi tempat tidur dan Dal-mi mencondongkan tubuhnya, mendekati Ji-pyeong.
Kedua mata Dal-mi yang sayu memandangi Ji-pyeong. Bahkan dalam keadaan mabuk, kedua mata itu terasa seperti sedang membaca pikiran Ji-pyeong. Membuatnya jantungnya berdetak sedikit lebih cepat.
"Ah.. dimana?" Dal-mi mencari-cari sesuatu pada wajah Ji-pyeong hingga kedua tangannya tiba-tiba menangkup wajah Ji-pyeong, membawanya lebih dekat dengan wajahnya sendiri.
Ji-pyeong yang terkejut tidak berkomentar apa-apa. Dia membeku menatap wajah Dal-mi. Setelah hampir dua bulan dia tidak melihat wajah Dal-mi di kantor, kini dia bisa melihatnya dari jarak sangat dekat. Dengan jarak yang kurang dari 30 cm ini, diia bisa melakukan apa yang pikirannya bisikan, namun Ji-pyeong tetap diam. Menikmati setiap detik menjadi objek penelitian Dal-mi.
Wajah Dal-mi yang terlihat bodoh tidak pernah tidak terlihat lucu di matanya. Dengan rambut yang acak-acakan, kedua mata yang teler, serta bibir yang menganga sembari mencari-cari sesuatu di wajah Ji-pyeong.
Dal-mi tersenyum puas ketika Ji-pyeong mengembangkan senyum, "Di sini rupanya. Sudah lama tidak bertemu." Dia membelai pipi Ji-pyeong, membelai lesung pipinya.
[]
Dal-mi meringis dan berteriak tanpa suara ketika sudah sepenuhnya sadar dan memproses apa yang terjadi tadi malam. Dia mengutuk In-jae yang meninggalkannya sendirian di depan rumah. Tadi malam dia berbuat bodoh pada Ji-pyeong. Setelah meneriakinya, muntah di ruang tengah, mengajaknya menikah, lalu membelai pipinya, Dal-mi juga memuntahinya. Dia mengingat semuanya dengan jelas.
Ketika tiba-tiba halmeoni masuk ke dalam kamar, Ji-pyeong refleks menepis tangan Dal-mi dan mendorongnya ke belakang. Itu membuat Dal-mi mendadak mual dan menyemburkan isi perutnya keluar.
Sungguh di luar nalar. Dal-mi memaki dan mengutuk dirinya sendiri.
Tapi sepertinya dia memang sudah dikutuk. Atau mungkin ini karma buruknya.
Karena ini pertama kalinya Dal-mi bisa mengingat apa yang terjadi pada dirinya saat mabuk.
Kedua tangannya dengan liar meremuk-remuk bantal. Kakinya menendang-nendang ke seluruh penjuru arah.
Saat Dal-mi keluar kamar, halmeoni sudah menunggunya di meja makan. Dia duduk di seberang halmeoni yang telah menyiapkannya sup pengar.
"Kau ingat apa yang kau lakukan tadi malam? Ah, tentu saja kau tidak ingat," halmeoni menuangkan air putih untuk Dal-mi yang meringis pelan dan meniup kuah sup pada sendoknya. "Setelah sarapan, kau bantu Sundingi di depan."
Dal-mi hampir tersedak. Han-timjangnim ada di sini?
"Han-timjangnim tidak pu—maksudku—eh—dia sedang mampir?" Kedua mata Dal-mi mengerjap-erjap.
"Dia menginap. Dan pagi ini aku memberinya hukuman karena sudah lama tidak setor muka," jawab halmeoni.
"Hukuman? Hukuman apa?"
Halmeoni tersenyum jahil. "Mengecat pagar. Kau tahu, pagar kita sudah kelihatan jelek. Biarkan Sundingi berolahraga pagi." Dia tertawa lalu menambahkan, "Kau juga kuhukum mengecat pagar karena membuat kekacauan!"
Dal-mi duduk dan meletakan segelas es jeruk pada undakan tangga terakhir pintu rumah. Ji-pyeong sedang membungkuk, mengecat bagian bawah pagar. Pemandangan itu membuat Dal-mi heran kenapa dia tidak berjongkok saja. Dia mendesah pelan.
Tidak bisakah hukumannya menonton Ji-pyeong mengecat pagar saja? Kenapa halmeoni membuatnya harus ikut mengecat pagar bersama?
Dia tidak menyapa Ji-pyeong yang sibuk dengan kuas dan cat. Bagaimana mungkin dia menyapanya setelah kejadian tadi malam!?
"Kau sudah bangun?"
"Eh?" Dal-mi refleks memberikan reaksi bingung ketika tiba-tiba Ji-pyeong menggunakan banmal.
Ji-pyeong berbalik, menatap Dal-mi. "Tadi malam kau bilang mau bicara santai denganku."
Kapan!?
Dal-mi tidak langsung membalas. Dia mengingat-ingat kejadian tadi malam. Ya, dia memang ada 'mengajak' Ji-pyeong untuk melakukan sesuatu. Mengingat itu membuat pipi Dal-mi terasa hangat. Tapi tidak ada memori dia mengajak Ji-pyeong untuk menggunakan banmal. Setelah lama berpikir, dia menjawab, "Hee? Aku? Aku tidak pernah berkata begitu."
"Jadi kau ingat apa yang terjadi tadi malam?" Ji-pyeong menyudutkannya.
"Tidak!" Dal-mi segera membantahnya. "A—aku selalu lupa apa yang terjadi kalau mabuk. Kau mungkin sudah dengar dari eomma atau halmeoni. Me-memangnya apa yang terjadi?" tanya Dal-mi, penasaran dengan jawaban Ji-pyeong.
"Kau memuntahiku."
"Hahaha..ha..ha," Dal-mi menepuk wajahnya, "Maafkan aku."
"Yeah, kau tidak mengajakku untuk menggunakan banmal. Sekarang, aku mengajakmu." Ji-pyeong kembali memunggungi Dal-mi, "Kita bisa berbicara santai di luar kantor. Mendengarmu memanggilku timjangnim di rumah ini kadang membuatku stress memikirkan pekerjaan."
Dal-mi masih tidak fokus karena bayang-bayang membelai wajah Ji-pyeong berputar-putar di benaknya. Dia malah bertanya, "Sekarang aku harus memanggilmu apa?"
"Oppa." A-hyeon datang meletakan segelas es jeruk di sebelah gelas yang Dal-mi bawa. Si anak bungsu terkejut mendengar saran dari sang ibu."Kenapa? Dia lebih tua darimu." A-hyeon mendaki tangga dan menghilang di balik pintu.
Dal-mi kembali menoleh pada Ji-pyeong yang kini berjongkok. Kenapa tidak dari tadi, pikir Dal-mi.
Ide Ji-pyeong tidak buruk. Pasti sedikit aneh jika terus memanggilnya timjangnim di meja makan. Hal ini menggelitik perutnya. Ada sesuatu yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata.
Tenggorokan Dal-mi terasa kering. Dia berdeham sebelum berkata, "Baik. Han-ah-Ji-pyeong," Dal-mi menunggu reaksi Ji-pyeong tetapi nihil. "Kau tidak apa? Kau tidak suka dipanggil Ji-pyeong? Oh—em—opp—kau kenapa?"
Dal-mi mendekati Ji-pyeong yang tidak bergerak sedari tadi. Laki-laki itu juga tidak merespons ucapannya. Posisi Ji-pyeong masih berjongkok dengan kepala menunduk. Kenapa dia?
"Ja-jangan mendekat!" Suara Ji-pyeong terdengar parau. Dia mengibaskan kuas ke arah Dal-mi.
Dal-mi bisa menebak kenapa Ji-pyeong tidak bergerak dan tidak mau didekati. Dengan sebelah kakinya Dal-mi menyenggol pelan kaki Ji-pyeong.
"AAA! AAA!! Jangan!!"
Dia kesemutan.
Semakin dilarang, semakin tergoda Dal-mi untuk mengerjainya. Dia tertawa penuh kemenangan melihat Ji-pyeong menderita. Dia terus menyenggol-nyenggol kaki Ji-pyeong yang kesemutan sampai akhirnya Ji-pyeong tersungkur ke belakang dan menyenggol kaleng cat.
"HAAA!!" Giliran Dal-mi yang teriak panik. Dia berusaha menyelamatkan kaleng cat yang isinya sudah meluber kemana-mana. Bahkan sebagian badan Ji-pyeong ikut menjadi korban. Celana dan lengannya jadi hijau. Satu kekacauan lagi oleh Seo Dal-mi.
Ji-pyeong meregangkan kakinya terlebih dulu. Tidak peduli dengan cat yang sudah menghiasi kulitnya. Dia terkekeh melihat Dal-mi panik mengusap-usap cat di lengannya.
"AAA!!!" Kali ini giliran A-hyeon yang teriak kaget melihat mahakarya Dal-mi.
Teriakan itu membuat Dal-mi sampai terduduk. "Eomma! Kau mengagetkanku!"
"Halmeoni menyuruhmu mengecat pagar! Bukan mengecat Ji-pyeong!"
Sebuah hukuman yang cukup memberi warna bagi Ji-pyeong.
Sometimes I think about it, no, it’s like this everyday
I guess we've been together for a long time
All the days with you
When I miss you so much
Today, I'm living in your time again
