Actions

Work Header

Playing Heaven

Summary:

Minho berdiri dan berjalan pelan ke tempat tidur. “Meskipun tidak ada kata resmi berpacaran tapi aku akan membuat semuanya percaya kalau kamu milikku” katanya sambil duduk di pinggir kasur. Tangannya menyentuh lutut Newt sekilas. “Kamu mau tau bagaimana?”

Notes:

Warning!!!!

Penyiksaan tersirat tapi atas dasar suka sama suka. Minho hanya sedikit kehilangan kendali.

Ets tapi Newt kita yang centil malah suka😍

(See the end of the work for more notes.)

Work Text:

Di Kamar Asrama

 

Sore itu tenang. Lampu kamar asrama menyala hangat, menggantung rendah di sudut langit-langit. Di bawahnya, Newt duduk menyilangkan kaki di atas ranjang, sebuah buku terbuka di pangkuannya, tapi tidak dibaca.

 

Pintu kamar berbunyi klik, lalu sesosok pemuda Asia muncul. Ia mendengus menatap pemuda itu dari balik rambut pirangnya yang agak berantakan.

 

“Minho berapa kali aku harus bilang ketuk dulu pintu! Bagaimana jika aku sedang bermasturbasi?”

 

“Jika kamu bermasturbasi tanpa mengunci pintu itu sama saja kamu mengundang siapapun orang yang memergokimu tahu”

 

Minho membuka jaket dan menggantungkannya lalu berjalan melewati Newt untuk duduk di kursi putar milik Thomas.

 

“Kurasa kita semua tahu kalau ini kamarku dan Tommy, bukan kamu Min” kata Newt ringan. “Tommy tidak bersamamu?”

 

 

Minho bersandar di kursi, hanya menanggapi dengan tawa malas. “Aku ada disini tapi kamu malah nyebut Tommy-mu terus-terusan”

 

“Oh lihat siapa yang cemburu pada sahabatnya sendiri” Newt menyeringai “Lagipula kita tidak pacaran. Semua orang tau bagian itu juga”

 

 

Minho berdiri dan berjalan pelan ke tempat tidur. “Meskipun tidak ada kata resmi berpacaran tapi aku akan membuat semuanya percaya kalau kamu milikku” katanya sambil duduk di pinggir kasur. Tangannya menyentuh lutut Newt sekilas. “Kamu mau tau bagaimana?”

 

Newt mendongak sedikit, menyeringai. “Menggunakan ini?” katanya pelan, lalu menarik kerah kausnya ke samping, memperlihatkan garis lehernya yang panjang dan putih pucat. Newt menggoda titik kelemahan Minho. Fetishnya Minho.

 

Minho menghela napas—panjang dan lelah, seolah menahan sesuatu yang menekan dadanya. “Ya, sial Newt, dasar nakal” katanya, nadanya berat. “Semua dosaku sepertinya sebagian besar darimu.”

 

“I like sins” bisik Newt.

 

Minho menelan ludah. Tangannya terangkat, menyentuh garis rahang Newt, ibu jarinya menyusuri tulang dagu hingga ke bawah telinga. “May I touch?”

 

“Yes, please”

 

Sentuhan pertama itu lembut. Hanya jari, melingkari leher Newt seolah Minho sedang membaca puisi di kulit. Newt memejamkan mata, kepalanya miring sedikit ke belakang, membiarkan tenggorokannya terbuka. Mengundang. Minho sangat bergairah melihat bagaimana kontrasnya pemandangan di hadapannya. Tangannya yang berwarna tan, besar, berotot, melingkari Leher Newt yang jenjang, putih, dan ramping, serta tahi lalat yang berada di dekat jakunnya membuat Minho ingin menggigit dan menandai di tempat itu.

 

“Aku tidak mengerti,” gumam Minho, jemarinya mengencang sedikit, hanya sekadar menekan, menguji.

 

“mhhh” Si pirang mendesah merasakan sesuatu menekan lehernya.

 

“Lehermu seperti menarik jari-jari tangan ku untuk…”

 

Newt terkikik pelan, suaranya serak. “Meremasnya?”

 

Minho mengangguk pelan, matanya tajam. “Ya, meremasmu. Sampai kamu mengeluarkan suara itu.”

 

“Gunakan saja” bisik Newt. “Dengan baik.”

 

Minho menyelipkan tangan di bawah rambut pirang itu, menggenggam sedikit bagian belakang leher Newt, dan mengarahkan wajah mereka lebih dekat. “Tolong… Jangan menahan suaramu, Newt” bisiknya

 

Dan Newt tertawa kecil—ringan dan penuh dosa, sebelum menjulurkan lidahnya sejenak, menjilat bibir Minho, lalu berbisik, “Min…”

 

Ciuman mereka dimulai lambat, penuh rasa. Tapi ketegangan yang disimpan Minho terlalu lama untuk diredam lama-lama. Ia mendorong Newt perlahan ke ranjang, tubuhnya ikut turun menyusul, menjaga bobotnya, tapi tetap penuh hasrat. Tangan Minho kembali ke leher Newt—kali ini lebih berani.

 

Ia menekan lembut, ibu jarinya menyusuri tenggorokan dan jakun kecil yang bergerak setiap kali Newt menelan ludah. Minho mencium rahang Newt, turun ke sisi leher, menjilat pelan, lalu menggigit ringan, cukup untuk membuat Newt menarik napas cepat.

 

“Jangan… terlalu lembut,” desah Newt, matanya membara. “Aku menyukai bagaimana kamu menahan diri. Tapi jangan bertingkah seolah-olah kamu tidak menginginkan lebih.”

 

Minho berhenti. Wajahnya hanya beberapa senti dari wajah Newt. “Kamu yakin?”

 

Newt menatapnya langsung. “Minho, kamu pikir aku mempercayakan ini pada semua orang dan mengizinkanmu karena aku iseng?”

 

Dan itu cukup.

 

Minho mencium Newt dalam, liar, dan penuh kerinduan. Tangan kirinya menahan rahang Newt agar tetap menghadap ke atas, tangan kanannya menggenggam tenggorokan Newt tepat di bawah rahang, dengan tekanan yang pas. Cukup membuat napas Newt melambat, tapi tidak sakit. Tidak pernah sakit. Hanya… intens. Terkendali.

 

Newt mendesah keras, menggeliat di bawah tubuh Minho. “Anghhhh…”

 

”Suara yang cantik… kamu menyukainya, kan? Ketika aku meremas tenggorokanmu seperti ini?”

 

”jesus chirst, Min, yes… don’t you dare to stop” Newt memerlukan sedikit usaha untuk berbicara.

 

Minho hanya menjawab dengan ciuman. Tangannya merambat turun ke dada Newt, mengangkat kausnya. Kulit bertemu kulit. Leher itu tetap dalam genggaman. Minho menikmati Newt yang bernafas cepat dan berat, sesekali mengeluarkan erangan tercekik. Tapi tidak ada tanda-tanda Newt ingin mengentikannya.

 

 

Kaus Newt sudah ditarik ke atas, menyingkap kulit pucat yang naik-turun pelan seiring napasnya. Minho menatap ke bawah, bibirnya menyusuri dada Newt, sampai ke tulang selangka, lalu kembali ke leher—tempat favoritnya. Tangannya masih di sana. Mencekik-nya lembut. Bertekanan, tapi penuh kontrol. Seolah ia memeluk leher Newt dari dalam.

 

“Minho…” desah Newt. “If you keep going like this I can… I can…”

 

“Can what?” bisik Minho, jempolnya menekan titik sensitif di bawah telinga.

 

“Can…” Newt tersenyum dengan napas terengah, “…ask more”

 

Dan Minho menuruti.

 

Tangan mereka saling menyusup ke dalam celana. Tidak buru-buru. Tidak brutal. Hanya panas dan penuh rasa ingin memiliki. Minho mendorong Newt kembali ke bantal, mencium mulutnya sampai mereka kehabisan napas, sampai tubuh Newt melengkung dan tangannya menggenggam kuat lengan Minho karena tekanan di lehernya meningkat, cukup untuk mengirim listrik ke seluruh tubuhnya.

 

“Astaga, Minho…” suara Newt nyaris hilang. Bukan karena takut. Tapi karena senang. Terlalu senang.

 

 

 

 

 

Klik.

 

Pintu kamar terbuka.

 

“Hey, aku lupa bawa—OH BLOODY SHUCK.”

 

Thomas.

 

Minho menoleh, masih dalam posisi… kompromi. Newt di bawahnya, bajunya setengah terbuka, lehernya dicengkeram , dan bibir mereka berdua basah. Jelas. Sangat jelas.

 

Minho bangun, melepaskan jari-jarinya dari leher Newt membuat dia terbatuk dan menarik nafas dengan rakus. Lalu dia malah tertawa pelan, menyenderkan wajahnya di bantal.

 

“Oh, hey Tommy,” sapa Newt santai.

 

Thomas masih berdiri di depan pintu, satu kantong plastik masih tergantung di tangan. “Kalian… di kamarku?”

 

“Teknisnya ini kamarku juga,” sahut Newt, matanya kembali ke Minho, tangannya membelai lehernya yang terasa sedikit sakit.

 

Thomas menatap Newt. “Kamu tahu aku tinggal di sini juga, kan?”

 

Newt mengangguk. “Tentu saja.”

 

“Fine” Thomas terdiam sebentar, kemudian dia tersenyum “Hei bagaimana jika aku bergabung—”

 

“Thomas,” Minho berdiri pelan, menarik kausnya, lalu berjalan ke arah pintu.

 

Thomas mundur selangkah.

 

“Pergi dulu,” kata Minho ringan. “Kita lagi sibuk.”

 

Thomas membuka mulut, mungkin untuk protes, mungkin untuk bercanda. Tapi Minho melanjutkan, setengah tertawa:

 

“Please. Jangan rusak suasana. Pergi main sama Teresa lagi sana. Kami butuh privasi.”

 

Newt di kasur masih ketawa geli, tangannya melambai ke Thomas.

 

“Bye, Tommy. Jangan lupa kunci pintu dari luar ya.”

 

Thomas menghela napas, sedikit berteriak: “Aku juga tinggal di sini sialan ya kalian! Setidaknya biarkan aku ikut juga!” Tapi dia juga nyengir. Mundur sambil menutup pintu, dan sebelum benar-benar keluar dia sempat melirik Newt satu kali.

 

“Kalau pria besar ini mengkasarimu sampai kamu nangis jangan mengadu padaku ya”

 

Newt menjulurkan lidah. “Oh aku akan bersenang-senang jika kamu disini juga”

 

 

“Sayangnya beruang itu sudah seperti akan menyedotku seperti madu sampai kering”

 

 

Klik. Pintu tertutup lagi.

 

 

“Kenapa kita tidak membiarkan saja Tommy—“

 

“No, Newt.”

 

Newt menunggingkan senyuman melihat ekspresi serius Minho “Pasti menyenangkan Min, kamu tahu Thomas pernah naksir kamu” Newt lebih suka menggodanya daripada meminta maaf.

 

“Terakhir kali yang kita tahu dia pernah berciuman denganmu” Balas Minho menyangkal

 

“Kamu masih mengingatnya ya… Ya, dia sangat pintar berciuman”

 

“Enough. Newt”

 

Newt berdiri melangkah mendekati si rambut hitam.

 

“Aku juga masih mengingatnya lho…” Newt meletakkan kedua tangannya diatas bahu minha dengan lurus. “Cium saja aku sampai aku bisa melupakan itu”

 

Newt benar-benar penggoda. Minho merasakan tekanan emosinya meluap. “Ayo, Minho, aku tau kamu lebih pintar dalam hal ini. Lakukan seperti apa yang tatapanmu ingin lakukan. Telanjangi aku seperti kamu menatapku”

 

Minho menggerakkan kedua tangannya menyusuri Newt. Dari bawah, paha, lalu pingulnya, lalu pinggangnya, punggungnya, turun lagi ke pinggangnya dan menarik si pirang, menempelkan tubuh mereka. Mereka bisa merasakan masing-masing nafas.

 

“Mm hmm… ambil semuanya, Min. Aku milikmu sepenuhnya malam ini”

 

Dalam satu detik Minho melumat bibir Newt. Menciumnya dengan tergesa-gesa seperti dalam 2 menit kedepan dunia akan kiamat. Kepala Newt terdorong mundur karena tekanan dari bibir tapi kedua tangan Minho menahan kepala Newt dan menarik rambutnya.

 

Newt tidak tahu sudah berapa lama mereka berciuman dan dia mulai pusing, ingin melepaskan bibir mereka. Newt menekan bahu Minho, mendorongnya sedikit. Newt mendapatkan udara untuk bernafas tapi itu hanya beberapa detik sebelum Minho melingkarkan kedua jari-jari tangannya di tenggorokan Newt, mencengkram keras, mendorong Newt berbaring di kasur dalam sekejap.

 

Newt terbatuk karena tekanan itu, aliran udara di tenggorokannya sempit dan Newt perlu membuka mulutnya jika ingin mendapatkan udara. Kedua tangan Newt memegang pergelangan tangan Minho.

 

“Milikku ya? Salahkan dirimu karena mengatakan itu padaku, Newt. Karena aku benar-benar akan mengambil semuanya” Suara Minho berat. Jujur saja itu membuat Newt merinding.

 

Pria di atasnya mulai menggoyangkan tubuhnya untuk mecari gesekan. Mencondongkan tubuhnya ke telinga Newt, menggigitnya, bernafas berat di telinga Newt. Kemaluan Minho sudah sangat keras, Newt bisa merasakan tonjolan yang jelas dan keras menekan miliknya.

 

Kepala Newt sudah terasa berat. Dia merasakan aliran darah yang tersendat di kepalanya dan udara yang mulai semakin sulit untuk didapatkan.

 

Pria diatas terus menggesekkan pinggulnya diantara kaki panjang dan ramping pria dibawahnya. Cengkeramannya turut mengikuti ritme. Menariknya sedikit dan mendorong kebawah, mengeluarkan suara dari tenggorokan Newt. Suara-suara itu kecil bernada tinggi, tersedak, sesekali memanggil Minho, sementara Minho masih asyik dengan perasaan yang ditimbulkan dari gesekan, dan menikmati suara Newt tercekik yang paling disukainya.

 

Ludah yang tidak bisa ditelan Newt perlahan-lahan mulai menggenang di dalam tenggorokannya. Itu membuat Newt semakin kesulitan mendapatkan sekecil apapun udara. Kedua tangannya mencengkram kemeja di bahu Minho dan menarik-nariknya.

 

“Min… ahkk” Minho menarik kepalanya untuk menatap laki-laki pirang dibawahnya. Begitu wajah minho berada di depannya, menatapnya, tangan Newt kembali ke jari-jari Minho. Menariknya. Memohon.

 

Mata minho gelap dipenuhi nafsu. Pandangannya hanya tertuju pada pria yang tercekik dan memohon. Wajah Newt sudah memerah. Kulit pucat  itu kini berwarna merah muda. Dahinya berkerut kesakitan, matanya sayu, dan Bibirnya merah montok langsung dilumat Minho.

 

“Cantik… cantik sekali…” bisik Minho sebelum kembali mencium dengan rakus.

 

Kaki Newt kini ikut meronta di pinggang Minho. Menendang kasur dan mencoba menendang Minho untuk membuatnya menjauh.

 

“Min… Hurt…!” Newt berhasil berbicara dengan sedikit tenaganya. Dia tidak berhenti meronta.

 

Untuk pertama kalinya Newt merasa sangat dalam bahaya dibawah seseorang.

 

 

‘Apakah Minho serius akan mengambil semuanya dariku? Hidupku?’

 

Ludah yang menggenang didalam mulutnya tumpah bersama dengan lidah yang terjulur keluar. Newt ingin menangis. Dia tidak berhenti berusaha. Dia menendang dan memukul.

 

 

Dia tidak bisa berbicara. Suaranya tidak mau leluar. Newt tiba-tiba merasa ringan, pandangannya buram, dia akan pingsan.

 

 

Minho tersadar orang dibawahnya sudah tidak punya banyak tenaga tersisa. Matanya mulai memutih. Pukulan-pukulannya melemah. “Sial”

 

Dia melepaskan genggamannya. Menarik tangannya dengan panik. Beruntung Newt belum kehilangan kesadarannya. Dia langsung menghirup udara sebanyak mungkin sambil terbatuk-batuk. Menggulingkan dirinya kesamping, menumpahkan sisa saliva yang tersisa dari dalam mulutnya ke seprai.

 

“Sial sial sial, Newt! Newt maafkan aku Newt!”

 

Ditengah kepanikan Minho, terdengar suara tawa yang lemah. Ternyata itu Newt. Dia sedang tertawa meskipun suaranya belum pulih sepenuhnya. Newt menggulingkan badannya kembali menghadap Minho yang masih diatasnya.

 

“Bajingan Minho, kamu berusaha membunuhku?” Candanya sambil memegang lehernya yang memar. Warna merah keunguan itu terlihat jelas melingkar di lehernya yang putih dan pucat.

 

“Bisa-bisanya ya Newt kamu masih cengengesan?”

 

Jelas minho terlihat sangat kesal. Dia panik setengah mati karena sudah menyakiti Newt dan dia hampir tak sadarkan diri tapi orang yang hampir sekarat itu malah mentertawai dirinya.

 

“Minho sungguh! Itu luar biasa… aku tidak pernah merasa seperti itu”

 

“Seperti kamu yang sekarat dan aku sangat panik?! Kamu pikir itu lucu?” Si rambut hitam sedikit meninggikan suaranya.

 

Newt bangun untuk duduk. Kedua kakinya masih melingkari pinggang minho lalu kedua tangannya memeluk bagian belakang kepalanya sambil tersenyum. “Seperti didominasi sepenuhnya oleh seseorang. Dan menyerahkan seluruh hidupmu pada orang itu”

 

Newt menatap lekat kedua mata dihadapannya. Raut wajah Minho masih sedikit panik karena takut. “Jangan munafik Minho, kamu tahu kamu menyukainya. You see red, right?

 

….Kamu juga sadar kalau kamu sangat keras, sayang”

 

Minho tersadar dengan tonjolan dibalik celananya. Dia melihat kebawah. Bagian dari dirinya meminta untuk dibebaskan.

 

“Ya, dan lihat siapa yang bocor ketika dia sekarat dan meronta bahkan memohon untuk nafasnya”

 

“Benar, Min. Aku sangat, sangat terangsang. Jadi aku harap kamu mau bertanggung jawab soal ini”

 

Mereka menatap, lalu memperpendek jarak bibir diantara mereka dan menyatukannya. Membuat suara-suara basah dan menggoyangkan pinggul mereka satu sama lain.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Pada akhirnya Thomas dengan terpaksa harus menginap di kamar temannya yang lain karena dia tidak bisa mengganggu kedua sahabatnya yang sedang bercinta dikamarnya. Secara teknis kamar dia dan Newt. Thomas mendengar erangan tinggi Newt, dan suara berat Minho begitu dia membuka pintu utama dan mencoba masuk ke ruang tamu. Mereka benar-benar tidak tahu malu. Dinding asrama mereka tidak terlalu kedap suara, suara suara itu pasti didengar teman-temannya yang lain.

Notes:

Aku gak tau yang gak punya fetish ini bisa enjoy bacanya atau enggak😭🙏🏻

Typo dimana-mana maaf ya ini un-beta :(

Komentar apapun dihargai yaa jangan sungkan🩶🩶