Chapter Text
Kim Mingyu tak pernah menyangka sebuah kartu berukuran 9 x 6 sentimeter yang ia letakkan di tengah meja kini menjadi pusat dunianya. Lembar berwarna navy blue itu mencetak nama pemiliknya dengan jelas: Lisa Manoban. Sekretaris Direksi Terrahaus Property.
Barisan angka lain ditulis manual dengan pena, sengaja dicantumkan di bawah nomor telepon profesional. Kata-kata ‘CALL ME’ yang mengikutinya menambah kebingungan dalam benak Mingyu.
Sebagai seorang pria di akhir usia 20-an yang enggan berkomitmen, Mingyu tahu diri ia tak pantas menyandang predikat pria polos. Bercinta dengan wanita dalam satu malam–terkadang berulang–adalah rekreasi yang sesekali ia lakukan di kala kesepian. Bila senggang, ia dapat pergi ke bar, kafe, bahkan arena-arena domestik seperti supermarket atau toko buku. Cukup bertukar pandang dengan perempuan yang membangkitkan birahinya, maka Mingyu bisa pulang ke rumah dengan seorang teman. Bila ia mau.
Namun, ada yang berbeda dengan Lisa Manoban. Mingyu memang berbagi meja dengannya saat makan siang di Alternata. Kehadiran dua pria lain dengan kedudukan yang lebih tinggi darinya adalah alasan utama ia dapat bergabung dalam percakapan mereka. Diskusi yang berlandaskan profesionalitas, tak sedikitpun mengulik ranah pribadi. Sejak ia duduk di kursi hingga meninggalkannya dua jam kemudian, Lisa Manoban tak menunjukkan sedikit pun gestur ketertarikan pada Mingyu.
Ia tidak bodoh. Mingyu tahu mana tatapan mata yang menginginkannya dan tidak. Mana gerak tubuh yang coba merayu, serta nada bicara yang coba membius. Ada kalanya Mingyu dengan mudah menangkap sinyal menggoda itu. Namun, dua jam duduk bersama, ia tahu bahasa tubuh Lisa tak ditujukan padanya. Jika ia tidak tertarik padanya, mengapa Lisa meninggalkan pesan yang makanya terasa samar?
“Oi.” Suara itu memanggil dari arah bilik kerja Mingyu. Seungcheol melongok dari balik dinding pembatas, menenteng tas kerja di bahu. Perhatian Mingyu seketika terpecah dari kartu nama itu. “Ngapain lo? Belum balik?” tanya sahabatnya.
Mingyu menoleh ke langit di luar jendela. Yang tersisa dari balik bingkai hanyalah langit hitam serta lampu jalan yang menyoroti trotoar jalanan. Barisan meja-meja kerja di sekelilingnya, sebagian besar telah kosong. Di sudut ruangan, ada karyawan yang baru bersiap pulang, sedang berbincang dengan teman-temannya. Di ujung lain, Kim Jiho masih sibuk menelepon seseorang dalam ruang kerjanya yang dibatasi oleh dinding-dinding kaca.
“Bentar lagi. Mau ngirim file dulu,” jawab Mingyu singkat. “Seungcheol, gue boleh tanya sesuatu, nggak?”
“Apaan?”
“Lisa … jomblo ya?”
Alis Seungcheol terangkat tinggi, seakan hampir lepas dari wajahnya. Pertanyaan itu membuat kepalanya mencetuskan ide liar, membuat Seungcheol memutar matanya. Ada erangan rendah yang tertahan di tenggorokannya, membuatnya terdengar seperti anak anjing yang menggeram. Ia tahu reputasi Mingyu di kalangan wanita, bahkan sejak zaman kuliah.
“Mingyu…” gumamnya.
“--Gue tahu lu mikir apa, tapi maksud gue bukan gitu,” Mingyu buru-buru memotong. Ia mendesah, merenggut kartu nama Lisa dari meja dan memberikannya pada Seungcheol. Ia menjelaskan buah pikirannya, bagaimana ia memandang tulisan tangan Lisa seperti umpan yang sengaja ditebar untuk menggaetnya. Bukan umpan untuk tidur dengannya, tapi hal lain yang lebih jahat.
Seungcheol memandang kartu nama yang ia pegang dan Mingyu bergantian. Sebagai saksi hidup dari gaya hidup Mingyu yang anti komitmen, sulit bagi Seungcheol untuk menanggapi sahabatnya dengan serius.
“Menurut gue lu overthinking,” ujar Seungcheol, membantah pendapat pria di hadapannya. “Lisa orangnya baik, kok. Mungkin aja dia bersikap cuek sepanjang meeting karena takut ketahuan kalau naksir lu?”
Mingyu mendecakkan lidah. “Lu nggak ngerti, bro–”
“Emang. Dan gue nggak mau tahu,” Seungcheol berkata tegas, menarik tangan Mingyu. Ia meletakkan kartu nama itu di telapak tangannya yang terbuka, lalu melanjutkan, “Menurutku gue, gaya hidup lo yang bebas itu perlahan bikin lu gila. Ketika seorang wanita nggak ngasih perhatian yang lu harapkan, lu berlagak pakai psikologi terbalik buat melawan nafsu lu sendiri. Yah, sekedar untuk meyakinkan diri bahwa lu udah kalah sebelum bertempur.”
“Dia emang naksir orang, tapi bukan gue,” Mingyu ngotot.
“Terus? Dia naksir siapa?”
“Yah,” Mingyu menggosok tengkuknya, merasa tak yakin dengan teorinya sendiri. Tapi bahasa tubuh wanita itu tak dapat berbohong. “Karena lu udah di-friendzoned, berarti kemungkinannya cuma satu, kan?”
Seungcheol diam sejenak, mencerna kata-kata Mingyu. Beberapa detik kemudian, ia mendengus. “Kim Rowoon?” tanya Seungcheol.
Mingyu mengangkat bahu.
“Gini deh. Seandainya teori lu tentang bahasa tubuh, sikap cuek, dia suka bosnya sendiri, bla bla bla itu benar, terus ngapain Lisa ngasih lu kartu namanya?”
“Itu yang lagi gue cari tahu, bro!”
*
Tiga hari telah berlalu sejak Jennie bertengkar dengan Rowoon. Hingga kini, sang kekasih belum juga menghubunginya. Pesan terakhir yang ia tinggalkan hanyalah permintaan maaf yang pendek, bahasa korporat, yang membuat Jennie dongkol.
Meski begitu, Jennie belum dapat melepaskan diri dari memori pertengkaran terakhir mereka. Ditambah lagi, emosinya makin naik turun karena tamu bulanan yang datang. Sejak pagi, perut Jennie terasa kencang. Sambil meletakkan kantung penghangat di perut bagian bawah, ia membaca kembali pesan terakhir dari Rowoon.
Rowoon: Aku minta maaf atas kata-kataku, Jen. Aku lagi stres belakangan ini karena banyak urusan bisnis yang harus aku selesaikan. Bisa kita bicara akhir pekan ini?
Persetan dengan kata maaf dan bisnis lu, Rowoon, umpat Jennie dalam hati. Ia meletakkan ponselnya di lantai dan memejamkan mata. Meski air mata tak lagi mengalir deras untuk Rowoon, Jennie masih dapat merasakan kantung matanya yang tebal. Hari libur yang seharusnya ia gunakan untuk menyibukkan diri di dapur, berakhir dengan rebahan di sofa karena nyeri haid yang tak kunjung mereda.
Padahal hari ini adalah hari yang penting sebelum Jiho dan Yejin, ibunya, menikah bulan depan. Pasangan yang sedang kasmaran itu merencanakan makan malam di rumah Yejin dan Jennie, sekaligus usaha untuk saling mengakrabkan diri. Sayangnya, kram perut hebat yang tiba-tiba datang pagi itu membuat mereka bertiga harus mengubah rencana. Jennie yang menawarkan diri untuk memasak makan malam bahkan tak dapat bangkit dari tempat tidur.
“Ya udah, nanti kita pesan makanan aja dari luar,” ucap Jiho tenang via telepon ketika Yejin menghubunginya pagi itu. Mode loudspeaker memberikan Jennie kesempatan untuk turut mendengarkan pria itu bicara. “Gimana kalau masakan Korea? Aku pesankan samgyetang, ya? Sup buatan restoran langgananku enak, kok. Sehat juga. Biar Jennie cepat pulih.”
Selama beberapa detik, Yejin dan Jennie saling menatap tanpa suara.
“Beneran nggak papa, Jiho, kamu beliin makan malamnya?” tanya Yejin dengan nada khawatir. Ia merasa tak enak karena mengalihkan tanggung jawab pada kekasihnya.
“Iya nggak papa. Mau pesan apa lagi, nih? Ada daging panggang, ayam goreng–”
“Kita ikut aja. Kamu tahu menu mana aja yang enak, kan?” balas Yejin. Ia bangkit dari tepi tempat tidur Jennie dan berjalan keluar kamar puterinya.
Dari tempatnya berbaring, Jennie tak dapat mendengar jelas percakapan mereka. Meski ada rasa tak enak, setidaknya Jennie merasa tertolong karena Jiho bersedia mengambil alih tugasnya malam itu.
Bagi Jennie, memasak bukanlah sebuah beban. Ia menikmati perannya sebagai koki, tak hanya di tempat kerja, tapi juga di rumah. Pekerjaan ibunya yang menyita waktu tak memberikan kesempatan bagi Yejin untuk rutin memasak.
Dapur adalah benteng pertahanan Jennie untuk tetap waras. Ia memasak untuk melanjutkan hidup, sejak kelas 6 SD. Berawal dari memasak telur mata sapi, menanak nasi, membuat nasi kepal sendiri, hingga akhirnya bisa membuat sup rumput laut pertama kalinya untuk sang ibu.
Yejin selalu membekalinya dengan sejumlah uang agar Jennie dapat membeli makanan siap saji di minimarket terdekat. Ia mensyukuri hal itu. Namun, ada rasa bahagia yang berbeda jika Jennie dapat memasak makanannya sendiri. Melihat wajah ibunya–dan siapapun–bahagia karena masakannya adalah pencapaian yang mendorong Jennie untuk terus hidup.
Jennie membuka mata, menatap langit-langit putih ruang tamu. Benaknya melanglang buana pada kehidupan di masa depan yang sedang ia usahakan bersama Rowoon.
Seharusnya, ia merasa bahagia jika dapat menjadi seorang istri yang memasak untuk suaminya. Seharusnya, wajah bahagia sang suami ketika menikmati masakannya adalah hadiah terindah dalam rumah tangga.
Namun, Jennie menginginkan lebih. Ia tak hanya ingin menjadi sekedar seorang istri. Ia belum melihat dunia. Ia bahkan belum mampir ke seluruh toko makanan yang ada di sekitar rumahnya, bahkan di seluruh Korea. Dunia begitu luas. Ia tak ingin mendefinisikan hidupnya hanya sebatas menjadi istri dan koki di dapur.
Jennie takut memasak yang menjadi hidupnya akan berbalik membunuhnya.
TING TONG!
Suara bel pintu depan menyentak Jennie bangun dari lamunan. Ia tak mengharapkan tamu selain Jiho hari ini. Jam di dinding belum menunjukkan pukul 7 malam. Jiho bilang ia akan mengambil pesanannya sendiri ke restoran setelah menjemput Yejin dari tempat kerja.
TING TONG!
“Iya, iya,” gumam Jennie, menjawab udara kosong. Ia mendorong dirinya bangkit dari sofa, menahan rasa sakit dan perlahan bangkit. Jennie menyeret kakinya ke pintu depan, membuka kuncinya.
Udara musim gugur yang dingin menerpa wajahnya, bersama sosok tinggi besar yang berdiri di depan pintu rumahnya.
Seorang pria dengan sweater rajut abu-abu dan celana jins hitam berdiri di hadapannya. Rambut yang beberapa kali Jennie lihat tampil klimis, tampak jatuh natural dengan poni yang menutupi dahi.
Jennie mengenali wajah itu, meski mata si pria tersembunyi di balik kacamata berbingkai hitam. Kim Mingyu menatapnya balik, dengan senyum tipis menghiasi bibir.
