Actions

Work Header

Jennie's Cookbook To Love

Summary:

Jennie, seorang pastry chef yang bermimpi untuk membuka toko kue bersama tunangannya, Rowoon, terjebak dalam tekanan sang nenek: jika di usia 30 tahun belum menikah, maka ia akan kehilangan hak atas harta warisan. Belum lagi kehadiran Mingyu, si paman tiri yang misterius dan penuh pesona, menggoyahkan pandangan Jennie tentang cinta dan komitmen pada pernikahan.
Di tengah persiapan menuju pelaminan, Rowoon justru mulai menjauh dan menyimpan rahasia yang dapat menghancurkan masa depan mereka. Seperti tiramisu yang berlapis, Jennie pun harus memilih: menjalani manis dan pahitnya demi mewujudkan toko impian atau menghadapi lukanya satu demi satu agar mendapat cinta yang sempurna.

Notes:

cerita ini aku buat sebagai ide recycle dari fanfic lama yang dulu pernah aku publish di AO3, tapi udah aku hapus karena idenya nggak matang. Yang kali ini mudah-mudahan bisa selesai sampai tamat, ya! Selamat membaca!

Disclaimer: status para orang tua dalam cerita ini adalah fiktif sebagai kebutuhan cerita tanpa bermaksud menyinggung siapapun. jadi, jika ada perbedaan dengan dunia nyata nggak usah terlalu dipikirin, ya!

Chapter 1: tiramisu.

Summary:

Jennie berhadapan dengan musuh terbesarnya saat sedang bekerja di restoran. Sosok itu tak segan merendahkannya karena berani merencanakan pernikahan dengan Rowoon.

Chapter Text

Bila kamu sedang mencari restoran Italia terbaik di Seoul, para ahli kuliner dan food vlogger tidak akan melewatkan Nero&Bianco yang terletak di tengah distrik Gangnam. Menyandang satu bintang Michelin, Nero&Bianco menjadi tempat perhentian para kaum perlente yang menikmati kemewahan. Dari luar, tampilan gedungnya sederhana, tapi nuansa ruang dalamnya akan membawamu ke sisi romantis ala Milano. Dengan lampu sorot yang redup, taplak meja putih gading dan kursi-kursi kayu berkualitas, tidak cukup rasanya jika sebuah malam spesial bersama kekasih berakhir pada sebotol anggur merah.

Tapi, berbeda dengan kebanyakan pasangan di akhir pekan itu, Kim Jennie justru berhadapan dengan seekor–lebih tepatnya, seorang–serigala berbulu domba. Jennie berusaha membuat tangannya stabil saat membawa sepiring tiramisu buatannya ke meja bulat nomor 8, di mana seorang wanita paruh baya sedang duduk menunggunya.

Ia menyibakkan rambut yang berminyak ke balik telinga, merapikan ujung baju kerja, mengangkat dagu tegak lurus dari lantai. Di balik baju chefnya, dada Jennie tak berhenti berdetak kencang saat langkahnya semakin dekat ke meja itu. Sang pelanggan tampak anggun dengan gaun satin berwarna hijau emerald, rambutnya disasak tinggi, dengan gincu merah yang seronok. Mata di balik kacamata berbentuk tanduk itu menatap Jennie lurus, seakan dapat menembus hingga tulang belakangnya.

Jennie menelan ludah, memutari meja untuk berdiri di sisi kanan sang pelanggan tua. Ia meletakkan piring di meja dengan hati-hati, tanpa meninggalkan bunyi. Sebelum melangkah mundur, Jennie berkata, “Tiramisu. Selamat menikmati.”

Setelah memperkenalkan hidangan pencuci mulut yang menjadi keahliannya, Jennie tinggal di tepi meja tanpa suara. Wanita tua itu mengambil sendok dan mulai mengambil lapisan utuh tiramisu, melahapnya dalam satu suap. Ia mengeluarkan suara ‘hmm’ rendah, lalu mengambil satu sendok lagi. Setelah melahap tiga suap, wanita itu menepuk bibir merahnya dengan serbet. 

“Jennie,” panggilnya, menunjuk kursi kosong di hadapannya. “Duduk sini.”

“Maaf, Tante, saya masih di jam kerja–”

“Duduk.”

Tidak ada yang dapat membantah Hong Suhee jika ia telah menuntut sesuatu. Jennie menarik nafas, lalu mengambil langkah lebar sebelum duduk di kursi. Lampu di atas kepala mereka membuat sosok Hong Suhee, calon mertuanya, tampak lebih karismatik. Di saat yang bersamaan, aura dominannya tidak ragu menyeruak–persis seperti serigala betina yang tak segan melindungi anak-anaknya.

Ia mengeluarkan desahan panjang yang membuat Jennie menegakkan punggung. 

“A, apa tiramisunya tidak enak?” tanya Jennie, memberanikan diri.

“Oh? Ini?” Hong Suhee menunjuk sajian manis di piring. “Enak, kok. Kamu yang buat?”

“Iya, Tante,” jawab Jennie lembut. “Ini juga favoritnya Rowoon. Setiap kali ia mampir, pasti memesan sepiring tiramisu.”

Nama itu membuat Hong Suhee menatap Jennie tajam. Ia menyenggol bingkai kacamatanya dengan ujung jari, disusul dengan suara rendah bernada ketus. “Tentu saja dia suka tiramisu. Pembantu kami biasa membuatkannya di rumah,” ucap Hong Suhee. “Ini memang enak, tapi tidak spesial-spesial amat. Kalau kamu mau membuat saya terkesan, harusnya buatkan main course, dong.”

Jennie mengatupkan bibirnya rapat-rapat. Dasar wanita tua sialan. Lu kan tau gue bagian hidangan penutup di sini, kata Jennie dalam hati. Bibirnya yang semula kaku, perlahan memaksakan senyum, “Sayangnya, main course bukan bagian saya, Tante. Saya udah pernah cerita, kan? Rowoon pasti juga pernah bilang. Tapi, kalau Tante mau saya masakin main course, saya bisa mampir akhir pekan ini untuk masak di rumah–”

“Nggak perlu. Kami udah punya chef handal di rumah,” potong Hong Suhee sambil mengamati kuku-kukunya yang tampak rapi setelah perawatan di salon. “Saya bukannya lupa, cuma bosan aja setiap ke sini yang kamu tawarkan cuma kue manis.”

“Karena di dapur ada hirarkinya, Tante,” jawab Jennie. “Saya nggak bisa semena-mena mengambil posisi tersebut karena ada senior yang mengatur. Di dapur, kerjaan saya ya mengurus hidangan penutup.”

Hong Suhee mendecakkan lidah. “Kalau kamu nggak bisa memegang main course, buat apa. Kamu udah dua tahun lebih, kan, kerja di Nero&Bianco? Harusnya kamu bisa naik jabatan,” sahutnya. 

“Tapi, cara kerjanya nggak gitu, Tante. Posisi pastry chef juga nggak mudah. Tanggung jawab saya juga besar di dapur–”

“Anak saya bisa-bisa diabetes kalau kamu bisanya kasih dia makanan manis terus.”

Jennie menghela nafas panjang. 

“Mungkin di mata Tante jabatan saya di restoran ini terlihat rendah,” balas Jennie tak kalah tajam. Ia menyadari suaranya  mulai gemetar. “Tapi, saya mencintai pekerjaan saya di dapur. Membuat pastry adalah passion saya. Dan Rowoon, anak kesayangan Tante, tahu itu. Pertemuan pertama kami juga berawal dari sepiring tiramisu, yang pembantu Tante bisa buat juga di rumah. Rowoon mencintai saya. Dan dia tahu pekerjaan ini penting bagi saya.”

Hong Suhee menatap Jennie lurus saat ia bicara, tapi pandangannya seakan menembus ke balik kepala. Ia memutar matanya, lalu berpaling pada tas mewah yang terletak di sampingnya. Ia merogoh ke dalam tas dan mengangkat sebuah amplop cokelat yang tampak begitu tebal. Bahkan, isi amplop itu lebih tebal dari pada sajian tagliata di manzo yang menjadi salah satu sajian daging sapi unggulan di restoran itu. 

Perempuan paruh baya itu meletakkan amplop di permukaan meja, menggesernya lebih dekat ke arah Jennie. “Kalau kamu mau menikahi Rowoon, saya nggak mau punya menantu yang bau daging dan sayuran setiap hari,” ucap Hong Suhee. “Kamu cukup tinggal di rumah, melayani Rowoon dan memasak untuknya. Anggap saja main masak-masakan ala chef, berdandan cantik untuknya, tanpa perlu kena cipratan minyak dan bau asap. Kamu juga bisa belanja sepuasnya tanpa merasa kekurangan.

Tapi, kalau kamu tetap mau bekerja setiap hari di dapur itu, tinggalkan anak saya. Kamu mau sekolah di Italia, kan? Anggap saja isi amplop ini sebagai DP dulu. Sepertinya cukup untuk sekali perjalanan. Kalau kamu butuh lebih, tinggal hubungi saya,” Hong Suhee mengucapkan kata-kata itu tanpa beban. “Saya yakin mimpi kecil kamu itu nggak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan apa yang bisa kamu dapatkan dari dapur rumah kami.”

Ujung-ujung jari Jennie yang terasa dingin, meraih amplop dari tengah meja. Ia membukanya, dan mencoba menghitung berapa banyak lembar 50,000 Won yang ada di dalamnya.

Tiga puluh…

Lima puluh…

Seratus…

Tidak.

Setidaknya ada tiga ratus lembar uang 50,000 Won di dalamnya. Seperti dua tumpuk daging sapi panggang yang ditawarkan Nero&Bianco.

Jennie menganga. Ia tidak pernah melihat tumpukan uang setebal itu sebelumnya.

Chapter 2: pocky chocolate.

Summary:

Jennie menceritakan kepada sahabatnya, Jisoo, tentang pertemuannya dengan calon ibu mertuanya, Hong Suhee, yang menyuapnya agar membatalkan pernikahan dengan Rowoon.

Chapter Text

“Terus? Lu ambil amplopnya?” tanya Jisoo sambil membuka bungkus Pocky rasa cokelat yang baru saja ia beli di vending machine. Ia duduk di kursi panjang tepat saat pengatur waktu mesin pengering berbunyi. Sahabatnya, Jennie, berjalan mendekat ke arah mesin sambil membawa kantung laundry kosong yang ia bawa dari apartemen. Ia melemparkannya ke lantai dengan kesal, masih sulit menghapus wajah pongah Hong Suhee semalam.

“Ya nggak lah! Gila kali!” teriak Jennie sambil menggaet baju-baju dari dalam mesin pengering yang telah kering. Setiap baju yang ia lempar ke dalam ember seirama dengan kemarahan yang tak terbendung, apalagi setelah ibu Rowoon, tunangannya, terang-terangan menyuapnya di meja restoran. “Gue! Benci! Banget! Si Serigala Betina itu! Kenapa dia harus jadi calon mertua gue, sih?!”

Jisoo mengangkat bahu, menggigit ujung cemilannya. Matanya terpaku pada kipas di langit-langit yang berputar perlahan dalam ritme pasti. “Tapi,” ucap Jisoo santai, “Lima belas juta Won itu bisa jadi modal awal buat lu buka toko kue, sih.”

“Gue tahu, Jisoo. Pikiran itu terlintas di kepala waktu gue megang amplop tebal itu. Gue juga bisa pakai uang itu buat pergi ke Italia,” balas Jennie. Ia mengangkat tangan ke arah sahabatnya yang sibuk mengunyah, menyisakan jarak antara ibu jari dan telunjuk yang posisinya sejajar. “Tiga senti, Jisoo. Tiga senti! Steak di tempat kerja gue aja nggak setebel itu!”

“Terus? Rowoon udah tahu belum?” tanya Jisoo.

Jennie menggeleng. “Gue nggak tega mau cerita ke dia. Ini bukan pertama kalinya si Serigala Betina itu ngusik gue kayak gini. Dia emang nggak suka sama gue dari hari pertama kami jadian.”

Sambil menata cucian bersih dengan lebih teratur dalam kantung laundry- nya, Jennie tak dapat melupakan rasanya dipermalukan di restoran kemarin malam. Wanita congkak itu menyuapnya dengan sejumlah uang–yang sebenarnya Jennie perlukan–dan meminta Jennie untuk membatalkan pernikahan. Entah kabur ke kota lain, luar negeri, atau berselingkuh dengan orang lain, Hong Suhee tidak peduli caranya. Ia hanya ingin Jennie menghilang.

“Sampai kapan lu mau beradu sama ibunya Rowoon, Jen? Rencana pernikahan kalian sebentar lagi, kan?” tanya Jisoo, berdiri di samping meja yang Jennie gunakan untuk merapikan bajunya.

“Masih setahun lagi, sih. Kami siapin pelan-pelan, sambil berharap Hong Suhee bakal luluh,” jawab Jennie. “Tapi, gue nggak tahu gimana caranya melembutkan hati dia– kalau dia punya hati .”

 

Usaha pertama Jennie dan Rowoon untuk melembutkan hati perempuan paruh baya itu dimulai beberapa bulan lalu. Rowoon tiba-tiba mengundang Jennie untuk makan malam di rumahnya. Meski awalnya enggan, sang kekasih memaksa Jennie untuk mengenakan gaun merk ternama berwarna pink pastel  yang memeluk lekuk tubuhnya dengan anggun.

“Kesan pertama itu penting, Sayang,” ucap Rowoon saat ia menemani Jennie mencoba gaun itu di butik. “Kalau ibuku suka penampilanmu, aku yakin jalan kita bakal mulus.”

“Kita kan mau makan malam, bukan mau meeting ,” protes Jennie, memutar tubuhnya ke kanan dan ke kiri sambil mengamati dirinya dari pantulan cermin. Ia merasa konyol mengenakan gaun secantik itu tanpa riasan wajah. “Kalau gaun, aku juga punya kok yang pantas. Meskipun bukan dari merk mahal, gaun itu aku simpan untuk acara spesial. Seperti untuk ketemu orang tuamu, misalnya.”

“Iya, aku tahu,” balas Rowoon penuh senyum. “Kalau kita cuma ketemu ayahku aja, kita bisa aja ketemu untuk sekedar makan siang atau minum di bar. Tapi, ibuku memang…agak sulit. Paling nggak, sekali aja ketemu dia untuk memberitahu rencana kita. Oke?”

Rowoon mencium puncak kepala Jennie dan beralih pada deretan gaun lain yang terpajang di rak. Sementara itu, Jennie kembali menatap bayangan dirinya. Di balik balutan gaun mewah yang sedang ia kenakan, ia adalah perempuan dari keluarga sederhana yang hanya bisa bermimpi menjalin hubungan dengan pria mapan seperti Rowoon.

Ketika Rowoon melamarnya, Jennie tidak berpikir dua kali untuk mengatakan ‘iya’. Tak dapat dipungkiri bahwa perbedaan strata sosial di antara mereka menjadi buah bibir banyak orang, terutama mereka yang berada di sekitar Rowoon. Bagi sebagian orang, lebih mudah menilai seseorang dari banyaknya harta daripada ambisi seorang perintis. Jennie bisa mengacuhkan cibiran yang mengatakan ia seorang wanita mata duitan, tapi ia punya karir yang tak pantas dipandang sebelah mata.

 

Walaupun Rowoon telah meyakinkannya bahwa semua akan baik-baik saja, Jennie sadar bahwa asumsi itu berkebalikan dari kenyataan. 

Hari di mana ia tiba di rumah Keluarga Kim adalah memori yang sulit dilupakan. Memasuki halaman rumahnya saja sudah membuat Jennie serasa masuk ke dunia yang berbeda. Pagarnya yang kokoh dan setinggi dua meter terbuka otomatis, jalan masuknya selebar jalan raya. Pekarangan yang hijau dan tertata rapi, dirawat oleh tukang kebun profesional, tiga kali lipat lebih luas daripada apartemen yang Jennie tempati bersama ibunya. Ia tidak menyangka bekerja di bidang properti bisa membuat seseorang sekaya ini.

Tak hanya halamannya yang mengesankan, rumah itu begitu besar hingga ujung matanya tak dapat menangkap akhir dari dinding-dindingnya. Bila Rowoon tak menggandeng tangannya, Jennie yakin ia sudah berbalik dan berlari pulang.

Kim Hwigeon, ayah Rowoon, menyambut mereka di ruang tamu. Sekilas memandang saja siapapun setuju bahwa ia adalah duplikat dari Rowoon, dengan paras dan postur yang lebih matang karena dimakan usia. Meski telah berusia kepala enam, Kim Hwigeon masih tampak gagah. Tampak jelas Rowoon mewarisi fisik–apalagi tinggi badan–dari ayahnya. Tuan Kim menyambut Jennie dengan hangat, bahkan menawarkannya beberapa buku bertema kuliner karena mengetahui profesinya sebagai seorang pastry chef.

Yang menjadi masalah adalah si penyihir bernama Hong Suhee, seorang wanita elegan yang rela menghabiskan milyaran untuk memelihara bentuk tubuhnya tetap prima. Rambutnya yang hitam dan bergelombang disasak tinggi, dalam balutan gaun berwarna merah terang yang dapat membuat siapapun memalingkan wajah ke arahnya.

Sesopan dan seramah apapun Jennie mencoba membuka pembicaraan, gayung tak juga bersambut hingga larut malam. Hong Suhee memutuskan secara sepihak bahwa kehadiran pacar anak semata wayangnya tak cukup berharga untuk mendapat perhatiannya malam itu.

 

“Gimana kalau lu kawin lari aja?”

Usulan yang dilontarkan oleh Jisoo membuat dahi Jennie mengerut tajam. Berdua, mereka berjalan kembali ke apartemen Jennie, menyusuri tepi jalan yang perlahan mulai hidup. Para pemilik toko membuka pintu, menata barang jualan mereka di meja lapak. Sementara para ibu menenteng tas belanja. Akhir pekan adalah hari libur bagi Jennie, tapi para ibu rumah tangga tak mengenal tanggal merah di kalender. 

“Maksud gue, lu bilang dulu sama Rowoon tentang kelakuan si Serigala itu. Terus, kalian atur untuk pura-pura putus dan ambil uangnya, dan nikah deh di luar negeri,” lanjut Jisoo, yang tampak bangga dengan usulannya.

“Bagus juga tuh idenya,” jawab Jennie.

“Iya, kan?!”

“--Kalau gue mau jadi target pembunuh bayaran yang disewa sama Hong Suhee.”

Senyum yang sempat merekah di bibir Jisoo seketika menghilang karena kata-kata terakhir Jennie.

“Lagian, Rowoon itu terlalu taat aturan buat setuju sama ide kawin lari. Dia paling anti buat masalah. Yang ada, dia malah marahin gue kalau sampai terima itu uang suap,” tambah Jennie. Pandangannya jatuh pada sekelompok anak SD yang sedang bermain lompat tali bersama, tampak gembira meski kaki mereka tersangkut pada untaian karet gelang. Rasanya hidup begitu mudah ketika belum menginjak usia dewasa. “Gue nggak mau hidup gue jadi opera sabun yang serba drama. Gue udah cukup pusing dengan sikap calon mertua yang model gini. Kalau gue sampai nambah masalah lagi, apalagi sama Rowoon, kayaknya bukan jadi opera sabun lagi. Tapi horor.”

Sambil berjalan, Jennie merasakan ponsel yang ia simpan dalam saku celana bergetar. Nama Bambam tertera pada layar.

“Halo?” sapa Jennie. “Kenapa, Bam?”

“Heh! Lo di mana?” semprot Bambam dari seberang telepon. “Ini gue udah dari tadi nunggu depan rumah  lo! Katanya mau dimasakin, lu malah nggak di rumah!”

“Oh iya, gue lupa si Bambam ke rumah hari ini!” bisik Jennie pada Jisoo, yang turut merasa bersalah karena melupakan teman mereka satu lagi. “Ayo buruan, deh! Kasian dia nunggu di depan. Ibu gue belum pulang soalnya!”

Chapter 3: penne all'arrabbiata.

Summary:

Jennie pulang ke apartemennya dan menemukan Bambam menunggu di depan pintu.

Chapter Text

Saat menapaki tangga menuju lantai tiga, Jennie tidak dapat menahan tawa saat melihat seorang pria jongkok dengan tatapan kosong di depan pintu unit apartemennya. Bambam menguap, lalu menyadari dua pasang mata sedang kegelian melihat gelagatnya.

“Kalau udah nyampe jangan diem aja, dong,” protes Bambam, bangkit berdiri. Jisoo terkekek, gemas melihat si anak ajaib seperti seekor anak anjing yang tak punya teman bermain.

“Sori, sori. Gue abis dari laundry,” ucap Jennie, sambil menenteng keranjang laundry dengan kedua tangan. “Nunggu lama, ya, Bam?”

“Nggak juga sih. Cuma tadi ada ibu-ibu ngeliatin gue sambil bawa sapu. Gue takut digebuk,” balas Bambam, memberikan ruang bagi Jennie untuk membuka kunci pintu. Mesin pengunci berdering setelah Jennie menekan kode yang tepat, lalu mengajak kedua temannya masuk ke dalam.

“Oh. Mungkin itu si ibu tua dari lantai bawah. Kadang dia suka patroli,” Jennie menjelaskan. Ia mempersilakan teman-temannya duduk di sofa, sementara ia berlalu ke kamar untuk meletakkan cucian bersih. Saat kembali dari kamar, Jennie melanjutkan, “Soalnya belakangan ini ada jambret berkeliaran. Kemarin ibu gue hampir kena.”

“Hah? Seriusan?” seru Bambam dengan mata membelalak. Ia meletakkan kantung besar di meja konter dapur, mengeluarkan setiap bahan masakan.  “Tapi Tante nggak papa kan?”

Jennie menyunggingkan senyum. Ia menarik kursi sambil mengamati Bambam yang bersiap untuk memasak makan siang untuk mereka. “Nggak papa,” balasnya. “Kecil-kecil gitu, ibu gue kan ikut latihan bela diri. Buat jaga-jaga. Soalnya perempuan berumur–apalagi sendiri–lebih rentan jadi sasaran, kan.”

“Gue bisa bayangin sih tuh jambret digebuk sama si tante,” canda Jisoo, ikut bergabung di meja. “Sekarang si tante di mana? Lagi ikut kelas bela diri? Kok belum di rumah?”

Jennie menghela nafas dan mengalihkan pandangan ke sekeliling. Rasa gugup menggerogoti tubuhnya, seperti anak ayam yang belum siap untuk keluar dari cangkang. Ini pertama kalinya bagi Jennie bicara jujur tentang situasi sang ibu. “Dia…lagi di rumah pacarnya,” jawab Jennie lembut.

“Hah?!” Jisoo dan Bambam kompak memasang wajah terkejut. Tomat yang dipegang oleh Bambam sampai menggelending ke lantai, lepas dari genggamannya.

Jennie mengangkat bahu. 

“Sori, ya, gue nggak cerita soal ini. Kalian udah pusing dengerin curhatan gue soal Rowoon. Kalau gue cerita nyokap lagi menikmati puber kedua, bisa-bisa kepala kalian meledak,” iaberalasan.

“Wow,” gumam Jisoo, yang segera disikut oleh Bambam. “Maksud gue–itu berita bagus, kan?”

“Kalaupun dibilang bagus…,” gumam Jennie, mengambil tomat yang jatuh di lantai dan membersihkannya di bak cuci. “Di satu sisi, gue berpikir emang udah waktunya nyokap punya teman hidup baru. Bertahun-tahun dia hidup sendirian ngurusin dan sekolahin gue. Kalau gue nikah, pasti bakal ikut ke manapun Rowoon pergi. Sementara nyokap bakal sendirian di rumah ini. Gue ngerasa lebih tenang kalau dia punya teman.”

Jennie memberikan tomat yang telah ia cuci kepada Bambam, yang menatapnya dengan wajah khawatir. “Tapi, di sisi lain, gue ngerasa canggung ngebayangin dia kencan dengan pria yang bukan bokap. Gue sebagai anak mau dia bahagia. Cuma…gimana, ya? Rasanya aneh aja menghadapi kenyataan bahwa dia punya kehidupan yang harus terus berjalan. Gue ngerasa bersalah karena nggak terlibat banyak dalam kebahagiaan pribadi dia.”

“Selain anak, lu kan juga manusia yang menghadapi kehidupan, Jen,” ucap Jisoo, melemparkan senyum hangat kepada sahabatnya. “Kayaknya wajar deh kalau perhatian lu teralihkan sama dunia yang bikin lu sibuk sendiri.”

Jennie membalas dengan senyuman, berterima kasih pada kata-kata penghiburan itu.

Bambam menggoyangkan jari telunjuknya, menolak rasa sungkan yang temannya utarakan. “Kalau lu pikir kita bakal pusing karena cerita hidup Tante, lu salah besar, Jen. Justru gue pribadi malah seneng banget kalau si tante ketemu orang baru! Udah waktunya juga sih. Dia juga masih cantik.”

Jisoo meletakkan tangannya pada lengan Jennie, meremasnya perlahan. “Intinya, gue sama Bambam bahagia karena dapat bahan gibah baru,” candanya sambil tersenyum jahil. Mereka tertawa bersama. “ But seriously, gimana si om? Ganteng? Kaya? Masih muda?--” Jisoo terkesiap, membuat Jennie dan Bambam ikut terkejut. “Jangan-jangan…brondong?!”

“Nggak brondong juga kali! Gila lu!” sanggah Jennie, berusaha menggelitik Jisoo yang dengan gesit menghindar. “Setahu gue dia teman SMA nyokap. Mereka ketemu lagi beberapa bulan lalu, waktu kantor Mama lagi renovasi.”

“Emang kerjanya apa? Kontraktor?” tanya Bambam–yang dengan gesit menepuk tangan Jisoo dari mencomot potongan keju yang akan ia gunakan untuk taburan hidangan pasta. Jisoo manyun karena tertangkap basah.

“Arsitek, kalau nggak salah,” jawab Jennie. Bambam dan Jisoo saling melemparkan pandangan jahil. Kedua sahabatnya kompak merespon dengan ‘uuu~’ panjang.

“Wah, tajir, dong,” goda Bambam.

“Kalau ini sih bukan cuma sekedar teman SMA atau cinta lama, tapi teman lama tapi tajir, ” goda Jisoo, menggoyangkan alisnya naik turun.

Jennie tertawa kecil. “Jujur, gue nggak yakin apa profesinya. Mau dia teman SMA, pacar lama, bahkan duda anak lima... Asalkan bukan suami orang dan brondong, gue oke-oke aja.”

 

Di antara pembicaraan mereka tentang pacar baru ibu Jennie, caci maki tentang si Serigala Betina, trio sahabat menikmati momen memasak di dapur sebagai bentuk pemenuhan janji Bambam. 

Aroma cincangan bawah putih yang digoreng dalam minyak zaitun menyeruak ke seluruh ujung dinding dapur. Bubuk cabai yang membuat pedas mata, berpadu dengan manisnya potongan tomat segar yang Jennie potong untuk Bambam. 

Di sisi lain kompor, Jisoo bertugas untuk memasak pasta penne dalam air mendidih dengan sebuah panci besar. Dengan lihai, Bambam mengaduk pasta yang telah matang ke dalam saus tomat pedas, membuat lidah Jisoo dan Jennie menari-nari. Mereka tidak sabar untuk mencicipi hidangan penne all'arrabbiata sebagai kompensasi karena Jennie  bersedia menggantikan posisi Bambam sebagai chef pada acara korporat mendatang.

“Kasarnya, sepiring penne masakan Bambam setara dengan amplop tiga senti ibunya Rowoon, dong?” goda Jisoo. Jennie menggelitik pinggang temannya gemas.

“Bisa dibilang gitu,” Bambam setuju, yang membuat Jennie menganga tidak percaya. “Bercanda, Jen. Tapi, makasih ya udah bersedia gantiin posisi gue buat ngisi posisi chef di event perusahaan itu. Siapa yang ngira kalau tanggalnya diganti tepat saat gue cuti liburan.”

Tidak hanya menerima pengunjung di restoran, sebagai salah satu restoran Italia populer di Gangnam, Nero&Bianco sesekali menerima pekerjaan untuk menjadi katering acara penting perusahaan besar. 

Bayaran yang fantastis untuk acara yang berlangsung selama beberapa jam adalah peluang bagi pemilik restoran untuk memperluas jaringan bisnis. Sayangnya, Bambam yang juga rekan kerja Jennie di restoran yang sama, tak bisa mengisi posisinya hari itu. Meski keahlian Jennie ada pada hidangan penutup, kali ini ia harus menggantikan Bambam untuk mengerjakan saus sepanjang hari. Tanggung jawab yang berat karena ia tak terbiasa membuat saus dalam porsi besar, membuat Jennie khawatir ia akan merusak rasa seluruh hidangan utama.

“Tenang aja, lu pasti bisa. Kan lu udah biasa presisi dengan takaran pastry, jadi tinggal mengalikan aja porsi satu piring berkali-kali lipat,” ujar Bambam menenangkan Jennie, sambil menggoyangkan wajan untuk mengaduk saus dengan penne hingga rata.

Dalam sekejap, ia telah mengisi tiga buah piring dengan hidangan pasta yang tampak lezat. Tak hanya aromanya yang menggoda lidah, pasta yang menggunung di piring tampak begitu cantik dengan rasio saus yang pas. Ditambah lagi taburan keju di atasnya yang semakin melengkapi makan siang mereka hari itu. “Kamu cuma perlu rileks, bermain dengan insting sedikit. Hari Senin besok aku ajarin kamu pas jam makan siang. Oke?”

Jennie mengangguk sambil menggenggam piring di tangannya. Ia begitu bersemangat untuk segera mencicipi masakan buatan Bambam, ketika pintu depan berdering. Ibunya akhirnya pulang.

“Wah, aroma apa nih? Sedap banget!” seru Ibu Jennie dari balik dinding. Ketika ia muncul, wajahnya begitu berseri dengan senyum mengembang. Jennie, Jisoo dan Bambam saling menatap, menahan diri untuk tak menggoda wanita paruh baya itu. “Bambam jadi masak hari ini? Tante dapat porsi juga, nggak?”

“Dapet, dong, Tan! Ini baru mau aku masakin, supaya bisa dimakan hangat-hangat,” Bambam bersemangat, bersiap untuk membuat saus berikutnya.

“Asyik~ Bentar, ya, Tante ganti baju dulu!”

Ibu Jennie berlalu sambil bersenandung, menghilang ke dalam kamar.

“Seru banget, ya, liat orang jatuh cinta. Wajahnya Tante sumringah banget,” bisik Jisoo. Jennie, yang duduk di sampingnya, hanya tersenyum kecil.

Chapter 4: cold milk and iced tea.

Summary:

Melihat ibunya tertawa lepas dengan Bambam, Jennie menyadari bahwa ia sedang menjalani kehidupan yang menyenangkan karena telah memiliki kekasih baru.

Notes:

(See the end of the chapter for notes.)

Chapter Text

“Lu tahu nggak sih arrabbiata artinya ‘marah’?” Bambam membeberkan fakta di tengah meja, sambil melahap penne yang memenuhi piringnya.

“Masa sih, Bam? Gue kira arrabbiata artinya mewek,” balas Jisoo, melirik ke arah Jennie masih menghapus ingus yang terus mengalir dari lubang hidung. Wajahnya yang bulat tampak merah merona seperti tomat, dengan gumpalan tisu yang menumpuk di bawah meja. Ibu Jennie tampak khawatir, memberikan lembaran tisu setiap kali puterinya kelabakan dengan sensasi pedas yang melapisi mulutnya. “Ada yang kepedesan tuh.”

Bambam merapatkan diri, menelan kembali tawa yang hampir melompat keluar dari kerongkongannya. Bersama Jisoo, ia terus menggoda Jennie yang lemah dengan makanan pedas. 

“Perasaan tadi ada yang semangat banget mau makan masakan gue. Saking enaknya, lu sampai terharu, Jen?” tanya Bambam, yang mendapat lemparan tisu bekas tepat di wajah. Jisoo terkekek dan mengisi penuh sendoknya dengan suapan terakhir.

“Orang bilang sih makan pedas itu baik untuk melepas stres,” tambah Jisoo.

“Masalahnya tuh… ini pedas… terus pakai minyak,” balas Jennie sambil mendesah pelan. Ia mengipas-ngipaskan tangan di depan wajahnya yang terasa panas. “Jadi, minyaknya ngelapisin mulut, Bam.”

“Minyaknya juga dikit kali. Kalau nggak pakai minyak, bawangnya nggak mateng dan aroma cabainya nggak keluar,” ucap Bambam membela diri. “Sebagai chef masakan Italia, lu harus belajar menikmati semuanya, Jen. Lu juga bakal masak ini pas katering nanti.”

“Bener juga!” sambung Jisoo. “Kalau lu nggak makan ini, gimana lu bisa ngatur level pedesnya pas katering nanti!”

“Nah!” Bambam berseru, mengacungkan sendoknya ke arah Jennie yang memasang wajah kusut. “Itung aja sebagai latihan.”

Ibu Jennie bangkit dari duduknya, menghilang ke dapur untuk sejenak mengambil sekotak susu dingin. Langkahnya berderap, buru-buru menyodorkan minuman itu kepada puterinya. Jennie menancapkan sedotan, menyeruput susu dalam-dalam. Cairan dingin itu meredakan rasa panas di dalam mulutnya untuk sementara.

“Gue nggak tahu bakal sepedas ini,” Jennie beralasan dengan suara sengau. Ujung hidungnya mulai merah.

“Atau karena lu lagi stres kali, Jen. Makanya jadi sensitif sama segala macem,” ucap Jisoo, meraih ke dalam piring Jennie dan mengambil sesendok penuh pasta yang masih tersisa.

“Emang kamu stres kenapa, Nak?” tanya Ibu Jennie. “Kerjaan lagi berat banget minggu ini?”

“Bukan cuma kerjaan, Tante,” jawab Bambam. “Tapi gara-gara juga calon mer–aduh!” Jisoo menendang tulang kering Bambam dari bawah kursi, memberikan kode dengan mata agar temannya itu menutup mulut. “M, maksudnya kerjaan katering korporat itu loh, Tan. Saya kan nggak bisa karena mau cuti. Jadi, Jennie lagi pusing karena perlu saya training untuk persiapan acaranya.”

“Oh, yang itu,” ibu Jennie mengangguk-angguk. “Yang kantornya Jiho, bukan sih?”

Jennie hampir tersedak oleh minumannya sendiri. Ia menepuk-nepuk dadanya, sementara Jisoo dan Bambam memasang wajah bingung.

“Jiho siapa, Tante?” tanya Jisoo.

“Oh… itu…”

Kedua sahabat Jennie tidak pernah melihat tante kesayangan mereka tersenyum malu-malu. Warna merah jambu perlahan merekah di pipinya, membuat Jisoo dan Bambam dapat menangkap jawaban yang masih menggantung di udara. Cara Jennie mengalihkan pandangan ke seluruh ruangan kecuali pada mereka yang hadir di meja mempertegas semuanya.

Jennie menyerah. Ia mendesau dan akhirnya berkata, “Iya, iya. Itu nama pacarnya Mama.”

Jisoo tampak terkesima, lalu berkata, “Berarti, kerjaan katering yang akan kalian pegang itu di kantornya Om–eh–Pak–eh–”

“Panggil Jiho aja nggak papa,” sela ibunya Jennie, membuat Jisoo memasang senyum canggung.

“Wow,” Bambam menggeleng, “baru ini gue ngerasa dunia sempit banget.”

“Saya yang rekomendasiin restoran tempat kalian kerja ke dia,” ibu Jennie menjelaskan. “Untuk ngerayain hari jadi kelima belas kantornya, Jiho mau ngadain party kecil-kecilan untuk karyawannya. Dia tanya apa saya tahu restoran yang terima katering, dan untungnya Nero&Bianco ada slot untuk terima order hari itu. Maaf, ya, nggak cerita ke kalian.”

“Nggak masalah, kok, Tante,” Jisoo turut menambahkan. “Kita cuma kaget aja ternyata kantor itu kenalan kalian. Apalagi, teman dekatnya Tante.”

“Aku ambilin es teh, ya. Ada yang mau?” Jennie mengalihkan topik sebelum suasana menjadi canggung. Ia bangkit dari duduknya, berjalan menuju ke dapur untuk mengambil empat buah gelas dari lemari kabinet atas. Ia sedang mencari botol berisi es teh yang biasanya disimpan di pintu kulkas ketika suara Jisoo terdengar di balik punggungnya.

“Kebiasaan nih, kalau suasana awkward lu suka kabur,’ bisik Jisoo, menyikut pinggang Jennie. “Kalau lu tiba-tiba pergi, malah tambah canggung, tahu?”

Jennie melihat ke balik punggungnya, memandang ibunya yang sedang tertawa lepas dengan Bambam. Entah apa yang mereka bicarakan di antara piring yang telah kosong, tapi Jennie menyadari bahwa ibunya begitu nyaman membicarakan pria itu.

Pria yang wujudnya belum ia kenal, kecuali sedikit cerita tentang kebaikan hati dan pekerjaannya sebagai seorang arsitek. 

Sambil meletakkan gelas-gelas dan botol berisi es teh dingin di nampan, Jennie berucap, “Gue cuma belum biasa aja ngomongin soal pacar ke nyokap, apalagi berbagi soal bagian kehidupan itu ke kalian. Gue tahu kalian terbuka soal apapun. Kita udah berteman lama juga. Dan…mulut gue masih panas karena pasta marah itu!”

Jisoo tertawa, lalu melingkarkan lengannya di leher Jennie. “ We always got your back. Okay, girlie? Tapi, gue boleh jujur nggak nih?”

“Soal apa tuh?”

Jisoo tersenyum lebar, berbisik pelan ke telinga Jennie, “Gue udah lama nggak liat nyokap lu sebahagia ini. Jadi, gue rasa si Jiho ini orang yang baik.”

Jennie mencoba menelan komentar itu dengan pikiran terbuka. Sambil membawa nampan ke meja makan, pikirannya tak berhenti mengulang kata-kata yang Jisoo ucapkan. Sebagai anak dari orang tua tunggal, Jennie telah melewati hari-hari sendirian tanpa ada ayah dan ibu yang menyambutnya setiap pulang sekolah. Ia harus bertahan dengan sisa-sisa makanan kemarin jika ibunya tak sempat berbelanja, apalagi memasak. Ketika ia tidur, dering pintu baru terdengar menjelang tengah malam. Dari celah pintu, tak hanya satu atau dua kali ia melihat ibunya tertidur di sofa masih mengenakan setelan kerja.

Mungkin Jisoo benar, wajah bahagia ibunya mengartikan sesuatu. Belum lagi Bambam yang telah menganggap ibu Jennie seperti orangtua sendiri, karena ia hidup jauh dari tanah kelahirannya, Thailand.

Bila teman-temannya saja dapat menangkap pancaran kebahagiaan di wajah ibunya yang lelah, mungkin Jennie harus memberikan kesempatan kepada keluarga kecil mereka untuk menikmati hidup.

Notes:

kalau ada yang nungguin Mingyunya muncul, sabar ya! Mungkin 1-2 chapter lagi baru nongol.

Chapter 5: pie and cheesecake.

Summary:

Setelah kepulangan Bambam dan Jisoo, Jennie duduk kembali di meja untuk merancang menu hidangan penutup baru restoran. Sambil membantu mengeringkan rambut puterinya yang masih basah setelah mandi, ibu Jennie membagikan kabar mengejutkan: Kim Jiho melamarnya.

Chapter Text

Rumah keluarga Jennie kembali sepi setelah Bambam dan Jisoo berpamitan pulang. Ia berharap mereka dapat tinggal lebih lama, tapi Senin adalah waktu bagi mereka untuk bertempur kembali di dapur. Di saat Bambam dan Jennie harus mempersiapkan bahan-bahan masakan sejak pagi, Jisoo sebagai cameriera atau pramusaji di Nero&Bianco harus memastikan area restoran telah bersih tanpa cacat.

Setelah proyek katering di Arkate–nama firma milik Jiho–selesai dijalankan, Jennie harus mempersiapkan ide untuk menu baru bagi restoran. Setiap pergantian musim adalah waktunya bagi para koki, baik yang senior maupun junior, untuk berkompetisi mempertahankan nama mereka di dapur. Setelah gagal beberapa kali, Jennie ingin hidangan penutup buatannya masuk dalam daftar menu.

“Jennie, keringin dulu rambutnya, Nak. Nanti kamu masuk angin loh kalau tidur dengan rambut basah,” tegur ibu Jennie yang melihat puterinya sedang sibuk menulis di meja makan.

“Iya, Ma, bentar,” balas Jennie pendek, tanpa mengangkat kepalanya dari kertas yang sedang ia corat-coret.

Penasaran, ibu Jennie pun mendekat untuk mengintip apa yang sedang puterinya kerjakan. Ia mengambil handuk yang tersampir di bahu Jennie, dan menggunakannya untuk mengusap rambut panjangnya yang masih basah. 

“Kamu lagi ngapain, Sayang?” tanyanya, mengintip dari balik bahu Jennie.

“Lagi mau nyusun ide baru untuk dessert, Ma. Akhir bulan ini udah waktunya masukin menu baru musim gugur,” jawab Jennie. “Tadi tiba-tiba kepikiran ide bagus pas mandi.”

Tak hanya mencatat bahan-bahan yang sekiranya cocok dan mudah didapatkan saat musim gugur, ia juga menuliskan daftar kata kunci yang berkaitan dengan musim itu. Musim yang dikenal sebagai musim penambah berat badan, karena kecenderungannya untuk membuat nafsu makan setiap orang bertambah. Entah kenapa hal itu bisa terjadi, tapi Jennie percaya hal yang sama.

“Udah waktunya bikin ide baru lagi? Semangat, ya,” dukung ibu Jennie, sambil mengusap ujung rambut Jennie yang masih basah. “Mama keringin rambut kamu pakai hairdryer , ya?” 

Jennie mengangguk tanpa kata. Sambil menunggu ibunya kembali, ia membuat sketsa dari bentuk-bentuk sederhana sebagai ide dasar dari wujud hidangan penutupnya. Pai buah-buahan yang disajikan hangat mungkin bisa menjadi favorit para pengunjung, dengan aroma kayu manis atau jahe. Cheesecake, labu, apel, warna oranye, kuning, cookies, mousse… Jennie belum dapat memutuskan.

DING!

Ponsel yang ia letakkan di meja berdenting. Ada sebuah pesan masuk dari Rowoon. 

Akhirnya, ucap Jennie dalam hati ketika melihat nama kekasihnya di layar. Ia mengetuk layar ponsel untuk membaca pesan lebih lengkap. 

 

Rowoon: aku udah denger semuanya dari mamaku. Bener kamu terima amplop dari dia?

 

Jennie mengetik cepat. ‘Nggak. Aku kembalikan amplop itu dan nggak aku ambil sepeser pun.’

 

Rowoon: tapi mamaku bilang kamu sempat pegang dan hitung.

Rowoon: aku kecewa sama kamu.

 

Ingin rasanya Jennie melempar ponsel itu ke seberang ruangan, tapi ia ingat barang itu belum lunas ia bayar. Sambil menggertakkan gigi, Jennie membalas. ‘Ya ampun Sayang. Kamu yakin mau bertengkar tentang hal ini? Hanya karena aku pegang, bukan berarti aku ambil uangnya kan? Berbeda dengan kamu, aku nggak pernah lihat uang sebanyak itu. Apa reaksiku juga salah di mata kamu?’

Jennie meletakkan kembali gawai itu di meja dengan kesal. Kepalanya seketika berat. Entah kenapa Rowoon belakangan ini begitu sensitif tentang masalah uang. Setelah makan malam di rumahnya dan mengumumkan rencana pernikahan di depan orang tua Rowoon, rasanya romansa di antara mereka kian meredup. Ditambah lagi si calon mertua yang semakin beringas menentang hubungan mereka.

Apakah salah jika Jennie menunjukkan sedikit saja reaksi ketika melihat setumpuk uang tunai yang lebih tebal dari daging steak?

Apakah salah jika ia menyimpan pakaian, perhiasan, hingga tas bermerk yang dihadiahkan Rowoon? 

Jennie mengangkat kakinya dari lantai dan memeluknya erat. Terkadang ia merasa sendirian di hubungan ini, apalagi Rowoon selalu berpihak pada ibunya. Meski apa yang ia lakukan untuk membela hubungan mereka, tapi perlakuannya seringkali meninggalkan rasa perih dalam dada Jennie.

“Tadi lagi semangat nulis sekarang kok cemberut?” suara ibunya mengejutkan Jennie. Lengannya yang ramping memeluk leher putrinya, dengan dagu yang ia sandarkan pada kepala Jennie. “Belum dapet juga idenya?”

Ia meremas lengan ibunya penuh sayang. Malam ini bukan waktu yang tepat untuk membuat ibunya khawatir, apalagi ketika ia sedang menemukan kebahagiaan baru. 

“Iya nih, Ma. Kira-kira menurut Mama lebih mending pai atau cheesecake ?” tanya Jennie.

“Pai sama cheesecake bukannya sama aja?”

Jennie terkikik geli. “Nggak, dong, Ma. Kalau pai kan pake crust di atas dan di bawah,” jawabnya.

Cheesecake kan pakai crust juga, cuma crumbly aja,” sanggah ibunya. “Masa dia nggak termasuk pai?”

Jennie terdiam sesaat. “...Iya juga, ya? Eits, nggak bisa. Sebagai koki profesional, menurutku pai dan cheesecake itu beda!”

Ibunya tertawa kecil, lalu mulai menyisir rambut Jennie yang masih setengah kering. Ia mencolok hairdryer, menekan tombol dan mulai mengeringkan helaian panjang itu dengan udara hangat. “Coba tanya Bambam, deh. Dia kan bisa jawab segalanya,” goda ibu Jennie. “Itu anak kan tau segalanya.”

“Oke, besok aku tanya dia. Kalau Bambam bilang bukan pai, Mama beliin aku ayam goreng ya buat makan malam.”

“Loh, kok ada taruhannya sih?”

“Iya, dong, biar seru.”

Keduanya tergelak. Perbincangan konyol itu berlalu, berganti menjadi keheningan yang menenangkan. Sambil membiarkan ibunya mengeringkan rambut dengan hairdryer, Jennie kembali coba fokus pada kertas di hadapannya. 

Di saat halaman di hadapannya sudah mulai penuh, ibu Jennie memanggil namanya. “Jennie?”

“Iya, Ma?”

“Jiho ngelamar Mama kemarin malam.”

Seketika, hening di antara mereka serasa berubah menjadi kekosongan di ruang hampa udara. Suara mesin hairdryer yang halus menjadi satu-satunya pengisi sepi di antara mereka, yang perlahan menghilang ketika ibu Jennie telah menyelesaikan tugasnya. 

Ia menarik kursi dan duduk di samping Jennie. Bibirnya membuka dan menutup tanpa suara, seakan tak dapat menemukan kata yang tepat untuk melanjutkan kalimat yang baru saja ia ucapkan.

Jennie mengamati gelagat sang ibu dalam diam. Ia mengulurkan tangan dan menggenggam jemari ibunya. Tangan yang kecil dan ramping, yang telah memberikan sejuta pelukan dan dukungan pada mimpinya sebagai seorang chef. Tangan yang bekerja keras dalam kesendirian, mulai berkeriput dan kering. Kini, ada seorang pria yang tak segan meraih ruas-ruas jari itu dan memberinya cinta.

“Terus Mama jawab apa?” tanya Jennie lembut.

“Mama bilang sih tanya kamu dulu.”

“Kenapa keputusannya ada di aku?”

Wanita paruh baya di hadapannya tampak gelisah. Pipinya merona. “Mama cuma nggak mau keliatan egois aja kalau menjawab tanpa minta pendapat kamu,” jawabnya.

“Mama.” Jennie memutar tubuh, sepenuhnya menghadap ibunya. Ia menggenggam kedua tangan itu erat, tak ingin perempuan kuat ini menyalahartikan kata-katanya. “Kalau Kim Jiho bikin Mama bahagia, menurutku Mama udah tahu harus jawab apa. Jisoo dan Bambam aja udah jadi saksinya. Mereka lihat Mama bahagia banget hari ini. Penuh senyum. 

Jadi, kalau Mama mau memulai hidup bareng Jiho, aku pasti dukung seratus persen. Kalaupun terjadi apa-apa, aku pasti yang maju duluan untuk Mama. Oke?”

Ibunya mengangguk, membuka kedua tangannya lebar-lebar untuk menyambut putrinya dalam pelukan. Jennie tak segan untuk merangkul perempuan itu erat-erat. 

 

*

 

Di tengah malam, ketika lampu kamar telah gelap bersama dunia yang perlahan terlelap, ponsel Jennie berdenting beberapa kali.

Beberapa pesan baru masuk.

 

Rowoon: aku nggak bermaksud menuduh kamu Sayang. Kamu tahu mama gimana. Sedikit reaksi saja dia akan semakin keras sama kamu. Dia cuma ngetes, jadi apapun yang coba ia lakukan ke kamu, cuekin aja. 

Rowoon: Aku udah tegur dia dan bilang untuk nggak ganggu kamu lagi di tempat kerja. 

Rowoon: aku mau rencana pernikahan kita berjalan mulus, dan maaf aku nggak punya banyak waktu buat kamu belakangan ini.

Rowoon: tapi percaya, buat aku kamu nomor satu.

Chapter 6: Chef Bambam.

Summary:

Jennie galau dengan pesan singkat Rowoon yang terdengar aneh. Namun, di saat yang bersamaan, Chef Bambam dengan tegas mempersiapkan Jennie untuk mengisi posisi Sauce Chef di katering acara hari jadi Arkate mendatang.

Chapter Text

“Kalau dia bilang lu nomor satu, berarti ada nomor dua, sih,” ucap Bambam ketika Jennie menunjukkan pesan terakhir yang ditinggalkan Rowoon semalam.

“Kok lu ngomong gitu, sih?!”

“Kalau dia bener sayang sama lu, harusnya dia bilang ‘kamu cuma satu-satunya buat aku’,” tukas Bambam sembari bersenandung jahil. Jennie mengayunkan tinju ke udara, tapi sahabatnya malah cekikian. “ By the way, gue baru nyampe ini. Boleh gue ganti baju kerja dulu, nggak?”

Ketika sebagian besar manusia masih terlelap, menggeliat di tempat tidur, bahkan sarapan belum tersaji di meja, para karyawan Nero&Bianco telah sibuk menghidupkan dapur. Jennie, Jisoo dan Bambam pun tak ketinggalan. Di antara bahan mentah yang baru tiba dikirimkan oleh para pedagang lewat pintu belakang, tiga sekawan akrab itu berkutat di meja pantry sambil menelaah pesan singkat yang dikirimkan Rowoon semalam.

“Menurut gue Bambam ada benernya sih, Jen,” sambung Jisoo yang sibuk menggeser layar ponsel Jennie di tangannya. Sementara itu, Bambam menghilang sejenak ke ruang loker untuk mengganti bajunya dengan seragam koki. Sambil menunggu pria itu kembali, Jisoo membeberkan analisanya. “Ibaratnya kompetisi, pasti ada peringkat satu, dua, tiga, dan seterusnya, kan? Kalau pun jadi juaranya di mata dia, berarti ada orang lain yang ia hitung masuk dalam ‘kompetisi’ ini,” ucap Jisoo sambil membuat tanda kutip dengan jarinya. 

Jennie mengerutkan kening. “Hong Suhee?”

Jisoo memutar matanya, berpikir keras. “Mungkin,” balasnya. “Bisa jadi.”

“Atau cewek lain yang berusaha dapetin perhatian Rowoon,” sambung Bambam yang telah kembali bergabung dengan dua sahabatnya. Sambil mengancingkan seragamnya, ia menambahkan, “Cewek mana yang nggak mau sama dia. Ganteng, tinggi, anak orang kaya, smart, si borjuis dengan kekayaan milyaran dari usaha properti .

Jisoo mengangguk pelan, sependapat dengan Bambam. “Kalau gue single dan tahu dia single, pasti gue juga kejar Rowoon, Jen,” tambah Jisoo. “Tapi karena gue temen lo dan tahu kalian pacaran, moral gue pasti nyuruh gue mundur. Tapi banyak cewek nggak bermoral di luar sana yang akan melakukan segala cara untuk mendapatkan dia.”

“Gue yang cowok aja minder kalo deket dia,” sahut Bambam.

Jennie merenungkan kata-kata kedua sahabatnya. Sekuat apapun ia berusaha memungkiri kemungkinan itu, ia tahu Rowoon memiliki pesona yang tak terbantahkan. Semenjak pertemuan pertama mereka di masa kuliah, Rowoon tak pernah berhenti  menjadi pusat perhatian para wanita. Tak sedikit dari mereka yang berambisi mengejar Rowoon. Pria yang selalu tampak tenang di permukaan, dengan segudang prestasi di kampus membayangi. Tak perlu bersusah payah mencari, hanya dengan menunjuk pun setiap wanita akan setia padanya.

Sialnya bagi para wanita itu, Rowoon memilih Jennie. Berawal dari sepotong tiramisu yang ia bagikan saat berkumpul dengan para panitia acara tahunan kampus, Rowoon yang menutup emosinya dari dunia tersenyum seperti seorang anak kecil. Wajah manis yang dalam sekejap memeluk hati Jennie, membuatnya yakin bahwa apa yang tampak di luar tak selalu selaras dengan apa yang di dalam hati. Bila Rowoon tak membuka topengnya hari itu, mungkin ia tak akan pernah jatuh cinta padanya.

Tepukan di punggungnya menyadarkan Jennie dari lamunan. Jisoo melemparkan senyum, seraya berkata dengan penuh keyakinan, “Udah, nggak usah terlalu lu pikirin. Nanti kalau udah senggang, lu sempetin ngobrol sama dia, ya. Gimana pun juga, Rowoon bakal jadi suami lu.”

Bambam mengangguk. “Sekarang waktunya lu fokus di training, karena lu cuma punya tiga hari buat ngebiasain bikin saus. Oke?”

Jennie tersenyum. Sahabat-sahabatnya benar. Ia harus fokus pada pekerjaan saat ini, karena Jennie tak ingin mengacaukan tanggung jawabnya dalam acara katering di hari Kamis mendatang. Bambam pun tidak  main-main dalam membimbing Jennie. Saus adalah salah satu bahan utama yang menjadi ciri khas masakan Italia. Tidak hanya yang berbahan dasar tomat, namun minyak dan krim yang kelihatannya mudah tak boleh dianggap remeh. Apalagi Jennie akan memasak untuk 200 orang, bahkan lebih.

Arkate, sebuah firma arsitektur yang didirikan oleh Kim Jiho memiliki reputasi yang baik di kalangan para pebisnis dan pemerhati properti. Rancangan mereka tak hanya indah, namun menjadi wujud dari budaya Korea Selatan yang berpadu dengan unsur modern. Klien yang menggunakan jasa mereeka pun tidak main-main. Mulai dari pemerintah, para kaum elit di dunia bisnis, hingga pengusaha luar negeri. Meski usianya baru menginjak 15 tahun, Arkate telah memijakkan kakinya dengan gagah di dunia desain.

Karena itu, sebagai perpanjangan tangan menjaga citra Arkate, para koki yang akan bertugas di hari katering memastikan mereka tidak akan membuat para pegawai kelaparan. Menyadari peran besarnya dalam melengkapi masakan Italia dengan saus, Bambam memastikan cita rasa makanan Nero&Bianco tidak berubah meski berada di tangan yang berbeda. 

Meski Jennie ditunjuk sebagai penggantinya, Bambam berkomitmen untuk melatihnya dengan keras. “Saus adalah bahan yang penting dalam masakan Italia,” ucap Bambam tegas. “Tanpa saus, restoran cuma akan menyajikan pasta yang hambar. Karena itu, lu harus serius dalam membuatnya. Apalagi nanti lu memasak dalam porsi besar, jadi rasa makanannya harus konsisten seperti yang tersaji dalam satu porsi pasta. Ngerti?”

Jennie menggigit bibirnya, merasa tegang karena Bambam tidak pernah terlihat seserius ini. Ia tahu jika mengacau sedikit saja, tidak hanya Bambam yang akan kena damprat Kepala Chef, tapi seluruh tim akan dicap mencemari nama restoran.

“Seperti yang gue bilang sebelumnya,” lanjut Bambam, mengangkat sebaskom tomat ke hadapan Jennie. “Ketika membuat dessert, lu emang harus presisi. Tapi, memasak hidangan utama nggak butuh presisi. Hidangan utama butuh insting yang tajam dan tepat. Panca indera lu harus peka terhadap bahan-bahan dan waktu.

Misalnya, apakah tomat yang lu pakai hari ini berkualitas baik. Gimana dengan kondisi sayur-sayuran, rempah, dan juga daging. Semua harus lu cek kualitasnya.”

Jennie mendengarkan dengan seksama. Ia mengikuti Bambam menuju stasiun memasak bagi tim koki di bagian tengah dapur. 

“Yang berikutnya, kondisi kompor dan peralatan masak. Hafalin di mana panci, wajan, dan wadah saus disimpan. Lu juga harus bergerak dengan efisien,” ucap Bambam. “Memasak buat 200 orang mungkin keliatannya gampang dibandingkan ketika lu menangani jam operasional restoran. Tapi, lu tahu apa yang lebih penting dari 200 orang itu?”

Jennie berpikir, tapi tak dapat menemukan jawabannya.

“Fokus lu bukan memuaskan lidah 200 orang, tapi dua kali lipatnya. Lu harus memegang mindset bahwa lu akan memasak untuk 400 orang,” kata-kata terakhir Bambam diiringi dengan keheningan. Yang tersisa adalah suara pisau para koki lain yang sedang mempersiapkan bahan, mengelap meja kabinet, dan suara air mendidih di dalam panci. “Karena lu nggak akan tahu apa yang akan terjadi waktu hari H. Bisa jadi klien akan mengundang lebih banyak orang dari yang lu kira. Dan itu neraka sebenarnya .”

Jennie menelan ludah. Sanggupkah ia mengambil alih pekerjaan Bambam yang notabene lebih gila dari ekspektasinya?

Chapter 7: sugo di pomodoro

Summary:

Pekerjaan katering di luar restoran ternyata lebih menantang dari yang Jennie kira, tapi ia tidak menyerah hingga detik terakhir. Ketika pekerjaan itu akhirnya selesai, ia malah adu mulut dengan Rowoon di telepon. Sementara itu, ada seseorang yang tidak sengaja menguping.

Chapter Text

“Porsi bolognese berikutnya sudah siap? Wadahnya hampir kosong!” seorang camiriere berseru dari balik meja dapur.

“Jennie, berapa lama sugo di pomodoro siap?”  teriak Kepala Chef kepada bawahannya, yang sedang kalang kabut menyiapkan satu porsi baru saus tomat di salah satu kompor.

“Sepuluh detik, chef!” balas Jennie, menaburkan bumbu untuk terakhir kali dalam wadah panas di depan wajahnya, lalu mengaduknya rata. Ia menarik nafas, dan mengumumkan kepada anggota timnya bahwa saus telah siap. “Saus siap!”

Di sisi lain dapur, terdengar suara nyaring dari benda metal yang jatuh berhamburan ke lantai, membuat sebagian kepala menoleh. “Maaf, chef!” seru si pelaku yang tidak sengaja menyenggo setumpuk wajan hingga jatuh.

“Fokus, semuanya! Pekerjaan kalian masih separuh berjalan! Malam masih panjang! Tarik nafas dan selesaikan setiap porsi pekerjaan dengan penuh konsentrasi!” orasi Kepala Chef membahana ke seluruh penghujung ruangan, bersama panci yang berdesis saat pasta dimasak, sajian tiramisu dikeluarkan dari kulkas, dan para pramusaji berlalu lalang mengambil wadah besar yang telah diisi porsi baru pasta. “Kalian masih sanggup?! Selesaikan pekerjaan yang kalian mulai!”

Si, va bene!” para koki serempak berseru, tak terkecuali Jennie. Ia menyeka keringat yang tak henti mengalir di pelipis dan lehernya. Tangannya telah sakit karena terus memegang gagang panci yang panas, tapi ia tak boleh berhenti.

Di balik dinding dapur, para karyawan dan tamu perayaan hari jadi Arkate terus berdatangan. Seperti yang telah Bambam peringatkan sebelumnya, pengunjung yang datang ke gedung firma itu lebih dari perkiraan. Sejak ia tiba di dapur, Jennie tak berhenti bergerak. Jika telah selesai mempersiapkan bahan, ia harus menakar bumbu lalu meletakkan panci besar di  kompor. Setelah selesai membuat satu porsi saus, ia harus mengerjakan langkah yang sama berulang kali.

Jennie tak tahu berapa banyak kalori yang telah ia bakar dalam 2 jam terakhir, tapi rasanya tubuh itu siap remuk kapan saja. Setelah semua ini selesai, Jennie harus mengatur waktu untuk berolahraga lagi. Malam pun masih panjang, dengan piring kotor terus bergantian dengan yang baru. Ia tak lagi dapat menghitung berapa banyak hidangan yang telah keluar masuk dapur.

Sebelum wadah makanan itu dihantarkan kepada para karyawan kantor, Jennie pun tak dapat melupakan sosok Kim Jiho yang menyapa para tim koki di dapur. Ia pernah melihat wujud pria paruh baya itu sebelumnya dari foto yang pernah ditunjukkan oleh ibunya. Kenyataannya, ia terlihat lebih tampan dari yang Jennie kira. Malam itu, Kim Jiho mengenakan setelan jas berwarna biru tua tanpa dasi, dengan kemeja biru pucat. Rambutnya disisir rapi, dengan beberapa helai uban tipis di bagian depan.

Mata mereka sempat bertemu, tapi Jennie segera memalingkan wajah. Ia tak ingin menjadi pusat perhatian karena mengenal pria mapan itu. Tugasnya malam ini adalah sebagai seorang chef yang memuaskan lidah para pelanggan, bukan calon anak tiri yang perlu bersikap baik di hadapan pasangan ibunya.

Bahkan mengucapkan ‘calon anak tiri’ terasa begitu canggung di kepalanya.

Melewati jam 10 malam, ketegangan di dapur telah mulai mereda. Kepala pramusaji mengumumkan bahwa sajian pasta dapat berhenti karena para pelanggan telah beralih menikmati hidangan penutup. Jennie akhirnya dapat bernapas lega.

“Jennie, nih minum dulu,” seorang rekan kokinya menawarkan sebotol minuman isotonik dingin, yang Jennie sambut dengan riang. “Sukses malam ini!”

Mereka berbagi tos singkat, sebelum menenggak minuman dingin itu. Segarnya cairan dingin yang memenuhi kerongkongan seketika membangkitkan tubuh Jennie yang hampir ambruk. Ia berhasil melewati malam ini dengan mulus, meskipun tak berperan besar dalam menyajikan hidangan penutup.

Para chef yang tersisa saling berkumpul untuk beristirahat bersama. Sebagian lainnya saling bergantian membantu tim yang masih membuat porsi hidangan penutup terakhir. 

Jennie meraih ke dalam saku seragamnya, mengecek ponsel. Di layar, nama Rowoon muncul beberapa kali melakukan panggilan tak terjawab. Jennie menekan layar, lalu ijin kepada rekan kerjanya untuk menelepon balik sang kekasih. “Aku ijin telepon bentar, ya,” ucapnya, sambil berlalu pergi. Tak ada yang mencegahnya, toh pekerjaan mereka sudah selesai.

Sambil menyusuri lorong, Rowoon tak juga menjawab panggilan Jennie. Mungkin sinyal di sini nggak bagus, ucap Jennie dalam hati. Langkahnya membawa Jennie ke taman belakang gedung. Angin malam yang sejuk menyambut dengan sapuan lembut di wajah, membuat Jennie merasa lebih segar. Ia menyandarkan siku pada pagar sambil terus mencoba menghubungi nomor Rowoon.

Setelah menunggu beberapa detik, akhirnya suara kekasihnya terdengar di seberang telepon. “Halo?” sapa Rowoon.

“Halo, Sayang. Kenapa telepon?” tanya Jennie.

“Kamu di mana?”

“Ini baru selesai kerja, di kantor Arkate.”

“Arkate?”

“Iya,” balas Jennie, memindahkan telepon ke sisi lain wajahnya. “Itu loh, kerjaan katering yang aku ceritain.”

“Oh, yang kantor pacar mamamu itu?”

Jennie terdiam sejenak, sebelum menjawab, “I, iya.”

“Gimana orangnya? Dia nyapa kamu, nggak?”

“Tadi cuma liat-liatan aja, sih. Ngobrol aja nggak, apalagi nyapa.”

“Kenapa?”

Jennie mengerutkan kening. “Ya aku kan langsung kerja. Dia cuma nyapa tim sebentar, terus pergi.”

“Padahal itu kan kesempatan kamu dikenal sama dia,” ucap Rowoon. “Kan jadi kesempatan bagus buat kamu dikenal lebih banyak orang.”

“Bukan tempatnya kali, Sayang. Aku kan di sini sebagai bagian dari tim koki, bukan ngebawa namaku pribadi. Lagian, aku sama dia nggak sedekat itu,” balas Jennie. Rasanya ia tahu pembicaraan ini akan mengarah ke mana.

“Kesempatan nggak boleh disia-siakan, Sayang. Kim Jiho itu nama besar, loh. Orang yang kerja di properti pasti kenal dia. Kalau kamu akrab sama Kim Jiho, kan aku bisa ikutan kamu kenalin.”

Jennie mendesah panjang. Semuanya kembali kepada keuntungan bisnis bagi Rowoon. “Aku nggak tertarik mengenal dia,” ucapnya ketus. “Di mataku, dia cuma laki-laki paruh biasa yang… mungkin bakal jadi ayah tiriku. Hubungan Kim Jiho dan mamaku sepertinya makin serius.”

Tiba-tiba keheningan memenuhi perbincangan di antara mereka, membuat Jennie gugup. “Ha, halo? Rowoon, kamu masih di situ?” tanyanya.

“Kamu… masih mau ngebangun toko kue seperti impian kita berdua, kan?”

“Iya, masih.”

“Tapi kamu bilang nggak tertarik untuk mengenal Kim Jiho. Padahal kalau kalian deket, dia pasti bisa bantu kamu wujudin mimpi itu,” kata Rowoon dengan nada datar. “Kamu harus ngeliat peluang itu, Jen.”

“Maksudku untuk sekarang, Sayang. Untuk sekarang, aku nggak tertarik untuk mengulik topik bisnis dengan dia. Aku bahkan nggak tahu apakah mamaku bisa punya kehidupan pernikahan yang panjang dengan dia,” sahut Jennie. Kepalanya mulai terasa sakit. “Akui kan bukan kamu yang ngeliat semua hal dari perspektif bisnis.”

“Oh, jadi maksudmu aku oportunis?” tanya Rowoon. Suaranya terdengar begitu dingin.

“Ng, nggak. Maksudku bukan gitu,” sangkal Jennie. “Ini kenapa kita jadi adu argumen lagi, sih? Padahal kan aku telepon karena takut kamu cemas aku nggak angkat telepon.”

“Aku juga nggak maksud buat adu mulut, Jen. Aku kan cuma menyampaikan apa yang aku pikirin.”

“Nggak bisa gitu kamu tanya gimana kabarku hari ini? Capek nggak? Hari ini masak apa? Mau dijemput atau nggak?” Jennie menyadari suaranya mulai meninggi, tapi ia tak bisa menahan diri.

“Ya aku belum sempet tanya aja. Kamunya udah marah-marah duluan–”

“Aku nggak marah–udah deh, nanti aku telepon lagi.” Jennie memutuskan kontak, memasukkan kembali ponselnya ke dalam kantong. Meski terus berdering, Jennie enggan bicara dengan kekasihnya lagi malam itu, apalagi jika pada akhirnya pembicaraan itu berakhir dengan adu mulut.

Tanpa perlu melihat layar, Jennie tahu siapa yang terus berusaha menghubungi nomornya. Sambil meregangkan tubuh, Jennie harus menyerah untuk malam itu. Ia telah kehabisan energi untuk meladeni komentar-komentar Rowoon yang belakangan ini tak pernah berfokus padanya. 

Dalam keheningan malam yang meliputi lelahnya, ia mendengar suara batuk dari balik dinding. Jantungnya berdebar, tak menyadari bahwa ada ia sedang berbagi tempat dengan seseorang. 

Ia mengintip ke balik dinding, dan menangkap sosok pria asing yang sedang duduk di undakan tangga yang mengarah ke taman. Ia bertelanjang kaki, mengenakan jas berwarna hitam. Saat pria itu menoleh, sejenak Jennie mengira ia adalah Kim Jiho. Sosok  itu berbagi paras rupawan yang sama, tampak jauh lebih muda dengan lebih sedikit kerutan di wajah.

“Sori,” ucapnya dengan suara parau yang alami, “saya nggak bermaksud nguping.”

Chapter 8: Kim Mingyu.

Summary:

Pria itu meminta maaf karena telah menguping, dan Jennie tak bisa membiarkannya merintih karena kaki yang lecet akibatsepatu baru. Namun, dari dua plester yang ia berikan, Jennie menyadari Kim Mingyu bukan seorang pria biasa.

Notes:

ada adegan dewasanya dikit, tapi masih aman untuk dibaca.

Chapter Text

Gelapnya malam menyelamatkan wajah memerah Jennie tertangkap oleh mata pria asing di taman belakang. Entah sudah berapa banyak yang ia dengar, tapi sudah tak mungkin menarik percakapan itu kembali. Jennie ingin segera beranjak dari tempat itu, tapi pria itu memanggilnya kembali.

“Kamu chef yang masak malam ini?” tanyanya.

“I, iya,” jawab Jennie, dengan gugup merapikan rambutnya yang basah dan berminyak, diikat berantakan di belakang kepala. “Tapi, saya cuma masak sebagian kecil–”

“Kamu handle bagian apa?”

“Saus.”

“Termasuk saus untuk bolognese dan arrabiata ?”

“Iya. Itu semua saya yang kerjakan.”

“Oh,” ucapnya. “Enak banget makanannya, terutama sausnya. Nama restorannya… Nero&Bianco yang di Gangnam, kan?”

“Iya, betul.”

“Kapan-kapan saya main ke sana, deh. Kayaknya perlu coba menu yang lain,” sambungnya. Ia bangkit berdiri, tapi bergerak oleng ke kanan dan kiri. Pria itu meringis, lalu mengecek kakinya kembali.

“Maaf, Bapak kenapa?” Jennie menangkap gelagat aneh pria itu yang sepertinya tidak nyaman dengan dirinya. “Kakinya sakit?”

“Iya, nih. Biasa, sepatu baru. Tadinya saya mau pakai sepatu lama, tapi kakak saya udah beli yang baru sebagai hadiah,” jawabnya. “Kamu punya plester luka, nggak?”

“Sebentar,” gumam Jennie. Ia merogoh ke dalam saku seragamnya. Biasanya ia menyimpan satu kantung plester sebagai pertolongan awal jika ia atau rekan kerjanya terluka. Mulai dari teriris pisau, kapalan, hingga terkena pecahan piring yang jatuh ke lantai. Ia menemukan kantung kertas itu di saku belakang celana dan memberikannya pada pria itu. “Ini.”

Pria itu mengulurkan tangan. Jennie meletakkan kantung plester itu di telapak tangannya yang terbuka. Ia melihat pria itu membuka kantung dan menemukan plester yang masih tersisa. “Isinya tinggal dua. Boleh saya pakai dua-duanya?” tanyanya.

“Boleh,” Jennie mengangguk.

“Makasih, ya,” jawabnya. Ia kembali duduk di undakan tangga, dengan cekatan membuka plester itu satu per satu. Bantalan pada plester itu menutupi lecet pada belakang pergelangan kakinya.

“Sama-sama, Pak. Saya masuk ke dalam dulu, karena pekerjaan sudah beres–”

“Tunggu sebentar.”

Setelah selesai mengenakan sepatunya, pria itu berdiri dan berjalan ke arah Jennie. Semakin ia dekat dengannya, semakin Jennie menyadari betapa tinggi pria itu–setidaknya setinggi Rowoon. Ia menyodorkan kantung plester yang telah kosong pada Jennie.

“Kamu masih punya plester lagi?” tanya pria itu, dengan senyum manis yang Jennie yakin dapat meluluhkan banyak wanita. “Takutnya kaki saya masih sakit sampai malam.”

“Nggak ada sih, Pak. Tapi, mungkin rekan saya ada yang punya. Saya coba tanyakan dulu–”

Kata-kata Jennie terputus ketika pria itu tiba-tiba merenggut lengannya, menahan perempuan itu pergi. Ia berdiri begitu dekat, dengan aroma parfum yang semerbak dari tubuhnya.

“Kalau nggak punya plester, nomor telepon ada, kan?” tanyanya. 

Jennie tercengang. Apakah pria ini sedang menggodanya, meski ia tahu Jennie baru saja bertengkar dengan tunangannya? Ia menghentakkan tangannya lepas dari genggaman pria itu. “Kalau ada pun, saya nggak akan kasih ke Bapak,” balas Jennie ketus.

Pria itu tertawa kecil. “Jangan salah paham. Saya nggak lagi godain kamu. Saya cuma butuh nomor telepon supaya kamu tahu saat saya mampir ke restoran,” bantah pria itu.

“Kalau mau booking tempat, cukup hubungi nomor restoran saja. Anda bisa tanya Kim Jiho atau cari sendiri–”

“Saya maunya lewat kamu. Nggak boleh, ya?”

Pria itu mencoba meraih tangannya lagi, tapi Jennie melangkah mundur. Ketika ia hampir berteriak, suara seorang wanita telah mendahuluinya.

“Kim Mingyu!”

Jennie menoleh. Seorang wanita dengan rambut panjang pirang bergelombang, mengenakan tube minidress hitam muncul dari balik pintu. Tubuhnya ramping, dengan wajah mempesona yang membuatnya tampak bercahaya meski di dalam kegelapan. Rasanya Jennie mengenali wajah itu. Perempuan yang wajahnya terpampang pada papan reklame berukuran raksasa yang menghiasi jalanan dan gedung kota Seoul. Ia menjadi model sebuah parfum baru yang kabarnya meraih angka penjualan fantastis sejak ia menjadi modelnya. Jisoo juga menggunakan parfum itu.

Namanya Rose, seorang bintang yang sedang naik daun. Ia tampak lebih mempesona dipandang dengan mata telanjang dibandingkan menjadi hasil cetak di dinding. Ekspresi terkejut Rose begitu nyata saat menangkap dua orang saling bersikap canggung  di hadapannya. 

“Ternyata kamu di sini,” sambungnya, tanpa mengalihkan pandangan dari Mingyu. “Aku cariin dari tadi.”

Rose tersenyum pada Jennie, lalu melingkarkan lengannya pada pinggang pria itu, yang ternyata bernama Kim Mingyu. 

Tunggu… marganya ‘Kim’?

Perempuan pirang itu memandang Mingyu dan Jennie, bergantian. Pria dalam pelukannya hanya diam, sementara Jennie menghindari tatapan matanya. Pergelangan tangan Jennie masih terasa hangat, setelah Mingyu menggenggamnya erat. Tanpa sadar, ia menarik lengan baju seragamnya menutupi sisa kehangatan itu.

“Sa, saya permisi dulu,” ucap Jennie terbata-bata, mengambil langkah cepat dan masuk kembali ke dalam gedung.

Rose melirik tajam ke arah Mingyu. Mata pria itu masih mengikuti sosok Jennie yang berjalan menjauh, perlahan menghilang dalam kerumunan manusia yang masih tersisa di dalam. “Apa nih,” ucapnya dengan nada menggoda. Ia meraih pipi Mingyu dan mencubitnya keras. “Kamu godain anak orang lagi, ya? Dasar gatel.”

“Aw, sakit!” jerit Mingyu.

“Dari jaman kuliah sampai sekarang nggak berubah. Mau berapa banyak lagi cewek yang kamu godain sampai kamu siap buat hubungan yang serius, hah?” Rose berkata ketus. Ia melepaskan diri dari Mingyu, melipat lengannya.

“Kenapa? Kamu cemburu?” goda pria itu.

“Cemburu?! Najis!” balas perempuan itu sambil membuat ekspresi pura-pura muntah, membuat Mingyu tertawa. “Terakhir cewek yang kamu deketin sampai rela ninggalin calon suaminya gimana kabarnya? Sampai-sampai dia rela ngejar kamu ke Seoul. Malu-maluin, tahu?” 

“Oh, yang itu,” ucap Mingyu santai, seakan peristiwa itu telah menjadi makanannya sehari-hari. “Kan aku udah bilang ke dia nggak mau hubungan yang serius. Bukan salahku, dong, kalau dia nggak mau dengerin?”

Rose hanya tersenyum, menarik kerah kemeja Mingyu untuk membuat tubuhnya mendekat. Lengannya yang ramping merangkul leher Mingyu dalam pelukan erat. Nafas mereka beradu, tak menghiraukan sisa-sisa pesta Arkate yang masih bersinar di balik punggung.

“Hati perempuan itu memang rumit,” bisiknya, mengecup bibir Mingyu singkat. Pria itu menyunggingkan senyum, menyelipkan helai-helai rambut pirang ke balik telinga sang mawar, yang tak pernah menuntut apapun darinya. “Hari ini bilang iya, besok bilang nggak. Lusa, dia bersikap bodo amat dan kembali mengejar pria yang pernah menyakiti hatinya.”

“Kamu lagi ngomongin diri sendiri?” goda Mingyu, yang mendapat cubitan lagi di pipinya.

“Aku cuma mau bilang, di antara wanita yang rumit, ada wanita yang simpel. Sederhana,” jari Rose menyusuri perimeter wajah Mingyu, perlahan bergerak ke bibir, dagu, lalu berhenti di garis lehernya. “Nggak neko-neko. Dia cukup senang jika ada pria yang dapat memeluknya malam ini. Kamu nggak ada acara, kan, setelah ini? Banyak hal yang mau aku ceritain ke kamu.”

“Tapi besok aku harus kerja,” balas Mingyu. “Kamu nggak takut gosip menyebar kalau ketahuan ada cowok nggak dikenal main ke apartemenmu? Namamu kan lagi naik daun.”

Rose mendecakkan lidah. “Tuh, kan, kamu sama ribetnya,” ia menggerutu.

“Dih, ngambek.” Mingyu menangkupkan wajah Rose dalam kedua tangannya, mengecup bibir merona itu perlahan. “Tapi aku nggak nginep, ya?”

Sosok itu mengangguk, menautkan bibirnya dengan Mingyu dalam ciuman yang bergairah. Mingyu menutup matanya, menikmati sensasi itu sambil meraba tubuh yang bergesekan dengannya. Di antara bibir yang enggan untuk melepaskan diri, Rose mendesah dalam sunyi ketika jari-jari pria itu meraba tubuhnya. Ia tak perlu tahu, bahwa pikiran Mingyu masih berkutat pada si wanita berseragam koki.

Chapter 9: carbonara.

Summary:

Akhirnya, pekerjaan Jennie di gedung Arkate selesai juga. Selepas Kim Jiho memberikan pidatonya, ia dapat pulang untuk beristirahat setelah malam yang panjang. Namun, ternyata seseorang telah menunggunya di tepi jalan.

Chapter Text

“Jen, kamu nggak papa?”

Saat kembali ke dapur, pertanyaan yang dilemparkan seorang rekan kerja itu membantu benak Jennie kembali ke dunia nyata. Dengan gelagapan, Jennie buru-buru merapikan rambut dan seragamnya, membuat teman-temannya keheranan. 

“Nggak papa,” jawab Jennie, menarik senyum hambar. “Kenapa? Berantakan banget, ya?”

”Nggak juga sih. Tapi muka kamu merah.”

Jennie meraba dahi dan sisi lehernya dengan punggung tangan. Mereka benar, badannya terasa lebih hangat dari biasanya.

“Kamu kecapekan mungkin,” timpal yang lain. “Udah makan belum?”

“Belum sih,” jawab Jennie.

“Oh pantes. Ya udah, makan dulu gih. Masih ada porsi carbonara di wajan. Habiskan sebelum kamu pulang, ya,” saran seorang chef senior sambil menunjuk wadah di tengah dapur.

“Baik, chef, ” ucap Jennie. Dalam diam, Jennie mengambil sebuah piring bersih, membawanya mendekat ke wajan berisi porsi pasta yang memang disediakan oleh seniornya untuk para karyawan. Perlahan, ia mengisi piringnya dengan sesendok pasta beberapa kali. Setelah merasa cukup, Jennie meraih kursi terdekat dan duduk seorang diri. Sesekali, para rekan sejawat menyapanya, membuka obrolan ringan sambil mencuci peralatan yang digunakan memasak.

“Oke, semuanya, kumpul dulu!” Kepala Chef menepuk tangan beberapa kali, mencuri perhatian seisi dapur. Para anak buahnya menurut, masing-masing mencari tempat yang nyaman untuk memusatkan perhatian ke bagian depan dapur, tempat Kepala Chef berdiri. “Sebelum mengakhiri tugas kita hari ini, ada beberapa hal yang perlu kita evaluasi. Selain itu, Pak Kim Jiho, selaku pemilik Arkate juga ingin menyampaikan beberapa kata.”

Jennie tersedak saat mendengar nama itu. Beberapa rekan kerjanya menoleh. Yang lain menawarkannya segelas air pada Jennie–di mana ia sangat berterima kasih. Ia segera menelan makanan yang tersisa di mulut, lalu merunduk di belakang punggung rekan kerjanya. Setelah berhasil menghindari Kim Jiho di awal, ternyata mereka bisa saja bertatapan mata lagi di akhir? Jennie tidak memperhitungan hal itu.

“Selamat malam,” suara itu masih sama, tegas tapi lembut. Anehnya, suara itu mengingatkan Jennie pada pria di taman belakang yang sempat menggodanya. Ia mengintip dari punggung temannya, dan melihat Kim Jiho masih tampak bersahaja, seperti di awal pertemuan mereka. Jas biru tuanya masih tampak rapi, hanya air mukanya saja lebih lelah daripada sebelumnya. “Malam ini adalah malam yang penting bagi saya dan firma yang telah saya dirikan selama 15 tahun. Di tahun-tahun terakhir ini, kami sempat mengalami krisis yang hampir membuat saya kehilangan segalanya. 

Karena itu, saya ingin sesekali membuat acara besar untuk para karyawan, yang telah bekerja keras dan masih memegang kepercayaan pada Arkate. Setiap tahun, biasanya kami cukup merayakan dengan beberapa lusin pizza, pasta instan, dan soda.”

Beberapa rekan Jennie tertawa kecil.

“Apalagi, baru-baru ini adik saya telah menyelesaikan studinya di Jerman. Jadi, acara hari ini sekaligus menyambut kedatangannya kembali ke kantor kami. Oleh karena itu,  tahun ini saya ingin melakukan sesuatu yang berbeda, ” lanjut Kim Jiho. “Berkat saran dari kekasih saya, Nero&Bianco menjadi restoran yang saya pilih untuk katering malam ini. Saya pribadi sudah mampir ke restoran beberapa kali, dan selalu merasa puas dengan hidangan yang disajikan. Terutama hidangan penutupnya.”

Jennie menunduk. Rasanya ia ingin menghilang dari ruangan itu.

“Saya sangat puas dengan hidangan yang teman-teman sajikan malam ini. Rekan-rekan bisnis dan karyawan saya juga mengatakan sajian yang ditawarkan sangat memuaskan lidah. Mulai dari salad, pasta, menu daging, ikan, serta hidangan penutup. Semuanya sangat memuaskan. Anda semua telah bekerja dengan sangat keras,” ucap Kim Jiho yang diiringi dengan tepuk tangan, lalu diikuti oleh para karyawan Nero&Bianco. Suara tepuk tangan itu bergemuruh ke seluruh sudut dinding dapur.

Ia sungguh pria yang karismatik, pikir Jennie.

“Oleh karena itu,” sambungnya di antara gemuruh tepuk tangan yang masih tersisa. “Saya harap, kita dapat saling menjalin hubungan simbiosis mutualisme, yang saling menguntungkan. Semoga beberapa rekan bisnis dan karyawan saya dapat menjadi pelanggan tetap dari Nero&Bianco, serta menyebarkan nama restoran ke lebih banyak orang. 

Jika Nero&Bianco ingin membuka cabang, jangan lupa untuk menghubungi Arkate. Kami dengan senang hati akan merancang bangunan yang indah untuk kalian.”

Pidato panjang itu menyapu rasa lelah yang menumpuk di bahu para koki, membuat mereka bersemangat kembali. Setelah mengucapkan terima kasih, Kim Jiho berpamitan agar para chef katering malam itu dapat beristirahat.

Jennie menyadari Kim Jiho tak melemparkan pandangan padanya kali ini. Mungkin saja ia tak melihatnya. Kurasa aku harus bilang terima kaasih padanya lewat Mama , pikir Jennie. Ia menghabiskan pasta yang tersisa di piringnya, sebelum bersiap untuk pulang. Tugasnya hari ini telah selesai.

*

 

Sebagian besar karyawan Nero&Bianco baru meninggalkan gedung Arkate menjelang tengah malam. Beberapa di antara mereka masih ingin mampir untuk minum-minum, sementara yang lain memilih untuk pulang. 

Tepi jalan kota Seoul telah lengang dan sunyi, dengan tanah beralaskan lantai paving yang berwarna keabuan. Lampu jalanan menyinari para manusia yang melewatinya, sementara yang lain tersembunyi dalam bayang-bayang malam. Jennie hampir tak menyadari kehadiran sebuah mobil yang berhenti di tepi jalan, menunggunya, dalam keheningan.

“Jennie!” seru seseorang yang bersandar pada mobil itu.

Saat sedang mencari dompet di dalam tasnya, perhatian Jennie terbuyarkan oleh suara itu. Nada  yang begitu akrab di telinga, tapi begitu jauh dari hatinya belakangan ini. Jennie mencari-cari asal suara itu, hingga ia menangkap sosok pria yang sedang melambaikan tangan padanya. Rowoon, kekasih sekaligus tunangannya, sedang menunggunya.

Jennie tak dapat menyembunyikan rasa bahagia yang perlahan merambati dadanya. Ia setengah berlari menuju ke arah Rowoon, tak menghiraukan teman-temannya yang bersiul melihatnya menyambut sang kekasih.

“Sayang, kok kamu di sini?” sapa Jennie dengan nafas tersengal. “Udah dari tadi?”

“Nggak, kok. Baru aja,” jawab Rowoon. Jennie tahu pria itu berbohong, tapi ia tak mau mempermasalahkannya. Rasanya sudah begitu lama ia tak melihat pria itu dalam wujud nyata. Jennie tak mau menyalahkan pekerjaan Rowoon, sebagai penerus usaha properti keluarganya, yang begitu menyita waktu. Ia tahu pekerjaan itu penting baginya–dan masa depan mereka.

Tetap saja, kehadiran Rowoon malam itu dapat mengisi kekosongan hati Jennie yang belakangan ini penuh oleh amarah. Seketika, rasa-rasa negatif itu tak lagi berarti. Rasanya ia ingin menangis.

Jennie melangkah, mendekati Rowoon untuk memeluknya erat. Tak peduli dengan aroma bawang dan daging yang menempel pada baju seragamnya. Tak peduli dengan rambutnya yang lepek dan berminyak. Tak peduli dengan pertengkaran kecil yang sempat terjadi lewat telepon.

Tanpa banyak kata, Rowoon menyambut Jennie, membalas pelukan itu dengan penuh kehangatan. “Capek, ya?” tanya Rowoon dalam bisikan. Jennie menggeleng. “Maaf, ya, kalau tadi aku bikin kamu kesal di telepon.”

Jennie menggeleng lagi. Ia melonggarkan lengannya sejenak, menengadah untuk menatap wajah kekasihnya yang tak dapat menyembunyikan rasa bersalah. “Mungkin aku tadi lagi sensitif karena baru selesai kerja. Mungkin kamu juga banyak pikiran di kantor. Kita lagi sensitif aja,” ucap Jennie lembut.

Rowoon membelai kepala Jennie penuh sayang. Di bawah lampu jalanan, ia dapat menangkap raut wajah kekasihnya yang tampak begitu lelah. Kantung matanya yang hitam dan pipinya yang tirus. Rowoon meraih tangan Jennie, mengamati jari-jarinya yang kering dan memiliki banyak bekas luka. Sepasang tangan yang mengasihinya dan bekerja begitu keras.

“Kamu udah makan, belum?” tanya Jennie. Rowoon mengangguk. “Ya udah, buruan antar aku pulang, yuk? Biar kamu bisa istirahat. Besok masih ngantor, kan?”

“Besok aku bisa minta cuti,” sahut Rowoon, “kalau kamu mau nginap di tempatku malam ini.”

Rasanya jantung Jennie akan melompat keluar dari dadanya setelah mendengar kata-kata itu. Ia tak dapat mengingat terakhir kali singgah di apartemen Rowoon. Sebelumnya Rowoon melamarnya, mereka seringkali menghabiskan waktu bersama di apartemen itu. Aneh rasanya, betapa tempat itu serasa membangkitkan nostalgia.

“Oke,” jawab Jennie singkat. Rowoon tersenyum dan mengiringi langkah Jennie ke mobil.

Chapter 10: toasted bread and scrambled egg.

Summary:

Jennie terbangun di apartemen Rowoon setelah menghabiskan malam bersamanya. Dengan bahan seadanya yang dapat ia temukan di kulkas, Jennie membuatkan sarapan untuk mereka berdua.

Notes:

sampai bab 10 juga! aku bener-bener ngebut ngerjain seluruh bab yang udah terunggah, dalam waktu seminggu. nggak tahu kenapa jus kreativitasku tumpah ruah saat membuat cerita ini. sebelum idenya ilang, aku buru-buru eksekusi idenya ke dalam sinopsis utuh dari awal hingga akhir. perjalanan cerita Jennie x Mingyu masih panjang. terima kasih buat kalian yang udah sempetin membaca!

Chapter Text

Ketika Jennie membuka mata di pagi berikutnya, tubuhnya serasa baru dibanting oleh atlit gulat berulang kali. Punggung dan pinggangnya terasa pegal, otot kaki dan tangannya kaku. Ia mencoba mendorong tubuhnya bangun dari tempat tidur, yang segera disambut dengan udara dingin dari pendingin ruangan di kamar Rowoon. 

Ia baru ingat, semalam ia memutuskan untuk menginap di apartemen kekasihnya. Jennie menarik selimut menutupi tubuhnya yang masih telanjang. Sambil memijat lehernya yang tegang, ia menyesal karena menuruti gairahnya kemarin malam untuk bercinta dengan Rowoon. Harusnya mereka langsung tidur saja. Tapi, sulit untuk menolak cinta yang melimpah dari calon suaminya, apalagi setelah mereka sempat bersitegang lewat telepon.

Jennie memutar bahunya, mencoba membuat otot-otot bahunya lebih rileks. Ia melirik ke arah lantai, mencari-cari jika kemeja Rowoon ada di dekat tempat tidur. Ia bergeser ke sisi kekasihnya, yang masih berbaring dengan lelapnya. Rowoon mengerang dari balik selimut ketika Jennie menindihnya untuk meraih pakaian yang terlentak di lantai.

“Sori,” bisik Jennie di telinga Rowoon, lalu mengecup pelipisnya lembut. Jennie merentangkan tangannya, berhasil meraih kemeja putih Rowoon di lantai. Meski ukurannya kebesaran untuknya, kemeja itu cukup tebal untuk menghangatkan tubuh Jennie. Perlahan, ia merangkak ke tepi tempat tidur dan meninggalkan kamar Rowoon. Lebih baik ia membiarkan kekasihnya tidur lebih lama. Jika dipaksa bangun, Rowoon akan mengomel seharian. Hari ini Jennie tidak ingin menghadapi hal itu.

Kekasihnya telah mengambil cuti hari ini agar mereka dapat meluangkan waktu bersama. Setidaknya, hingga jam makan siang. Karena sebagian besar karyawan Nero&Bianco bekerja untuk katering acara Arkate semalam, pemilik restoran memutuskan untuk melonggarkan jam kerja mereka. Restoran baru akan buka kembali setelah jam makan siang, sehingga Jennie dapat bersantai pagi ini.

Setelah membersihkan wajah dan menyikat gigi di kamar mandi, Jennie memandang pantulan dirinya di cermin. Lelah masih tersisa di kantung matanya yang tebal, serta kulitnya yang terasa kering. Mungkin aku butuh liburan, gumamnya pada diri sendiri. Ia mengikat rambutnya yang lepek dan menyemangati dirinya untuk membuat sarapan hari ini.

Dapur apartemen Rowoon bukanlah tempat yang ideal bagi Jennie untuk memasak. Meja konternya sempit dan lemari kabinet bagian atas terlalu tinggi untuk tubuhnya yang mungil. Kurangnya cahaya matahari menyebabkan dapur Rowoon memiliki masalah kelembaban yang tak kunjung usai. Alhasil, tidak banyak perkakas yang dapat disimpan di lemari bawah karena seringnya barang-barang di dalamnya terinfeksi jamur.

Belum lagi kulkas Rowoon yang terlampau besar, tapi jarang diisi. Kecuali Jennie mampir untuk memasak, Rowoon jarang menyimpan bahan-bahan masakan di dalamnya. Ketika ia membuka kulkas hari ini, hanya tersisa beberapa butir telur, susu, sebungkus roti tawawr, dan botol-botol air mineral. Bahkan ada sisa sandwich yang hanya dimakan separuh, terbungkus oleh lembaran plastik.

Jennie menghela nafas. “Bener-bener deh, kenapa sih dia makannya nggak sehat?” ia bergumam. Dengan bahan seadanya, Jennie mulai membuat sarapan untuk mereka berdua. Lembaran roti mulai dipanggang di toaster, sementara ia mengaduk beberapa butir telur di wajan. Aroma yang gurih dari telur yang mulai matang membuat Jennie lebih bersemangat.

Jika mereka menikah nanti, mungkin hari-hari Jennie akan dipenuhi dengan memasak sarapan untuk mereka berdua–dan anak-anak mereka di masa depan. Ia perlu membuat daftar belanja, menyetok kulkas, serta memastikan keluarganya menikmati hidangan sehat. Setelah sarapan, ia akan mengantar Rowoon ke pintu depan sebelum ia berangkat kerja, lalu lanjut membersihkan rumah. Jennie juga harus memastikan cuciannya telah tergantung di tempat yang teduh tapi cukup mendapat sinar matahari. Ia juga perlu menyiapkan bahan-bahan untuk makan malam, agar tak perlu mulai memasak dari nol.

Jennie berhenti mengaduk telur di wajan.

Apakah ia akan menggunakan waktu pagi untuk mengurus rumah dan keperluan Rowoon sepanjang hidupnya? Berapa lama waktu yang ia perlukan untuk menyelesaikan semua pekerjaan itu sebelum ia dapat bersiap untuk berangkat kerja?

Apakah ia akan punya waktu untuk bekerja dan mengurus rumah tangga di saat yang bersamaan?

“Sayang, kayaknya telurnya gosong, tuh.”

Suara Rowoon yang tiba-tiba muncul dari sisinya membuat Jennie terperanjat. Ia menyenggol gagang wajan, hampir menjatuhkannya. Telur di permukaannya telah kering, dengan tepiannya berwarna kecokelatan.

“Yah,” keluh Jennie, lalu buru-buru mematikan kompor. “Maaf, ya, telurnya agak gosong.”

Melihat wajah kekasihnya yang muram, Rowoon buru-buru menambahkan, “Nggak gosong-gosong amat, kok, Sayang. Masih bisa dimakan.”

Mesin toaster berdenting, tanda roti panggang mereka telah siap. Rowoon mengambil piring dari rak dan meletakkanya di meja konter. Jennie mengisinya dengan telur orak-arik yang ia bagi di kedua piring, bagian yang lebih banyak untuk Rowoon. Setelah menambahkan roti di sisi yang kosong, keduanya pun beranjak ke meja makan kecil yang terletak dekat jendela. Dari meja itu, Rowoon dan Jennie dapat melihat pemandangan kota Seoul dan Sungai Han di pagi hari.

“Yuk, makan,” ajak Rowoon, membagi roti panggangnya menjadi ukuran lebih kecil. Suaranya yang renyah membuat pria itu bersemangat.

“Sori ya sarapannya cuma ini aja. Kulkas kamu kosong soalnya,” ucap Jennie. Ia mengamati kekasihnya yang tampak bersemangat melahap hidangan di piring, dengan rambutnya yang masih berantakan, mengenakan kaus oblong lusuh dan celana training.

Kebanyakan orang dalam pekerjaan Rowoon terbiasa melihatnya tampil elegan dengan setelan jas buatan desainer terkenal, jam tangan analog berkelas dan sepatu kulit harga jutaan Won. Tapi bagi Jennie, Rowoon yang tampak alami dan berantakan adalah pemandangan indah bagi matanya.

“Iya, nggak papa. Aku juga nggak sempet belanja. Biasanya Mama mampir, tapi belakangan ini dia sibuk sama teman-temannya,” balas Rowoon. Satu sisi pipinya menonjol, sibuk mengunyah sarapan sederhana mereka. “Dia lagi ngerencanain trip sama temen-temennya. Kalaupun nggak ada makanan, aku bisa beli di luar, kok.”

Jennie terdiam, menggigit rotinya dengan enggan. Ia ingat belum sempat menceritakan tentang kehadiran Hong Suhee di restoran beberapa waktu lalu. Bila ia membeberkan cerita itu pada Rowoon sekarang, sudah pasti suasana akan berubah jadi menyebalkan. Ia tak ingin beradu mulut dengan Rowoon hari ini, apalagi ketika mereka akhirnya dapat meluangkan waktu bersama.

“Oh iya. Lisa tanya kapan kamu mau cari baju pengantin,” tanya Rowoon, mengangkat topik berbeda–dan menyebutkan sebuah nama yang telah lama tak terlintas di telinga Jennie.

“Siapa?” tanya Jennie.

“Lisa,” jawab Rowoon, menengadah dari piringnya. “Kalian masih berteman, kan?”

Jennie tak tahu bagaimana cara menjawab kedua pertanyaan itu. Ada beberapa alasan di baliknya, tapi salah satu poin terbesar adalah Jennie tak akan memanggilnya ‘teman’ secara terbuka. 

Lebih tepatnya, Jennie merasa Lisa tak lagi menganggapnya teman. Apalagi semenjak Lisa memutuskan untuk menghilang setelah lulus dari universitas. Nomor ponselnya tak dapat dihubungi, seluruh akun media sosialnya nonaktif, seakan-akan ia menjadi mitos yang tak pernah nyata.

Namun, dua tahun lalu, tiba-tiba Jennie bertemu kembali dengan Lisa dalam sebuah pesta keluarga  Rowoon yang ia hadiri. Lisa muncul kembali dan telah bekerja di kantor Rowoon sebagai sekretarisnya. Ia tampak modis, tak lagi tersisa kenangan tentang dirinya yang tomboi. 

Jennie masih dapat mengenali wajah itu, tapi tak ada lagi senyum ceria seperti matahari yang menghiasi bibirnya. Lisa menjadi pribadi yang dingin, seakan telah menghapus memori tentang persahabatan mereka.

“Dibilang berteman pun kami jarang nongkrong sih,” jawab Jennie, tersenyum masam. “Mungkin karena dia sibuk kerja kali, ya? Makanya udah nggak kontak aku lagi.”

Rowoon mengangguk-angguk, menghabiskan potongan yang tersisa di piringnya. “Dia nawarin untuk nemenin kamu cari baju pengantin,” ucap Rowoon.

“Hah? C, cari baju sama dia?”

Rowoon mengamati gelagat Jennie dalam diam. 

“Aku bisa minta tolong Jisoo temenin sih. Atau sama mamaku juga bisa,” sahut Jennie cepat-cepat, matanya menghindari tatapan pria di hadapannya.

Rowoon mengerutkan kening. Ia tak mengerti mengapa reaksi Jennie tak seperti yang diharapkan. Saat Rowoon bicara dengan Lisa kemarin, ia mengira hubungan mereka selama ini baik-baik saja. Cara Lisa membicarakan Jennie seperti dua orang yang telah tumbuh bersama selama bertahun-tahun. Tak ada jarak. Tak ada rasa canggung saat mengungkit kisah lalu di masa kuliah mereka.

“Kalau kamu mau aja sih. Nanti bisa kalian atur sendiri jadwalnya,” tambah Rowoon, mengesampingkan kecurigaan yang menghantui pikirannya.

“Nanti coba aku tanya dia deh,” balas Jennie kemudian, berharap jawaban itu cukup diplomatis. “Aku minta nomornya Lisa, ya. Kayaknya kontak dia hilang dari ponselku.”

Chapter 11: men are from mars.

Summary:

Mendengar cerita bagaimana Rowoon memperlakukan Jennie, Jisoo jadi naik pitam. Jisoo ada benarnya, rencana pernikahan Rowoon dan Jennie adalah urusan mereka berdua, tapi kini ada ancaman dari orang ketiga.

Chapter Text

Jisoo tak dapat menyembunyikan wajah geram saat Jennie menceritakan kembali apa yang ia bicarakan dengan Rowoon pagi itu. Ia mengatupkan bibirnya rapat, menahan diri untuk tidak melemparkan amarah kepada sahabatnya. Namun, semakin lama Jennie bicara, Jisoo tak dapat menahan diri lagi.

“Jen, maaf ya aku ngomong gini soal Rowoon,” ia memulai dengan nada datar. Tangannya terlipat di depan dada. Dengan seragam pramusaji yang ia kenakan, Jisoo tampak sepuluh kali lipat lebih garang daripada biasanya. “Tapi emangnya pacar lu nggak tahu ya kalau gue dan Bambam adalah teman terdekat lu saat ini? Kenapa bisa-bisanya dia setuju Lisa yang nemenin lu cari baju pengantin? Ada yang salah dengan selera fashion gue?”

“Rowoon nggak ada maksud ngerendahin selera lu, Jisoo,” Jennie berusaha menenangkan sahabatnya, yang tak berhenti cemberut. “Dia cuma ngira gue dan Lisa masih dekat. Itu aja.”

“Emangnya dia nggak pernah liat kalau lu lebih sering nongkrong sama kita? Lu juga sering update status waktu kita lagi bareng kan? Masa dia nggak nyadar sih?”

BamBam mengelus bahu Jisoo lembut, berusaha menenangkan sahabatnya. “Udah, sabar. Jangan emosi dulu. Rowoon kan orang sibuk dan Lisa kerja sama dia,” ucap pria itu lembut. “Main sama kita aja jarang. Kita nggak bisa nyalahin Rowoon kalau dia cuma dapat informasi dari Lisa. Belakangan ini, dia dan Jennie juga bertengkar terus. Maklum lah kalau ada salah paham.”

“Gue rasa ini sih bukan salah paham, Bam,” bantah Jisoo. “Menurut gue Rowoon tuh nggak perhatian. Belakangan ini, hal apapun yang berkaitan dengan dia tuh aneh banget. Mulai dari emaknya, terus percakapan tentang gimana Jennie harus ngedeketin Kim Jiho–”

Jennie mengalihkan pandangan saat nama itu disebut. Dalam dirinya, masih ada rasa pahit yang tersisa saat Rowoon melihat kehadiran Kim Jiho sebagai sekedar kesempatan. Padahal bila hubungan ibunya dan Kim Jiho akan berakhir di jenjang yang lebih serius, Jennie tak ingin sekedar memanfaatkan pria paruh baya itu. Bila Kim Jiho melihat potensi Jennie dalam membangun bisnis pun, mereka pasti sudah mendiskusikannya sejak dulu.

Kalau soal Hong Suhee, Jennie sudah angkat tangan. Ia tak ingin mood- nya hari ini rusak karena membayangkan sosok nenek sihir itu.

“--dan sekarang Lisa. Masalah satu belum selesai, udah datang masalah lainnya. Dan semua hal itu nggak satu pun yang berpihak ke kebutuhan Jennie,” sambung Jisoo. “Dia ini kan calon istrinya.”

Tiga sahabat itu saling terdiam. Jennie mengulurkan tangannya ke arah Jisoo dan meremas lengannya itu penuh sayang. Ia bersyukur memiliki teman seperti Jisoo yang memahaminya lebih dari siapapun.

“Iya, iya, gue paham,” balas Bambam, lalu menghela nafas. “Gue emang belum pernah nikah, tapi kalau denger cerita orang sih persiapannya memang banyak banget. Terlepas dari sibuknya Rowoon sama kerjaan, gue rasa ucapan Jisoo ada benarnya. Kalau dia memang mau menikahi lu, Jen, harusnya dia tanya langsung kebutuhan lu apa. Bukannya minta tolong lewat sekretarisnya untuk bantu lu.”

“Nah, itu juga aneh, tuh,” sambung Jisoo. Jari telunjuknya menunjuk udara. “Kan yang jadi tunangan dia Jennie, harusnya Rowoon lebih dengerin pacarnya, dong? Kenapa si sekretaris itu yang lebih dia denger?”

“Makanya, udah gue bilang–”

“Udah, udah,” Jennie tak tahan untuk memotong argumen dua sahabatnya. “Yang penting sekarang, gue harus gimana, nih? Gue udah dapet nomornya Lisa dari Rowoon. Apa iya gue harus hubungin dia untuk nemenin cari baju pengantin?”

“Ya nggak perlu, lah, Jen!” seru Jisoo. Beberapa rekan kerja mereka yang ada di dapur menoleh kaget mendengar suara lantang itu. BamBam dan Jennie meminta Jisoo untuk memelankan suara. “Kan gue sama Bambam ada. Ya udah, kita bertiga aja! Atau lu sewa jasa stylist atau desainer sekalian. Lisa kerja buat Rowoon, bukan jadi asisten lu juga!”

Meski memahami amarah sahabatnya, Jennie tak memungkiri bahwa kata-kata Jisoo ada benarnya. Begitupun Bambam. Nomor kontak terbaru Lisa sudah ada di tangan, tapi Jennie masih merasa enggan untuk menghubunginya. Ia tak ingin mengejar seseorang yang memutuskan tali persahabatan mereka begitu saja, apalagi dalam kebisuan. Entah apa saja yang sudah Lisa ceritakan kepada Rowoon selama ini, baik itu tentang kondisi pertemanan mereka di masa lalu atau saat ini. Jennie tak ingin berasumsi lebih dalam, tapi tetap saja ia tak dapat menghapuskan rasa gundah yang mengganjal di dalam dadanya semenjak Rowoon menyebutkan nama Lisa.

“Hei, kalian bertiga!” suara Kepala Chef yang berada di ujung ruangan membahana, membuat Jennie dan dua sahabatnya melompat kaget. “Berhenti ngobrol dan cepat kerja! Satu jam lagi restoran kita buka untuk jam malam!”

“Iya, Chef! ” seru ketiganya, lalu berhamburan membubarkan diri. Jisoo mengambil sekeranjang roti dari meja depan dan membawanya untuk dipotong dan disajikan sebagai makanan pendamping. Bambam kembali ke stasiun kerjanya dan mulai mempersiapkan bahan-bahan untuk membuat saus. Sementara itu, Jennie berjalan ke bagian belakang dapur di mana ia bekerja dengan seorang rekan senior dalam membuat hidangan penutup.

Ia harus segera kembali fokus bekerja. Persoalan menghubungi Lisa, Jennie akan mempertimbangkannya lagi nanti. Malam ini akan menjadi hari yang panjang baginya, apalagi dengan kehadiran dua orang tamu yang tak terduga.

*

Langit malam kota Seoul di akhir pekan itu tak sepekat biasanya. Garis horizonnya memantulkan cahaya yang berpendar ke langit, menandakan bahwa kehidupan malam telah dimulai. Suara guntur yang telah beradu sejak matahari belum terbenam, meninggalkan jejak-jejak kelabu di langit yang membawa nuansa melankolis. 

Seorang pria menyusuri tepi jalan Gangnam yang masih lengang. Manusia-manusia di sekitarnya berjalan lalu-lalang dengan cepat. Di antaranya, para lawan jenis ada yang menoleh saat melewatinya, seakan tak yakin apakah wujud yang mereka tangkap nyata atau tidak.

Pria itu meraih kancing jasnya yang hitam legam, mengaitkannya untuk menutupi bagian perut. Ketika melihat papan nama Nero&Bianco yang bercahaya, ia mempercepat langkahnya. Ia menaiki beberapa anak tangga, mendorong daun pintu gandanya. Saat di dalam, seorang pramusaji menyapanya dengan senyuman.

“Selamat malam, Pak,” sapanya. “Apakah Bapak sudah booking tempat?”

“Iya, sudah,” jawab pria itu.

“Atas nama siapa?” tanya pramusaji itu balik, sambil menekan layar tablet yang ia genggam.

“Atas nama Kim Jiho.”

Sang pramusaji diam sejenak, mencari nama tersebut dalam daftar nama pengunjung di catatan digitalnya. “Baik. Mari saya antar ke meja.”

Bersama sang pramusaji yang memimpin jalan, pria itu meninggalkan area depan dan masuk ke area utama restoran. Ia menyusuri lorong di antara barisan meja-meja yang telah terisi oleh para pengunjung. Sepanjang langkahnya, tak ada seorang pun yang mencuri pandang ke arahnya. Mereka tampak sibuk berbincang, tertawa, dan menikmati hidangan bersama rekan masing-masing.

Di ujung lorong, sebuah meja bundar yang bersebelahan dengan dinding telah diisi oleh seseorang. Pria itu duduk sendirian, tampak asyik mengetik pada layar ponselnya. Sang pramusaji berhenti di depan meja itu, membuat si pria mengangkat kepala dari gawai di tangannya. Ia menoleh, lalu tersenyum kepada pria yang baru datang. Sang pramusaji menarik kursi kosong di seberang pria itu dan mempersilakan tamunya duduk.

“Hei, datang juga lu akhirnya,” sapa Kim Jiho yang duduk seorang diri di meja. “Telat dikit aja udah gue tinggal pesan duluan.”

“Sori,” balas Kim Mingyu, mengangguk lemah kepada si pramusaji sebagai tanda terima kasih. Ia duduk di kursi itu, berhadapan dengan rekan makan malamnya hari ini. “Masih rapat tadi di luar. Ini aja gue terpaksa pergi duluan soalnya nggak enak kalau CEO Arkate nunggu lama. Nggak bisa ditolak soalnya.”

Kim Jiho tertawa kecil. “Adik yang baik tuh harus gitu, nurut sama abangnya,” godanya.

Chapter 12: women are from venus.

Summary:

Kim Jisoo hanya menjalankan tugasnya sebagai seorang cameriere atau pramusaji. Tapi, entah bagaimana, Kim Mingyu memutuskan untuk bersikap buruk malam itu.

Notes:

tiba-tiba kepikiran untuk masukin tokoh tambahan baru. bisa tebak siapa?

Chapter Text

Seorang pegawai berseragam berhenti di depan meja dua bersaudara Kim, lalu menawarkan dua jilid buku menu. Ia meletakkan sekeranjang roti di tengah meja.

“Selamat malam. Anda sudah siap untuk memesan? Saya Jisoo akan menjadi pramusaji Anda hari ini,” sapa wanita itu dengan senyum ramah. “Bila ini pertama kalinya Anda datang ke Nero&Bianco, izinkan saya merekomendasikan menu favorit pengunjung kami.”

“Sebenarnya, kami sudah mencicipi masakan para chef restoran ini minggu lalu,” balas Kim Jiho ramah. “Kami dari Arkate.”

Dari balik buku menunya, Kim Mingyu menggeleng-gelengkan kepala. Terkadang, ia tak tahan dengan tingkah sang kakak yang tak melewatkan kesempatan untuk menyebutkan nama perusahaan ke manapun ia pergi. Meski tak ingin menyepelekan posisinya sebagai seorang CEO, seharusnya mereka bisa bersantai sebagai kakak beradik yang menghabiskan waktu bersama selepas kerja, pikir Mingyu.

Jisoo terkesiap, lalu dengan cepat mengendalikan dirinya. 

“Arkate! Saya turut membantu untuk katering hari itu,” ucap Jisoo dengan wajah sumringah. “Maaf jika saya tidak mengenali Anda.”

Kim Jiho melambaikan tangannya. “Tidak apa-apa. Saya tahu kalian pasti sibuk bekerja semalaman,” balasnya. “Saya berjanji kepada para chef akan mampir ke restoran. Setelah hari jadi itu, saya buru-buru memesan tempat.”

“Anda sungguh beruntung! Biasanya kami sangat sibuk di akhir pekan.”

“Saya sempat berpikir hal yang sama–”

“Oke, bisa pesan sekarang, nggak? Gue laper banget,” sela Mingyu, mengirimkan sinyal kepada sang kakak untuk berhenti beramah tamah barang sejenak. Ia tak menghiraukan air muka Jiho yang menatapnya keheranan. “Saya nggak tahu apa yang enak. Ada rekomendasi?”

“Karena ini malam pertama Anda di restoran kami, saya dapat menyarankan antipasto yang ringan seperti bruschetta dengan topping potongan tomat yang segar. Aroma campuran bawang putih dan minyak zaitun dibalurkan pada roti, yang kemudian dipanggang sempurna,” Jisoo menjelaskan. “Gigitan pada roti panggang yang renyah bisa membangkitkan selera makan. Atau jika Anda lebih suka hidangan pembuka dengan tekstur lebih lembut, kami menyajikan crostini dengan pate hati ayam, yang dimasak dengan sayuran hingga teksturnya lembut. Biasanya, hidangan ini menjadi favorit juga bagi mereka yang lebih suka hidangan gurih.”

“Kayaknya gue mau makan berat untuk pastanya. Gimana kalau bruschetta aja?” Mingyu mendongak dari buku menunya, yang dibalas dengan anggukan oleh Kim Jiho.

“Untuk antipasto kami mau bruschetta al pomodoro aja, biar nggak terlalu kenyang,” ucap Kim Jiho, yang segera dicatat oleh sang pramusaji. “Untuk hidangan utama, apa ada menu seafood ?”

“Ada, Pak. Anda bisa mencoba s paghetti allo scoglio dengan tiram, udang dan cumi-cumi. Rasanya gurih dengan aroma bawang yang dimasak bersama minyak zaitun. Selain spaghetti, ada pilihan linguine juga sebagai varian pasta lain. Tipe pasta ini cocok juga dipadukan dengan seafood yang kaya rasa, sehingga Anda bisa lebih menikmati sausnya,” Jisoo menjelaskan. “Atau jika Anda lebih suka tiram, bisa mencoba spaghetti alle vongole.

Kim Jiho mendengarkan kata-kata Jisoo dengan seksama sambil mengusap dagunya, tampak serius berpikir. “Sepertinya spaghetti allo scoglio lebih menggoda saya,” ujarnya. “Oh, pastanya saya coba pakai linguine , ya.”

Jisoo mengangguk dan mencatat pesanan. “Bagaimana dengan Anda, Pak?” ia beralih pada Mingyu yang telah menutup buku menu, bahkan sebelum Jisoo selesai bicara.

“Saya penne all'arrabbiata saja. Yang kemarin saya makan waktu acara kantor enak banget,” balas Mingyu cepat.

“Baik. Penne all’arrabbiata versi restoran kami ada dua macam, yaitu dengan sosis atau tuna. Mungkin Bapak mau mencoba–”

“Nggak usah tawarin saya variasi. Sama seperti kemarin aja.”

Jisoo mengangkat alis, tapi ia tak mau menyerah. “Kalau begitu dengan sosis, ya? Untuk pastanya, Bapak bisa mencoba dengan pasta rigatoni yang berukuran lebih besar. Pelanggan kami yang suka makanan pedas biasanya menyukai rigatoni karena bisa merasakan saus yang lebih intens–”

“Saya bilang sama seperti kemarin,” suara Mingyu yang meninggi membuat beberapa kepala di meja sekitar mereka menoleh.

“Mingyu, dia kan cuma nawarin,” Kim Jiho menggumam rendah, mengingatkan Mingyu untuk menjaga sikap. “Nggak perlu sampai emosi gitu, kan?”

Adiknya yang 20 tahun lebih muda itu memutar matanya. Ia menutup buku menu dan mengulurkannya pada sang pramusaji dengan enggan.

“Maaf, ya, Jisoo. Kayaknya adik saya tiba-tiba bad mood karena udah lapar banget,” Kim Jiho beralasan.

“I, iya, bukan masalah,Pak,” jawab Jisoo gugup. Bibir Jisoo mengatup, menerima menu dari tangan Mingyu dan memeluk buku itu di depan dada. Ia masih berusaha menarik senyum di wajahnya.  “Bagaimana dengan hidangan penutup?”  tanyanya. “Hidangan favorit di sini adalah tiramisu–”

“Gue nggak mau makanan manis,” potong Mingyu lagi. 

Melihat wajah terkejut Jisoo yang lagi-lagi tak mendapat kesempatan untuk memberikan pelayanan terbaik, Kim Jiho buru-buru menambahkan, “Tiramisu sepertinya enak! Untuk makanan lainnya, boleh saya menambahkan minestra di pane dan pizza margherita? Terima kasih.”

Jisoo mencatat pesanan tambahan itu dengan sigap. “Baik. Itu saja, Pak?” tanya Jisoo, menarik senyuman kering ke arah Kim Jiho. 

“Itu saja. Terima kasih.”

Jisoo mengambil menu dari tangan Kim Jiho dan mengundurkan diri dari meja mereka. Setelah sang pramusaji tak tampak lagi, Kim Jiho segera menyemprot adiknya yang duduk santai di hadapannya. 

“Mingyu,” ia memulai, “yang lu lakuin itu nggak sopan. Biarin aja dia ngejelasin menunya. Itu bagian dari servis dia.”

“Gue udah laper, Bang.”

“Iya, tahu,” Kim Jiho menghela nafas, memijat keningnya. “Tapi setidaknya jangan main potong aja waktu dia lagi ngomong. Memberikan pelayanan di meja adalah tugas dia, jadi nikmatin aja. Kita di sini kan sebagai tamu.”

“Yah, maaf deh kalau gue nggak bisa basa-basi kayak lu,” balas Mingyu ketus. Pria di hadapannya mengerutkan kening.

Hospitality itu bukan sekedar basa-basi, Mingyu. Sebagai orang yang juga bekerja di bidang jasa, seharusnya lu tahu itu,” Jiho berkata tegas. “Di mata lu mungkin dia hanya seorang pramusaji. Meski titel lu adalah seorang arsitek, pada dasarnya lu juga dipandang sebagai ‘pramusaji’ di mata klien.” 

Mingyu mendengus ketika saudaranya membuat tanda kutip di udara. “Bro, gue nggak pengen dengerin ceramah malam ini–”

“Gue nggak peduli,” bantah Jiho. “Arkate nggak cuma sekedar membuat gedung, Mingyu, tapi juga memberikan servis terbaik. Apa yang dia–Jisoo–lakukan malam ini, sama dengan apa yang lu kerjain di kantor. 

Ketika lu berhadapan dengan klien, lu juga sebel, kan, waktu lagi ngejelasin langsung main dipotong aja? Lu juga sebel kan kalau nggak didengerin? Like it or not, beramah tamah itu bagian dari pekerjaan kita, Mingyu.”

Mingyu mencibir, tapi tak membantah lagi.

 

Di luar jangkauan pandangan Kim Bersaudara, Jisoo lanjut berjalan cepat menuju dapur, dengan tangan terkepal dan dahi mengerut tajam. Saat melewati lorong, bahunya tak sengaja bertabrakan dengan seorang pegawai lain. Tubuhnya oleng ke kiri.

“Sori!” seru pegawai itu, segera menangkap lengan Jisoo.

“Nggak papa–” balas Jisoo cepat dengan suara gemetar. Langkahnya tertahan karena rekan kerjanya masih menggenggam lengannya. Jisoo berbalik, menangkap wajah cemas dari pegawai pria yang menabraknya. Ia melirik nametag yang tersemat di bagian dada kanan pria itu. Jeon Wonwoo.

“Kamu kenapa?” tanya Wonwoo dengan suara rendah.

“Aku bilang nggak papa,” jawab Jisoo, menghentakkan tangannya lepas dari genggaman rekan kerjanya. Ia melanjutkan langkah ke dalam, meninggalkan Wonwoo yang memandangnya cemas.

Ia berdiri di hadapan meja konter dapur yang terbuat dari stainless steel, lalu menarik nafas. Jisoo meneriakkan pesanan yang telah masuk ke sistem, kepada para chef yang bekerja di balik meja. 

“Pesanan meja 17 udah masuk, ya!” serunya. 

Tapi, suara itu kelewat lantang hingga mengejutkan beberapa chef yang sedang sibuk memasak. Mereka memandangnya dengan tatapan heran karena teriakan yang begitu keras. Namun, Jisoo tak peduli. Ia segera berbalik sambil menghentakkan kaki. Jisoo mencoba menahan diri dari amarah dan malu karena perlakuan pengunjungnya hari ini. Meski ini bukan pertama kalinya seorang pelanggan bersikap kasar, tetap saja sikap pria itu–terutama yang lebih muda–membuatnya kesal.

Sambil menunggu pesanan meja 17 siap, Jisoo berdiri siaga di dekat lorong menuju dapur. Ia menatap lurus ke arah area makan yang semakin malam semakin riuh. Jisoo berusaha mengatur nafasnya yang memburu.

Di sudut matanya, ia melihat sang capo cameriere atau kepala pramusaji, berjalan ke arahnya. Jisoo mengangkat dagu, mencoba mengatur raut wajahnya agar tak terlalu tegang. Namun, usaha itu tak luput dari mata seniornya.

“Jisoo,” ucap sang kepala pramusaji lembut, berdiri di sampingnya. Berdua, mereka menatap ke arah kehidupan di antara meja-meja pengunjung. “Ada apa? Ada masalah?”

“Tidak ada apa-apa, Pak. Semua terkendali,” ia berbohong. Kedua tangannya tersembunyi di balik punggung, saling menggenggam erat.

“Kalau kamu mau saya ambil alih, bilang, ya. Terkadang memang ada pelanggan yang tidak menyenangkan untuk dilayani,” ucapnya.

Rahang Jisoo mengencang. Ia menahan diri agar matanya yang mulai berkaca-kaca tidak menumpahkan air mata. 

“Tidak ada masalah, Pak. Saya cuma kaget saja, soalnya udah lama tidak berhadapan dengan tamu seperti itu,” ujar Jisoo.

“Oke. Kamu yakin masih bisa handle ?”

“Yakin, Pak.”

Sang capo mengangguk, lalu menepuk punggung atas Jisoo dengan lembut. Sang pramusaji menegakkan diri, seakan mendapatkan energi tambahan untuk bertahan lebih lama malam ini. Seorang pengunjung yang kasar tidak akan menggoyahkannya.

Sementara itu, Jeon Wonwoo memandangnya dalam diam dari sudut ruangan sambil mengiris ciabatta– roti Italia.

Chapter 13: brother talk.

Summary:

Kim Mingyu meragukan keputusan kakaknya yang dalam waktu dekat akan segera menikah. Namun, kata-kata Jiho meyakinkannya bahwa mereka ada dua pribadi yang berbeda. Tidak seperti Jiho, Mingyu telah kehilangan kesempatan untuk menggenggam cinta selamanya.

Chapter Text

“Jadi, kapan kalian nikah?” tanya Mingyu setelah menyesap minumannya. Kakaknya hampir tersedak oleh potongan roti yang sedang ia kunyah. “Gue kaget aja. Balik ke sini bukannya disambut dengan confetti , malah dapet berita lu mau married.

Kim Jiho berdeham, menepuk dadanya. “Rencananya sih tahun ini. Segera,” jawabnya. “Doain, ya.”

“Buru-buru banget. Kalian baru ketemu lagi tahun ini juga, kan?” Mingyu mengerutkan kening. Seorang Kim Jiho yang dikenal gila kerja, tanpa pikir panjang akan menikahi perempuan yang dalam 20 tahun terakhir menghilang dari kehidupannya. “Ini perempuan yang sama dengan cinta pertama lu waktu SMA, ya?”

Ada senyum tipis yang menghiasi bibir Kim Jiho ketika Mingyu menyebutkan ‘cinta pertama’, membuatnya merasa canggung. Seorang pria yang hampir berusia 50 tahun masih bisa tersipu malu membicarakan cinta di masa lalu.

“Dibilang ‘cinta pertama’ rasanya konyol banget untuk umur segini,” bantah Jiho, seakan bisa membaca pikiran Mingyu. “Gue lebih suka nyebut hubungan ini ‘reuni dengan teman lama’. Karena emang awalnya kami berteman aja. Setelah banyak ngobrol, gue ngerasa waktu bersama dia bakal lebih bermakna kalau dilalui bareng-bareng, seumur hidup.”

Seumur hidup terdengar seperti waktu yang sangat panjang, pikir Mingyu. 

“Kenapa lu bisa yakin kalau dia orangnya?” tanya Mingyu. “Kalian kan baru ketemu sebentar.”

Jiho memutar matanya, mencoba memikirkan jawaban yang lebih dalam. Namun, ia tahu tak membutuhkan jawaban dramatis untuk menjawab pertanyaan itu. Ia berkata, “Dibilang yakin juga nggak sih. Tapi, gue ngerasa cinta sama dia terasa mudah aja.”

Mingyu mengerutkan kening. “Mudah? Berarti perasaan lu dangkal, dong?”

Ketika hendak menjawab, suara Jiho tertahan oleh Jisoo yang hadir kembali di meja mereka sambil membawakan hidangan pembuka. Ia meletakkan setiap piring dengan rapi di permukaan meja, sebelum berlalu pergi sambil melemparkan senyuman singkat.

“Kalau menurut lu mungkin keliatannya dangkal, menurut gue nggak sih,” Jiho melanjutkan, sambil meraih sendok sup. “Gue bilang gini bukan berarti lu salah, ya. Wajar sih kalau keliatannya gitu karena hubungan gue dan Yejin baru seumur jagung.

Belajar dari hubungan gue sebelumnya yang berujung perceraian, rasanya gue nggak tertarik lagi dengan tahap ‘pacaran’. Gue cuma nggak mau buang-buang waktu ketika udah menemukan orang yang tepat. Rasanya nggak sanggup aja menjalani penyesalan seumur hidup karena tangan yang ingin lu genggam bisa sewaktu-waktu terlepas selamanya.”

Kata-kata terakhir Jiho bergaung di telinga Mingyu. Ada rasa sesak yang mengisi rongga dadanya. Mingyu mengalihkan pandangan, memindai setiap meja di sekitar yang diisi oleh pasangan dari berbagai usia. Ada yang saling berbagi hidangan dengan mesra, tertawa bersama. Ada yang makan bersama anak-anak mereka. Ada juga yang duduk berhadapan dalam diam, seakan udara di sekitar mereka penuh dengan ketegangan.

Bagi Kim Mingyu, cinta yang ia inginkan sudah lewat. Tangan yang ingin ia rengkuh sudah terlepas selamanya dan takkan akan pernah menjadi miliknya. Perempuan tempat Mingyu diam-diam menaruh hati telah mencintai orang lain. Demi persahabatan mereka, Mingyu tak pernah menyatakan rasa. Ia tak ingin mengambil resiko menghancurkan hubungan platonik di antara mereka. Ia terlalu pengecut untuk menjadi sosok seperti Kim Jiho.

“Mingyu?”

Panggilan itu membuatnya tersadar dari lamunan. Alis sang kakak menekuk dalam melihat adiknya yang mendadak diam.

“Supnya enak?” Mingyu bertanya, mengalihkan pembicaraan. Jiho mengangguk.

“Oh iya, anaknya Yejin kerja di restoran ini,” seru Jiho. “Waktu acara kita kemarin, dia juga bantu masak di dapur. Tapi, karena satu dan lain hal, katanya dia ditugaskan di bagian lain. Padahal dia paling jago bikin dessert.

“Emang bisa, ya, dipindah ke seksi lain kayak gitu?” tanya Mingyu heran.

Jisoo datang kembali ke meja 17, meletakkan sajian hidangan utama ke hadapan dua bersaudara Kim. Ia berkata, “Berikut penne all’arrabiata dengan sosis, linguine allo scoglio, dan pizza margherita .”

Aroma yang segar dan pedas dari hidangan di hadapannya membuat perut Mingyu bersemangat. Rasio saus dan pasta yang tepat, dengan warna yang pekat menggoda lidahnya. Ia mendongak dan menatap Jisoo lekat-lekat seraya berucap, “Terima kasih, ya.”

Tak menyangka si pria arogan berterima kasih padanya, Jisoo hanya bisa melemparkan senyum. “Selamat menikmati,” balasnya. 

“Maaf, Jisoo,” panggil Jiho kemudian. “Kamu kenal Jennie? Kim Jennie? Dia chef di sini, kan?”

“Iya, benar sekali, Pak,” balas Jisoo ceria. “Jennie adalah pastry chef kami. Sebenarnya…”

Kata-kata Jisoo yang tertahan membuat Jiho penasaran. Ia saling bertatapan dengan Mingyu yang hanya bisa mengangkat bahu.

Sang pramusaji tampak ragu-ragu, tapi ia melanjutkan, “Sebenarnya, saya tahu siapa Anda bagi Jennie. Dia adalah sahabat saya.”

“Oh.” Jiho tak tahu harus bereaksi seperti apa. Meski awalnya tak ingin mencampuradukkan urusan pribadi, kini ia merasa tak enak karena Jisoo mengetahui siapa dirinya lebih dari sekedar CEO sebuah firma besar.

“Tapi,” Jisoo buru-buru menambahkan. “Terlepas dari siapa Anda bagi Jennie, ketika Anda masuk ke Nero&Bianco, bagi saya Anda tetap seorang pelanggan yang harus saya layani. Saya tidak melebih-lebihkan atau mengurangi porsi pelayanan dan tidak membedakan Anda dengan pelanggan kami yang lain.”

Jiho mengangguk-angguk, menghargai Jisoo yang bersikap profesional. 

“Saya menghargai hal itu, Jisoo. Kamu sudah memberikan servis terbaik hari ini,” pujinya. “Meski adik saya tadi sempat bersikap nggak sopan sama kamu.”

Mingyu mengalihkan pandangan ketika Jiho meliriknya tajam. Jisoo hanya tersenyum.

“Ada hal lain yang bisa saya bantu?” tanya sang pramusaji kemudian.

“Untuk tiramisunya, tambah satu porsi lagi, ya,” pinta Jiho.

“Baik. Saya pastikan chef kami akan menyajikan tiramisu terbaik dan terenak untuk Anda malam ini,” balas Jisoo. Ia mengangkat tangan, membuat tanda ‘OK’ dengan jari-jarinya.

*

Ketika melirik jam di dinding, jarumnya telah menunjuk angka 9. Namun, malam bagi para chef di Nero&Bianco baru benar-benar berakhir satu jam lagi. Pesanan terakhir telah diantarkan ke pelanggan dan medan perang di dapur masih harus dibersihkan. Setidaknya, Jennie bisa memijat bahu dan lehernya yang mulai pegal karena telah memasak sedari siang. Ia menumpuk wadah dan loyang kue yang telah kosong dan meletakkannya di bak cuci.

“Oi,” sapa Bambam yang muncul di sisi Jennie sambil membawa sebotol air mineral dingin. “Selesai juga neraka hari ini.”

Jennie tertawa kecil, berterima kasih sembari menerima minuman dingin itu. Ia membuka tutupnya, ketika Jisoo datang tergopoh-gopoh memanggil namanya.

“Jen! Jennie!” serunya dari balik meja konter dapur. Matanya dengan liar mencari-cari di mana sahabatnya yang sedang beristirahat.

“Kenapa, Jisoo?” tanya Jennie sambil berjalan mendekat, menenggak minumannya. Cairan dingin itu melarutkan rasa lelah bersama dahaga yang menemaninya sepanjang malam. “Lu kayak kesetanan.”

“Om Jiho–eh Pak Jiho–bukan!”

“Napas dulu, Jisoo,” goda Bambam yang tersenyum geli melihat tingkah temannya. Sang pramusaji menurut. Ia menarik napas dalam-dalam, lalu menghembuskannya kuat-kuat.

“Kim Jiho mau ketemu lu, tuh!” seru Jisoo kemudian.

“Oh,” balas Jennie singkat.

“Kok lu santai banget, sih?”

“Emangnya gue mesti gimana? Histeris kayak lu?”

“I, iya sih.”

“Selama bukan si serigala betina, tenang aja. Ya kan, Jen?” goda Bambam, yang segera mendapat serangan siku dari Jennie, tepat di tulang rusuk. “Atau tiramisu lo nggak enak mungkin–AMPUN, JEN!”

Jennie mengancam Bambam dengan tinju di udara, tapi mengurungkan candaannya. Setelah puas mengerjai Bambam, Jennie merapikan dirinya sebisa mungkin. Ia mengikat ulang rambutnya, memastikan tak ada helai yang menempel di wajah. Ia mengangkat kedua tinjunya ke arah Jisoo dan Bambam, yang membalas dengan dukungan semangat yang sama.

Menyusuri lorong area makan sering kali menghantarkan sensasi yang berbeda di perut Jennie. Ini bukan pertama kalinya ia mendapat panggilan untuk menyapa pengunjung di meja. Mulai dari sekelompok pebisnis muda, artis, politikus, hingga para wanita sosialita yang datang pernah menyapanya. Mereka hanya ingin sekedar bertemu untuk memuji hidangan penutup buatannya.

Tidak hanya dia, namun para koki di stasiun lain juga tak jarang mendapat perlakuan yang sama. Jennie merasa tersanjung setiap kali seorang pelanggan minta bertemu dengannya, apalagi sebagai seorang pastry chef  yang hidangannya tak pernah menjadi pilihan pertama. Malam ini, Kim Jiho memenuhi janjinya untuk datang ke restoran. Jennie telah menduga pria paruh baya itu akan menyapanya, tapi ia tak menyangka ia datang bersama seseorang.

Chapter 14: pertemuan kembali.

Summary:

Mingyu bertemu lagi dengan Jennie, tapi ia tak menyangka wanita itu adalah anak dari Yejin, kekasih Jiho. Bagi Jennie, pria yang datang bersama Jiho terlihat tak asing. Ia pun tak mengira Mingyu adalah adik dari Kim Jiho.

Notes:

terima kasih kalau kamu sudah baca sampai chapter ini! semoga kamu masih mau lanjut baca ceritanya, ya. hingga bab 14, aku ngerasa flow ceritanya agak melambat. setelah ini, aku akan coba lagi naikin pacenya. karena rencana awalku mau nulis cerita ini sampai chapter 30, tapi setelah merampungkan dari bab satu ke bab berikutnya... kayaknya bakal nambah chapter deh wkwk. oh iya, aku juga ada rencana untuk mengubah cerita ini ke AU dengan nama tokoh yang berbeda, yang mau aku unggah di Wattpad. Menurutmu gimana?

Chapter Text

“Wow,” gumam Mingyu, tak dapat berhenti menyendok hidangan penutup di hadapannya. Separuhnya telah ludes ia lahap, dan rasanya sayang untuk menghabiskan yang tersisa. “Tiramisu bisa, ya, seenak ini?”

“Gue bilang juga apa.” Kim Jiho menyunggingkan senyum kemenangan karena berhasil membuktikan kepada adiknya, bahwa pilihannya tidak salah. Setidaknya, dalam hal memilih hidangan penutup mereka di Nero&Bianco malam itu. “Untung tadi gue pesan satu lagi,” ucapnya bangga.

“Gue pernah makan tiramisu. Tapi, kalau kelas restoran kayaknya emang beda, ya,” sahut Mingyu, mengisi sendoknya penuh dengan potongan berikutnya. Ia tak melewatkan setiap lapisan kudapan manis itu.

  “Sopan nggak, sih, kalau lain kali gue minta dia masak buat kita? Untuk acara keluarga inti aja.”

“Nggak tahu juga, ya. Paling nggak, minta dia buat ini sebaskom penuh! Gue lahap semuanya sendirian!” canda Mingyu, menunjuk gelas coupe yang menjadi wadah dari tiramisu yang ia santap. Tak hanya rasanya yang lezat, tampilannya yang cantik dalam gelas kristal membuat kudapan itu serasa naik kelas. Jiho tertawa kecil melihat Mingyu yang seketika bersemangat. Bisa jadi, paduan rasa manis dan kopi dari kudapan itu menjadi pemicu dari gairah yang datang tiba-tiba.

“Yejin pernah cerita kalau anaknya emang jago masak, terutama pastry . Dia udah jadi penguasa dapur di rumah sejak SMP,” sambung Jiho kemudian.

“Sejak SMP? Emangnya Yejin nggak masak?” tanya Mingyu, mengelap bibirnya dengan jari dari krim keju.

“Mana sempat. Dia sibuk kerja dari pagi sampai malam, apalagi kalau di dunia broadcasting .”

“Suaminya?”

“Pergi dari rumah sewaktu Jennie masih kecil,” Jiho mengecilkan suaranya, seakan sedang mengungkapkan rahasia yang tak seharusnya ia beberkan. “Sampai sekarang nggak ada kabar.”

Mingyu meletakkan sendoknya, mengerutkan kening. Seorang anak perempuan yang bertahan di rumah seorang diri, sementara orang tua tunggalnya sibuk bekerja. Ia memandang kakaknya, yang masih melahap hidangan penutup dengan lahap.

“Sepertinya gue bisa belajar banyak dari anaknya Yejin,” sahut Mingyu kemudian.

“Maksudnya?” Jiho tampak bingung.

“Sedari muda, dia udah terbiasa mandiri. Kalau dibandingkan dengan dia, kayaknya hidup gue lebih nyaman,” jawab Mingyu. “Meskipun gue nggak kenal bokap lama, setidaknya gue inget gimana sayangnya dia ke anaknya yang paling kecil. 

Gue baru masuk ke dapur saat kuliah, itupun karena tinggal sendiri. Kalau orang yang lebih muda dari gue aja bisa punya insting buat bertahan sewaktu orang tuanya nggak ada, harusnya gue bisa lebih dari itu, iya nggak sih?”

Alis Jiho menekuk tajam. “Siapa bilang dia lebih muda dari lu?” tanyanya.

“Hah?”

“Kayaknya dia seumuran lu. Kalaupun lebih tua, paling cuma beda satu atau dua tahun.”

Dari sudut matanya, Jiho menangkap sosok berseragam putih yang melewati meja-meja yang mulai kosong. Satu per satu tamu restoran telah berpamitan, menyisakan ruangan yang kini sunyi. Malam yang kian larut membuat nuansa temaram di ruangan semakin syahdu, seakan waktu mulai melambat. Jika Jennie tak hadir di sana, mungkin Jiho sudah buru-buru mengakhiri makan malam.

Wanita itu bagaikan pinang dibelah dua dengan kekasihnya. Senyum di wajah Jennie mengingatkan Jiho pada wanita yang ia cintai, yang saat ini mungkin sedang beristirahat di rumah, menunggu cerita darinya. Ia dapat membayangkan Yejin yang tak akan berhenti tersenyum jika ia tahu Jiho mampir ke restoran tempat anaknya bekerja hari ini.

Jiho melambaikan tangan sambil memanggil nama perempuan muda yang berjalan ke arahnya, “Jennie!”

Mingyu, yang sedari tadi sibuk mengisi penuh mulutnya dengan kudapan manis, akhirnya mendongak dan mengikuti ke mana arah pandang Jiho. Pria itu mengedipkan matanya beberapa kali. Ia yakin pernah melihat perempuan yang berjalan ke arah mereka di suatu tempat. Ketika matanya bertemu dengan mata Jennie, Mingyu serasa disambar petir. Ia tersedak.

Bagi Kim Jennie, wajah pria yang duduk di seberang Jiho tampak samar di ingatan. Butuh waktu beberapa detik bagi otaknya untuk memroses wujud asing itu, hingga Kim Jiho memperkenalkannya sebagai Kim Mingyu.

“Jennie, kenalin. Ini adikku, Kim Mingyu,” ucap Jiho, menunjuk pria di hadapannya. “Mingyu, ini Jennie. Anaknya Yejin.”

Nama itu membangkitkan suara seorang wanita dalam ingatan Jennie, yang memanggil barisan kata itu dengan lembut. Benaknya kembali pada malam di halaman belakang kantor Arkate, wajah yang tersembunyi oleh bayangan, sebungkus plester untuk kakinya yang lecet. Genggaman di pergelangan tangan Jennie yang sempat membuat hatinya bergetar.

“A, adik?” Jennie bergumam pada dirinya sendiri.

Kim Mingyu mengangkat tangan kiri, berpura-pura mengelus pelipis untuk menyembunyikan wajahnya yang memerah. Ia melirik Jennie di antara sela-sela jarinya, lalu buru-buru mengalihkan pandangan ketika menyadari Jennie sedang menatapnya. Sayangnya, Mingyu lupa bahwa telinganya pun tak dapat berbohong. Jennie melihat warna daun telinganya yang serupa kepiting rebus. 

Kecanggungan yang muncul di antara mereka luput dari mata Kim Jiho, yang sibuk oleh kegembiraan karena segelas tiramisu lezat. Kehadiran Jennie di mejanya menjadi penutup yang sempurna.

 “Sesuai janji, saya mampir ke restoran hari ini,” ucap Jiho riang, seakan menggaungkan rasa bangga itu pada dirinya sendiri.

“Terima kasih sudah mampir, Pak,” balas Jennie. “Bagaimana hidangannya? Cocok di lidah?”

Jiho mengacungkan dua jempol, yang membuat Jennie lega.

“Semuanya enak, tidak terkecuali tiramisu ini,” ia menunjuk gelasnya yang telah kosong. “Kamu yang buat, kan?”

“Iya, Pak,” jawab Jennie singkat. “Kalau mampir ke restoran lagi, jangan lupa coba torta khas Italia kami. Kalau Pak Jiho suka brownies, saya yakin juga akan suka kue itu.”

“Saya janji akan coba hidangan lain kalau mampir lagi. Ya, kan, Mingyu?”

Mingyu berdeham, lalu menarik senyum simpul.

“Oh iya, kamu selesai kerja jam berapa?” tanya Jiho kemudian. Tubuh Mingyu menegang. Ia tak suka dengan arah pembicaraan ini. Sang adik mencoba melemparkan kode kepada kakaknya untuk menghentikan ramah tamah itu, tapi Jiho tak menggubris. Di sisi lain, Jennie tak sepolos yang mereka kira. 

“Biasanya jam 10 kami baru selesai membersihkan dapur, jadi mungkin di atas jam itu,” jawab Jennie. “Tapi, saya biasa naik bus. Ada teman juga yang biasanya temenin saya pulang.”

“Dia udah dewasa juga, Jiho,” sahut Mingyu. “Bakalan canggung kalau lu antar dia pulang.”

Jiho memandang sang adik dan Jennie bergantian. Beberapa detik lalu, Mingyu baru saja memuji Jennie–yang ia kira lebih muda–sebagai perempuan yang mandiri. Namun, ketika Jiho sekedar bertanya tentang jam kerja Jennie, Mingyu menarik diri dan menentang kata-katanya. “Oke,” gumamnya, mengalihkan pandangan pada Jennie. “Hati-hati nanti pulangnya, ya.”

“Baik, saya permisi dulu,” balas Jennie, menunduk singkat. Ia berbalik dan berlalu pergi, sementara mata Mingyu tak berhenti mengikuti langkahnya.

*

“Terima kasih, Pak Jiho. Kami tunggu kedatangan Anda berikutnya,” petugas di meja resepsionis mengucapkan salam terakhirnya saat Jiho dan Mingyu berjalan beriringan meninggalkan restoran.

“Terima kasih. Selamat malam,” sapa Jiho, melemparkan senyuman kepada setiap karyawan restoran yang mengantarkan kepergiannya. Mingyu hanya menunduk, tak menghiraukan pramusaji yang menahan pintu untuknya.

Keduanya berjalan menuruni tangga depan restoran. Sebelum berpisah, Jiho memanggil Mingyu sambil melambaikan tangan, “Sampai ketemu hari Senin, Mingyu!”

Mingyu membalasnya dengan lambaian tangan, tanpa mengucapkan apapun. Ia berjalan kembali ke arah tempatnya memarkir mobil, menyusuri trotoar yang tak lagi menampung kehidupan malam kota. Sambil terus melangkah, Mingyu merogoh ke dalam saku jasnya. Ia bermaksud mengambil sekotak rokok dan korek yang ia simpan di bagian dalam jaket, tapi ia justru menarik sebuah bungkusan tipis. 

Mingyu menariknya, memandang kemasan plester luka di tangannya. Kemasannya masih baru, lembarannya belum pernah dipakai. Mingyu membelinya kemarin. Bagian sampulnya tercetak gambar-gambar lucu dan berwarna-warni, membuatnya tersenyum. Mingyu membelinya dengan harapan dapat membalas kebaikan wanita yang berbaik hati memberikan plester miliknya. Ia berharap wanita itu akan tertawa ketika melihat kemasannya. Namun, Mingyu tak mengira telah melewatkan kesempatan itu malam ini.

Chapter 15: the lunch (1).

Summary:

Di akhir bulan, waktunya Rowoon dan Jennie mampir ke rumah nenek Jennie.

Chapter Text

Good luck ya buat hari ini.

Simbol hati di akhir kalimat itu membuat senyuman di bibir Rowoon mengembang. Di saat bersamaan, ia tahu tak seharusnya merasa demikian. Setelah menyisipkan ponselnya kembali ke dalam saku jas, Rowoon menarik nafas dalam-dalam. Ia mengusap wajahnya dengan kedua tangan, mencoba menenangkan diri. Hari ini akan menjadi hari yang panjang, pikirnya.

Rowoon tahu, acaranya bersama Jennie hari ini akan menyenangkan. Setelah menghadiri undangan makan siang neneknya, mereka akan pergi menonton film dan makan malam. Belakangan ini, mereka terlalu sibuk dengan pekerjaan masing-masing hingga tak memiliki cukup waktu untuk berkencan. Pertengkaran demi pertengkaran terasa begitu melelahkan, yang jika terus berlanjut, akan merusak hubungan yang telah mereka jaga bertahun-tahun.

Acara makan siang bersama nenek Jennie telah menjadi agenda bulanan bagi Rowoon dalam beberapa tahun terakhir. Meski kehadirannya tak selalu mendapatkan sambutan yang hangat, nenek Jennie tak pernah menghalangi Rowoon untuk meluangkan waktu bersamanya. Mungkin karena rumah itu sudah lama tak disambangi oleh pria muda, mengingat ayah Jennie telah menghilang entah ke mana.

“Nenekku mungkin emang ketus, tapi kalau dia telepon, suka nanyain kamu, kok,” ucap Jennie suatu hari pada Rowoon. “Dia cuma ngerasa canggung aja ada pria ganteng main ke rumah.”

Candaan Jennie kala itu membuat Rowoon tersenyum, sekaligus memantapkan dirinya untuk meluluhkan hati si wanita tua. Pertemuan makan siang ini pun akan menjadi momen yang penting bagi mereka, mengingat sang nenek belum mengetahui rencana pernikahan Jennie dan Rowoon.

Rowoon menarik napas dan membuangnya pelan. Sebuah buket bunga mawar berwarna pink muda yang ada di kursi penumpang tak luput dari pandangan. Atas saran Lisa, sekretarisnya, Rowoon menyempatkan diri membelinya sebelum sampai di kompleks apartemen Jennie. 

Tak ada wanita yang tak luluh dengan seikat bunga, saran Lisa kemarin. 

Dengan mantap, Rowoon melangkah keluar mobil sambil menggenggam buket bunga itu. Ia melewati unit-unit gedung sebelum berbelok masuk ke tujuan, menaiki lift yang membawanya ke lantai tiga. Rowoon merapikan ujung jasnya, memastikan kerah kemeja rapi. Ia menyembunyikan buket bunga di balik punggung saat menekan tombol bel di pintu.

Suara seorang wanita terdengar dewasa, menyambutnya di interkom. “Hi, Rowoon,” suara Yejin terdengar melalui pengeras suara. “Sebentar, ya!”

Pintu dering, suara kincu diputar. Yejin, ibu Jennie, menyambutnya dengan wajah ceria. Rambutnya yang dipotong pendek terlihat rapi, seperti baru saja dipotong di salon. Ia tampak kasual dengan kaus oblong dan celana panjang. 

“Ayo masuk, Nak,” ajak Yejin, memberi ruang bagi Rowoon untuk melangkah masuk. “Bentar, ya. Jennie masih dandan.”

“Oke, Tante,” balas Rowoon. “Saya tunggu di pintu aja, ya. Biar langsung berangkat.”

“Oh, nggak mau minum atau makan snack dulu? Jennie kemarin abis eksperimen kue baru. Nggak begitu cantik sih, tapi enak, kok!” seru Yejin, sembari berjalan menuju dapur. Sosoknya tak terlihat, tapi suaranya yang ceria begitu lantang.

Jujur saja, suara Yejin yang penuh semangat terasa asing di telinga Rowoon. Rasanya sudah lama ia tak melihat dan mendengar ibu Jennie seceria ini. Bila cerita Jennie benar, mungkin Kim Jiho, pacar baru ibunya, punya dampak baik baginya. Orang bilang jatuh cinta bisa bikin mabuk kepayang. Rowoon pernah merasakannya di tahun pertama hubungannya dengan Jennie. Mungkin, ia harus bergegas untuk membangkitkan percikan itu lagi.

“Sori, ya, kalau kuenya nggak cantik,” sahut Jennie yang baru keluar kamar. Ia tampak cantik dalam balutan wrap dress berwarna putih gading, dengan pola bunga-bunga kecil di seluruh permukaannya. Rambut yang biasanya lepek dan diikat ketat, kini helaiannya jatuh dengan lembut melewati bahu, dengan sentuhan ikal di bagian ujung rambut. Wajah Jennie yang biasanya kuyu kini dipoles manis dalam riasan natural. “Namanya juga trial and error. Yang penting rasanya dulu!”

Yejin mengacungkan jempol, sambil mengambil potongan besar yang ia letakkan di piring.

“Yang di dalam kotak jangan diambil, ya, Ma. Itu buat Nenek,” tambah Jennie. Ia berlalu ke dapur, melewatkan Rowoon yang baru saja mengeluarkan buket dari balik punggungnya. Jennie melongok ke dalam kulkas, mengecek apakah kue yang ia buat kemarin masih utuh. Ia tak mengacuhkan Yejin yang mencolek pinggangnya. “Yang ini khusus aku kurangin almonnya, jadi lebih lembut.”

“Jen–”

“Kalau nggak salah kita punya kotak kue, kan, Ma? Aku pakai buat bawa kuenya, ya.”

“Jen–”

“Ini lebih enak sih kalau pakai es krim, tapi aku nggak sempat buat.”

“Jen!”

“Apa sih, Ma?”

“Itu, liat Rowoon dulu!”

Jennie berbalik dan mendapati kekasihnya sedang menatapnya dengan seikat buket mawar segar di tangan. Wajahnya mulai memerah, berdiri begitu tinggi di depan pintu.

Dengan penuh rasa bersalah, Jennie meletakkan kue untuk neneknya di meja. Ia melangkah mendekati Rowoon, segera memeluk buket itu. Ada sebuah kartu kecil terselip di antara mahkotanya yang berwarna pink muda, ditulis tangan oleh Rowoon:

Bunga ini tak dapat menggantikan hari-hari yang terlewati, tapi tetaplah mencintaiku hari ini dan esok – Rowoon.

Jennie mendekap buket itu erat, lalu melirik Rowoon yang masih tersipu malu. Ia mendekat, mengecup pipi kekasihnya singkat, “Makasih, ya. Habis dari rumah Nenek, kita main sampai puas. Oke?”

Rowoon tertawa kecil dan mengangguk. Ia mengaitkan jari-jarinya di antara jari Jennie, meremasnya lembut.

“Ehem!”

Suara Yejin membuat dua sejoli di hadapannya terperanjat. Ia menahan geli melihat tingkah Rowoon dan Jennie yang gelagapan, lupa Yejin sedang mengamati mereka.

“Udah jam berapa nih? Kalian buruan berangkat. Nenekmu kan paling benci orang yang telat!”

*

Butuh waktu sekitar 45 menit dengan mobil untuk sampai di rumah nenek Jennie yang terletak di wilayah Gangnam. Di akhir pekan, kawasan itu tak henti riuh oleh penduduk yang menghabiskan waktu di tengah kota, serta jalanan yang macet oleh kendaraan. Ramainya lalu lintas sempat membuat Rowoon frustasi, tapi Jennie meyakinkannya mereka masih punya cukup waktu sebelum jam makan siang.

Melewati tengah hari, mobil Rowoon akhirnya sampai di depan pagar rumah nenek Jennie. Ia menepikan kendaraan di sisi jalanan yang sepi, sebelum bersama Jennie berjalan menuju pintu pagar. Tak lupa menjinjing kotak kue yang ia buat khusus untuk neneknya, Jennie menekan bel pintu.

Suara seseorang menyambutnya melalui interkom. 

“Ya. Siapa, ya?” tanya suara yang terdengar muda itu.

“Haru, ini Jennie,” balas Jennie.

“Oh, Nona Jennie! Sebentar, saya bukakan pintu!”

Tak lama, Rowoon dan Jennie mendengarkan langkah kaki yang tergopoh-gopoh menuju pintu pagar. Di baliknya, suara kunci terdengar diutak-atik hingga terbuka. Seorang wanita bertubuh kecil menyambut mereka. Wajahnya bulat, dengan mata yang dibingkai kacamata bulat pula. 

“Silakan masuk,” sapa wanita bernama Haru, yang bekerja sebagai pengasuh sekaligus asisten nenek Jennie. “Bu Suji sudah menunggu.”

Jennie melangkah masuk, diikuti oleh Rowoon yang menyapa Haru dengan anggukan lemah. Keduanya melewati taman kecil dengan batu pijakan yang mengarahkan mereka ke pintu depan. Belum juga mereka sampai di teras, seorang wanita tua bergaun elegan telah menyambut. Satu tangannya bertumpu pada tongkat kayu, yang membantu langkahnya tetap seimbang.

“Sayangku!” seru Bu Suji, nenek Jennie. Tubuhnya yang ramping tampak ringkih, tapi langkahnya masih lebar dan penuh semangat. Jennie tertawa kecil, mengambil langkah yang tersisa sebelum mendarat dalam pelukan erat neneknya. 

“Seperti janji, aku bawain torta !” seru Jennie, setelah melepaskan diri dari pelukan neneknya. Ia mengangkat kotak kue yang ia genggam lebih tinggi.

“Asyik. Nanti kita makan bareng, ya!” sahut Bu Suji. Ia mengalihkan pandangan ke balik punggung Jennie, lalu melanjutkan dengan nada menggoda, “Tapi, sepertinya kamu nggak cuma bawa kue hari ini?”

Rowoon menyapa Bu Suji dengan anggukan.

“Lama nggak ketemu, Rowoon,” sapa Bu Suji.

Chapter 16: the lunch (2).

Summary:

Nenek Jennie meminta cucunya untuk menikah di akhir tahun ini. Rowoon dan Jennie panik. Mereka punya waktu kurang dari 6 bulan.

Chapter Text

“Nah kan, aku lupa lagi bawa kotak makan,” ucap Jennie di sela-sela makan siangnya bersama sang nenek dan Rowoon. Haru, sang asisten rumah tangga, tak berhenti keluar dan masuk ruangan sambil membawa kereta makanan. Saat kembali ke meja, ia segera mengisi area kosong di meja dengan beragam hidangan. Setiap masakan begitu menggoda lidah, membuat Jennie tak berhenti menelan air liur. Mulai dari ikan bakar, daging panggang, ayam goreng, berbagai macam kimchi, sup, hingga acar yang menetralisir lidah.

“Kotak makan? Buat apa, Jen?” tanya Bu Suji, neneknya, penasaran.

“Biar kalau ada sisa makanan, bisa aku bawa pulang,” balas Jennie sambil nyengir lebar. Kata-kata itu membuat Haru tersenyum. “Enak banget, Haru! Kamu emang paling jago bikin masakan tradisional!”

“Nggak usah bawa kotak pun nanti Haru bakal siapin makanan untuk kamu bawa pulang,” sahut sang nenek, menepuk punggung tangan cucunya penuh sayang. “Rowoon, makan yang banyak juga, ya. Tapi maaf kalau nanti mobilmu bau masakan rumahan.”

Rowoon, yang sedang mengisi mangkuknya dengan potongan daging, tertawa kecil. “Nggak papa, Bu,” balasnya. “Kalau aroma makanan, saya senang aja.”

“Setelah ini kami mau nonton. Jadi, maaf kalau nggak bisa lama-lama, ya, Nek,” Jennie menambahkan. “Belakangan ini kami berdua sibuk, jadi baru sekarang sempat jalan bareng.”

Bu Suji mengangguk. Sambil menyendok kuah sup, ia meyahut dengan nada datar, “Tapi kalian ke sini bukan sekedar untuk makan siang dan kencan, kan? Ada yang mau kalian bicarakan dengan saya?”

Jennie dan Rowoon saling melemparkan pandangan. Saat ia berniat membuka mulut, kekasih Jennie menahannya. Rowoon menghabiskan makanan di mulutnya terlebih dulu, meletakkan sumpit, sebelum mulai bicara.

“Bu Suji benar. Kedatangan saya dan Jennie hari ini ada maksudnya,” kata Rowoon. Ia menegakkan punggung, meletakkan kedua tangannya di ujung paha. “Kami berencana untuk menikah. Karena itu, kami harap Bu Suji memberikan restu.”

Suasana yang hangat perlahan berubah menjadi dingin ketika Bu Suji tak kunjung memberikan tanggapan. Jennie bersumpah ia dapat mendengar detak jam dinding, yang bergerak dari detik ke detik berikutnya. Dengan santai, Bu Suji mengelap bibirnya dengan serbet. Ia menarik nafas, membuat Jennie turut menarik nafas juga.

“Kapan rencananya kalian akan menikah?” tanya Bu Suji.

“Mungkin tahun depan,” jawab Rowoon, melirik ke arah Jennie. Wanita itu mengangguk, tanda sepakat.

Sebelum ulang tahun Jennie yang ke-30, langsungkan pernikahan itu.”

Jennie terkejut, begitupun Rowoon. Kata-kata Bu Suji bukan lagi anjuran, tapi perintah.

“Akhir tahun? Berarti, kami cuma punya waktu kurang dari 6 bulan, Nek,” ucap Jennie, tampak gelisah. “Dan … ulang tahunku kan di pertengahan Januari.”

“Kalau masalah kalian uang, tenang saja. Nenek akan biayai semuanya.”

“Ini bukan masalah uang, Nek,” Jennie memotong. “Rowoon punya keluarga dan bisnis yang besar. Itu artinya keluarga Rowoon perlu mengundang banyak rekan bisnis dan kolega. Jadi, kami butuh waktu untuk menyebar undangan. Belum lagi menyewa gedung dan katering. Nggak mungkin kami bisa dapat tanggal tahun ini.”

“Untuk pesta kan bisa nanti saja. Yang penting kalian menikah dulu,” balas Bu Suji dengan nada tegas. “Apa kamu nggak kasian dengan nenekmu yang sudah tua ini?”

Jennie menghela nafas, melemparkan pandangan kepada Rowoon. Namun, pria itu tak tahu harus berkata apa. 

“Belakangan ini, kesehatanku sudah menurun. Bisa jadi tahun depan aku tidak punya kesempatan untuk menimang cucu,” Bu Suji berkata lirih, menatap permukaan supnya yang bening. Namun, tatapannya kosong. “Kamu cucuku satu-satunya, Jennie. Semenjak ayahmu menghilang, aku kesepian. Apa kamu nggak mau memberi nenekmu ini sedikit kebahagiaan?”

Jennie bangkit dari duduknya, mendekati sang nenek yang tampak pilu. Ia meraih tangan Bu Suji dan menggenggamnya erat.

“Kok Nenek ngomong gitu? Nenek masih sehat, kok,” ucap Jennie, mencoba meyakinkan. Bu Suji memilih diam. “Gini aja, deh. Nanti aku dan Rowoon obrolin lagi, ya? Kami perlu diskusi dulu dengan orang tuanya Rowoon. Oke?”

Bu Suji hanya menepuk tangan Jennie lemah, tampak tak tertarik untuk membahas topik itu. 

Bibir Rowoon mengatup rapat. Ia menatap Jennie dan neneknya dalam diam, tak menyangka pertemuan dengan Bu Suji akan berakhir dengan masalah baru. 

 

Hari yang panjang bersama Bu Suji berakhir setelah kue yang Jennie bawa telah ludes setengah. Langit telah berubah kemerahan ketika Rowoon mengingatkan waktu mereka menonton film di bioskop sudah dekat. 

Setelah meneguk tetes terakhir dari teh hangat yang menjadi teman menikmati kudapan, Jennie dan Rowoon pun berpamitan. Tak lupa, Haru membawakan setumpuk kota berisi makanan yang ia janjikan, membuat Jennie gembira.

“Bulan depan kamu datang lagi, kan?” tanya Bu Suji, sambil bergandengan tangan dengan Jennie ke teras rumah. “Aku tahu akhir tahun nanti kamu pasti sibuk. Jadi, kalau ada waktu, jangan segan untuk mampir ke rumah, ya?”

“Iya, Nek. Nanti aku ajak Rowoon lagi, ya?” sahut Jennie dengan senyum merekah. Rowoon yang berjalan di depan mereka, mendengarkan dalam diam.

Bu Suji melambaikan tangannya ke arah Jennie dan Rowoon ketika pasangan sejoli itu berada di dalam mobil. Mesin menyala, menderu rendah. Rowoon menurunkan kaca mobil agar Jennie dapat berpamitan kepada Bu Suji untuk terakhir kalinya. Setelah saling melempar senyum, mobil itu pun melaju meninggalkan halaman rumah nenek Jennie.

 Di antara lampu merah dan perempatan jalan, Rowoon dan Jennie lebih banyak diam. Dalam pikiran mereka masing-masing bertaut pesan Bu Suji yang mendesak mereka untuk segera menikah. 

Jennie melirik ke arah Rowoon yang menatap lurus ke depan. Ia ingin mengungkit pembicaraan di acara makan siang itu, tapi Jennie tahu, jika mengungkit topik itu, keduanya akan bersitegang. Ia tak membutuhkan perdebatan lain, setidaknya tidak hari ini. Beberapa minggu terakhir saja sudah cukup menyesakkan, ketika setiap kali bicara mereka seringkali adu mulut. Hari ini harus menjadi hari yang menyenangkan bagi mereka.

Jennie menelan ludah, memberanikan diri untuk memulai. Namun, ia berhati-hati untuk tak menyinggung topik pernikahan. 

“Buat nonton nanti, aku yang beliin popcorn dan minumnya, ya. Kan kamu udah beli tiketnya,” kata Jennie, menghadapkan tubuhnya ke arah Rowoon.

“Oke,” sahut Rowoon singkat, sambil memasukkan gigi mobil. Kendaraan itu perlahan bergerak lagi. “Masih ada waktu. Aku isi mobil dulu, ya.”

Setelah memastikan lalu lintas aman, Rowoon membelokkan kendaraan ke stasiun pengisian terdekat. Ia memarkir kendaraan, lalu melangkah keluar untuk menggunakan mesin unit pengisi listrik. Sambil menunggu, Jennie mengecek riasan wajahnya. Warna perona bibirnya telah memudar. Jennie merogoh ke dalam tasnya untuk mencari lipstik, tapi malah menjatuhkan tabungnya ke lantai mobil.

Ia mendecakkan lidah, membungkuk untuk mencari-cari di mana lipstik itu menyusup. Bukannya menemukan permukaan licin dari wadahnya, Jennie merasakan ujung jarinya menyentuh benda bertekstur. Ia meraih lebih dalam, mengangkat benda itu ke depan mata. Sebuah anting kait berlapis emas dengan bandul berbentuk kelopak bunga kristal, berwarna pink muda.

Jennie tahu, anting itu bukan miliknya.

Chapter 17: salted and caramel popcorn.

Summary:

Jennie mencoba mengalihkan pikiran-pikiran negatif dari anting cantik yang kini tersembunyi dalam tasnya. Hari ini adalah waktu berharga baginya dan Rowoon. Namun, setelah memesan popcorn dan minuman, seseorang menabraknya. Popcorn di tangannya tumpah berhamburan ke lantai.

Notes:

(See the end of the chapter for notes.)

Chapter Text

Semenjak berbaris dalam antrean, Jennie merasakan ada yang tidak beres dengan dadanya. Sedari tadi, jantungnya terus berdegup kencang. Nafasnya berlomba, seperti sedang saling mengejar. Ia mencoba tetap tenang, pikirannya terus berputar dalam tornado yang tak tentu arah. Tangannya gemetar. Ujung-ujung jarinya terasa kesemutan dan dingin. Mungkin pendingin udara dalam ruangan ini saja yang terlalu kencang, pikir Jennie.

Meski mencoba memungkiri, Jennie tak dapat mengalihkan pikiran dari temuan misterius di lantai mobil Rowoon. Ia meremas tali pegangan tas tangannya, teringat pada anting cantik yang kini tersembunyi di dalam tasnya. Benda asing itu terhimpit di antara lipstik,  dompet, botol parfum mini, dan sebungkus tisu basah. Belum sempat memroses bagaimana sebuah anting ada di lantai mobil kekasihnya, Jennie tak sengaja membawa benda itu karena panik ketika Rowoon kembali ke mobil.

Di dalam area bioskop, di antara antrean pengunjung yang sedang menunggu giliran memesan camilan, Jennie mencoba mengatur nafas. Sesekali, ia melirik ke arah Rowoon yang sedang menunggu di sisi lain ruangan. Kepala pria itu menunduk, berkonsentrasi pada layar ponsel yang menjadi pusat dunianya. Ia tak mengacuhkan sekelompok wanita yang saling berbisik, memandang Rowoon dengan tatapan menggoda. Pemandangan seperti itu telah menjadi makanan sehari-hari Jennie. Ia tak pernah mempermasalahkan para kaum hawa yang terang-terangan mengagumi penampilan kekasihnya–karena wanita normal manapun akan menilai sama. 

Namun, Jennie tak pernah mempersiapkan skenario tentang bagaimana menghadapi perempuan yang diam-diam bertemu dengan Rowoon.

Apakah ia bertemu dengan perempuan lain di belakang Jennie? 

Bisa jadi Rowoon sedang mengirimkan pesan kepada wanita itu sekarang?

Apakah orang itu sang pemilik anting?

Mungkinkah anting itu milik ibunya?--Jennie mencoba merenungkan kemungkinan itu. Sebenci apapun ia pada Hong Suhee, Jennie berharap kemungkinan itu adalah kebenaran.

Tidak. Cukup, Jennie, ia mendengar kepalanya sendiri berbisik lirih. ‘Apa yang tidak kamu tahu tidak akan menyakitimu, Jennie’ adalah kata-kata yang pernah diucapkan oleh ibunya. Terkadang, tidak mengetahui apapun akan membuatmu tetap tenang. 

Jennie menarik nafas. Ia mengingatkan dirinya bahwa hari ini adalah hari yang spesial. Kencan ini adalah waktunya mereka bersenang-senang, menghabiskan waktu berkualitas bersama. Ia harus membuat kenangan bahagia bersama Rowoon.

“Selanjutnya!” panggil pramusaji dari balik meja konter. Jennie melangkah maju.

“Selamat sore, kak. Mau pesan apa?” tanya sang pramusaji ramah.

“Sore,” Jennie membalas sapaan itu. Ia mendengar suaranya gemetar. Jennie berdeham. “Saya pesan dua soda, satu salted popcorn, dan satu caramel popcorn, ya.

“Untuk popcorn-nya mau ukuran yang mana, kak?” tanya sang pramusaji sambil menekan layar dihadapannya. 

“Ukuran kecil aja.”

“Itu aja, kak?”

“Iya, itu aja.”

Setelah melakukan pembayaran, Jennie menunggu hingga pesanannya tiba. Ia melirik kembali ke arah sang kekasih, yang masih sibuk dengan ponselnya. Sesekali, ia memandang ke sisi kiri dan kanan, sekedar mengistirahatkan otot leher yang tegang karena terus menunduk. Di antara manusia yang berlalu lalang, Jennie kesulitan menangkap air muka yang Rowoon tunjukkan.

Ayolah, Jen, jangan mikir yang nggak-nggak. Hari ini adalah kencan yang kalian tunggu-tunggu, ucap Jennie pada dirinya sendiri. 

Seorang pramusaji akhirnya menghampiri Jennie dan memberikan seluruh pesanannya. 

“Dua soda, salted popcorn dan caramel popcorn, ya kak!” seru pramusaji itu, menyerahkan pesanan Jennie ke hadapannya. 

“Terima kasih, ya,” balas Jennie. Ia mendekap dua kotak popcorn dekat dengan dada, sementara kedua tangannya menggenggam gelas minuman yang dingin. Jennie berbalik, mengambil langkah cepat untuk menghampiri Rowoon yang masih menunggunya, ketika ia bertabrakan dengan seseorang.

“Ow!” Jennie mengerang. 

Tubuhnya hilang keseimbangan, hampir saja jatuh terjerembab ke lantai jika si penabrak tidak menangkap lengannya. Ia terpaksa mengorbankan sekotak caramel popcorn favoritnya yang jatuh berhamburan ke lantai. Kotak satu lagi pun tak sepenuhnya selamat, hanya tersisa setengah di dalamnya.

“Sori!” seru si penabrak.

“Nggak papa–” Belum selesai Jennie menjawab, sosok yang menabraknya memanggil namanya.

“... Jennie?”

Jennie menoleh. Kepalanya mendongak, bertemu mata dengan sosok tinggi yang menyembunyikan dirinya di balik tudung hoodie berwarna abu-abu muda dan masker yang membungkus separuh wajahnya. Jennie menganga ketika si penabrak menurunkan  maskernya ke dagu.

“Kim Mingyu,” gumam Jennie, mengenali wajah itu.

“Hai,” sapa Mingyu dengan senyum mengembang. Pandangannya naik dan turun, memindai Jennie dengan seksama. Ia menambahkan, “Hari ini …kamu keliatan cantik banget.”

Jennie tertegun. Begitu mudahnya pria itu memuji penampilannya, sementara Rowoon tak sedikit pun mengatakan hal manis tentang dirinya hari ini. 

“Makasih,” ucap Jennie gugup. Ia mengaitkan helai rambut ke belakang daun telinganya, yang entah kenapa terasa hangat.

“Kamu nggak papa? Sori, ya,” sambung Mingyu kemudian. Ia melihat kotak camilan Jennie yang jatuh ke lantai. “Yah, snack-mu tumpah. Aku beliin gantinya, ya?”

“Ng, nggak usah, Mingyu–” 

Tapi, Mingyu tak mendengar. Ia menoleh ke kiri dan kanan, mencari-cari karyawan terdekat untuk membantu membersihkan popcorn yang tumpah di lantai. 

“Aku makan yang ini aja,” sahut Jennie cepat. “Aku nggak begitu suka nyemil waktu nonton. Aku beli ini buat tunanganku aja, biar dia nggak ngantuk.”

Jennie menunjuk ke arah Rowoon, tapi Mingyu tampak tak tertarik. Sepasang mata di hadapan Jennie yang awalnya tampak berbinar-binar itu, tiba-tiba berubah dingin. Senyum pada bibir Mingyu menghilang. Bahunya yang lebar jatuh lemas.

“Tunangan?” tanya Mingyu dengan dahi berkerut.

“Iya,” Jennie menegaskan. Ada sunyi yang panjang di antara mereka. “Jiho nggak pernah cerita?”

Belum sempat Mingyu menjawab, seseorang yang tak Jennie kenal tiba-tiba muncul di samping pria itu. Ia mendekat dan merangkul lengan Mingyu dengan mesra. Setiap fitur wajahnya tertutup, hingga Jennie tak dapat segera mengenali wajah sosok wanita itu. Meski ia terbalut topi, kacamata hitam dan masker wajah, aura perempuan itu tak asing. Rasanya Jennie pernah melihat perempuan itu di suatu tempat.

“Kenapa, Mingyu?” tanya perempuan di sampingnya. Suaranya teredam masker, tapi Jennie masih dapat mendengarnya jelas. Dari suara itu, Jennie menyadari satu hal: perempuan itu adalah sosok cantik yang memergoki Jennie dan Mingyu di taman belakang kantor Arkate.

“Nggak papa,” jawab Mingyu cepat, menarik masker untuk menutupi wajahnya lagi. “Jen, aku ganti popcorn-mu yang jatuh, ya?”

“Ng, nggak usah. Makasih, Mingyu–”

Mingyu menggeleng, merebut popcorn yang Jennie genggam dan menggantinya dengan kotak popcorn berukuran lebih besar yang ia bawa. “Ini buat kamu aja,” ucapnya, memaksa Jennie untuk menerima jatah camilannya. Belum sempat Jennie membalas, Mingyu buru-buru pergi setelah berucap, “Have fun buat kencannya, ya.”

Nada bicara itu dingin, tak memberikan Jennie kesempatan untuk membalas dengan ucapan terima kasih. Mingyu menggandeng tangan perempuan di sampingnya dan berlalu pergi. Jennie menatap punggung Mingyu yang semakin menjauh, berharap pria itu menoleh lagi agar Jennie dapat mengucapkan terima kasih. 

“Permisi, kak,” suara seorang karyawan yang muncul tiba-tiba membuat Jennie melompat kaget. “Saya bersihkan tumpahan popcorn-nya, ya.”

“Oh, iya! Makasih ya, Mas!” seru Jennie panik. Ia menepi, membiarkan karyawan itu mengerjakan tugasnya. 

“Jen? Kenapa?” suara Rowoon terdengar di balik punggungnya. Ia tampak terkejut melihat lantai yang berantakan, sementara seorang karyawan bioskop sedang menyapunya. “Popcorn-nya tumpah?”

“Iya,” jawab Jennie. “Tapi digantiin sama orang yang nabrak aku tadi.”

“Baik banget tuh orang,” Rowoon nyengir. Jennie turut tersenyum. “Filmnya udah mau mulai. Masuk, yuk?”

Sambil menggandeng tangan kekasihnya, Jennie menyusuri lorong bioskop yang redup. Ia memeluk erat kotak popcorn besar yang Mingyu berikan padanya.

Notes:

bab berikutnya mungkin akan agak spicy--dan emosional. siap-siap, ya :)

Chapter 18: the cold bed (18+).

Summary:

Jennie dapat membiarka Rowoon memilikinya, jika saja ia tak merasa terganggu oleh seluruh kejadian yang terjadi hari itu.

Notes:

awas, awalnya agak panas 🔥🔥🔥

Chapter Text

Selepas menonton film, Jennie singgah ke apartemen Rowoon. Makan malam romantis dan  pengaruh alkohol membuat keduanya larut dalam gairah untuk saling memeluk erat. 

Dalam kamar tidur Rowoon, kegelapan menyembunyikan mereka dari dunia yang belum siap untuk terlelap. Aroma sandalwood dari pewangi yang pernah Jennie hadiahkan pada Rowoon tercium tipis, membuatnya lebih santai. Seperti pemutar musik yang tombol volumenya diputar perlahan, suara-suara dunia pun teredam. Di antara desahan nafas dari bibir yang saling bertaut, dunia mereka seketika mengecil. Kini hanya tinggal mereka berdua, tak ada orang lain.

Jennie melingkarkan lengannya pada leher Rowoon, memeluk pria itu semakin erat ketika ia mencumbunya lebih dalam. Nafas Rowoon yang hangat menyentuh kulit, mengirimkan sinyal elektrik ke sekujur tubuh Jennie. Ia melepaskan nafas panjang saat Rowoon mendaratkan ciuman di sepanjang sisi lehernya. Tangan Rowoon meraba-raba, berhenti pada tali pengikat gaun yang Jennie kenakan, lalu melonggarkannya. 

Pria itu membaringkan Jennie di tempat tidur, dengan perlahan membuka kancing kemejanya satu per satu. Seprai yang menyentuh kulitnya terasa dingin saat Jennie mengamati kekasihnya dalam diam. Jari-jarinya menyusuri setiap lekuk tubuh Rowoon yang nikmat di pandang. Lehernya yang jenjang, dadanya yang bidang, panas tubuhnya yang berbaur dengan tubuh Jennie ketika ia memeluknya.

Dengan lihai, Rowoon melucuti gaun Jennie, hingga tak ada sehelai baju pun yang memisahkan tubuh mereka. Jennie merengkuh pria itu dalam pelukan erat, tak menghalangi hasrat yang Rowoon bagikan lewat ciuman dan belaian di sekujur tubuhnya. 

Jennie mendesah ketika bibir Rowoon mengulum satu titik di lehernya. Tangan sang kekasih yang meremas pangkal pahanya, mengarahkan kaki Jennie untuk memeluk area pinggangnya. Setiap kali pinggul mereka bergesekan, hasrat Jennie untuk memiliki pria itu semakin tinggi.

“Rowoon…” bisiknya lirih. Ujung-ujung kukunya mencengkeram punggung pria itu, membuat Rowoon mengerang. “Rowoon…”

“Hm?”

Jennie mengigit bibirnya ketika merasakan pangkal paha Rowoon menekannya lebih kuat. Tubuhnya memanas. Jennie tak dapat berpikir jernih. Ia merasakan ereksi itu, dipisahkan oleh selembar kain tipis dari pakaian dalamnya. 

Dalam sekejap mata, hari yang mereka lalui hari itu melintas di benaknya. Bak film picisan yang diputar cepat dalam bioskop, setiap kejadian hari itu muncul di mata Jennie, dan ia tak bisa menghentikannya. Suara neneknya yang ingin ia menyegerakan tanggal pernikahan. Anting asing di lantai mobil Rowoon. Mingyu dalam balutan hoodie, pertama kalinya bagi Jennie melihatnya tampil kasual. 

Anting itu masih ada di dalam tas Jennie. Jantungnya yang berdebar karena sentuhan Rowoon, perlahan berbelok untuk alasan yang berbeda.

Tanpa aba-aba, Jennie melepaskan peluknya, menahan tangan Rowoon dari melepaskan pakaian dalamnya lebih jauh. 

Pria di hadapan Jennie terkejut, hingga hanya dapat mematung saat separuh tubuhnya masih menghimpit Jennie. Wajahnya tampak bingung, dan Jennie memaklumi.

“Sayang,” bisik Jennie, sambil menangkupkan wajah Rowoon. “Gimana … kalau kita nikah Desember ini?”

Tubuh Rowoon seketika bergeming. Perlahan, ia menarik diri. Meski tak dapat melihat ekspresi wajah Rowoon yang tertutup bayangan malam, tapi Jennie tahu pria itu tak senang. Pria itu mungkin berpikir bahwa Jennie sudah gila, dan dugaannya benar.

“Kamu gila, ya?” ucap Rowoon ketus. “Kamu tahu itu nggak mungkin, Jen.”

Jennie meraba-raba permukaan tempat tidur, segera membalut tubuhnya dengan gaun yang sempat Rowoon tanggalkan.

“Aku merasa Nenek ada benarnya juga,” sahut Jennie sambil menunduk. Ia tak berani menatap mata kekasihnya–karena Jennie tahu, alasan terbesarnya hingga usulan itu keluar dari mulutnya bukan karena demi sang nenek semata. “Kita nggak perlu ngadain pesta mewah, cukup keluarga aja dulu–”

“Nggak,” potong Rowoon tegas. Sambil turun dari tempat tidur, pria itu menggelengkan kepalanya tak percaya. Ia meraih celana yang tergeletak di lantai, buru-buru memakainya. “Aku nggak bisa nikah tahun ini, Jen! Kamu tahu itu!”

Nada bicara Rowoon yang meninggi menggiring Jennie ke tepian emosi. Ia mencoba untuk tetap tenang, tapi reaksi Rowoon membuat Jennie mempertanyakan apakah ia benar-benar menginginkan pernikahan mereka.

“Kenapa nggak bisa?” Jennie mendengar suaranya gemetar. “Karena gengsi keluargamu? Karena ada rencana bisnis yang nggak bisa ditunda? Beri aku alasan kuat supaya aku nggak berubah pikiran, Rowoon!”

Rowoon merenggut kemeja dari lantai, buru-buru memakainya. Ia mencoba mengaitkan setiap kancingnya dengan cepat, tapi justru melewatkan sebuah lubang hingga membuatnya berantakan. “Karena,” Rowoon berkata, “akhir tahun banyak agenda penting perusahaan yang nggak bisa aku tinggalin, Jen! Aku aja takut nggak punya waktu untuk kamu! Untuk kita! Apalagi untuk pernikahan!”

“Aku yang akan urus semua! Kamu cukup atur waktu kosong, datang, tanda tangan dokumen. Udah!” sahut Jennie tak kalah sengit. Ia duduk di tepi tempat tidur, sebelum melangkahkan kaki ke arah Rowoon. Jennie menarik lengan pria itu dan memaksanya untuk berputar, menghadapinya. “Atau, kita bisa nikah dulu, baru kasih tahu orang tuamu! Setidaknya, kita udah dapat restu ayahmu, kan?”

Rowoon menghela nafas, melarikan jari-jari di antara rambutnya.

“Hubungan keluargaku nggak segampang itu, Jen. Aku nggak bisa sekedar menikah di catatan sipil,” balas Rowoon dengan suara lembut. “Nggak ada sejarahnya keluargaku menikah dengan sederhana. Bahkan sepupu-sepupu aku juga gitu. Muka orang tuaku mau taruh di mana?!”

Jennie tak mengerti. “Sebenarnya yang mau menikah itu siapa sih? Kamu atau keluargamu?” tanya Jennie dengan suara gemetar.

“Dua-duanya!” Rowoon berteriak, mengangkat kedua tangannya ke udara. “Kamu nggak akan pernah mengerti rasanya lahir di keluarga yang punya reputasi publik, Jen. Pernikahan ini beban buatku!”

Seketika, Jennie merasa lemas. Ia mengambil langkah mundur, yang membuat Rowoon tersadar bahwa ia telah kelewatan. 

“Bu, bukan–Jen, maksudku–”

Jennie menampik tangan Rowoon yang mencoba meraihnya. Ia mendudukkan diri di tepi tempat tidur, mengulang kata-kata terakhir Rowoon di kepala. Menyadari kesalahannya, Rowoon jatuh berlutut di hadapan Jennie.

“Maksudku bukan gitu–Jen, aku mau nikah sama kamu,” Rowoon tampak panik. “Kamu nomor satu buatku, Jen!”

Kata-kata itu melambungkan amarah yang tertahan di dada Jennie, melesat hingga ke kepala. Seketika, Jennie teringat ucapan Bambam. 

‘Kalau dia bilang lu nomor satu, berarti ada nomor dua.’

Jennie mengurut kepalanya yang terasa sakit. Anting asing yang tersimpan di dalam tasnya. Rasanya Jennie ingin menangis. Ia tak tahan lagi.

“Jen, maafin aku. Aku nggak bermaksud ngomong gitu,” Rowoon berdalih. Ia menggenggam tangan Jennie erat-erat. “Ayolah. Hari ini harusnya jadi hari yang fun buat kita, kan? Bisa, kan, kita nggak berantem dulu?”

Bibir Jennie terasa kering. Begitupun tenggorokannya. Ia mengatur nafas, menarik diri dari Rowoon. “Aku mau pulang,” ucap Jennie, sembari berbisik kepada dirinya sendiri agar tidak menangis.

“Pulang? Kenapa?” tanya Rowoon panik.

“Aku nggak bisa ngobrol sama kamu kalau kepalaku penuh,” jawab Jennie. Ia tak mengindahkan tatapan heran Rowoon, lanjut berlalu mencari tasnya yang sempat ia tinggalkan di sofa ruang TV. “Kita bicara lain kali aja.”

“Bentar dulu, Jen–” Rowoon bangkit, mengejar Jennie yang telah melangkah keluar kamar. Ia mengikutinya hingga ke ruang TV. 

“Aku pulang sendiri aja. Kamu nggak usah nganter.”

“Jangan gitu, dong. Aku anter aja, ya? Ini udah malem.”

Langkah Rowoon tertahan ketika Jennie berbalik. Rasanya seperti ada seseorang yang mencengkeram jantungnya dan melumatnya menjadi bongkahan kecil. Pria itu merasa kecil melihat Jennie yang berderai air mata.

Please, Rowoon,” suara Jennie gemetar. Bibirnya turut gemetar, tampak pucat. “Aku butuh waktu sendiri. Oke?”

Rowoon mengalah, telah kehabisan kata-kata untuk meyakinkan wanita di hadapannya. Ia berdiri diam, membiarkan Jennie yang sedang merapikan gaunnya sambil menekan kontak di ponsel. Di antara sayup-sayup suara deru kendaraan di balik tirai, Rowoon mendengar Jennie bicara dengan seseorang. 

“Jisoo? Lagi ngapain? Bisa tolong jemput aku, nggak?” suara lirih itu mencoba tetap tegak, menopang tubuh yang lelah. Jennie menghapus ingus yang tak berhenti mengalir dari hidungnya, serta air mata yang jatuh deras menemani nafasnya. “Aku di tempatnya Rowoon.”

 

Tiga puluh menit berikutnya berlalu begitu saja di antara Rowoon dan Jennie, yang duduk di sofa tanpa saling bertukar kata. Suara Jennie yang masih sesenggukan terdengar jelas di telinga Rowoon. Tapi ia tak dapat memikirkan kata-kata yang cukup baik untuk menenangkan kekasihnya. Karenanya ia memilih untuk merapatkan bibir.

Bel pintu berdering. Jennie bangkit dari duduknya, diikuti oleh Rowoon. Keduanya berjalan ke arah ruang depan, menyambut Jisoo yang muncul dari balik pintu. 

“Hai,” sapa Jisoo, menghiasi bibirnya dengan senyum simpul. Ia melemparkan pandangan ke arah Rowoon dan Jennie. Meski sulit, Jisoo menahan diri untuk tidak berkomentar ketika bertemu mata dengan Jennie–yang tampak kuyu dengan mata bengkak dan riasan wajah yang telah memudar. Di belakangnya berdiri Rowoon, yang menyapa Jisoo dengan anggukan singkat. Kemeja yang ia kenakan tampak kusut. Jisoo menambahkan, “Bambam ada di bawah, nungguin di mobil.”

Jennie mengerti. Saat mengenakan sepatunya, ia mendengar Rowoon memanggilnya, “Kasih tahu aku kalau kamu udah tenang, ya. Kita bicarakan lagi nanti.”

Memilih untuk tak menggubris, Jennie meninggalkan apartemen Rowoon dengan hati terluka. Terlepas dari kata-kata yang penuh emosi, Jennie tak bisa melupakan ucapan Rowoon yang melihat rencana pernikahan mereka sebagai ‘beban’. 

Meski telah bertahun-tahun bersama sejak masa kuliah, Jennie tak pernah memaksa Rowoon untuk menikahinya. Pria itu yang memutuskan sendiri untuk mengajak Jennie makan malam romantis. Di musim semi, sebuah cincin yang tersembunyi dalam potongan kue cokelat, menjadi simbol dari komitmen Rowoon untuk setia kepadanya. Malam itu, Jennie tak punya alasan untuk menolak. Ia mencintai Rowoon sepenuh hati, selalu berada di sisinya meski terintimidasi oleh tekanan keluarga.

Bila Jennie tahu bahwa ia adalah sebuah beban, ia tak akan pernah menerima lamaran itu.

“Jen,” panggil Jisoo. Jennie menoleh dan menangkap sahabatnya sedang menyodorkan sebuah kardigan. “Malam ini agak dingin. Pakai ini, ya.”

Jennie mengambil pakaian rajut itu dari tangan Jisoo dan memakainya. Akhirnya, tubuhnya terasa hangat. Mereka berdua berjalan dalam keheningan menuju lift. Sebuah mobil di lantai dasar sedang menunggu, bersama Bambam di kursi kemudi.

Chapter 19: the architects.

Summary:

Semenjak bertemu dengan Jennie versi bioskop, Mingyu tak dapat berhenti memikirkan wanita itu. Bahkan, ia hampir membuat Jiho kesal dan mengacaukan rapat mingguan di kantor Arkate.

Notes:

ada yang bisa bayangin Mingyu (dan Seungcheol) jadi arsitek? hehe. Awalnya aku berniat untuk membuat duo CXM ketemu tiga orang, tapi kayaknya kalau kebanyakan tokoh malah tambah pusing.

Chapter Text

Belakangan ini, Kim Mingyu merasa ia bukan menjadi dirinya sendiri. Setiap kali ia bersama dengan seorang teman wanita, pikirannya tak pernah ada di tempat. Tubuhnya masih bereaksi alami ketika bersanggama dengan lawan main. Namun, seminggu ini kepalanya tak sedetik pun beranjak dari pertemuannya dengan Kim Jennie.

Kim Jennie versi bioskop, bukan pekerja restoran berwajah kusut. Mingyu tak dapat melupakan wujud menawan dalam gaun putih ketat bermotif bunga, bukan seragam kerja ala chef berwarna putih yang dua nomor kebesaran. Rambut hitam yang biasanya diikat kuat membentuk cepol di belakang kepala, tergerai dan mengembang menutupi dada. Kakinya yang molek, tak terbungkus oleh celana kerja yang membatasi pandangan Mingyu untuk berimajinasi.

Terlepas dari keindahan fisik yang membayangi Mingyu setiap kali ia punya waktu lengang, ia pun tak bisa melupakan satu kata yang terucap dan menghancurkan rencananya untuk menggoda Jennie lebih jauh. 

Wanita itu telah memiliki seorang kekasih. Lebih tepatnya, tunangan. Seorang calon suami. Sebuah status serius yang belum pernah Mingyu lalui.

Seperti halnya memetik setangkai bunga di ladangnya, akan ada satu kuntum yang spesial, yang tak akan pernah berani ia usik. Yaitu bunga yang telah menjadi milik orang lain.

“Mingyu.”

Sayangnya, ada kenyataan yang akan menjadi bagian dari kehidupan Mingyu dalam dua bulan ke depan. Ia tahu tak akan bisa menghindari Jennie setelah kakaknya, Jiho, menikahi Yejin, ibu Jennie.

“Mingyu.”

Apa mungkin seseorang mengalami deja vu yang sama persis untuk kedua kalinya? Mingyu penasaran. Dan ia tak yakin siap untuk menghadapinya, lagi.

“Kim Mingyu!”

Mingyu tersentak dari kursi selepas namanya dipanggil untuk ketiga kalinya. Punggungnya menegak, mata memindai selusin wajah yang menatapnya bingung. Mingyu lupa, ia sedang berada di tengah rapat evaluasi mingguan ketika pikirannya berkeliaran tentang Kim Jennie.

Kim Jiho, berdiri di samping papan presentasi, bertolak pinggang. Wajahnya menegang, dengan mata yang menatap tajam ke arah sang adik. Langit mendung di balik punggung Jiho membuatnya terlihat sepuluh kali lipat lebih mengerikan. “Anda sudah siap untuk presentasi perkembangan perencanaan gedung Lumina?” tanya Jiho dalam geraman rendah. “Kalau ngantuk, cuci muka dulu sana.”

“Maaf. Saya sudah siap,” jawab Mingyu singkat. Sambil membawa laptop kerjanya, ia berdiri menuju sisi depan ruang rapat kantor Arkate. Mingyu mengoneksikan perangkatnya dengan proyektor, menampilkan hasil kerjanya minggu lalu.

Mingyu menarik nafas panjang dan membuangnya pelan. Dalam sekejap, ia menguasai diri. Sambil menebar senyum kepada seluruh peserta rapat, Mingyu berkata, “Mohon maaf tadi saya melamun sebentar. Maklum, belum ngopi.”

Kata-kata itu mencairkan suasana. 

“Oke. Saya mulai saja presentasinya,” lanjut Mingyu. Warna layar berubah menjadi terang, menampilkan denah rancangan bangunan Lumina, sebuah gedung bertingkat yang menjadi tanggung jawab Mingyu. “Minggu kemarin saya sudah bertemu dengan tim konsultan struktur. Mereka memberikan dua pilihan untuk area pameran yang ada di lantai dua, yang menjadi masalah terbesar dalam perancangan Lumina.”

Mingyu menunjuk sebuah area luas di tengah gambar bangunan yang tampil di papan presentasi. 

“Pertama,” Mingyu mengangkat jari telunjuknya. “Jika ingin area ini clean dari kolom, hal itu bisa dilakukan dengan memperbesar ukuran kolomnya. Dengan begitu, bentang baloknya bisa diperpanjang. Dengan konsekuensi, fondasi berarti harus diperdalam dan peningkatan biaya struktur karena ukuran kolom dan balok otomatis membesar. Which means, it will cost a lot of money.”

Mingyu mendengar para peserta rapat menggerutu dalam gumaman rendah. Ia sudah pernah bilang, desain bangunan yang dinamis adalah musuh besar para konsultan struktur, tapi tak ada yang mau mendengarnya.

“Yang kedua,” ia melanjutkan, membentuk huruf V dengan dua jari. “Kita bisa memindahkan area pameran ke lantai teratas, yaitu lantai lima. Dengan begitu, biaya struktur tidak akan membengkak. Tapi, ada kemungkinan memperburuk hasil feasibility study ke depannya. Karena ruang pameran di lantai atas tidak menguntungkan untuk dijual.”

Seketika, ruang rapat dipenuhi oleh suara dengungan dari para penghuninya. Mereka saling beradu pendapat, bertahan pada pandangannya masing-masing. Dari tepi mata Mingyu, Jiho terlihat memijat dahi.

 

“Nih.”

Mingyu melirik ke arah sebuah kopi kaleng yang disodorkan oleh Jiho. Ada bulir-bulir air yang mengembun di permukaan kaleng aluminium itu, membuat Mingyu gusar tetesannya akan membasahi perangkat PC-nya. 

Ia cepat-cepat mengulurkan tangan, menerima minuman dingin itu. “Thank you,” ucap Mingyu.

“Gue bisa gila kalau proyek Lumina itu nggak kelar-kelar,” Jiho mengeluh, lalu meneguk kopi kaleng miliknya sendiri. Rapat yang panjang seakan merenggut separuh nyawa Jiho hari itu. Belum juga jam kerja selesai, lengan kemejanya telah tergulung hingga ke siku, kusut, dengan ikatan dasi yang longgar. “Kalau desainnya berubah lagi, gue enggak yakin owner mau terima. Tapi, kalau desainnya tetap sama, apa iya menguntungkan?”

Mingyu menarik senyum simpul, bersimpati dengan Jiho yang mendadak tampak sepuluh tahun lebih tua dari usianya saat ini. Jarak 20 tahun di antara mereka sudah cukup sering membuat orang mengira Jiho adalah ayah Mingyu. Sayangnya, mereka salah. 

Setidaknya, vitalitas ayah mereka menurun pada sang adik.

“Menurut gue nih, ya. Ambil resiko terkecil aja. Gue emang nggak ngerti bisnis, tapi revenue bisa aja dicari kalau lokasinya strategis,” sahut Mingyu lugas. Jiho menghujamnya dengan tatapan yang sama, seperti saat ia memergoki adiknya melamun di tengah rapat.

“Dan sebagai kakak lu, gue ingetin jangan ngomong kayak gitu di depan owner,” Jiho mengancam. “Kalau nggak ngerti bisnis, mending lu diem aja. Oke?”

Mingyu mengangkat kedua tangannya, mengaku salah karena bicara sembarangan. Jarinya mengait pada pembuka minuman kaleng di tangan, ketika seorang pria berdiri di antara Jiho dan Mingyu. Ia memandang Mingyu, seakan tak percaya rekan kerjanya masih duduk santai.

“Oi, kok lu belum siap, sih? Ayo!” ajak pria itu.

Jiho dan Mingyu saling melempar pandangan, lalu beralih pada pria di antara mereka. Choi Seungcheol, teman kuliah sekaligus rekan kerja Mingyu sesama arsitek, mendecakkan lidah.

“Gue kan udah bilang kemarin. Meeting dengan Terrahaus dipindah hari ini!” pekik Seungcheol. “Kita udah harus jalan biar nggak kejebak macet. Buruan! Gue tunggu di tangga!”

Belum sempat Mingyu membalas, rekannya telah berlalu dengan langkah yang panjang. Jiho tak kalah keheranan. Tak hanya karena Seungcheol bertingkah seperti orang kerasukan, tapi juga nama yang keluar dari mulutnya.

“Bentar,” Jiho membelalak pada Mingyu yang sedang menyesap kopinya. “Kalian mau ketemu sama orang Terrahaus? Sejak kapan?”

“Sejak hari ini,” jawab Mingyu setelah menelan minuman dingin di tangannya. Ia meletakkan kaleng di meja, lalu mengambil jaket yang tersampir di punggung kursi. “Seungcheol bilang dia ada kenalan orang dari pengusaha properti itu. Mau ngajak makan siang sambil bahas rencana proyek baru mereka.”

Jiho menganga. Dengan suara gemetar, ia memastikan kembali bahwa adiknya tak sedang salah ucap. “Terrahaus? Pengusaha properti gede itu? Serius, Mingyu?” tanyanya. 

“Tapi, jangan berharap banyak, ya,” tambah Mingyu cepat-cepat. “Sebenarnya Seungcheol nggak mau cerita karena nunggu lampu hijau dari si orang dalam ini dulu. Barusan dia kelepasan gara-gara ngamuk–”

“KIM MINGYU! BURUAN!”

Mingyu dan Jiho terkesiap mendengar jeritan Choi Seungcheol yang menggelegar dari arah tangga. 

“Iya! Iya!” balas Mingyu, buru-buru meraih tas kerja dan laptop yang ia simpan di samping meja kerja. “Gue pergi dulu, ya.”

“Eh, gue perlu ikut, nggak?” tanya Jiho, matanya mengikuti sang adik yang berlari-lari kecil meninggalkan kantor. 

“Nggak usah. Ntar aja tunggu sinyal dari Seungcheol dulu!” teriak Mingyu sepanjang lorong, di antara meja-meja kerja yang diisi oleh para karyawan muda. 

“Oke, ati-ati, ya, adikku!” seru Jiho dengan girang, melambaikan tangannya di udara dengan semangat. “Semoga sukses, ya! Kabarin kalau lampu ijo!”

Saat matahari sedang tinggi-tingginya, mobil sedan yang Mingyu kendarai telah menempati area parkir Alternata, sebuah restoran eksklusif di pinggiran Gangnam. Seungcheol yang duduk di kursi penumpang, mengecek waktu yang ditunjukkan jam tangannya.

“Oke, kita nggak telat,” ujarnya, sebelum melangkah turun dari mobil. Mingyu mengikutinya, sambil memegangi perut yang mulai keroncongan. Ia memicingkan mata dari sinar matahari yang menyilaukan, sementara Seungcheol mengambil tas kerja mereka di kursi belakang.

Setelah memastikan tak ada yang tertinggal, Mingyu mengunci mobil. Langkahnya beriringan dengan Seungcheol, melewati pintu depan kafe bergaya mediteranian itu. Sambutan dari udara sejuk yang meliputi area meja resepsi menyegarkan tubuh mereka.

Resepsionis yang siaga di balik meja menyapa mereka. “Selamat siang, Pak. Apakah sudah ada janji sebelumnya?” tanya si pegawai muda.

“Reservasi atas nama Lisa Manoban,” balas Seungcheol, mendekati meja. Mingyu tak henti mengamati sekeliling, begitu takjub ada restoran yang begitu elok di tepi distrik. Ia belum menyadari, pertemuannya dengan Lisa Manoban–dan seorang pria muda yang duduk di sisinya–akan memutarbalikkan dunianya.

Chapter 20: the meeting at alternata.

Summary:

Seperti mendapat tamparan keras di wajah, Mingyu tak menyangka ia tengah berhadapan dengan Rowoon, pria terpenting dalam hidup Jennie saat ini. Kehadiran Lisa di tengah makan siang itu pun meninggalkan misteri.

Notes:

AKHIRNYA CHAPTER 20! Rencananya, cerita ini mau aku modifikasi dengan nama tokoh orisinil, untuk kemudian diunggah di Wattpad.

Terima kasih yang udah membaca, mampir, bahkan sekedar lewat. Ngeliat angka viewnya naik sedikit demi sedikit aja udah buat aku senang hehe. Cerita ini masih akan berlanjut kok (dan seperti bakal lebih panjang dari target awal), jadi doakan aku terus semangat nulisnya, ya!

Chapter Text

“Halo. Udah nunggu lama, ya?” seru Seungcheol.

Rekan kerja sekaligus senior Mingyu itu bergegas, mempercepat langkah setelah mengenali wajah pasangan yang duduk di dekat jendela. Keduanya tampak serasi dalam balutan pakaian serba hitam, saling berbisik mesra sebelum kedatangan Seungcheol memecah suasana.

Seungcheol mengulurkan tangan, menjabat tangan kedua sosok di hadapan mereka dengan erat. Setelah menyapa pria berjas hitam, nada bicara Seungcheol melembut pada si wanita.

“Hai, Lisa,” sapanya.

Perempuan itu tinggi semampai, dengan rambut hitam yang diikat, membentuk gelung di belakang kepala. Poninya turun menutupi dahi, dengan sepasang mata yang menatap tajam. Beberapa helai rambut yang jatuh alami di samping wajahnya bagaikan bingkai hitam, membuat mata Mingyu tak dapat beralih dari wajahnya yang anggun. Dari caranya berjabat tangan, Mingyu tahu kehadiran wanita itu di antara tiga orang pria bukanlah sekedar asesoris. 

“Akhirnya kita ketemu lagi, Seungcheol,” balas Lisa, menyunggingkan senyum ala korporat. Intonasinya saat bicara terdengar rendah, berhati-hati, menguatkan pesona elegan yang melengkapi bahasa tubuhnya. Saat bersalaman, Lisa menjaga postur tubuhnya tetap tegak. “Terima kasih karena udah bersedia datang. Oh iya, kenalin. Beliau adalah Direktur dari Terrahaus Property, yang menangani seluruh proyek properti di Seoul.”

Mingyu harus mengakui, pria yang berdiri di samping Lisa tampak mempesona. Tak  hanya parasnya, tapi tubuhnya yang proporsional membuat Mingyu bertanya-tanya mengapa ia tak menjadi seorang model saja. Dagunya terangkat tinggi, mencerminkan didikan orang tua yang disiplin, arogan, dan menjunjung tinggi kehormatan keluarga.

Pria itu mengulurkan tangan ke arah Mingyu. Saat tangan mereka bertemu, ia memperkenalkan dirinya sambil meremas dengan tegas. “Nama saya Kim Rowoon. Salam kenal,” ucapnya.

“Saya Kim Mingyu,” balas Mingyu. Ia beralih pada Lisa Manoban, yang memperkenalkan dirinya sebagai sekretaris Rowoon.

Setelah saling memperkenalkan diri, mereka pun duduk kembali di kursi masing-masing.

“Mingyu ini adik kelas saya sewaktu kuliah. Sekarang kami rekan dalam tim yang sama di Arkate,” Seungcheol menjelaskan, menepuk bahu Mingyu kuat-kuat. “Baru-baru ini dia pulang setelah menyelesaikan kuliah S2 di Jerman. Sebelumnya, dia jadi bagian tim kakaknya. Tapi, setelah Jiho lebih fokus sebagai CEO, Mingyu sekarang jadi bagian dari tim saya.”

Wajah Rowoon dan Lisa berubah setelah mendengar nama yang terdengar familier. Alis Rowoon terangkat tinggi, seakan-akan ia sedang mendengar sebuah fakta yang mengejutkan.

“Jiho? Maksud Anda Kim Jiho?” tanya Rowoon, tampak antusias.

Seungcheol dan Mingyu saling pandang. “Pak Rowoon kenal?” tanya Seungcheol.

“Dibilang kenal pun, jujur saja kami belum pernah ngobrol. Lebih tepatnya, kami sebentar lagi menjadi keluarga.”

Mingyu mengerutkan kening. Tiba-tiba ia merasakan firasat tak enak.

“Situasi di antara kami agak membingungkan. Bagaimana menjelaskannya, ya?” Rowoon tertawa kecil, tampak gugup. Ia melirik ke arah Lisa yang tampak tak tertarik dengan pembicaraan itu. Seorang pelayan mendekati meja, menyerahkan dua buku menu kepada para pengisi meja itu. “Kim Jiho akan segera menikahi ibu dari calon istri saya.”

Waktu yang bergulir memberikan kesempatan pada Mingyu untuk mencoba mencerna kalimat itu. Rowoon mengenal Jiho. Jiho akan menikahi Yejin. Yejin mempunyai seorang putri. Jennie. Perlahan, kata-kata Rowoon mulai masuk akal. 

Sementara itu, Seungcheol masih tampak kebingungan. “Maaf, saya masih bingung,” ucap Seungcheol. 

“Jadi, saya sedang bertunangan dengan seseorang. Dan ibu dari tunangan saya ini akan menikahi Kim Jiho bulan depan,” Kim Rowoon menjelaskan.

Selama sepersekian detik, jantung Mingyu berhenti berdetak. Air muka yang ia jaga tetap tenang seketika menegang. Ia tak percaya dengan apa yang barusan Rowoon katakan. Mingyu menatap pria itu lekat-lekat, mendengar suara yang berbisik pada dirinya: pria ini adalah tunangan dari Jennie.

Seungcheol menyipitkan mata, mengulangi setiap penjelasan Rowoon. “Oh,” sahutnya kemudian. “Berarti …kalian berdua akan segera jadi saudara-ipar? Saudara-ipar-tiri? Apa sebutannya, ya?” 

Jari Seungcheol menunjuk Mingyu dan Rowoon bergantian.

Rowoon mengerutkan kening, melemparkan tawa kering. “Mungkin? Saya sendiri juga tidak yakin sebutannya apa,” sahutnya, tampak bingung.

Di antara dua pria yang sedang mencoba mengurai status di antara pihak yang terlibat, Mingyu telah memahami situasi itu sepenuhnya. Kim Rowoon adalah tunangan Jennie. Ia mendengus pelan, tak menyangka dunia sekecil ini.

“Daripada pusing, gimana kalau kita pesan makanan dan minuman dulu?” Lisa memotong obrolan, menyerahkan buku menu kepada Mingyu. Pria itu menerimanya dengan canggung. Setidaknya, ia dapat kembali fokus pada perut yang keroncongan.

*

Sinar matahari di luar restoran mungkin dapat setiap permukaan benda di bumi mendidih, tapi tidak di dalam area makan resto Alternata. Awal yang canggung berangsur mencair berkat keahlian Mingyu dalam bersosialisasi. Mungkin ini maksudnya Seungcheol mengajaknya untuk ikut serta dalam acara makan siang bersama petinggi muda dari Terrahaus Property. Terlepas dari pikirannya yang masih bertarung dengan kenyataan bahwa Rowoon adalah wujud pendamping yang sempurna, Mingyu tetap bertugas sebagai perpanjangan tangan dari Arkate. 

Rencana pengembangan bisnis perumahan di luar kota tercetus dari bibir Rowoon, yang tampak bersemangat saat membicarakannya. Bila mereka dapat menjaga suasana tetap stabil, Seungcheol dan Mingyu dapat berharap besar pada kenaikan gaji karena berhasil mendekati pengusaha properti terbesar di Seoul.

“Pak Rowoon, kalau ada waktu luang, main saja ke kantor Arkate,” Seungcheol melemparkan serangan. “Jiho pasti senang bertemu Anda.”

“Saya juga maunya begitu, tapi bulan depan saya ada urusan keluar kota,” jawab Rowoon, mengelap tepi bibirnya dengan serbet.

Mingyu mendongak dari piringnya. “Berarti Anda akan melewatkan pernikahan Jiho?” tanyanya.

Rowoon mengeluarkan desahan panjang. Ia menambahkan, “Sepertinya begitu. Saya juga maunya datang, tapi jadwal saya sudah padat sampai akhir tahun.”

“Bulan Desember kantor juga akan sibuk untuk tutup buku,” sahut Lisa. “Herannya lagi, Pak Rowoon sempat-sempatnya nanya saya gimana kalau dia menikah di akhir tahun ini?”

“Lisa.”

Rowoon melemparkan pandangan geram kepada sekretarisnya. Seungcheol dan Mingyu saling melirik. Sepertinya mereka baru saja mendengar sebuah rahasia yang tak seharusnya dibeberkan.

“Kalau boleh tahu, Anda kenal Lisa di mana, Seungcheol?” tanya Rowoon, mengalihkan pembicaraan.

“Saya dan Lisa pernah kerja di kantor yang sama. Waktu itu saya masih berstatus karyawan magang dan Lisa sebagai sekretaris intern bos kami,” Seungcheol menjelaskan, sambil memotong daging panggang dalam piringnya. “Nggak tahu sih Lisa masih inget atau nggak, tapi ada sekretaris senior galak yang hampir setiap bikin Lisa nangis.”

Lisa tertawa kecil. 

“Seniorku itu memang galak, tapi aku belajar banyak dari dia,” sahutnya. Lisa menyesap minuman dingin di sisinya. “Kalau bukan karena dia, karirku nggak akan menanjak seperti sekarang. Terakhir ketemu, dia sudah pensiun dini dan kini menjadi ibu rumah tangga.”

“Oh ya? Sayang banget. Meski galak, aku akui dia sekretaris yang hebat. Bahkan kadang aku bingung siapa sebenarnya yang bos dan karyawan,” canda Seungcheol, mencairkan suasana.

“Memang dia sekretaris yang hebat,” sahut Lisa. “Tapi, menurutku menjadi seorang ibu rumah tangga pun bukan tugas yang ringan. Bisa dibilang, ibu rumah tangga justru pekerjaan yang nggak ada istirahatnya. Nggak ada uang pensiun, dan jam kerjanya 24 jam, 7 hari dalam seminggu. Selain dia harus menjadi ibu selamanya, ia harus mengatur rumah agar hidup keluarganya terus terasa normal.”

Kata-kata itu membuat para pria di meja mengangkat kepala dari piring masing-masing, melempar pandangan kagum kepada Lisa. Mingyu dapat menangkap senyum kecil di tepi bibir Rowoon sebelum pria itu lanjut menikmati makan siangnya.

“Makanya, kalian para anak laki-laki, harus baik sama ibu kalian, ya!” sambung Lisa kemudian, membuat Rowoon dan Seungcheol tertawa lepas.

 

Di akhir sesi makan siang itu, para pekerja Arkate dan Terrahaus pun saling berjabat tangan sebelum berpisah. Rowoon tampak lebih riang daripada detik awal pertemuan mereka, membuat Seungcheol optimis pada potensi kerja sama di masa depan.

“Terima kasih untuk hari ini,” ucap Rowoon kepada duo arsitek itu. “Begitu ada waktu luang, saya akan sempatkan untuk mampir ke Arkate.”

Seungcheol mengepalkan tangan, merasakan kemenangan begitu dekat. Mingyu pun turut tersenyum.

Lisa membuka tas tangan dan meraih ke dalamnya. Ia menyerahkan dua lembar kertas kecil kepada Mingyu, dan hanya selembar pada Seungcheol. “Ini kartu nama saya dan Rowoon. Kalau senggang, nanti kita makan siang bareng lagi, ya,” ucapnya. 

“Loh, kok gue cuma dapet satu?” goda Seungcheol.

“Kan lu udah punya nomor gue!” balas Lisa, menjulurkan lidah kepada teman lamanya.

Seungcheol dan Mingyu pun berpamitan. Langkah mereka terasa ringan saat berjalan kembali ke mobil. Setelah membuka kuncinya, keduanya pun masuk ke dalam mobil.

“Udah pasti positif sih ini,” gumam Seungcheol optimis. Ia mengangkat tangan, mengajak Mingyu tos. “Jadi naik gaji kita nih!”

Mingyu tertawa lepas, menyambut tangan sahabatnya.

Seungcheol menyelipkan tangan ke dalam saku jasnya, menarik kembali kartu nama Kim Rowoon dan. Ia mengangkatnya ke udara seraya berseru, “Gila. Kartu nama Direktur Terrahaus nih! Kalau dijual bisa dapet berapa, ya?”

Mingyu melewatkan candaan rekan kerjanya ketika ia memandang kartu nama lain di tangannya. Nama Lisa tertera jelas di bagian depan. Namun, yang menarik bukanlah kata-kata yang tercetak rapi di bagian depan. Mingyu membalik kartu itu, dan menyadari  ada nomor ponsel lain yang ditulis tangan. Nomornya berbeda dengan deretan angka yang tertera di bagian depan. Di samping nomor itu, ada tambahan kata: CALL ME. 

“Mingyu?” panggil Seungcheol.

“Hah?” Mingyu kaget.

“Kenapa lu?”

“Ng, nggak papa.”

Mingyu menyelipkan kartu nama Lisa dalam kantung jasnya, lalu mulai menstarter mobil.

Chapter 21: the strange card.

Summary:

Kim Mingyu merasa curiga dengan tabiat Lisa dan kartu nama yang ia tinggalkan. Sementara di hari lain, Jennie tumbang karena kram perut.

Chapter Text

Kim Mingyu tak pernah menyangka sebuah kartu berukuran 9 x 6 sentimeter yang ia letakkan di tengah meja kini menjadi pusat dunianya. Lembar berwarna navy blue itu mencetak nama pemiliknya dengan jelas: Lisa Manoban. Sekretaris Direksi Terrahaus Property.

Barisan angka lain ditulis manual dengan pena, sengaja dicantumkan di bawah nomor telepon profesional. Kata-kata ‘CALL ME’ yang mengikutinya menambah kebingungan dalam benak Mingyu.

Sebagai seorang pria di akhir usia 20-an yang enggan berkomitmen, Mingyu tahu diri ia tak pantas menyandang predikat pria polos. Bercinta dengan wanita dalam satu malam–terkadang berulang–adalah rekreasi yang sesekali ia lakukan di kala kesepian. Bila senggang, ia dapat pergi ke bar, kafe, bahkan arena-arena domestik seperti supermarket atau toko buku. Cukup bertukar pandang dengan perempuan yang membangkitkan birahinya, maka Mingyu bisa pulang ke rumah dengan seorang teman. Bila ia mau.

Namun, ada yang berbeda dengan Lisa Manoban. Mingyu memang berbagi meja dengannya saat makan siang di Alternata. Kehadiran dua pria lain dengan kedudukan yang lebih tinggi darinya adalah alasan utama ia dapat bergabung dalam percakapan mereka. Diskusi yang berlandaskan profesionalitas, tak sedikitpun mengulik ranah pribadi. Sejak ia duduk di kursi hingga meninggalkannya dua jam kemudian, Lisa Manoban tak menunjukkan sedikit pun gestur ketertarikan pada Mingyu.

Ia tidak bodoh. Mingyu tahu mana tatapan mata yang menginginkannya dan tidak. Mana gerak tubuh yang coba merayu, serta nada bicara yang coba membius. Ada kalanya Mingyu dengan mudah menangkap sinyal menggoda itu. Namun, dua jam duduk bersama, ia tahu bahasa tubuh Lisa tak ditujukan padanya. Jika ia tidak tertarik padanya, mengapa Lisa meninggalkan pesan yang makanya terasa samar?

“Oi.” Suara itu memanggil dari arah bilik kerja Mingyu. Seungcheol melongok dari balik dinding pembatas, menenteng tas kerja di bahu. Perhatian Mingyu seketika terpecah dari kartu nama itu. “Ngapain lo? Belum balik?” tanya sahabatnya.

Mingyu menoleh ke langit di luar jendela. Yang tersisa dari balik bingkai hanyalah langit hitam serta lampu jalan yang menyoroti trotoar jalanan. Barisan meja-meja kerja di sekelilingnya, sebagian besar telah kosong. Di sudut ruangan, ada karyawan yang baru bersiap pulang, sedang berbincang dengan teman-temannya. Di ujung lain, Kim Jiho masih sibuk menelepon seseorang dalam ruang kerjanya yang dibatasi oleh dinding-dinding kaca.

“Bentar lagi. Mau ngirim file dulu,” jawab Mingyu singkat. “Seungcheol, gue boleh tanya sesuatu, nggak?”

“Apaan?”

“Lisa … jomblo ya?”

Alis Seungcheol terangkat tinggi, seakan hampir lepas dari wajahnya. Pertanyaan itu membuat kepalanya mencetuskan ide liar, membuat Seungcheol memutar matanya. Ada erangan rendah yang tertahan di tenggorokannya, membuatnya terdengar seperti anak anjing yang menggeram. Ia tahu reputasi Mingyu di kalangan wanita, bahkan sejak zaman kuliah.

“Mingyu…” gumamnya.

“--Gue tahu lu mikir apa, tapi maksud gue bukan gitu,” Mingyu buru-buru memotong. Ia mendesah, merenggut kartu nama Lisa dari meja dan memberikannya pada Seungcheol. Ia menjelaskan buah pikirannya, bagaimana ia memandang tulisan tangan Lisa seperti umpan yang sengaja ditebar untuk menggaetnya. Bukan umpan untuk tidur dengannya, tapi hal lain yang lebih jahat.

Seungcheol memandang kartu nama yang ia pegang dan Mingyu bergantian. Sebagai saksi  hidup dari gaya hidup Mingyu yang anti komitmen, sulit bagi Seungcheol untuk menanggapi sahabatnya dengan serius. 

“Menurut gue lu overthinking,” ujar Seungcheol, membantah pendapat pria di hadapannya. “Lisa orangnya baik, kok. Mungkin aja dia bersikap cuek sepanjang meeting karena takut ketahuan kalau naksir lu?”

Mingyu mendecakkan lidah. “Lu nggak ngerti, bro–”

“Emang. Dan gue nggak mau tahu,” Seungcheol berkata tegas, menarik tangan Mingyu. Ia meletakkan kartu nama itu di telapak tangannya yang terbuka, lalu melanjutkan, “Menurutku gue, gaya hidup lo yang bebas itu perlahan bikin lu gila. Ketika seorang wanita nggak ngasih perhatian yang lu harapkan, lu berlagak pakai psikologi terbalik buat melawan nafsu lu sendiri. Yah, sekedar untuk meyakinkan diri bahwa lu udah kalah sebelum bertempur.”

“Dia emang naksir orang, tapi bukan gue,” Mingyu ngotot. 

“Terus? Dia naksir siapa?”

“Yah,” Mingyu menggosok tengkuknya, merasa tak yakin dengan teorinya sendiri. Tapi bahasa tubuh wanita itu tak dapat berbohong. “Karena lu udah di-friendzoned, berarti kemungkinannya cuma satu, kan?”

Seungcheol diam sejenak, mencerna kata-kata Mingyu. Beberapa detik kemudian, ia mendengus. “Kim Rowoon?” tanya Seungcheol.

Mingyu mengangkat bahu.

“Gini deh. Seandainya teori lu tentang bahasa tubuh, sikap cuek, dia suka bosnya sendiri, bla bla bla itu benar, terus ngapain Lisa ngasih lu kartu namanya?”

“Itu yang lagi gue cari tahu, bro!”

 

*

 

Tiga hari telah berlalu sejak Jennie bertengkar dengan Rowoon. Hingga kini, sang kekasih belum juga menghubunginya. Pesan terakhir yang ia tinggalkan hanyalah permintaan maaf yang pendek, bahasa korporat, yang membuat Jennie dongkol.

Meski begitu, Jennie belum dapat melepaskan diri dari memori pertengkaran terakhir mereka. Ditambah lagi, emosinya makin naik turun karena tamu bulanan yang datang. Sejak pagi, perut Jennie terasa kencang. Sambil meletakkan kantung penghangat di perut bagian bawah, ia membaca kembali pesan terakhir dari Rowoon.

 

Rowoon: Aku minta maaf atas kata-kataku, Jen. Aku lagi stres belakangan ini karena banyak urusan bisnis yang harus aku selesaikan. Bisa kita bicara akhir pekan ini? 

 

Persetan dengan kata maaf dan bisnis lu, Rowoon, umpat Jennie dalam hati. Ia meletakkan ponselnya di lantai dan memejamkan mata. Meski air mata tak lagi mengalir deras untuk Rowoon, Jennie masih dapat merasakan kantung matanya yang tebal. Hari libur yang seharusnya ia gunakan untuk menyibukkan diri di dapur, berakhir dengan rebahan di sofa karena nyeri haid yang tak kunjung mereda.

Padahal hari ini adalah hari yang penting sebelum Jiho dan Yejin, ibunya, menikah bulan depan. Pasangan yang sedang kasmaran itu merencanakan makan malam di rumah Yejin dan Jennie, sekaligus usaha untuk saling mengakrabkan diri. Sayangnya, kram perut hebat yang tiba-tiba datang pagi itu membuat mereka bertiga harus mengubah rencana. Jennie yang menawarkan diri untuk memasak makan malam bahkan tak dapat bangkit dari tempat tidur.

“Ya udah, nanti kita pesan makanan aja dari luar,” ucap Jiho tenang via telepon ketika Yejin menghubunginya pagi itu. Mode loudspeaker memberikan Jennie kesempatan untuk turut mendengarkan pria itu bicara. “Gimana kalau masakan Korea? Aku pesankan samgyetang, ya? Sup buatan restoran langgananku enak, kok. Sehat juga. Biar Jennie cepat pulih.”

Selama beberapa detik, Yejin dan Jennie saling menatap tanpa suara.

“Beneran nggak papa, Jiho, kamu beliin makan malamnya?” tanya Yejin dengan nada khawatir. Ia merasa tak enak karena mengalihkan tanggung jawab pada kekasihnya.

“Iya nggak papa. Mau pesan apa lagi, nih? Ada daging panggang, ayam goreng–”

“Kita ikut aja. Kamu tahu menu mana aja yang enak, kan?” balas Yejin. Ia bangkit dari tepi tempat tidur Jennie dan berjalan keluar kamar puterinya.

Dari tempatnya berbaring, Jennie tak dapat mendengar jelas percakapan mereka. Meski ada rasa tak enak, setidaknya Jennie merasa tertolong karena Jiho bersedia mengambil alih tugasnya malam itu.

Bagi Jennie, memasak bukanlah sebuah beban. Ia menikmati perannya sebagai koki, tak hanya di tempat kerja, tapi juga di rumah. Pekerjaan ibunya yang menyita waktu tak memberikan kesempatan bagi Yejin untuk rutin memasak.

Dapur adalah benteng pertahanan Jennie untuk tetap waras. Ia memasak untuk melanjutkan hidup, sejak kelas 6 SD. Berawal dari memasak telur mata sapi, menanak nasi, membuat nasi kepal sendiri, hingga akhirnya bisa membuat sup rumput laut pertama kalinya untuk sang ibu. 

Yejin selalu membekalinya dengan sejumlah uang agar Jennie dapat membeli makanan siap saji di minimarket terdekat. Ia mensyukuri hal itu. Namun, ada rasa bahagia yang berbeda jika Jennie dapat memasak makanannya sendiri. Melihat wajah ibunya–dan siapapun–bahagia karena masakannya adalah pencapaian yang mendorong Jennie untuk terus hidup.

Jennie membuka mata, menatap langit-langit putih ruang tamu. Benaknya melanglang buana pada kehidupan di masa depan yang sedang ia usahakan bersama Rowoon.

Seharusnya, ia merasa bahagia jika dapat menjadi seorang istri yang memasak untuk suaminya. Seharusnya, wajah bahagia sang suami ketika menikmati masakannya adalah hadiah terindah dalam rumah tangga.

Namun, Jennie menginginkan lebih. Ia tak hanya ingin menjadi sekedar seorang istri. Ia belum melihat dunia. Ia bahkan belum mampir ke seluruh toko makanan yang ada di sekitar rumahnya, bahkan di seluruh Korea. Dunia begitu luas. Ia tak ingin mendefinisikan hidupnya hanya sebatas menjadi istri dan koki di dapur.

Jennie takut memasak yang menjadi hidupnya akan berbalik membunuhnya.

TING TONG!

Suara bel pintu depan menyentak Jennie bangun dari lamunan. Ia tak mengharapkan tamu selain Jiho hari ini. Jam di dinding belum menunjukkan pukul 7 malam. Jiho bilang ia akan mengambil pesanannya sendiri ke restoran setelah menjemput Yejin dari tempat kerja.

TING TONG!

“Iya, iya,” gumam Jennie, menjawab udara kosong. Ia mendorong dirinya bangkit dari sofa, menahan rasa sakit dan perlahan bangkit. Jennie menyeret kakinya ke pintu depan, membuka kuncinya.

Udara musim gugur yang dingin menerpa wajahnya, bersama sosok tinggi besar yang berdiri di depan pintu rumahnya.

Seorang pria dengan sweater rajut abu-abu dan celana jins hitam berdiri di hadapannya. Rambut yang beberapa kali Jennie lihat tampil klimis, tampak jatuh natural dengan poni yang menutupi dahi. 

Jennie mengenali wajah itu, meski mata si pria tersembunyi di balik kacamata berbingkai hitam. Kim Mingyu menatapnya balik, dengan senyum tipis menghiasi bibir.

Chapter 22: not-yet-family.

Summary:

Sambil menunggu Jiho dan ibunya pulang, Jennie menjamu Mingyu. Sekotak kue yang menunggu dibuka, teko air yang belum mendidih di atas kompor, keduanya saling berbagi cerita.

Chapter Text

“Mingyu?” 

“Hai, Jennie,” ucap pria di hadapan Jennie canggung.

“Kamu … ngapain di sini?”

Mingyu mengangkat kantung kertas berukuran besar yang dibawanya, dengan logo toko pastry   yang Jennie kenali. Letak toko itu tak jauh dari kompleks apartemennya dan belakangan ini menjadi populer karena carrot cake yang dijualnya. 

“Jiho minta aku ambil kue yang udah dia pesan, terus minta diantar ke rumahm,” jawab Mingyu. “Jiho udah dateng?”

Jennie menggeleng. “Jiho bilang dia mau jemput Mama–ibuku–dari tempat kerja,” jawab Jennie. “Mereka juga beli makanan dulu.”

“Oh.”

Keheningan menjadi pengisi dari pembicaraan remeh yang terhenti. Meski tak ingin, Jennie tak enak hati membiarkan pria itu berdiri saja. Ia membuka pintu lebih lebar–yang entah kenapa membuat Mingyu tertegun. Sambil mengaitkan rambutnya ke balik telinga, Jennie menawarkan, “Tunggu di dalam aja, Mingyu. Di luar dingin.”

Wajah pria itu tampak ragu, tapi akhirnya menjawab, “Oke.”

Mingyu mengambil langkah kecil, berjalan melewati celah pintu depan yang terbuka lebar. Jennie menggeser diri, memberikan ruang lebih leluasa bagi Mingyu agar ia bisa melepas sepatu lebih dulu. Entah karena area depan yang sempit atau tubuh Mingyu yang lebih bongsor dari perkiraan Jennie, wanita itu sampai harus menepi ke dinding.

Mingyu menyodorkan bingkisannya kepada Jennie, yang tersentak kaget. “Bisa pegangin dulu?” tanya Mingyu.

Jennie mengambil hantaran itu dari tangan Mingyu, membawanya ke meja pantri yang terlihat dari pintu depan.

“Mau minum, Mingyu?” Jennie menawarkan. “Aku mau buat teh. Kalau kamu mau.”

 “Boleh,” jawab Mingyu singkat–meski ia bukan penikmat teh. 

Pria itu melangkah lebih dalam, mulai memindai sekeliling. Di hadapan meja pantri dan dapur yang terbuka, terdapat area ruang tamu yang leluasa. Di ujung ruangan, dinding yang padat digantikan oleh kusen-kusen jendela, memperlihatkan pemandangan kota Seoul yang hari itu cenderung sendu. Langitnya memasuki waktu blue hour, bagaikan karpet yang membentang tanpa awan.

“Duduk aja dulu. Jiho dan ibuku masih lama datangnya,” ucap Jennie. Ia mengambil cangkir dari lemari kabinet dan mengisi teko dengan air dari keran bak cuci. Rasa nyeri di perut Jennie masih terus datang, membuatnya sulit berkonsentrasi. Padahal membuat teh adalah pekerjaan mudah. “Mereka bilang mau ambil pesanan makanan dulu di restoran langganannya Jiho. Katanya lokasinya agak jauh. Jadi mungkin agak lama.”

“‘Taekwon V’s House’?” tanya Mingyu, balik berjalan ke meja makan. Ia menarik kursi dan duduk.

“Hah?” Jennie bingung.

“Nama restorannya ‘Taekwon V’s House’,” ulang Mingyu. “

Sambil meletakkan teko di kompor, Jennie mengerutkan kening. “Bukannya itu nama anime jadul, ya?” tanyanya.

“Emang,” balas Mingyu, sambil tertawa kecil. “Pemiliknya suka banget anime itu, makanya dia pakai nama Taekwon V untuk restoran. Karena namanya unik, jadi banyak orang yang datang. Untung makanannya enak.”

Tawa Jennie pecah. “Aneh banget!” serunya.

“Jujur aja, waktu kecil aku mengira restoran itu beneran rumahnya si robot. Waktu Jiho ajak aku ke sana, aku berharap ada si robot menyambutku di pintu depan. Tapi, ternyata itu bohong,” Mingyu membagikan cerita. “Aku nangis di depan restoran. Minta pulang.”

Jennie tertawa makin kencang. Di bawah sinar lampu, Mingyu menangkap perawakan wanita di hadapannya yang, lagi-lagi, berbeda dari terakhir kali mereka bertemu. Ia mengenakan cardigan rajut putih bermotif buah ceri, dengan kaus oblong dan celana panjang hitam berbahan katun. Berpakaian santai tanpa riasan, ada wajah yang Mingyu kenali serupa dengan Jennie sang koki pastry. Meski terlihat lesu, ia tampak nyaman di rumahnya sendiri.

 “Bukannya Taekwon V gede banget, ya? Mana bisa dia jaga restoran!” sambung Jennie kemudian.

Mingyu mengangkat bahu. “Namanya juga anak-anak,” sahutnya.

“Tapi aku paham sih,” Jennie mengangguk-angguk. “Waktu kecil aku juga pernah merengek minta diajak ke restoran Hello Kitty yang waktu bukanya terbatas. Aku mengira bakal ketemu sama Hello Kitty berukuran besar, tapi yang melayani cuma mbak-mbak biasa pakai baju serba pink.”

“Iya, kan? Tega banget nipu anak kecil,” balas Mingyu. “Tapi, kebayang nggak sih ada Hello Kitty bolak-balik ngelayanin pelanggan? Kostumnya pasti gede banget. Tiap kali dia gerak, bakal nabrak semua meja.”

“Heh! Taekwon V tingginya kayak gedung 5 lantai!”

Sambil berbincang. Mingyu dan Jennie saling berbagi kisah masa kecil yang seringkali mereka lalui sendirian. Sama-sama memiliki ibu yang sekaligus menjadi wanita karier, keduanya belajar untuk menjadi dewasa sebelum waktunya.

“Waktu kecil, aku punya tugas membuka semua gorden setiap pagi, dan menutupnya setiap malam. Aku juga membuang sampah setiap pagi dan mematikan lampu teras sebelum berangkat sekolah,” ujar Mingyu, menceritakan kebiasaan masa kecilnya. Jennie bergabung dengannya di meja makan. Mereka duduk saling berhadapan. “Kebiasaan itu aku bawa sampai sekarang.”

“Sama. Aku juga tugas buang sampah setiap pagi. Tapi, untuk urusan lain ibuku yang mengerjakan karena aku harus masak untuk sarapan,” balas Jennie. “Kalau Ibu dapat bonus, kami biasanya belanja lebih banyak jadi bisa buat bekal dari rumah. Lumayan menghemat banyak uang, daripada makan di luar.”

Mingyu memandang Jennie dengan tatapan kagum. “Jadi, kamu udah masak dari kecil?” tanya pria itu. “Nggak takut sama kompor, atau keiris pisau?”

Jennie tertawa kecil. Ia mengangkat tangannya ke arah Mingyu, membuka telapak tangan dan merentangkan jari-jarinya lebih lebar. Di antara buku-buku jarinya yang pucat dan lentik, Mingyu dapat menangkap banyak bekas luka memanjang yang telah memudar. 

“Kalau udah masuk survival mode, mau nggak mau semua dikerjain sih,” jawab Jennie, menarik tangannya kembail. “Ibuku kerja di industri media, jadi seringkali lembur. Kalau aku merengek, cuma akan bikin dia merasa bersalah. Aku merasa … memasak jadi caraku untuk bikin dia nggak khawatir.”

Mingyu memandang telapak tangannya sendiri, lalu membaliknya. Ia melakukannya berulang kali, membuat Jennie memandangnya heran. “Kenapa, Mingyu?” tanyanya.

“Nggak papa. Cuma pengen tahu aja, aku punya bekas luka juga atau nggak,” Mingyu tertawa kecil. “Waktu kecil, aku suka ngelakuin banyak hal. Mulai dari menggambar, main gitar, badminton, naik pohon, tapi nggak ada bekas luka yang tersisa. Rasanya aku jadi nggak bisa pamer cerita apapun, karena nggak ada buktinya.”

“Kalau buat anak cowok, punya bekas luka tuh keren, ya? Kalau buat cewek, bikin minder,” balas Jennie. “Orang bakal bilang aku nggak bisa ngerawat diri, lah. Tanganku kasar. Kuli. Tangan keliatan lebih tua daripada muka.”

“Masa sih?” ucap Mingyu tak percaya. Ia mengulurkan tangan, menarik ujung cardigan Jennie, menghadapkan telapak tangan wanita itu ke atas. “Menurutku bekas luka yang ada di tanganmu ini justru nunjukkin bahwa kamu memang ahli di bidangnya. Contohnya, seperti kuli bangunan. Tangannya memang kapalan. Kasar. Kulitnya keras. Mungkin juga gelap karena sering terpapar matahari. 

Tapi, itu nunjukkin udah berapa lama dia kerja dan berapa banyak batu yang udah dia pecah untuk bikin pondasi rumah orang. Berapa banyak batu bata yang dia angkut untuk bikin dinding yang ngelindungin pemiliknya dari panas dan dingin. Tanganmu juga gitu. Nggak tahu udah berapa banyak orang yang kamu buat bahagia karena masakanmu. Meski keiris, kena panasnya panci, kecipratan minyak atau air, kamu tetap bisa buat makanan yang cantik dan enak. Dan aku salah satu dari banyak orang yang pernah menikmati masakanmu. Itu apa kalau bukan bukti kamu memang udah kerja keras untuk sampai di titik ini?”

 Jennie termenung. Ia tak dapat menutupi rasa hangat yang perlahan merambat di sekujur tubuhnya. Seperti bunga yang hendak mekar, kata-kata Mingyu menjadi angin di pagi hari yang membelainya lembut. Senyum itu merekah di bibirnya, sebagai bentuk terima kasih yang tak terucap pada pria yang melontarkan kata-kata baik itu.

Keheningan mereka terpecah ketika teko air di dapur mulai berdesis. Jennie bangkit dari duduknya untuk mematikan kompor. Ketika ia hendak mengangkat teko, rasa nyeri yang kuat di perutnya datang lagi.

“Ow,” Jennie mengerang. Ia membungkuk dalam, meremas sisi perutnya yang sakit. Mingyu bangkit dari duduknya, buru-buru menghampiri Jennie yang meringkuk di lantai.

“Jennie?” tanyanya dengan nada panik. “Kamu nggak papa? Mukamu pucat banget.”

“Ng, nggak papa–”

Belum juga selesai mengucapkan kalimat itu, rasa melilit di bagian bawah perutnya datang lagi. Jennie menggigit bibir. Tangannya mencengkeram baju kuat-kuat. Ia gemetar, keringat dingin mulai menjalari tengkuk dan dahinya. Mingyu menyaksikan semua reaksi tubuh itu, dan menyadari Jennie tidak baik-baik saja.

“Ada yang sakit?” tanya Mingyu. “Istirahat di sofa dulu, yuk.”

Jennie mengangguk lemah, berpegangan pada lengan Mingyu. Dengan sigap, pria itu memindahkan lengan Jennie melingkari lehernya. Mingyu menyelipkan lengannya di balik kedua lutut Jennie, lengan lainnya menyangga punggung. Jennie menyandarkan sisi tubuhnya pada Mingyu, mencoba menahan rasa sakit di perutnya.

Dengan mudahnya Mingyu mengangkat Jennie dari lantai, menggendongnya hingga mencapai sofa ruang tamu. Mingyu membaringkan perempuan itu di sofa dengan hati-hati, memastikan agar ia tidak jatuh. Jennie menggeser dirinya beberapa kali hingga ia merasa nyaman, lalu menarik bantal penghangat menutupi perutnya. Rasa hangat yang menyebar membuat Jennie lebih tenang, tapi tak meredakan nyeri seluruhnya.

“...Nyeri haid?”

Jennie menoleh, matanya bertemu dengan Mingyu yang duduk dekat dengan sisi kepalanya. Alis pria itu mengerut, memandang Jennie dengan wajah khawatir. Wanita itu tak punya alasan untuk berbohong, jadi ia mengangguk.

“Ada yang bisa aku ambilin? Mau minum? Kamu punya obat untuk meredakan nyerinya? Paracetamol?” 

“Ada di kotak obat. Di kamar mandi,” jawab Jennie lirih. “Kamar mandinya pintu putih sebelah kanan.”

Mingyu melihat ada dua pintu beberapa langkah dari meja makan. Sebuah pintu kayu berwarna cokelat muda, dan pintu putih yang disebutkan Jennie. 

“Aku ambil, ya?” tanya Mingyu.

Jennie mengangguk. Ia menutup mata, membiarkan Mingyu untuk masuk ke ruangan lain demi mengambil obat. Ia mendengar suara pintu yang mengayun membuka, diikuti oleh gemerisik dari arah kamar mandi. Tak lama, langkah kaki berderap menyusuri lantai, berhenti sejenak di dapur. Suara keran air dibuka, mengisi sebuah wadah. Setelah keran air menutup lagi, langkah kaki itu terdengar mendekat ke arahnya. 

Aroma parfum, perpaduan antara aroma manis dan woody tercium tipis di hidung Jennie. Aroma itu mengingatkannya pada pewangi kamar di apartemen Rowoon.

“Jennie.”

Jennie membuka mata. Dalam hatinya, ia berharap wajah Rowoon yang muncul. Sayangnya, yang ada hanyalah Kim Mingyu, menawarkan sebotol obat pereda nyeri dan segelas air. Rasanya Jennie ingin menangis. Rowoon tak ada di sini.

“Makasih, Mingyu,” ucap Jennie lirih, sambil mengambil kombinasi penyelamat dari tangan pria itu.

Chapter 23: the dinner.

Summary:

Jiho dan Yejin akhirnya datang membawa makan malam.

Chapter Text

Lewat dari jam 7 malam, pintu apartemen Jennie terbuka untuk kedua kalinya. Ketika pintu rumah membuka, suara Jiho dan Yejin segera memenuhi ruangan.

“Sori, ya! Macet banget di jalan!” seru Yejin setelah melewati pintu depan. Ia menahan pintu, memberikan jalan pada Jiho yang masuk ke rumah sambil menenteng dua kantung plastik besar. 

Setelah melepaskan alas kaki, Jiho melangkah cepat ke meja makan, meletakkan kantung yang dibawanya. 

“Dinginnya di luar!” keluh Jiho, mengelus pipinya yang memerah dan terasa kering. “Rasanya musim dingin udah dekat. Gila.”

Saat sedang melepaskan jaket, Jiho baru menyadari bahwa Jennie tidak sendirian. Di ruang keluarga, seorang pria yang duduk di lantai sedang mengetik lewat ponselnya ketika Jiho menyapa. Sementara itu, Jennie masih berbaring di sofa, melambaikan tangannya pada Jiho.

“Mingyu?” panggilnya, sumringah adiknya masih tinggal lebih lama. “Lu masih di sini? Kirain udah balik.”

Yejin mengintip dari balik dinding, turut kaget melihat adik termuda Jiho ada di dalam rumahnya. 

“Loh, ada Mingyu? Jennie kok masih di sofa?” tanya Yejin. Ia melonggarkan syal yang menutupi leher dan meletakkannya di punggung kursi. Sambil berjalan mendekati putrinya, Yejin menyadari wajah Jennie masih tampak pucat. Mingyu menggeser dirinya dan bangkit berdiri, Yejin untuk duduk di tepi sofa. Wanita itu mengamati wajah Jennie dari dekat dan bertanya, “Masih sakit perutnya, Jen? Kalian belum makan, ya?”

“Masih. Tapi udah minum obat anti nyeri. Sekarang udah mendingan,” jawab Jennie. “Mau makan pun cuma ada kue.”

“Jiho udah bawa supnya, tuh. Makan, yuk?” ajak Yejin lembut. “Mumpung masih hangat.”

Jennie tersenyum lemah dan mengangguk.

“Mingyu, lu udah ngambil kuenya?” Jiho melemparkan pertanyaan itu seraya membongkar isi dari dua kantung plastik besar yang dibawanya. Ia meletakkan setiap wadah yang masih terasa hangat di atas meja. Ketika Jiho membuka tutupnya, aroma khas setiap makanan rumahan ala Korea yang dibelinya begitu menggunggah selera.

“Udah. Kuenya aku taruh di dapur,” Mingyu menunjuk kantung kertas yang telah dipindahkan ke samping bak cuci.

Menyadari perannya menjaga Jennie telah selesai, Mingyu memilih untuk menghampiri meja makan. Ia menunduk dan menghirup aroma kimchi jjigae yang menggelitik hidung sekaligus menyegarkan. Air liurnya mau menetes melihat mangkuk besar berisi potongan daging panggang dan bawang bombai yang besar-besar.

Namun, Mingyu menyadari bahwa ia bukanlah bagian dari acara makan malam ini. Ia hanya bertugas sebagai kurir pengantar kue. Karenanya, Mingyu berucap, “Karena kalian udah dateng, aku pamit, ya.”

Jiho menoleh cepat, tak percaya dengan apa yang barusan didengarnya. 

“Kok pamit? Makan aja bareng kita!” ajaknya. “Gue beli banyak nih. Ada daging sapi panggang, ayam goreng, mandu, banchan juga banyak banget. Sup buat Jennie juga. Cukup lah buat porsi satu orang lagi!”

“Nggak usah, deh. Gue makannya banyak,” Mingyu beralasan.

“Iya, ikut makan aja, Mingyu,” Yejin ikut mendukung ajakan Jiho. “Kamu nggak ada acara, kan, abis ini? Paling nggak, makan sedikit.”

Mingyu melirik ke arah Jiho, yang memasang wajah memohon. Jujur, Mingyu tak punya alasan kuat untuk menolak.

“Eh, kita makan di depan TV aja, ya? Biar Jennie bisa tetap istirahat di sofa,” Yejin menawarkan.

“Aku nggak papa, Ma. Nggak enak dong kalau Jiho sama Mingyu makan di bawah,” bantah Jennie. Namun, Jiho berpikiran lain.

“Makan di bawah lebih enak kayaknya. Jadi inget jaman kuliah dulu aku juga seringnya makan sambil duduk di lantai. Lebih santai juga,” balas Jiho ceria.

“Aku ambilin meja lipatnya di kamar, ya,” ucap Yejin. Ia beranjak dari sofa dan menghilang ke pintu di samping pintu kamar mandi. Dari dalam, terdengar suara ribut Yejin memindahkan barang. Kemudian, Mingyu mendengarnya berteriak, “Mingyu? Bisa tolongin nggak? Mejanya berat!”

Melihat calon kakak iparnya kesulitan, Mingyu dengan gesit mengikuti Yejin ke dalam ruangan itu. Ketika kakinya melangkah ke dalam, Mingyu merasa telah memasuki ranah privasi yang seharusnya tidak ia masuki. 

Ruangan itu berwarna putih, dengan lantai kayu yang bewarna pucat. Ruangan itu tidak terlalu besar, tapi menampung perabotan yang cukup dengan tata ruang yang efisien. Sebuah tempat tidur berukuran dobel berdempetan dengan dinding, bersama jendela berbingkai putih yang memperlihatkan langit malam. Sebuah meja rias berlapis motif kayu ada di seberang tempat tidur, dengan beberapa buku dan laptop di permukaannya. Di sampingnya, terdapat gantungan pakaian dengan laci kecil di bagian bawah. Dari model pakaian yang tergantung,  sang pemilik ruangan sepertinya bukan tipe orang yang suka tampil mewah.

Hingga Mingyu mengenali sebuah gaun berwarna putih gading dengan bahan ringan, yang terselip di antara atasan berwarna cerah. Bagian rok gaun itu melambai ketika angin dari jendela bertiup lembut. Ada pola bunga-bunga kecil yang tersebar merata di seluruh permukaan kainnya. Mingyu merasa mengenali gaun itu. 

“Mingyu,” panggil Yejin, membuat pria itu tersentak kaget. Wanita paruh baya itu sedang memegangi satu sisi meja lipat yang disandarkan tegak pada dinding. “Bisa minta tolong angkat sisi satunya? Mejanya berat.” 

“Biar aku aja yang angkat, Yejin,” Mingyu menawarkan.

“Berat loh.”

Mingyu hanya tersenyum. Tanpa aba-aba, pria itu dengan mudah mengangkat meja lipat itu dan membawanya keluar ruangan. Tidak butuh waktu lama untuk mengatur posisi meja di tengah ruangan, tepat di depan sofa. Setelah menarik kaki-kaki meja dan menguncinya, meja itu siap untuk menampung seluruh porsi makan malam mereka. 

Setelah memastikan posisi meja aman dan kokoh, Jiho mulai mengantarkan setiap wadah makanan. Ia harus bolak-balik beberapa kali, mulai dari meletakkan makanan utama hingga berbagai macam banchan. 

Sementara itu, Yejin mengambil mangkok, piring-piring kecil, dan sumpit sejumlah para peserta makan malam itu. Sambil menumpuknya pada nampan, Yejin menyadari ada teko air yang menganggur di kompor. Tanpa pikir panjang, Yejin memantik kompor untuk mendidihkan air panas di teko. Secangkir teh chamomile hangat dapat membantu semua orang rileks, pikirnya.

Sambil menunggu Yejin menata peralatan makan di meja–dibantu Mingyu, Jiho meletakkan bantal duduk di empat sisi meja. “Jennie,” panggilnya. “Kamu makan duluan aja, mumpung supnya masih hangat.”

Jennie pun turun dari sofa, bergabung dengan ibunya, Jiho dan Mingyu di meja. Sebuah wadah plastik berisikan kuah beraroma herbal dan potongan daging ayam rebus. Ia mengambil peralatan makan dan menyendok kuah yang masih hangat. Jennie menyesapnya pelan, mencecap rasa gurih dari kuah kaldu yang menyisakan sedikit rasa pahit dari rempah dan manisnya bawang putih. Kehangatan itu menjalar dari kerongkongan, perlahan turun ke perutnya. Tidaknya obat anti nyeri yang bekerja, sup sehat itu turut membuatnya merasa lebih baik.

“Enak, Jen?” tanya Yejin, menunggu reaksi dari putrinya dengan antusias.

“Iya. Enak,” jawab Jennie singkat sambil mengunyah potongan daging ayam yang lembut. Yejin dan Jiho tampak lega, tak segan untuk mulai makan bersama Jennie. Mingyu pun menyusul. “Oh iya, Jiho. Bener nggak, sih, Mingyu nangis di depan restoran waktu tahu Taekwo V nggak kerja di restoran ini?”

“Hei!” teriak Mingyu, tak percaya Jennie mengungkit cerita masa kecilnya. 

Yejin dan Jiho tergelak.

 

Cerita-cerita masa kecil, candaan receh, setengah lusin piring kosong, potongan carrot cake, dan secangkir teh chamomile kemudian membuat keluarga Jennie dan Jiho akhirnya merasa kenyang. Meski enggan untuk bergerak karena perut yang terlalu penuh, Jiho tahu ia harus segera berpamitan.

“Kalau gitu, aku dan Mingyu pulang dulu, ya. Udah hampir tengah malam juga,” ucap Jiho. Ia bermaksud membereskan wadah-wadah makanan yang telah kosong, tapi Yejin mencegahnya.

“Biar nanti aku aja yang beresin, Sayang! Kamu kan udah beliin semua makanannya,” tegur Yejin, mengambil tumpukan piring-piring kotor dari tangan Jiho. Ia sampai harus menarik lengan pria itu agar mau bangkit dari bantal duduk. Mingyu dan Jennie menatap pasangan paruh baya itu geli.

Karena Yejin ngotot, akhirnya Jiho menyerah. Bersama Mingyu, mereka pun berpamitan. Yejin dan Jennie mengantar mereka ke pintu depan, menunggu Jiho yang sedang mengenakan jaket.

“Hati-hati di jalan, ya. Nggak usah ngebut,” Yejin memperingatkan kekasihnya. “Mingyu juga.”

“Terima kasih untuk makan malamnya, Jiho,” sambung Jennie. “Maaf aku nggak jadi masak hari ini.”

Jiho tersenyum. “Nggak papa, Jennie. Masih ada hari lain,” ucapnya. “Itupun kalau kamu berkenan.”

Jennie tertawa kecil. “Tentu saja aku mau.”

Jiho mengulurkan tangannya ke arah Jennie, yang ia sambut dengan senang hati. Pria itu menggenggam tangan wanita muda itu dalam kedua tangannya, meremasnya lembut. Dari matanya yang menatap Jennie lurus, kata-kata yang ia ucapkan perlahan meluluhkan hatinya.

“Pernikahanku dan ibumu akan berlangsung bulan depan. Itu artinya, kita akan jadi kelaurga,” tutur Jiho perlahan. “Makan malam ini mungkin salah satu permintaan egoisku yang ngerepotin kamu dan Yejin. Tapi, aku harap kita bisa melakukan ini sesekali di masa depan.

Kalaupun bukan dalam bentuk makan malam, aku harap kamu nggak segan untuk bicara denganku, Jennie. Aku nggak memposisikan diri sebagai ayahmu. Dan aku nggak berharap kamu melihatku sebagai pengganti dia. Tapi, aku harap kita bisa saling mendukung, sebagai orang-orang yang ingin keluarga ini bahagia. Karenanya, aku harap kamu mengizinkan aku untuk menjaga ibumu dan kamu, Jennie.”

Untuk sesaat, kata-kata itu membuat rasa nyeri di perut Jennie menghilang. Tangan Jiho yang masih menggenggam tangannya terasa hangat, seakan-akan sedang mencoba menumbuhkan sayap pada beban pikiran Jennie agar terasa ringan. 

Di sisinya, Yejin menahan diri untuk tidak menumpahkan air mata yang telah berkumpul di pelupuk mata. Jennie tersenyum lebar dan mengangguk cepat. Ia membalas genggaman tangan Jiho dengan remasan yang sama.

“Terima kasih, Jiho,” ucapnya. “Aku harap pernikahan kalian nanti berjalan lancar.”

Chapter 24: a month later (the wedding).

Summary:

Ketika hendak membagikan korsase untuk Jiho, Jennie mendengar teriakan-teriakan dari balik pintu. Ia tak pernah mendengar Jiho berteriak dengan nada setinggi itu sebelumnya.

Chapter Text

Jennie’s POV

Jennie menguap lebar. Ia duduk di sofa, mengamati ibunya yang sedang dikerumuni oleh tim perias pengantin. Tangan dari setiap ahli tata rias itu sibuk mengerjakan satu bagian tubuh Yejin. Mulai dari rambut, wajah, hingga kuku-kukunya. Wajah yang biasanya berkerut dan kuyu itu telah bertambah 10 tahun lebih muda, membangkitkan pesona Yejin yang termakan usia. Rambut bobnya ditata lebih mengembang, dengan gaya ikal di bagian ujung. Bibir turut Jennie mengembangkan senyuman ketika ibunya memandang pantulan dirinya di cermin.

Yejin menoleh, memandang putrinya dengan wajah berseri, “Gimana, Jennie? Mama cantik, nggak?”

“Cantik banget, Ma,” jawab Jennie sambil mengacungkan jempol. 

“Ini udah jam berapa, ya? Bentar lagi upacaranya harus mulai, kan?” Yejin bertanya panik, entah kepada siapa.

Salah satu perias wajahnya menggoda, “Masih ada satu jam, Bu. Udah nggak sabar ya mau married?” 

Mereka tertawa bersama, membuat Yejin tersipu malu.

“Jen, bisa tolong cek Jiho, nggak? Mama lupa ngasih korsase untuk dia,” pinta Yejin, segera mengalihkan pembicaraan. “Korsasenya ada di tas.” 

Yejin bangkit dari kursi setelah riasan wajah dan rambutnya selesai. Sebuah gaun pengantin berpotongan sederhana, dengan warna putih gading terpajang di manekin tanpa kepala. Seorang perias membantu Yejin mengenakan gaun itu, melengkapi tampilannya sebelum menghadiri acara terpenting baginya hari ini. Satu jam lagi, ibu Jennie akan menikahi Kim Jiho, pria yang ia pilih sebagai suami barunya.

“Bukannya kakak-kakak Jiho pada dateng, Ma?” Jennie berjalan meninggalkan sofa, membuka tas ibunya yang ada di meja. “Aku kira korsasenya mereka yang nyiapin.”

Yejin menyunggingkan senyum kering. Jennie menangkap ekspresi ibunya yang tiba-tiba menegang. “Ma?” panggil Jennie.

Wanita paruh baya itu tersentak dari lamunannya, melambaikan tangan kepada Jennie. “Pokoknya kamu bawa aja yang ada di dalam tas itu. Kemarin Mama udah pesan banyak. Sisanya kamu yang pegang, ya,” ucap Yejin. Perias di balik punggungnya menarik restleting gaun hingga mengunci di garis leher. “Mama percayain korsasenya ke kamu. Tolong kasih ke dia dan kakak-kakaknya di ruang sebelah. Dan…jangan lupa ketuk pintu dulu.”

Jennie tak mempertanyakan apapun. Ia mengambil kotak berisi rangkaian korsase dari paduan bunga dan daun alami itu. Berjalan meninggalkan ruang ganti ibunya, Jennie lanjut melangkah ke ruangan sebelah tempat Jiho mempersiapkan diri sebagai calon pengantin laki-laki.

Buku-buku jarinya hendak mengetuk daun pintu, ketika Jennie mendengar teriakan dari dalam.

“Sampai kapan kalian mau mengucilkan Mingyu seperti itu?!”

Jennie terpaku. Ia dapat mendengar jelas suara Jiho dari balik pintu. Ini pertama kalinya Jennie mendengar Jiho menjerit penuh amarah seperti itu.

“Bisa-bisanya kalian nggak nyiapin bagian buat dia! Mingyu adik kita! Hari ini bukan pernikahan kalian! Ini pernikahanku! Kenapa kalian yang ngatur-ngatur, sih?!” teriakan Jiho terdengar jelas.

Ada suara gumaman beberapa wanita yang saling beradu, tapi Jennie tak dapat mengenali pemiliknya satu per satu. Ia melangkah mundur, berpikir mungkin bisa memberikan korsase menjelang upacara pernikahan dimulai. 

Namun, belum juga Jennie mengambil keputusan, pintu di hadapannya mendadak terbuka. Seorang wanita dengan tubuh tinggi besar dan berisi, menatap Jennie dalam tatapan ketus. Ia mengenakan gaun panjang berwarna biru muda, yang menjadi dresscode para pengiring pengantin dan keluarga.

“Ada apa?” tanya perempuan itu dalam suara parau. 

“Um, saya …mau menitipkan korsase untuk Jiho,” jawab Jennie gugup, mengangkat kotak yang dibawanya.

“Jiho nggak butuh. Kami udah buat sendiri.”

“Tapi, Jiho perlu korsase ini supaya warnanya selaras dengan buket bunga ibu saya.”

“Kok kamu ngotot, sih? Saya bilang Jiho–”

“Kenapa, Kak?”

Jiho muncul dari balik punggung wanita itu. Ia tampak terkejut melihat Jennie ada di depan ruang ganti, dihadang ole kakak perempuannya. Pria itu segera memasang badan, menghalau kakaknya dari pandangan Jennie. Jiho menutup pintu, berdiri di koridor bersama perempuan muda di hadapannya. “Maaf,” ucapnya. “Kakakku memang suka ikut campur. Ada apa?”

“Ini. Mama nitipin korsase untuk dipakai,” Jennie membuka kotak di tangannya. Di dalamnya, terdapat setidaknya selusin rangkaian kuncup bunga mawar berwarna pink muda yang berpadu dengan dedaunan hijau.

“Cantik banget korsasenya,” puji Jiho. Kemudian, ia menghela nafas. “Aku ambil beberapa untuk kakak-kakakku. Terserah mereka mau pakai atau nggak. Sisanya kamu pegang dulu aja. Saat Mingyu datang siang nanti, tolong kasih satu ke dia.”

Jennie mengerutkan kening. “Mingyu nggak datang di upacara pagi ini?” tanyanya.

Jiho hanya membalas dengan senyuman tipis.

“Jiho,” panggil Jennie. Ada rasa yang mengganjal di perutnya. “Apa ada hal lain yang bisa aku bantu?”

Pria di hadapannya menggeleng. 

“Nggak usah khawatir, Jen. Aku ambil bunganya, ya,” ucap Jiho, meraih beberapa korsase dalam satu tangan. “Doain aja upacaranya lancar.”

 

“Jadi, itu kakak-kakaknya Jiho?” bisik Jisoo sambil merapikan rambut Jennie. Mereka menempati salah satu sudut koridor, sebagai persiapan terakhir sebelum Jennie berjalan menyusuri lorong yang membawanya ke ujung altar. 

Jisoo mengintip dari balik bahu Jennie, menyipitkan mata pada sekelompok wanita paruh baya yang mengenakan gaun serba biru. Sebagian dari mereka berbagi fitur wajah yang sama dengan Jiho, sehingga mudah memvalidasi bahwa mereka satu darah. Mereka duduk pada barisan kursi yang berjejer di halaman tengah. “Memangnya kakak kandung Jiho ada berapa?”

“Yang aku lihat di ruangannya Jiho tadi sih sekitar 4 orang. Cewek semua,” jawab Jennie, merapikan posisi bando di kepalanya..

“Empat?!” Jisoo menganga. 

“Iya. Jiho paling kecil.”

“Jiho paling kecil?!” ulang Jisoo lantang. Jennie terpaksa membekap mulut sahabatnya.

“Nggak usah keras-keras!” ucap Jennie geram dengan gigi rapat. “Kalau mereka dengar gimana?”

“Sori,” gumam Jisoo. Ada satu pertanyaan yang menggelitiknya. “Bentar, bukannya Jiho saudaraan sama Mingyu?”

“Yang aku tahu mereka saudara tiri,” Jennie mengangkat bahu. “Satu ayah, beda ibu.”

Jisoo mendengungkan nada datar. “Apa itu alasan Mingyu nggak keliatan? Karena mereka saudara tiri?” tanyanya.

“Nggak tahu juga. Kalaupun iya, rasanya aneh. Aku udah ketemu Mingyu beberapa kali. Dan di antara saudara-saudara Jiho yang lain, sepertinya dia yang paling suportif.” 

Jennie dan Jisoo saling tatap dalam diam, tak dapat menemukan jawaban dari kebingungan mereka. 

Sesaat kemudian, musik pengiring pernikahan mulai dimainkan. Jisoo memeriksa penampilan Jennie untuk terakhir kalinya, sebelum memberinya dua jempol. Jennie berlari-lari kecil mengikuti barisan pengiring pengantin wanita yang telah lebih dulu bersiap di lorong. Ia berada di barisan paling belakang, sementara teman-teman dekat dan sepupu ibunya menjadi pengiring utama. Ketika bertemu mata dengan ibunya yang berada di posisi terakhir dari barisan, Jennie melambaikan tangan padanya.

Mata Yejin telah berkaca-kaca, bahkan sebelum ia menyusuri lorong. Tapi, upacara akan segera dimulai. Jennie tak akan sempat menyeka air matanya.

*

Mingyu’s POV

Mingyu tak menyangka ia akan kembali ke Alternata. Namun, kedatangannya kali ini untuk hal yang berbeda. Setelah menjemput Seungcheol, keduanya tiba di halaman parkir restoran yang sama di mana mereka sempat makan siang dengan petinggi Terrahaus.

Kali ini, mereka kembali untuk menghadiri pernikahan Jiho dan Yejin.

Mingyu melangkah keluar mobil, disambut oleh angin dingin yang bertiup di akhir musim gugur. Ujung hidungnya terasa gatal, karena dapat merasakan pergantian cuaca yang sebentar lagi akan menghujani jalanan kota Seoul dengan salju. 

Setidaknya, halaman courtyard dari Alternata masih dinaungi oleh atap transparan dan dikelilingi oleh dinding-dinding tebal. Area terbuka itu belum pernah Mingyu kunjungi sebelumnya, yang ternyata berada di bagian terdalam dari restoran.

“Oi, ini seriusan kita nggak papa dateng telat?” tanya Seungcheol, bergabung dengan Mingyu setelah menutup pintu penumpang. “Gue kira lu jadi pengiring pengantin pria.”

“Ada perubahan rencana,” Mingyu berdalih. Ia tak menutupi kebenaran, tapi juga tak menceritakan alasan di baliknya. Sebagai seorang sahabat, Seungcheol pun tak mempertanyakan. “Ayo, masuk.”

Keduanya berjalan beriringan melewati area resepsionis yang tak lagi asing, terus hingga melewati area makan indoor yang pernah mereka singgahi. Sebuah pintu ganda di ujung ruangan menjadi tujuan akhir mereka.

Chapter 25: the outsider.

Summary:

Setelah menyapa Jiho di halaman tengah, Mingyu mampir ke ruang ganti untuk bertemu Yejin.

Chapter Text

Mingyu’s POV

Kedatangan Mingyu di halaman courtyard dari Alternata mendapat sambutan yang menyibukkan inderanya. Mulai dari alunan musik latar (“L-O-V-E” oleh Nat King Cole) yang diputar lembut, mengiringi langkah setiap tamu undangan. Aroma dari rangkaian bunga segar yang dirangkai, menghiasi kolom-kolom beton penyangga lantai koridor. Bagian tengah area itu berupa ruang terbuka beralaskan paving berwarna tanah, sebuah meja panjang dan dua lusin bangku mengisi satu sisi. Sebuah atap transparan berbentuk kubah membuat sinar musim gugur yang sendu menerangi ruang tengah. Beberapa pepohonan liar di luar sana menyembul, menjadi bingkai alam yang melingkupi dengan semburat daun kekuningan.

Di sisi lainnya, terdapat altar lengkung tempat Jiho dan Yejin mengadakan upacara pernikahan—yang sengaja Mingyu lewatkan. Para undangan saling berbaur dengan teman dan kerabat, tak mengindahkan kehadiran Mingyu dan Seungcheol yang baru tiba. Pernikahan yang dihadiri tak lebih dari tiga puluh orang itu terlihat seperti reuni sekolah yang intim. Gunjingan terselubung menjadi pemanis  bibir yang menikmati mocktail dan sajian di meja prasmanan.

“Gue laper,” bisik Seungcheol, mengelus perutnya. “Makan, yuk?”

Serasa mengabaikan selisih 2 tahun di antara mereka, Mingyu berkata lembut kepada seniornya, “Kita samperin Jiho sama Yejin dulu, ya. Abis itu baru makan.”

Setelan jas biru yang mereka kenakan membuat dua sahabat itu tampak seragam dengan pengiring pengantin lain yang telah hadir sedari pagi. Sambil melintasi halaman, Mingyu mencoba fokus pada Jiho yang menjadi target pencariannya. Kayak tirinya itu tampak sedang sibuk berbincang dengan keluarga yang Mingyu kenali wajahnya.

Mingyu menarik bibirnya untuk sebuah senyuman. Hari ini adalah hari penting bagi kakaknya, ia mengingatkan diri sendiri.

“Jiho!” panggilnya, sambil membentangkan kedua tangan.

Pria di hadapannya menoleh cepat, seketika berseri-seri saat menyadari yang mendekat adalah adik tirinya. Ia menyambut  Mingyu dalam pelukan.

“Hei! Akhirnya lu datang juga,” sapanya dalam pelukan. Lengannya memeluk erat tubuh Mingyu yang lebih canggung. Namun, Jiho tak melewatkan kesempatan untuk berbisik, “Maaf, ya.”

Dada Mingyu berdegup kencang mendengar kata-kata Jiho di telinganya. Ia menarik diri, mengusap bahu kakaknya. Tanpa kata, keduanya saling menatap penuh arti. Mingyu sepenuhnya paham arti kata maaf itu. Bagi keluarga Jiho dan kakak-kakak perempuannya, Mingyu hanyalah ‘orang luar’.

“Yejin mana?” Mingyu mengganti topik, berusaha tampil riang. “Gue harus liat secantik apa kakak ipar baru gue!”

 

Jennie’s POV

“Nggak ada heels yang lebih pendek lagi, Jen? Kaki Mama pegel,” keluh Yejin dalam ruang gantinya. Ia telah mengganti gaun pengantinnya dengan gaun rok midi. Dengan alasan tak ingin mengotori gaun yang dipakainya saat upacara, Yejin memilih untuk mengenakan pakaian lain dengan lipatan rok sebatas betis. Padahal, Jennie tahu ibunya yang tomboi tidak betah mengenakan gaun. 

“Ada flat shoes, Ma,” Jennie menawarkan opsi lain sebagai sepatu pengganti. “Tapi, masa di hari pernikahan pakai sepatu flat. Nggak cantik, dong.”

Yejin mengeluh. Ia duduk di kursi, sambil mengurut betisnya yang pegal. “Ya gimana, dong. Sehari-hari Mama juga pakai sepatu olahraga buat kerja. Nggak betah pakai sepatu hak,” ia beralasan.

Jennie tersenyum sendiri, menggelengkan kepala. “Pakai selop aja gimana? Ada haknya dikit, tapi nggak tinggi banget kok,” Jennie merogoh ke dalam kantung kertas berisi beberapa kotak sepatu. “Ini Jisoo udah bawain punya dia. Haknya tebal, jadi nggak begitu pegel.”

“Ya udah, deh. Pinjem punya Jisoo, ya,” si pengantin baru mengalah. 

Belum juga Jennie membuka kotak sepatu, ia mendengar suara ketukan di pintu. “Iya, bentar!” sahutnya. Jennie berlari kecil, memutar gagang pintu. Kim Mingyu berdiri di hadapannya, menjulang tinggi dalam balutan jas berwarna biru tua. Penampilan yang terasa akrab di mata Jennie, membuatnya terpana sesaat.

“Hai, Jen,” sapa Mingyu dengan bibir mengembangkan senyum. “Yejinnya ada? Kata Jiho dia lagi ganti baju.”

Jennie berdeham. “Iya, ada. Masuk aja,” balas Jennie. Ia membuka pintu lebih lebar, memberikan ruang bagi Mingyu untuk melangkah masuk. 

“Oh, iya. Kenalin,” Mingyu menunjuk seorang pria asing di sisinya. Ia juga mengenakan jas biru, dalam warna yang lebih muda. “Ini Choi Seungcheol. Senior sekaligus teman kerja di kantor.”

“Halo. Panggil Seungcheol aja,” ucap teman Mingyu, menjabat tangan Jennie.

“Saya Kim Jennie. Biasa dipanggil Jennie,” sahut Jennie. “Silakan masuk, Seungcheol.”

Sementara itu, Yejin tak dapat menyembunyikan kebahagiannya ketika melihat Mingyu. Seakan lupa dengan kakinya yang pegal, Yejin bangkit dari kursi untuk memeluk Mingyu singkat. Mereka berbagi tawa ringan, bersama Seungcheol yang Mingyu kenalkan pada kakak iparnya. Jennie mengamati bagaimana antusiasme Mingyu membuat Yejin berputar, memamerkan gaunnya. 

“Tapi ini bukan yang kamu pakai pas upacara, kan?” tanya Mingyu. Ia memasang wajah kecewa yang dramatis. “Yah… sayang banget. Coba aku bisa dateng pagi.”

Yejin tersenyum simpul. “Maaf, ya, Mingyu,” gumamnya. “Tapi, sebagai gantinya, kamu nanti harus dansa sama aku, ya!”

“Terus Jiho?” goda Mingyu.

“Ya Jiho dulu baru kamu, lah!” Yejin meninju lengan Mingyu ringan. Keakraban mereka terasa asing bagi Jennie, yang hanya pernah sekali melihat ibunya dan Mingyu berada dalam satu ruang. Itupun saat makan malam bulan lalu.

“Kalau kalian belum selesai siap-siap, aku keluar dulu sama Seungcheol, ya. Laper banget kita. Sengaja belum makan dari pagi,” Mingyu berujar ringan.

“Iya sana makan, gih! Makan sampai kenyang, ya! Kalau perlu, bungkus sekalian!” seru Yejin.

“Kayak ibu-ibu kondangan aja sampe dibungkus!”

Yejin tergelak. 

Mingyu dan Seungcheol berpamitan pada Yejin. Dalam perjalanan mereka ke pintu, Jennie menahan Mingyu pergi. “Mingyu. Tunggu bentar,” cegahnya.

Jennie berbalik, merogoh ke dalam kantung tas yang berantakan di sofa. Ia mengambil kotak berisikan korsase yang sempat ibunya persiapkan. “Ini. Korsase punyamu,” ucapnya sambil menunjukkan hiasan dada itu pada Mingyu. “Jiho bilang satu buat kamu dan Seungcheol.”

“Nggak usah, Jen. Kan upacaranya udah selesai,” bantah Mingyu. Namun, Jennie tak peduli. Ia mengambil langkah, berdiri dekat dengan tubuh Mingyu. Hidungnya dapat mencium aroma manis yang ia kenali sebelumnya. Sambil membuka kait peniti pada korsase, Jennie berkata tegas, “Jiho percayain aku untuk kasih korsase ini ke kamu. Dateng nggak dateng saat upacara, kamu tetap bagian dari keluarga ini sekarang.”

Dengan hati-hati, Jennie menarik kerah jas Mingyu, menyematkan hiasan korsase itu dengan rapi.

“Bunganya udah agak layu. Nggak papa, ya,” canda Jennie. 

Ketika ia mendongak, jantungnya melewatkan sebuah degupan kencang. Mingyu menatapnya dalam-dalam. Di keheningan waktu, Jennie menangkap pesona dari garis wajah yang tegas itu, menyiratkan kerapuhan yang terpendam di saat yang bersamaan. Namun, senyuman tipis di bibir Mingyu membuat dada Jennie bergetar. 

Ia tak pernah melihat ekspresi lembut itu di wajah Mingyu sebelumnya. 

“Makasih, ya,” ucap Mingyu dalam suara rendah. Ia memeriksa pantulan dirinya pada cermin di belakang Jennie, lalu tersenyum puas. Ia mengambil hiasan lain yang masih dipegang Jennie. “Korsase buat Seungcheol biar aku yang pasangkan.”

Mingyu meninggalkan ruang ganti itu bersama Seungcheol. Di balik pintu yang tertutup rapat, telinga Jennie berdengung. Ia dapat mendengar debaran jantung yang teratur, menghentak begitu kuat. Jennie mengipasi wajahnya yang entah kenapa terasa panas.

Chapter 26: the night at the table.

Summary:

di meja yang mereka bagi bersama, Jennie dan Mingyu saling berbagi kisah. Hingga sosok yang mereka kenal muncul di akhir pesta.

Chapter Text

Jennie menatap langit yang mulai berwarna keemasan, menjadi saksi dari cepatnya waktu berlalu. Cahaya lembut menembus atap kubah yang menaungi para undangan pesta di lantai dansa. Lampu kandil dan lampu-lampu dinding mulai menyala, menggugah nuansa romantis dalam energi pesta yang masih tersisa. 

Musik yang riang membuat semua orang bersemangat, berpasangan dan berputar sambil tertawa lepas. Jiho telah melepas jaket tuksedonya, menggulung lengan kemeja hingga ke siku. Ia menggandeng tangan Yejin, membuatnya berputar dan tergelak di saat yang bersamaan. Lagu ‘I Want You Back’ oleh The Jackson 5 mengiringi langkah mereka yang masih ringan. Di sekeliling mereka, para tamu turut memadati area dansa sambil bernyanyi bersama. 

Jennie mengamati itu semua dari tempat duduknya, dengan piring kecil berisi potongan kue pernikahan yang masih tersisa setengah. Rasa krim keju dari red velvet masih tersisa di lidah, berpadu dengan rasa segar dari mocktail mojito, non-alkohol. Tangan dan kakinya terasa lengket oleh keringat yang telah mengering, setelah berdansa dengan Jisoo dan Bambam. 

Tak hanya para sahabatnya. Jiho dan Yejin juga mengajaknya berdansa bersama, membuat Jennie pusing ketika mereka mulai berputar. Berawal dari satu gerakan lambat, yang lama-kelamaan bertambah cepat ketika orang-orang mengiringi mereka dengan tepuk tangan. Jennie harus berhenti, atau ia akan muntah.

“Jen, aku sama Bambam mau ambil es buah. Kamu mau?” Jisoo yang duduk di sampingnya menawarkan. Ia masih tersengal.

“Nggak deh. Aku masih ada minum,” tolak Jennie, mengangkat gelas mocktail-nya yang masih menyisakan setumpuk potongan es batu. “Dari tadi aja udah bolak-balik ke kamar mandi.”

Jisoo membentuk lingkaran dengan ibu jari dan telunjuknya, memberikan tanda ‘OK’ pada Jennie. Ia menarik tangan Bambam agar mereka bisa berburu kudapan yang tersisa. Setelah membiarkan dua sahabatnya pergi ke meja prasmanan, perhatian Jennie kembali pada lantai dansa yang masih hidup. 

Di antara para tamu yang bergoyang, Jennie menangkap sosok Mingyu yang sibuk dikerubungi oleh teman-teman ibunya. Wajahnya sekilas terlihat panik, sambil mencoba tetap menebar pesona lewat senyuman. Jennie merapatkan bibir, menahan diri untuk tidak tertawa melihat pria itu bergumul di antara para tante yang memperebutkannya. Rambut yang tadinya disisir rapi mulai tampak berantakan karena Mingyu tak berhenti berjoget sedari tadi.

Ketika sasaran mereka beralih ke Seungcheol, Mingyu mengendap keluar dari kerumunan dan berjalan menuju meja yang Jennie tempati. Ia melempar dirinya pada kursi yang diduduki Jisoo, mengipas wajahnya yang panas. Jennie dapat melihat keringat menetes di pelipis Mingyu dan punggungnya yang basah.

“Nggak joget lagi, Jen?” tanya Mingyu, sambil mengatur nafas. Ia membuka jaket dan menyampirkannya di punggung kursi. Mingyu mengambil sapu tangan dari saku kemeja. 

“Energi sosialku udah abis,” balas Jennie sambil menopang dagu pada satu tangan, mengalihkan pandangan dari Mingyu yang sedang menyeka keringat.

“Maklum, sih. Kamu standby dari pagi, kan?”

“Namanya juga anak berbakti,” canda Jennie. “Mama panikan kalau aku nggak ada di dekat dia. Padahal ada teman-temannya juga yang udah nyiapin semuanya.”

“Walau capek, senang juga bisa mengikuti prosesnya dari awal, kan? Seenggaknya kamu punya cerita yang utuh untuk dibicarakan,” Mingyu menyahut. Dari tempat duduknya, Jennie dapat menangkap ekspresi pria itu yang tak selaras dengan kata-kata penghiburannya.

Jennie membuka mulut, tapi lidahnya kelu. Ada pertanyaan yang mengganjal di benaknya. Namun, ia tahu, jika memaksa diri untuk melemparnya, rasanya ia telah melanggar garis batas yang tak boleh Jennie lewati. Bagaimanapun, hubungan persaudaraan antara Jiho dan Mingyu adalah masalah pribadi keluarga mereka.

Sayangnya, Jennie luput mengira bahwa Mingyu tak menangkap gelagatnya yang canggung. Pria itu menyandarkan diri pada punggung kursi, menarik nafas panjang. Ia tahu tak harus menceritakan apapun. 

Seperti yang selama ini telah terjadi, Mingyu telah kenyang dengan gunjingan yang beredar di belakangnya. Ia lelah menjelaskan, hingga seringkali membiarkan gosip menyebar liar.

Namun, Jennie melihat semuanya hari ini. Ditambah lagi, ia mendengar sendiri dari Jiho tentang perilaku kakak-kakak perempuan tirinya yang menyabotase korsase, mengecualikan Mingyu dari menerima hiasan yang seragam. Belum lagi Yejin yang dengan rendah hati justru membuatkannya hiasan baru, termasuk untuk para wanita ketus yang berbagi separuh darah dengannya. Dan Jennie, yang menyematkan bunga kering itu di dadanya. Menyebut Mingyu sebagai ‘keluarga’. 

Jennie, yang bahkan tak berbagi hubungan darah dengannya.

“Selain Jiho,” Mingyu memulai. Suaranya serak, tapi Jennie masih dapat mendengarnya jelas. “Kakak-kakak perempuan tiriku melihatku sebagai anak haram.”

Jennie tertegun. Mingyu memaklumi reaksi perempuan itu. 

“Dan hal itu salah,” lanjutnya, tertawa kering. “Aku bukan anak haram. Setelah ibu Jiho meninggal, ayah kami menikah lagi dengan ibuku–yang memang jauh lebih muda darinya. Ayah merahasiakan keberadaan ibuku hingga aku lahir, karena nggak tega pada anak-anaknya yang masih berduka. Dia memilih untuk melangkah maju, mencari cinta baru. 

Karena tak pernah meminta restu dari anak-anaknya untuk menikah lagi, beberapa dari mereka sakit hati pada Ayah. Makanya mereka nggak pernah menganggapku sebagai adik mereka, meski Ayah sudah menunjukkan surat pernikahan resmi.”

“Itu … kejam,” gumam Jennie.

Mingyu menoleh, mengunci pandangan pada mata Jennie. Rasanya ia seperti dibelenggu, tak dapat berpaling. 

“Kamu percaya sama ceritaku, Jen?” tanya Mingyu. Jennie merenungkan pertanyaan itu barang sejenak. 

“Ceritamu memang terdengar seperti cerita yang mudah dijual untuk menarik simpati. Tapi, aku mendengar sendiri gimana marahnya Jiho dari balik pintu,” balas Jennie. “Kecuali, kalau saat itu aku tiba-tiba pindah dimensi dan nyangkut di dunia lain. Bisa jadi aku lagi jadi tikus, yang menguping pembicaraan saudara-saudara tiri Cinderella saling bertengkar, melarang dia pergi ke pesta dansa untuk ketemu pangeran.”

Mingyu tergelak, lalu membuang nafas panjang, lagi. “Kamu jadi tikusnya?”

Jennie mengangkat bahu. “Aku ambil benang dan jarum untuk membuat korsase bagi sang putri, agar ia bisa pergi ke pesta dansa!” seru Jennie dengan suara melengking. Mingyu menggelengkan kepala, geli dengan tingkah wanita di sampingnya. Bibirnya menyusun lengkungan yang melebar, membuat tulang pipi Mingyu menonjol.  

Mingyu menambahkan, “Gimana pun juga, aku udah cukup senang denger Jiho ngebelain sampai semarah itu. ‘Jiho’ dan ‘marah’ aja udah terdengar seperti kalimat mitos; legenda jaman dulu yang kebenarannya aja diragukan.”

“Mingyu, boleh aku tanya sesuatu?” Jennie memutar tubuhnya, menyandarkan siku pada meja. “Kamu …nggak pernah sekalipun membenci Jiho atau ayahmu?”

“Buat apa? Aku nggak punya alasan untuk benci mereka.” jawab pria itu.

“Mungkin karena ayahmu merahasiakanmu dari keluarga sebelumnya?”

 Jari-jari Mingyu mengetuk meja. “Waktu itu aku masih kecil, jadi nggak ngerti apa-apa. Jiho juga nggak segan bermain denganku. Waktu Ayah meninggal, dia mengambil alih tanggung jawab sebagai anak laki-laki tertua. Kalau bukan karena dia, mungkin aku nggak bisa sekolah dan kuliah di kampus bergengsi. Mungkin juga aku nggak akan punya karier seperti sekarang.”

 

Ketika matahari telah sepenuhnya bersembunyi, langit hanya menyisakan kegelapan yang membentang sejauh mata memandang. Kerlipan bintang dan bulan tampak redup dibandingkan cahaya yang berpendar dari titik-titik lampu. Gairah dansa perlahan beralih menjadi intim bagi mereka yang datang dengan pasangan, saling berpeluk mesra di tengah ruangan. 

Lagu Unchained Melody bermain dalam melodi dan ritme lambat, mendinginkan suasana.

Jisoo dan Bambam telah kembali dari perburuan kudapan mereka, serta Seungcheol yang akhirnya bebas dari cengkeraman para tante-tante berjiwa muda. Mereka duduk bersama Jennie dan Mingyu yang tak saling melontarkan kata. Meski duduk bersebelahan, hanya siku mereka yang sesekali bersinggungan ketika Mingyu, Seungcheol, dan Bambam mulai mengakrabkan diri. 

Piring-piring yang penuh dengan camilan, perlahan isinya mulai menipis. Topik otomotif menjadi perbincangan yang panas di antara para pria, membuat Jennie dan Jisoo tak tertarik untuk turut serta.

“Nanti pulangnya lu gimana, Jen?” tanya Jisoo sambil mengunyah potongan kulit pai. “Mau gue anter sama Bambam? Tante sama Jiho bakal langsung malam pertama, kan~?” 

Wajah Jennie seketika kusut, merasa tak nyaman dengan candaan sahabatnya. Jisoo hanya terkekek. “Atau~ diantar sama cowok yang lain~ tinggal pilih~” godanya.

“Berhenti, nggak?” Jennie mengangkat tinjunya, membuat Jisoo berhenti melagu konyol. “Yang kayak gitu lu nggak usah tanya, lah. Udah wajib hukumnya nganterin pulang temen yang bakal segera ditinggal emaknya. Gue juga bawa banyak barang. Jadi, selain sebagai teman, lu juga jadi kuli, ya!”

Jisoo mengerutkan hidung, membuat Jennie gemas. 

“Sekalian aja lu suruh gue jadi kuli tanpa bayaran buat tim wedding organizer-nya,” Jisoo merengek.

“Ide bagus, tuh~” berganti Jennie yang melagu jahil.

“Ih, nyebelin!”

“Loh, itu Lisa, kan?”

Ucapan Seungcheol membuat seluruh diskusi yang terjadi di meja terhenti seketika. Seperti acara TV yang dipotong tiba-tiba oleh breaking news, para penghuni yang melingkari meja tak siap dengan info mendadak itu. Mata mereka mengikuti ke mana jari Seungcheol menunjuk.

Seorang wanita tinggi semampai berambut hitam yang digelung ketat, melangkah anggun melewati setiap meja. Di antara para tamu yang telah lusuh dan lelah, Lisa Manoban tampil dalam balutan gaun berwarna marun yang ketat. Bahan satinnya berkilau ketika bermain mata dengan cahaya, membuat setiap lekuk tubuhnya mempesona. Langkahnya mantap, tak ada ragu setitik pun saat menghampiri Jiho dan Yejin di meja mereka.

“Kok dia datang?” tanya Bambam. “Emangnya Lisa diundang, Jen?”

“Gue nggak tahu,” jawab Jenie.

“Tapi, yang diundang kan cuma sebatas keluarga dan teman-teman kantor,” sahut Jisoo. “Kok Lisa bisa tahu ada acara ini?”

“Gue  juga bingung.” Jennie menyahut lagi.

“Mungkin perwakilan Rowoon?” Seungcheol turut berbagi ide. Semua orang yang ada di meja itu menatapnya heran. Sambil mengunyah buah anggur, ia menambahkan, “Lisa kan sekretaris Rowoon di Terrahaus. Dan kalau gue nggak salah inget, Rowoon tunangannya Jennie, kan?”

“Kok, lu tahu?” tanya Jisoo heran.

“Beberapa waktu lalu gue dan Mingyu janjian makan siang sama Rowoon untuk urusan bisnis. Rowoon sendiri yang cerita.”

“Tapi, Rowoon bilang dia nggak bisa datang karena hari ini dinas keluar kota,” tambah Jennie.

“Bisa jadi Lisa datang sebagai perwakilannya,” balas Seungcheol. “Apalagi, kerja sama antara Arkate dan Terrahaus udah hampir 80 persen deal.

“Gue nggak denger soal itu,” sahut Mingyu, mengerutkan kening.

“Emang cuma orang dalem yang tahu,” ucap Seungcheol enteng. Ia menunjuk dirinya sendiri sambil berkata, “Gue orang dalemnya—Bentar, kalian kenal Lisa?”

“Lebih tepatnya, pernah kenal,” sambung Bambam, melemparkan pandangan pada Jisoo dan Jennie. “Dulu, Lisa teman kami sampai SMA. Begitu kuliah, dia tiba-tiba memutus kontak. Tanpa alasan.”

Chapter 27: lisa manoban.

Summary:

kedatangan Lisa membawa sensasi yang berbeda, tidak hanya bagi Mingyu, tapi juga Jennie. di sisi lain, ponsel Jennie tak berhenti berdering.

Chapter Text

Mingyu’s POV.

“Hai, Mingyu,” sapa Lisa Manoban, ketika Mingyu tiba di hadapannya. Mereka berdiri dekat, saling melemparkan pandangan penuh tanda tanya. Mingyu tak mengerti mengapa Jiho memanggilnya, tapi ia menurut saja. Sementara itu, Jiho dan Yejin berdiri di antara mereka, belum juga kehabisan energi setelah berpesta seharian.

“Mingyu, kamu kenal Lisa, kan?” tanya Jiho.

“Iya, kenal,” balas Mingyu, mengulurkan tangan. Lisa menyambut, menggenggam tangannya erat. 

Lengkungan yang mengembang di bibir Lisa menyiratkan formalitas, beramah-tamah sebagai sekedar perwakilan calon mitra kerja. Mingyu akrab dengan ekspresi itu, karena ia seringkali menggunakannya ketika rapat dengan klien. 

“Lisa datang untuk mewakili Rowoon, sekaligus Terrahaus,” Jiho menjelaskan. “Terima kasih, loh. Sampai repot-repot datang segala.”

“Justru saya yang nggak enak karena sebenarnya saya tidak diundang,” balas wanita itu anggun. Garis yang membentuk lekuk dari leher dan bahunya yang telanjang membuat Mingyu hilang arah untuk sesaat. Di sisi lain, Yejin mengalihkan pandangan. Ada rasa bersalah yang membayangi wajahnya. “Tapi, Rowoon mendadak menghubungi saya, meminta datang ke sini. Dia merasa nggak enak karena harus dinas luar kota.”

“Dia pria yang sibuk. Namanya juga penerus perusahaan keluarga,” canda Jiho. Yejin menyikut pinggangnya.

“Kami maklum kalau Rowoon nggak bisa hadir,” tambah Yejin. “Sayangnya, Jennie yang paling sedih karena tunangannya nggak di sini. Titip salam buat Rowoon, ya. Bilang ke dia kalau Jennie kangen.”

Rahang Lisa menegang. Suasana yang canggung antara Lisa dan Yejin membuat Mingyu bingung.

“Iya, Tante. Nanti saya bilangin Rowoon,” ucap Lisa dengan suara gemetar. “Kalau gitu, saya pamit, ya Pak Jiho–”

“Buru-buru banget? Makan dulu aja! Mingyu, kamu temenin Lisa, ya,” pinta Jiho, menepuk bahu adiknya. Mingyu tahu ia tak bisa mengelak.

 

Alunan lagu yang lembut tak lagi menyenandungkan lirik, membuat setiap sudut Alternata hening. Yang tersisa hanyalah melodi piano yang mengisi udara kosong. Sambil menemani langkah Lisa ke meja prasmanan, Mingyu melempar pandangan melewati lantai dansa yang mulai lengang. Sesekali, ia melirik ke arah meja tempat Seungcheol dan teman-teman barunya sedang nongkrong bersama. Rasanya ia ingin segera kembali ke sana, daripada menemani calon mitra kerja cantik di sampingnya. 

Seperti memahami gelagat Mingyu, Lisa berkata, “Tinggal aja nggak papa, kok, Mingyu. Saya cuma mau ambil beberapa cemilan aja.”

Berbagai wadah makanan yang berjejer di meja sebagian besar sudah kosong. Yang tersisa  hanyalah stan kudapan manis dan asin yang telah dingin. Lisa tampak tak keberatan. Ia mengisi piringnya dengan beberapa donat dan semangkuk salad buah. 

“Saya dapat perintah langsung dari bos buat nemenin kamu. Jadi, seenggaknya kasih saya kesempatan buat dapat poin plus sebagai karyawan,” Mingyu bergurau, membuat Lisa tertawa kecil. 

“Oh, jadi harus lewat perintah bos dulu?” goda Lisa. “Apa itu alasannya kamu nggak menghubungi nomorku setelah lewat satu bulan?”

Mingyu tercekat. “Itu…”

Lisa melirik, berlalu begitu saja tanpa kata. Mingyu mengikutinya. Mereka duduk bersama di sebuah meja yang tak berpenghuni. Di balik punggunnya, Mingyu tak melihat Jennie dan teman-temannya telah pergi terburu-buru.

 

Jennie’s POV

Menangkap sosok Lisa yang berdiri di kejauhan, berbaur dengan Jiho dan Yejin, rasanya seperti mengulang memori lama yang telah hambar. Tak ada yang patut dikenang, tak ada yang membuatnya merasa bahagia. Dulu mereka begitu dekat, tapi kini hanya menjadi dua orang asing yang tak lagi saling mengenal.

Belum lagi ketika Jiho memanggil Mingyu untuk mendekat. Jennie ada tepat di sampingnya, tapi bukan dia yang diharapkan untuk menyapa teman lama.

“Jen, bentar, ya.” Ucapan itu menjadi kalimat terakhir yang Jennie dengar dari Mingyu di malam itu. Selepas ia meninggalkan meja, pria itu tak kembali. Jennie berharap, setidaknya Lisa meluangkan waktu untuk mampir ke meja mereka, berbasa-basi sebelum meninggalkan pesta. Namun, Lisa tidak melakukannya. Ia justru mengambil Mingyu, meluangkan waktu berdua dengan pria itu di meja lain.

Tak hanya saling berbisik begitu dekat,  keduanya sesekali tertawa bersama. Lisa menyentuh lengan Mingyu, mencondongkan tubuh. Berbisik di telinganya, saling melemparkan pandangan yang penuh rahasia. Jennie menyadari, sebaik apapun Mingyu belakangan ini padanya, ia tetap seorang pria yang gemar bermain wanita. Tentu saja Mingyu tak akan melepaskan Lisa malam ini.

“Jen.”

Dibandingkan dirinya yang telah beraroma keringat dan rambut lepek, Lisa menjadi pemandangan yang menyegarkan mata. 

“Jennie.”

Gaun merah padam yang ia kenakan berpotongan rendah, dengan aksen tali tipis yang menggantung di bahu. Kuku cantik yang terawat. Riasan wajah tanpa cela dan bibir yang penuh.

“JENNIE!”

Jennie tersentak kaget dari lamunannya. Jisoo menatapnya panik. “Apa?!” balasnya.

“Ponselmu! Berdering terus dari tadi!” teriak Jisoo.

Jennie menyadari getaran yang berasal dari tas tangannya di meja. Ia lekas membuka pengaitnya, mengambil ponsel yang masih aktif bergetar. Ada nama Bu Haru, asisten rumah tangga neneknya, terpampang di layar. Tiba-tiba dada Jennie terasa berat.

“Halo?” sapa Jennie cepat. “Bu Haru? Ada apa?”

Ia tak mendengar suara kecuali isakan tangis yang begitu jauh. Ada gumaman lain di belakang Bu Haru, tapi Jennie tak menangkapnya jelas.

“Bu Haru? Halo? Ini Jennie!” Dengan panik, Jennie bangkit dari duduknya, mencari sudut ruangan yang lebih sepi. Suara Bu Haru nyaris tak terdengar, hanya erangan rendah yang membuat jantung Jennie berdegup semakin cepat.

“Nona Jennie…Bu Suji…” ucap Bu Suji lirih.

Jennie terkesiap. “Nenek kenapa, Bu? Halo?”

“Bu Suji… serangan jantung.”

Seperti berada di puncak bukit batu, Jennie merasakan bahaya yang menunggu di ujung kakinya. Ia tak dapat menampik pikiran buruk yang segera memenuhi kepala. Nafas Jennie memburu. Setiap kali Haru menjelaskan kondisi neneknya, Jennie merasakan telinganya berdengung.

“Waktu saya membawakan makan malam, beliau mengaku sesak nafas. Saat saya menelepon dokter, Bu Suji semakin lemas. Saya langsung menelepon ambulans,” Haru menjelaskan di antara isakan.

“Lalu? Kondisi Nenek gimana sekarang? Bu Haru di mana?” suara Jennie gemetar.

“Sekarang sudah di Anam Hospital, tapi masih di Unit Gawat Darurat. Nona Jennie bisa ke sini? Saya …takut sendirian…kondisi Bu Suji masih lemah.” Suara tangisan Bu Haru di telepon semakin menjadi-jadi.

“Oke, Haru. Saya segera ke sana, ya. Kamu tenang aja. Temani Nenek di situ,” balas Jennie cepat. Ia tak punya waktu untuk berpikir. Bu Haru membutuhkannya. Neneknya membutuhkannya.

Ketika Jennie berbalik, Jisoo dan Bambam telah berdiri di hadapannya. Lututnya tiba-tiba kehilangan tenaga, hingga ia harus berpegangan pada sahabatnya. Untungnya, Jisoo sigap menangkap Jennie dalam pelukan. Jennie harus meremas lengan Jisoo agar tak jatuh lemas ke tanah.

“Jen, kenapa?!” tanya Jisoo panik.

“Nenek gue, Jisoo. Masuk UGD,” ucap Jennie.

“Hah?!”

“Ya udah ke rumah sakit, yuk! Gue anterin!” Bambam mengusulkan. “Rumah sakit mana?”

“Anam,” jawab Jennie singkat.

“Jisoo, lu bawa Jennie ke mobil dulu. Gue pamit ke Tante dulu, ya,” usul Bambam. Tanpa pikir panjang, ia segera berlari, menghampiri pasangan pengantin yang sedang menikmati akhir dari pesta pernikahan mereka.

“Gue …pamit Jiho dulu,” gumam Jennie.

“Biar Bambam aja yang pamitin. Kita ke mobil sekarang, oke?” ajak Jisoo. Ia menggandeng tangan Jennie erat, mendorongnya untuk terus melangkah meski harus meninggalkan pesta. 

Di tengah jalan, Seungcheol memanggil Jisoo. Langkahnya saling menyusul dan pria itu tampak bingung karena Jennie dan teman-temannya tiba-tiba pergi. 

“Jennie? Jisoo? Kenapa?” tanyanya, ikut panik melihat kondisi Jennie yang pucat.

“Nenek Jennie masuk rumah sakit. Kami mau ke sana dulu, ya,” balas Jisoo. “Sori kita tinggal dulu, ya, Seungcheol.”

“Oke, nggak papa. Hati-hati, ya.”

“Jennie!” 

Suara Yejin terdengar dari balik punggung Seungcheol. Nafasnya tersengal karena mengejar putrinya yang buru-buru pergi. “Nenek masuk rumah sakit?” tanya Yejin. “Kamu mau ke sana sekarang?”

Jennie hanya bisa mengangguk. Ia buru-buru menghapus air mata yang tiba-tiba jatuh di pipi. 

“Aku harus pergi sekarang, Ma,” ucapnya. “Kasihan Haru dan Nenek cuma berdua.”

“Mama nggak bisa pergi. Tapi, kalau butuh apa-apa, kabarin. Oke?” Yejin mengelus kepala putrinya dan mencium keningnya. Bambam segera datang menyusul, memimpin langkah Jisoo dan Jennie menuju mobilnya di halaman parkir.

Mobil Bambam menderu, memecah keheningan di antara barisan mobil yang masih terparkir diam di ruang terbuka itu. Jennie duduk di kursi belakang, kedua tangannya mengepal erat. Ujung-ujung jarinya terasa dingin.

Jangan biarkan aku kehilangan Nenek hari ini, pinta Jennie dalam hati.

Chapter 28: the hospital.

Summary:

Ketika sampai di rumah sakit, Jennie mendapat kabar bahwa sang nenek harus mendapat perawatan di kamar ICU. Ia tak punya pilihan, asalkan kondisi sang nenek segera membaik. Di sisi lain, Rowoon menghubunginya dan menyusul Jennie ke rumah sakit.

Chapter Text

Belum juga mobil Bambam berhenti sempurna di area penurunan penumpang, Jennie telah melompat turun dari mobil. Jisoo berteriak karena kaget. Jennie tak menggubris meski namanya dipanggil. 

Langkahnya mengalir tanpa jeda, membawa Jennie melewati pintu depan rumah sakit yang membuka otomatis. Area resepsionis yang lengang disinari oleh lampu bernuansa sendu, dengan aroma disinfektan yang tajam menusuk hidung. Jennie memindai sekitar, hingga pandangannya berhenti pada sosok wanita bertubuh kecil yang sedang menunduk di kursi panjang.

“Haru!” panggil Jennie.

Wanita di kursi itu mendongak, matanya yang merah dan bengkak kembali meneteskan air mata saat mengenali wajah cucu Bu Suji.

Jennie menghampirinya, duduk di samping Haru yang terisak. “Gimana Nenek? Ada kabar baru?”

“Dokter bilang Bu Suji sudah bisa dipindahkan ke kamar ICU,” jawab Haru sambil sesenggukan. Potongan tisu di tangannya telah berkerut, membentuk bola kisut dalam genggaman. “Saya lagi menunggu kabar setelah ruangannya siap.”

Mendengar kabar itu, rasanya jantung Jennie dapat kembali ke tempatnya dengan tenang. Bahunya jatuh. Kakinya serasa dapat menjejak bumi kembali. Meski bukan berita terbaik yang ia dengar saat ini, setidaknya Bu Suji masih memiliki harapan.

“Selamat malam.”

Suara seorang wanita memecah kelegaan yang meliputi tubuh Jennie. Wanita itu tampak bugar, dengan kacamata oval bertengger di batang hidung. Tubuhnya masih tegap meski malam mulai larut. Ia mengenakan jas dokter berwarna putih yang menjuntai melewati pinggang.

“Apa kalian anggota keluarga Park Suji?” tanya dokter itu. Haru dan Jennie dengan sigap berdiri.

“Saya cucunya. Jennie,” sahut Jennie, memperkenalkan diri. “Bagaimana kondisi nenek saya?”

“Untuk saat ini, kondisi Bu Suji masih lemah,” ucapan sang dokter kembali membuat Jennie dan Haru menegang. “Berdasarkan keterangan Bu Haru, Bu Suji ditemukan dalam kondisi lemas. Ada sesak nafas. Kemungkinan Bu Suji mengalami serangan jantung. Kami sempat melakukan resusitasi dan pemberian obat. Setelah dilakukan observasi, kondisi beliau masih lemah. Karena perlunya pemantauan intensif, kami sarankan untuk memindahkan beliau ke kamar ICU.”

Jennie mengangguk pada setiap kalimat yang diucapkan oleh sang dokter. “Apa kami boleh mendampingi di kamar, Dok?” tanyanya.

“Mohon maaf, untuk saat ini tidak bisa. Kalaupun mau menunggu, hanya bisa di ruang tunggu saja. Ini demi kebaikan Bu Suji juga.”

Haru dan Jennie saling melempar pandangan. Sepertinya, tidak ada lagi yang dapat mereka lakukan malam ini selain menunggu.

“Apa ada keluarga lain dari Bu Suji yang sedang ditunggu?” tanya si dokter. “Kami memerlukan wali keluarga untuk mengurus administrasi pemindahan beliau ke kamar ICU.”

“Tidak ada, Dok. Bisa dengan saya saja.”

“Untuk dokumen Bu Suji apakah dibawa?”

“Saya bawa, Dok,” sahut Haru, memperlihatkan tas dokumen yang dibawanya.

“Kalau begitu, silakan ke meja resepsionis, ya, Bu. Nanti akan dibantu oleh petugas kami,” balas sang dokter. 

Bersama Haru, Jennie kembali ke meja resepsionis yang telah menyiapkan berkas yang diperlukan. Petugas di balik meja menyodorkan pena pada Jennie, yang ia terima dengan tangan gemetar. Ia mencoba mengatur nafas, sambil mengisi data diri dan menandatangani setiap lembar. Pikirannya bertarung antara membaca nomor identitas sang nenek dan merenungkan kesendiriannya di hari tua. Ia sedang terbaring lemah di ranjang keras, tak punya siapa-siapa lagi selain Jennie. 

Karena itu, Jennie harus kuat.

“Jennie.”

Suara Jisoo menggema di area rumah sakit, bersama Bambam yang beberapa langkah lebih lambat di belakangnya. Keduanya tampak cemas.

“Gimana Nenek?” tanya Jisoo.

“Ini lagi ngurus kepindahannya ke ruang ICU,” jawab Jennie lirih. Ia mengatur nafas, mencoba menjaga dirinya tetap tenang. Setelah selesai mengisi berkas, Jennie mengajak kedua sahabatnya dan Haru untuk duduk di kursi tunggu.

“Lu mau nunggu apa pulang?” tanya Bambam. “Kalau lu mau di sini, gue temenin, ya? Atau tidur aja di mobil dulu.”

“Iya, gue juga,” sahut Jisoo. “Atau gue pulang dulu ambil baju ganti, terus balik ke sini. Lu kan udah pakai baju pesta seharian. Pasti gerah.”

Jennie menggelengkan kepala. “Mending kalian pulang aja. Anterin Haru sekalian. Biar gue nunggu sampai Nenek masuk kamar ICU.”

Bambam mendesah. “Kita nggak mungkin ninggalin lu sendirian, Jen,” ucapnya dalam nada tinggi. “Lu nggak harus kuat sendirian. Di antara kita, justru lu yang paling capek.”

“Bambam,” Jisoo menepuk bahu sahabatnya, seakan mengingatkan pria itu untuk bersabar. Teguran itu membuat Bambam mengatupkan bibir. “Jen, gue tahu lu merasa bertanggung jawab. Tapi, Bambam benar. Lu nggak perlu nanggung sendirian. Harus ada yang nemenin lu malam ini.”

Untuk sesaat, mereka terdiam. Dalam keheningan itu, ponsel Jennie tiba-tiba berdering. Suaranya lantang di tengah area tunggu yang sepi, membuat Jennie gelagapan. 

Namun, saat ia melihat nama yang muncul di layar, air mata yang sempat tertahan mencoba menerobos pelupuk matanya. 

“Halo?” sapa Jennie pada suara di seberang.

“Halo, Sayang,” suara Rowoon yang rendah menyapanya. Rasanya ada desiran hangat dalam dada Jennie yang seketika menenangkan. Nafas yang sedari tadi sesak perlahan menjadi lega. Di antara semua orang yang bersamanya hari ini, Jennie hanya merindukan satu sosok sepanjang hari. “Kamu di mana? Aku dapat kabar dari mamamu. Katanya Nenek masuk rumah sakit?”

“Iya,” jawab Jennie singkat di antara pipinya yang basah. “Aku di RS Anam. Ini lagi nunggu Nenek dipindah ke ICU. Kamu di mana?”

“ICU?” ulang Rowoon. “Ini aku lagi jalan balik ke Seoul. Kamu nunggu di rumah sakit sama siapa?”

Jennie melirik ke arah sahabat-sahabatnya dan Haru, mengabarkan keberadaan mereka pada Rowoon.

“Oke. Aku lega kamu nggak sendirian. Aku susul ke sana, ya. Mungkin sekitar satu jam lagi sampai,” sahut pria itu. Nada bicaranya yang tegas meneguhkan hati Jennie untuk tetap kuat. Meski ia telah lelah, Jennie akan menggunakan sisa tenaganya demi Rowoon. “Aku tutup dulu teleponnya, ya. Kabarin kalau ada apa-apa.”

“Oke. Hati-hati di jalan.”

I love you.

I love you,” bisik Jennie.

 

Semenjak menerima telepon dari Rowoon, Jennie tak dapat duduk tenang. Tak lama berselang, Bu Suji akhirnya dibawa menuju kamar inap ICU. Saat para perawat mendorong ranjangnya keluar dari pintu UGD, Jennie terkejut betapa pucatnya wajah Bu Suji. Ia berbaring tak bergerak, dengan selang oksigen menutupi lubang hidung. Langkahnya bagai dijerat bongkahan batu besar, tak sanggup melanjutkan saat ranjang rumah sakit meluncur lantai rumah sakit yang kosong. Dalam sekejap, neneknya yang lemah telah berpindah ke ruangan lain. 

Jennie tak mendapat izin untuk melewati pintu ganda di hadapannya. Untuk saat ini, neneknya harus bertarung sendirian, menjaga nyawanya yang tua. Jennie tak bisa hadir di sisinya, menjaga dari dekat. Ia harus melemparkan tongkat kepercayaan pada para petugas medis untuk memberikan perawatan terbaik.

Untuk menghilangkan rasa kantuk, Jennie memilih untuk menunggu Rowoon di beranda rumah sakit yang terbuka. Dinginnya udara membuat Jennie menggigil, apalagi ia masih mengenakan gaun yang berlengan pendek. Jisoo dan Haru memilih menunggu di dalam, sambil terkantuk-kantuk di kursi.

“Jen, pakai ini aja,” Bambam datang mendekat, menawarkan jaket jasnya pada Jennie. Dengan senang hati, perempuan itu memakainya. Ukurannya yang kebesaran di tubuh Jennie membantunya untuk tetap hangat.

“Makasih, Bam,” ucap Jennie tulus. 

Tak hanya itu, Bambam menyodorkan sekaleng teh hangat yang ia beli dari mesin penjual otomatis. Jennie mengambilnya, menyeruput minuman hangat itu. 

“Rowoon masih belum datang?” tanya Bambam, mengisi kekosongan di antara mereka. Ia menyesap minumannya sendiri, berdiri di sisi Jennie.

“Bentar lagi,” ucap Jennie. “Kalau Rowoon datang, kalian pulang aja. Biar Rowoon aja yang nemenin gue malam ini.”

“Bukannya mending lu yang pulang dulu? Rowoon juga baru balik dari luar kota. Pasti capek. Besok pagi baru balik lagi.”

“Tapi besok gue kan kerja, Bam.”

“Nanti gue yang bilangin Kepala Chef,” potong Bambam. “Dia pasti ngerti. Apalagi ini darurat keluarga. Mending lu malam ini istirahat, ambil shift siang aja di resto. Paling potong gaji dikit. Selesai kerja, lu jaga malam di rumah sakit. Nggak usah khawatir soal Haru. Nanti gue sama Jisoo temenin dia. Besok gue anter Haru pulang sebelum ke resto.”

Jennie mempertimbangkan kata-kata Bambam, yang terdengar masuk akal. Lebih-lebih ia tak dapat berpikir karena energinya telah tersedot habis.

“Gue nggak tahu mesti gimana kalau nggak ada lu dan Jisoo,” ucap Jennie, merasa bersyukur memiliki teman yang ada untuknya, tanpa pamrih. Bambam menyunggingkan senyum di sudut bibir, menaburkan semangat  pada Jennie dengan menepuk punggungnya lembut.

Sebuah mobil sedan mewah berwarna hitam tiba-tiba menepi, tepat di sisi halaman pintu utama rumah sakit. Jennie mengenali mobil itu. Tangisnya pecah ketika melihat Rowoon melangkah keluar dari mobil. Wajahnya kuyu, sama berantakannya seperti Jennie.

Jennie setengah berlari menghampiri sang kekasih, yang segera menyambutnya dalam pelukan erat. Jennie tak dapat menahan diri lagi. Ia menumpahkan seluruh rasa rindu, gelisah, dan takut yang membebani tubuhnya, membiarkan Rowoon menangkap dirinya yang lemah. Jennie membenamkan wajah di dada Rowoon, meredam tangisan yang tak lagi terbendung.

“Aku di sini, Sayang,” bisik Rowoon hangat, membelai punggung Jennie penuh kasih. “Aku nggak ke mana-mana.”

 

Di sisi lain kota, ada seseorang yang berharap Rowoon berlari kembali padanya, tapi hasrat itu tak terpenuhi malam ini. Kim Mingyu menjadi saksi yang harus menghadapi semuanya, ketika ia menyadari Lisa Manoban punya rencana jahat untuk menghancurkan hubungan Jennie dan Rowoon.

Chapter 29: driving her home.

Summary:

Saat bersiap mengantar teman-temannya pulang, Mingyu mendapat wejangan dari Seungcheol agar tak macam-macam pada Lisa.

Chapter Text

Punggung Mingyu menabrak pintu ketika Seungcheol mendorongnya. Ia berdiri begitu dekat, dengan mata berkilat di bawah sinar lampu jalan yang menyoroti mereka di halaman parkir. Jari telunjuk Seungcheol menunjuk dada Mingyu. Matanya yang bulat dan hitam seperti kumbang membuatnya gugup.

“Denger, ya, bro. Apapun yang terjadi malam ini antara lu sama Lisa, pesen gue cuma satu: jangan sampai gaya hidup lo ngerusak bisnis kantor kita,” gerutu Seungcheol. “Gue mungkin diem aja ngeliat dari jauh, tapi gue nggak bego.”

Mingyu menelan ludah. Sebagai seorang sahabat, Seungcheol bukan orang yang banyak menuntut dalam pertemanan mereka. Ia tak pernah menahan Mingyu dari berkencan dengan banyak wanita. Ia juga mendengar dengan antusias setiap kali Mingyu berbagi petualangan ranjangnya. Kecuali satu kali di masa lalu, ketika Mingyu menghadapi cinta pertama sekaligus patah hati pertamanya.

Meski tertutup bayangan malam, Mingyu mengenali ekspresi serius di wajah Seungcheol. Kali ini, sahabatnya tidak main-main. 

Mingyu melirik ke arah Lisa yang sedang berbincang dengan Jiho dan Yejin di depan mobil mereka. Tanpa memperhitungkan waktu, Mingyu, Seungcheol, dan Lisa tinggal lebih lama hingga pesta dinyatakan bubar. Waktu hampir menyentuh tengah malam, makanan telah dingin, dan angin musim gugur tak lagi bersahabat. Mingyu harus meminjamkan jaketnya kepada Lisa agar wanita itu tidak kedinginan. 

Para tamu yang tersisa pun berpamitan, menjadi alasan bagi Mingyu dan teman-temannya untuk turut bangkit dari meja. Jiho dan Yejin memutuskan untuk mengakhiri acara dan mengganti pakaian pesta dengan baju kasual. Mingyu meninggalkan mereka lebih dulu untuk menyalakan mobil, sementara Lisa tinggal lebih lama. Ketika ia hendak membuka pintu mobil, Seungcheol menyergapnya.

“Oke, oke. Tenang, bro. Gue janji nggak bakal macam-macam sama dia malam ini,” ujar Mingyu kemudian. Ia mengangkat kedua tangannya di hadapan Seungcheol, mencoba mendorong sahabatnya mundur selangkah. “Lagian gue sama Lisa nggak ada apa-apa. Cuma flirting biasa.”

Seungcheol menghela nafas. Dengan geram, ia berkata, “Gue udah kenyang sama omongan itu. Lu nggak pernah megang kata-kata lu sendiri, Mingyu. Bilangnya cuma temen, tapi lu tidurin juga. Bilangnya cuma saling flirting, akhirnya bolak-balik ke apartemen lu. Tiap kali gue main ke tempat lu, yang mampir selalu beda orang.”

“Ssst–bisa pelanin suara lu nggak, sih?!” potong Mingyu, celingukan karena takut Lisa mendengar.

“Kalau lu mau deketin Lisa, terserah,” Seungcheol menampik tangan Mingyu yang coba menutup mulutnya. “Tapi gue minta satu aja. Apapun yang terjadi di antara kalian, jangan sampai ganggu hubungan bisnis yang lagi dikerjain kantor. Kerja sama dengan Terrahaus itu prospek besar, Mingyu. Kalau lancar, kita bakal kecipratan banyak proyek prestisius yang naikin nama Arkate. Lu ngerti, kan?”

“Iya, iya, gue paham!” Mingyu buru-buru mengakhiri pembicaraan mereka ketika Lisa berjalan mendekat. Ia melemparkan senyum kepada Mingyu, tak menaruh curiga pada dua sahabat yang saling beradu mulut.

Mingyu membalas senyuman itu, berlari kecil untuk membukakan pintu penumpang di sisi depan. Seungcheol mengalah dan memilih duduk di bangku belakang, mengunci mulutnya sepanjang perjalanan mengantar Lisa pulang.

Melodi dari pemutar musik dalam mobil Mingyu menjadi pengisi udara yang tak saling mengutarakan kata. Entah karena tubuh yang lelah karena berpesta seharian atau sekedar tak ada lagi minat untuk bicara, ketiganya duduk diam di kursi masing-masing. Sementara Mingyu mencoba berkonsentrasi pada setiap lampu lalu lintas yang berganti warna, sudut matanya menangkap sosok Lisa yang sibuk menggulir layar ponsel. Apapun yang tampak di sana, sepertinya semakin lama semakin membuatnya geram.

Mingyu hendak membuka mulut untuk memulai perbincangan, ketika Seungcheol yang duduk di kursi belakang memotongnya. “Oh? Neneknya Jennie masuk rumah sakit.”

“Hah?!” seru Mingyu, terkejut dengan berita yang baru didengarnya. Lisa bergeming. “Lu tau dari mana?”

“Ini lagi chat sama Bambam,” jawab Seungcheol sambil mengetik balasan. “Pantesan tadi pada buru-buru pergi. Gue kira kenapa.”

“Terus kondisinya gimana?” tanya Mingyu.

Seungcheol menggeser dirinya, melongokkan kepala pada celah di antara kursi depan sambil terus mengetik. “Bambam bilang sih stabil. Udah masuk ICU. Bambam bilang dia malam ini jagain di rumah sakit buat nemenin asisten neneknya Jennie.”

“Terus Jennie?”

“Udah dianter pulang sama Rowoon.”

Mendengar nama itu, Mingyu menoleh cepat. Begitupun Lisa. Keduanya saling menatap dalam sekejap mata, lalu berpaling. Mingyu kembali menatap jalan raya di depan, sementara Lisa memalingkan wajah ke jendela di sisi kirinya. Ia tak menunjukkan wajahnya lagi sepanjang perjalanan.

 “B, bukannya Rowoon lagi di luar kota?” tanya Mingyu gugup.

“Nah itu dia,” ucap Seungcheol. “Kayaknya dia buru-buru balik pulang demi Jennie. Kasian, kan, dia sendirian. Kekuatan cinta, bro.”

Seungcheol mengiringi kata-kata terakhirnya sebelum kembali duduk, menepuk-nepuk bahu Mingyu yang sedang menyetir. Di sisi Mingyu, rahang Lisa mengencang. 

 

Mobil Mingyu menepi di depan pagar dinding sebuah rumah. Seungcheol menguap, mengucapkan terima kasih kepada sahabatnya karena telah mengantarnya pulang.

“Sampai besok di kantor, ya, bro,” ucap Seungcheol, melangkah keluar mobil. “Sampai ketemu, Lisa!”

Lisa hanya melambaikan tangan dari kursi, melemparkan cengiran singkat pada teman lamanya. 

Sebelum benar-benar pergi, Seungcheol mengetuk kaca sisi pintu Mingyu. Ia mengacungkan dua jarinya membentuk huruf V, menunjuk mata kemudian menunjuk Mingyu, mengulanginya berkali-kali. Mingyu menahan diri dari tawa karena menangkap ekspresi Seungcheol yang mengancamnya dari balik kaca mobil. Ia melambaikan tangan, menyuruh Seungcheol segera masuk ke rumah.

Seungcheol melemparkan gestur yang sama sebelum menghilang di balik pagar rumahnya. Setelah wujud sahabatnya tak lagi terlihat, Mingyu mengalihkan perhatian pada Lisa.

“Lisa, bisa minta alamat rumahmu?” tanya Mingyu. Wanita di sampingnya mendiktekan alamat, sementara Mingyu mengetiknya pada panel GPS di dashboard mobil. Setelah memastikan alamatnya benar, mobil pun meluncur meninggalkan depan rumah Seungcheol.

Dalam perjalanan mengantar Lisa pulang, kota Seoul turut menjadi sunyi. Yang tersisa hanyalah gedung-gedung tinggi di pinggir jalan yang gelap, timpang dengan tenda-tenda penjual kudapan jalanan yang masih ramai pengunjung. Suara musik stereo mengalun dalam volume rendah, menjadi latar belakang yang mengisi benak Mingyu dan Lisa, saling enggan melontarkan kata.

Mingyu ingin mengartikan reaksi Lisa ketika mendengar nama Rowoon melintasi pembicaraan mereka. Ia tahu bukan haknya untuk menduga, apalagi bertanya. Meski telah tidur dalam pelukan berbagai wanita, Mingyu juga tahu rasanya jatuh cinta. Ia telah mengubur rasa itu dalam-dalam, membaurkannya dengan birahi yang berakhir semalam.

Walau rasa itu telah lama mengendap dalam hati, Mingyu tak dapat mengacuhkannya ketika radar itu menangkap sinyal rasa milik orang lain. Sayangnya, ia baru bertemu Lisa dua kali. Tak adil rasanya jika ia menghakimi perasaan yang Lisa miliki untuk Rowoon. Bisa saja ia salah. Bila ia ada di posisi Lisa, Mingyu takut seseorang akan membacanya juga.

Mobil tertahan di persimpangan jalan, dengan lampu lalu lintas memancarkan sinar merahnya. Masih tersisa dua kilometer lagi hingga mereka sampai di komplek apartemen Lisa. keheningan yang terjaga di antara mereka tiba-tiba terpecah oleh suara keroncongan dari perut Lisa.

Mingyu yang hendak memindahkan gigi mobil tercengang, sementara telinga Lisa telah memerah. Masih mengenakan jas milik Mingyu, Lisa menyembunyikan perutnya dalam balutan kain itu–yang menjadi usaha sia-sia, karena jasnya tidak meredam suara apapun.

Mingyu menahan diri untuk tidak tertawa. “Kamu laper?” tanyanya. 

Lisa tidak menjawab. 

Pria itu lanjut bertanya, “Mau mampir ke minimarket dulu? Kita beli roti atau mi instan buat makan.”

Lisa menggeleng. 

“Aku mau pulang aja,” menjadi permintaan pertama dan terakhir yang Lisa lontarkan sepanjang perjalanan menuju rumahnya. “Tolong anterin aku pulang. Please.

Mingyu tak berniat membantah. Malam memang telah larut. Semua orang yang hadir ke pesta pernikahan Jiho dan Yejin telah lelah, termasuk mereka. Pulang adalah pilihan terbaik setelah hari yang panjang. Daripada berdebat, Mingyu memilih untuk menurut saja.

Chapter 30: late night snack.

Summary:

Mingyu mengantar Lisa pulang dan menemaninya makan mi instan.

Chapter Text

“Unitnya di gedung D, kan?” tanya Mingyu sambil menyetir lebih lambat. Ia mengamati barisan gedung di luar jendela, memastikan bahwa mereka memasuki kawasan gedung yang benar. Setelah melewati gerbang penjaga, Mingyu meneruskan laju mobil hingga menemukan papan penanda yang menunjukkan arah lokasi Gedung D.

“Iya,” jawab Lisa. “Lewatin putarannya aja. Masuk ke basement.”

“Ke basement?

“Supaya lebih deket ke lobi lift.”

Mingyu menurut saja. Laju mobil stabil setelah melewati bundaran, bergerak turun menyusuri jalur landai yang membawa mereka ke lantai basement. Lampu sen mobil menerangi setiap kolom yang menopang bangunan, meluncur mengikuti jalan perimeter sepanjang jantai itu.

Yang Mingyu tahu, area kompleks apartemen Lisa bukanlah bangunan sembarangan. Menjadi bagian dari properti Terrahaus, kompleks apartemen Lisa memiliki kelas tersendiri, terutama mereka yang tergolong kaum elit ‘sendok emas’. 

Sepertinya gaji Lisa di Terrahaus cukup mumpuni untuk memenuhi kebutuhan hidup tinggal di apartemen yang nyaman, pikir Mingyu. Mengingat kedudukan Lisa sebagai seorang Sekretaris Direksi, bukanlah hal yang mustahil ia mendapat tunjangan mewah sebagai tempat tinggalnya.

Di halaman parkir lantai basement, Mingyu mengarahkan mobilnya untuk parkir di area terdekat dengan lobi lift, seperti yang Lisa minta. Mingyu menghentikan mobil, membuat Lisa bingung. Tanpa menunggu pertanyaan, Mingyu berkata, “Aku temenin sampai pintu unitmu.”

Lisa tertegun, tapi tak menolak. Setelah mobil berhenti, keduanya pun turun. Mingyu menekan tombol pada kunci di tangannya, membuat lampu sen mobil berkedip dua kali sebelum mesin itu kembali diam. Bersama Lisa, mereka menaiki lift hingga berhenti di lantai 10.

Dari lorong lantai, Mingyu dapat melihat pemandangan kota Seoul di malam hari. Sejauh matanya memandang, barisan gedung-gedung dengan tinggi yang bervariasi menjadi pemandangan urban yang tak pernah membosankan. Di depan pintu dengan plat nomor 5, Lisa berhenti. 

“Makasih udah nganterin aku sampai rumah. Sampai depan pintu pula,” ucap Lisa, yang akhirnya menatap Mingyu setelah menghindarinya sepanjang perjalanan.

“Nggak masalah. Jangan lupa bintang limanya, ya, Kakak,” canda Mingyu, membuat Lisa tertawa.

“Oh, iya,” gumam Lisa. Ia melepaskan jaket jas yang Mingyu pinjamkan padanya, menyerahkannya kembali pada sang pemilik. “Makasih jaketnya.”

“Sama-sama.”

Mingyu menyampirkan jaket itu pada lengannya, ketika Lisa melemparkan pertanyaan yang tak asing di telinganya. Ia sudah pernah mendengar pertanyaan itu belasan kali, yang mengindikasikan hasrat terselubung.

“Kamu mau mampir dulu?” tanya Lisa. Jemarinya meraih ujung kemeja Mingyu, menariknya dengan lemah lembut. Lisa yang tak mengacuhkannya selama di mobil, tiba-tiba kembali hangat. “Temenin aku minum. Atau makan.”

Mingyu tersenyum simpul.

“Aku nggak minum,” jawabnya. “Aku kan nyetir.”

“Kalau gitu temenin aku makan. Oke?”

 

Lisa menekan kode pada panel pintu, diiringi melodi rendah sebelum kuncinya membuka otomatis. Mingyu mengikuti langkah perempuan itu, masuk ke dalam apartemennya. Lampu di atas kepala berkedip lalu menyala, menjadi penerang yang menyambut kepulangan tuan rumah. 

Lisa menawarkan selop indoor, sebelum mengajak Mingyu masuk lebih dalam. Area dapur dengan meja bar menjadi ruang pertama yang Lisa datangi.

“Duduk dulu, Mingyu. Mau minum air?” Lisa menawarkan, sambil membuka kulkas.

“Boleh,” jawab pria itu. Matanya tak dapat berhenti memindai sekeliling. Setelah dapur, terdapat area terbuka yang cukup luas, dengan sofa berlapis kulit sintetis yang besar. Sebuah karpet bulu membentang menutupi lantai, ditimpa meja kopi bergaya industrial yang maskulin. Set televisi dan audio menempati sisi dinding di seberang sofa. Di ujung ruangan, terdapat dinding kaca yang terhalangi oleh gordon setinggi langit-langit. 

Tata ruang apartemen itu mengingatkan Mingyu pada rumah Jennie, tapi dengan selera furnitur yang jauh berbeda. Lampu meja menjadi asesoris yang ditempatkan di titik-titik strategis, membangun nuansa temaram ala rumah tinggal modern.  Mingyu merasa janggal; ruangan itu sama sekali bertentangan dengan sosok Lisa yang elegan. 

Baginya, ruangan itu seperti ditata oleh seseorang yang maskulin, tanpa sentuhan feminin di manapun. Kalaupun ada pengaruh Lisa dalam penataan ruangan itu, hanya dapat Mingyu temukan pada lampu-lampu penghias yang berdesain simpel. Rasanya tempat ini ada untuk orang lain, bukan untuk Lisa.

“Hei. apa kamu lagi menilai interior apartemenku, Tuan Arsitek?” goda Lisa, mengejutkan Mingyu yang masih asyik menilai dekorasi ruangan. Wanita itu menggenggam sebotol anggur merah dari laci penyimpanan, menuangkannya pada gelas khusus.

Mingyu tertawa kecil, lanjut berkeliling sambil bersedekap. “Mungkin,” jawabnya.

“Berapa nilai yang kamu kasih?”

“Hmm,” gumam Mingyu. “Aku rasa 8,5 dari 10.”

Lisa menganga, pura-pura tersinggung. “Cuma segitu?!”

“Ruangannya cantik, tapi aku merasa desainnya nggak menggambarkanmu sama sekali.”

“Memangnya menurutmu aku orang yang seperti apa?”

Mingyu berpikir sejenak. Ia mengingat momen ketika bertemu Lisa pertama kali di Alternata. 

“Elegan, pintar, misterius,” ucap Mingyu. “Tapi ruanganmu terlalu maskulin. Rasanya… seperti ada di apartemen milik seorang laki-laki yang nggak aku kenal. Rasanya nggak ada sentuhanmu sama sekali di ruangan ini. Kecuali lampu-lampu hias itu.”

Lisa kehabisan kata-kata. 

“Kamu benar. Ruangan ini bukan didesain untukku. Dan lampu-lampu itu aku yang membelinya,” sahutnya kemudian, mengangguk pelan. “Wow. Kamu bisa membaca semua itu hanya dari desain ruangan ini?”

Mingyu tersenyum angkuh, membuat Lisa memutar matanya. “Aku lapar. Kamu mau mi instan, Tuan Arsitek Bintang Lima?”

Mingyu menggeleng. “Kamu aja yang makan.”

Mingyu duduk di bangku tinggi yang menghadap meja bar. Ia membuka tutup botol air mineral yang Lisa tinggalkan di meja, sementara wanita itu bersiap memasak. 

Sebuah panci berisi air rebusan di kompor menjadi pusat dunia Lisa untuk sesaat. Mangkuk di meja konter telah siap bersama peralatan makan, ditata rapi. Aroma bubuk mi instan sempat menghampiri hidung Mingyu.

Mingyu mengamati punggung Lisa yang sedang melonggarkan ikatan gulungan rambutnya. Satu per satu jepit rambut ia lepaskan, membiarkan rambutnya yang hitam jatuh tergerai menutupi punggung. Meski berantakan, ia tampak tak peduli.

“Kamu tinggal sendirian?” tanya Mingyu kemudian.

“Iya. Ada kucing, tapi sedang aku titipkan karena lusa aku mau dinas keluar kota,” balas Lisa dari balik bahu.

Dengan sofa kulit dan karpet bulu mahal, tentu sulit memiliki hewan peliharaan di rumah, pikir Mingyu. 

“Bukan. Maksudku…kamu ada pacar?” 

Pertanyaan itu membuat Lisa menegakkan punggung. Ia berbalik, menyipitkan matanya ke arah Mingyu. “It’s complicated,” jawabnya. “Emangnya kenapa?”

“Nggak papa. Cuma nanya aja.”

“Apa hal itu keliatan juga dari dekorasi ruangan ini?” goda Lisa.

Mingyu hanya tertawa, tak menjawab pertanyaan itu.

Semangkuk mi instan dengan kuah pedas, telur, dan tetesan minyak wijen kemudian menjadi tambahan energi bagi Lisa. Ia duduk di samping Mingyu, yang mengamati Lisa makan dengan lahap. Perut yang kenyang membuatnya tampak lebih ceria. Mungkin juga efek dari Pinot Noir yang Lisa tenggak sesekali–Mingyu memastikan wanita di sampingnya tak meminum alkohol terlalu cepat, apalagi dalam perut kosong.

Setelah mengisi gelas untuk ketiga kalinya, pipi Lisa mulai memerah. Mangkuk kudapan tengah malamnya telah kosong. Dengan tubuh yang lebih rileks, ia saling berbagi canda denga pria di hadapannya. Sesekali mereka tertawa bersama, ketika Mingyu membagikan kisah masa kecilnya yang kelewat bandel.

Ketika isi gelas anggur Lisa hampir habis, Mingyu memberanikan diri untuk melemparkan pertanyaan yang sempat mengganjal benaknya.

“Lisa, boleh aku tanya sesuatu?” Mingyu memulai. Lisa memutar jarinya pada bibir gelas, menatap Mingyu lekat-lekat. Pria itu menangkap gesturnya sebagai tanda persetujuan. “Koreksi kalau aku salah. Tapi, apa benar kamu dan Jennie dulu berteman?”

Senyum di wajah Lisa menghilang. Ia menyandarkan diri pada punggung kursi, menyampirkan rambutnya yang panjang pada satu sisi bahu.

“Iya,” jawab Lisa singkat. “Tapi itu dulu banget. Kamu tahu dari mana?”

“Saat acara wedding tadi, Bambam sempat menyebutkan tentang kamu. Dulu kalian berteman,” ucap Mingyu. “Kenapa kalian nggak berteman lagi?”

“Karena udah nggak cocok aja. Aku memutuskan untuk mengambil jalanku sendiri. Mereka nggak suka, jadi kami nggak bicara lagi,” jawab Lisa. Cara bicaranya mulai melambat, menandakan alkohol telah menyusupi aliran darahnya. Ia tampak lebih rileks. “Terkadang, kamu harus mengorbankan sesuatu untuk mendapatkan hal lain yang kamu inginkan.”

“Sebegitu berharganya kah ‘hal lain’ ini, sampai kamu harus  ngorbanin teman-temanmu sendiri?”

Pertanyaan Mingyu membuat Lisa menarik nafas. Ia melemparkan pandangan serius, seraya berkata, “Nggak semua orang suka perempuan yang ambisius.”

“Aku suka perempuan ambisius,” bantah Mingyu. “Menurutku, punya keinginan kuat untuk mendapatkan apapun yang dia mau–apapun caranya–bisa jadi satu-satunya alasan seseorang untuk tetap hidup. Aku tahu rasanya kecewa karena nggak bisa mendapatkan yang aku mau. Makanya, aku nggak berhak menghakimi orang yang ngotot mengejar ambisinya.”

Lisa tersenyum. “Aku juga berpikir begitu. Dan aku tahu orang-orang akan membenciku karena mempertahankannya. Tapi, aku nggak bisa berhenti.”

“Kalau gitu, jangan berhenti,” balas Mingyu. “Tunjukkan ke orang-orang kalau kamu memang pantas mendapatkan hal itu.”

“Meskipun aku akan jadi musuh dunia?”

“Galileo Galilei juga dimusuhi orang-orang waktu dia percaya bumi itu bulat.”

Lisa tertawa terbahak-bahak, tak percaya Mingyu melemparkan pernyataan acak begitu saja kepadanya. “Kenapa contohnya harus itu, sih?!”

“Sori,” ucap Mingyu, turut tertawa bersama wanita di hadapannya. “Cuma itu yang nongol di kepalaku barusan.”

Setelah puas tertawa, Lisa mengatur nafasnya lagi. Tanpa jeda, ia meninggalkan gelas anggur yang telah kosong di meja dan menghampiri Mingyu. Lisa mengunci bibir pria itu dalam ciuman mesra.

Chapter 31: the only name in her heart (18+).

Summary:

Bercumbu saja tak cukup, Mingyu dan Lisa membawa diri mereka ke level selanjutnya. Namun, satu kata merusak segalanya. Sementara itu, Jennie dengan tenang menikmati malamnya dalam pelukan Rowoon.

Chapter Text

Dalam sekejap mata, Mingyu telah terkurung dalam pelukan Lisa. Lengannya melingkari leher pria itu, memeluknya erat. Tubuh mereka berimpit, tak menyisakan ruang bagi udara untuk menyusup di antaranya. Mingyu mendesah rendah, merasakan manis di ujung lidah Lisa yang bertaut dengannya. Tangannya meraba lekuk tubuh yang masih terbalut gaun berbahan satin itu, terasa dingin di telapak tangan. 

Lisa melepaskan diri, menahan kepala Mingyu tetap tegak dalam genggaman tangannya. Ia menciumi bibir pria itu lembut, sebelum menarik lengan Mingyu dan membawanya duduk di sofa. 

Pria itu membiarkan Lisa mengangkangi dan duduk di pangkuannya. Roknya terangkat, membuat kaki Lisa yang telanjang memeluk pinggang Mingyu. Dalam ruangan berlampu temaram, dengan tubuh terjepit di antara sofa dan tubuh Lisa, Mingyu tak melawan. Ia mengamati jari-jari Lisa yang dengan cekatan melonggarkan kancing kemejanya. Ujung-ujung jarinya membelai kulit Mingyu yang terbuka, menyusuri lekuk ototnya dari dada hingga perut. 

Mingyu menyusupkan tangannya ke balik rok gaun marun itu dan meremas paha Lisa, membuatnya mengerang lemah. 

Bibir yang bertaut sesekali melepaskan desahan dan decakan di kala mereka saling menarik nafas. Namun, hal itu tak menghentikan keduanya untuk larut dalam ciuman yang panas. Mingyu mengerang ketika Lisa melenggangkan pinggangnya, membuat pangkal paha mereka saling bergesekan. Gairah keduanya tak dapat terbendung lagi.

Mingyu membenamkan wajahnya di leher Lisa, mencium aroma mawar dan oud yang menipis di permukaan kulit. Nafasnya tersengal, seirama dengan pinggang Lisa yang bergerak teratur. Sambil mengulum kulit pada lekukan leher wanita dalam pelukannya, Mingyu  mengerang ketika Lisa membenamkan jari di antara helaian rambutnya.

Gaun Lisa mulai melonggar, menampakkan belahan dadanya yang menggoda Mingyu. Ia mendaratkan ciuman pada celah antara buah dadanya, membuat Lisa menggeliat sesaat. 

“Ah… Mm…” rintihan Lisa memenuhi telinganya, membuat Mingyu hilang akal. Gairah mengambil alih akal sehatnya, membuatnya menginginkan tubuh itu menjadi miliknya malam ini. Hingga Mingyu mendengar kata yang terlepas dari bibir Lisa.

“...Rowoon…”

Sebuah kata–tepatnya, sebuah nama–yang membuat sesi bercinta mereka terhenti seketika. Sebuah nama yang membuat keduanya sempat saling bertatapan dalam mobil, ketika mereka tahu bahwa seseorang rela kembali dari kota untuk Jennie.

Tubuh Mingyu seketika mematung ketika mendengar nama itu. Lisa, tak kalah terkejut, menyadari bahwa ia telah kelepasan mengucapkan nama rahasia.

Mingyu menarik diri, mencoba memroses apakah ia benar-benar mendengar nama Rowoon keluar dari mulut Lisa. Menyadari ia telah merusak suasana, Lisa buru-buru mengoreksi diri. Sinar lampu di meja menyoroti wajahnya yang tampak panik.

“M, Mingyu. Maaf. Barusan–maksudku–” Lisa gelagapan. Namun, nasi telah menjadi bubur.

“Kamu barusan … nyebut nama Rowoon,” potong Mingyu. Bibir Lisa membuka dan menutup, tapi tak ada kata yang keluar. 

 

Mingyu melepaskan diri dari kaki jenjang Lisa yang memeluknya, mengancingkan kembali kemejanya yang terbuka. Semakin banyak kancing baju yang kembali menutup, pikiran Mingyu semakin jernih. Di saat yang bersamaan, ia merasa bodoh. 

Gelagat Lisa saat pertemuan makan siang mereka. 

Kehadirannya di pesta pernikahan Jiho, mewakili pria yang seharusnya menjadi tamu undangan. 

Air mukanya yang sesekali menegang setiap kali nama Rowoon melintas dalam pembicaraan. 

Dekorasi interior apartemen Lisa yang maskulin. 

Rowoon adalah ambisi yang Lisa bicarakan. Ia menginginkan pria itu, apapun caranya, meski harus meninggalkan sahabatnya. Meski mungkin harus menyakiti sahabatnya.

“Mingyu, maafin aku–” Lisa bangkit dari sofa, merapikan kembali gaunnya yang hampir lepas dari tubuh. Ia menarik lengan Mingyu, tapi pria itu menampiknya. “Ini nggak seperti yang kamu pikirin!”

“Oh, ya? Menurutku situasi ini cukup jelas–”

“Aku dan Rowoon nggak ada apa-apa!”

“Aku nggak peduli kamu ada hubungan apa dengan Rowoon. Tapi, kamu berani nggak bilang kata-katamu barusan ke Jennie?” tanya Mingyu. Ia terlambat menyadari, menyebut nama Jennie dalam pembicaraan itu adalah kesalahan fatal.

Seperti menekan tombol pemicu yang salah, ekspresi wajah Lisa seketika menjadi tajam ketika mendengar nama itu. Keheningan di ruangan itu terasa dingin, seakan Lisa yang sesaat lalu penuh gairah telah menghilang. 

Yang tersisa adalah wanita penuh rahasia yang tabirnya perlahan tersibak di hadapan Mingyu. Keengganan Lisa untuk menjawab pertanyaan itu menjelaskan segalanya.

“Kamu tahu, kan, kalau Jennie dan Rowoon bertunangan?” tanya Mingyu. Alisnya menekuk tajam.

Untuk sesaat, Lisa mengatur nafas. Sambil melipat tangan di atas perut, ia melanjutkan, “Apa yang kamu tahu tentang jatuh cinta, Mingyu? Apa kamu pernah jatuh cinta pada seseorang sampai rasanya mau mati ketika nggak bersama dia?”

*



Jennie’s POV

Melewati tengah malam, Jennie akhirnya dapat merasa lebih rileks setelah sampai di apartemennya. Ruangan-ruangan yang sunyi, setelah seharian ditinggal oleh penghuninya. Untuk hari ini, ia dapat beristirahat sejenak karena Bambam menawarkan diri untuk berjaga di rumah sakit. Jisoo dan Haru menemaninya, demi nenek Jennie yang masih terbaring lemah di ICU.

Meski ada musibah yang terjadi pada anggota keluarganya, Jennie merasakan letupan kebahagiaan karena Rowoon ada bersamanya. Selepas membersihkan diri, ia mendapati kekasihnya tertidur di ranjangnya, dengan jari-jari kakinya menggantung di ujung tempat tidur.

“Sayang?” panggil Jennie lembut, membawa dirinya duduk di tepi tempat tidur. Nafas Rowoon naik turun dengan teratur di balik selimut. Ia tampak lelap sambil memeluk bantal berbentuk kepala beruang milik Jennie. Jennie tersenyum, membelai kepala kekasihnya penuh sayang. 

Di tengah hubungan mereka yang belakangan ini menegang, serta restu yang tak kunjung turun dari Hong Suhee, Jennie bersyukur karena dapat menyentuh Rowoon malam ini. Hari ini begitu panjang dan melelahkan. Berbaring di ranjang yang sama dengan Rowoon adalah terapi yang ia butuhkan malam ini. Jennie bangkit dari tempat tidur, mematikan setiap lampu di kamarnya. Kegelapan terasa menenangkan, dengan suara-suara kendaraan di kejauhan yang entah kenapa masih berlalu lalang. 

Jennie memanjat tempat tidur, mengisi sisi ranjang yang kosong. Ia berbaring, berlindung dalam selimut. Ketika hendak memeluk punggung Rowoon, pria itu tiba-tiba menggeliat. Ia berbalik, menghadap Jennie dengan kelopak mata yang terasa berat untuk membuka.

“Aku ketiduran …” gumam Rowoon dengan suara parau. “Sori, Sayang.”

Bibir Jennie mengembangkan senyum lembut. Ia membelai pipi Rowoon, lalu melarikan jari-jarinya di antara helaian rambut pria itu. “Nggak papa. Kamu pasti capek banget,” bisiknya. “Tidur, yuk.”

Rowoon menggeser dirinya mendekat, menarik kekasihnya dalam pelukan. Jennie membenamkan wajah di sisi leher Rowoon, yang masih menyisakan aroma linen dari kerah bajunya. Ia merasakan tangan Rowoon mengusap punggungnya, membuat Jennie lebih tenang. Dalam pelukan itu ia merasa aman untuk meruntuhkan dinding ketegaran barang sejenak. Jennie berharap malam ini waktu bergerak lebih lambat, agar ia bisa memiliki Rowoon lebih lama.

Chapter 32: a guardian.

Summary:

di mata Seungcheol, gelagat Mingyu seharian ini membuatnya gerah.

Chapter Text

Hari Senin menjadi awal dari minggu yang baru, tapi kepala Kim Mingyu masih tertinggal pada momen di malam bersama Lisa. Bukan ketika ia bermesraan dengan wanita itu. Masa itu memang bergairah, tapi pertanyaan terakhir yang Lisa ucapkan menjadi magnet yang tak dapat lepas dari benak Mingyu. 

‘Apa kamu pernah jatuh cinta pada seseorang sampai rasanya mau mati ketika nggak bersama dia?’

Sayangnya, iya, pikir Mingyu dalam hati.

Mingyu tertunduk di meja kerjanya, tak mengacuhkan revisi gambar proyek bangunan yang harus ia kirim sebelum jam makan siang. Namun, rentetan kejadian yang terjadi di apartemen Lisa membuatnya sulit berkonsentrasi.

Kini, ia harus memegang kartu rahasia milik Lisa Manoban. Wanita itu memiliki hasrat terpendam kepada Kim Rowoon. Nafsu yang terasa berbahaya, apalagi saat Mingyu sekilas mengetahui Lisa dan Jennie memiliki sejarah pertemanan. Belum lagi Mingyu dan Jennie kini menjadi ‘keluarga’. Meski tak ada hubungan darah, hubungan mereka kini menjadi dekat karena keterikatan pernikahan anggota keluarga.

Mingyu tahu, ia tak punya hak untuk mencampuradukkan urusan pribadi dengan bisnis. Di sisi lain, ia tak dapat menampik rasa khawatir yang timbul dan tenggelam, bersama wajah Jennie yang melintasi pikirannya. Wanita ambisius seperti Lisa akan melakukan apa saja demi mendapatkan apa yang ia inginkan. Mingyu takut ide liarnya akan menjadi kenyataan, dan yang tersisa adalah Jennie kehilangan semuanya.

Mingyu membuang nafas berat, memijat dahinya yang terasa panas. Di seberang mejanya, Choi Seungcheol mengamati gelagat sahabatnya yang janggal. Melihat layar monitor membuat pikirannya semakin ruwet, jadi Mingyu memutuskan untuk pergi ke pantry dan membuat secangkir kopi. Ia tak menyadari Seungcheol mengikutinya.

Di area pantry yang tak lebih luas dari 2x3 meter persegi, Mingyu menyalakan mesin espreso. Sambil menunggu ekstrak kopinya siap, ia mencari cangkir di lemari kabinet atas. Ia melompat kaget ketika Seungcheol telah muncul di sisinya, hampir saja menjatuhkan cangkir kopi di tangan.

 “Anj–kaget gue!” teriaknya sambil mengelus dada.

Seungcheol tak menggubris reaksi sahabatnya. Ia bersedekap, pinggangnya bersandar pada sisi meja pantry. 

“Lu kenapa, Mingyu? Gue perhatiin kayaknya uring-uringan di meja,” tanya Seungcheol dalam nada serius.

“Nggak papa,” jawab Mingyu di antara suara mesin espreso. cangkirnya mulai terisi oleh cairan hitam pekat.

Seungcheol tidak bodoh. Ia pun sudah memperingatkan Mingyu semalam. Karena tidak ada orang yang lebih tahu tentang si playboy dibandingkan dirinya. Ia lanjut bertanya, “Terjadi sesuatu sama Lisa semalam?”

Mingyu tidak menjawab.

“Kalian … tidur bareng?”

“Nggak,” jawab Mingyu geram. Ia mulai merasa kesal dengan interogasi ini. Alis Seungcheol terangkat tinggi, Mingyu menangkap ekspresi itu. “Sumpah! Gue nggak tidur sama dia.”

“Tapi …” Seungcheol melagu, menunggu Mingyu melanjutkan kalimatnya.

Mingyu tahu ia tidak dapat lari selamanya dari rasa penasaran Seungcheol. Bila ia tak menjelaskan sekarang, pria itu akan mencecarnya sepanjang hari, hingga sepanjang minggu. Mingyu mengulur waktu sambil menuangkan dua tetes stevia cair ke dalam gelasnya. Ia mengaduk kopi hitam, menghirup aromanya yang menenangkan.

“Yah … kami … bermesraan sebentar,” ucap Mingyu hati-hati. Mengingat Seungcheol berteman dengan Lisa, ia merasa canggung jika menceritakan semuanya terlalu detil.

“Terus?”

“Yah … udah, gitu aja. Nggak lanjut. Cara main kami nggak cocok,” Mingyu beralasan, buru-buru menyesap kopinya. Ia mengernyit ketika cairan panas itu menyengat ujung lidah. “Ah! Panas!”

Seungcheol masih menatapnya tajam, tapi Mingyu mencoba tetap tenang. Mata elangnya menatap Mingyu dari puncak kepala hingga ujung kaki, menyorot tajam wajahnya seperti sinar laser yang hendak menembus pori-pori. Seungcheol mencoba mencari celah kebohongan yang Mingyu tutup rapat, tapi akhirnya menyerah.

“Yakin nih, ya, nggak ada apa-apa?” tanya Seungcheol lagi.

“Iya, yakin gue.”

“Jadi kalau kita lanjut meeting dengan Terrahaus, nggak akan ada masalah, ya?” 

Mingyu mengangguk yakin. Seungcheol menghela nafas, menepuk bahu Mingyu sebelum keluar dari ruang pantry. 

 

Di jam makan siang, Mingyu memutuskan untuk memesan makanan lewat aplikasi daripada makan di luar bersama rekan-rekan kerjanya. Apalagi, ia belum juga selesai memerika gambar revisi yang harus diterima oleh kliennya hari ini. Dengan sekotak roti lapis dan sebotol air mineral, tangan Mingyu sibuk mengoperasikan keyboard dan mouse di meja kerjanya.

Saat sedang menyusun daftar gambar yang telah rampung, ia mendengar ponselnya berdering. Nama Jiho muncul di layar.

“Halo?” sapa Mingyu.

“Halo, Mingyu. Masih di kantor?” suara Jiho terdengar saru, berbaur bersama gemuruh kendaraan dan angin. 

Panggilan masuk dari sang kakak memberinya kesempatan untuk istirahat sejenak, sambil menghabiskan sisa roti lapis. Ia menyahut, “Iya. Lu udah di bandara?”

“Ini baru nyampe, mau check-in dulu sama Yejin.”

“Masih sore, kan, pesawatnya?” 

“Iya, sih. Tapi daripada macet di jalan,” ucap Jiho. “Mingyu, gue boleh minta tolong sesuatu?”

“Masih sempet lu minta tolong, padahal mau honeymoon?” goda Mingyu. Kesunyian menyambut pertanyaan Mingyu. Ia dapat mendengar nafas Jiho di telepon, tapi tak ada kata yang terucap. “Halo? Bro?” panggil Mingyu.

“Sori. Gue lagi nyari pojokan dulu biar Yejin nggak denger,” bisik Jiho. Keramaian yang Mingyu tangkap sebelumnya perlahan memudar. “Gue … mau minta tolong.”

“Iya minta tolong apaan? Ngomong aja,” balas Mingyu santai.

“Gue minta tolong jagain Jennie.”

Kini, giliran Mingyu yang terdiam. “Emangnya Jennie kenapa?” tanyanya.

“Nggak papa, sih,” balas Jiho sambil tertawa kecil. “Gue khawatir aja soalnya dia sendirian sekarang. Apalagi neneknya lagi di rumah sakit. Hari ini dia jaga malam di rumah sakit. Jadi, lu bisa nggak nganterin dia ke sana?”

“Kenapa gue? Kan ada tunangannya.”

“Gue nggak enak lah minta tolong Rowoon. Dia orang sibuk–”

Emangnya gue nggak sibuk, nyinyir Mingyu dalam hati.

Jiho melanjutkan, “Kata Yejin biasanya dia kelar kerja jam 10 malam. Abis dari resto, dia langsung ke rumah sakit. Mana ada bus atau kereta jam segitu. Naik taksi juga bahaya.”

Mingyu menimbang-nimbang. Pertama, ia menjadi pengantar kue untuk acara makan malam yang seharusnya tidak ia hadiri. Kedua, ia akan menjadi supir ojek online untuk keponakan tiri tersayang. Bila mungkin, sejujurnya Mingyu tak ingin terlibat jauh dalam menjalin koneksi dengan Jennie. 

“Oke? Nanti gue bawain oleh-oleh dari Eropa,” bujuk Jiho. “Gue harus masuk dulu ke dalam. Yejin udah nungguin. Nanti kabarin, ya!”

Sambungan telepon terputus. Kadang Mingyu merasa jengkel pada dirinya sendiri karena lemah saat menghadapi kakak tirinya.

 

Jennie’s POV.

Sudah hampir satu jam berlalu sejak Nero&Bianco menerima pesanan terakhir. Di awal minggu, meja-meja lebih cepat kosong. Yang tersisa hanyalah sepasang kekasih sedang membayar di meja kasir. Setelah capo cameriere mengumumkan berakhirnya jam layanan, para chef di cucina dapat bernafas lega. Meski begitu, panci-panci kotor dan piring-piring sajian masih menunggu untuk dicuci. Setelah membersihkan area makan dan dapur, para pekerja keras restoran dapat mengakhiri tugas mereka malam ini lebih awal.

Jarum pendek pada jam dinding belum menyentuh angka 10, tapi Jennie sudah buru-buru melepaskan celemek yang melingkari pinggangnya. Dengan panik, ia berbisik kepada senior yang berbagi stasiun kerja dengannya.

Chef, aku izin balik duluan boleh? Aku harus ke rumah sakit,” pinta Jennie. “Semua peralatan udah aku cuci, meja udah aku lap.”

Mengetahui situasi keluarga yang telah Jennie bagikan kepada para pemimpin cucina, ia pun mendapat izin untuk meninggalkan restoran lebih awal. Jennie segera melangkah ke ruang loker, mengganti seragam kerjanya dengan pakaian biasa.

“Mau ke rumah sakit, Jen?” tanya Jisoo, yang muncul di pintu. “Nggak dianterin Bambam aja?”

“Nggak usah, Jisoo. Kasian dia, udah semalaman nemenin Haru di rumah sakit. Gue nggak tega kalau minta dianter ke rumah sakit malam ini,” jawab Jennie, melemparkan senyuman lemah.

“Terus lu naik apa ke sana? Udah malem, loh, Jen. Bahaya kalau lu sendirian,” Jisoo mengerutkan kening. “Gue temenin, ya?”

“Lu juga butuh istirahat, kali,” Jennie tertawa kecil. Ia menghargai kebaikan hati sahabat-sahabatnya, tapi rasanya sudah cukup Jennie menjadi beban orang lain. Kalaupun ia bisa meminta tolong, Jennie sudah menghubungi Rowoon dari kemarin. Namun, sang kekasih sudah berangkat lagi keluar kota. Jennie tak ingin mengganggunya.

Jennie menutup pintu loker, menyelipkan lengannya satu per satu ke dalam jaket. “Gue naik taksi aja. Aman kok. Kalau besok gue nggak ada uang buat belanja, gue pinjem lu dulu. Oke?” candanya.

Jisoo tertawa, lalu menghela nafas. Ia berjalan mendekat, meletakkan tangan di pundak Jennie. “Ya udah. Ati-ati, ya. Kalau udah nyampe di rumah sakit, atau butuh apa-apa, telepon gue selalu standy. Oke?”

Jennie mengangguk dan mengangkat jempol. “Ya udah. Gue jalan dulu, ya. Takut kemaleman. Kasian Haru masih nungguin di rumah sakit,” ucapnya. Jennie mengangkat ransel berukuran besar yang telah ia bawa dari rumah, berisi perlengkapan yang ia perlukan untuk berjaga di rumah sakit. Mulai dari selimut, bantal leher, baju ganti, hingga kaus kaki. Ia memikul tas itu di bahu, lalu berpamitan pada Jisoo.

Saat melangkah keluar lewat pintu belakang, lorong gang yang sempit membawa angin malam yang membuat Jennie mengerutkan wajah. Wajahnya terasa kering karena udara dingin yang perlahan mulai tak bersahabat. Jennie memantapkan langkah, meninggalkan jalan sempit itu untuk mencapai trotoar di tepi jalan raya. 

Ketika ia sedang mencari-cari taksi online melalui aplikasi ponselnya, Jennie mendengar seseorang memanggil namanya. 

“Jennie.”

Jennie menengadah dan tertegun ketika melihat sosok hitam melambaikan tangan ke arahnya, duduk di sebuah motor klasik berwarna hitam. Tubuhnya terbungkus jaket, sambil mengenakan helm full face berwarna seragam. Dari kejauhan, ia tampak seperti seekor beruang hitam yang sedang bersantai. Jennie menyipitkan mata, tak yakin apakah penglihatannya menangkap sosok nyata. Ia melihat sekeliling, ragu apakah dirinya adalah target yang dimaksud. Karena tak kunjung mendapatkan respon yang diinginkan, sosok itu akhirnya melepaskan helm yang ia kenakan. 

Jennie baru merasa lega ketika mengenali wajah di baliknya. Kim Mingyu melemparkan cengiran canggung, mencoba merapikan rambutnya yang berantakan dengan jari.

Chapter 33: no numbers.

Summary:

Jennie menolak memberikan nomor teleponnya kepada Mingyu. Pria itu mengerti: Jennie tak menginginkannya.

Chapter Text

“... Mingyu?” panggil Jenie pada sosok yang duduk di motor hitam. Ia berjalan mendekat, mengamati pria itu dari atas ke bawah. “Kok di sini?”

“Dapat titah dari baginda buat nyamperin kamu,” candanya. Karena Jennie tampak bingung, Mingyu mengoreksi leluconnya sendiri. “Jiho. Aku ditelepon Jiho buat jemput kamu.”

Jennie tampak bingung. “Buat apa?” tanyanya.

“Dia dengar dari Yejin kamu mau ke rumah sakit hari ini untuk jaga malam. Jiho minta tolong aku buat antar kamu ke sana,” Mingyu menjelaskan, sambil membuka tas serut yang bersandar di tangki gas.

Ia menyodorkan helm kedua kepada Jennie, tapi wanita itu tak langsung menyambutnya. Bukannya Jennie tak ingin berterima kasih, tapi ia masih tak menyangka Mingyu menjadi sosok yang muncul untuk membantunya hari ini. Dan ini bukan pertama kalinya ia muncul di saat yang tepat.

“Aku … bisa naik taksi,” Jennie membantah. Mendengar jawaban itu, Mingyu menghembuskan nafas panjang.

“Ini udah malem. Udah nggak ada bis. Nggak ada kereta. Bisa aja cari taksi, tapi mahal. Apalagi hari Senin gini jalanan pasti macet,” Mingyu membeberkan alasan, menghitungnya dengan jari. “Kalau kamu ngerasa sungkan karena aku antar, cukup bayar aku pake tiramisu aja.”

“Aku ngerasa nggak enak aja karena ngerepotin kamu lagi,” ucap Jennie, mengiringi tawanya yang kering. 

“Kan kamu sendiri yang bilang kita keluarga,” sahut Mingyu, menawarkan lagi helm di tangannya kepada Jennie. “Keluarga harus saling menolong.”

Jennie menggigit bibir. Ia tak punya alasan lagi untuk menolak. Meski ragu, Jennie memilih untuk mengambil helm itu dari tangan Mingyu. Kunci motor diputar, disusul oleh suara mesin yang menderu rendah. Jalanan yang lengang membuat deru mesin terdengar lebih lantang. 

Setelah memastikan helmnya terkunci dengan benar, Jennie naik ke motor dan menempati jok penumpang. Mesin beroda dua bukanlah pilihan kendaraan yang sering Jennie tumpangi, hingga ia tak dapat menutupi rasa canggung duduk di belakang Mingyu. Dari posisinya, Jennie baru menyadari betapa lebar bahu pria di hadapannya.

Mingyu menoleh melewati bahu, mencoba mengatakan sesuatu dari balik helm yang ia kenakan. Jennie tak dapat menangkap jelas gerak bibirnya yang tertutup oleh bodi helm.

 “Apa?” tanya Jennie bingung.

Ia luput memahami arahan Mingyu, yang tak segan menggait lengan Jennie, membuat tubuhnya condong ke depan. Lengannya melingkari pinggang Mingyu, memaksa Jennie mendekapnya dari belakang.

Sang pengemudi menaikkan penyangga kaki motor yang bersandar di aspal, lalu memindahkan gigi. Setelah memastikan tak ada mobil yang melintas, motor itu pun meluncur ke jalan raya. Mesinnya menderu dalam geraman rendah, menyusuri jalanan Seoul dengan mudah di antara mobil-mobil yang bergerak lambat. 

Ternyata Mingyu benar. Lebih mudah menyelinap di antara kendaraan roda empat dengan motor. Sepanjang perjalanan, mereka tak berhenti melewati barisan mobil yang berbaris, bergeraklambat di setiap persimpangan. Jennie mengencangkan pelukannya pada pinggang Mingyu setiap kali motor menyalip di antara mobil dalam kecepatan tinggi. Terkadang Mingyu sengaja mengemudikan motor begitu dekat dengan badan mobil, lalu berbelok dengan gesit, sekedar untuk mendengar teriakan histeris Jennie. Setidaknya, ulah usil Mingyu dapat menutupi arti dair debaran jantung Jennie yang tak berhenti berdegup kencang semenjak mereka melaju di jalan raya.

 

Dalam waktu 20 menit, Jennie telah sampai di halaman depan Rumah Sakit Anam. Mingyu menepikan motor, yang perlahan melambat lalu berhenti tepat di depan papan nama gedung. Dua buah lampu sorot menyinari papan nama itu di dua sudut, membuatnya terlihat jelas hingga ke seberang jalan. 

Sesaat setelah Mingyu mematikan mesin, Jennie pun turun dari motor sambil melepaskan helm pinjaman yang diberikan padanya. Ketika mengembalikan kepada sang pemilik, Mingyu berkata, “Bawa aja. Siapa tahu besok-besok kamu perlu lagi.”

“Emangnya kamu mau nganter aku lagi?” tanya Jennie bingung.

Mingyu membuka kaca helmnya, menatap Jennie jahil.

“Emangnya aku nggak boleh nganter kamu lagi?” tanyanya.

Jennie memutar matanya, tetap menyodorkan helm ke hadapan Mingyu. “Siapa tahu cewekmu butuh,” balasnya.

Mingyu mendengus, sambil menyerahkan tas serut pada Jennie. Ia berkata, “Nggak ada juga cewek yang mau aku bonceng motor.”

“Masa sih?” balas Jennie sambil nyengir. “Termasuk cewek pirang itu?”

Alis Mingyu menekuk. “Cewek pirang?”

“Yang di acara kantor. Dan yang di bioskop,” sahut Jennie. “Dia bukan pacarmu?”

Menyadari siapa yang Jennie maksud, Mingyu langsung mengalihkan pandangan. Wajahnya tiba-tiba meredup, membuat Jennie bertanya-tanya apakah ia mengatakan hal yang salah. Kesunyian yang canggung tiba-tiba mengisi udara di antara mereka.

Jennie menyerahkan kembali helm di tangannya kepada Mingyu. “Aku nggak butuh helmnya,” tutur Jennie.

“Gini deh,” sahut Mingyu. “Kalau kamu maksa balikin helm ini, berarti kamu harus ngasih nomor teleponmu.”

“Kok gitu?” tanya Jennie curiga. “Buat apa?”

“Supaya kamu gampang minta tolong kalau lagi butuh bantuan, lah!” Mingyu tergelak. “Gimana aku bisa nolongin kalau nggak punya nomormu?”

Jennie bersenandung, menarik kembali helm ke dalam pelukan. Ia mengambil tas dari tangan Mingyu dan memasukkan pelindung kepala itu ke dalamnya. Sambil menyampirkan tas helm di bahu, Jennie berkata, “Aku utang satu gelas tiramisu, ya.”

Mingyu mengangkat tangannya, tak percaya.

“Seriusan? Sebegitunya kamu nggak mau kasih nomor telepon?” serunya.

Jennie menyunggingkan senyum. 

“Aku nggak mau bertukar nomor telepon karena aku nggak butuh kamu untuk selalu ada, Mingyu,” ujarnya. “Aku berterima kasih karena kamu muncul malam ini. Tapi, aku takut jadi terlalu nyaman dan makin bergantung sama kamu.”

Ucapan itu menusuk sudut hati Mingyu. Ia menyadari ada dinding tak kasat mata yang coba Jennie bangun di antara mereka. Sesering apapun mereka menggunakan kata ‘keluarga’ untuk mengikat hubungan, pada akhirnya Jennie dan Mingyu tak memiliki ikatan darah.

Hati manusia begitu rapuh, apalagi ketika kesepian dan terabaikan. Mingyu adalah seorang pria muda yang memiliki daya tarik, Jennie tak memungkiri. Bila ia mengizinkan dirinya untuk lengah sedikit saja, Jennie tahu ia akan luluh. Dalam hatinya, masih ada cinta yang begitu kuat bagi Rowoon. Menghormati hubungan yang telah mereka jalani bertahun-tahun adalah komitmen yang ia pegang 

Tak peduli berapa banyaknya pertengkaran, jarak, hingga manusia memesona seperti Mingyu yang datang, Jennie harus menjaga hatinya untuk Rowoon. 

Dan bagi Kim Mingyu, ego yang telah ia pelihara tak akan meruntuhkannya untuk menjadi pecundang. Dari kata yang tak terucap dengan gamblang, Mingyu tak sebodoh itu untuk tak menyadari Jennie telah menolaknya. Jennie tak menginginkannya.

Jennie berdeham, memecah keheningan. “Makasih tumpangannya, ya,” ucapnya. “Tenang aja, helmnya akan aku simpan baik-baik.”

Mingyu mengangguk lemah. “Perlu aku temenin ke dalam?” tanyanya.

Jennie menggeleng. “Nggak usah. Daripada kamu bolak-balik.”

“Oke,” Mingyu tak membantah lagi. “Aku balik dulu, ya.”

Suara mesin motor kembali mengerang. Dari balik kaca helm, Mingyu melihat Jennie yang melambaikan tangan padanya. 

Jennie menunggu di tepi jalan hingga Mingyu meninggalkannya. Ia mengamati motor itu bergerak menjauh, hingga hanya menjadi titik di ujung jalan, sebelum berbelok di persimpangan. Mingyu tak lagi terlihat. Jalanan kembali senyap.

Jennie menghela nafas, lalu melangkah masuk ke dalam gedung rumah sakit.

Chapter 34: good news.

Summary:

Dokter yang merawat nenek Jennie memberikan kabar baik.

Chapter Text

Dalam keadaan setengah sadar, Jennie merasakan tepukan di pundak. Ia membuka mata, menangkap sosok berseragam biru yang terbalut jaket putih. Ia tersentak bangun, menyadari Dokter Baek–petugas medis yang merawat Bu Suji sejak di IGD–sedang menatapnya dari balik kacamata. Jennie menegakkan punggung, menjaga tubuhnya tetap seimbang meski tertidur di kursi tunggu.

“Jennie, maaf, ya, saya bangunin,” ucap Dokter Baek. kedua tangannya bersembunyi pada kantong jas kerjanya.

“Ng, nggak papa, Dok,” balas Jennie, menyembunyikan bibirnya dalam telapak tangan. Ia dapat merasakan jejak air liur yang mengering di tepi bibir, dan Jennie buru-buru menyapunya. “Ada apa, Dok?”

“Ini tentang Bu Suji.”

Tubuh Jennie menegang. Wajah Dokter Baek tampak serius, tapi Jennie tak ingin berasumsi terburuk. Dan benar saja. Wajah datar sang dokter perlahan menyunggingkan senyum. 

“Ada kabar baik. Kondisi Bu Suji perlahan sudah mulai stabil. Dari pemeriksaan pagi, tekanan darah beliau sudah berangsur membaik. Masih lemah, tapi tidak lagi mengkhawatirkan,” Dokter Baek menjelaskan dengan lembut.

Jennie memeriksa angka di jam tangannya. Sudah jam 7 pagi. Kesadaran yang belum sepenuhnya membangunkan Jennie, membuatnya sulit memroses kata-kata sang dokter. Paling tidak, ia memahami bahwa neneknya selamat kali ini. 

“Lalu, selanjutnya bagaimana, Dok?” tanya Jennie.

“Saran saya, Bu Suji bisa dipindahkan ke ruang inap biasa,” balas Dokter Baek. “Mengingat Bu Suji sudah tua, beliau perlu waktu lebih panjang untuk menjalani proses penyembuhan. Tapi, bila kondisi jantungnya terus membaik, dalam waktu satu hingga dua minggu beliau sudah bisa pulang ke rumah.”

Jennie mengangguk pelan. “Saya rasa Nenek memang lebih baik dirawat dulu sampai benar-benar kuat. Kalau langsung dipulangkan, saya takut kondisi beliau memburuk lagi,” ucap Jennie. “Apalagi Nenek hanya tinggal berdua dengan asistennya.”

“Baik kalau begitu. Untuk memindahkan Bu Suji ke ruang inap, akan ada dokumen yang perlu kamu urus. Kalau kamu mau sarapan dulu, cuci muka, atau ngopi, silakan aja, Jennie. Setelah kamarnya siap, nanti baru kami pindahkan beliau ke kamar yang baru. Oke?”

“Baik, Dok. Terima kasih, ya.”

Dokter Baek mengangguk, lalu meninggalkan Jennie di kursi. Tanpa membuang waktu, Jennie segera menghubungi Haru. Suara dering telepon yang teratur mengisi satu telinga Jennie, sementara matanya menangkap tas serut berisi helm yang berdiam di kursi. 

Masih terbayang wajah Mingyu yang muram, seperti langit yang tertutup awan kelabu. Entah kenapa Jennie tak dapat melupakan perubahan ekspresi itu. Ketika Jennie menolak memberi nomor telepon, ia telah menempatkan Mingyu dalam hubungan yang tak bisa melewati batas platonik. 

Dalam hatinya, Jennie meyakinkan diri bahwa keputusannya tepat. Bila ia memberikan harapan sedikit saja pda Mingyu, sama artinya Jennie telah berkhianat pada Rowoon. Mungkin ia terlalu berlebihan memikirkan ini, tapi sungguh, Jennie takut pada hatinya sendiri.

 “Halo?” suara Haru di seberang telepon memecah Jennie dari pikirannya.

“Halo, Haru!” Jennie mencoba membuat dirinya terdengar lebih ceria. “Ada kabar baik. Nenek akan dipindah ke kamar inap biasa.”

“Syukurlah!” suara Haru terdengar gemetar, namun tetap riang. “Nona Jennie sekarang masih di rumah sakit? Ini saya baru mau berangkat dari rumah!”

“Aku harus segera kerja sebelum jam 8,” Jennie beralasan. “Jadi, aku mungkin nggak bisa nunggu Haru sampai datang. Tapi, untuk urusan administrasi kamar kamu tenang aja. Biar aku yang urus. Nanti aku infokan nomor kamarnya Nenek, ya.”

“Baik, Nona. Terima kasih, ya. Nggak tahu apa jadinya Bu Suji kalau Nona Jennie nggak ada,” kata-kata penuh haru itu tak dapat terbendung lagi. Jennie mendengar suara sang asisten yang mulai sesenggukan.

“Ya, udah. Haru buruan siap-siap dan segera berangkat ke rumah sakit, ya. Setelah administrasi selesai, nanti aku kabarin lagi. Oke?”

Tanpa sempat menunggu kedatangan Haru, Jennie terpaksa meninggalkan rumah sakit. Sebelum Nero&BIanco mulai menerima pelanggan pada jam 9, Jennie harus mempersiapkan dapur seperti rekan kerja lainnya. Di toilet rumah sakit, Jennie hanya sempat membasuh wajah, menyemprot body spray banyak-banyak, dan mengganti pakaiannya dengan baju bersih. Ia memandang wajahnya yang begitu pucat tanpa riasan, serta rambutnya yang tampak berminyak. Tampil kumal di dapur bukanlah masalah, toh ia akan berkeringat seharian.

Jennie melipat rapi setiap peralatan yang ia bawa dan memasukkannya kembali ke dalam tas. Ransel itu kembali terasa berat di bahunya, bersama tas helm yang ia tenteng di tangan.

*

“Jadi, nenek lu udah pindah ke kamar biasa sekarang?” tanya Bambam pada Jennie, yang tiba di restoran tepat sebelum jam 8 pagi. Sambil memotongi beragam sayuran di talenan, sang saucier turut senang mendengar kabar terbaru mengenai Bu Suji. “Syukur, deh. Paling nggak lu bisa agak tenang sekarang.”

“Gue tadinya mau nunggu sampai Nenek masuk kamar, tapi rasanya nggak enak kalau potong jam kerja lagi,” ucap Jennie sambil menggulung rambutnya dalam gelungan ketat. Ia membuka keran bak cuci terdekat dan membasuh tangannya sebelum mulai bekerja. “Untungnya, masih ada Haru yang bisa jaga di jam siang. Nanti malam lu mau temenin gue ke rumah sakit, nggak? Jenguk Nenek bentar aja.”

“Boleh aja, sih,” balas Bambam, menggeser potongan wortel ke dalam baskom dengan sisi pisau. “Pulang kerja?”

“Iya. Ajak Jisoo juga kali, ya. Kalian udah membantu banget waktu Nenek masih di ICU. Dia pasti senang ketemu kalian,” Jennie melemparkan senyum, mengeringkan tangannya pada lap kain.

Tanpa mengalihkan pandangan dari pekerjaannya, Bambam melemparkan pertanyaan yang tak Jennie duga. Ia berkata, “Lu nggak perlu dianterin sama sosok misterius lagi kayak kemarin?”

Jennie mematung. “Kamu lihat?”

“Nggak, sih. Tapi ada yang lihat, terus cerita ke gue waktu pulang,” balas Bambam. Ia memindahkan baskom stainless berisi sayuran ke meja lain dan mengambil wadah kosong lain. “Siapa yang nganter lu tadi malam? Rowoon?”

“Bukan,” jawab Jennie gugup. “Itu … Mingyu.”

Bambam mendongak dan melemparkan pandangan heran pada Jennie. Alisnya menekuk tajam, membuat Jennie salah tingkah. “Mingyu?” ulang Bambam.

“Dia muncul gitu aja, Bam. Mingyu bilang karena Jiho yang minta,” Jennie mencoba menjelaskan. “Mama gue cerita ke Jiho, terus dia meneruskan ceritanya ke Mingyu. Lalu Jiho minta tolong Mingyu buat nganterin gue ke rumah sakit. Gue nggak secara pribadi minta tolong dia!”

“Iya, iya. Santai aja, Jen. Nggak usah panik gitu,” balas Bambam,  heran dengan reaksi Jennie yang begitu gugup menceritakan kembali kejadian semalam. Padahal, ia hanya menanyakan hal biasa. “Reaksi lo … aneh banget.”

Jennie mengedip. “A, aneh kenapa?”

“Padahal gue cuma nanya biasa aja, tapi kenapa kuping gue nangkepnya lu defensif banget.”

“Masa, sih?” Jennie mengalihkan pandangan, melemparkan tawa yang kering. “Gue nggak mau lu curiga aja.”

“Curiga?” Bambam mengerutkan kening. “Kenapa gue mesti curiga? Emangnya lu ada apa-apa sama Mingyu?”

“Nggak ada, ya! Lu nggak usah nuduh-nuduh!” seru Jennie. Tengkuknya terasa panas.

“Yeee … siapa yang nuduh? Lu yang reaksinya berlebihan!” balas Bambam, merasa geli dengan reaksi sahabatnya. Semakin ia menggodanya, semakin Jennie bertingkah aneh. 

“Ih, udah, ah! Mending gue kerja aja!” Jennie mengomel. Ia berbalik, melangkah cepat menuju stasiun kerjanya di bagian belakang dapur. 

Bambam hanya geleng-geleng kepala, lalu lanjut mengiris bawang bombai yang masih menumpuk di meja.

Chapter 35: to love and not to love.

Chapter Text

Dapur Nero&Bianco segera menjadi sibuk ketika para kepala pelayan membuka pintu untuk menyambut pelanggan yang datang. Belum juga separuh hari berlalu, pesanan terus datang ke meja dapur, membuat para koki tak henti meracik bahan di stasiun kerja masing-masing. Setiap kali pesanan baru datang, sang kepala chef meneriakkan daftar pesanan dengan suara lantang. Di antara suara peralatan masak yang beradu, keluhan para senior membanjiri telinga junior yang bekerja lambat.

Jennie tak kalah sibuk menyiapkan adonan untuk hidangan penutup seperti torta, kue cokelat ala Italia. Belakangan ini, makanan manis itu menjadi populer di kalangan pengunjung, bahkan mengalahkan tiramisu khas restoran yang ikonik.

“Gimana ide baru untuk menu musim dingin, Jen?” tanya seorang seniornya, sambil mengeluarkan bahan-bahan dari lemari penyimpanan. Keriuhan dapur terdengar di balik dinding, sebuah medan perang tersendiri yang mengecualikan para pastry chef. 

“Aku belum kepikiran ide baru, Chef,” ucap Jennie. Ia menyiapkan mixer berukuran besar, menumpuk sejumlah balok mentega di meja. “Mungkin variasi torta atau canoli untuk musim dingin? Sesuatu yang dipanggang dan hangat mungkin cocok. Lalu jika ada tambahan gelatto, bisa menarik untuk anak-anak.”

“Musim dingin berarti waktunya untuk keluarga, ya,” sang senior berpikir. “Aku rasa ide dasarnya cukup menarik. Kalau kamu butuh diskusi, jangan sungkan untuk bicara denganku, ya.”

“Iya, Chef,” ucap Jennie riang, merasa beruntung karena seniornya terbuka dengan idenya. 

Saat ia hendak mengambil selusin telur, Jennie merasakan ponsel di kantung celananya bergetar. Ia buru-buru meraihnya, merasa khawatir jika Haru tiba-tiba menelepon membawa berita tentang sang nenek Ternyata, nama Rowoon muncul di layar.

“Halo?” sapa Jennie sambil berbisik di telepon. Ia celingukan, memastikan seniornya tak melihatnya mengendap-endap pergi ke pintu belakang restoran.

“Halo, Sayang,” sapa Rowoon riang. “Aku baru baca pesanmu. Nenekmu udah membaik?”

Dada Jennie merasa hangat mendengar suara kekasihnya, meski belum lama sejak terakhir kali mereka bertemu. Ia menjawab, “Dibilang membaik juga nggak, sih. Tapi, setidaknya kondisinya udah lebih stabil. Nenek udah pindah ke ruang inap biasa.”

“Syukur, deh. Dia emang petarung sejati,” canda Rowoon, membuat Jennie tersenyum. “Aku baru balik ke Seoul hari Jumat malam. Kalau akhir pekanmu kosong, aku boleh jenguk Nenek di hari Sabtu?”

“Boleh banget, dong!” balas Jennie riang. “Nenek pasti senang kalau kamu datang!”

“Kalau boleh … aku ajak Mama juga.”

“Oh.”

Seketika, hening mengisi jarak di antara mereka. Dari lorong belakang restoran, suara mesin kendaraan di jalan raya menjadi musik latar yang memekakkan telinga.

“Kamu ingat, kan, nenekmu mau kita segera menikah sebelum Januari? Aku rasa kita perlu membicarakan hal itu lagi,” ucap Rowoon.

“M, maksudnya? Kita mau nikah bulan Desember?” tanya Jennie dengan dada berdebar. Degup jantungnya begitu keras hingga membuat telinganya pengang.

“Aku belum tahu. Makanya, Mama mau jenguk sekalian membicarakan soal itu. Siapa tahu kita bisa ketemu jalan tengahnya, kan?” Rowoon menegaskan. “Aku udah coba menyampaikan permintaan nenekmu, tapi … kamu tahu sendiri sekeras kepala apa mamaku.”

Jennie tak bisa merasa lega dulu. ‘Lampu hijau’ itu belum menyala. 

“Oke,” jawab Jennie singkat. “Tapi, untuk hari Jumat … kamu bisa jemput aku di restoran? Atau aku boleh mampir ke apartemenmu? Aku kangen.”

Rowoon terdiam cukup lama, membuat Jennie kebingungan. Akhirnya, ia berkata, “Nanti aku kabarin lagi, ya? Soalnya aku nggak tahu bisa sampai di Seoul jam berapa. Biasalah, kalau akhir pekan pasti macet.”

“Sampai tengah malam pun aku tungguin, kok,” ucap Jennie tegas. 

“Kita lihat nanti, ya, Sayang.”

“Tapi, kamu mau usahain kita ketemu, kan?”

Meski tipis, Jennie dapat mendengar helaan nafas Rowoon. “Iya, nanti aku usahain, ya,” ucap pria itu kemudian.

Seseorang memanggi Jennie dari dalam gedung restoran. Menyadari bahwa ia harus segera menyudahi sambungan telepon, Jennie pun berkata pada Rowoon, “Aku harus balik kerja. Nanti kita ngobrol lagi, ya?”

“Oke. I love you.

I love you,” balas Jennie. Ia memutus kontak dan menyelipkan ponsel kembali ke dalam kantung celana. 

*

Kim Mingyu menggeser dirinya ke tepi tempat tidur dengan goncangan seminim mungkin, agar wanita yang tertidur di sampingnya tak terbangun. Ia membungkuk, meraba-raba permukaan lantai dalam gelap. Mingyu menarik sejumlah pakaian yang berantakan di lantai, mengenakan kembali setiap potongan satu persatu. Telapak kakinya geli saat memijak karpet yang lembut, sementara ia mengaitkan restleting celana.

Mingyu tersentak ketika merasakan sentuhan di punggungnya. Ia menoleh, mendapati wanita berambut pirang yang berbaring di ranjang sedang tersenyum padanya.

“Kamu mau ke mana?” tanya wanita itu dengan suara parau. Matanya setengah membuka, seakan sedang memaksakan diri untuk terjaga. “Nggak nginep aja?”

“Besok aku masih ngantor, Rose,”  jawab Mingyu. “Sori, ya.”

Rose, teman bercinta Mingyu malam ini, menatap punggung pria itu dengan heran. Ia berbaring pada sisi tubuhnya, lengannya menekuk menopang kepala. Selimut menutupi hingga dadanya yang telanjang, sementara Mingyu tak berhenti memakai pakaian yang tersisa. Rose melirik jam digital di nakas tempat tidur, angka yang terpampang selaras dengan langit malam yang masih terlelap. 

“Ini jam dua pagi, Mingyu. Biasanya kamu nggak ada masalah nginep dan berangkat ke kantor dari apartemenku,” balas Rose. “Keadaan kantor lagi genting?”

Mingyu tertawa kecil. “Nggak ada yang genting. Aku pengen pulang aja.”

“Kenapa?”

Mingyu membuang nafas panjang. Ia tahu pertanyaan Rose tak akan pernah selesai. Kemeja di tangannya tampak kusut, tapi ia tak peduli. Pria itu menyelipkan kedua lengannya pada lengan baju, perlahan mengancingkan bagian depan.

Rose beringsut dari tempat tidur, memeluk Mingyu dari belakang. Ia meletakkan dagu di bahu pria itu, mengecup sisi lehernya lembut. 

“Sebulan lebih kita nggak ketemu, tapi malam ini kamu dingin banget. Aku maksain diri pulang dari Singapura malam ini karena kangen kamu, loh,” bisiknya.

Mingyu tersenyum. Di antara para wanita yang bersandar padanya, Rose adalah salah satu yang teristimewa. Tak pernah menuntut, percaya diri, dan berhati luas; ia tak pernah gentar pada apapun. Ketika banyak dari mereka yang bermain dengan Mingyu hanya sekali, Rose selalu kembali padanya.

Di tengah jadwalnya yang padat sebagai seorang model dan bintang TV, ia tak pernah ragu menghubungi Mingyu ketika membutuhkan teman untuk malamnya yang sepi. Pria itu tak pernah keberatan, meski kadang ia khawatir Rose akan terlibat skandal jika ketahuan jalan dengan seorang pria. Tampaknya ia punya tim yang berisi para pekerja keras, yang dapat membayar mahal media untuk menutup mulut. 

Bagaimanapun juga, Rose adalah mesin pencetak uang terbesar bagi timnya. Mereka akan melakukan apa saja agar namanya selalu bersih.

“Kamu punya cewek lain, ya?” goda Rose, berbisik tepat di telinga Mingyu, membuatnya kegelian. “Jujur aja. Aku nggak akan marah.”

“Nggak ada,” jawab Mingyu sambil tertawa geli. “Aku … lagi banyak pikiran aja.”

I’m all ears if you need a friend to listen to your problems (aku selalu siap mendengar jika kamu butuh teman curhat),” ucap Rose. “You know that.

Mingyu mengelus kepala Rose yang bersandar padanya, merasa berterima kasih pada kelembutan hatinya. Dalam hati, Mingyu tahu dunianya akan lebih mudah jika ia jatuh cinta pada Rose. Wanita itu pun berpikiran sama. Percintaan mereka selalu bergairah dan mereka memiliki banyak kecocokan selera serta hobi. 

Namun, hati Mingyu tak pernah tergerak untuk menginginkan lebih dari sekedar keterikatan yang dangkal. Berkali-kali mereka mendiskusikannya, tapi nafsu itu tak pernah berubah menjadi wujud yang lebih murni.

Rose tahu pria yang dipeluknya tak akan berubah pikiran malam ini. Meski ia memohon sekalipun, Mingyu akan tetap memilih pergi dan pulang ke rumahnya. Karenanya Rose tak berkeinginan untuk merengek, memintanya untuk tetap tinggal lebih lama. 

“Kapan aku bisa ketemu kamu lagi?” tanya Rose kemudian.

“Kapan aja kamu ada waktu kosong. Aku selalu ada waktu buat kamu,” jawab Mingyu. Ia melepaskan lengan Rose yang melingkari pinggangnya, memutar tubuhnya. 

Mingyu menyibak rambut Rose yang menutupi wajahnya. Sepasang mata itu berkelip, memantulkan cahaya gedung dari luar jendela. Ia menunduk, mencium bibir wanita itu lembut. 

“Aku balik dulu, ya,” ucap Mingyu kemudian, selepas menarik diri dari kecupan.

Rose mengangguk. Pandangannya tak lepas dari Mingyu saat pria itu bangkit dari tempat tidur. Ia mengambil jaket yang bersandar pada punggung kursi, melambaikan tangan pada wanita di ranjang yang tak menahannya pergi.

Chapter 36: the promised tiramisu.

Summary:

Bersama Seungcheol, Mingyu kembali ke Nero&Bianco untuk menagih tiramisu gratis yang Jennie janjikan.

Chapter Text

Akhir pekan datang lebih cepat dari perkiraan. Bila Nero&Bianco tampak sibuk di hari kerja, maka Jumat malam menjadi neraka bagi para pekerja. Apalagi di awal atau akhir minggu. Tak akan ada meja yang tersisa untuk dipesan bagi mereka yang ingin melewatkan makan malam bersama keluarga, rekan bisnis, maupun pasangan.

Malam itu menjadi hari keberuntungan bagi Kim Mingyu. Ketika ia turun dari mobil, langkahnya terasa ringan saat menyusuri trotoar yang mengarahkannya ke pintu depan Nero&Bianco.

“Ini seriusan gue boleh pesen apa aja, Seungcheol?” tanyanya riang. Mingyu tahu kata-katanya retorikal, mengingat wajah Seungcheol begitu masam sejak ia menjemputnya di rumah. “Bagai kejatuhan durian runtuh, nih!”

Seungcheol melirik wajah sahabatnya yang berbinar. Ia tak dapat berkutik saat Mingyu melingkarkan lengan di bahunya, bersenandung riang. 

“Udah deh, lu diem aja,” ucapnya ketus. “Gue masih kesel ini gara-gara bini gue tiba-tiba ngabarin nggak bisa pulang.”

“Gue turut berduka cita, bro. Tapi, sori, nih. Susah buat nutupin rasa bahagia dapat makan malam gratis,” balas Mingyu.

Seungcheol, sahabatnya, telah memesan meja untuk dua orang di Nero&Bianco jauh-jauh hari. Seharusnya malam itu menjadi makan malam romantis bersama istrinya. Tapi, Seungcheol terancam untuk melepaskan meja yang telah ia pesan karena sang istri mendapat pekerjaan dadakan. 

Daripada menyia-nyiakan kursi yang telah dipesan, akhirnya Seungcheol menggaet Mingyu untuk menemaninya makan malam.

“Kebetulan banget, sih, lu ngajak gue ke Nero&Bianco malam ini,” ujar Mingyu pada sahabatnya, selepas mereka melewati meja resepsionis untuk mengonfirmasi meja pesanan. “Jennie janjiin gue tiramisu gratis.”

“Kok bisa gitu?” tanya Seungcheol. Keduanya berjalan mengikuti capo cameriere, kepala pramusaji, menyusuri lorong di antara meja-meja bulat yang berbaris rapi. Sebuah meja kosong di ujung ruangan menjadi tujuan mereka.

“Gara-gara gue nganterin dia ke rumah sakit kemarin,” jawab Mingyu. Ia menyunggingkan senyum, menampik remahan-remahan memori di malam itu yang tak ingin ia ingat. Ia hanya ingin mengingat yang baik saja, setidaknya untuk malam ini. “Dia bilang bakal traktir gue tiramisu kalau datang ke resto.”

“Gue dapet gratisan juga nggak?” canda Seungcheol. Keduanya duduk, sementara kepala pramusaji memanggil seorang pelayan lain yang bersiaga di sisi lain ruangan.

Mingyu mengangkat bahu. “Agak nggak tahu malu juga sih kalau gue minta dua porsi gratis. Iya, nggak?” ia mengekek.

“Wah, wah, ada dua wajah familiar malam ini.”

Seungcheol dan Mingyu menoleh ke arah suara itu. Jisoo melemparkan senyum sumringah pada dua pria di hadapannya. 

“Selamat datang di Nero&Bianco,” sapanya ramah. Jisoo membagikan buku menu kepada setiap orang yang ada di meja. “Mau pesan apa malam ini?”

Seungcheol membuka buku menu dengan antusias. Matanya memindai setiap gambar dan barisan nama menu yang memenuhi halaman. Ia merasa ragu mencoba hal baru, tapi tak tertarik untuk memesan menu yang mudah dijumpai di manapun. 

Menangkap kebingungan di wajah Seungcheol, Jisoo menawarkan menu-menu yang baginya cukup aman bagi si pendatang baru. “Kalau suka pedas, bisa mencoba penne all'arrabbiata (di seberang Seungcheol, Mingyu melagukan ‘mmm’ panjang). Atau jika suka rasa yang kuat dari seafood, bisa mencoba spaghetti alle vongole kami,” ujar Jisoo pada Seungcheol.

Alle vongole? Kerang, ya?” tanya Seungcheol.

“Betul. Menu ini oil base jadi cita rasa kerang yang segar akan merata ke seluruh pasta. Ada tambahan bawang putih juga yang bikin rasanya lebih gurih,” Jisoo menjelaskan. “Kalau kamu suka minum juga, bisa dipadukan dengan anggur putih rekomendasi kami.”

“Seungcheol lagi sedih malam ini soalnya nggak bisa makan malam romantis sama istrinya,” potong Mingyu. “Jadi, gue seratus persen bertanggung jawab antar dia pulang kalau lu mau bikin dia mabuk, Jisoo.”

Jisoo tertawa kecil mendengar kelakar itu, sementara Seungcheol hanya bisa manyun.

“Kalau kamu mau pesan apa, Mingyu? Mau coba menu lainnya? Terakhir kamu suka banget, kan, penne all'arrabbiata-nya?” tanya Jisoo.

Mingyu bergumam, sambil membalik-balik halaman menu. “Aku lagi nggak mau makanan yang pedas. Kalau bisa, sesuatu yang fresh dengan tomat?” pinta pria itu.

“Gimana kalau spaghetti alla puttanesca?” Jisoo menawarkan. Ia membalik halaman dan memperlihatkan foto menu yang ia maksud. “Meski bukan tomato-based, ada potongan tomat segar, terong, bawang putih dan buah zaitun juga. Rasanya segar, ada sedikit sensasi pedasnya untuk mengimbangi rasa asam dan segar dari tomat.”

“Kayaknya itu enak,” sahut Mingyu. 

Setelah menentukan setiap hidangan yang menarik selera makan mereka, Jisoo pun berpamitan dari meja. Ia meninggalkan satu buku menu di tepi meja, yang dapat Seungcheol atau Mingyu gunakan jika sewaktu-waktu mereka ingin memesan menu lainnya.

“Wow, dia pramusaji yang hebat,” puji Seungcheol. “Benar-benar informatif dan bikin orang tertarik dengan menunya. Gue sempet ngerasa kelimpungan karena baru pertama kali ke sini. Tapi Jisoo ngejelasin semuanya dengan tenang, nggak bikin gue makin bingung.”

Mingyu tertegun mendengar kata-kata Seungcheol. Ia tak pernah memperhatikan pelayanan Jisoo sebelumnya. Dibandingkan sahabatnya yang menghargai kehadiran Jisoo dengan rendah hati, Mingyu justru bertingkah sebaliknya  Sikapnya yang congkak saat terakhir kali datang ke Nero&Bianco bersama Jiho tiba-tiba melintasi benaknya. 

“Oh iya, abang lu udah telpon belum? Katanya dia London?” tanya Seungcheol.

“Iya, udah. Lagi asyik jalan-jalan dia sama si istri baru,” jawab Mingyu sambil nyengir. 

“Jadi dia ketemu Pak Peter?”

“Katanya sih jadi. Mau ada proyek bareng kan di sana.”

Tak lama, Jisoo kembali ke meja sambil membawa dua gelas air mineral dan sekeranjang roti. Kedua pria itu berterima kasih, sambil melanjutkan perbincangan mereka.

“Ini antara kita aja ya, Mingyu. Tapi, gue denger-denger bakal ada orang yang dipindah ke sana dalam waktu dekat,” sambung Seungcheol. Ia mengambil sepotong roti dan menyobek ujungnya.

“Wajar, sih. Proyeknya gede banget. Bisa makan berbulan-bulan kalau mau sampai selesai,” Mingyu membalas. 

 “Kalau  misalnya lu yang pindah ke sana, lu siap nggak?”

Mingyu mendongak. Ia tak menyangka Seungcheol akan melemparkan pertanyaan itu. Setelah meletakkan dua gelas air, Jisoo meminta permisi untuk meninggalkan meja.

“Gue yang ke sana? Lu yakin?” tanya Mingyu balik. Wajah Seungcheol tampak serius, tapi juga menggemaskan karena ia bicara sambil sibuk mengunyah roti.

“Keputusannya belum final, tapi gue dan Jiho udah sempat diskusi. Dan gue ngerekomendasiin lu. Lu ada pengalaman magang waktu sekolah di Jerman, kan? Jadi, paling nggak, lu ada pengalaman tentang kultur kerja di Eropa,” Seungcheol menjelaskan.

“Kalau soal kultur kerja, mereka sama aja sih kayak kita. Cuma … lebih efisien aja,” balas Mingyu. Ia menyandarkan punggungnya pada kursi, duduk sambil bersedekap. “Gue sih oke-oke aja kalau perlu ngurus proyek di sana. Gue nggak ada tanggungan juga di sini. Ibu gue biasa travelling, jadi nggak ada yang bakal ngerasa khawatir kalau gue jauh.”

“Kalau lu pindah ke London, bisa reuni sama Chaeyeon, dong.”

Mingyu tertegun. Senyum jahil Seungcheol segera lenyap ketika Mingyu tampak tak menikmati mendengar nama itu lagi. 

Sebuah nama yang sudah lama tak melintasi benak pria itu, namun sempat memenuhinya sepanjang hari. Selama bertahun-tahun. Siang dan malam. Dulu, nama itu adalah semesta bagi Mingyu. Ia mengitarinya, seperti sebuah planet yang bergantung pada bintang yang memiliki gaya tarik terkuat. Ketika bintang itu memutuskan untuk pergi, Mingyu kehilangan pegangan. Ia hanya menjadi bongkahan batu yang mengambang di angkasa, tak punya arah tujuan. 

Meski sosoknya kini terasa seperti hantu, ternyata nama wanita itu masih punya kekuatan untuk membangkitkan rasa yang telah lama mati. Ia masih ada, tapi begitu jauh. Dia yang lepas dari genggaman Mingyu, dan memilih hidup bersama pria lain. 

 

*

Jennie sedang mengisi kulit pastry canolli dengan keju ricotta ketika Jisoo menghampirinya di dapur. Ia tak dapat berpaling dari pekerjaannya, tapi mendengar kehadiran Jisoo di sisinya.

“Jennie,” panggilnya, melongok dari balik dinding. “Di meja 18 ada tamu spesial. Seungcheol dan Mingyu lagi ada di restoran–”

Mendengar nama itu, Jennie tanpa sadar menekan piping bag terlalu kuat. Isinya luber ke meja, melebihi porsi yang seharusnya. Sambil mengumpat, ia buru-buru membersihkan krim keju itu.

“Jen?” panggil Jisoo lagi, tampak bingung karena Jennie gelagapan sendiri.

“Iya, sori, Jisoo. Gue denger, kok,” sahut Jennie cepat. “Kenapa?”

“Mingyu bilang dia mau nagih tiramisu gratis yang lu janjiin. Beneran atau dia lagi ngibul, sih?” tanya Jisoo. 

“Oh, itu,” gumam Jennie, mengelap tangannya yang belepotan krim keju pada celemek yang melingkari pinggang. Ia menegakkan punggung, merasakan otot dan tulang yang mulai menegang. “Iya bener. Gue ngasal janjiin Mingyu tiramisu gratis. Dia beneran nagih?”

“Mukanya berharap banget, kayak bocah,” ucap Jisoo geli. “Jadi … dua porsi tiramisu gratis dari lu, nih?”

“Oke,” Jennie mengangguk. “Bilangin meja depan nanti potong dari gaji gue, ya.”

“Sip,” Jisoo mengangkat jempol. Ia menambahkan catatan khusus pada pesanan dua pria yang ia layani. Setelah mengonfirmasi pesanan pada Jennie, Jisoo meninggalkannya agar ia dapat kembali tenggelam pada pesanan hidangan penutup yang menumpuk. 

Jennie tidak percaya Mingyu benar-benar menagih segelas tiramisu padanya malam ini. Sambil mengerjakan ulang pesanan canolli yang menjadi tanggung jawabnya, rasanya Jennie ingin segera mendengar perintah dari Kepala Chef untuk mengerjakan pesanan meja nomor 18. 

Bersama para senior, ia telah menyempurnakan resep tiramisu yang menjadi salah satu menu andalan Nero&Bianco. Jennie tak sabar untuk membuat kedua temannya tercengang.

Chapter 37: the lying hearts.

Summary:

Jennie menghampiri Mingyu yang hendak meninggalkan restoran. Sementara itu, Rowoon pusing dalam menghadapi ibunya.

Chapter Text

Di akhir sesi makan malam bersama Seungcheol, Mingyu tak dapat melupakan nikmatnya tiramisu yang menyelimuti lidahnya. Rasa esspreso yang kuat pada lapisan biskuit ladyfinger, berpadu sempurna dengan krim mascarpone yang lembut. Makanan yang begitu sederhana, tapi berhasil mengobati hatinya yang belakangan terasa sesak.

“Terakhir kali gue ngerasa badan seenteng ini waktu makan nasi padang dekat kantor,” gumam Seungcheol. Sambil memegangi lengan sahabatnya, Mingyu menahan tawa saat menuruni tangga depan Nero&Bianco. Pipi Seungcheol memerah, dengan mata sayu yang tak fokus pada apapun. Dalam sekejap, ia berubah menjadi pria paruh baya yang kehilangan kemampuan motorik.

“Bro, lu mabuk,” gumam Mingyu. Keduanya bernapas lega ketika akhinya memijak lantai trotoar dengan selamat. Seungcheol tak peduli pada Mingyu yang menertawakannya.

“Kalau istri gue pulang nanti, gue harus maksa dia balik ke Nero&Bianco,” sahut Seungcheol sambil menunjuk hidung Mingyu. “Nanti lu bantu booking-in, ya. Makan makanan enak bisa bantu lepasin stres karena kerjaan.”

“Oke, oke–Lu … bisa jalan yang lurus, nggak, sih?” protes Mingyu. Ia terpaksa menopang tubuh sahabatnya hingga ke mobil. Bersama-sama, mereka menghitung langkah agar tidak saling menyandung. Dengan susah payah, Mingyu menyeret Seungcheol hingga ke sisi pintu depan bagian penumpang. “Ayo buruan masuk, gue anter lu pulang!”

Dalam kesadaran yang masih tersisa, Seungcheol melangkah masuk ke dalam mobil, lalu duduk terkulai di kursi. Mingyu tersengal. Tarikan nafasnya terasa dingin melawan udara di akhir musim gugur. Ia bergidik ketika angin membelai tengkuknya yang terbuka.

Ia mempercepat langkah kembali ke sisi pintu pengemudi, ketika ada suara yang memanggil namanya. Mingyu berbalik, mendapati seorang seorang wanita berseragam putih menghampirinya. 

Rambutnya yang diikat ekor kuda berayun sembari ia berlari kecil. Pipinya merona, dengan mata berbinar yang Mingyu jarang lihat sebelumnya. Jennie berdiri di hadapan pria itu, hanya berjarak beberapa langkah.

“Hai, Jen,” sapa Mingyu. Dadanya berdebar, tapi ia mencoba tetap tenang.

“Hai,” balas Jennie, sambil mengatur nafas. “Jisoo bilang kalian baru ninggalin meja. Jadi, aku buru-buru ngejar kalian.”

“Aku harus bawa Seungcheol keluar sebelum dia bikin ricuh di dalam,” canda Mingyu, menunjuk rekannya yang terlelap di dalam mobil. “Dia kebanyakan minum.”

“Oh.” Jennie mengangguk-angguk, memahami situasinya. 

Mingyu kehabisan kata-kata. Entah kenapa ia tak bisa lancar bicara malam ini saat berhadapan dengan Jennie. Sementara itu, Jennie menarik dan membuang nafas panjang. Ia memandang ujung sepatunya.

“Ada … yang mau kamu omongin?” tanya Mingyu kemudian, melihat Jennie tak kunjung bicara.

Jennie mendongak, gelagapan. Ia hampir lupa tujuannya muncul di hadapan pria itu. “Aku cuma mau ngabarin kalau nenekku udah dipindahin ke kamar inap biasa,” ucap Jennie cepat.

“Oh. Bagus, deh,” balas Mingyu, sambil menyunggingkan senyum. “Aku ikut senang kalau kondisi nenekmu membaik. Mudah-mudahan bisa segera keluar dari rumah sakit, ya.”

Jennie menyadari ada uap putih tipis yang keluar dari mulut Mingyu ketika ia bicara. Udara agak dingin malam ini–begitupun Mingyu. Ada sesuatu yang mendorong dirinya untuk mengejar Mingyu hingga ke trotoar jalan di depan gedung Nero&Bianco. Namun, ketika mata mereka bertemu, lidahnya terasa kelu. 

“Terus, apalagi?” Mingyu menatap Jennie dengan alis terangkat.

“Oh–em–i, itu aja sih,” Jennie merasa gugup. “Aku cuma mau ngucapin terima kasih, karena nganterin aku ke rumah sakit malam itu.”

“Sama-sama,” balas Mingyu. “Itu aja?”

“Itu aja.” 

Mingyu mengangguk. “Kalau gitu, aku balik dulu, ya–” 

“Mingyu!”

Jennie tak menyangka ia meneriakkan nama itu di tepi jalanan kota. Beberapa orang yang melintas sampai menengok, tampak terkejut karena ada wanita yang tiba-tiba bersuara lantang. Mingyu pun tak kalah kaget. 

Jennie tak mengerti dirinya sendiri, tapi nama itu telah keluar dari mulutnya. Sebagian dirinya ingin meminta maaf karena tak bersedia memberikan nomor telepon. Namun, di sisi lain, Jennie merasa ia tak melakukan kesalahan. Mengapa ia berpikir begitu keras untuk sebuah nomor telepon, yang bahkan bukan kejahatan jika ia memberikannya pada Mingyu?

Di sudut hatinya, ia takut. 

Jennie menelan ludah. Ia mengambil beberapa langkah untuk berdiri lebih dekat dengan Mingyu. Tangan pria itu masih memegang gagang pintu mobil, menahan diri untuk tak membukanya. 

Mingyu tampak kasual dalam pakaian serba hitam, membuatnya begitu tinggi. 

Dalam satu tarikan nafas, Jennie bertanya, “Mau jenguk nenekku Jumat ini?”

Pria di hadapannya membelalak, tak menyangka akan mendapat tawaran itu. Jantung Jennie berdebar cepat. Ia lupa, seharusnya ia bertanya tentang tiramisu yang ia sajikan. Seharusnya ia membanggakan resep yang telah disempurnakan oleh para seniornya. Namun, isi kepalanya justru berbelok ke hal lain.

“Oke.”

Jennie berkedip perlahan. Ia tak menyangka Mingyu akan mengiyakan.

“Jam berapa?” tanyanya lagi.

“Pulang kerja. Sekitar jam 9 malam,” jawab Jennie cepat. “Aku bisa izin lebih awal.”

Mingyu mengangguk. Ia menarik gagang pintu. Sambil melangkah masuk ke dalam mobil, Mingyu menambahkan, “Jangan lupa bawa helmnya.”

“Oke.”

Selang beberapa detik, suara mesin mobil mulai meraung lembut. Jennie masih berdiri di tepi jalan, menangkap sosok Mingyu yang masih terlihat di balik dasbor. Pria itu melambaikan tangan singkat pada Jennie, yang segera membalasnya.

Lampu depan mobil menyala, sisi kirinya mengedip pelan. Dalam satu tarikan, kuda besi itu telah meninggalkan sisi jalan Nero&Bianco.

*

Di kamar hotelnya, Kim Rowoon tak dapat melepaskan pandangan dari kota Busan yang ia nikmati dari ketinggian. Dari balik dinding kaca, garis pantai di kejauhan seperti membelah bumi dan langit. Keduanya saling memantulkan kerlipan bintang pada gelombang laut, bergerak-gerak dalam cahaya redup. Tampilannya yang sendu selaras dengan hati Rowoon yang semakin lama semakin terpuruk. Ia tak mengerti mengapa Hong Suhee, ibunya, begitu keras kepala. Di satu telinga, wanita paruh baya itu bersikeras bahwa Rowoon dan Jennie tak boleh melangsungkan pernikahan yang sederhana.

“Dia pikir dia siapa mau ngadain pernikahan sederhana sama kamu, Nak? Kita ini keluarga terhormat!” jerit ibu Rowoon di telepon, ketika pria itu menghubunginya. 

“Ma, dengerin aku dulu. Ini demi neneknya Jennie,” Rowoon beralasan, mencoba tetap tenang. Ia melonggarkan dasi yang seharian terikat di lehernya, melempar asesoris itu ke meja kopi di depan sofa. “Gini, deh. Kalau Mama nggak mau acara yang sederhana, kita bisa setidaknya pura-pura aja.”

“Pura-pura? Demi Jennie dan keluarganya yang berantakan itu?” 

Dahi Rowoon mengerut tajam. Tanpa sadar, nada bicaranya meninggi, “Mama kok gitu, sih, ngomongnya? Apa yang terjadi sama keluarganya Jennie itu bukan sesuatu yang bisa dia kontrol! Bukannya Mama sendiri yang bilang suka sama Jennie karena dia pekerja keras? Dia seorang perintis, dan mau kehidupan yang lebih baik!”

Hong Suhee membuang nafas panjang. “Mama memang bilang kayak gitu, tapi dia terlalu keras kepala. Kalau dia memang butuh uang untuk melanjutkan hidup, kita bisa kasih semua yang dia mau, kan? Bukannya itu alasan dia mau nikah sama kamu?” ucapnya ketus.

Rowoon mengatupkan rahang. Tangannya mengepal. Suaranya terdengar gemetar saat berkata, “Jennie juga sadar, kok, kalau Mama bakal ngeliat dia sebagai wanita mata duitan. Tapi, dia penting buatku. Jennie selalu ngedukung aku sejak jaman kuliah, meyakinkanku bahwa aku bisa dalam bisnis ini meski banyak orang melihatku sebagai anak nepo. Kalau uang kita bisa membantu dia, kenapa nggak?”

Hong Suhee terdiam di sisi lain telepon. Rowoon memijat pelipisnya yang menegang. Pria itu merasakan kehadiran sosok lain yang melintas, membawa segelas air dan sebungkus obat sakit kepala. Sosok itu membungkuk, meletakkan barang yang ia bawa di permukaan meja. Sebelum ia berlalu pergi, Rowoon mengulurkan tangan.

Ia menahan Lisa pergi. Wanita itu berdiri di sisi Rowoon dalam diam, membiarkan pria itu menggenggam jari-jarinya erat.

“Gini, deh, Ma. Hari Sabtu kita jenguk nenek Jennie di rumah sakit. Oke?” pinta Rowoon. Nada bicaranya telah kembali tenang dan diplomatis. “Mama ketemu dulu dengan Bu Suji, melihat kondisinya dari dekat. Setelah itu, baru kita bicarakan hal ini lagi, oke?”

“Terserah kamu aja,” Hong Suhee pun menyerah. “Kapan kamu pulang?”

“Sepertinya hari Jumat. Aku usahain sore udah di Seoul,” jawab Rowoon.

“Kabarin Mama kalau kamu dalam perjalanan pulang, ya.”

“Iya, Ma.”

Rowoon mengakhiri perbincangan di telepon. Ia merasa sepuluh kali lipat lebih lelah setiap berdiskusi dengan sang ibu. Meski menyebalkan, Rowoon harus mengakui sikap keras hati itu turut mengalir dalam darahnya. Ia duduk, mengistirahatkan tengkuknya pada punggung sofa, mendesah panjang.

Di sisinya, terdengar tawa kecil. Rowoon menoleh, menangkap basah Lisa yang merasa bersalah karena kelepasan tertawa.

“Sori,” ucap wanita itu. Satu tangannya masih bebas, membelai kepala Rowoon lembut. Jari-jarinya menyusup di antara helaian rambut hitam itu, mengirimkan sinyal elektrik ke sekujur tubuh Rowoon. “Aku nggak tahan tiap kali kamu adu mulut dengan Bu Suhee. Kalian memang bagai pinang di belah dua.”

Rowoon mendengus. “Kamu bukan orang pertama yang ngomong gitu,” sahutnya.

“Minum obat sakit kepalanya dulu, gih. Kepalamu pusing seharian, kan?” Lisa mengingatkan. 

Ia mengambil gelas dan obat yang ada di meja, menyerahkannya pada Rowoon. Pria di hadapannya segera menyambut, menenggak obat dan membilas kerongkongannya dengan air. Setelah menghabiskan isi gelas, Rowoon bangkit berdiri.

 “Setelah ini mending kamu buruan mandi, terus istirahat. Besok kita masih lanjut survey lapangan, rapat seharian, lalu ketemu dengan investor baru,” Lisa mengingatkan. “Besok aku beliin vitamin tambahan, supaya kamu tetap segar. Oke?”

Rowoon mengangguk lemah. Ia membiarkan Lisa mengambil gelas kosong dan sisa obat dari tangannya. Ketika ia hendak berbalik pergi, Rowoon menghalanginya. Lisa mendongak, pandangannya terkunci pada sepasang mata yang menatapnya dalam-dalam. Keduanya berkelip seperti manik-manik hitam, menenggelamkannya dalam rasa yang terlarang.

“Kamu … bisa temenin aku malam ini?” pinta Rowoon, dalam suara rendah. Suara itu membius, membuat lutut Lisa lemas. Gelas dan obat yang malang, kembali tergeletak di meja. Lisa merentangkan tangan, siap menerima pria itu dalam pelukan.

Rowoon mengambil langkah mendekat, membenamkan tubuhnya dalam pelukan Lisa. Tanpa pikir panjang, Lisa melingkarkan lengannya pada leher Rowoon, menarik tubuh yang hangat itu lebih dekat. Nafas pria itu menggelitik leher Lisa, menarik udara dalam desahan yang teratur. Ada sisa aroma matahari di rambutnya, asamnya keringat di leher, serta wangi parfum tipis yang mengendap di kerah.

Tangan Rowoon yang membelai punggungnya membuat akal Lisa goyah. Ia begitu menginginkan Rowoon, dan tak ada seorang pun yang dapat menghentikannya.

Chapter 38: the night visit

Summary:

Lagi-lagi, Rowoon tak ada di sisinya. Setidaknya masih ada Mingyu yang menemaninya menjenguk sang nenek.

Chapter Text

Rowoon: Jennie, maaf Jumat ini aku nggak bisa pulang.

Rowoon: masih ada kerjaan yang harus aku selesaikan.

 

Ketika Jennie membaca pesan dari Rowoon pertama kalinya di pagi itu, rasanya dunia runtuh di bawah kakinya. Ia kehilangan pegangan, dan sekali lagi harus menelan pil pahit. Saat menghubungi nomornya, sang kekasih tak menjawab panggilan Jennie.

Di jam makan siang, Jennie membaca pesan terakhir itu lagi dan menyadari Rowoon tak memanggilnya ‘Sayang’. Nomor itu masih tak dapat dihubungi.

Menjelang menit terakhir jam kerjanya, Jennie membaca pesan itu untuk ketiga kalinya. Pada akhirnya, Jennie menyadari ia telah membuat kesalahan. Hal itu ia menjadi perhatiannya ketika mendapati Kim Mingyu sedang menunggu di tepi jalan. Pria itu bersandar pada motor hitam yang pernah Jennie tumpangi sebelumnya.

Kim Mingyu mendongak dari layar ponselnya, ketika mendengar langkah Jennie mendekatinya. “Hai,” sapanya, menyelipkan ponsel ke dalam kantung celana.

“Hai,” balas Jennie pelan.

Lemahnya tanggapan dari sosok di hadapannya, membuat Mingyu heran. Air muka Jennie seperti dasar kolam yang mengendapkan lumut, begitu keruh. Ia pun tak berhenti memainkan ujung-ujung jarinya, sambil memeluk tas serut helm yang tak lupa dibawa.

“Jen? Kamu nggak papa?” tanya Mingyu, tampak khawatir.

“Ng, nggak papa.”

Jennie tak mengatakan apapun lagi. Ia menarik helm keluar dari kantung pembungkusnya, mengenakan pelindung itu sementara Mingyu menstarter motor. Ia duduk di jok belakang, menjaga lengannya tetap longgar saat melingkari pinggang Mingyu. Setelah mentransisi gigi, motor itu bergabung bersama kendaraan lain yang memenuhi jalan raya kota Seoul.

Perjalanan menuju rumah sakit dengan Mingyu malam itu terasa panjang, apalagi ketika Jennie belum dapat mengalihkan pikiran dari pesan-pesan Rowoon yang tak ia balas. Jennie bahkan tak memiliki tenaga untuk marah pada Rowoon malam itu. Ia lelah bertengkar dan hanya dapat berharap pada waktu bersikap lebih lembut padanya. Keinginan terakhirnya mungkin tercapai hari ini, karena gelapnya hari membuat Jennie urung memikirkan Rowoon dan hilangnya kesempatan bagi mereka untuk bersama.

Memang benar ada rasa kecewa dalam dirinya karena Rowoon tak dapat memenuhi janji. Namun, ada rasa lain yang timbul, yang bertentangan, dengan rasa kesal  yang menghimpit dadanya. Jennie menutup mata, menekan rasa yang belum dapat ia definisikan tentang keberadaan Mingyu di sisinya malam ini.

 

Motor Mingyu lanjut meluncur menuju halaman parkir Rumah Sakit Anam yang berada di lantai basement. Mesin kendaraan itu berhenti pada spot terbuka dan aman untuk memarkirnya. Jennie turun dari motor, menyimpan kembali helmnya dalam tas khusus.

“Mingyu,” panggil Jennie, sesaat setelah mesin motor mati. “Ada yang perlu aku omongin sebelum kita ke dalam.”

Mingyu mengangguk, masih duduk di motor sambil membuka pengait helmnya.

“Bilang aja,” balas pria itu.

Jennie menarik nafas. 

“Waktu di kamar nenekku nanti, aku minta tolong kamu perkenalkan diri sebagai temanku.”

Mingyu tampak bingung. 

“Kita kan memang teman,” ucap Mingyu dalam nada tanya.

“Iya, aku tahu. Maksudku … tolong jangan ungkit perihal kamu adik dari Jiho. Jangan menyebut nama Jiho atau ibuku satu kalipun,” pinta Jennie.

“Kenapa?” tanya pria itu.

Meski awalnya tampak enggan, Jennie tak punya alasan menutupi alasan sebenarnya. Setidaknya, untuk saat ini, ia tak akan menceritakan seluruhnya. Sudah cukup baginya merepotkan Mingyu malam ini. Ia tak ingin membebani pria itu lebih jauh.

“Hubungan ibuku dan Nenek tidak begitu baik. Nenek percaya ibuku membawa kesialan sejak bertemu dengan ayahku,” ungkap Jennie. Jarinya memainkan tali serut tas pelindung helm.

Mingyu terdiam sejenak, mencoba mengartikan wajah Jennie yang tampak cemas. Meski bingung, Mingyu tak mempertanyakan lebih jauh. Memiliki hubungan keluarga yang rumit bukanlah makanan asing bagi Kim Mingyu. Ia tahu rasanya memiliki keluarga yang saling berseteru. Ia hanya dapat berdiri di titik tengah, mencoba menjadi pihak yang melahap semuanya. 

“Oke,” jawabnya. “Mulai malam ini, aku teman SMA-mu, ya.”

Jennie tertawa kecil, mengangkat tangannya untuk memberikan tanda ‘OK’ pada Mingyu. Bersama-sama, mereka masuk ke dalam gedung melalui pintu yang dapat mereka akses melalui lantai yang sama. 

Masih ada sisa waktu satu jam sebelum jam besuk berakhir, ungkap Jennie. Keduanya mempercepat langkah, menaiki lift yang membawa mereka ke lantai tiga. Ketika pintu membuka, Jennie memimpin jalan mereka melintasi area resepsionis. Seorang perawat menyapa keduanya saat berpapasan di lorong. Jennie berhenti pada pintu dengan angka 12 tertempel di sisi dinding. 

Ia menggeser daunnya dan mendapati sosok Dokter Baek sedang berada di dalam ruangan. Sang praktisi menyadari kehadiran Jennie dan juga pria yang mengikutinya.

“Nah, cucu kesayangan sudah datang, Bu,” goda Dokter Baek. Ia lanjut menuliskan sesuatu pada papan di tangannya, sebelum berpamitan pada Bu Suji yang berbaring di ranjang. 

Sambil berjalan menuju pintu, Dokter Baek menyapa Jennie. “Selamat malam, Jennie.”

“Malam, Dok,” balas Jennie. Mingyu yang berdiri di sisinya mengangguk. “Bagaimana kondisi nenek saya?”

“Sudah jauh membaik. Masih agak pucat, tapi beliau lebih bersemangat daripada kemarin. Beliau juga makan lebih banyak. Kalau kondisinya terus mengalami peningkatan, menurut saya Bu Suji bisa melanjutkan dengan rawat jalan,” ungkap Dokter Baek, mengecek catatan pada papan yang dibawanya. “Tapi, tetap saja kami harus terus memantau beberapa hari ke depan. Terus semangatin nenekmu, ya.”

“Baik, Dok. Terima kasih,” ucap Jennie. Dokter Baek menepuk bahunya, mengangguk pada Mingyu, sebelum meninggalkan ruangan.

Jennie memberikan kode pada Mingyu untuk mendekat ke arah ranjang rumah sakit. Di balik tirai, Bu Suji sedang berbaring dengan jarum infus menancap di tangannya yang berkerut. Ia tampak lebih kurus dibandingkan beberapa bulan lalu saat Jennie mengunjunginya bersama Rowoon. Kulitnya begitu pucat di bawah lampu fluoresens, membuatnya tampak seperti hantu yang rapuh. Rambutnya yang putih terurai hingga ke bahu. Namun, ketika melihat Jennie muncul di ujung tempat tidur, Bu Suji tak dapat menyembunyikan kebahagiaannya. Tulang pipinya semakin menonjol ketika tersenyum.

“Hai, Nek,” sapa Jennie lembut. Ia mendekat ke sisi ranjang, mencium kening sang nenek. “Maaf, ya, aku baru bisa jenguk sekarang. Susah izin dari restoran.”

“Nggak papa, Nak. Kamu pasti capek langsung mampir ke sini,” ucap Bu Suji dengan suara parau. Ia meraih tangan Jennie dan menggenggamnya erat. Pandangannya beralih pada sosok pria tinggi besar yang berdiri di ujung ranjang. “Itu siapa, Jen? Rowoon?”

“Bukan, Nek,” ucap Jennie, tertawa kering. “Itu … Kim Mingyu. Dia yang nganterin aku ke sini dari tempat kerja.”

Mingyu berjalan mendekat, berdiri di bawah sinar lampu agar ia dapat terlihat lebih jelas. Mingyu mengulurkan tangan, menggenggam tangan Bu Suji lembut.

“Selamat malam, Bu. Saya teman SMA Jennie. Dia minta tolong saya anterin malam ini,” ucap Mingyu, bermain peran seperti yang Jennie minta. Jennie merapatkan bibir, menahan diri agar topeng tenangnya tidak terlepas. 

“Terima kasih, ya, sudah bersedia nganterin cucu saya. Anak ini emang kadang terlalu mandiri dan suka lupa kalau dia perempuan,” balas Bu Suji. “Saya senang kalau ada yang bisa nganterin dia malam-malam begini.”

“Nenek …” Jennie bergumam, memutar mata.

“Loh, benar, kan? Perempuan muda seperti kamu jadi sasaran empuk untuk kriminal di luar sana. Untung ada temanmu!” gerutu Bu Suji. 

“Masih sakit juga tetap ngomel,” Jennie mengerutkan bibir. “Gimana rasanya hari ini? Kata Dokter Baek, kalau kondisi Nenek terus membaik, bisa segera pulang.”

“Ah, dokter itu terlalu berhati-hati. Nenek baik-baik aja, kok. Kalau bisa pulang malam ini juga Nenek minta pulang.”

“Mau Nenek bilang udah baik-baik aja, tetap yang punya wewenang di sini Dokter Baek. Lagian buat apa buru-buru pulang, di rumah juga nggak ada siapa-siapa, cuma ada Haru,” Jennie beralasan.

“Rumah sakit memang nggak bikin betah, ya,” Mingyu turut serta menyahut dalam pembicaraan mereka. “Waktu SMA, saya pernah merengek minta pulang waktu patah jempol kaki.”

“Patah jempol kaki?” tanya Jennie, terkejut dengan cerita itu. Namun, Bu Suji tampak tertarik mendengarnya.

“Iya. Waktu itu saya menjadi anggota tim sepak bola sekolah. Di tengah pertandingan final, kaki saya tertendang oleh lawan. Awalnya saya pikir nggak papa, tapi kok semakin lama kaki saya sakit. Saya sampai nggak bisa berdiri. Waktu dicek ke rumah sakit, jempol kaki saya udah bengkak parah,” cerita Mingyu dengan penuh semangat. Matanya berputar, mengingat kembali kisah masa kecil yang jarang ia ceritakan pada banyak orang. “Ternyata, ruas jari kaki saya ada yang patah. Malu juga sih nginep di rumah sakit gara-gara patah jempol.”

Bu Suji tertawa kecil, menggelengkan kepala. Jennie tertegun. Ia jarang melihat sang nenek tertawa begitu lepas karena ucapan seseorang. Bu Suji hanya menunjukkan sisi lembutnya pada Jennie, sementara tampil sebagai sosok yang tegas di hadapan orang lain, bagaikan burung merak yang mengembangkan sayap.

Di akhir cerita, nada bicara Mingyu melembut. Ia berkata, “Tapi, terkadang orang rumah sakit harus cerewet karena ada maksudnya. Para dokter juga pihak yang paling tahu kondisi kesehatan kita. Belum lagi bagian tubuh yang tak terlihat oleh mata. 

Mungkin dari luar kita terlihat baik-baik saja, tapi siapa tahu di dalamnya masih belum cukup baik.  Seandainya saya ngotot untuk istirahat di rumah saja, mungkin kaki saya bisa cacat permanen. Jempol kaki patah saja mereka mau merawat, apalagi jantung Bu Suji yang jauh lebih berharga. ”

Jennie–dan Bu Suji–tertegun. Ia tak pernah melihat Mingyu bicara begitu halus sebelumnya. Di hadapan neneknya yang belum pernah ia temui sebelumnya, Mingyu membuka diri tentang masa lalu yang Jennie pun tak tahu.

“Benar kata Mingyu, Nek,” sambung Jennie, buru-buru mengisi keheningan. “Jadi, sabar sebentar lagi, ya. Kalau Dokter Baek sudah bilang oke, baru aku temenin Nenek pulang.”

Bu Suji hanya mengangkat bahu, lalu berbincang tentang topik lain dengan cucunya. Misalnya, seperti keinginannya untuk makan torta buatan cucunya–yang belum tentu Jennie dapat penuhi. Ia harus menanyakan perihal makanan pada Dokter Baek terlebih dahulu.

 

Waktu berlalu cepat ketika Jennie bersama neneknya. Tanpa terasa, jam kunjungan malam telah berakhir. Seorang perawat menengok ke dalam kamar, mengingatkan Jennie dan Mingyu untuk segera pulang. Di saat yang bersamaan, Bu Suji pun menguap lemah.

“Aku pulang dulu, ya, Nek. Besok siang aku datang lagi,” ucap Jennie. Ia membelai kepala neneknya lembut dan mengecup pipinya. Mingyu yang berdiri di sisinya membungkuk pelan sebagai tanda hormat.

Bu Suji melambaikan tangan ke arah Jennie dan Mingyu, yang segera meninggalkan ruangan setelah perawat memberikan peringatan terakhir. Keduanya menyusuri lorong rumah sakit yang telah sepi. Tak ada lagi wajah-wajah para penjenguk, hanya para petugas berseragam yang bersiap untuk berjaga malam.

“Mingyu,” panggil Jennie, dalam perjalanan mereka ke area lift. “Terima kasih udah ceritain soal patah kakimu ke Nenek. Aku tahu kamu cuma bercanda–”

Mingyu menekan tombol lift dan melemparkan pandangan heran pada Jennie. Alisnya terangkat. 

“Bercanda? Siapa yang bercanda?” tanya Mingyu balik.

Jennie menganga, mencoba mengartikan ekspresi wajah itu. Ia tak dapat menebak apakah Kim Mingyu sedang serius atau tidak. Ia berkata, “Kamu … serius masuk rumah sakit karena patah jempol kaki?”

“Emangnya mustahil patah jempol kaki? Kamu mau liat kakiku? Jempol kakiku agak miring karena telah dirawat–”

“Nggak! Aku nggak perlu lihat!” potong Jennie.

Chapter 39: the kim visits the sick.

Summary:

Rowoon dan Hong Suhee, ibunya, datang menengok Bu Suji yang masih dirawat di rumah sakit. pembicaraan tentang pernikahan pun tak terelakkan.

Chapter Text

Sejujurnya, Hong Suhee lebih memilih untuk menghabiskan akhir pekan bersama teman-teman sosialitanya di lapangan golf. Bila ia memenangkan permainan, bisa jadi peluangnya untuk mendapatkan rangkaian permata yang temannya janjikan bukan sekedar omongan belaka. 

Namun, di pagi buta, Rowoon telah muncul di ruang tengah rumah Keluarga Kim, memohon pada ibunya untuk pergi ke rumah sakit dengannya hari ini.

Tak bisa hari lain, paksa Rowoon pagi itu. Bisa jadi, waktu Bu Suji tidak banyak.

“Ma, aku mohon untuk hari ini Mama menahan diri,” Rowoon memperingatkan, ketika mereka berdiri di area tunggu lift. Ketika pintunya membuka, Rowoon melangkah masuk. Hong Suhee mengikutinya. 

Setelah pintu lift menutup, pria itu menekan tombol angka tiga di panel dinding. Kotak besi itu bergerak perlahan, sementara Hong Suhee berdiri di samping putranya dalam diam. Ia merapikan kerah kemeja sutranya, serta memindahkan tas tangan ke lengan satunya. 

Hong Suhee memutar mata. Ia tak percaya putranya menguliahinya tentang tata krama dalam lift yang bergerak, membawa mereka ke lantai tempat nenek Jennie sedang mendapatkan perawatan. Hong Suhee heran, mengapa ia harus peduli pada umur seorang wanita tua. 

Bisa-bisanya ia mempengaruhi otak putranya untuk melangsungkan pernikahan sederhana. Tak hanya ide itu tampak penting bagi Rowoon, putra semata wayangnya sampai rela membeli hantaran mewah berisi buah-buahan, dalam perjalanan mereka menuju rumah sakit. Ketika Hong Suhee sakit saja, Rowoon enggan mampir ke rumah untuk menengok.

Belum lagi Hong Suhee muak karena harus bertemu Jennie. Selama hampir sepuluh tahun terakhir, ia hanya diam menyaksikan putranya setia pada satu wanita.

“Mama nggak ngerti sama kamu,” Hong Suhee membuka pembicaraan. “Kenapa kamu begitu ngotot mau menikah dengan Jennie? Banyak perempuan lebih hebat dan pantas buat kamu di luar sana. Contohnya Lis–”

“Karena aku cinta Jennie, Ma,” potong Rowoon cepat. “Nggak ada alasan lain.”

Hong Suhee melirik putranya yang membopong bingkisan buah-buahan, lalu menghela nafas. 

“Menurut Mama, kamu membuat kesalahan besar jika menikah dengan dia. Keras kepala, terlalu independen, dan …” Suara wanita itu tertahan sejenak, sebelum ia melanjutkan. “Dia nggak punya ayah.”

“Kalau Mama memang nggak mau ikut aku jenguk neneknya Jennie, Mama bisa pulang sendiri,” balas Rowoon. Ia melemparkan pandangan dingin nan tajam pada ibunya. “Tapi ingat, mungkin ini terakhir kalinya kita ketemu.”

“K, kok kamu ngomong gitu, Nak?!” Hong Suhee panik. Kata-kata putranya barusan terdengar seperti sebuah ancaman.

Pintu lift membuka. Mereka telah sampai di lantai tiga. Kaki Rowoon yang panjang membawa langkahnya jauh meninggalkan sang ibu, yang terpaksa berlari-lari kecil untuk mengimbangi kecepatan putranya.

“Rowoon! Tungguin Mama!” panggil Hong Suhee, tapi Rowoon tak mengacuhkannya. Ia terus berjalan menyusuri lorong, mencari-cari pintu dengan nomor 12 di sampingnya. Di sisi lorong, Rowoon menangkap sosok perempuan yang sedang bersandar pada dinding. Ia menunduk, matanya tertuju pada layar ponsel di tangan. Jennie tampak kalem dalam balutan sweter cokelat dan rok tartan di bawah lutut. Rambutnya yang panjang dan hitam diikat rapi.

“Jennie,” panggil Rowoon lembut. 

Jennie mendongak, bertemu mata dengan kekasihnya. Namun, wajahnya tak menawarkan semringah yang biasanya. Ia terlihat lebih pucat dan kuyu, sepeti lembaran kertas yang berayun dalam hembusan angin.

“Hai,” sapa Jennie, menyelipkan ponsel ke dalam saku. Ia berjinjit, memberikan kecupan ringan di pipi Rowoon ketika pria itu mendekat. “Kamu kapan balik dari luar kota?”

“Tadi subuh,” jawab Rowoon singkat. “Maaf, ya, baru ngabarin.”

Jennie menggeleng, melemparkan senyum singkat. Ia melirik ke balik punggung Rowoon dan mendapati Hong Suhee menatapnya dengan pandangan tajam, seperti biasa. Tanpa pikir panjang, Jennie mengangguk lemah, sebatas bentuk penghargaan terhadap wanita angkuh itu.

“Ayo, masuk. Nenek baru selesai makan,” ucap Jennie, sambil menarik lengan Rowoon untuk mengikutinya masuk ke dalam.

Ketika pintu bergeser, sinar matahari dari jendela membuat mata Rowoon silau. Dedaunan yang memadukan warna merah dan kuning melongok dari baik kaca, memperlihatkan sisa nafas musim gugur yang sendu. Sebagian besar daun dari pohon-pohon lain telah meranggas, menyisakan ranting berwarna cokelat tua yang menghujam langit.

Di dekat jendela, terdapat ranjang Bu Suji. beliau duduk di tempat tidur, tampak rapi dengan rambut tergelung meski masih mengenakan baju pasien. Selimut tebal menutupi hingga dadanya. Bu Suji melemparkan senyum dari wajahnya yang keriput ketika melihat wajah Rowoon.

“Rowoon, kan?” sapa Bu Suji.

“Iya, Nek. Ini saya bawakan buah-buahan,” balas Rowoon, menunjukkan buah tangan yang dibawanya. Bu Suji tampak riang melihat bingkisan mewah itu. 

Rowoon meletakkannya di meja samping tempat tidur, ketika Bu Suji berkata, “Padahal kamu udah repot datang kemarin, hari ini datang lagi.”

Rowoon tertegun, tampak bingung.

“Nek, yang datang kemarin bukan Rowoon,” Jennie mengoreksi, lalu berpaling pada Rowoon. “Maaf, kemarin ada temanku yang menengok. Dia salah mengira itu kamu.”

“Oh.” Rowoon bergumam pelan. 

“Silakan duduk di sini, Tante,” Jennie menawarkan dua buah kursi kepada Rowoon dan Hong Suhee. Sementara itu, ia lebih memilih untuk berdiri di dekat jendela, menarik gordon untuk menangkis sinar matahari yang menusuk mata. Rowoon mengenalkan ibunya kepada Bu Suji, yang menerima kehadiran wanita itu dalam ramah-tamah singkat.

“Bagaimana kondisinya, Nek? Sudah merasa baikan?” tanya Rowoon lembut, duduk tegap di kursi.

“Sudah jauh lebih baik,” jawab Bu Suji. “Dokter Baek bilang bila beberapa hari ke depan saya lebih kuat, bisa pulang ke rumah.”

“Syukurlah. Beristirahat di rumah pasti lebih nyaman daripada di rumah sakit.”

“Betul. Saya udah nggak sabar ingin minum teh,” Bu Suji merengut.

“Nek, tapi nggak boleh banyak-banyak, ya,” Jennie mengingatkan sambil bersedekap. “Kata Dokter Baek kan gitu.”

“Iya, iya. Tapi secangkir aja boleh kan, pas Nenek sampai rumah?” debat Bu Suji. Jennie menggelengkan kepala tak percaya. Ia tak sanggup melawan neneknya yang keras kepala.

“Kalau Nenek suka teh, nanti saya bawakan dari Hadong kalau sempat mampir ke sana. Kalau lebih sehat lagi, kita jalan-jalan ke sana juga,” Rowoon berseru riang. 

“Rowoon, jangan janjiin Nenek aneh-aneh, deh,” Jennie mengingatkan. Rowoon tertawa kecil.

“Nggak papa, asal Nenek senang.”

Rowoon mengamati wajah Bu Suji yang sebelumnya riang, perlahan memudarkan senyuman dari bibirnya. Ia menatap pria itu lurus, seakan mengirimkan sinyal bahwa kata-kata yang ia ucapkan sebelumnya hanyalah pengisi ruang saja.

“Kalau mau bikin saya senang, kamu tentu tahu apa yang saya inginkan, Rowoon,” Bu Suji berkata tegas. Di samping putranya, Hong Suhee tampak bingung. Dari sudut mata, ia dapat melihat raut wajah Rowoon yang menegang. “Bagaimana? Kamu jadi menikahi Jennie akhir tahun ini?”

“Maksud kedatangan saya hari ini juga untuk membicarakan hal tersebut, Nek,” balas Rowoon dengan fasih.

Bu Suji membuang nafas, bahunya turun. Ia tampak santai, bersandar pada sisi tempat tidur yang sengaja ditegakkan untuk menopang tubuhnya. Ia berkata, “Saya tahu waktu saya tidak banyak, Rowoon. Karena itu, saya harap kamu memutuskan dengan bijak.”

“Nenek!” seru Jennie, membuat seisi ruangan kaget. “Kok, Nenek ngomong gitu? Nenek baik-baik aja, kok!”

“Nak,” panggil Bu Suji lembut. Ia mengulurkan tangan, meminta Jennie mendekat. Cucunya menurut. “Lihat Nenek. Sudah tua, keriput, dan tak lagi kuat jalan lama-lama. Bukan berarti Nenek akan mati besok. Tapi, suatu saat, Nenek akan meninggalkanmu.”

Jennie menunduk, menyembunyikan air mata yang berkumpul di pelupuk mata. Tangannya menggenggam erat tangan Bu Suji, sementara tangan yang lain menyeka air mata yang tumpah.

“Rowoon.”

Suara yang memanggil namanya membuat Rowoon segera berpaling dari pemandangan kekasihnya yang menangis tersedu-sedu.

“Kamu bisa berjanji untuk menikahi Jennie tahun ini?” tanya Bu Suji. 

Lidah Rowoon kelu. Hong Suhee yang sedari tadi menjadi pengamat, memutuskan untuk angkat bicara.

“Begini, Bu. Saya memahami keinginan Anda untuk melihat Jennie segera menikah,” ucapnya, dalam nada bicara yang diplomatis. Sepertinya Keluarga Kim telah terbiasa bernegosiasi untuk urusan formal dan non-formal. “Tapi, Jennie harus mempertimbangkan dari sisi keluarga kami. Kami punya bisnis keluarga besar, yang dikenal oleh kaum konglomerat di Korea Selatan. Koneksi kami pun tidak main-main. Sayangnya, para pesaing kami pun tak ketinggalan berita tentang bisnis dan berita keluarga.

Kalaupun anak-anak kita memutuskan untuk menikah secara sederhana, hal itu … tidak masuk dalam otak saya. Apa kata orang kalau mereka menikah tanpa pesta meriah?”

Bu Suji mendengus. Jemarinya meremas selimut kuat-kuat. Ia berkata ketus, dengan suara gemetar “Kalian orang-orang kaya memang hanya peduli dengan gengsi. Apakah kebahagiaan anak-anak kalian tidak penting?”

“Tentu saja penting, tapi–”

“Kalau begitu, adakan saja pemberkatannya dulu! Sebegitu sulitnya kah memenuhi permintaan orang tua ini?” suara Bu Suji meninggi. Ia menunjuk ke arah Hong Suhee. “Saya mengenali penampilan wanita-wanita kaya seperti Anda. Wanita yang hidup dari uang suami, menghambur-hamburkannya demi tas mahal, mobil, dan pakaian bermerk. Demi apa? Demi gengsi!

Hati kalian telah mati karena sibuk dengan perkakas berharga selangit, melupakan cinta murni yang dibangun oleh anak-anak muda ini. Mereka memulai bersama-sama, bertahan dalam hubungan yang mungkin tak kamu restui. Sebagai seorang ibu, di mana hatimu?! Jika terus mempertahankan gengsi, anak-anakmu akan pergi dan membenci–”

Kata-kata Bu Suji terhenti. Udara seperti terisap keluar dari ruangan, menyisakan kehampaan ketika wanita tua di ranjang itu meremas dadanya.

“Nenek!” jerit Jennie. Bu Suji terkulai lemah di ranjang, perlahan kehilangan kesadaran. “Rowoon! Panggil perawat!”

Rowoon bangkit dari kursi, setengah berlari ke arah pintu. Di telinga Jennie, teriakan kekasihnyaterdengar begitu jauh. Ia tak dapat mengalihkan pandangan dari neneknya yang tiba-tiba meregang nyawa.

Chapter 40: the storm has passed.

Notes:

mohon maaf kalau update chapter ini agak lambat. aku merasa emosional saat menulisnya karena mengingatkanku tentang pengalaman nggak menyenangkan saat di rumah sakit. semoga nuansa di bab ini tersampaikan dengan baik ya.

Chapter Text

Untuk ketiga kalinya, Mingyu datang ke Rumah Sakit Anam. Di kali pertama, ia hanya menurunkan Jennie di tepi jalan. Kali kedua, nenek Jennie salah mengira dirinya sebagai Rowoon–yang bagi Mingyu, jika ia dapat jujur pada dirinya sendiri, agak menyakitkan. Kini, ia berdiri di sisi paling belakang lift yang membawanya, Jisoo, dan Bambam ke lantai tiga.

Ia mengunci mulut dengan rapat, semenjak menerima pesan singkat berupa ajakan dari Bambam untuk menjenguk Bu Suji.  ‘Ajak Seungcheol juga’, balas Bambam kemarin malam.

Sayangnya, Seungcheol tak bisa ikut hari ini. Ia butuh mendapatkan kembali haknya sebagai seorang suami meluangkan waktu dengan sang istri. Seandainya Bambam bisa mendengar betapa girangnya Seungcheol di telepon ketika mengabari istrinya dalam perjalanan sedang dalam pulang, Mingyu menjamin ia akan merasa geli.

Absennya Seungcheol hari itu tak menyurutkan semangat Mingyu untuk berkunjung ke rumah sakit lagi. Apalagi, kedatangan Mingyu terakhir kali berhasil memantik percikan semangat bagi Bu Suji. Walau hanya mampu menawarkan kisah receh masa kecil, setidaknya nenek Jennie dapat melupakan sakitnya untuk sesaat.

“Kamar neneknya Jennie nomor berapa?” tanya Jisoo, ketika pintu lift membuka, membuyarkan lamunan Mingyu.

“Nomor 12, kalau nggak salah,” jawab Bambam, mengecek kembali obrolan dengan Jennie lewat ponsel semalam. “Dari resepsionis, belok kanan.”

Belum juga melangkah keluar dari lift, keriuhan langkah kaki yang memenuhi meja resepsionis menyambut datangan tiga teman Jennie. Dalam sekelebat mata, dua orang perawat berseragam dan seorang dokter berjalan cepat. Wajah mereka tampak tegang saat melintasi depan meja resepsionis. Mingyu mengenali salah satunya, yaitu Dokter Baek yang mengawasi kondisi nenek Jennie.

Wajah sang dokter yang tak sesantai di hari Mingyu pertama kali bertemu dalam kamar inap Bu Suji, membuat dadanya sesak. Badannya bereaksi seketika, seakan seseorang menghantam tulang dadanya.

“Loh, kenapa nih?” tanya Jisoo heran. Pandangannya memindai seluruh sudut ruangan yang dapat tertangkap mata, tapi tak menemukan jawaban.

“Kayaknya ada pasien yang kondisinya gawat,” sambung Bambam, tanpa prasangka.

Mingyu tak membuang waktu. Tubuhnya bereaksi lebih cepat dibandingkan Jisoo dan Bambam, yang luput menyadari Mingyu telah bergerak menjauh. Ia menyusul para petugas yang baru saja melewatinya, hanya tertinggal beberapa langkah.

Nafas Mingyu tercekat ketika melihat pintu kamar nomor 12 terbuka lebar. Pria itu berhenti di ambang pintu, dengan jantung yang tak dapat berhenti berdebar cepat saat pandangannya jatuh ke dalam kamar. Udara di dalamnya terasa begitu menyesakkan, ditemani oleh sinar matahari yang tampak sendu di permukaan lantai.

Suara Dokter Baek terdengar lantang di antara dua orang perawat yang mengerumuni ranjang Bu Suji. Mingyu merinding, saat melihat tangan yang kurus tinggal tulang itu terkulai lemah di sisi tempat tidur. Di seberang ranjang, Mingyu melihat Jennie bersandar pada dinding. Permukaan itu menjadi satu-satunya perlindungan dari tubuhnya yang perlahan merapuh, meskipun seorang pria menopangnya untuk tetap berdiri. Pria itu adalah Rowoon, yang sedang memegangi bahu Jennie. Jari-jari Jennie mencengkeram lapisan kain di lengan Rowoon, mencoba bertahan dari dunia yang terancam runtuh.

Di antara benteng lengan Rowoon, Mingyu menangkap wajah Jennie yang sepucat kertas.  Dahinya mengerut tajam, dengan air mata yang tak berhenti tumpah ke pipi. Ia meraung dalam pelukan Rowoon, tak matanya tertuju pada ranjang yang menjadi medan pertempuran para tenaga medis.

Mendadak kepala Mingyu berhenti berpikir.

Kemunculan Jisoo yang bertabrakan dengan bahunya, membuat Mingyu tersadar. Bambam turut menyusul masuk, mencoba memroses kericuhan yang terjadi. 

“Kenapa, nih?” tanya Bambam pada pria di sampingnya. Mingyu menggeleng.

“Kayaknya … nenek Jennie lagi gawat,” balas Mingyu. Bambam mengatupkan rahang, menahan diri untuk tak mengucapkan hal lain.

 Di sudut lain kamar, Mingyu mendapati seorang wanita paruh baya dengan dandanan menor, berdiri sambil menggigiti ujung kukunya. Ia mengenakan gaun selutut sambil menenteng tas tangan dari merk kelas atas. Kedua tangannya terlipat di atas perut, dengan pandangan gugup yang berpindah antara tempat tidur dan Jennie.

“Jen!” teriak Jisoo, menyapa sosok Jennie di ujung ruangan. Jennie mengangkat kepalanya dari bahu Rowoon, bertemu mata dengan sahabatnya.

“Jisoo …” panggil Jennie lirih. Ia melepaskan diri dari pria di hadapannya, menyambut Jisoo dengan tangan terbuka. Jisoo mempercepat langkah, memeluk Jennie erat. Ia berbisik lirih, “Nenek … Nenekku …”

Jisoo tak perlu berpikir dua kali untuk memeluk sahabatnya. Jennie sesenggukan dalam lengan Jisoo, bahunya gemetar dengan rintihan yang memilukan hati.

Selepas Jennie tak lagi dalam pelukannya, Rowoon berdiri canggung. Ia memilih untuk mengalihkan pandangan pada para petugas medis yang sedang menolong Bu Suji. 

“Nenek … tiba-tiba kehilangan kesadaran–aku nggak tahu harus gimana,” ucap Jennie sengau. Ia menarik nafas di antara kata-kata yang begitu berat untuk diucapkan. “Gimana … kalau dia–”

“Lu nggak boleh putus asa, Jen,” Jisoo berusaha menenangkan. Di tengah keriuhan yang terjadi, suara Jisoo begitu tenang. Ia menyibak rambut Jennie yang menempel pada wajahnya. “Dokter sedang mengusahakan yang terbaik.”

Tak butuh waktu lama bagi harapan Jisoo untuk terwujud. Perlahan, suara detak mesin kembali teratur. Saat para petugas kesehatan melangkah mundur, udara di dalam ruangan seketika terasa ringan. 

Dokter Baek menurunkan masker hingga ke dagu, mendesahkan nafas lega. Ia melemparkan pandangan ke sekeliling ruangan, tampak terkejut dengan bertambahnya jumlah manusia di dalamnya. Namun, Dokter Baek segera berpaling pada Jennie yang masih bersandar pada Jisoo.

“Jen,” panggilnya, dalam suara setenang hembusan angin yang membelai dedaunan di luar kamar. “Kondisi Bu Suji sudah stabil. Bisa ceritakan apa yang terjadi?”

“Kami sedang mengobrol … lalu tiba-tiba Nenek kehilangan kesadaran,” Jennie menjelaskan, sambil menyapu jejak air mata dari wajahnya dengan punggung tangan. Ia melirik ke arah Rowoon, sebelum melanjutkan, “Nenek … sempat emosi saat kami sedang berdiskusi tentang pernikahan.”

Mingyu melemparkan pandangan pada Jennie setelah mendengar kalimat itu. Ada pergulatan yang tak ia kenali terjadi di dalam pencernaannya. Sementara itu, Dokter Baek melepaskan desahan panjang. Suaranya terdengar begitu berat dan menghakimi, meski tanpa kata.

“Kalau begini, saya bisa-bisa harus membatasi jumlah kunjungan untuk Bu Suji,” Dokter Baek mengingatkan. “Meski beberapa hari terakhir kondisinya sudah membaik, bukan berarti ia boleh berhadapan dengan stres. Bagaimanapun juga, beliau sudah berumur. Kalau hal seperti ini terjadi lagi, bisa-bisa semuanya sudah terlambat.”

Ruangan itu hening. Rasanya seperti sekelompok siswa SMP yang sedang ditegur oleh guru karena berbuat gaduh.

“Karena Bu Suji perlu beristirahat, silakan untuk orang-orang yang ada di ruangan ini menunggu di luar saja, ya. Biarkan beliau beristirahat,” Dokter Baek melemparkan saran, sekaligus secara halus mengusir setiap orang keluar dari ruangan. Tanpa pikir panjang, Mingyu dan Bambam segera melangkah keluar, disusul oleh Rowoon dan ibunya. Sementara itu, Jisoo dan Jennie masih tinggal di dalam.

Melalui jendela kecil di pintu, Mingyu mengintip ke dalam. Ia melihat wajah Jisoo dan Jennie tampak serius. Sesekali, mereka mengangguk sambil mendengarkan Dokter Baek bicara. Mata Mingyu terpaku pada sosok Jennie yang masih menjaga diri untuk tetap berdiri tegak. Sesekali, tangannya masih menyapu air mata yang menetes, tapi raut wajahnya lebih tenang daripada sebelumnya.

Setelah selesai bicara, Dokter Baek berbalik dan berjalan menuju pintu. Dua orang perawat yang bekerja sama dengannya turut menyusul di belakang. Mingyu melangkah ke tepi, memberikan ruang bagi sang dokter dan para perawat melangkah keluar dari kamar nomor 12. 

Dokter Baek menyapa setiap orang yang masih menunggu di luar kamar dengan anggukan lemah, sebelum pergi menuju area resepsionis di ujung lorong. Kini, Jisoo menjadi sosok yang muncul di pintu. Rowoon, yang turut menunggu di depan pintu kamar, mencoba menyelonong masuk, tapi Jisoo menghalanginya.

“Stop. Nggak ada yang boleh masuk,” ia memperingatkan. “Kalian udah dengar, kan, apa yang dibilang oleh Dokter Baek tadi? Untuk sekarang, Bu Suji nggak boleh dijenguk.”

“Tapi aku perlu ngecek Jennie–”

“Jennie baik-baik aja,” Jisoo memotong kata-kata Rowoon. Ia menekankan setiap kata, seakan menegaskan bahwa sahabatnya tak membutuhkan siapapun. “Dia lebih kuat dari yang kamu kira.”

Mingyu mengambil celah dari perdebatan antara Jisoo dan Rowoon untuk kembali mengintip melalui kaca di pintu. Matanya tak dapat menafikan sosok Jennie yang berpegangan pada papan peyangga kaki yang berada di ujung ranjang. Ia tampak menunduk, lalu perlahan tubuhnya meringkuk hingga ke lantai. Bahunya tampak berguncang. Mingyu tak dapat menangkap ekspresi yang tersembunyi oleh helaian rambut yang jatuh menutupi sisi wajah Jennie. Namun, ia yakin Jennie tak seharusnya seorang diri di dalam sana.

Sebelum Mingyu dapat berbuat sesuatu, Jisoo telah membentangkan lengan di depan dadanya. Mereka saling pandang, hingga Mingyu menatap keseriusan di mata  Jisoo yang tak pernah ia lihat sebelumnya.

“Kamu juga, Mingyu,” ucap Jisoo. “Kamu juga nggak boleh masuk.”

Chapter 41: better late than never.

Notes:

ampun beberapa bab terbaru belakangan ini menyita energi banget karena bikin aku emosional. badainya udah mereda gaes, sebelum badai lebih besar datang (!!!)

Chapter Text

Mingyu tersentak bangun dari rasa kantuk yang menghujam tubuhnya, sembari duduk di bangku panjang area resepsi rumah sakit. Matahari telah meninggi. Cahaya musim gugur yang lembut menembus permukaan jendela, membuatnya menyipitkan mata. Kehangatannya menerpa wajah Mingyu, membuat tubuhnya rileks. Ia mengedipkan matanya kuat-kuat, melawan keinginan untuk kembali tidur. Di sampingnya, Bambam masih terlelap. Kepalanya mengangguk-angguk, sesekali terbangun untuk menegakkan tubuhnya yang merosot di kursi.

Mingyu menguap, menatap keluar jendela. Dedaunan yang berwarna-warni telah berguguran, menyisakan ranting kering yang tampak kesepian. Musim dingin akan segera datang, pikir Mingyu. Musim yang tak ia sukai, karena membuat dunia terasa melankolis.

Pria itu memaksa diri untuk bangkit dari duduk, memutar tubuh atasnya ke kiri dan kanan. Otot pinggangnya meregang, membuat badannya sedikit lebih hidup. Mingyu melepaskan desahan panjang saat matanya menangkap sosok Rowoon yang tampak serius berdiskusi dengan wanita paruh baya di hadapannya.

Wanita itu mengenakan gaun berwarna lavender yang mencolok, seperti bunga musim semi yang tumbuh di musim yang salah. Ia sesekali mendorong kacamata tanduknya yang merosot ke ujung hidung. Wajah keduanya tampak tegang, sesekali saling menggertakkan gigi saat salah satu sedang melemparkan argumentasi. Mingyu tak ingin menguping, tapi sulit untuk tak mengacuhkan situasi yang tersaji jelas di depan mata.

Daripada memasang telinga diam-diam dalam drama ibu dan anak, Mingyu memutuskan untuk berjalan ke arah mesin otomatis. Ia memindai setiap produk yang terpampang di layar, memilih sekaleng kopi hangat untuk menemani kesendiriannya. Mingyu memasukkan sejumlah uang, menekan tombol minuman pilihannya, lalu merunduk untuk mengambil kaleng yang keluar di kotak bagian bawah.

Perpaduan rasa manis dan hitam dari kopi hitam hangat menyelimuti rongga mulutnya, berhasil membuat Mingyu terjaga. Setiap tegukan membawanya dalam kesadaran, serta sosok Jennie yang ia saksikan di dalam kamar inap nomor 12.

Sebagian dari diri Mingyu ingin berlari masuk ke dalam ruangan itu dan mendekap Jennie erat. Namun, sebagian lain mengingatkannya bahwa ia tak memiliki hak untuk ikut campur. Mereka hanya sebatas keluarga–meski tak sedarah, tapi terikat oleh hubungan platonik yang tak patut dipertanyakan. Bila kepedulian sebagai keluarga terdengar seperti sebuah tuntutan, setidaknya Mingyu dapat berdiri sebagai teman.

‘Teman’.

Rasanya kata itu justru terdengar lebih buruk.

Mingyu tahu, seorang teman tak boleh menginginkan lebih. Seorang teman tak boleh terdorong oleh nafsu birahi. Namun, di antara keinginan untuk memeluk Jennie sebagai seorang perempuan, ada batasan yang tak bisa ia lewati. Bertahun-tahun lalu, Mingyu sudah pernah terjebak dalam situasi yang sama. Mencintai sahabat sendiri, memendam rasa, tak meminta lebih, hingga ia tak dapat lagi merengkuhnya. 

Bagi Mingyu, hal ini tidaklah menyenangkan. Bukan hanya bagi nurani, tapi bagi lambungnya yang sesekali perih–bisa jadi karena kopi hitam yang ia tenggak dalam perut kosong. 

Mingyu tak punya pilihan lain.

Pria itu kembali ke area resepsi sambil membawa sekaleng kopi yang telah kosong separuh. Di antara barisan kursi panjang tempat para pengunjung menunggu, Mingyu melihat Jisoo sedang berbincang dengan Bambam. Setelah menemani Jennie untuk beberapa waktu di dalam kamar, akhirnya Jisoo memutuskan untuk pergi. 

Mingyu mempercepat langkah, melemparkan senyum pada Jisoo saat mata mereka bertatapan. Bambam masih duduk di kursi, sambil memijat lehernya yang kaku.

“Kayaknya kita mending pulang aja,” ajak Jisoo pada dua temannya. Ia menyunggingkan senyum, turut menyesal karena menjadi bagian dari insiden yang sempat terjadi. Setidaknya, Jisoo mendapat kesempatan untuk menenangkan Jennie. “Kalian tadi udah denger sendiri Dokter Baek nggak ngijinin siapapun menjenguk Bu Suji. Daripada kita luntang-lantung di sini, mending kita biarin Jennie istirahat sendirian dulu. Tadi Jennie juga udah telepon Haru, minta dia datang untuk nemenin.”

“Haru siapa?” tanya Mingyu.

“Asisten rumah tangga neneknya Jennie,” jawab Jisoo. “Biasanya dia yang gantian jaga dengan Jennie di rumah sakit.”

Mingyu mengangguk pelan. Jisoo bermaksud untuk menjelaskan lebih lanjut, tapi Rowoon mendekat dan ikut bergabung dalam lingkaran diskusi mereka.

“Gimana Jennie?” tanya Rowoon gugup.

“Dia kecapekan dan lagi istirahat,” jawab Jisoo, “--dan dia minta untuk nggak diganggu.”

Rowoon mengatupkan bibirnya rapat, tampak terpukul. Hari itu adalah kali kedua Mingyu bertemu Rowoon secara langsung, tapi ini pertama kalinya ia melihat pria itu melepaskan topeng korporat. Yang tersisa adalah seorang pria dewasa yang gusar, dikalahkan oleh keadaan.

“Seandainya lu nikahin Jennie dari dulu, mungkin ini nggak akan terjadi.”

Setiap orang dalam lingkaran itu melemparkan pandangan pada Bambam. Alisnya menekuk tajam, tangannya bersedekap erat di depan dada, dengan tatapan yang siap menerkam Rowoon kapan saja.

“Bam, ini bukan waktunya buat saling menyalahkan,” Jisoo mengingatkan dengan nada tenang, tapi wajahnya tampak panik. Apalagi, sumbu Rowoon tampaknya tersulut.

“Lu tau apa?” Rowoon menggeram, menunjuk hidung Bambam. Dagunya terangkat tinggi. “Situasi kami rumit. Nggak ada satupun di antara kita yang bakal nyangka kalau Bu Suji bakal memburuk kayak gini.”

“Rumit?” Bambam mendengus. Nada bicaranya meninggi. Mingyu yang terjebak di antara dua pria itu merasakan api peperangan yang semakin membesar. “Dia nunggu lu sepuluh tahun, Rowoon! Sepuluh tahun untuk pria yang nggak punya keberanian menikahi dia!”

“Lu kira selama ini gue nggak berjuang buat Jennie?! Gue juga kerja keras supaya kehidupan kami berdua nanti nggak bikin dia susah!”

“Tapi Jennie nggak butuh semua itu! Lu tau itu!”

“Bambam! Rowoon! Udah–”

Lengkingan Jisoo teredam ketika dua pria di hadapannya mencoba saling menarik kerah. Tubuh perempuan itu hampir terjepit di antara dua pria bertubuh besar yang mencoba saling menghantam. Mingyu tak dapat berdiam diri. Ia melemparkan diri di antara kedua pria itu, menjadi tameng dari perkelahian yang tak seharusnya terjadi.

“Jennie mati-matian jadi orang yang pantas buat lu selama sepuluh tahun ini! Dia mencoba jadi yang lu inginkan, tapi nggak pernah jadi orang paling penting di hidup lu!” teriak Bambam. Siku Mingyu menekan dadanya, mendorongnya mundur. “Lu hampir bunuh neneknya, tahu nggak?!”

“Bambam! Lu nggak boleh ngomong gitu!” Mingyu terkejut mendengar kata-kata itu, tanpa sadar ikut berteriak. Bambam menampik lengan Mingyu yang menahan tubuhnya dari peluangnya untuk menerjang Rowoon. “Kalian berdua bisa tenang dulu, nggak, sih? Ini rumah sakit!”

Para pengunjung di sekitar mereka memasang mata, terheran-heran dengan perkelahian yang tiba-tiba terjadi. Seorang perawat rumah sakit bertubuh besar melihat kejadian itu. Ia berlari tergopoh-gopoh, mencoba melerai kedua pria itu. Bersama-sama, Mingyu dan Jisoo menarik Bambam menjauh. Sang perawat menghadang Rowoon agar tak nekat menghantam sahabat Jennie.

Sementara itu, Hong Suhee yang menyaksikan amarah putranya, hanya dapat berdiam diri di sisi lain ruangan. Ia membatu, seakan tak menyangka putranya dapat menunjukkan emosi seganas itu.

“Udah cukup, Bam,” ucap Mingyu, menyudutkan Bambam ke dinding. Keduanya tersengal, setelah bergulat karena Bambam yang terus ingin melayangkan tinju ke arah Rowoon. “Rumah sakit bukan tempatnya buat adu preman kayak gini. Lu tenangin diri dulu, oke?”

Bambam menutup wajahnya dengan kedua tangan. Nafasnya naik turun dengan cepat. Jisoo merangkulnya, dengan air mata yang telah berkumpul di sudut mata.

“Sori,” ucap Bambam gemetar. “Gue cuma nggak sanggup ngeliat Jennie kayak gitu. Rowoon udah terlalu sering bikin dia kecewa.”

*

Malam itu, Jennie menguap lebar saat sedang duduk di sofa. Ia menyelipkan pembatas kertas di antara halaman buku yang dibacanya, sambil memijat pangkal batang hidungnya. Ia berharap sedikit sentuhan di titik itu dapat menyegarkan mata yang lelah karena menatap barisan kata terlalu lama. 

Kamar inap tempat Bu Suji beristirahat rasanya lebih sunyi dari biasanya. Lampu-lampunya telah padam, yang tersisa hanyalah suara mesin pendeteksi detak jantung yang mengeluarkan suara ‘bip’ teratur. Dari tempatnya duduk, Jennie dapat melihat tubuh neneknya masih bergerak naik turun, seirama dengan detak mesin. Jennie bangkit dan mendekati tempat tidur, mengamati wajah Bu Suji yang masih pucat, terlelap begitu dalam. Ia membelai kepala neneknya lembut, seraya membisikkan harapan untuk kesembuhannya.

Ada getaran dari saku celana Jennie. Ia mengambil ponsel yang tersimpan di sana, terus bergetar dalam senyap agar setiap suara notifikasi tak membangunkan sang nenek. Nama Rowoon muncul di layar. Jennie menarik nafas dalam-dalam.

“Halo,” sapa Jennie pelan. Ia menepi ke sudut ruangan, menjauh dari sang nenek agar tak menjadi sumber kebisingan. Langit di luar jendela telah hitam pekat, bersama titik-titik lampu taman rumah sakit yang menyoroti kursi-kursi taman tak berpenghuni. Bias sinarnya membuat kamar inap nomor 12 diliputi oleh cahaya remang-remang.

“Hei. Gimana kamu malam ini?” tanya Rowoon. Suaranya terdengar lebih lembut daripada biasanya. “Belum tidur?”

“Belum ngantuk, tapi capek,” jawab Jennie singkat. Dari kejauhan, Jennie menangkap titik-titik kecil yang mengitari lampu taman. Sepertinya rombongan serangga yang terbang gesit di sekitar sumber cahaya. Jennie merasa dirinya seperti para serangga itu, mencoba bertahan pada satu-satunya sinar–yang kini pancarannya mulai melemah. “Kamu sendiri belum tidur?”

“Gimana aku bisa tidur kalau tahu kamu sendirian di sana,” balas Rowoon. “Aku … mungkin nggak seharusnya datang ke rumah sakit. Kalau aku nggak datang … mungkin nenekmu–”

“Nggak ada yang perlu disesali, Sayang,” potong Jennie, mencoba menenangkan sang kekasih. Meski dalam hati, ia ingin menyalahkan seseorang. Namun, Jennie tahu pikiran itu tak akan mengubah apapun. “Yang penting sekarang Nenek bisa istirahat. Nggak ada di antara kita yang bermaksud bikin dia sakit kayak gini.”

“Tapi, tetap aja aku merasa bersalah.”

“Mungkin memang nggak seharusnya kita mendiskusikan soal pernikahan di rumah sakit,” Jennie menambahkan. “Kita terlalu terburu-buru. Harusnya kita nunggu Nenek benar-benar sembuh dulu, baru membicarakan soal itu.”

“Mungkin kamu benar.”

Keheningan menggantikan kata-kata yang tak terucap. Jennie meletakkan tangannya pada permukaan jendela, sambil mendengar nafas Rowoon di satu telinga. Para serangga itu terus berputar, seperti sedang melakukan ritual tarian yang mereka persembahkan kepada lampu taman. Di antaranya telah berguguran jatuh ke lantai aspal, tak bergerak. 

“Jennie.”

“Hm?”

“Ayo kita nikah minggu depan.”

Kali ini, sunyinya udara hadir bersama satu rasa yang tak sebelumnya ada: harapan. Harapan itu masih ada, pikir Jennie. Masa depan mereka masih ada. Sejujurnya, Jennie sudah pasrah jika Rowoon tak ingin menikahinya. Selama sepuluh tahun terakhir, hubungan mereka baik-baik saja. Pembicaraan tentang jenjang hubungan yang lebih serius justru menjadi pemantik pertengkaran demi pertengkaran, yang bagi Jennie sungguh menjemukan.

Mungkin, ia bisa menjadi salah satu serangga yang hidup, yang terus menari-nari di antara cahaya dan bertahan hingga akhir. Cahaya itu tak lagi tampak berbahaya saat ini.

“Kamu yakin?” tanya Jennie. “Karena aku nggak mau kamu melakukannya hanya demi nenekku, Rowoon.”

“Ini keputusanku sendiri, Sayang. Hari ini aku adu mulut dengan Bambam. Dan … dia benar. Bambam bilang aku udah bikin kamu menunggu terlalu lama,” ucap Rowoon. Suaranya terdengar lebih yakin, penuh percaya diri.

“Kamu berantem sama Bambam?!” Jennie terkesiap, menyadari suaranya terlalu keras. Ia mendecakkan lidah, lalu berbisik kepada lawan bicaranya, “Kalau aku ketemu Bambam, aku toyor dia nanti!” 

Rowoon tertawa kecil.

“Jangan. Lagipula, Bambam ada benarnya. Harusnya kita menikah sejak dulu.”

“Kita saling mengenal waktu sama-sama masih muda, Rowoon,” Jennie beralasan. “Bukan berarti sekarang kita udah tua sih–tapi, saat itu masih banyak ambisi yang belum kita raih. Toko kecil impianku. Sekolah lagi. Karier kita. Posisimu di kantor. Keluargamu. Aku tahu mustahil memenuhi semuanya dalam waktu sepuluh tahun.”

“Kamu benar,” ucap Rowoon. “Tapi seharusnya hubungan kita ada di antaranya, Jennie. Aku nggak mungkin bisa melalui ini semua kalau nggak ada kamu.”

Jennie berjalan kembali ke arah sofa menyandarkan punggungnya yang lelah. Ia berkata, “Aku nggak pantas mendapatkan pujian, Sayang. Aku nggak ngelakuin apapun buat kamu belakangan ini. Kita aja jarang ketemu.”

Rowoon terdiam sejenak. Ada keseunyian yang janggal, tapi Jennie tak mengacuhkannya.

“Aku cinta kamu, Kim Jennie,” kata Rowoon kemudian. Ada desiran hangat melintasi dada Jennie ketika mendengar kata-kata itu. “Kamu satu-satunya wanita buatku. Aku berharap kamu masih bersedia jadi istriku.”

“Tentu saja, Kim Rowoon. Aku juga cinta dan sayang banget sama kamu.”

Jennie menatap keluar jendela. Ia yakin dapat menjadi satu-satunya serangga yang bertahan malam ini.

Chapter 42: the newlyweds are home.

Chapter Text

Di balik tiang pembatas area kedatangan Bandara Incheon, Kim Mingyu melambaikan tangan pada dua sejoli yang akhirnya muncul. Kim Jiho berjalan beriringan dengan Yejin, melewati pintu geser yang otomatis membuka bagi siapa saja yang melewatinya. Sang kakak mendorong troli yang menampung dua koper besar, sementara Yejin mengikuti langkahnya yang lebar.

“Jiho!’ teriak Mingyu di antara kerumunan.

Di balik kacamata hitamnya, Jiho mencari-cari asal suara yang memanggil namanya. Ketika ia akhirnya menemukan Mingyu di antara kerumunan, wajah Jiho seketika sumringah. Ia mendorong troli lebih cepat, hingga Yejin terpaksa berlari kecil agar tak ketinggalan.

“Hei!” sapa Jiho, membentangkan tangannya lebar-lebar. Mingyu menyambutnya dalam pelukan. Jiho memeluknya begitu erat, di antara mantel tebal yang mereka kenakan. Mingyu terbatuk kecil saat Jiho menepuk punggungnya kuat-kuat. Yejin hanya geleng-geleng kepala, geli melihat tingkah dua bersaudara itu.

“Makasih, ya, udah mau jemput, Adikku Sayang,” seru Jiho, setelah melepaskan Mingyu dari dekapan. “Beruntung banget gue punya adik baik kayak lu, sampai rela bolos kantor demi jemput kakaknya di bandara.”

“Apaan, sih,” gumam Mingyu, merasa heran dengan senandung sang kakak. “Mabuk, ya, lu?”

“Kayaknya iya,” bisik Yejin pada Mingyu, menahan tawa. “Dia minum obat anti mabuk. Kayaknya efeknya belum hilang.”

Mingyu menggeleng-geleng tak percaya. Sebagai seseorang yang lemah di udara, Mingyu menyadari rencana Jiho dan Yejin untuk berbulan madu di Eropa pada awalnya memang terdengar konyol. Namun, Jiho bersikeras membawa istri barunya berkeliling dunia, meski ia harus menderita dalam pesawat. Tak terbayang repotnya Yejin saat mereka pertama kali mendarat di London. Pasti sibuk mengurus suaminya yang teler karena obat.

“Gimana London?” tanya Mingyu kemudian, mengambil alih troli dari tangan Jiho–lebih tepatnya, ia tak percaya kakaknya dapat mengemudikan troli yang berat dengan benar.  

“Mendung, seperti biasa,” ucap Jiho, berjalan di samping Mingyu. Ia melepaskan kacamata hitam dan meletakkannya di kepala. Tampak matanya masih sayu, belum sepenuhnya sadar. Bicaranya masih menyeret. “Udaranya mulai dingin waktu kami sampai, tapi masih nyaman untuk jalan-jalan. Kami ke museum, ke pasar, foto-foto.”

“Kalian ke Istana Buckingham juga?” 

“Iya, foto-foto di depannya. Gue ngajak Yejin foto bareng kuda penjaganya, tapi dia nggak mau.”

“Kudanya gede banget. Aku takut,” Yejin beralasan. Mingyu tertawa kecil, memaklumi. “Aku pernah lihat video orang-orang yang digigit sama kudanya waktu foto. Kalau aku ditendang gimana?”

“Foto dari jauh aja. Yang penting kan keliatan kudanya,” balas Jiho.

“Kalo gitu nggak foto sama kudanya, dong!” bantah Yejin.

“Iya juga sih …”

Mingyu memimpin jalan pasangan suami istri itu hingga ke area lobi gedung parkir. Keduanya menunggu bersama troli, sementara Mingyu mengambil mobil. Sepuluh menit kemudian, mobil yang Mingyu kendarai menepi ke sisi pedestrian. Ia membantu mengangkat koper ke bagasi, sementara Jiho dan Yejin yang lelah menunggu di kursi penumpang. Setelah memastikan semua barang telah aman, mobil pun meluncur meninggalkan bandara.

“Ini gue nganter ke rumah, kan?” tanya Mingyu, memindahkan gigi mobil.

“Iya, Pak Supir,” goda Jiho. “Gue ngantor besok aja, ya. Capek banget. Masih jetlag.

“Tapi kamu kan tidur terus selama flight,” canda Yejin. Jiho melemparkan pandangan geram ke arah istrinya. Yejin mencubit pipi suaminya gemas. 

Mingyu nyengir mengintip tingkah keduanya dari kaca spion di atas dasbor. Mobil melaju dengan laju konstan, menyusuri jalan bebas hambatan yang perlahan mulai lengang selepas melewati area bandara.

“Oh, iya. Gue ketemu Pak Peter,” ucap Jiho, mengalihkan pembicaraan.

“Iya, Seungcheol cerita,” balas Mingyu.

“Kayaknya proyek besar di kantornya bakal mulai tahun depan. Dia minta kantor kita ikutan bantu di sana. Besok kita diskusiin di kantor, ya. Kayaknya kita juga perlu ngatur jadwal meeting dengan Pak Peter, supaya bisa bahas proyeknya lebih detail.”

“Emangnya beliau butuh berapa banyak orang buat bantu di sana?” tanya Mingyu, tanpa mengalihkan pandangan dari jalan.

“Dia bilang sih mungkin butuh dua sampai tiga orang. Tapi, gue kayaknya berat kalau ngelepas lebih dari tiga orang. Arkate juga masih punya banyak proyek lokal yang perlu di-handle,” sahut Jiho. “Mau ngelepas lu atau Seungcheol aja gue ragu.”

Mingyu tertawa kecil. 

Pembicaraan dua bersaudara itu terhenti ketika Yejin tiba-tiba terkesiap. Matanya terpaku pada layar ponsel yang ia genggam di tangan.

“Kenapa, Sayang?” tanya Jiho, tampak khawatir.

“Aku … lagi ngobrol sama Jennie,” Yejin bicara melambat, seakan sedang memroses informasi yang baru saja ia terima. “Jennie bilang … Dia dan Rowoon memutuskan menikah minggu depan.”

“Hah?” seru Jiho. “Kenapa? Kok tiba-tiba gitu?”

“Aku nggak tahu,” gumam Yejin. Ibu jarinya mengetik dengan cepat. “Ini aneh banget. Jennie bukan tipe orang yang suka bikin rencana dadakan gini.”

Sementara itu, jari-jari Mingyu menggenggam erat roda kemudi. Ia merasakan jantungnya berdegup begitu cepat selepas mendengar kata-kata Yejin. Bila firasatnya benar, semua ini berhubungan erat dengan Bu Suji, nenek Jennie.

*

“Hari ini ke rumah sakit lagi, Jen?” tanya Jisoo, sambil duduk di kursi saat sedang beristirahat di ruang loker karyawan wanita.

“Nggak, Jisoo. Hari ini gue mau ke rumah Jiho,” jawab Jennie, menutup pintu lokernya. Ia mengancing mantel dan merapikan kerah baju yang menutupi leher. Belakangan ini tampaknya Seoul telah siap menyambut musim dingin, meski bulan bagi musim gugur belum berakhir. 

“Oh, Tante udah pulang dari bulan madu?” tanya Jisoo bersemangat. Jennie mengangguk. “Terus hari ini ke rumah Om Jiho ngapain? Mau makan bareng?”

“Iya. Sekalian mau ngomongin soal rencanaku sama Rowoon.”

Senyum di bibir Jisoo seketika meredup. Ia telah mendengar pernyataan Jennie tentang rencananya untuk menikah dengan Rowoon bulan depan. Di satu sisi, Jisoo turut bahagia bagi sahabatnya. Namun, ia tak dapat menepikan rasa yang mengganjal karena semua terasa begitu mendadak. Sambil memijat betisnya yang pegal, Jisoo hanya membalas, “Oh … soal itu.”

Jennie melirik Jisoo tanpa kata, berusaha tak menggubris reaksi dingin dari sahabatnya. Ia tak punya pilihan lain selain menyepakati rencana pernikahan dengan Rowoon. Semua ia lakukan semata-mata demi memenuhi keinginan sang nenek, yang hingga saat ini kondisinya masih lemah. Tak dapat dipungkiri, kondisi kesehatan Bu Suji adalah katalis yang tak pernah Jennie sangka.

“Kaki lu kenapa, Jisoo?” Jennie mengalihkan pembicaraan.

“Pegal, nih. Gara-gara sepatu baru kayaknya. Capo cameriere minta gue untuk pakai sepatu dengan hak tambahan. Tapi, karena sepatunya masih keras dan gue nggak biasa pakai sepatu berhak, jadinya pegel. Rasanya kayak abis naik tangga ke puncak gunung,” keluh Jisoo.

“Gue nggak ada salep. Tapi ada perban. Mau?” Jennie merogoh ke dalam tasnya, meraih sekantung perban yang selalu ia bawa ke manapun. Ia mengangkatnya ke depan mata. Entah kenapa wajah Mingyu melintasi ingatannya. Pertemuan terakhirnya dengan Mingyu adalah ketika mereka menjenguk Bu Suji di malam hari. Cerita jempol kaki Mingyu masih menyelipkan senyum di bibir Jennie.

“Jen?”

Panggilan itu membuat Jenni melompat sadar dari lamunan. Jisoo menatapnya heran.

“Lu kenapa? Kok senyum-senyum sendiri?” tanya sahabatnya.

“Ng, nggak papa,” Jennie tertawa kering, sambil menyerahkan sebungkus perban pada Jisoo. “Lu bawa aja dulu semuanya. Siapa tahu nanti di jalan masih butuh.”

“Oke,” ucap Jisoo, berterima kasih.

“Gue jalan dulu, ya. Takut ketinggalan bis.”

“Oke! Ati-ati, ya! Salam buat Om Jiho dan Tante!” seru Jisoo. Ia melambaikan tangan ke arah Jennie yang setengah berlari menuju pintu belakang Nero&Bianco.

Jennie merapatkan mantelnya ketika udara malam Seoul menyapa. Ia berjalan dengan cepat, sebagai bentuk perlawanan terhadap suhu musim gugur yang mulai menusuk kulit. Selama perjalanan menuju halte bus, ia tak dapat berhenti memikirkan dan menyusun kata-kata yang harus ia ungkapkan kepada ibunya.

Ma, aku dan Rowoon akan menikah minggu depan. Aku mohon restui kami.

Tidak, kata-kata itu terlalu formal.

Ma, aku dan Rowoon nikah minggu depan. Jeng-jeng!

Jennie menghela nafas panjang. Yang kedua terdengar begitu konyol. Ia tak tahu bagaimana caranya menyampaikan berita sepenting itu agar terdengar serius dan meyakinkan di saat yang bersamaan. Jennie tahu keputusan mendadak yang ia setujui bersama Rowoon akan membuat ibunya khawatir. Yejin akan mencecarnya dengan sejuta pertanyaan, semalam suntuk, karena Jennie bukanlah orang yang sebegitu mudahnya mengubah rencana. 

Pernikahan bukanlah permainan, Yejin selalu mengingatkan semenjak putrinya bertunangan dengan putra semata wayang Keluarga Kim sang konglomerat. Jennie tak pernah menilai rendah acara sakral itu. Namun, ia juga tak ingin mengecewakan sang nenek yang telah lama hidup seorang diri. Setidaknya, Jennie ingin membahagiakan Bu Suji sekali saja.

Jennie berlari-lari kecil saat menyadari bus yang membawanya ke arah rumah Jiho telah datang, bergerak lambat saat singgah sementara di halte bus. Ia segera naik, menempati kursi yang bersebelahan dengan jendela. Kota Seoul di luar kaca perlahan bergerak, bersembunyi dalam kegelapan yang pekat. Lampu-lampu jalanan bergerak seperti kunang-kunang mengikuti laju bus yang kembali berpacu. Derunya yang rendah membuat Jennie tetap terjaga, bersama benaknya yang tak berhenti mengatur kata untuk diucapkan kepada ibunya dan juga Jiho.

Namun, pikiran Jennie buyar ketika mendapati Mingyu membukakan pintu depan untuknya. Pria itu tampak terkejut, sama seperti Jennie yang tak menyangka Mingyu turut hadir dalam acara makan malam di rumah Jiho.

Chapter 43: the family talk.

Chapter Text

“Mingyu? Ngapain di sini?” tanya Jennie.

Sebelum menjawab, Mingyu melangkah ke samping pintu, memberikan ruang bagi Jennie untuk masuk ke dalam rumah Jiho. Meski belum masuk lebih jauh, Jennie merasakan suhu ruangan yang hangat perlahan menyelimutinya. Pria di hadapannya tampak santai dengan kaus hitam dan celana training berwarna senada. 

“Aku lagi lembur,” jawab Mingyu, menutup pintu depan rumah. Ia memimpin jalan, melewati ruang tamu menuju area tengah yang lebih luas. “Pertama, karena aku telat masuk kantor setelah jemput kakakku tersayang di bandara. Jadi, target kerjaanku hari ini mundur semua. Kedua, sebagai CEO yang baik dan bertanggung jawab, dia nawarin aku untuk lanjut kerjain tugas lemburan di rumah, sambil jadi tamu makan malam.”

“Dan kamu nggak bisa nolak?” tanya Jennie, melepaskan mantelnya. Mingyu menawarkan diri untuk menggantung mantel milik wanita itu dalam lemari.

“Gimana bisa nolak kalau spek komputer Jiho lebih bagus daripada yang aku punya di apartemen,” jawab Mingyu, sambil nyengir. “Daripada lemburan sendirian di kantor, sekalian aja aku nginep hari ini.”

“Kamu nginep?” Jennie tercengang. Mingyu hanya bisa mengangkat bahu. Pasrah.

“Pokoknya, kerjaan lemburanku malam ini semua salah Jiho,” balas Mingyu. “Aku harus begadang semalaman nyelesein semuanya. Tenang aja, aku nggak akan ganggu acara makan malam kalian.”

Awalnya, Jennie mengira Mingyu hanya bercanda. Namun sepanjang makan malam, adik tiri Jiho itu benar-benar tak menunjukkan batang hidungnya. Ia berdiam diri di ruang kerja, menggunakan headphone dan tak berpaling dari layar komputer. Jennie sempat mengintip ke dalam ketika Jiho mengantarkan secangkir kopi untuk adiknya. Mingyu tampak sibuk mengoperasikan program rancang bangun sambil bicara dengan seseorang di telepon. Jari-jarinya dengan cekatan menekan tombol keyboard dan mouse bergantian.

Meja makan dengan permukaan kaca di rumah Jiho hanya diisi oleh tiga orang malam itu, yaitu Jennie, Jiho dan Yejin. Mereka menikmati sajian ayam goreng, sup tahu hangat dan pedas, serta pajeon (serabi ala Korea) daun bawang yang membangkitkan selera makan Jennie. Seharian perutnya terasa sakit, menjadi pengingat bahwa si ‘tamu bulanan’ akan datang sebentar lagi. Makanan yang tersaji di meja malam itu membuatnya merasa santai, apalagi Jennie tak harus makan sendirian.

Sepanjang makan malam, Jennie mendengarkan cerita ibunya dan Jiho tentang perjalanan bulan madu mereka selama di London. Udaranya yang dingin menjadi alasan bagi Yejin dan Jiho untuk bergandengan tangan ke manapun mereka pergi. Apalagi, setiap tempat yang mereka kunjungi dapat ditempuh dengan berjalan kaki. Sesekali, mereka mengunjungi museum, mampir ke kafe dan restoran untuk menikmati minuman hangat, sambil memandang matahari terbenam yang tenggelam lebih cepat di bulan itu.

“Kalau ada kesempatan, kapan-kapan kita jalan-jalan ke sana, ya, Jen,” ajak Jiho. “Atau, kita bisa mampir ke kota-kota lain di Eropa. Oh iya, kata Yejin, kamu mau sekolah di Italia?”

Jennie mendongak dari mangkuk supnya, melemparkan pandangan ke arah Yejin. Ibunya pura-pura tak acuh, sibuk menyeruput supnya sendiri.

“Yah … ada rencana gitu, sih. Tapi nggak tahu bakal kesampaian kapan,” jawab Jennie. Jiho mengangguk-angguk.

“Tapi, kalau kamu nikah, apa Rowoon ngijinin kamu sekolah di luar negeri?” tanya Jiho.

Ini dia. Topik pernikahan Jennie dan Rowoon akan segera dimulai. Jennie menarik nafas dan membuangnya pelan-pelan. Jantungnya berdebar. Ternyata, Jennie lebih gugup dari yang ia kira.

“Kalau soal itu … mungkin akan aku bicarakan sama Rowoon di lain waktu. Setelah kami menikah minggu depan,” balas Jennie. Ia tak perlu berbasa-basi, karena telah memberitahukan perihal rencana pernikahannya pada Yejin tadi pagi. Ibunya melemparkan pandangan pada Jiho, yang tak kalah tegang. “Mama udah cerita ke Om Jiho, kan, soal rencanaku itu?”

“Iya, udah,” Jiho menjawab singkat. Perlahan, ia meletakkan sendok di samping mangkuk. Pria paruh baya itu duduk dengan punggung tegap, menatap Jennie lekat-lekat. Jari-jarinya saling bertaut di permukaan meja. Wajahnya tampak serius. “Jennie, aku tahu aku nggak memiliki hak untuk mencampuri rencanamu dengan Rowoon. Aku di sini hanya menemani Yejin agar kalian bisa mendiskusikan soal masa depanmu dengan laki-laki pilihanmu.”

“Mama cuma khawatir kamu terlalu terburu-buru mengambil keputusan ini,” sambung Yejin, yang akhirnya angkat bicara. “Hubungan kalian baik-baik saja, kan?”

“Iya. Baik-baik aja, kok, Ma,” jawab Jennie tegas–meski ia tak sepenuhnya yakin dengan jawaban itu. “Rencananya kami mau melakukan pemberkatan aja. Untuk pesta bisa menyusul nanti.”

“Mama boleh tahu kenapa kalian mendadak memutuskan untuk mempercepat pernikahan?” tanya Yejin. “Apa kamu … hamil?”

Jennie menggelengkan kepala cepat-cepat. 

“Nggak, kok, Ma! Kami mau segera menikah demi Nenek,” Jennie membeberkan alasan sebenarnya. “Aku udah cerita kan kalau Nenek masuk rumah sakit? Kondisinya sempat melemah beberapa hari lalu, dan … aku rasa Rowoon merasa bersalah. Ia merasa Nenek jadi sakit karena kedatangannya membicarakan soal pernikahan. Suasana sempat tegang sebelum Nenek ambruk. Karena itu, kami memutuskan untuk menikah secepatnya.”

Yejin menatap putrinya dalam diam. Sementara itu, Jiho hanya dapat mendengarkan kedua wanita di hadapannya, menahan wajahnya tetap datar tanpa ekspresi apapun.

“Jennie,” panggil Yejin dengan suara lembut. “Tapi, kamu tahu kan Nenekmu akan tetap sayang sama kamu, meskipun kalian nggak menuruti keinginannya? Kamu nggak perlu melakukannya agar Nenekmu senang, Nak.”

“Aku tahu, Ma,” Jennie meremas gagang sendok yang ia genggam. “Tapi aku dan Rowoon udah lama bersama hampir sepuluh tahun. Belakangan ini, kami banyak bertengkar karena sibuk dengan pekerjaan masing-masing. Belum lagi–”

Jennie menggigit bibir. Ia menahan diri untuk tak menceritakan tentang anting merah muda yang ia temukan di lantai mobil Rowoon. Ia menyadari wajah khawatir Yejin tak kunjung mereda, menunggu kata-kata dari putrinya. 

“Intinya,” Jennie melanjutkan, “aku dan Rowoon udah memutuskan untuk menikah. Jadi, aku harap Mama nggak menentang keputusan kami.”

Yejin duduk terdiam di kursinya. Ia menunduk, kepalanya melayang pada memori masa muda, terutama pernikahannya dengan ayah kandung Jennie. 

“Mama paham kenapa kamu mau melakukannya demi membuat nenekmu senang,” Yejin berucap lirih. “Untuk alasan itu, Mama nggak akan menentangnya. Nenekmu kehilangan anaknya karena Mama. Papamu memutuskan untuk menikah dengan Mama, meski Bu Suji menentang. Dan karena hal itu, Mama tahu Bu Suji benci sama Mama.

Tapi, beliau begitu gembira ketika tahu memiliki kamu sebagai cucu. Jadi, Mama ngerti kalau kamu mau memberikan kebahagiaan untuk nenekmu, karena dulu Mama dan Papa nggak bisa melakukannya. Kamu satu-satunya sumber kebahagiaan Bu Suji sekarang.”

Jennie menatap ibunya yang duduk berseberangan dengannya. Ia melihat Jiho, ayah tirinya, menjulurkan tangan dan menggenggam jemari ibunya di bawah meja.

Yejin mengangkat dagunya, menghapus setitik air mata yang jatuh ke pipi. Bibirnya menyunggingkan senyum lembut, yang justru membuat hati Jennie teriris.

“Kalau menikahi Rowoon adalah pilihan yang kamu inginkan, Mama nggak akan menentangnya,” ucap Yejin. Suaranya gemetar. “Dia adalah pria yang baik, pekerja keras, dan bertanggung jawab. Mama yakin semua kebutuhanmu akan terpenuhi kalau bersama dia. Impianmu untuk sekolah di Italia pun bisa saja terwujud di masa depan. Jadi, kalau kamu memang sudah yakin dia orangnya, Mama harap kamu bahagia bersama dia.”

Jennie bangkit dari kursinya, berjalan melewati meja untuk memeluk ibunya. Mereka saling meyakinkan bahwa dalam hidup ini keduanya akan selalu ada untuk satu sama lain. 

*

Malam itu, Jiho memaksa Jennie untuk turut menginap di rumahnya. Makan malam dan obrolan yang panjang membuat keluarga kecil itu lupa pada waktu, yang tak terasa menyentuh tengah malam. Selain karena hari telah larut, Jiho melarang Jennie untuk pulang karena suhu udara yang menurun drastis. Bila ia memaksakan untuk pulang, kesehatan Jennie dapat terganggu.

Yejin membantu menyiapkan kamar tamu bagi Jennie, sekaligus meminjamkan baju ganti piyama agar putrinya merasa lebih nyaman. Namun, menghabiskan malam di rumah yang terasa asing baginya membuat Jennie tak bisa tidur. Apalagi rasa melilit di perut Jennie turut menjadi alasan ia bolak-balik di tempat tidur.

Dalam gelap, Jennie menatap langit-langit kamar itu. Lampu yang tertanam di permukaan plafon berwarna bulat, terlihat seperti mata burung berukuran raksasa. Bayangan dari dahan pohon di luar jendela menyelinap masuk ke kamar, membentuk sosok hitam dan ceking yang melengkung aneh.

Jennie menyerah. Ia memutuskan untuk bangkit dari tempat tidur. Sepertinya segelas air hangat dapat membantu tubuh dan perutnya lebih rileks, pikir Jennie. Ia membuka pintu, berjalan menyusuri lantai rumah yang telah sepi. Di akhir lorong, Jennie berbelok menuju ruang makan. Langkahnya tertahan ketika melihat cahaya di dapur.

Sambil mengintip dari balik tembok, Jennie melihat ada sosok tinggi besar. Ia sedang merunduk di depan kulkas yang terbuka sambil bersenandung kecil. Ketika sosok itu menegakkan diri, Jennie dapat bernapas lega.

“Mingyu?” panggilnya.

Pria itu melompat kaget mendengar namanya sendiri, membisikkan umpatan tajam. Jennie hampir melepaskan tawa, hingga ia mendengar suara ‘krak!’ dari benda rapuh yang jatuh menghantam lantai.

“Yah!” seru Mingyu. “Telurnya pecah!”

Chapter 44: the midnight snack.

Chapter Text

Karena merasa bersalah telah mengangetkan Mingyu, Jennie menawarkan diri untuk membersihkan cairan telur yang pecah di lantai. Ia mengambil tisu, membersihkan sisanya dengan air dan sabun cuci agar lantai tak lengket dan berbau amis. Sementara itu, Mingyu–yang kelaparan di tengah malam–sedang memasak dua bungkus mi instan di dapur. Aroma gurih dari bumbu keringnya menyeruak ke seluruh dapur, menggelitik hidung Jennie.

“Enak banget baunya,” gumam Jennie, setelah membuang sisa tisu di tempat sampah.

“Kamu mau?” Mingyu menawarkan, mengaduk bumbu bersama mi yang mulai melunak dalam panci. “Kalau mau, aku buatin satu lagi.”

“Nggak usah. Sori, aku cuma komentar aja,” balas Jennie. Ia meminjam cangkir dari lemari kabinet dan mengisinya dengan air hangat dari dispenser. “Aku cuma mau minum terus balik lagi ke kamar–”

“Temenin aku makan,” potong Mingyu, melemparkan senyum pada Jennie. Wanita di hadapannya tampak enggan, hingga Mingyu menambahkan, “Aku lebih suka kalau ada temen ngobrol.”

Detik berikutnya, Jennie menempati kursi di meja makan, sementara Mingyu menyelesaikan masakannya di dapur. Menjadi penonton di meja makan, Jennie mengamati pria yang tampak nyaman memasak seorang diri. Dengan cekatan, Mingyu mencampurkan telur ke dalam panci, mengaduknya perlahan hingga bercampur dengan kuah mi instan. Mingyu mematikan kompor, membawa panci ke meja makan. Tatakan penahan panas telah siap di meja saat Mingyu meletakkan kudapan tengah malamnya. Jennie yang duduk di sampingnya menghirup aromanya dalam-dalam. Ada aroma yang berbeda, jauh lebih gurih dari sajian itu, karena Mingyu menambahkan telur ke dalamnya.

Pria itu kembali ke dapur sejenak, mengambil sebotol minyak wijen dan potongan daun bawang di telenan. Ia menuangkan beberapa tetes minyak ke permukaan mi instan yang berwarna kemerahan, lalu menaburkan daun bawang.

Jennie terkagum-kagum. Makanan sederhana itu telah naik level karena Mingyu menambahkan beberapa bahan sederhana.

“Nih,” Mingyu menawarkan sepasang sumpit dan sendok pada Jennie, yang menggelengkan kepala Pria itu menghela nafas, meletakkan alat makan itu di meja. “Kalau mau ikutan makan, ambil aja, ya.”

Mingyu mengaduk isi panci dengan sumpit. Uap tipis membubung dari permukaan sup, menghangatkan wajahnya. Ia mengambil mi secukupnya, menjepitnya dengan sumpit dan segera menghirupnya. Mingyu melepaskan desahan rendah. Suapan pertama itu seketika menyegarkan tubuh  yang lelah karena duduk di depan komputer semalaman.

Jennie memangku dagu. Sikunya bersandar di meja. Ia tersenyum kecil saat Mingyu menyeka bulir keringat di dahi. Pipi pria itu turut memerah dan menggembung penuh makanan. Hidungnya mengendus dalam-dalam karena sensasi pedas yang melapisi mulut.

“Gimana lemburannya?” tanya Jennie, mengisi keheningan di antara mereka.

“Udah hampir selesai. Komputernya lagi rendering gambar, jadi bisa aku tinggal sebentar,” jawab Mingyu. Jennie tak mengerti apa yang pria itu maksud dengan rendering, tapi ia tak mempertanyakan lebih lanjut. Ia sibuk mengamati ekspresi Mingyu yang begitu menikmati mi instan di hadapannya.

“Kenapa sih ngeliatin gitu?” tanya Mingyu, tanpa mengalihkan pandangan dari mie di dalam panci yang jumlahnya mulai menyusut. “Aku jadi salting, tahu.”

“Idih,” gumam Jennie, heran mendengar kata-kata itu. “Kenapa mesti salting?”

“Abis kamu ngeliatinnya gitu banget.”

“Perasaan biasa aja, deh,” balasnya. Jennie menegakkan punggungnya, mengetuk bibir gelas dengan ujung jari. “Aku suka aja ngeliat orang makan, apalagi kalau keliatan menikmati banget.”

Mingyu tersenyum, menelan makanan di dalam mulutnya. Ia menyodorkan panci yang isinya tinggal separuh, menawarkan Jennie untuk ikut serta menikmati hidangan instan itu.

“Aku nggak laper–”

“Dari 1 sampai 10, coba nilai masakan buatanku,” tantang Mingyu pada Jennie. “Aku pengen tahu, gimana lidah seorang chef menilai makanan penuh micin ini.”

Jennie menerima tantangan itu. Ia mengambil alat makan di meja, lalu menyendok kuahnya yang masih hangat. Jennie menyesap ujung sendok, menyebarkan kuah yang kental ke seluruh permukaan lidah. Mingyu menunggu komentar Jennie dengan antusias. 

Kemudian, Jennie berkata, “Enak. Kuahnya jadi lebih gurih karena pakai telur. Aroma dan rasa minyak wijennya bikin kuahnya lebih kaya, nggak sekedar asin.”

“Kalau ini masakan restoran, kamu kasih nilai berapa?” tanya Mingyu, menunjuk panci di antara mereka.

“Hmm,” Jennie menggumam. “Mungkin … 8?”

Mingyu mengangguk-angguk, dagunya terangkat tinggi. “Nggak jelek-jelek amat,” ucap pria itu.

Jennie terkekek geli. Tanpa merasa sungkan, ia lanjut menikmati hidangan tengah malam itu. Kuahnya yang hangat menenangkan perutnya yang sakit, hingga ke ujung kaki. Meski potongan mi sudah mulai lembek, Jennie tak keberatan. Makanan yang lunak lebih mudah untuk dicerna malam itu.

Mingyu mengamati Jennie dalam diam. Perempuan itu benar, ada kesenangan tersendiri dari memandang seseorang yang tengah lahap makan. Rambut Jennie yang panjang menjuntai, jatuh melewati bahu. Tanpa pikir panjang, Mingyu mengulurkan tangan dan membantu menyelipkan helaian rambut Jennie ke balik telinga.

Ada desiran aneh yang melintasi dada Jennie, ketika jari Mingyu tak sengaja menyentuh kulit lehernya. Menyadari sentuhannya membuat tubuh Jennie menegang, Mingyu segera menarik tangannya kembali.

“Sori,” gumam pria itu rendah. “Rambut kamu hampir masuk ke panci.”

Jennie menguntai senyuman singkat di bibirnya. Ia mendorong panci kembali ke hadapan Mingyu. Setelah meneguk air dalam gelasnya, Jennie berkata cepat, “Makasih buat minya. Perutku jadi enakan setelah minum kuahnya–”

Kata-kata Jennie terhenti ketika Mingyu tiba-tiba menggenggam pergelangan tangannya. Ia dapat mendengar debaran jantungnya naik ke telinga, saat menangkap mata Mingyu yang menatapnya lekat-lekat. Bibir pria itu membuka dan menutup, seakan hendak mengatakan sesuatu tapi urung mengucapkannya.

“Mingyu?” panggil Jennie. Pria itu diam. “A, aku mau tidur dulu. Perutku sakit–”

“Jennie,” potong Mingyu. Namun, kata-katanya terhenti lagi. Jennie tak mengerti apa yang pria itu inginkan darinya. Jemarinya yang melingkari pergelangan tangan Jennie terasa panas, tapi tak mengerahkan seluruh tenaga untuk melepasnya. Jennie bisa saja melepaskan diri dari genggaman itu, tapi wajah Mingyu menyiratkan keinginan agar ia tak pergi.

“Apa, Mingyu?” tanya Jennie sekali lagi.

“Kamu … yakin soal Rowoon?” ucap Mingyu kemudian, berlambat-lambat.

Jennie mengerutkan kening, lalu bertanya, “Kenapa kamu tanya kayak gitu?”

Mingyu melepaskan pergelangan tangan Jennie. Ia menjilat bibir, mencoba merangkai kata yang tepat untuk diucapkan. Mingyu menarik nafas, lalu berkata, “Aku berharap kamu memikirkannya sekali lagi. Kamu yakin nggak ada perasaan mengganjal yang tersisa dalam hatimu, Jen?” 

“Apa sih, Mingyu–”

“Aku tahu aku nggak punya hak untuk melarang kamu menikah sama dia. Tapi, aku sarankan sebelum pernikahan kalian minggu depan, coba saling jujur satu sama lain,” balas Mingyu cepat.

“Aku nggak ngerti maksud kamu. Kamu tahu sesuatu tentang Rowoon?” tanya Jennie. Di hadapannya, Mingyu tampak semakin gugup.

Chapter 45: breakfast with mom.

Chapter Text

Keesokan paginya, Jennie bangun lebih awal dari biasanya. Ia telah mengganti piyama dengan pakaian semalam, yang ia kenakan sepulang dari restoran. Saat melirik waktu di pergelangan tangan, Jennie tak yakin ia akan punya cukup waktu untuk pulang ke apartemen. Jadi, ia memilih untuk berangkat ke Nero&Bianco dari rumah Jiho.

Perlahan, ia memutar knop pintu kamarnya, berusaha tak membuat suara apapun. Setelah daun pintunya membuka, Jennie mengendap keluar kamar sebelum menutup kembali pintunya. Lorong di depan kamarnya masih gelap, begitu hening seakan belum ada nyawa lain yang bangkit dari tidur.

Telapak kakinya menginjak lantai perlahan, memastikan tak meninggalkan suara saat ia melewati meja makan. Namun, usaha Jennie sia-sia ketika suara Yejin memanggilnya.

“Jennie? Udah mau berangkat?” 

Sang putri melompat kaget, tak menyangka tertangkap basah oleh ibunya sendiri. Jennie menoleh, mendapati ibunya sedang menuruni tangga dari kamarnya di lantai dua. Yejin masih mengenakan piyama, terbalut oleh jubah satin berwarna gelap. Langkah kakinya berderap rendah saat sang ibu menapaki setiap anak tangga, keheranan karena Jennie hendak pergi tanpa berpamitan.

“Kamu udah sarapan?” tanya Yejin.

“Belum, sih,” balas Jennie, sambil tertawa kering. “Aku takut telat soalnya rumah Jiho cukup jauh dari restoran.”

“Kamu masuk jam 9, kan? Masih cukup waktunya buat sarapan,” Yejin menengok jam dinding, yang masih menunjukkan pukul setengah tujuh pagi. “Mama buatin sarapan sebentar, ya? Mau roti panggang? Atau telur?”

Jennie tercengang. Seumur hidupnya, Yejin tak pernah membuatkannya sarapan. Ibunya selalu bangun dan berangkat kerja lebih awal, bahkan sejak Jennie masih duduk di bangku sekolah. Ia dapat menghitung dengan jari berapa kali Yejin pernah membuatkannya sarapan.

Belum sempat Jennie menolak, Yejin telah meluncur ke dapur. Dengan cekatan, ia telah mengambil sebungkus roti tawar dari kulkas, dua butir telur, dan garam dari rak bumbu.

“Mau telur mata sapi atau dadar?” tanya Yejin.

“Mata sapi aja,” Jennie memilih pilihan termudah. Dalam hati, ia merendahkan ekspektasi ibunya dapat membuat telur mata sapi yang sempurna. Tak membuatnya gosong saja sudah mukjizat, ucap Jennie dalam hati. Tanpa bermaksud merendahkan, Yejin memang tak pernah memasak untuk putrinya. Pekerjaannya sebagai karyawan TV swasta begitu menyita waktu. 

Bila Jennie mengingatnya kembali, Yejin selalu berangkat sebelum bus paling pagi sampai di halte, dan pulang saat jadwal terakhir bus berhenti di perhentiannya. Di hari libur nasional, Yejin bahkan tak sempat pulang ke rumah. 

Jennie duduk di meja makan, di kursi yang sama saat ia mengamati Mingyu memasak mi instan semalam. Kini, pemandangannya berganti menjadi sang ibu yang tampak canggung berada di dapur. Ia memecahkan telur, menuangkannya pada wajan yang terlampau panas. Suara mendesis dan asap tipis memenuhi dapur. Jennie tak dapat duduk tenang, tapi ia tak ingin merusak usaha ibunya yang bersikeras membuatkan sarapan–meski hanya dua potong roti panggang dan telur mata sapi.

Mesin pemanggang berdenting, tanda roti panggang telah siap. Yejin mengambil dua potong dan meletakannya di piring. Telur pun telah matang, ia sajikan di atas roti. Dengan wajah polos dan riang, Yejin membawakan sepiring sarapan untuk putrinya. 

Jennie tersenyum kecil, memandang isi piring itu lekat-lekat. Dua potong roti panggang yang berwarna cokelat sempurna–kering di permukaannya, tapi masih lembut saat digigit. Telur mata sapi yang beberapa detik terlambat untuk diangkat, dengan pinggiran berwarna kecokelatan dan kuningnya yang kering. Namun, Jennie tak keberatan.

“Maaf, ya, Mama nggak pintar masak,” ucap Yejin lembut, meletakkan sebuah gelas berisi air di samping piring Jennie. “Tapi, Mama buat ini dengan cinta. Cinta yang mungkin terlalu sederhana dan kering untuk seleramu.”

Jennie dan ibunya tertawa bersama.

“Nggak papa,” balas Jennie. Ia menumpuk roti dan telur ala roti lapis. “Aku suka cinta yang sederhana seperti ini.”

Sang putri menggigit sarapan buatannya dengan semangat. Suara roti yang renyah menggelitik telinga. Lalu, Yejin tiba-tiba terkesiap.

“Yah, Mama lupa naburin garam di telurnya!” seru Yejin, tak percaya dengan keteledorannya sendiri. Keduanya saling menatap, lalu tawa di antara mereka pecah, mengisi setiap sudut ruangan. “Gini deh kalau orang nggak pernah masak, terus tiba-tiba kepikiran mau manjain putrinya tersayang. Semuanya serba berantakan.”

“Sebagai orang yang nggak pernah masak, nggak bikin roti panggang dan telur gosong aja udah bagus, Ma,” hibur Jennie. Ia menikmati setiap gigitan dan sudut renyah dari roti, bersama gurihnya telur yang memenuhi mulutnya. Yejin mengamati putrinya dalam senyap, berharap waktu dapat bergerak lebih lambat agar ia dapat menikmati setiap detik yang begitu berharga.

Dunia begitu cepat berlalu. Anaknya yang berusia 12 tahun itu, yang seringkali Yejin tinggalkan sendirian di rumah, kini telah dewasa dan akan segera menikah. Entah sudah berapa pagi dan malam yang ia lewatkan, meninggalkan Jennie seorang diri bertahan dalam kesendirian. Ia tak pernah ada saat sarapan, tak mendampinginya menyelesaikan tugas sekolah, hingga tak mengantarnya tidur dengan ciuman sayang di kening. Namun, menjelang memasuki usia 30 tahun, Jennie masih riang menyantap roti panggang dan telur mata sapi gagal buatannya.

“Jennie,” panggil Yejin lembut. “Dulu waktu kecil kamu jarang banget Mama masakin. Maaf, ya.”

Jennie menggeleng, dengan pipi menyembul sambil mengunyah makanan. 

Setelah menelan makanan di dalam mulut, ia menyahut, “Aku tahu Mama sibuk. Emang sih, aku suka sebel karena seringkali makan sendirian. Tapi, gara-gara itu aku jadi kenal yang namanya masak.”

“Mama inget pernah marah saat mergokin kamu pakai kompor tanpa izin. Waktu itu, kamu nangis kenceng banget. Tapi, setelah dengar alasannya, Mama jadi paham. Kamu lapar, dan yang tersedia hanya bahan mentah,” ungkap Yejin. 

Jennie tertawa kecil saat mengingat kenangan itu. Ibunya pulang lebih cepat dari biasanya, dengan wajah kusut yang tak tidur semalaman. Kala itu, ibunya terlihat seperti seorang nenek sihir pemarah yang menakutkan. Reaksi alami yang dapat Jennie lakukan hanyalah menangis saat dimarahi, sambil memegang panci dan sebutir telur. Ia hanya ingin membuat telur mata sapi, tapi rasanya seperti tertangkap melakukan kejahatan terburuk di dunia.

“Semenjak itu, tiap kali mau pakai kompor aku harus kirim pesan ke Mama dulu, kan? Lumayan, deh, aku jadi punya ponsel lebih dulu daripada teman-temanku,” canda Jennie, mencoba meringankan suasana.

“Dasar kamu nih …,” gerutu Yejin gemas, mencubit pipi putrinya. “Oh, iya, kamu inget nggak, Jen? Waktu kecil dulu, kamu pernah buatin resep cinta buat Mama?”

Jennie tak percaya dengan apa yang ia dengar. Rasa panas yang membuat pipinya mendidih, perlahan merambat hingga ke telinga. 

“Ih, Mama! Kok masih inget itu, sih?!”

“Inget, dong! Kamu gemesin banget soalnya. Kasih tahu Mama resepnya lagi, dong! Mama pengen denger~”

“Nggak mau, ah! Malu!” protes Jennie. Namun, Yejin menahannya pergi, menggoyangkan lengan putrinya.

“Ayo, dong. Sekali aja. Biar jadi penyemangat Mama hari ini.” Rayuan ibunya sulit ditolak, hingga Jennie akhirnya menyerah. Setelah melepaskan napas panjang, ia berusaha mengingat kembali celetukan polos di masa kecil.

“Aku siapkan dulus seporsi nasi putih dingin,” Jennie memulai. “Supaya Mama merasakan cinta dariku, akan aku tambahkan di dalamnya potongan-potongan kesetiaan, sejumput humor dan tawa, segenggam optimisme, dan irisan kemandirian. 

Lalu, aku hangatkan wok di atas kompor. Aku lapisi sedikit dengan kejujuran hingga merata ke seluruh permukaan woknya. Aku campur semua bahan dan mengaduknya hingga rata. Semuanya bahan dan bumbu bercampur jadi satu. Nah, jadi deh, cintaku buat Mama. Cinta yang disajikan hangat dan nggak akan pernah nyusahin,” ucap Jennie, berpura-pura menyajikan sepiring makanan ke hadapan ibunya. “Anak yang akan selalu ada buat Mama, tapi tetap baik-baik saja saat sendirian.”

Mata Yejin berkaca-kaca. Kata-kata anak kecil yang dulu begitu menghibur, kini mengalir dari bibir seorang wanita dewasa yang akan menjalani kehidupannya sendiri. Yejin meraih tangan Jennie dan menggenggamnya erat. 

“Nak, Mama harap kamu menemukan kebahagiaan bersama Rowoon. Mama akan selalu mendoakan kebahagiaan kamu. Kalau kamu capek, Mama akan selalu ada di sini. Oke?” ucap Yejin.

Jennie mengangguk. Keduanya bangkit dari kursi dan berpelukan erat. Setelah sekian lama, Jennie merasakan kembali menjadi seperti anak kecil yang sepanjang hari merindukan ibunya. Dalam tubuh kecilnya, ia tak berdaya, tapi harus bertahan seorang diri. Di akhir hari, ibunya akan selalu kembali melewati pintu rumah.

Setelah menikah, mungkin hal itu tak akan sering terjadi. Cinta untuk ibunya akan terbagi untuk Rowoon–dan bayangan rumah tangga yang hingga kini tak juga terbayang. Dalam hatinya, Jennie tak tahu apakah ia benar-benar siap untuk menikah. Namun, ia tak memiliki pilihan lain.

Chapter 46: h-6 to the wedding.

Chapter Text

Kamu … yakin soal Rowoon?

Kata-kata itu membuka mata Jennie. Ia terjaga, masih berada dalam bus yang mengantarkannya menuju tempat kerja. Kepalanya bersandar pada kaca jendela, dengan hangat matahari pagi yang menerpa wajahnya. Sinarnya menembus permukaan bening, bersama tubuh bus yang berguncang pelan, membuatnya serasa dininabobokan di kursi.

Wajah Mingyu semalam terbayang lagi di balik pelupuk matanya. Caranya memandang Jennie begitu dalam, seakan sedang melihat ke dalam hatinya. Sentuhannya yang menggenggam pergelangan tangan Jennie dengan erat. Mengikat, tapi tak agresif.

Bila ia mengingat peristiwa semalam lebih lekat, Jennie dapat merasakan kembali panasnya tangan Mingyu pada kulitnya. Membayangkannya saja, membuat wajah Jennie terasa panas.

Belakangan ini, ia tak dapat berpikir jernih bila berada dekat dengan Kim Mingyu. Selama ini, ia terus mencoba membangun dinding tebal, apalagi mengingat pria playboy seperti Mingyu memiliki kemampuan untuk menggoda hatinya. Bagi pria seperti Mingyu, Jennie hanyalah mainan. Jika sudah bosan, ia akan berpindah mencari sasaran lain. Namun, semenjak pernikahan ibunya dan Jiho, ada yang berbeda dari pria itu. Ikatan imajiner yang menyatukan dua keluarga seakan turut mengikat jalan kehidupan mereka.

Jennie menggelengkan kepala. Ia berpikir terlalu jauh. Kim Mingyu hanyalah satu faktor tambahan yang kini menjadi keluarganya, tentu saja hidup mereka akan lebih sering bersinggungan. Mingyu adalah saudaranya, dan akan terus seperti itu.

Jennie akan menikah dan ia telah memilih untuk hidup bersama Rowoon. Hubungan mereka berawal dari nol. Dengan segala kekurangan dan kelebihannya, mereka telah bertahan hingga titik ini. Jennie tak punya waktu untuk ragu. 

Coba saling jujur satu sama lain.

Apapun maksud tersirat yang coba Mingyu sampaikan padanya, Jennie tak peduli. Bila memang ada rahasia yang Rowoon sembunyikan–dan bila memang buruk adanya–, suatu saat akan terungkap. Jennie menarik nafas panjang: ia tak akan berubah pikiran lagi untuk menikahi Kim Rowoon.

*

“Ada yang telat nih~” Jisoo melagu, saat ia melihat Jennie baru tiba setelah seluruh persiapan pagi selesai dikerjakan.

“Iya–gue berangkat dari rumahnya Jiho soalnya. Mana pakai sarapan dulu,” Jennie beralasan, buru-buru mengancing seragam kerjanya di ruang loker.

“Rumahnya Jiho? Lu nginep di sana? Tumben.”

“Ibu gue ngajak makan malam bareng. Sekalian ngomongin rencana pernikahan sama Rowoon.”

“Oh,” balas Jisoo singkat.

Jennie melirik sahabatnya. Jika ia mempertanyakan kesiapannya untuk menikah sama seperti ibunya atau Mingyu, Jennie bersumpah akan berteriak.

“Terus kapan lu mau mulai cari gaun pengantin? Kalau butuh stylist, ada temenmu nganggur nih,” ucap Jisoo dengan dagu terangkat, pura-pura menyibakkan helaian rambut. Keduanya saling melemparkan cengiran dalam makna yang berbeda. Yang satu tampak antusias untuk pernikahan sahabatnya, sementara yang lain bersyukur karena tak dilemparkan pertanyaan yang memantik keraguan.

“Kita harus cari ke mana, ya? Ke butik-butik yang sewain gaun aja kali, ya?” tantang Jennie. “Nggak keburu kalau bikin dari nol.”

“Oke. Siapa takut,” balas Jisoo, sambil berpose ala model di ambang pintu. “Besok, gimana? Kita bakal cari gaun pengantin yang chic, modis, simpel, dan pastinya murah tapi nggak norak.”

Jennie tak dapat menahan gelak tawa melihat tingkah sahabatnya. Ia merangkul Jisoo, yang tawanya turut merebak bersamanya. Keduanya bersama meninggalkan ruangan loker, menuju stasiun kerja masing-masing. Hari masih panjang, tapi rasanya Jennie tak sabar untuk berbelanja dengan Jisoo besok.

*

Langit-langit papan gypsum rumah sakit menjadi benda pertama yang tertangkap mata oleh Bu Suji malam itu. Tubuhnya berbaring di ranjang, terbungkus oleh selimut tebal yang menutupi dada hingga ujung kaki. Mulutnya terasa kering dan matanya terasa pedas karena menatap lampu fluoresen terlalu lama.

Meski masih terasa kaku, Bu Suji coba menggerakkan tangan kanannya. Rasanya begitu berat, tapi wanita tua itu tak berhenti mencoba. Ujung jarinya menyodok sesuatu yang keras. Suara menggerutu menyusul, dari kepala yang berbaring di tepi tempat tidur. Bu Suji mengamati si pemilik kepala yang perlahan menegakkan diri, dengan kelopak mata yang masih menutup. Begitu berat rasanya membuka mata bagi Jennie, sang cucu, yang tertidur di sisinya. Kepalanya perlahan memroses situasi, menyadari sang nenek sedang menatapnya sayu.

“Nenek?” panggil Jennie dengan suara serak. Seakan tersambar kilat, tubuhnya segera bereaksi saat melihat Bu Suji telah terbangun dari tidur yang panjang. Jennie merunduk, menggenggam tangan Bu Suji yang menggapai-gapai udara. “Nek, ini Jennie.”

“Halo, Sayang,” sapa Bu Suji lirih. Ia mengenali wajah muda itu. Sang nenek meletakkan tangannya di pipi Jennie, yang telah menumpahkan air mata. “Udah berapa lama Nenek tidur?”

“Sekitar dua hari,” jawab Jennie, sesenggukan. “Nenek lapar? Haus? Mau aku ambilkan sesuatu?” 

“Air aja, Sayang. Leher Nenek rasanya kering,” balas Bu Suji. Dengan sigap, Jennie menuangkan air secukupnya ke dalam gelas. Ia menekan tombol di sisi tempat tidur, agar bagian punggung ranjang dapat otomatis menjadi tegak.

Jennie menarik kursi yang ia duduki lebih dekat ke sisi tubuh Bu Suji, membawakan segelas air lebih dekat ke bibir wanita tua di hadapannya. Dengan berhati-hati, Bu Suji menyesap air, merasakan segarnya cairan itu melapisi kerongkongan.

“Udah cukup. Terima kasih, Sayang.” Bu Suji menghela nafas lega, menyandarkan punggungnya. “Ternyata mesin tua dalam dada Nenek masih berjalan, ya. Nggak nyangka. Nenek kira aku sudah ada di surga, disuguhin air segar sama malaikat cantik.”

Jennie meremas lengan neneknya yang ringkih dan berkeriput. Ia menyahut, “Nenek ngomong apa, sih. Nenek masih keliatan kayak remaja 17 tahun.” 

Bu Suji tertawa lemah, lalu terbatuk-batuk.

“Nenek mau makan? Ada puding roti yang aku beli sebelum ke sini,” Jennie menawarkan, sambil menghapus jejak air mata di pipinya. Ia merogoh ke dalam kantung kertas yang ada di meja samping ranjang. “Lembut, manis, jadi gampang dimakannya. Aku suapin, ya?”

 Bu Suji tak sanggup menolak, toh perutnya keroncongan. Ia mengamati cucunya yang sibuk mencari sendok di dalam kantung. Sementara itu, gedung-gedung kota di balik jendela kamar inap menjadi pemandangan dalam keheningan. Seluruhnya tertutup oleh kegelapan, bersama pendaran sinar dari beberapa jendela. Titik-titik lampu terus bergerak di salah satu sudut kota, seperti kunang-kunang yang menyusuri tepian sungai. Ternyata, Bu Suji masih bertahan. Ia tak ingat detail kejadian terakhir sebelum kesadarannya menurun.

Yang Bu Suji ingat, saat itu matahari masih tinggi di balik jendela. Ia meneriakkan sesuatu, teringat pada putranya yang telah tiada, dadanya sakit, lalu segalanya gelap.

“Jennie,” panggil Bu Suji.

“Iya, Nek?”

“Apa yang terjadi sebelum Nenek pingsan?”

Mulut Jennie menutup rapat. Sendok dan wadah puding roti yang ia genggam kembali diletakkan di meja. “Kayaknya … nggak usah diingat-ingat lagi, Nek. Aku takut nanti Nenek stres lagi. Dokter Baek bilang Nenek harus istirahat total,” alasan Jennie kemudian. 

Bu Suji menarik nafas dalam-dalam. Jika cucunya enggan bercerita, berarti situasi terakhir tak menguntungkan untuknya.

“Kalau kamu nggak mau cerita, ya, sudahlah,” gumam Bu Suji. “Tapi, setidaknya beritahu Nenek. Apapun masalah yang terjadi hari itu, apakah sudah selesai? Nenek nggak mau kamu menanggungnya sendirian.”

Jennie menarik ujung bibirnya, melengkungkan senyum yang lebar. Ia menggenggam tangan sang nenek dan berkata, “Nenek nggak usah khawatir. Seperti permintaan Nenek, aku dan Rowoon sudah memutuskan akan menikah minggu depan.”

Saat menyampaikan berita itu, tak ada yang Jennie harapkan selain wajah gembira memancar dari wajah sang nenek. Namun, hal itu tak didapatkannya. Bu Suji terdiam lama, mengalihkan pandangan pada sudut lain ruangan. Ia menatap jauh, seakan sebagian dirinya hilang meninggalkan kamar itu.

“Nek?” panggil Jennie khawatir. “Kenapa? Itu berita bagus, kan? Kan Nenek sendiri yang meminta aku dan Rowoon segera menikah.”

Sang nenek tak melontarkan kata balasan, membuat Jennie heran. Karena tak urung mendapatkan tanggapan, Jennie mencoba meyakinkannya lebih jauh. 

“Nek, aku melakukan ini tanpa paksaan siapapun. Memang benar, aku dan Rowoon sudah terlalu lama bersama. Harusnya, kami menikah sejak dulu dan mengesampingkan ambisi masing-masing,” Jennie menjelaskan. “Makanya, Nenek harus cepat sehat, ya? Nanti kita bikin acara sederhana aja di rumah.”

Bu Suji menumpuk tangannya di atas jari-jari Jennie yang masih menggenggamnya. Ia bertanya lembut, “Kamu bahagia dengan keputusan ini, Nak?”

Bibir Jennie mengatup. Ia mengangguk pelan.

Chapter 47: h-5 to the wedding.

Chapter Text

Kejutan menyenangkan singgah di Arkate pagi itu. Kim Jiho, sang pemilik kantor konsultan, mengira akan butuh waktu lebih lama untuk meyakinkan Kim Rowoon untuk menjalin kerja sama dengannya. Lututnya gemetar ketika direktur muda dari Terrahaus Property itu muncul di ujung tangga, tampak gagah dalam balutan jas berwarna abu-abu tua. Di sampingnya, Lisa Manoban setia mendampingi.

“Gimana di jalan? Udah macet, ya, pagi-pagi gini?” tanya Jiho basa-basi, setelah menjabat tangan calon menantu dan sang sekretaris.

“Cukup padat, tapi untungnya nggak sampai macet,” jawab Rowoon lugas, menebar senyum korporat di wajah. “Maaf, ya, Pak Jiho, saya hubungi mendadak semalam.”

“Nggak masalah. Namanya bisnis nggak kenal waktu,” balas Jiho. Tanpa membuang waktu, ia memimpin jalan mereka menuju ruang rapat yang telah siap menyambut para tamu penting.

Setiap mata karyawan Arkate dapat menangkap jelas kehadiran Rowoon dari balik bilik kerja mereka. Tak hanya memiliki tubuh yang proporsional, parasnya sendiri sudah dapat menyihir setiap mata lawan jenis di dalam ruangan. Saat pria itu berjalan melintasi lorong yang memisahkan dua sayap area kerja Arkate, Rowoon segera menjadi pusat dari dunia para lawan jenis.

Dari mejanya, Mingyu dapat mendengar beberapa wanita saling berbisik, tersenyum malu melihat wajah baru yang menjadikan lorong bak area lintas peragawan. Mereka saling mengikik dan menunjuk ke arah Rowoon. Tak hanya ia yang menjadi daya tarik baru, tapi juga Lisa Manoban yang pagi itu tampak anggun dalam balutan gaun berwarna hitam. Seperti biasa, rambutnya diikat ketat membentuk sanggul minimalis.

Mingyu melihat Rowoon dan Lisa berjalan melewati mejanya, tapi mereka tak saling bertegur sapa. Menoleh pun tidak. Setelah malam yang sempat mereka lewatkan bersama, sepertinya Mingyu tak mendapat tempat dalam benak Lisa.

Bukannya ia keberatan, karena ini bukan pertama kalinya Mingyu menjadi perhentian semalam bagi seorang wanita. Ia justru kagum pada keangkuhan di wajah Lisa yang terpasang jelas. Sebuah topeng yang Mingyu kenali. Ia berpikir, betapa melelahkannya menjadi dua orang yang berbeda dalam berbagai kesempatan.

Mata Mingyu masih mengikuti dua sosok tamu itu, hingga wujud mereka begitu mungil di matanya. Keduanya masuk ke dalam ruang rapat kantor Arkate, duduk bersama Jiho.

“Gue kayak lagi de javu,” celetuk Seungcheol, dari bilik di samping meja kerja Mingyu.

“Maksudnya?”

“Inget nggak waktu lu pertama kali muncul di kantor dan kerja di sini? Auranya mirip,” jawab Seungcheol, dengan cengiran menghiasi bibir. “Walau ceritanya agak beda, sih. Nggak pernah ada yang nyangka kalau Jiho punya adik tiri.”

“Makasih banget, bro. Gue jadi merasa spesial,” balas Mingyu ketus, sambil menyeringai.

Seungcheol mengangkat bahu, lalu mengalihkan pandangan ke arah ruang rapat. Di balik dinding-dinding kacanya, ia dapat melihat Rowoon dan Lisa duduk berhadapan dengan sang CEO Arkate. 

“Terkadang, kalau ngeliat Rowoon, gue ngerasa dunia nggak adil,” gumam Seungcheol. Mingyu mendengarkan seniornya bicara, tapi tak mengalihkan pandangan dari layar komputer. “Ganteng, tinggi, masih muda, kaya. Anak tunggal. Pewaris bisnis keluarga. Kurang apalagi coba?”

“Nggak ada orang yang sempurna,” balas Mingyu.

Seungcheol membuang napas panjang, lalu berujar, “Gue juga maunya percaya itu. Tapi gue belum menemukan kelemahannya dia.”

“Nggak ada untungnya juga lu cari kelemahan dia.” Sambil bicara, Mingyu menggunakan keyboard dan mouse dengan cekatan, mengejar target pekerjaannya sebelum makan siang. “Kalaupun ada, gue salut dia berusaha keras nutupinnya. Pasti capek banget berusaha tampil sempurna di hadapan semua orang. Makanya dia dan Lisa cocok.

Mingyu melirik Seungcheol, yang sepertinya tak menggubris kata-kata terakhirnya.

Seungcheol mengangkat alis tinggi-tinggi. Ia berkata, “Gue kaget lu malah bersimpati ke dia.”

“Lebih tepatnya kasihan, sih. Bayangin lu harus menyenangkan setiap orang yang lu temuin. Dan nggak ada satupun dari orang-orang terdekatnya yang peduli.”

“Tapi dia, kan, punya Jennie. Pasti dia yang paling ngerti Rowoon, dong?”

Mingyu menarik diri dari perangkat komputernya, menyandarkan diri pada punggung kursi. Tangannya bersedekap, menatap sahabatnya dengan wajah serius. Dengan suara rendah, Mingyu berkata, “Di mana-mana kuantitas nggak akan mengalahkan kualitas, bro.”

“Hah? Maksud lu apa sih?” Seungcheol bingung.

“Hubungan yang umurnya udah bertahun-tahun nggak menjamin bahwa mereka punya ikatan yang kuat. Siapapun akan kalah dengan orang yang bisa memberikan diri mereka sepenuhnya ke pasangan lu. Dan orang di luar hubungan ini punya potensi jadi pemenang sebenarnya,” Mingyu menjelaskan.

Seungcheol memutar matanya, mencoba mencerna kata-kata Mingyu perlahan.

“Untuk seseorang yang nggak pernah punya hubungan yang serius, gue jujur kaget lu bisa ngomong gitu,” ucap Seungcheol terkagum-kagum.

Mingyu menghadap kembali ke layar komputer, seraya bergumam, “Belajar dari pengalaman pribadi, sih.”

*

Para orang penting Terrahaus baru meninggalkan ruang rapat kantor Arkate menjelang jam makan siang. Rowoon dan Lisa menjabat tangan Jiho kembali di akhir sesi pertemuan mereka, sebelum meninggalkan ruangan. Keduanya tampak lebih rileks dibandingkan saat tiba di pagi itu.

Bisa jadi, mereka sudah kelaparan karena mendekati jam makan siang, ucap Mingyu kepada dirinya sendiri. Ia berpura-pura tak melihat Rowoon dan Lisa yang melewati meja kerjanya, tapi kembali menatap punggung para tamu yang bergerak menjauh. 

Di ujung ruangan, Rowoon memisahkan diri sejenak dari Lisa.

“Lisa, aku ke toilet sebentar, ya. Kamu duluan aja ke mobil,” pinta Rowoon, tapi wanita di sampingnya menggeleng.

“Aku tunggu di ujung tangga aja,” balas Lisa lembut, melemparkan senyum. Rowoon tak melawan. Ia meninggalkan Lisa menuju area toilet di sisi sayap barat kantor. Sementara itu, Lisa melangkah menuju tangga dan bersandar pada pagar tangga.

Mingyu punya ide gila. Ia bangkit dari kursinya, meninggalkan bilik kerja sambil membawa wadah tumbler di satu tangan. Ia bersikap tenang, menjaga raut wajah agar tak tampak tegang. Langkahnya perlahan membawanya melewati ambang pintu, menuju koridor tangga tempat Lisa sedang menunggu sambil mengetuk layar ponselnya.

“Hai,” sapa Mingyu. Lisa meliriknya singkat, lalu kembali menatap layar di tangan. “Apa kabar, Lisa? Udah lama kayaknya nggak ketemu.”

“Baik,” jawab Lisa ketus. Suasana kembali hening. Mingyu meremas wadah minuman di tangannya, berpikir keras untuk mencairkan suasana yang canggung.

“Aku mau beli kopi di kafe dekat sini. Kamu mau? Sekalian beliin buat Rowoon juga. Kopinya enak, kok,” ujar Mingyu.

Lisa masih tak menggubrisnya.

Pilihan wanita itu untuk tak bereaksi terhadap basa-basinya, membuat Mingyu tak segan melemparkan jurus terakhir.

“Jadi,” ucapnya berlambat-lambat. “Kamu udah denger Rowoon dan Jennie akan menikah dalam waktu dekat?”

Strategi Mingyu berhasil. Wanita itu berhenti mengutak-atik ponselnya, memasukkan gawai itu ke dalam tas kerja. 

Lisa melipat tangannya di depan perut, melemparkan tatapan dingin pada Mingyu. Ia berucap singkat, “Iya, aku tahu.”

“Hm.” Mingyu menggumam dan mengangguk lemah. “Terus, apa yang akan kamu lakukan?”

“Maksudmu apa?”

Mingyu mendengus. “Udah deh, Lisa. Nggak usah pura-pura bodoh. Kamu cinta kan, sama Rowoon? Kamu yakin rela ngebiarin pria idaman kamu menikah dengan orang lain?”

Rahang Lisa mengencang.

“Apapun yang aku lakukan itu nggak ada urusannya sama kamu, Mingyu,” balas Lisa sambil membersut.

“Oh, ada. Tentu ada.” Bibir Mingyu melengkungkan seringai. “Jennie bagian dari keluargaku sekarang. Kalau kamu atau Rowoon sampai bikin dia nangis, aku akan maju untuk ngelindungin dia.”

Lisa melepaskan tawa penuh cemooh ketika mendengar kata-kata Mingyu.

“Hebat banget, ya, si Jennie. Selalu ada orang yang maju buat ngebelain dia. Emang, sih, jadi orang baik itu memang nggak ada ruginya.”

Mingyu menangkap nada sarkastik dalam ucapan itu, membuatnya berpikir bahwa Lisa akan nekat melakukan apa saja untuk menghancurkan rencana pernikahan Rowoon dan Jennie.

“Apapun rencana kamu, aku harap ini jadi terakhir kalinya kita ketemu,” ucap Mingyu kemudian. “Kalau sampai kamu muncul di pernikahan Jennie, aku nggak akan segan narik kamu keluar.”

Lisa memutar matanya saat mendengar ancaman dari pria di hadapannya, yang membungkus kata-kata itu dalam senyuman. Ia melangkah mendekat, berbisik dekat di wajah Mingyu.

“Tenang aja, Mingyu,” bisik Lisa. “Aku juga nggak ada rencana datang ke acara itu.”

Dari balik punggungnya, Mingyu mendengar suara langkah kaki yang mendekat ke arah tangga. Ia menoleh, dan melihat Rowoon sedang menatapnya dan Lisa dengan bingung.

“Ada apa, Lisa?” tanya Rowoon pada sekretarisnya. Tubuhnya menegang. Sambil menarik lengan Lisa menjauh dari Mingyu, ia melemparkan tatapan curiga pada sang arsitek Arkate. “Atau justru aku yang ngeganggu?”

“Nggak ada apa-apa, Rowoon,” bantah Lisa, meremas tangan Rowoon yang menggenggam lengannya. “Mingyu cuma ngasih tahu dekat sini ada kafe enak. Kamu belum ngopi, kan? Kita mampir sana dulu, yuk.”

Mingyu terdiam, menyaksikan dua orang di hadapannya saling berbagi bahasa tubuh yang gamblang.

“Makasih rekomendasinya, Mingyu. Kami pergi dulu,” ujar Lisa buru-buru, menarik Rowoon untuk bersama-sama menuruni tangga. Rowoon, yang menatap Mingyu tajam, menuruti ajakan sekretarisnya.

Sekali lagi, Mingyu menatap dua punggung itu menjauh. Ada rasa mengganjal di dadanya, yang membisikkan hasrat untuk melakukan sesuatu agar Jennie tak patah hati.

Chapter 48: h-4 to the wedding (1)

Notes:

baru nyadar kalo Jennie nggak keliatan kayak karyawan teladan karena kabur dari tempat kerja mulu wkwk. reaksi Kepala Chef (yang akhirnya punya nama!) aku tambahkan di chapter ini ya!

Chapter Text

Dari semua orang yang ia kenal dalam hidup, Chef Domenico Sartori–atau biasa disapa Chef Dom–adalah salah satu orang terbaik yang pernah Jennie kenal di dunia kuliner.

Ia telah melalang buana di dunia kuliner sejak muda, dengan pengalaman kerja di restoran lebih dari 30 tahun. Kehadirannya di dapur Nero&Bianco adalah inti yang menggerakan setiap lini, menjaga ritme hingga kesolidan kerja para karyawan. Di tangan Chef Dom, setiap anak baru yang arogan akan tunduk padanya di akhir hari. Tak terkecuali Jennie, yang telah ditempa oleh tangan dingin Chef Dom selama 4 tahun terakhir.

Berawal dari minimnya keterlibatan Jennie pada sebelum dan setelah jam operasional Nero&Bianco belakangan ini, memicu perhatian sang pemimpin dapur. Chef Dom yang keturunan asli Italia memanggil Jennie ke kantornya yang terletak di belakang gedung restoran, bersebelahan dengan ruang loker dan gudang.

Jennie tahu suatu saat ia akan dipanggil juga. Cepat atau lambat, Chef Dom akan menjatuhkan konsekuensi pada kelalaian Jennie. Di depan pintu kantor Chef Dom, Jennie menarik nafas panjang. Ia mencoba untuk tak memikirkan konsekuensi terburuk, meski pikiran itu sulit pergi dari benaknya.

Sang koki muda mengetuk pintu. 

“Masuk,” ucap seseorang dari dalam. Jennie memutar knop dan melangkah masuk. Dalam ruangan yang hanya kamar sisa berukuran 3x3 meter persegi, Chef Dom yang berbadan besar tampak janggal di balik meja kerjanya. Kakinya melipat, tumit sepatunya bertumpu pada permukaan meja. Kepalanya tersembunyi di balik majalah kuliner.

Di sisi kanan, terdapat sebuah lemari pajangan dari kayu tua. Setiap raknya terisi oleh beragam barang, didominasi oleh pigura dalam berbagai ukuran dan bentuk. Setiap ruang kosong yang tersisa diisi dengan buku-buku referensi, majalah, dan map arsip yang ditumpuk sekedarnya.

“Silakan masuk, Jennie.” Suara rendah dengan logat Italia yang kental itu sulit dibantah, sehingga Jennie menurut saja. 

Perempuan itu berdiri beberapa langkah dari tepi meja, sebelum akhirnya Chef Dom melipat majalah dan meletakkannya di meja. Matanya yang berwarna biru menatap Jennie lurus, hingga sang koki muda membuang muka. Ujung jari Chef Dom  mengetuk meja.

“Enaknya saya mulai dari mana, ya?” sang koki melemparkan pertanyaan retorikal. “Kalau boleh langsung ke intinya, saya sih maunya memecat kamu.”

Jennie merasakan bulu kuduknya berdiri. Ia tahu Chef Dom tak akan menoleransi tingkahnya belakangan ini.

“Saya lihat sepertinya kamu sering terlambat belakangan ini,” ujar Chef Dom melanjutkan. Kursi kerjanya berbunyi keriang-keriut saat sang koki berputar ke kiri dan kanan, membuat Jennie gugup. Pria itu bangkit dari meja kerjanya, berjalan menuju lemari pajangan. “Belum lagi, setiap malam kamu pulang lebih cepat tanpa membantu membersihkan stasiun.”

Jennie mengatupkan bibirnya rapat. Ia hanya menunduk, memandang sepatunya yang kotor. Tangannya bersembunyi di balik punggung, jari-jarinya saling mengait erat.

“Kamu ingat apa yang selalu saya tegaskan ketika bekerja di dapur saya?” tanya sang kepala koki.

Lidah Jennie terasa kaku, tapi ia harus menjawab. “Fokus dan saling menjaga rekan kerja, Chef,” jawabnya.

Chef Dom membuang napas panjang, mengacak rambutnya yang ikal dan berwarna kelabu. “Terkadang, saya heran kenapa kalian anak muda menanggapi kata-kata saya dengan serius. Bukan berarti itu hal jelek, sih. Tapi kali ini saya kesal juga jika kalian saling menjaga di luar jam kerja,” gerutu pria paruh baya itu.

“Saya minta maaf, Chef. Saya tahu saya salah,” Jennie menjelaskan sambil menundukkan kepala. “Saya menyadari performa saya di dapur tidak baik, Chef.”

Chef Dom bergumam rendah, tangan terlipat di depan dada. 

“Kalau Chef mau memotong gaji saya, saya rela,” Jennie buru-buru menambahkan. “Atau … jika … Chef tidak dapat menolerir saya–”

“Oh, tentu saja, itu akan saya lakukan,” ucap Chef Dom ringan. “Memotong gajimu, maksud saya.” 

Pria itu memandang ke rak pajangan, mengambil sebuah pigura. Sambil membersihkan debu pada kaca pigura, Chef Dom bertanya, “Jennie, kamu tahu apa yang paling penting bagi orang Italia?” 

Jennie mendongak, lalu menggeleng lemah.

“Dalam budaya orang Italia, la famiglia–keluarga–adalah fondasi dari kehidupan masyarakat. Kami percaya, hubungan keluarga yang erat berperan besar dalam membentuk karakter setiap individu. Bahkan, keluarga punya peran besar dalam membentuk pribadi sebuah negara.

Aku dibesarkan di Sisilia dan tinggal bersama kakek dan nenekku. Nenek buyutku pun masih tinggal satu atap dengan kami. Jika berjalan satu blok saja, kamu dapat menemukan rumah-rumah yang dihuni oleh seluruh Keluarga Sartori. Seakan-akan kami sudah membentuk satu desa sendiri. Kamu tahu apa artinya?”

“Tidak, Chef,” jawab Jennie singkat.

“Artinya, ke manapun kamu pergi, akan selalu ada keluarga yang punya waktu untukmu. Saat kamu kesulitan, bahagia, punya makanan berlebih, lapar, tak ada teman untuk berpesta, selalu ada keluarga yang siap menerimamu kapanpun. Indah, kan?”

Chef Dom mengembalikan foto yang ia pegang ke tempatnya. Jennie melirik, menangkap sosok wanita tua yang tersenyum, sambil mengangkat sebaskom jeruk yang ranum. Ia berbagi fitur wajah yang sama dengan Chef Dom.

“Jadi,” ia melanjutkan. “Keberadaanmu bagi nenekmu sangatlah penting. Begitupun sebaliknya. Begitu juga peranmu di dapur bagi rekan-rekan kerjamu. Kenyataannya, mereka tidak protes pada saya meski kamu tidak ada di dapur. 

Tingkah kalian sebenarnya agak merepotkan bagi saya, tapi begitulah keluarga.”

Chef Dom melepaskan tawa yang membahana, seakan sedang memeluk hati Jennie dengan kehangatan. Pria itu berjalan mendekat, menepuk bahu Jennie dengan tangannya yang besar. Wajahnya menyunggingkan senyuman lebar.

“Jadi intinya, kamu tidak usah terlalu memikirkan pekerjaan dan tanggung jawab. Semua rekan kerjamu di sini dapat menanggungnya,” ujar Chef Dom. “Tenang saja dan jaga nenekmu di pagi hari, sampai beliau sembuh. Kembalilah ke restoran setelah jam makan siang. Jika kamu butuh uang lembur, tinggal saja lebih lama untuk mencuci seluruh piring di malam hari.”

Jennie ingin menangis. Di satu sisi, ia sangat berterima kasih karena sang kepala koki masih mengizinkannya bekerja. 

Dari barisan pigura yang berbaris pada rak-rak lemari, Jennie tak dapat menghitung berapa banyak anggota keluarga Chef Dom. Jujur saja, Jennie merasa iri karena beliau memiliki keluarga sebesar itu. 

Dalam hidupnya, Jennie hanya memiliki sang ibu dan nenek. Meski ada Jisoo dan Bambam, mereka tetap saja para sahabat yang telah ia kenal bertahun-tahun, dan kini menjadi bagian dari keluarganya. Belum lagi kehadiran Jiho dan Mingyu. Yang luput dari benak Jennie adalah keluarga besar seluruh rekan sejawatnya di Nero&Bianco.

“Mulai besok, kalau kamu datang dengan perut keroncongan, akan selalu ada jatah makan siang tersimpan untukmu. Capisce?” Chef Dom menambahkan. 

Jennie mengernyitkan mata, menahan air mata yang telah berkumpul agar tak jatuh ke pipi. Dengan lantang, ia membalas, “Sì, Chef!

*

Langkah Jennie terasa lebih ringan hari itu setelah mendapat izin resmi dari Chef Dom untuk meninggalkan tempat kerja lebih awal. Ia sedang mengganti seragamnya dengan baju biasa di ruang loker, ketika Jisoo menerobos masuk.

“Jadi, si bos kasih lu lampu hijau?” tanyanya penasaran. Jennie mengangguk. Jisoo turut bernapas lega. “Syukur, deh! Gue kira lu bakal dipecat!”

“Gue pikir juga gitu awalnya,” sahut Jennie, sambil memakai jaket. “Tapi, gaji gue bakal dipotong sampai nenek gue bisa keluar dari rumah sakit. Ya udahlah, nggak papa. Mungkin gue perlu ngorek tabungan sedikit, tapi masih bisa bayar tagihan bulanan.”

“Tenang aja, ada gue dan Bambam ini. Kalau lu laper tinggal lari ke kosan gue, oke?” Jisoo mengacungkan jempol, membuat Jennie nyengir lebar.

“Gue pergi dulu ke rumah sakit, ya. Nanti setelah jam makan siang gue usahain balik cepat,” ujar Jennie. Ia menutup pintu loker dan menarik restleting jaket hingga kerahnya menutupi leher.

“Oke. Hati-hati, ya, Jen! Kabarin kalau butuh apa-apa!”

Jennie melambaikan tangan, sembari melangkah keluar pintu.

 

Sesampainya di kamar inap nomor dua belas RS Anam, ternyata kejutan hari itu belum berakhir. Langkahnya terhenti ketika mencoba melewati pintu yang tak menutup rapat. Jennie menggesernya membuka, sayup-sayup mendengar gelak tawa yang berasal dari dalam kamar. Ia berjalan masuk. Matanya membelalak ketika melihat Kim Mingyu sedang duduk sambil mengupas buah apel di sisi tempat tidur. Punggung tempat tidur Bu Suji dalam posisi terangkat, membuat sang wanita tua dalam posisi duduk.

Mingyu menjadi orang yang pertama kali menyadari kehadiran Jennie, tapi ia tak mengatakan apapun. Ia melambaikan tangan yang sedang menggenggam pisau buah.

Gelagat Mingyu membuat Bu Suji menoleh dan semringah melihat Jennie di ujung tempat tidur.

“Jennie-ku sudah datang!” sapa Bu Suji riang. Meski masih kurus, air muka sang nenek tampak lebih segar.

“Mingyu … kok, kamu di sini?” tanya Jennie bingung. Ia mencoba memroses kombinasi tak biasa dari dua orang di hadapannya, tapi tak menemukan jawaban.

Mingyu angkat bicara, “Tadi aku abis rapat di luar bentar sama klien. Karena jamnya nanggung untuk balik ke kantor, aku sekalian mampir ke rumah sakit untuk jenguk nenekmu. Sekalian nunggu jam makan siang.” Pria itu menggigit sepotong apel yang ia kupas sendiri, lalu menyodorkan potongan lain pada Jennie dengan entengnya. “Kamu mau apel?”

“Ng, nggak usah,” balas Jennie, menggenggam erat tali pegangan tas di bahunya. “Memangnya … Nenek ingat sama Mingyu?”

“Awalnya Nenek nggak ingat,” aku Bu Suji. “Tapi, setelah dia cerita soal jempol kaki yang patah, Nenek jadi ingat lagi. Mingyu ini yang teman SMA kamu, kan? Yang pernah ke sini temenin kamu malam-malam?”

Mingyu melemparkan pandangan ke arah Jennie sambil mengangkat alis, tampak takjub karena Bu Suji masih mengingat kehadirannya dengan jelas. 

“Nenek ingatannya masih bagus. Kayaknya besok bisa, deh, pulang ke rumah,” canda Mingyu, membuat Bu Suji terkekek sambil menepuk kepala pria itu lembut. “Kalau besok lemas lagi, saya datang lagi bawa cerita lucu lainnya.”

“Nenek dengan senang hati nungguin kamu dateng, Nak,” ucap Bu Suji. Ia melepaskan napas panjang yang dramatis. “Sayangnya, Jennie sebentar lagi mau nikah. Kalau dia jomblo, udah Nenek jodohin sama kamu.”

“NENEK!” teriak Jennie, matanya membelalak.  Ia tak percaya Bu Suji bisa dengan entengnya melemparkan candaan itu. “Kok ngomongnya gitu, sih?!”

Mingyu dan Bu Suji terkejut mendengar pekikan.

“Nenek cuma bercanda, Jennie.” Bu Suji menukas. “Maaf, ya.”

Mingyu menatap dua wanita di hadapannya bolak-balik. Dua wanita yang terpaut jauh usianya. Saat ini, di matanya mereka seakan sedang bertukar jiwa. Yang satu tampak gembira dan terus tertawa seperti anak muda, sementara yang lain tampak kusut dan layu seperti batang pohon tua.

Chapter 49: h-4 to the wedding (2)

Notes:

bab ini agak panjang, ya. semoga saat kamu membaca, terasa emosinya^^

Chapter Text

Menjelang jam makan siang, perut Mingyu sudah keroncongan. Meski telah memotong dan berbagi apel dengan Bu Suji, ia masih belum kenyang.

“Jennie,” panggil Bu Suji pada sang cucu yang sedang duduk sambil membolak-balik halaman majalah rumah sakit, yang entah mengapa terselip di rak bawah meja di samping ranjang. “Temenin Mingyu cara makan sana. Kamu juga pasti lapar, kan?”

Jennie mengerutkan kening. Sebenarnya, siapa cucu Bu Suji di ruangan ini? Dalam waktu dua jam, Mingyu telah menjadi kesayangan baru sang nenek. Semenjak ia datang, kursi di samping tempat tidur yang biasanya Jennie duduki telah berpindah tahta pada Mingyu. Bahkan ketika pria itu bermaksud bertukar tempat, Bu Suji menahannya pergi.

Sebagai wanita dewasa, Jennie merasa segan untuk melemparkan protes. Bisa-bisa, neneknya hanya akan tertawa karena menjelang usia kepala tiga ia masih saja tantrum. Namun, bagi Jennie, sikap Bu Suji yang kelewat hangat pada pria yang baru ia temui dua kali justru yang paling ajaib.

Jennie tak membantah. Ia melempar majalah kembali ke tempatnya, lalu berdiri. “Oke,” balasnya singkat, dengan wajah masam. “Ayo, Mingyu. Cari makan di kantin aja.”

Mingyu mengangguk, seraya berpamitan pada Bu Suji. “Nek, saya makan siang dulu, ya. Bentar lagi waktunya Bu Suji makan juga, kan?” ucap Mingyu. “Setelah makan nanti, saya pamit pulang, ya.”

Bu Suji meraih tangan Mingyu dan menepuknya lembut. Ia berkata, “Tapi sebelum kamu pulang, balik ke kamar lagi, ya. Pamit yang sopan sama nenek.”

Mingyu menebarkan senyuman singkat. Di sudut mata, ia melewatkan Jennie yang memutar matanya tak percaya.

“Iya, Nek,” kata Mingyu. “Nanti saya balik lagi ke kamar untuk pamit.”

Tak menunggu lama, Jennie beranjak dari kamar inap itu dengan langkah lebar. Kakinya menghentak-hentak setiap kali ia melangkah, membuat Mingyu bertanya-tanya tentang suasana hati perempuan di depannya. Bahkan hingga mencapai pintu lift, Jennie bersikap seolah Mingyu tak ada di sana. Ia menekan tombol pada panel lift, menunggu hingga sepasang pintunnya terbuka sempurna. Dalam diam, Mingyu mengikuti jejak Jennie. 

Jennie menekan tombol huruf LG saat mereka berada di dalam kotak mesin yang melaju vertikal itu. Mingyu menyandarkan punggung pada dinding lift, kedua tangan bersembunyi dalam saku celana. Ia melirik, menangkap pandangan Jennie yang menatap lurus, tapi kosong.

Tanpa segan, Mingyu menyikut lengan Jennie. 

“Kenapa jutek gitu mukanya?” tanya pria itu dengan nada menggoda. Kotak lift berhenti di lantai dua dengan dentingan rendah. Pintu membuka, tapi tak ada yang melangkah masuk. “Cemburu, ya, nenekmu perhatian sama aku?”

Jennie mendengus. “Idih. Siapa yang cemburu.”

Mingyu nyengir, geleng-geleng kepala.

“Ternyata, nggak cuma cewek-cewek muda aja yang takluk sama kamu, tapi nenek-nenek juga,” lanjut Jennie ketus.

Mingyu terkekek geli. “Siapa yang naklukin nenek-nenek, sih? Aku kan cuma berlaku selayaknya cucu aja. Sama seperti kamu. Nggak mungkin kan aku bicara dengan suara ketus, galak, teriak-teriak, saat bicara dengan Bu Suji?” 

Jennie membuang muka. Bibirnya mengerucut kesal. Kotak lift berdenting lagi, sesaat berhenti di lantai satu.

“Yah, harap maklum. Aku kan nggak punya nenek. Jadi, manja dikit sama nenekmu boleh, dong,” Mingyu menambahkan.

Pernyataan itu membuat Jennie penasaran. “Kamu nggak punya nenek?” tanyanya.

Pria di sampingnya mengangguk.

“Nenek bokap udah meninggal lama. Mendiang bokapku aja udah terhitung kakek-kakek,” Mingyu menjelaskan, melepaskan tawa kecil. Jennie berpikir kata-kata Mingyu ada benarnya. “Belum lagi, orang tua ibuku udah meninggal waktu ia masih muda.”

Bibir Jennie yang mengerucut perlahan rileks, berubah menjadi datar. Ia merasakan siku Mingyu menyenggolnya lagi.

“Jadi, sori, ya, kalau aku caper ke nenekmu. Lain kali nggak lagi, deh. Janji.”

Jennie membuang nafas. “Kalau alasannya itu, mau gimana lagi,” balas Jennie. “Waktu aku baru datang, nggak nyangka kamu bisa buat Nenek tertawa sekencang itu. Paling nggak, aku berterima kasih untuk hal itu.”

Jennie bergantian menyikut lengan Mingyu. Pintu lift berdenting lagi. Mereka telah sampai di lantai dasar rumah sakit.

Gedung kantin yang berdiri sendiri di si selatan rumah sakit masih lengang ketika Jennie dan Mingyu menginjakkan kaki di pintunya. Meski beberapa meja diisi oleh banyak orang, tak ada antrean berarti di tengah ruangan.  Jennie mengikuti Mingyu menuju etalase di mana wadah-wadah makanan berisi kotak-kotak bento siap makan ditumpuk dengan rapi. 

Mingyu memilih mengambil set daging panggang, lengkap dengan nasi dan sayuran. Sementara Jennie mengambil wadah berisi ayam panggang, nasi, dan salad. Mereka menambahkan sebotol teh manis dan jus jeruk, sebelum bergeser ke meja kasir.

“Aku aja yang bayar,” ujar Jennie, menghalangi Mingyu dari mengeluarkan dompetnya.

“Nggak usah, Jen–”

Tapi, Jennie telah memindai kode QR yang tercetak di mesin kasir sebelum Mingyu dapat membantahnya lebih jauh. Tanpa basa-basi, ia mengajak Mingyu untuk menghangatkan wadah mereka di microwave yang dapatkan digunakan gratis oleh pengunjung. Keduanya sedang menggunakan dua mesin yang berbeda, ketika sebuah benda berat menabrak kaki Mingyu, disusul oleh dentuman keras di balik punggung.

DUK!

Ternyata, yang menabrak Mingyu adalah tubuh seorang bocah tambun. Si anak laki-laki menghantamnya keras, hingga tersungkur sendiri di belakang Mingyu. Tubuhnya yang bulat jatuh terjerembab. Tangisnya pecah sejadi-jadinya, menggema ke seluruh dinding kantin.

Jennie merunduk, menarik lengan si anak laki-laki untuk membantunya kembali berdiri. Ia melihat kedua lututnya mulai kemerahan. Di belakang, Jennie dapat mendengar Mingyu mendecakkan lidah. Saat ia ikut berlutut di sampingnya, Jennie mengira Mingyu akan membuat keributan di tengah kantin. Ia salah. 

“Kamu nggak papa?” tanya Mingyu. Bocah laki-laki itu terus menangis. Pipinya yang bulat tampak seperti tomat, bersama derasnya air mata yang mengalir. Mingyu menepuk baju si bocah pada bagian dada, siku, dan celana dengan lembut, membersihkan kotoran yang menempel. “Sakit, ya? Kenceng banget tadi suara jatuhnya. Rumah sakit lantainya licin, makanya sampai jatuh, tuh.”

“Ati-ati, ya, kalau main,” Jennie menambahkan, membantu menghapus jejak air mata di pipi si bocah. “Jangan lari-lari lagi, ya.”

Seorang wanita paruh baya, yang kurang lebih seusia ibu Jennie, menghampiri sambil setengah berlari. Tubuh dan wajahnya yang bulat bagaikan pinang dibelah dua dengan si bocah, yang menghirup ingusnya kuat-kuat.

“Maaf, ya. Cucu saya bandel!” seru si ibu, memasang wajah bersalah.

Mingyu bertumpu pada lututnya sebelum tegak berdiri. “Nggak papa, Bu. Kalau saya nggak ada di situ, bisa-bisa dia malah nabrak meja,” ujar Mingyu, mengusap kepala si bocah. “Udah, anak cowok harus kuat.”

Wanita yang ternyata nenek si bocah menggandeng anak laki-laki itu menjauh. Mingyu melambaikan tangan padanya, tapi si bocah tak membalas. 

Jennie, yang mengamati kejadian itu dalam diam, membantu mengambil bento milik Mingyu dari dalam mesin microwave. Ia menyodorkannya pada pria itu, dan berkata, “Ayo cari meja di luar. Udaranya nggak begitu dingin hari ini.”

Taman rumah sakit yang memisahkan gedung utama dengan kantin tak begitu sedap dipandang. Daun-daun di pepohonan telah berguguran, menumpuk di rerumputan yang telah mengering. Udara yang kering membuat wajah Jennie serasa ditarik. Bila matahari tak mengintip di balik awan, warna taman akan lebih sendu. Musim gugur telah mencapai akhirnya, pikir Jennie, saat melangkah menyusuri jalur pejalan kaki.

“Bentar lagi musim dingin, ya,” celetuk Mingyu, sambil menatap sekeliling. Hati Jennie hampir melompat. Ia mengira pria di sampingnya sedang membaca pikirannya. “Gimana kalau kita makan di gazebo itu?”

Mingyu menunjuk area undakan dengan lantai berbentuk segi enam, dengan atapnya yang mengerucut. Sulur tanaman merambati tiang-tiangnya, membuat permukaannya yang putih tampak kelabu. Jennie ikut saja, karena tak menemukan tempat lain yang nyaman bagi mereka untuk duduk.

Seorang kakek yang duduk di kursi roda, ditemani oleh seorang juru rawat, lewat di depan mereka. Ia bergumam pada perawat yang mendorong kursinya pelan, “Saya juga mau daging panggang seperti anak muda itu.”

“Gimana nguyahnya, kek,” goda si perawat, membuat Mingyu dan Jennie yang mendengarnya saling melemparkan tawa kecil. Setelah sang kakek menjauh, Jennie dan Mingyu duduk di bangku semen dalam gazebo. Di antara tiang-tiangnya yang ramping, mereka menikmati makan siang bersama.

“Abis ini kamu balik ke resto?” tanya Mingyu, menyuapinya dengan sesendok penuh campuran nasi dan potongan daging.

“Iya,” jawab Jennie. “Untuk sementara, aku cuma ambil shift malam. Gajiku kepotong, sih, tapi ya sudahlah. Kasian kalau Haru harus berjaga seharian.”

“Emang nggak ada orang lain yang bisa dimintain tolong?”

“Nenekku agak picky orangnya. Kalau ada orang baru yang nggak dikenal, dia suka ngerasa nggak nyaman. Sama yang kenal aja kadang suka ketus,” ucap Jennie, setelah menelan makanan di dalam mulut.

“Ada aku, kan?” ucap Mingyu enteng. Jennie coba membantah, tapi pria itu keburu menambahkan, “Kalau kamu sungkan, bisa bayar aku–bercanda, Jen. Mumpung mood Bu Suji lagi baik, aku siap nemenin kalau kamu butuh bantuan darurat. Kamu bisa minta tolong kapan aja.”

Jennie tak membalas. Ia menunduk, mengaduk-aduk makanan dalam diam. Waktu yang berselang tanpa kata membuat Mingyu bingung. Ia menyikut lengan wanita itu.

“Hei,” sapa Mingyu. “Kamu tahu, kan, kalau bisa minta tolong aku kapan aja?”

Bukannya mendapat ucapan terima kasih, Jennie justru menampakkan kegelisahan. Mingyu tak mengerti. Apakah ia mengatakan sesuatu yang salah?

“Kadang-kadang, aku nggak ngerti kamu, Mingyu,” ujar Jennie lambat-lambat.

“Maksudnya?”

“Yah … semua yang kamu lakukan ini. Apa ini kamu yang sebenarnya atau bukan. Atau kamu sedang sekedar berusaha terlihat baik di depanku.”

Mingyu melemparkan tawa yang kering. “Sori, aku nggak ngerti.”

“Semenjak kita ketemu, kamu selalu membantuku. Mulai saat aku sakit, mengantar aku ke rumah sakit, dan sekarang ini. Jujur, aku nggak tahu gimana harus bersikap setiap kali kamu ada buatku,” Jennie menjelaskan.

Dengan dahi berkerut, Mingyu mencoba mengartikan kata-kata itu. Ia tak pernah menyadari bahwa apa yang Mingyu lakukan untuk Jennie selama ini ternyata membebani wanita di sisinya.

“Tapi, aku nggak pernah minta balasan apa-apa, kan?--Bentar dulu, deh. Memangnya, kamu pikir aku ngelakuin semua ini untuk mendapatkan sesuatu dari kamu?” tanyanya kemudian. “Jadi, maksudnya … di matamu, apa yang aku lakuin selama ini transaksional, gitu?”

“Aku cuma nggak tahu mana kamu yang sebenarnya,” Jennie buru-buru memberikan alasan. “Apakah kamu ngelakuin ini semua karena kita keluarga, atau ada maksud lain.”

Mendengar kata-kata itu sasanya seperti ada seseorang yang memelintir isi perut Mingyu dari dalam. Semakin lama ia merenungkannya, semakin nyata rasa sakit itu. Mingyu melirik wadah makanannya yang masih tersisa beberapa suap, tapi ia kehilangan nafsu makan untuk menghabiskannya–begitu pun Jennie.

Waktu seketika terasa berhenti, seakan bumi menawarkan keheningan bagi dua insan yang mencoba saling memahami. Namun, alam yang diam justru meluluhlantakkan niat baik yang selama ini coba Mingyu bangun. Ternyata di mata Jennie, Mingyu tak akan pernah memiliki daya untuk membuang jati dirinya sebagai pria perayu.

“Kalau … seandainya, nih. Seandainya yang aku lakukan ini ada maksud lain, kamu gimana?” Mingyu memberanikan diri bertanya.

Jennie membelalak. Ia tak menyangka Mingyu akan menanyakan hal itu.

“Ya … aku harus menjaga jarak dari kamu, Mingyu,” jawab Jennie. “Aku nggak mau di antara kita ada salah paham. Aku nggak mau kamu menanti sebuah harapan kosong, begitupun sebaliknya. Aku bakal nikah tiga hari lagi, Mingyu. Aku nggak mungkin suka sama ka–”

“Gimana kamu tahu kalau kamu nggak akan pernah jatuh cinta sama aku, Jennie?” potong Mingyu.

Sepasang mata itu menatap Jennie lekat-lekat, membuat tengkuknya serasa terbakar. Air muka pria itu melembut, seakan sedang mencoba merengkuh hati Jennie yang telah menjadi milik orang lain. Tapi, sentuhan itu tak akan pernah sampai padanya. Jennie telah memilih Rowoon.

“Itu nggak mungkin, Mingyu,” Jennie membantah.

Mingyu berpaling. Kakinya bergoyang-goyang dengan gelisah. Rahangnya menegang, sebelum ia berkata, “Rowoon–”

Mingyu buru-buru menghentikan dirinya sendiri. Ia tak sanggup melakukan itu pada Jennie. Dirinya yang saat ini tak serendah itu untuk mengadukan sebuah rahasia. Mingyu menelan ludah dan mengangguk. 

“Oke. Kamu tenang aja,” sambungnya kemudian. “Di antara kita, nggak ada yang lebih dari menjadi keluarga.”

Chapter 50: h-3 to the wedding.

Notes:

jeng jeng.

Chapter Text

Mingyu’s POV

Matahari telah menempati posisi tertinggi di langit, tapi Mingyu enggan beranjak dari tempatnya bersandar. Sikunya bertumpu pada puncak dinding parapet setinggi dada, di lantai atap gedung Arkate yang jarang dikunjungi orang. 

Mingyu membuang napas panjang, membuka matanya. Suara riuh rendah kota mengisi gendang telinganya, bersama langit mendung akhir musim gugur yang tak bersahabat. Udara dingin membuat leher dan wajahnya terasa kering. Namun, ia belum mau kembali ke meja kerja meski jam makan siang akan segera berakhir.

Area itu menjadi tempat ideal bagi Mingyu untuk menyendiri, apalagi semalam ia tak dapat tidur nyenyak.

Di tengah malam, ia berbaring ke kiri lalu berbalik ke kanan, menghitung domba, hingga mengatur napas. Semua usaha itu sia-sia. Ada yang mengganjal di dadanya, tapi Mingyu tak tahu apa. Tubuhnya lemah, tapi rasanya familiar. Sudah lama ia tak segundah ini.

Apalagi, setiap kali Mingyu memejamkan mata, wajah Jennie masih menghantuinya Di balik pelupuk mata, ada wajah dengan tatapan sendu yang membuat dadanya berdesir. Rambut Jennie yang panjang, hitam, dan lepek melewati bahu. Pipinya yang bulat dan menonjol setiap kali ia tersenyum. Bibirnya yang mungil, mengerucut setiap kali Mingyu menggodanya dengan canda.

Mingyu ingin mengartikan rasa sakit yang menghimpit dadanya. Ia berpikir, mungkin tekanan darahnya sedang tinggi karena tak tidur semalam. Namun, semuanya terasa normal ketika benaknya terdistraksi oleh pekerjaan atau pemandangan kota. Padahal Mingyu berniat untuk menjenguk Bu Suji lagi hari ini, tapi ide itu buyar ketika ia membayangkan harus bertemu Jennie hari ini.

Ia menggeram rendah–hingga sebuah suara membuat Mingyu melompat kaget.

“Ngapain lu?” celetuk Seungcheol, yang muncul di balik punggung Mingyu.

“Anj–jangan ngagetin, dong,” umpat Mingyu, merasakan jantungnya berdebar hebat. Sahabatnya berjalan mendekat, berdiri di samping Mingyu. Ia meletakkan segelas kopi latte di permukaan dinding pelindung yang mengelilingi atap.

“Lu ngapain masih di sini? Bentar lagi jam makan selesai,” tegur Seungcheol, bersikap seperti seorang senior yang baik. Mingyu tak menjawab.

Tak biasanya, pria di samping Seungcheol tak membalas dengan kelakar. Ia menatap profil Mingyu yang menatap kosong ke arah kaki langit Seoul yang berantakan. Gedung-gedung tinggi muncul seperti menara pertahanan, menghalangi pandangan mereka untuk melihat lebih jauh, akibat ulah oknum yang asal dalam mengatur tata kota.

Seungcheol mendongak, memandang barisan awan putih yang membentang di atas kepala mereka. 

“Kayaknya bakal ujan, nih.”

Mingyu mengerutkan alis.

“Lu ngomong apaan, sih? Orang terang gini,” protes Mingyu. Seungcheol tampak puas dengan tanggapan polos itu.

“Bukan langit. Tapi muka lu, tuh. Mendung banget. Digocek dikit kayaknya bakal ngeluarin kilat.”

Mingyu menyeringai, enggan membalas dengan kata-kata. Ia tak tertarik untuk bercanda saat ini. Seungcheol benar, kepalanya memang penuh.

“Oi. Kenapa, sih, lu?” tanya Seungcheol. “Kusut amat.”

“Nggak papa.”

“Udah nggak usah boong. Sama gue pake pura-pura baik-baik aja. Lu tau, kan, kalau nggak cerita, gue bakal cecar lu seharian?” Seungcheol ngotot, melemparkan lengannya melingkari leher Mingyu. Perbedaan tinggi mereka membuat kaki Seungcheol menjinjit.

Mingyu mengacak rambutnya. Bila dapat memilih, ia ingin mengubur kegundahan hatinya dalam-dalam, tanpa pernah ditemukan oleh siapapun. Jika sepuluh orang dalam hidupnya akan membiarkan rasa itu terkubur, Seungcheol akan menjadi satu-satunya yang menggali dan membuka rahasia Mingyu.

Karena itu, ia tak punya pilihan lain selain berkata jujur.

“Gue … lagi pusing soal Jennie.”

“Oh?” gumam Seungcheol, tak menyangka nama itu akan keluar dari mulut sahabatnya.

Tanpa jeda, Mingyu menceritakan semuanya. Kedatangannya ke rumah sakit untuk menjenguk nenek Jennie. Makan siang di gazebo rumah sakit yang berakhir dengan adu mulut dan penolakan terang-terangan dari Jennie–bahwa ia tak menginginkan Mingyu dalam hidupnya lebih dari sebagai keluarga. Ia menarik mundur lini masa, mulai dari pertemuan pertama Mingyu dengan Jennie di acara hari jadi kantor. Bertabrakan dengannya di bioskop. Membopong Jennie yang sakit perut ke sofa. Jennie yang memasangkan korsase di lipatan jasnya. Mengantarkan Jennie malam-malam ke rumah sakit. Jennie dalam piyama, menemaninya menikmati kudapan tengah malam.

Dunia Mingyu dan Jennie perlahan bertaut, tapi ia tak bisa mengartikan mengapa masih ada benang kusut yang belum terurai.

“Waktu Jennie bilang gue dan dia nggak akan pernah lebih dari keluarga, nggak tahu kenapa gue sakit hati banget,” ujar Mingyu. “Yang nggak gue abis pikir, bisa-bisanya dia bilang gue ada maunya.”

“Loh, emangnya yang dia omongin salah?” tanya Seungcheol.

“Ya, salah, lah!” nada bicara Mingyu meninggi, kesal dengan pertanyaan sahabatnya. “Niat gue, kan, baik. Gue pengen nolongin dia. Dia sendiri yang bilang kita keluarga!”

“Bentar,” gumam Seungcheol, memutar matanya seakan sedang menerjemahkan emosi Mingyu dalam bahasa yang ia mengerti. “Berarti … selama ini lu deketin dia karena murni mau bantuin. Lu nggak pernah ada niat mau tidurin dia?”

Mingyu terhenyak. Mulutnya komat-kamit tanpa suara, gelisah karena pertanyaan Seungcheol.

“Yah … awalnya sih memang untuk alasan yang dangkal,” aku Mingyu, sambil menggaruk tengkuk. “Tapi, makin ke sini gue beneran mau bantuin dia. Kasian. Dia ngerjain apapun sendirian, bro.”

Seungcheol mengerutkan kening. 

“Terus, kenapa lu marah waktu dia maunya cuma nganggep lu keluarga?” tanyanya. “Sori, gue masih bingung. Lu marah karena dia nganggep lu sebagai keluarga, atau karena dia sadar lu ada maunya?”

“Gue marah karena dia mengira gue ada maunya, Seungcheol,” Mingyu membalas gemas. Ia tak mengerti mengapa Seungcheol bicara berputar-putar.

“Jadi, lu yang sekarang ini murni bantuin dia karena nggak ada niat apa-apa? Sekedar mau baik aja?”

“Iya. Apa salah gue bersikap gitu?”

Seungcheol menatap sahabatnya dengan tatapan tak percaya, lalu tawanya pecah.

“Temen lagi pusing kok lu malah ketawa sih?!” Mingyu mulai kesal. Jika tahu yang ia dapatkan hanya olok-olok, lebih baik ia tak menceritakan apapun.

“Sori, sori. Gue ketawa bukan karena ngejek lu. Lebih ke takjub karena lu bisa nggak sesadar ini,” sahut Seungcheol. Senyum di bibirnya melebar, tampak terhibur oleh wajah Mingyu yang masih bingung. “Menurut gue, yang lu lakuin nggak salah, Mingyu. Gue paham niat lu baik. Lu nggak tega liat Jennie pontang-panting bikin orang lain senang.

Tapi, di saat yang bersamaan, gue udah kenal lu lama. Gue tahu gimana cueknya lu sama cewek-cewek yang menuntut punya hubungan lebih sama lu. Akhirnya, lu selalu lari. Lu selalu pergi, nggak peduli mereka nangis-nangis pengen pacaran serius. Sebrengseknya lu sama perempuan, terakhir kali gue liat lu membantu orang tanpa syarat kayak gini adalah waktu lu jatuh cinta sama Chaeyeon.”

Mingyu terdiam. Matanya membelalak. Air mukanya yang tegang perlahan melonggar. Seungcheol sedang mengurai benang kusut dalam dadanya.

“Jadi, gue tanya sekali lagi,” Seungcheol menarik napas, lalu mengutarakan pertanyaan lambat-lambat. “Lu marah karena ego lu nggak terima Jennie nolak kebaikan lu, atau karena lu marah cinta lu ke dia nggak berbalas?”

Mingyu bengong. Rasanya seperti ada seseorang yang meneriakkan eureka dalam kepalanya. Jantungnya berpacu cepat, seperti mesin mobil yang baru saja terpacu oleh NOS. Pikirannya melaju dalam kecepatan tinggi, mencoba mengartikan tabiat yang selama ini ia tunjukkan pada Jennie.

Ia menangkupkan wajahnya dalam kedua tangan, merasakan panas yang merambati pipi. Seungcheol menggelengkan kepala, merasa gemas pada reaksi tubuh Mingyu pada perasaannya sendiri. Sebagai seseorang yang telah menafikan rasa cinta selama bertahun-tahun, reaksi Mingyu serupa dengan bocah yang mencicipi gula pertama kali.

Membangunkan nalar. Memicu setiap indra untuk merasa lebih dalam.

Mingyu jatuh cinta pada Jennie. 

Seungcheol menepuk punggung sahabatnya, sambil berkata, “Gue senang lu akhirnya sadar dengan perasaan lu sendiri, Mingyu. Tapi, sayangnya gue harus membawa lu kembali memijak bumi–lu cuma punya waktu tiga hari untuk melakukan sesuatu terhadap perasaan lu ini.”

“Maksudnya?” tanya Mingyu.

Seungcheol menatap mata Mingyu lurus. “Antara lu bilang terus terang ke Jennie kalau lu suka dia, atau lu tutup mulut selamanya. Jennie bakal jadi milik orang lain, Mingyu.”

 

Jennie’s POV

Sehari setelah berburu gaun pengantin bersama Jisoo, Jennie tak dapat berhenti memandangi gaun putih yang menggantung di pintu lemari. Sambil duduk di tepi tempat tidur, matanya memindai setiap bagian yang membuat perutnya melompat. Pesona itu ada di sana, santun tanpa banyak bicara.

Garis leher berbentuk sweetheart, dengan aksen renda di seluruh permukaan gaun. Bagian lengannya pun terbuat dari renda bermotif bunga, panjang hingga menutupi pergelangan tangan. Lekuk di bagian pinggang akan membuat tubuh Jennie terlihat lebih berisi, sebelum sisi roknya yang berbentuk terompet melebar hingga melewati mata kaki.

Bila ada seseorang yang bertanya apakah gaun pengantin itu adalah gaun impiannya, Jennie akan menjawab tidak. Namun, di antara pilihan lain yang ia lihat di butik, apa yang tergantung di hadapannya saat ini adalah pilihan terbaik. Dengan sedikit sentuhan riasan, anting sederhana, dan cadar, Jennie yakin ia tidak akan terlihat jelek-jelek amat.

Di antara gaun-gaun yang ada di ruangan ini, kita hanya perlu gaun yang memenuhi satu syarat: tidak membuat Rowoon malu, ucap Jennie tegas kepada Jisoo kemarin.

Dari lima gaun, mereka mengeliminasi dua buah. Dari tiga pilihan, akhirnya keluarlah juaranya.

Jennie masih ingat rasanya ketika ia mencoba gaun itu pertama kali. Sambil berlama-lama di depan cermin, ia melahap setiap detailnya melalui alat indera. Mulai dari tekstur, bentuk, hingga rasa di dalam dada. 

Di antara seluruh bagian pada gaun itu, Jennie menyukai garis lehernya yang melengkung. Dengan pakaian dalam yang tepat, dadanya akan terlihat lebih penuh. Setidaknya mata Rowoon masih dapat menikmati sedikit kemolekan tubuhnya saat hari pernikahan mereka nanti, pikir Jennie genit pada dirinya sendiri.

Setelah puas mengamati, Jennie bangkit dari duduknya. Ia mengambil ponsel dari saku celana dan mulai mengarahkan kamera pada gaun pengantin itu. Jennie memotretnya beberapa kali, lalu mengirimkan foto terbaik kepada Rowoon.

Tanda pada aplikasi pesan itu telah berubah menjadi dua centang, tapi belum berubah warna menjadi biru. Jennie mencibir. Lagi-lagi ia harus bersabar karena Rowoon sedang sibuk dengan entah-apa-yang-sedang-ia-kerjakan-belakangan-ini.

Bila mengirimkan foto bertubi-tubi masih belum mempan, Jennie masih punya jurus lain. Jari-jarinya dengan lihai mengetikkan ide nakal yang pertama kali muncul di kepalanya.

 

Sayang, tenang aja gaun pengantinnya gampang banget dilepas.

 

Jennie menekan layar, mengirimkan pesan itu. Ia yakin Rowoon akan segera keluar dari sarangnya. Satu hingga dua menit Jennie menunggu, tanda dua centang itu masih belum berubah warna menjadi biru. 

Jennie mencibir, menyelipkan kembali ponselnya ke dalam celana dengan gusar. Ia tak tahu, bahwa sang kekasih bukannya tak bisa membalas, tapi tak mau membalas

 

Di apartemennya, Kim Rowoon duduk menunduk di sofa. Helaian rambut menyelinap di antara jari-jari yang mencengkeram kepalanya erat. Tatapannya kosong, mencoba memburamkan kenyataan dari hasil alat tes kehamilan yang tergeletak di meja. Dua garis biru tercetak terang.

Chapter 51: h-2 to the wedding

Notes:

bab yang ini juga agak panjang, karena rasanya nanggung kalau aku potong.

Chapter Text

Mingyu’s POV

Belum juga meletakkan tas kerjanya di meja, Seungcheol telah memanggilnya dari balik dinding bilik. Tanpa kata, pria di seberang meja Mingyu menunjuk ke satu titik. Mingyu mengerutkan kening, tapi ia ikut saja. 

Seungcheol memimpin jalan, melewati barisan meja-meja lain yang masih kosong. Jarum pada jam dinding belum melewati 8 pagi, hingga tak banyak yang menyaksikan Mingyu masuk ke ruangan Jiho. 

Ruangan kerja CEO Arkate tergolong mungil, hanya seluas 3x3 meter persegi dengan dinding kaca dan gulungan roller blinds di puncaknya, jika Jiho membutuhkan privasi. Pria yang hampir menginjak usia 50 tahun itu duduk di balik meja, mengamati beberapa dokumen kerja. Jasnya yang berwarna abu-abu tersampir santai pada punggung kursi. Kim Jiho mendongak dari lembar kertas di tangannya, ketika mendengar ketukan di pintu.

“Hei, masuk,” sapanya, ketika melihat Mingyu dan Seungcheol muncul. Kedua pria muda itu menurut, lalu berdiri di seberang meja. Mingyu menunggu dalam diam, sementara kakak tirinya menggulung lengan baju. Pria paruh baya itu berdiri, lalu bergabung dengan dengan dua bawahannya.

“Selamat pagi. Makasih kalian udah datang lebih awal,” sapanya dengan bibir mengembang. Mingyu mengamati gerak  Jiho yang berjalan lamban, dengan lengan melipat di depan dada. Ia tampak santai, tapi nada bicaranya yang datar menegaskan sebaliknya. “Jadi, ada dua hal yang mau aku sampaikan pada kalian pagi ini. Pertama, mengenai kerja sama kantor kita dengan Terrahaus. Kalau nggak ada halangan, kita bakal dapat proyek besar tahun depan. Mereka bakal bikin kantor cabang baru di Busan, dan kita bakal terlibat dari nol.”

Dari sudut matanya, Mingyu melihat dada Seungcheol yang membusung. Ia tampak puas mendengar berita itu, yang tak Mingyu pungkiri turut membuatnya senang. Seungcheol punya andil besar dalam menjalin relasi dengan Terrahaus.

“Dan yang kedua,” lanjut Jiho. ia mengangkat tangan, dua jarinya membentuk huruf V. “Aku bicara dengan Peter Smith kemarin, dan dia minta perwakilan Arkate untuk kerja bareng dia di London.”

Mingyu mendongak. Ada dentuman di dadanya yang terasa menyesakkan. Perasaannya tak enak. Ia teringat pada Seungcheol yang sempat membocorkan perihal bisnis dengan Peter Smith di London, saat mereka makan malam di Nero&Bianco.

“Dia akan membangun kawasan perumahan di lingkungan imigran dan pekerja asing di pinggir London. Karena banyak keturunan Korea Selatan yang menghuni area itu, Pak Peter meminta kita membantu untuk melakukan pendekatan apalagi pada mereka yang belum lancar berbahasa Inggris,” Jiho menjelaskan. “Untuk proyeknya sendiri kita akan terlibat dari sisi interior dan pemetaan kawasan sekitarnya. Pak Peter bilang belakangan ini banyak isu para pemilik toko yang mempermasalahkan posisi strategis untuk berdagang.”

Jiho melepaskan tawa kering, yang membuat Mingyu menarik kesimpulan bahwa perkara itu tak mudah. Lepas dari keheningan yang singkat, Jiho melemparkan pandangan pada adiknya.

“Jadi, Mingyu, apa kamu siap berangkat ke London?” tanyanya.

Mingyu menarik napas panjang dan membuangnya pelan. Ia diam, mencoba memikirkannya matang-matang.

“Awalnya, aku mau kasih proyek di London ke Seungcheol, tapi kerja dengan Terrahaus juga sama pentingnya. Lagian, karena Seungcheol juga jalan kita terbuka bisa dapat proyek bareng mereka,” puji Jiho, yang dengan cepat merambat ke telinga Seungcheol. Pria di samping Mingyu tak dapat berhenti tersenyum mendengar pujian itu. “Mungkin kerja di Eropa juga bakal cocok buat kamu, Mingyu. Kepalamu selalu dingin di bawah tekanan, dan Pak Peter juga suka dengan rumah tinggalnya di Seoul, yang kamu rancang.”

Bila Mingyu menghitung kembali, ia belum terlalu lama berada di Seoul semenjak menyelesaikan kuliah S2-nya. Jika memungkinkan, ia ingin mengerjakan lebih banyak proyek lokal.

Namun, di samping pekerjaan, ia tak punya alasan lain untuk tinggal di Seoul. Belum lagi, berada di kota yang sama dengan Jennie mungkin akan membuatnya tertekan. Selama ia berada di Seoul, Mingyu dapat bertemu dengan Jennie di mana saja. 

Sesekali, Mingyu mungkin akan berpapasan dengan Jennie, yang berjalan bergandengan dengan suaminya. Dengan cincin pernikahan tersemat di jari. Membayangkannya saja membuat hatinya remuk setengah mati. Berada di negara yang jauh dapat membantu Mingyu melupakan wanita itu.

“Kapan aku harus berangkat ke London?” tanya Mingyu. Rahangnya mengencang.

“Kalau menghitung waktu pengurusan visa dan persiapan, mungkin sekitar 3 sampai 4 minggu dari sekarang,” jawab Jiho.

Mingyu mengangguk. Tangannya mengepal.

“Oke,” jawabnya. “Aku siapin berkas untuk ngurus visanya besok.”

*

Jennie’s POV

Dua puluh empat jam berlalu sejak terakhir kali Jennie mengirimkan pesan kepada Rowoon, tapi ia belum juga mendapat balasan. Tanda centang telah berubah menjadi biru, tapi sepatah katapun tak Rowoon kirimkan untuknya. 

“Apa baju pengantinnya jelek, ya?” tanya Jennie bingung, sambil menggigit ujung kukunya. Jisoo, yang sedang mengganti pakaian kerjanya ke baju biasa, turut bertanya-tanya. “Kok Rowoon nggak bales, sih? Aneh banget.”

“Dia lagi lemburan mungkin? Ini kan udah mau akhir tahun, Jen,” balas Jisoo. Ia menutup pintu loker, lalu mengenakan jaket. “Tunggu aja.”

“Tapi ini nggak kayak biasanya, Jisoo. Kalaupun sibuk, pasti dia balas walaupun singkat. Entah itu ‘oke’, ‘wah cantik’, atau apa kek. Minimal ada reaksi emoji. Ini sama sekali nggak ada!” seru Jennie dengan nada meninggi.

Jisoo tertegun. Ia meletakkan tangan di bahu sahabatnya, memijatnya pelan. Sambil berusaha menenangkan Jennie, ia berkata, “Sabar, sabar. Lu juga tegang karena hari H udah bentar lagi. Kalau lu khawatir, ya samperin aja ke kantornya. Bawain makanan kek.”

“Dia nggak suka aku main ke kantor,” gumam Jennie.

“Kalau nggak ya ke apartemennya. Lu tahu nomor kuncinya, kan?” 

“Tau, sih …”

“Ya udah, sana, buruan samperin kalau lu khawatir banget. Siapa tahu juga dia sakit, maag kambuh, sampai nggak bisa bangun dari tempat tidur,” goda Jisoo. “Lumayan lu bisa mesra-mesraan bentar.”

Jennie menggoyangkan bahunya kesal, membuat Jisoo menarik tangannya sambil terkekek. Namun, Jisoo ada benarnya. Bisa jadi hal buruk sedang terjadi pada Rowoon, dan ia membutuhkan Jennie saat ini.

Sebelum bus terakhir lewat, Jennie buru-buru meninggalkan restoran Nero&Bianco melewati pintu belakang. Ia setengah berlari, merapatkan jaket yang menghalangi udara dingin menusuk dada. Bila ia ragu lebih lama, bisa jadi Jennie akan melewatkan bus yang perlahan menepi ke trotoar jalan.

Namun, Jennie tak tahu di masa depan ia akan menyesali kedatangannya ke apartemen Rowoon malam itu–bahkan menyesali telah mengenal sang kekasih.

 

Area depan kawasan apartemen Rowoon selalu membuatnya tercengang. Lingkungan yang tak ramah pejalan kaki, dengan jalan lebar yang diperuntukkan bagi kaum elit yang berkendara mobil sedan mewah. Meski udara Seoul tak lagi bersahabat, Jennie tak keberatan berjalan jauh hingga mencapai unit gedung apartemen Rowoon. Bila ia tinggal lebih lama, Rowoon akan mengizinkannya menginap malam ini. 

Harapan itu membawa langkah Jennie lebih ringan, hingga ia mencapai lobi gedung setinggi 15 lantai itu seorang diri. Penjaga yang berada di lobi terheran-heran melihat seorang perempuan mungil melalui pintu sendirian, tapi wajah Jennie tidaklah asing baginya. Jennie melambaikan tangan pada si penjaga tua, seraya melangkah menuju lobi lift di ujung ruangan. 

Ia menekan tombol naik, menunggu pintu lift membuka. Suara denting rendah menyusul kemudian, ketika seorang wanita paruh baya mengenakan jaket bulu tebal sambil menggendong anjing bichon di satu sisi. Jennie menahan tawa melihat keduanya sama-sama berbalut bulu putih.

Sambil menempati sisi dinding dalam lift, Jennie menekan tombol angka 10. Pintu menutup, kotak besi perlahan bergerak naik. Panel angka pada dinding dan di atas pintu berkedip satu demi satu, hingga akhirnya berhenti di lantai 10. Suara denting kembali terdengar, tapi sosok di balik pintu membuat langkah Jennie tertahan.

Seorang wanita semampai berambut hitam, tampak elegan dalam kemeja putih dan rok hitam selutut, dibungkus oleh mantel hitam tebal yang panjang. Bibirnya berwarna merah bata, tampak mengilap seperti baru saja dipoles. Matanya yang tajam seperti kucing bertemu dengan Jennie. Sekejap ia membelalak, tapi kemudian ekspresinya berubah datar. Lisa Manoban menatap Jennie lurus, sementara satu tangannya menahan pintu lift agar tak menutup otomatis.

“Hai, Jen,” sapa Lisa dalam suara rendah. Dagunya terangkat pongah. 

“Hai, Lisa,” balas Jennie lirih. Ia meremas tali pengikat tas erat-erat, kepalanya tiba-tiba kosong. Berpapasan dengan Lisa di antara pintu lift tak menjadi rencana Jennie malam ini. Setelah sekian lama, mereka bertemu kembali di tempat tak terduga.

“Mau ke apartemen Rowoon?” tanya Lisa.

“I, iya. Kamu?”

“Aku baru dari sana,” wanita itu menyunggingkan senyum. Ia menyibakkan rambutnya yang jatuh di bahu ke balik punggung. Lisa mengangkat sebuah amplop cokelat berukuran besar. “Ada … urusan penting yang nggak bisa aku tunda. Aku cuma datang untuk mengonfirmasi aja ke Rowoon. Nggak lebih.”

Rasanya, tengkuk Jennie seperti ditusuk sebuah jarum saat mendengar kata-kata Lisa barusan. Ia tahu Lisa telah bekerja sebagai sekretaris Rowoon selama bertahun-tahun. Entah mengapa,uUcapan itu terasa janggal di telinganya. Namun, Jennie tak tahu di bagian mana. Ia hanya menimpali, “Oh. Seperti biasa, kamu pekerja keras.”

“Hm.” Lisa bergumam, lalu melanjutkan, “Oh, iya. Selamat, ya, untuk pernikahan kalian. Aku nggak bisa datang karena nggak diundang, tapi nggak masalah. Sukses, ya, sampai hari H.”

“Makasih,” balas Jennie. “Aku pergi dulu, ya.”

Ia mengambil langkah lebar, melompati rel pintu lift. Tanpa menoleh lagi, Jennie melangkah pergi, meninggalkan Lisa seorang diri. Saat berjalan menjauh, sayup-sayup ia mendengar suara pintu lift, tapi Jennie memutuskan untuk tak menoleh.

 

Di depan pintu apartemen Rowoon, Jennie menekan bel pintu. Namun, setelah lima kali menekannya, sang kekasih tak juga menyambutnya. Jennie membuang napas panjang. Seharusnya ia menanyakan keadaan Rowoon pada Lisa. Karena gugup, Jennie tak dapat berpikir jernih.

Tak ingin menunggu lebih lama lagi, Jennie menekan nomor pin pintu yang terdiri dari 4 digit. Sebuah lagu polifonik mengalun setelah ia berhasil memasukkan kata sandi yang tepat. Jennie membuka pintu, dan melangkah masuk. Ruangan yang remang-remang segera menyambutnya.

“Sayang?” panggil Jennie, sambil membuka sepatu di balik pintu. Ruangan terasa hangat saat ia melangkah semakin jauh ke dalam, hingga Jennie melepaskan jaket yang ia kenakan. Matanya melihat sekeliling, tapi tak juga menemukan Rowoon. Ia memanggil namanya lembut, tapi batang hidungnya tak kunjung muncul.

Jennie melihat cahaya yang datang dari sela pintu kamar tidur Rowoon. Sambil mengendap-endap, ia mengintip ke dalam. Dari luar kamar, ia dapat mendengar gumaman rendah yang asalnya dari dalam kamar. Jennie menyipitkan mata, melihat punggung Rowoon yang sedang duduk di tepi tempat tidur. 

Ia tampak tertunduk, sedang berbicara dengan seseorang di telepon. Jennie bermaksud mengejutkannya dalam hitungan ketiga, tapi niatnya terhenti ketika ia mendengar Rowoon merengek, “Pokoknya aku nggak mau tahu, tes DNA itu harus siap sebelum lusa!”

Tes DNA?

Jennie memutar matanya, dahinya berkerut. Untuk apa Rowoon melakukan tes DNA? Apakah maksudnya tes kesehatan pra-nikah? Jennie berpikir, mungkin harusnya ia melakukan hal itu juga.

“Aku nggak tahu, Ma.”

Oh, Rowoon sedang berdiskusi dengan ibunya. Apakah ini tentang pernikahan?

“... Kami memang pernah kelepasan. Nggak cuma sekali dua kali … tapi bisa aja dia bohong!” Rowoon mulai berteriak. Ia bangkit dari tempat tidur, mengacak-acak rambutnya dengan gusar. Jennie tak pernah melihat kekasihnya sekacau itu. “Makanya aku butuh tes DNA itu segera! Apa nggak bisa dipercepat? Aku bakal nikah lusa, Ma! Kalau Jennie tahu, semuanya bisa bubar!”

Bulu kuduk Jennie berdiri. Apapun yang sedang Rowoon bicarakan dengan ibunya, tak ada sangkut paut dengan dirinya. Ada perkara yang Rowoon sembunyikan, tapi Jennie tak ingin berasumsi apapun. Perlahan, ia melangkah mundur, berusaha membuat kericuhan sekecil mungkin. Namun, Jennie tak berkonsentrasi penuh.

Ujung kakinya menyenggol tumit kaki lain, membuatnya hilang keseimbangan. Tubuh Jennie oleng, hingga bahunya menabrak pintu dengan suara ‘duk’ rendah. Di dalam kamar, Jennie melihat tubuh Rowoon menegak. Pria itu menoleh cepat, menangkap basah Jennie yang berdiri di ambang pintu. Meski Rowoon beberapa langkah jauh di dalam kamar, Jennie dapat menangkap wajahnya yang pucat seperti susu.

“Jennie–” gumam Rowoon.

Napas Jennie memburu ketika Rowoon menghampirinya dengan tergesa-gesa. Ia memilih untuk melangkah mundur, kembali ke ruang TV. Saat ia hendak mengambil jaket yang tergeletak di sofa, Rowoon telah menarik tangannya. Jennie dapat merasakan jantungnya melewatkan sebuah detak, saat Rowoon menatapnya lekat-lekat.

Sebagian wajah pria itu terbalut oleh bayangan malam, sementara sisi lainnya diterangi oleh cahaya bulan yang redup. Pria itu tinggi besar, seperti sedang mengenakan topeng berwajah dua di hadapan Jennie. Ia dapat merasakan isi dadanya mencoba meronta keluar, entah kenapa Jennie begitu gugup. Padahal ia tak melakukan kesalahan apapun.

“Kamu ngapain di sini?” tanya Rowoon dingin. Satu tangannya masih menggenggam ponsel. Jennie dapat mendengar suara Hong Suhee, yang sekejap menghilang saat Rowoon memutus kontak.

“A, aku khawatir karena kamu nggak balas pesanku, Sayang,” jawab Jennie. Pergelangan tangannya yang digenggam erat oleh Rowoon terasa sakit. “Makanya aku mampir–”

“Terus ngapain kamu ngintip ke dalam kamar?” Rowoon menginterogasi.

“Tadinya aku mau kagetin kamu, tapi sepertinya kamu lagi bicara serius di telepon. Aku nggak bermaksud ngintip–”

“Apa aja yang udah kamu dengar?” potong Rowoon lagi.

“Aw!” jerit Jennie, merasakan nyeri di pergelangan tangan. Genggaman Rowoon semakin kuat, seakan sedang mencoba meremas tulangnya. “Rowoon, bisa lepasin? Tanganku sakit.”

Dalam satu hentakan, Rowoon melepaskan tangan Jennie. Perempuan itu segera menarik tangannya ke dada, mengelus pergelangan tangannya yang memerah. Di hadapannya, Rowoon tampak gelisah. Ia berjalan mondar-mandir sambil memijat kepala. Terbatasnya kata yang mereka bagikan membuat suasana malam semakin tegang. Meski ruangan hangat, dinginnya bulan November seakan telah menembus dinding dan menghujam hingga ketulang.

Sambil mengelus tangannya yang bahkan tak mendapat permintaan maaf dari sang kekasih, Jennie melirik ke arah meja kopi di depan sofa ruang TV. Ada secangkir kopi yang isinya tinggal setengah dan segelas air putih. Samar-samar, Jennie dapat menangkap bekas lipstik berwarna merah bata pada tepi gelas.

“Jen,” panggil Rowoon.

“Iya?”

Ada sepi yang panjang di antara sapaan itu. Jennie ingin mendekati Rowoon dan memberinya sebuah pelukan, tapi ia tak yakin pria itu akan menyambutnya hangat. Meski tak tahu alasannya, Jennie telah lama tak melihat Rowoon serapuh itu. Rambut berantakan, kancing kemejanya pun melompati satu lubang, membuatnya terlihat tak karuan.

“Kamu … bisa pulang aja, nggak, malam ini?” pinta Rowoon kemudian. Ia menunduk, memandang sekeliling kecuali Jennie. “Aku capek. Banyak pikiran.”

Chapter 52: h-1 to the wedding (1)

Notes:

update agak tersendat karena minggu lalu aku keluar kota & mood nulis lagi rendah-rendahnya. semoga setelah ini aku terus ngebut!

Chapter Text

“Jennie! Ayo sini!” 

Di akhir jam kerja para karyawan restoran, suara Chef Dom yang membahana di dapur menarik perhatian semua orang. Nama yang tersebut pura-pura tak mendengar, memilih merunduk di dekat meja konter seperti seekor tikus kecil.

“Aku melihatmu, Nona Calon Pengantin. Berhenti sembunyi di balik mixer,” tambah Chef Dom sambil melagu, disusul oleh tawa para koki di dapur. Tentu saja, tak akan ada sosok yang luput dari pandangan sang koki asal Italia yang bertubuh tinggi besar itu. “Ayo, kita rayakan kebahagiaanmu bersama-sama!”

Hari ini, Jennie tak bisa lari. Perlahan ia keluar dari persembunyian, ditemani oleh sorakan riuh rendah teman-teman sejawatnya, termasuk Bambam dan Jisoo. Jennie hanya bisa pasrah menghadapi kerumunan dengan telinga memerah, merasa canggung dengan banyaknya mata yang tertuju padanya.

Chef Dom mengayunkan tangan, memanggil Jennie untuk mendekat. Sambil menggulung lengan baju kerja, Jennie menyeret kakinya untuk berdiri di samping sang kepala koki yang telah menggenggam segelas anggur merah.

Chef Dom mengangkat gelas itu tinggi-tinggi, seraya berseru, “Perhatian semuanya! Seperti yang kalian sudah dengar, teman kita–Jennie–akan menikah besok! Namun, karena alasan kesehatan neneknya, acara pernikahan akan diadakan tertutup antara keluarga Jennie dan calon suaminya saja. Karena kita tidak bisa ada di sana besok, mari rayakan sejenak malam ini! Tanti auguri agli sposi, per una vita felice insieme! (Semoga kedua mempelai menjalani kehidupan bahagia bersama!)”

Auguri!” sahut para koki yang berbagi momen kebersamaan di dapur, sambil mengangkat gelas mereka. Chef Dom menepuk bahu Jennie kuat-kuat, membuat tubuh perempuan itu oleng.

Dari pintu belakang, seorang kurir pengantar makanan tiba dengan tas berukuran besar. Selusin kotak berisi ayam goreng, jajangmyeon, minuman soda, salad, dan daging panggang. Satu per satu setiap kotak makanan tersaji di meja. Para karyawan Nero&Bianco menghabiskan sisa malam itu dengan berkumpul, saling berbincang dan menikmati makan malam yang ditraktir oleh sang kepala koki.  

Sayangnya, sang bintang pesta tak bisa berlama-lama dalam acara. Ia merasa tak enak, tapi tak punya pilihan lain. 

“Sori, ya, gue harus buru-buru balik karena besok mau jemput Nenek di rumah sakit,” Jennie beralasan saat Jisoo dan Bambam mengikutinya, sambil berlalu ke ruang loker.

“Besok lu jemput Bu Suji jam berapa?” tanya Bambam dari luar ruangan dengan suara lantang, sementara Jennie berganti pakaian di dalam, bersama Jisoo. “Mau gue anterin?”

“Nggak usah, Bam. Ada Jiho,” balas Jennie, tak kalah lantang. “Besok lu dan Jisoo langsung ke rumah Nenek aja, biar gue bisa langsung siap-siap dandan.”

“Rowoon sendiri gimana? Ada kabar hari ini?” tanya Jisoo mengingatkan.

Jennie menggerutu rendah, sambil mengancingkan jaketnya yang tebal. “Nggak tahu, deh,” balasnya singkat.

“Kok, nggak tahu?” Jisoo tampak bingung. “Emangnya Rowoon sibuk banget?”

“Itu dia,” balas Jennie ketus. Ia berbalik, sambil menyandang tas di bahu. “Waktu gue mampir ke apartemennya kemarin, gelagatnya … aneh. Gue coba tanya baik-baik, gue malah diusir.”

“Diusir?!” pekik Jisoo. Jennie memberi sinyal agar sahabatnya tak bicara keras-keras, dengan meletakkan jari di depan bibir. Jisoo menurut, lalu merendahkan suara dalam bisikan. “Maksudnya diusir? Kalian berantem lagi?”

“Masih mending kalau berantem. Gue didiemin. Disuruh pulang,” jawab Jennie. Ia menggelengkan kepala. “Mungkin dia gugup.”

“Terus? Lu pulang gitu aja?”

“Mau gimana lagi,” Jennie mengangkat bahu, pasrah. “Gue cuma kirim pesan ke Rowoon supaya nggak lupa makan, nggak tidur terlalu malam. Gue belum cek lagi, dia udah balas pesan atau belum.”

Jisoo mengatupkan bibirnya rapat.

Dari raut wajahnya yang gusar, Jennie dapat menangkap kata-kata yang tak terucap dari sahabatnya. Ia meletakkan kedua tangannya di bahu Jisoo, menekannya lembut.

“Lu nggak usah khawatir, oke? Semua bakal baik-baik aja. Nanti malam gue akan coba hubungi Rowoon lagi,” ucap Jennie, menatap lurus mata Jisoo.

Sahabatnya hanya bisa mendesah panjang, lalu mengangguk pelan.

“Ya udah, gue pulang dulu, ya. Lu makan ayam yang banyak sana,” canda Jennie. Ia keluar dari ruang loker, mengucapkan selamat malam pada Bambam yang sempat menunggunya di balik pintu. Seraya mengucapkan terima kasih pada seluruh rekan kerjanya, Jennie meninggalkan restorna lewat pintu belakang. Namun, malamnya belum berakhir di situ.

 

Di tepi trotoar, Kim Mingyu sedang bersandar pada jok motornya sambil menahan kantuk. Ia menguap, menyembunyikannya di balik kepalan tangan. Di ujung matanya, Mingyu menangkap area dapur Nero&Bianco masih terang benderang. Cahaya lampu yang dingin menembus jendela, membuat gang belakang restoran tampak lebih terang. Tak lama, sesosok wanita keluar melalui pintu belakang. Ia mengenakan jaket tebal, dengan tas tersampir di bahu. Rambutnya yang panjang tersembunyi dalam topi rajut yang menutupi kepala.

Meski berada di kejauhan, Mingyu dapat mengenalinya. Pipi Jennie memerah diterpa angin malam, membuatnya terlihat seperti bola kapas yang merona di tengah musim yang mulai tak bersahabat.

Tubuh Mingyu menegak, dadanya berdesir saat memanggil nama perempuan itu. “Jennie!” serunya, sambil melambaikan tangan.

Langkah Jennie terhenti sejenak ketika mendengar namanya menggema di trotoar. Wajah yang sempat muram seketika berseri, saat ia menyadari siapa pria yang menunggunya di atas motor.

“Mingyu?” panggil Jennie, sambil setengah berlari mendekati pria itu. Ia berhenti ketika wujud Mingyu lebih dekat dan nyata di hadapannya. “Ngapain di sini?”

“Barusan lewat, jadi aku mampir sekalian,” Mingyu beralasan.

Jennie menyipitkan mata, tak menelan ucapan Mingyu mentah-mentah. Ia meletakkan tangannya perlahan pada tangki motor.

“Bohong,” ia menukas, menatap Mingyu tajam. “Motor kamu dingin. Hidung sama pipi kamu juga merah. Udah nunggu di sini dari tadi, kan?”

Mingyu menutupi hidung, yang sebenarnya telah perih sejak tadi. Udara yang dingin mengambil kelembaban dari wajahnya, membuat kulit terasa kering. Tubuhnya bereaksi, memompa darah ke permukaan kulit.

“Sejak kapan kamu jago main detektif?” goda Mingyu. Jennie tak menggubris.

“Mau masuk ke restoran dulu? Di dalam masih ramai soalnya ada pesta kecil-kecilan. Aku bisa buatin kopi atau teh biar badanmu hangat,” potong Jennie.

“Pesta? Pesta apa?” tanya Mingyu.

“Teman-temanku ngerayain acaraku besok. Karena nggak diundang, mereka ngadain party buatku,” jawab Jennie, sambil menunjuk gedung restoran di balik punggungnya.

“Oh.” Mingyu mengangguk, tampak tak tertarik dengan jawaban itu. Keheningan menyusul antusiasme yang minim.

“Terus? Kamu ngapain di sini?” tanya Jennie ulang.

“Mau ketemu kamu, lah,” jawab Mingyu. “Kalau kamu masih ada waktu, temenin aku keliling kota sebentar, yuk? Aku suntuk banget hari ini.”

Jennie mengerutkan kening. Semenjak mengenal Mingyu, ini kedua kalinya pria itu meminta sesuatu padanya. Walau tak bisa mengukur apakah Mingyu sedang serius atau tidak, Jennie menyadari ada yang berbeda darinya. Wajah dan bahasa tubuh yang bisanya penuh dengan rasa percaya diri, malam ini tampak bungkuk. Seakan-akan Mingyu ingin menghilang dalam kegelapan, tapi tak mau menjalaninya seorang diri.

“Tapi aku nggak bawa helm,” Jennie beralasan.

“Aku anterin kamu pulang buat ambil helmnya. Kalau nggak, kita cari taman dekat sini, deh,” Mingyu memaksa. “Atau mampir ke tempat makanan pinggir jalan. Di mana aja, asalkan kamu temenin.”

“Harus aku yang nemenin?”

“Iya.”

“Nggak bisa orang lain?”

“Nggak.”

Ada yang tak beres dengan Mingyu, pikir Jennie, tapi ia tak berani bertanya lebih jauh. Apapun yang mengisi pikiran Mingyu saat ini, sepertinya benar-benar membuatnya kacau balau.

Jennie menimbang sejenak. Seandainya saja Rowoon yang ada di depannya, ia tak akan berpikir dua kali. Jennie akan melakukan segala cara agar kekasihnya merasa lebih baik. Namun, apakah Mingyu pantas mendapatkan perhatian yang setara, atau jauh lebih rendah daripada Rowoon saat ini?

Pikiran itu membuat Jennie merasa jadi orang terjahat di dunia. Ia mengatur ulang benaknya dan menempatkan Mingyu sebagai teman yang sedang meminta pertolongan.

“Gini aja, deh,” Jennie berunding. “Kita ke apartemenku aja, oke? Udara di luar dingin banget, Mingyu. Kamu–kita bisa sakit kalau keliling dengan motor sekarang. Di rumah, kita bisa duduk di balkon sambil ngeliat pemandangan kota. Aku buatin minuman hangat juga. Oke?”

Mingyu memutar matanya, tampak menimbang-nimbang. Rasanya ia tak sanggup menanggung resiko jika sang calon pengantin sakit menjelang hari pernikahannya, yang akan berlangsung 12 jam lagi. 

Dua belas jam dari sekarang, Jennie akan menjadi milik orang lain.

Sepertinya, Mingyu tak punya pilihan selain menggunakan waktu yang tersisa, selagi cincin baru belum tersemat di jari Jennie. Ada tempat yang ingin Mingyu perlihatkan padanya, tapi sepertinya kesempatan itu harus menunggu di lain waktu. Mungkin, Mingyu harus mulai menghapus keinginan pribadinya karena meluangkan waktu bersama Jennie di masa depan hanya akan menjadi asa tak berujung. Sia-sia. Percuma. 

“Oke,” Mingyu akhirnya setuju. “Kita ke apartemenmu aja.”

Jennie merasa lega mendengar pernyataan itu. Lalu, ada satu hal lagi yang masih mengganjal pikirannya. “Tapi aku kan nggak ada helm. Nggak papa, nih, kita naik motor berdua?” tanyanya.

“Nggak masalah,” ucap Mingyu, menyesuaikan posisi duduknya di motor. Ia menekan tombol stater, membuat mesin motor meraung. “Tenang aja, nanti kita lewat jalan tikus.”

Chapter 53: h-1 to the wedding (2)

Chapter Text

Di depan pintu apartemennya, Jennie baru terpikir: mengundang Mingyu ke apartemennya malam ini adalah keputusan yang sembrono. Jarinya berhenti di udara saat hendak menekan kombinasi angka kunci pintu depan. Di balik punggungnya, Mingyu sedang menunggu. Malam yang semakin larut turut menghembuskan udara dingin sepanjang koridor gedung apartemen Jennie.

Kurang dari 12 jam, ia akan menikah. Namun, malam ini, ia justru membiarkan seorang pria mampir ke apartemennya. Apakah sudah terlambat untuk menolak Mingyu masuk ke dalam rumah? Apakah kejam jika ia berbalik dan menyuruh pria itu pulang, tanpa mendengarkan uneg-unegnya? Jennie pun tak tahu.

Jennie menahan napas saat memasukkan nomor akses pintunya, diikuti oleh dering lagu sebelum kunci membuka. Ia melangkah masuk, Mingyu menyusul di belakangnya. Bagian dalam ruangan terasa hangat saat mereka melewati pintu depan, seakan meluruhkan rasa kaku yang telah merambati tangan dan kaki. Sambil melepaskan jaketnya, Jennie berjalan menuju ke dapur. Ia merasa gugup, tak tahu harus melakukan apa.

“Mau minum, Mingyu?” Jennie menawarkan, mencoba memecah benaknya dari rasa canggung yang tak kunjung reda. Ia mendongak dari lemari kabinet, menangkap sosok pria yang perhatiannya teralihkan pada isi ruangan.

Dari tempatnya berdiri, Mingyu mengamati tatak letak ruang yang masih sama seperti terakhir kali ia berkunjung. Sofa panjang di satu dinding, menghadap set TV yang dipisahkan oleh karpet. Di ujung ruangan, tak ada dinding yang membatasi ruang, melainkan pintu lipat yang lebar dan tingginya mengikuti ukuran bidang itu. 

Di luar, langit berwarna biru kelabu dengan pendar lampu pada gedung-gedung tinggi. Hanya satu, dua jendela yang menyala, Mingyu menangkap. Sepertinya masih ada segelintir orang yang enggan tidur bersama bumi yang semakin larut. Hari akan segera berganti. Bila mungkin, ingin rasanya waktu berhenti saat ini, pikir Mingyu.

“Mingyu?” 

Sang pemilik nama tersadar dari lamunan. Ia menoleh cepat, memandang Jennie yang memanggilnya dengan tatapan bingung.

“Mau minum?” Jennie mengulang pertanyaan.

“Boleh,” Mingyu akhirnya mengiyakan. “Jen, aku boleh ke beranda?”

Jennie mengedipkan mata. Padahal mereka baru saja menyelamatkan diri dari udara dingin di luar, tapi Mingyu justru ingin berada di beranda? 

“Tapi … di luar dingin, Mingyu,” ia mengingatkan.

Pria itu tersenyum. “Nggak papa. Aku mau menikmati pemandangan di luar sebentar.”

Setelah melewati area TV, Mingyu memutar knop pintu lipat yang membatasinya dengan beranda kecil di luar ruangan. Ada dua kursi yang berjajar di salah satu ujungnya, dengan pagar besi berwarna putih yang mengelilingi tepi. Mingyu melangkah keluar, merasakan dinginnya udara menyapa kulit wajah. Suara deru kendaraan dan klakson saling beradu di balik barisan rumah-rumah dan gedung-gedung yang menutupi jalan raya.

Mingyu menyandarkan siku pada pagar, menghirup udara yang segera membuat lubang hidungnya terasa dingin. Tak lama, ujung hidungnya kejatuhan butiran putih yang segera meleleh ketika menyentuh kulit. Ia mendongak. Butiran-butiran putih turun dari langit, membuat Mingyu terkejut.

“Wah, turun salju,” gumamnya.

Sementara itu, Jennie mengisi dua buah mug miliknya dengan minuman rempah yang ia hangatkan di kompor. Perpaduan aroma jahe, kayu manis, lemon dan teh hitam menenangkan raga. Ia menuangkan sesendok madu, mengaduknya rata. Dua buah potongan lemon ia celupkan ke dalam gelas, sebelum Jennie membawanya dengan hati-hati ke beranda.

Dari balik kaca, ia menyadari titik-titik putih yang mulai mengisi langit Seoul. Jennie mempercepat langkah, melongok keluar pintu. 

“Loh, turun salju?” ungkap Jennie.

“Iya,” balas Mingyu, yang masih bersandar pada pagar. “Untung kita tadi nggak jadi nongkrong di luar.” Wajah Mingyu tampak ceria, seperti bocah bongsor yang baru melihat salju pertama kali.

Jennie berjalan mendekat, menyerahkan mug hangat pada pria di sampingnya. Mingyu menerimanya dengan senang hati, menghirup aroma seduhan yang manis. Pria itu menyesapnya pelan, lalu melagu riang.

“Wah, enaknya!” serunya riang, sambil menunjuk ke dalam mug yang ia genggam. “Ini apa isinya?”

Jennie menghitung setiap bahan yang ia sebutkan dengan jari. “Ada teh, jahe, kayu manis, apel, cengkeh, bunga lawang, lemon. Rebus dalam air sampai semua aromanya keluar. Aku pakai madu sebagai pemanis,” ungkap Jennie. “Sebenarnya ini resep dari nenekku. Waktu aku main ke rumah dia pernah ajarin aku buat ini. Paling enak minumnya waktu udara dingin kayak gini.”

“Berarti ini bentuk cinta dari nenekmu, ya.”

Jennie tertegun mendengar kata-kata itu. “Bisa dibilang gitu, sih,” balasnya, menutupi rasa canggung dengan menyesap isi mugnya. “Mingyu, gimana kalau kita duduk di dalam aja? Kalau saljunya turun terus, nanti kamu malah sakit.”

“Satu menit lagi, deh. Ini salju pertama bulan ini, kan?” Mingyu memohon. 

Jennie mendecakkan lidah, lalu mengangkat jarinya. “Oke. Kalau gitu aku hitung mundur, ya. Enam puluh. Lima sembilan–” 

“Kok kamu ngitung mundur, sih?!”

“Lima enam. Lima lima. Lima empat …”

Mingyu tak percaya Jennie benar-benar melakukannya. Sesekali, ia meneguk seduhan hangat di tangan sambil mengamati Jennie yang belum berhenti menghitung mundur. 

Melihat pria di hadapannya memilih diam, Jennie justru merasa gugup karena Mingyu tak bereaksi pada candanya. Ia sudah sampai angka 40.

Mingyu menatapnya lekat-lekat. Kali ini, yang menghitung mundur bukan hanya bibirnya, tapi juga degupan di dalam dada. Tatapan pria di hadapannya begitu lembut, dengan bibir yang menyunggingkan senyum jahil.

“K, kok kamu diem aja sih?” Jennie mulai gusar. 

“Loh, aku kan lagi dengerin kamu ngitung mundur.”

Saat hampir menyentuh angka 30, Jennie berhenti. Dengan geram, ia menarik lengan Mingyu dan menyeretnya masuk. Pria itu hanya terkekek geli.

“Duduk sofa aja sini. Aku ambilin selimut,” ucap Jennie ketus, meletakkannya pada coffee table bulat di depan sofa. Kakinya menghentak-hentak kecil sambil berlalu ke dalam kamar. Mingyu menggelengkan kepala, gemas dengan tingkah Jennie. Sementara sang tuan rumah menghilang ke ruangan lain, Mingyu menutup dan mengunci pintu beranda. Ia melepaskan jaket, meletakkannya di lengan sofa. Sambil menangkup mug, Mingyu duduk bersandar di sudutnya.

Kehangatan permukaan gelas merambat hingga ke telapak tangan, membuatnya tubuhnya rileks. Rasanya sudah lama ia tak menikmati waktu selambat ini. Apalagi, Mingyu tak melewatkannya sendirian.

Ketika ia menghentikan motornya di tepi jalan malam itu, Mingyu tak mengira pemberhentian terakhirnya berubah menjadi apartemen Jennie. Bahkan, ia tak yakin Jennie akan mengiyakan permintaan anehnya. Orang gila mana yang meminta calon istri pria lain meluangkan waktu dengan pria lain, ketika ia akan menikah besok. 

Namun, mengingat dalam waktu tiga minggu lagi ia tak akan lagi bertemu dengan Jennie, Mingyu tak ingin membuang-buang waktu. Tujuannya hari ini bukanlah untuk merebut Jennie. Bila ia mau, Mingyu telah melakukannya dari dulu. 

“Nih, selimut.”

Mingyu mendongak. Jennie berdiri di hadapannya, menawarkan selimut tebal yang masih terlipat.

“Cuma satu?” tanya Mingyu.

“Kan yang lama di luar kamu,” balas Jennie. 

Mingyu mengambil kain tebal itu dan berterima kasih. Ia menepuk sisi sofa yang kosong di sampingnya. Meski tampak enggan, Jennie menurut. Ia mengambil mug yang ada di meja, lalu duduk di samping Mingyu, menyisakan jarak yang lebar di antara mereka. Sambil melipat kaki ke arah dada, Jennie menikmati sisa seduhan rempahnya yang hangat-hangat kuku.

Dengan satu tangan, Mingyu membentangkan selimut lebar-lebar, berbagi separuhnya dengan Jennie. Permukaannya yang lembut menutupi kaki mereka.

“Aku nggak perlu selimutnya,” gumam Jennie.

“Aneh kalau aku pakai sendirian,” bantah Mingyu, tak menggubris kata-kata wanita yang mencoba menolaknya. Keduanya menyeruput sisa minuman rempah di mug masing-masing, berbagi ruangan dengan keheningan yang tak segan mengisi udara.

Jennie menenggak isi gelas hingga tetes terakhir, lalu mengalihkan perhatian pada Mingyu yang masih menikmati pemandangan di luar ruangan. Salju telah berhenti, menyisakan kabut yang mengaburkan barisan gedung-gedung perkotaan.

“Mau tambah minumannya, Mingyu?” Jennie akhirnya menawarkan.

Mingyu bergumam rendah, sebelum menjawab. “Nggak usah. Aku balik aja abis ini,” ucapnya.

“Tapi, kamu belum cerita apa-apa,” balas Jennie.

“Emangnya aku bilang mau cerita?”

“Nggak, sih.” Jennie menggumam. Ia menghadapkan tubuhnya pada Mingyu. “Tapi gelagat kamu aneh. Tiba-tiba bilang mau ketemu. Mau ngajak aku keliling naik motor.”

Bibir Mingyu mengatup rapat. Ujung jarinya menyentuh bibir gelas, menghapus bekas air di permukaannya yang licin. Ia menunduk, seakan sedang mencoba bersembunyi dalam kotak yang tak boleh Jennie masuki.

Namun, sebelum pintunya menutup, Jennie menahannya.

“Hei,” panggil Jennie, menarik lembut lengan sweter Mingyu. “Kamu inget nggak waktu kamu bilang aku bisa minta bantuan kamu kapan aja? Kayaknya itu bisa aku lakuin juga ke kamu.”

Mingyu melirik Jennie, lalu kembali mengalihkan pandangan ke permukaan mug yang telah kosong. Bibirnya membuka dan menutup, tapi tak ada suara yang keluar. Sayangnya, bagi Jennie, menunggu bukanlah hal yang sulit. Bila ia dapat menunggu 10 tahun hingga Rowoon akhirnya melamar, Jennie tak segan menunggu semalam suntuk sekedar mendengar curhat ‘paman tiri’nya. 

“Aku pindah ke London tiga minggu lagi.”

Mingyu mengucapkan kalimat itu dalam satu tarikan napas, dalam tatapan kosong. Tubuh Jennie membeku. Bahunya jatuh lemas. 

Ia telah mempersiapkan diri menjadi sosok bijak, mengira Mingyu akan membicarakan hal lain. Misalnya, ia bertemu dengan seorang wanita yang menjadi soulmate-nya. Atau ia sedang beradu mulut dengan klien di tempat kerja dan bertengkar dengan Jiho. Kata-kata bijak yang terlintas di benak Jennie buyar seketika.

“K, kenapa?” tanyanya.

“Ada partner lama Jiho yang minta bantuin proyek di sana,” jawab Mingyu datar.

“Berapa lama kamu kerja di sana? Atau kamu tinggal permanen?”

“Minimal tiga bulan,” ungkap Mingyu. Bibirnya menarik senyuman kering. “Atau enam bulan. Setahun. Dua tahun. Aku nggak tahu. Aku belum pernah ke London. Jadi, setidaknya aku antusias untuk berkeliling ke tempat-tempat yang belum pernah aku datangi sebelumnya.”

Jennie kehabisan kata-kata. Ia tak tahu harus sedih atau senang–tidak. Seharusnya ia turut gembira untuk Mingyu. Seharusnya Jennie dapat mudah memberikan semangat, bahkan melemparkan kelakar betapa irinya ia pada Mingyu karena memiliki kesempatan berkeliling Eropa.

Namun, lidah Jennie kelu. Jari-jarinya mencengkeram ujung selimut. Dalam waktu kurang dari sebulan, Mingyu akan pergi. Mungkin tak akan kembali dalam waktu yang lama.

“Jangan cerita ke Jisoo dan Bambam dulu, ya,” ujar Mingyu, memecah lamunan Jennie. “Besok kan hari penting buatmu. Nanti setelah acara selesai, biar aku yang cerita sendiri. Sekalian pamitan.”

Jennie mengangguk lemah.

Chapter 54: the wedding day

Chapter Text

6 hours before the wedding.

“Capek, Nek?” tanya Jennie.

“Nggak, Sayang,” ucap Bu Suji lirih. Dengan lambat, ia mendudukkan diri di tempat tidur. Sebuah napas panjang berhembus dari mulutnya, melegakan diri yang lelah karena perjalanan panjang dari rumah sakit. “Terima kasih, ya.”

Hari ini adalah hari yang spesial. Tak hanya bagi Jennie yang akan melangsungkan pernikahan, tapi juga bagi Bu Suji yang dapat beristirahat di rumah. Setelah mengurus seluruh berkas rumah sakit, Dokter Baek memberikan izin kepada nenek Jennie agar turut merayakan hari pernikahan cucunya di rumah.

“Dari kemarin beliau udah semangat banget mau pulang,” Dokter Baek bercerita, saat Jennie menjemput Bu Suji pagi itu. “Karena kondisinya stabil, saya rasa membiarkan beliau menikmati hari ini di rumah akan baik untuk mentalnya. Bu Suji pasti bosan melihat taman rumah sakit setiap hari.”

“Iya. Nenek bilang dia juga kangen berkebun,” ujar Jennie dengan hati riang. “Walau di cuaca seperti ini, halaman rumah juga sama saja. Nggak menarik. Cuma rumput dan daun kering.”

Dokter Baek tertawa kecil. Di antara pembicaraan mereka, seorang tenaga medis jangkung datang menghampiri. Ia membawa sebuah tas ransel berukuran besar di satu bahu, dengan rambut panjang yang diikat ekor kuda. Wajahnya begitu kecil, dengan mata bulat yang menatap malu-malu. Ia tampak beberapa tahun lebih tua dari Jennie, tapi begitu cantik.

“Selamat pagi, Dok,” sapa suster itu dengan suara lembut. 

“Oh iya, Jen. Kenalin. Ini Suster Nara,” ucap Dokter Baek, memperkenalkan petugas medis yang baru saja datang. Suster Nara mengulurkan tangan. Jennie menjabatnya ringan. “Suster Nara akan menemani Bu Suji selama di rumah.”

Dokter Baek menangkap ekspresi wajah Jennie menegang, hingga ia buru-buru menambahkan, “Kamu nggak perlu mengkhawatirkan apa-apa. Bu Suji dalam kondisi stabil, kok. Kehadiran Suster Nara juga atas permintaan beliau. Kamu pasti sibuk mempersiapkan banyak hal hari ini. Jadi, biar Suster Nara yang menemani Bu Suji istirahat.”

Suster Nara melemparkan senyum. Meski mereka jarang bertemu saat di rumah sakit, kehadiran Nara di hadapannya mengirimkan rasa aman dalam hati Jennie.

“Bu Suji sering menceritakan tentang Anda,” ucap Nara. “Katanya, seandainya beliau punya cucu laki-laki, pasti akan dikenalkan pada saya.”

Jennie menutup wajahnya dengan kedua tangan, merasa malu mendengar kelakar neneknya sendiri. Setelah semua persiapan kepulangan Bu Suji selesai, Jennie dan Nara membawa Bu Suji yang duduk di kursi roda ke lantai dasar, di mana Bambam telah menunggu di mobil.

Perjalanan mereka tanpa hambatan yang berarti, membawa Bu Suji pulang saat matahari keluar dari balik atap rumah. Saat ia melewati pagar rumah, sinarnya yang hangat menerpa wajah, seakan turut gembira menyambut kepulangan Bu Suji. Haru, asisten rumah tangga Bu Suji, menyambut majikannya dengan tangisan haru di pintu.

Dengan bantuan Suster Nara dan Haru, Bu Suji dapat merasakan kembali permukaan kasurnya yang empuk dan bersahabat untuk tulang-tulang tua tubuhnya. 

“Nek, aku buatin sarapan, ya,” Jennie menawarkan, sambil duduk di tepi tempat tidur. Sambil menyandarkan punggung pada kepala tempat tidur, Bu Suji menggelengkan kepala pada sang cucu.

“Biar Haru aja yang ngurusin Nenek. Kamu siap-siap buat pernikahanmu sana. Belum dandan, pakai gaun, terus nyiapin ruangan. Banyak yang perlu kamu kerjain,” Bu Suji mengingatkan, sambil mengelus pipi Jennie lembut.

“Kalau untuk ruangan ada teman-teman yang bantuin, kok, Nek. Soal dandan, paling 30 menit juga cukup,” balas Jennie enteng.

“Iya, tapi tetap aja kamu harus ngecek semuanya, kan? Jangan sampai nggak.”

“Iya, iyaaa … siap deh, bos!” canda Jennie, sambil memberi hormat. Bu Suji tertawa melihat tingkah cucunya.

“Jennie.”

“Iya, Nek?”

“Kamu … benar-benar menginginkan pernikahan ini, kan?”

Pertanyaan itu seakan menelan seluruh suara yang ada di dalam kamar. Nara dan Haru saling melemparkan pandangan dalam diam, hingga menahan napas. Jennie, dengan dahi berkerut, tak memahami pertanyaan sang nenek.

“Kok, Nenek nanya gitu, sih?” tanya Jennie, tertawa kering. “Tentu saja aku mau pernikahan ini. Rowoon dan aku kan udah bersama sejak lama, dan tujuan kami pada akhirnya ya pernikahan ini.”

Bu Suji menggeleng. “Bukan gitu, Sayang,” potongnya. “Nenek … cuma merasa bersalah. Karena keegoisan Nenek, kalian jadi mempercepat pernikahan hari ini.”

Dalam lubuk hatinya, Jennie pun merasakan hal yang sama. Namun, ia tak pernah mau mengecewakan Bu Suji yang telah banyak membantunya. Mulai dari biaya sekolah, kuliah, hingga pernah membayar sebagian uang sewa apartemen yang Jennie tempati.

“Maafkan Nenek, ya, Jennie. Maaf karena wanita tua ini mendesakmu melakukan sesuatu yang mungkin kamu nggak siap menanggungnya,” tambah Bu Suji lirih. Kemudian, ia mendengus dengan tawa yang mengiringi ujung napas. “Ternyata, Nenek masih sama seperti dulu. Wanita egois yang menuntut banyak dari anak-anaknya. Nggak heran ayahmu pergi meninggalkan Nenek untuk membangun kehidupannya sendiri.”

Jennie menggelengkan kepala cepat-cepat. “Aku nggak pernah marah, sedih, atau kecewa karena Nenek meminta aku menikah. Nggak pernah.” Suaranya gemetar. “Aku mau menikah dengan Rowoon karena … karena …”

Kata-kata Jennie tertahan. Sebenarnya, mengapa ia mau menikah dengan Rowoon? Ketika belakangan ini hubungan mereka seperti kapal yang terombang-ambing dalam badai, Jennie justru ingin mengikat pria itu. Ia ingin meyakinkan pria itu bahwa mereka baik-baik saja. Sesekali, mereka bertemu dalam ombak yang tenang, tapi tak butuh lama gelombangnya naik lagi. Ketika ia mengira kapal akan terbalik, Jennie mencoba bertahan–meski Rowoon tak ada di sana. 

Jennie menelan ludah. Ini bukan waktu yang tepat untuk meragu, Jennie.

“Pokoknya,” ucap Jennie kemudian, meremas tangan Bu Suji. “Nenek tenang aja di kamar. Setelah semua siap, acaranya langsung dimulai.”

 

2 hours before the wedding.

Di saat seperti ini, ingin rasanya Jennie memiliki kekuatan super. Misalnya, kepalanya menumbuhkan antena yang dapat ia gunakan untuk mendeteksi lokasi seseorang. Ia sudah tak dapat menghitung berapa kali ponselnya menekan nomor yang sama, tapi tak kunjung mendapat jawaban. Sejak kemarin, Rowoon bagaikan menghilang ditelan bumi. Padahal, pernikahan mereka  akan berlangsung beberapa jam lagi.

Jennie dapat mendengar dering monoton dalam ritme teratur melalui ponselnya. Di setiap panggilan, ia berharap dering itu dapat putus dan berubah menjadi suara Rowoon. Setelah beberapa dering, panggilan itu akan berubah menjadi suara otomatis.

Maaf, untuk saat ini nomor yang Anda tuju tidak menjawab. Cobalah beberapa saat lagi.

Jennie mendecakkan lidah.

Dalam ruang tidur tamu rumah neneknya, Jennie menggunakan waktu yang tersisa untuk melakukan persiapan terakhir. Pantulan dirinya di cermin menunjukkan kerutan dahi yang sama. Wajah yang telah dipoles dengan riasan tipis, rambut ditata dalam sanggul sederhana. Pakaian pengantin sewaan yang Jennie kenakan membungkus tubuhnya dengan cukup baik, hanya terasa longgar di beberapa area. Jisoo, dengan peralatan jahitnya, telah melakukan operasi kecil agar sisi gaun yang kendur memeluk lekuk tubuh Jennie lebih erat.

“Gimana? Belum ada kabar, Jen?” tanya Jisoo dengan nada khawatir. Sambil memoles wajah, ia tak berhenti mengecek sahabatnya yang tampak gusar.

“Belum,” jawab Jennie geram, melempar ponsel ke meja rias. Ia tertunduk, memegangi kepalanya yang terasa kencang sejak pagi. “Rowoon kemana sih? Kenapa dia susah banget dihubungi?”

“Duh, aku nggak punya nomor dia, lagi,” gumam Jisoo. “Siapa lagi yang punya nomornya Rowoon, ya?”

“Aku nggak tahu–”

Jisoo terkesiap, seakan bohlam ide di kepalanya baru saja menyala. Ia berseru, “Jiho? Atau Seungcheol? Kantor mereka kerja sama dengan Rowoon, kan?”

Jennie membelalak. “Benar juga!”

“Coba aku tanya mereka, ya! Siapa tahu kalau mereka bantu menghubungi, Rowoon sadar kalau ponselnya bunyi sedari tadi.”

“Bisa tolong tanya mereka, Jisoo? Aku coba hubungi Rowoon terus dari sini,” sahut Jennie. 

Jisoo mengangguk, meletakkan wadah bedak di meja. Sepatu hak tingginya berkeletak di lantai, sembari melangkah ke arah pintu kamar. 

Di tempat tidur, Jennie memandangi layar ponselnya yang hitam. Jarinya mengetuk dan mulai mengetik. Setiap pesan yang ia kirimkan terakhir kali belum juga mendapat balasan. Rasa sesak di dada membuat Jennie tak dapat berpikir jernih.

 

Kamu di mana? Satu jam lagi acaranya mulai.

Sayang.

Tolong jawab aku.

Kamu masih mau menikahi aku, kan?

 

Jennie mengirimkan pesan-pesan itu. Ia menghela napas panjang, berharap ada titik terang dari sikap Rowoon yang mendiamkannya. Saat larut dalam benak yang kusut, tiba-tiba terdengar suara jeritan lemah di pintu. Jennie bangkit dari duduk, mengira Jisoo terluka.

“Sori, Jisoo. Lu nggak papa?”

Perut Jennie serasa melompat saat mengenali suara itu. Ternyata, sahabatnya hanya menabrak Mingyu yang sedang menghadang di balik pintu. Pria itu menahan lengan Jisoo, yang sedang merapikan ujung gaunnya. Pria tampak necis dalam balutan jas biru tua, yang mengingatkan Jennie pada setelan busana di hari pernikahan Jiho dan Yejin. 

“Gila, ya. Gue hampir mental gara-gara nabrak lu!” gerutu Jisoo, tapi berterima kasih karena Mingyu menangkapnya sebelum ia jatuh terduduk di lantai. Namun, omelan itu segera berubah menjadi antusiasme ketika Jisoo teringat pada tugasnya mencari kabar Rowoon. “Mingyu! Pas banget!--Lu tau nomornya Rowoon?”

“Rowoon? Nggak,” jawabnya, menggelengkan kepala. “Tapi Seungcheol kayaknya tahu. Kenapa?”

“Rowoon nggak ada kabar,” sahut Jennie dari dalam kamar, yang baru Mingyu sadari keberadaannya ketika wanita itu bicara. “Makanya aku butuh lebih banyak orang buat menghubungi dia. Takutnya kenapa-napa di jalan.”

“Coba tanya Seungcheol atau Jiho,” ucap Mingyu. “Mereka lebih banyak komunikasi sama orang Terrahaus belakangan ini.”

“Mereka di mana sekarang?” tanya Jisoo. “Gue butuh nomornya sekarang!”

“Lagi dekor ruang tengah–”

Belum juga Mingyu selesai bicara, Jisoo telah melesat pergi. Ia setengah berlari menyusuri lantai, meninggalkan pintu kamar Jennie terbuka. Mingyu, yang masih berdiri di luar, terpaku pada sosok wanita di hadapannya yang tampak berbeda.

“Hei,” sapa Mingyu kemudian.

“Hai,” balas Jennie gugup, menyentuh helaian rambut yang jatuh di sisi wajahnya.

Mata Mingyu bergerak turun dari kepala hingga ujung kaki Jennie, sesekali mengedip pelan. Seakan ia sedang mencerna dan merekam penampilan Jennie dalam benak, menyimpannya rapat-rapat. 

“Kamu … cantik banget hari ini,” puji Mingyu.

“Terima kasih. Tapi ini cuma baju sewaan,” tambah Jennie, tersenyum malu.

Mingyu mengangkat bahu. “Nggak masalah. Mau baju sewaan atau rancangan desainer terkenal, semua tergantung siapa yang pakai. Di mataku, kamu nggak keliatan lagi pakai baju sewaan.”

“Iya, deh, yang pinter banget ngomong manis,” canda Jennie sambil memutar mata, membuat Mingyu tertawa kecil. “Maaf, ya, kamu jadi ikut bantu-bantu beresin ruangan.”

“Bukan ‘maaf’, Jen. Tapi ‘terima kasih’,” Mingyu mengoreksi. “Jadi, ‘sama-sama’. Minta bantuan arsitek buat menata ruangan itu bukan pilihan yang salah, kok. Nanti aku tinggal kirim tagihan.”

“Masih aja, ya, minta bayaran,” Jennie mencibir, berkacak pinggang. “Kali ini, bayarannya nggak bisa tiramisu, ya.”

“Terus kamu bayar pakai apa, dong?” goda Mingyu.

“Hm,” gumam Jennie, memutar matanya. “Nanti aku pikirin dulu. Pokoknya nggak ada lagi mampir ke restoran dan minta tiramisu gratis.” 

Boleh minta hatimu aja, nggak?--Mingyu membenci dirinya sendiri karena membiarkan dirinya berpikir demikian. Tentu saja, ia tak akan pernah bisa mengatakan hal itu pada Jennie. Mingyu akan menyimpannya, hingga suatu saat rasa itu musnah dengan sendirinya.

“Jennie!”

Suara Jisoo menggema di koridor, membuat Jennie dan Mingyu menoleh. Pekikan itu berbeda dengan sebelumnya, saat Jisoo menabrak Mingyu di pintu. 

“Nenekmu … Bu Suji …”

Satu kata itu cukup membuat perut Jennie berputar hebat. Rasanya seperti ada tangan yang menggenggam ulu hatinya, memelintirnya kuat-kuat, menghantarkan perih ke seluruh tubuh. Kali ini, air muka Jisoo berbeda. Ia tampak pucat, seakan darah telah berhenti mengaliri wajah yang biasanya ceria. 

Jennie menyadari dari jauh, wajah Jisoo telah basah dengan air mata. Cara Jisoo memanggil nama neneknya terdengar lirih. Sesuatu terjadi pada Bu Suji. 

Ponsel Jennie berdenting. Sebuah pesan baru masuk, dari Rowoon.

Maaf. Aku nggak bisa.

Chapter 55: the groom is gone, the death in the bedroom.

Notes:

aku berhasil melewati klimaks! yay to me!! \o/

Chapter Text

Jennie’s POV

Ketika Jennie tiba di depan pintu kamar sang nenek, dadanya terasa kosong. Ia menarik napas, tapi udara enggan mengisi paru-paru, tercekat di tenggorokan. Langkahnya terhenti di ambang pintu. Jennie terheran karena meski ada keributan di dalam kamar, tak ada seorang pun yang menghadangnya masuk.

Di dalam ruangan, para tamu undangan berkerumun, berdiri di satu sisi tempat tidur. Keheningan merambat ke setiap sudut kamar. Yang terdengar hanyalah suara isak tangis seseorang. Jennie tak tahu siapa yang menangis, karena pandangannya terhalang oleh tubuh-tubuh yang berdiri diam seperti benteng batu. Di belakangnya, langkah Mingyu menyusul.

Yejin, ibunya, menjadi orang pertama yang menyadari kehadiran Jennie. Wajahnya tampak pucat, dengan mata sembab dan kemerahan. Ia menghampiri putrinya, selangkah demi selangkah.

“Jennie,” panggilnya lirih.

“Ma? Ada apa?” Jennie melihat sekeliling. Ketika ia bicara, beberapa orang turut mengakui kedatangannya. “Kok ramai ngumpul di sini?”

Yejin mengatupkan bibirnya yang gemetar. Kedua tangannya menggenggam lengan Jennie erat-erat. “Jen,” ucapnya. “Nenek … meninggal.”

“Hah? Mama ngomong apa sih? Nenek baik-baik aja–”

Jennie mencoba menampik cengkeraman ibunya, tapi Yejin bersikukuh. Matanya yang merah, kembali berderai air mata, menatap Jennie lurus. 

“Jennie, dengerin Mama. Bu Suji udah berpulang,” ia mengulang.

Kata-kata itu melesat seperti angin, menyibak cepat sebelum Jennie dapat memroses apa yang baru saja menampar wajahnya. Tadi pagi ia menjemput Bu Suji dan mengantarnya masuk ke kamar. Ia juga membelai wajah Jennie, hingga meminta maaf. Bila ada seseorang yang merencanakan dan merekam lelucon ini, Jennie bersumpah akan menggampar pelakunya.

Jennie menepis dan melepaskan diri dari Yejin. Langkahnya perlahan membawa Jennie ke sisi tempat tidur sang nenek. Di antara kepala yang menghalangi jalannya, Jennie dapat melihat ujung kaki sang nenek yang terbaring di ranjang.

Satu demi satu, Jennie melewati setiap orang yang berada di depannya. Ketika menyadari keberadaan sang calon pengantin, mereka saling berbisik. Setiap dengung rendah di antara mereka menebalkan gelombang kesedihan yang coba Jennie sangkal.

Sementara itu, Suster Nara sedang berdiri di sudut ruangan, dengan ponsel menempel erat di sisi wajahnya. Di lantai, Jisoo sedang membelai punggung seorang wanita yang berlutut, menangis meraung-raung. Wajahnya terbenam di tempat tidur, tubuhnya yang berisi berguncang setiap kali ia menarik anpas. Dari potongan rambutnya yang pendek, Jennie mengenali Haru.

Langkah Jennie terhenti ketika tulang kering di balik gaunnya menyinggung dipan. Ia berdiri di sisi kepala Bu Suji, mengamati dadanya.  Sang nenek tampak cantik, dalam gaun panjang berwarna hijau muda dan kardigan rajut. Rambutnya telah disanggul rapi, berwarna keperakan. Matanya menutup, seperti sedang tidur.

 Jennie berharap, ia dapat menangkap tanda kehidupan, walau sedetik saja. Jika ia memandang Bu Suji lebih lama, mungkin Jennie dapat melihat dadanya naik dan turun perlahan. Mungkin jarinya akan mengejut. Mungkin bola mata di balik pelupuknya akan bergerak ke kiri dan kanan.

Jennie mengulurkan tangan, meraih lengan ringkih berwarna pucat milik sang nenek. Kulitnya sedingin es ketika ujung jari Jennie menyentuhnya. Di balik lengan bajunya, terdapat sebuah gelang pasien berwarna ungu. 

Di satu telinga, tangisan Haru terus menghujam, meneriakkan berulang-ulang nama sang majikan yang telah terbujur kaku di ranjang. Bu Suji telah tiada.

“Beliau meninggal dua puluh menit yang lalu,” suara Suster Nara terdengar di balik punggung Jennie. Wajahnya tampak tenang. Terlalu tenang.

“Pakaian nenek saya terlihat rapi,” gumam Jennie. Ia berbalik, menatap Suster Nara dengan mata menyipit. Rahangnya menegang. “Kenapa seperti tidak ada tindakan untuk menolongnya? Apa tidak ada pertolongan pertama?”

“Prosedur DNR,” jawab Nara singkat. “Do Not Resuscitate. Beliau tidak ingin ada tindakan apapun jika terjadi henti jantung.”

“Bohong!” pekik Jennie. Ia menerjang, membuat sebagian orang menjerit kaget. Tanpa keraguan, tangan Jennie mencengkeram kerah baju Suster Nara kuat-kuat. “Kamu bohong! Nenek nggak pernah bilang apapun pada saya soal DNR! Saya nggak pernah menyetujui!”

“DNR dapat dilakukan atas persetujuan pasien,” balas Suster Nara dengan wajah datar, meski tubuhnya berguncang dalam genggaman Jennie. “Beliau hanya ingin pulang dan beristirahat di rumah–”

“BOHONG! Nenek saya nggak mungkin minta seperti itu! Saya akan tuntut kamu–”

Sebuah tangan menyambar, menarik Jennie menjauh dari Suster Nara. Mingyu meraih Jennie yang histeris dalam pelukan, membawanya ke sisi ruangan yang lebih lega.

“Jen, kamu tenang dulu,” ujar Mingyu rendah, menopang tubuh Jennie yang lunglai.

Seharusnya, hari ini menjadi hari yang paling membahagiakan. Seharusnya, Jennie meneteskan tangis bahagia karena memenuhi keinginan sang nenek dan juga menjadi wanita pilihan Kim Rowoon. Seharusnya, ia dapat membuktikan kepada Hong Suhee ia pantas menjadi istri dari putra tunggalnya. Seharusnya, Bu Suji masih ada di sini, merayakan keinginannya melihat sang cucu menikah. 

Raga itu roboh. Hati telah pecah berkeping-keping. Wanita itu terus meronta, bersama rintihan pilu yang menyayat hati. Seluruh angan menguap menjadi mimpi kosong, yang tumpah ruah dalam tangisan duka. Tubuhnya yang lelah berjuang hanya bisa pasrah dalam pelukan pria yang bersedia menjaganya agar tak tersungkur di lantai.

Di kejauhan, suara sirene ambulans terdengar.

 

Mingyu’s POV

Ada sebagian jiwa Mingyu yang tertinggal di kamar nenek Jennie dan belum kembali ke tubuhnya. Ia lemas, bersandar pada sofa ruang keluarga yang menghadap area taman. Matanya memandang jauh, tapi pikirannya melayang entah ke mana. 

Di balik dinding kaca, tanah dan dedaunan kering berpadu dalam warna kelabu. Langit yang mendung menaungi jiwa-jiwa sendu yang bersembunyi di dalam rumah, setelah kematian Bu Suji diumumkan resmi oleh Suster Nara. Waktu memudar, bahkan tak ada artinya lagi. 

Suster Nara menjadi satu-satunya manusia waras di dalam rumah itu, dengan sigap menyambut petugas medis yang datang bersama mobil ambulans. Ia menuntun jalan mereka ke dalam kamar Bu Suji, mengangkat jasadnya yang kaku pada ranjang beroda.

“Dari sini, kami akan membawa beliau ke rumah duka. Saya akan menghubungi pengelola gedung untuk membantu persiapan,” ujar Suster Nara kepada Jiho–yang meski tak memiliki hubungan darah, memutuskan untuk mengambil alih situasi. 

Sebagai pria tertua di dalam ruangan, Jiho adalah pilar yang dibutuhkan oleh Jennie dan keluarganya saat ini. Dengan tenang, Jiho mengikuti seluruh instruksi, bahkan mengantar Suster Nara dan tim menuju mobil yang menunggu di depan rumah.

“Kalau ada apa-apa, silakan hubungi saya,” Jiho menawarkan, sambil bertukar nomor dengan sang perawat.

Selepas jasad Bu Suji dibawa pergi, ada kehampaan yang mengisi seluruh rumah. Di saat yang bersamaan, setiap orang memikul duka hingga sulit menegakkan kepala. Hari yang seharusnya membawa kebahagiaan tiba-tiba terdengar seperti mitos belaka.

Mingyu belum dapat menghapus wajah kosong Jennie yang bengkak dan sembab, duduk selayaknya bambu yang berayun dalam keheningan. Ia masih mengenangkan gaun pengantin, dengan rambut bersanggul yang berantakan. Sekitar matanya kehitaman, karena riasan mata yang luntur bersama air mata. Mingyu sungguh tak tega melihatnya.

Sambil menatap langit-langit, Mingyu menyadari bahwa saat ini Jennie sedang menangis di kamar lain. 

Ia ingin memeluknya lagi. Ia ingin membisikkan kebohongan putih bahwa semua akan baik-baik saja. Namun, perannya tak lagi diperlukan ketika Jisoo dan Bambam telah mengambil alih. Tentu saja Jennie lebih membutuhkan sahabat-sahabatnya dibandingkan dirinya. Karena itu, Mingyu tak melawan dan memilih untuk menghabiskan waktu di ruang keluarga mendiang Bu Suji.

Tanpa kehadiran Suster Nara, ruang keluarga Bu Suji masih tampak lengang. Selain Mingyu, ada Jiho dan Yejin yang mengisi salah satu sudut ruang, sedang berbisik-bisik dalam jarak dekat. Sesekali Mingyu menangkap Jiho yang membelai Yejin penuh sayang, berusaha menenangkan istri barunya dari pedih yang tak berhenti menetes dalam bentuk air mata.

Di samping Mingyu, Seungcheol duduk sambil memandang layar ponsel. Sedari tadi, ia belum juga menyelipkan gawai itu kembali ke dalam kantung. Sesekali, kakinya bergoyang-goyang, menekan layar, menelepon seseorang, lalu kembali duduk diam. Mingyu tahu, Seungcheol hanya berusaha memenuhi permintaan Jisoo untuk menghubungi Rowoon–yang hingga saat ini tak juga muncul di rumah Bu Suji.

Haru, asisten rumah tangga Bu Suji, duduk diam di salah satu kursi seorang diri. Ia terus menunduk, kedua tangannya saling menggenggam erat. Sesekali ia mengusap wajah dengan punggung tangan, menghapus air mata yang mencoba membuat jejak baru. Bila Rowoon muncul hari ini, ia akan bergabung dengannya di sofa, bersama wanita paruh baya yang Mingyu kenali di rumah sakit. 

Sayangnya, Rowoon menghilang seperti hantu. Ketidakhadirannya memperburuk suasana yang telah rapuh, apalagi ketika Mingyu tahu bahwa ia tak berbagi kabar dengan Jennie sejak kemarin. Jisoo meminta tolong siapapun yang memiliki nomor Rowoon untuk menghubunginya, tapi tak ada hasil. 

Jika pesan dan panggilan dari Jennie saja tak dijawab, apa iya Rowoon akan merespon nomor orang lain, pikir Mingyu. Ucapannya terbukti benar.

“Selamat siang, semuanya.”

Jisoo tiba-tiba muncul di ruang keluarga, suaranya yang serak memecah keheningan. Secara serentak, seluruh penghuni ruangan memusatkan perhatian padanya. Mingyu menegakkan diri, mengamati wajah Jisoo yang kuyu seakan-akan ia tak tidur tiga hari lamanya.

Ia menarik napas beberapa kali, melepaskannya perlahan. Mulutnya membuka dan menutup, tapi tak ada suara yang keluar. Kedua tangannya mencengkeram erat sisi gaun, sebelum Jisoo akhirnya berkata, “Untuk saat ini, mungkin sebaiknya kita istirahat dan makan siang. Tapi, sebelum itu, aku mau menyampaikan beberapa hal. Jennie … sudah memutuskan untuk membatalkan pernikahan dengan Rowoon. Dia minta aku menyampaikan hal ini kepada kalian.”

Mingyu mendengar seseorang terkesiap, tapi ia tak berani menoleh untuk melihat siapa yang melakukannya.

“Jennie baru mengecek ponsel dan melihat sebuah pesan dari Rowoon yang mengatakan kalau dia tidak bisa melanjutkan pernikahan ini,” Jisoo menambahkan. “Karena itu, Jennie memilih untuk mengabulkan permintaan Rowoon.”

Sebelum Jisoo selesai bicara, Yejin telah berlari meninggalkan ruangan. Langkahnya berderap saat menyusuri koridor, sebelum sosoknya menghilang di balik dinding, tak terlihat lagi hingga hari berakhir.

Jisoo bergeming, membiarkan Yejin pergi. Dalam benaknya, ia tahu Yejin tak akan tega meninggalkan Jennie sendirian di kamar. Karenanya, Jisoo melanjutkan, “Untuk pemakaman Bu Suji, kita tinggal menunggu kabar dari Suster Nara saja. Kalau prosedurnya cepat, mungkin nanti malam kita bisa berangkat ke rumah duka. Setelah mendapat kabar, sebaiknya kita semua pulang, mungkin istirahat sebentar. Mengganti baju, lalu pergi ke rumah duka.”

Jiho mengangkat tangan, lalu berujar, “Saya akan menyebarkan informasi kepada kalian semua setelah mendapat kabar dari Suster Nara. Jadi, pastikan ponsel kalian dalam keadaan baterai penuh, ya.”

Semua orang yang ada di dalam ruangan mengangguk. 

“Oke, mungkin itu saja yang bisa aku sampaikan,” ucap Jisoo. “Bambam sudah kembali ke dapur untuk memasakkan makan siang. Kalau ada yang lapar, silakan ke ruang makan, ya.”

Jisoo mengucapkan terima kasih, lalu pergi meninggalkan ruangan. Mingyu bangkit dari duduk dan mengejarnya.

“Jisoo!” seru Mingyu.

Jisoo menoleh, langkahnya terhenti di koridor yang membawanya menuju kamar tamu tempat Jennie sedang beristirahat.

Setengah berlari, Mingyu memotong jarak di antara mereka. “Jennie … gimana kondisinya?” tanyanya.

Jisoo mengangkat bahu. Mingyu melihat bibirnya gemetar, dengan mata berkaca-kaca. “Kacau,” ucap Jisoo singkat. “Aku nggak pernah melihat Jennie sekacau itu sebelumnya. Aku … nggak tahu bagaimana dia bisa bangkit setelah ini.”

Tangis Jisoo pecah di hadapan Mingyu. Pria itu mendekat, hatinya mencelos melihat sahabat Jennie yang biasanya ceria dan kokoh pun porak poranda. Ia hanya diam, berusaha menenangkan Jisoo dengan menepuk punggungnya lembut. 

“Aku boleh ketemu Jennie?” tanya Mingyu, tapi Jisoo menggeleng cepat.

“Sebaiknya jangan,” sahut Jisoo dengan suara sengau. Ia menghapus air mata dari pipinya. “Biarin Jennie istirahat dulu untuk sekarang. Dia pasti capek banget. Kalau aku boleh minta tolong …”

“Boleh. Bilang aja,” potong Mingyu cepat.

Jisoo mendongak, menatap Mingyu dengan tatapan sendu. “Aku minta tolong temani Bambam,” ujar Jisoo. “Dia … mungkin sekarang mencoba keliatan kuat, tapi aku tahu dia memendam amarah besar pada Rowoon. Kamu ingat, kan, kejadian di rumah sakit baru-baru ini?”

Mingyu mengangguk. Hari itu pertama kalinya ia melihat Bambam meledak, hampir baku hantam dengan Rowoon.

“Tolong temani dia di dapur. Kalau kamu nggak bantu dia masak, nggak papa. Setidaknya, aku bakal lebih tenang kalau Bambam ada yang nemenin. Aku nggak bisa bantu dia karena kepikiran Jennie,” sahut Jisoo.

“Oke. Aku ke dapur sekarang,” Mingyu menyanggupi.

Jisoo melemparkan senyum singkat. Mingyu merasakan genggaman di lengannya menguat. “Terima kasih, Mingyu,” ucapnya tulus. “Kalau nggak ada kamu, situasinya pasti akan lebih kacau sekarang.”

Chapter 56: the funeral (1)

Notes:

mohon maaf kalau apdetnya lama.

Chapter Text

Mingyu’s POV

Kim Mingyu belum pernah menghadapi kematian sebelumnya. Ketika ayahnya meninggal pun, ia masih sangat kecil. Ingatan tentang wujud ayahnya terasa samar, belum lagi sentuhan dan waktu yang mereka habiskan bersama. Cerita dari Jiho dan kakak-kakak tirinya yang lain tak membangkitkan kenangan apapun.

Mingyu hanya mengenali ayahnya dari foto. Seorang pria paruh baya berambut putih, keriput, dan berbagi ciri wajah yang serupa dengannya. Pria itu tersenyum dalam foto, menggendong bayi yang diabadikan dalam bingkai bercorak kayu. Pigura itu masih ada di meja ruang tamu.

Ia tak pernah menyangka kematian akan terasa brutal di hati. Rasanya seperti menyuntikkan tinta hitam ke dalam dada, mengisi setiap relung dengan kegelapan. Ke manapun ia bergerak, kekosongan itu mengikuti. Meski Mingyu tak mengenal Bu Suji dalam waktu yang lama, ia tak dapat melupakan tawa kecilnya saat di rumah sakit. Wanita ringkih yang menerima kehadirannya sebagai ‘teman SMA Jennie.’

Untuk menuju dapur, Mingyu harus melewati meja makan yang panjang. Haru, sedang menata piring dan mangkok di meja. Ia mengerjakannya tanpa suara, bahkan hanya menganggukkan kepala lemah ketika Mingyu melewatinya. Setiap pasang sumpit dan sendok yang ia letakkan di permukaan berdenting, menjadi satu-satunya suara yang mengisi udara.

Bila suasana selepas kepergian Bu Suji belum cukup muram, maka dapur tempat Bambam sedang bekerja serupa lembah hitam. Ruangan itu berada di bagian belakang rumah, di sisi barat yang menghadap jalan raya. Areanya tak begitu besar, dengan meja konter yang mengelilingi dinding. Kulkas tua yang berdengung di sudut ruang, serta kompor lawas yang permukaannya berkilap. Seseorang merawat dan menggunakan kompor itu dengan baik, pikir Mingyu. Mungkin Jennie. Mungkin juga Haru, sang asisten rumah tangga.

Ketika Mingyu melangkah masuk, punggung Bambam menjadi wujud yang pertama menyambutnya. Pria itu berdiri tegak menghadap meja konter, sibuk memotong bawang bombai. Cahaya alami matahari menyinari ruangan tanpa perlu sinar artifisial dari langit-langit. Dari balik tubuh Bambam, suara pisau mengetuk talenan dengan ritme teratur. Di sisinya, sebuah panci tengah berbuih di atas kompor dan wajan mendesis. 

“Bambam,” panggil Mingyu.

Ketukan pada talenan berhenti. Bambam menoleh, melewati bahu. Tanpa kata. Matanya menatap Mingyu kosong.

“Lu masak apa?”

“Ada kimchi jjigae dan tumis daging,” balas Bambam. “Bahannya ada semua. Gue cuma kepikiran dua makanan ini yang paling cepet masaknya.”

“Ada yang bisa gue bantu?” tanya Mingyu.

Bambam mematung sejenak, seakan sedang mengkalkulasi ulang isi kepalanya. Ia menunjuk ke arah panci yang mendidih.

“Tolong cek rasa supnya. Kayaknya aku tadi belum kasih bumbu. Kalau udah oke, tuang ke dalam mangkuk,” ucap Bambam pelan. Mingyu menurut. Ia mengambil sendok yang bertengger di tepi kompor, mengambil sedikit kuah. Setelah meniup permukaannya beberapa kali, Mingyu mencecap cairan kental merah dari tepi sendok. Ia mengangguk, mengacungkan jempol kepada Bambam.

“Aku bawa supnya ke meja makan, ya,” sambung Mingyu kemudian. Ia membuka setiap lemari kabinet, mencari wadah yang tepat untuk menampung sup.

“Mingyu,” panggil Bambam, pada pria di sampingnya. Mingyu menoleh, memandang Bambam yang menuangkan potongan bawang bombai ke dalam wajan. Di antara desisnya yang mengisi telinga, sayup-sayup Mingyu mendengar Bambam berkata lirih, “Terima kasih, ya, udah ada di sini.”

Mingyu mengatupkan bibir. Sebelumnya, Jisoo mengatakan hal yang sama. Kata-kata tulus yang menggerus hati sekaligus memercikkan bara api di hari penuh duka. Ia meletakkan tangan pada bahu Bambam, meremasnya kuat-kuat. Bibir Bambam memaksakan senyum, agar pilu yang ia rasakan tak luber ke permukaan.

Dengan mangkuk besar berisi sup hangat, Mingyu meninggalkan dapur. Ia memanggil anggota keluarga yang tersisa untuk makan bersama. Satu per satu mereka berdatangan, kecuali Jisoo dan Jennie. Mingyu pikir, ungkin ia harus menyisihkan dua porsi untuk mereka.

*

Di bawah langit jingga, Jiho menerima pesan dari sebuah nomor yang baru ia simpan hari itu. Ketika menerimanya, suara seorang perempuan dengan tegas menyapanya. 

Para anggota keluarga–kecuali Jisoo dan Jennie, berkumpul di ruang tengah, memusatkan perhatian pada pria paruh baya itu.

“Baik. Baik,” gumam Jiho lambat-lambat. Sesekali ia mengangguk seorang diri, mendengarkan suara Suster Nara di telinga dengan seksama. Beberapa menit berlalu, dan Jiho memutus panggilan. Ia mendongak, menatap setiap orang yang ada di dalam ruangan. “Ruang duka Bu Suji sudah siap. Kita bisa segera berangkat ke sana.”

Selepas mendengar berita itu, setiap orang perlahan bangkit dari sofa dan meninggalkan rumah Bu Suji. Jiho dan Yejin memutuskan untuk tinggal lebih lama, sementara Mingyu, Seungcheol, dan Bambam memisahkan diri. 

 

Lewat jam tujuh malam, gedung rumah duka menghadirkan kehidupan yang sesekali melewati pintu utamanya. Ketika Mingyu sampai bersama Seungcheol, para pelayat satu per satu berdatangan. Kebanyakan dari mereka adalah pria dan wanita paruh baya, yang datang bersama pendamping lebih muda. Di antara mereka muncul bergerombol, dengan tingkat keringkihan yang berbeda-beda. Ada yang masih bugar, bungkuk, hingga menggunakan bantuan tongkat penyangga untuk berjalan. Tak ada suara atau lagu-lagu yang mengiringi langkah mereka. Dari kejauhan, mereka seperti roh-roh berkepala putih yang melayang, bergerak pelan sebelum menghilang ke dalam bangunan.

Seungcheol menepuk punggung Mingyu. “Ayo, masuk,” ajaknya.

Langkah mereka terasa berat saat melewati pintu utama. Lorong yang lebar berwarna kelabu, dengan pintu berdaun ganda di sisi kiri dan kanan. Aroma dupa dan bunga segar berpadu menjadi satu, membuat Mingyu mual. Sebuah karangan bunga krisan putih terpajang di salah satu pintu. Mingyu menduga, ruangan di sisi kiri menjadi tempat peti mati Bu Suji bersemayam. Bersama Seungcheol, ia melangkah lebih jauh.

Dari balik pintu ganda dengan karangan bunga di sisi, Mingyu menangkap sosok Yejin dan Jiho yang telah bersiaga. Mereka berdiri di balik meja panjang yang ditutup kain berwarna putih. Para pelayat berdatangan, menyapa pasangan suami istri itu singkat. Ada yang memasukkan amplop ke dalam kotak, ada yang tidak. Setelah menyapa para penerima tamu, mereka masuk ke dalam ruangan yang luas tak bersekat. Di sisi timur, altar Bu Suji terang benderang dengan rangkaian bunga yang menutupi permukaan meja. Di sisi barat, meja-meja panjang menyajikan hidangan hangat bagi para tamu yang duduk di lantai.

Jiho menyadari kedatangan dua pria muda di pintu, melambaikan tangan ke arah mereka.

“Ramai juga. Sedari sore sudah banyak yang datang,” ungkap Jiho, sebelum Mingyu menanyakan kondisinya. “Kalian udah makan belum? Sana masuk ke dalam. Bambam yang masak.”

“Lagi?” tanya Mingyu dengan nada meninggi. Dahi berkerut. Setelah memasak makanan untuk keluarga siang tadi, bisa-bisanya Bambam memilih untuk memasak lagi malam ini. 

Jiho hanya dapat melemparkan senyum kering. 

“Bambam bilang dia nggak bisa duduk tenang. Makanya, dia lebih milih kerja di dapur daripada berbaur dengan tamu lain,” ucap Jiho. Pandangannya tertuju pada sosok pria di ujung ruangan. Pada area pantry yang terbuka, seorang pria berpakaian serba hitam sedang sibuk mengisi mangkuk-mangkuk sup. “Kalau diam aja, kepalanya bakal sibuk mikirin seribu satu cara untuk menghajar Rowoon.”

Mingyu menghela napas panjang. “Terus, Jennie gimana keadaannya?” tanyanya.

Tanpa kata, Jiho menoleh, pandangannya tertuju pada sosok wanita yang duduk di depan altar. Ia mengenakan hanbok hitam, duduk tegak di tengah ruangan. Mingyu hanya dapat melihat belakang kepalanya, dengan rambut diikat ekor kuda. Bahunya turun, seperti seorang ksatria yang mengaku kalah pada dunia.

“Jennie udah duduk di sana semenjak datang bersama kami tadi sore,” sahut Jiho. “Kami tawarin makan dan minum, dia nggak mau. Katanya belum lapar. Tapi wajahnya pucat banget.”

Chapter 57: the funeral (2)

Chapter Text

Jennie’s POV

Di pagi hari, Jennie masih menggunakan gaun putih berpayet. Ia yang menatap pantulan dirinya di cermin, dengan sanggul dan riasan ringan yang membuat wajahnya segar. Bibirnya menyunggingkan senyum, penuh harap. Harapan untuk membangun keluarga versi utuh, yang selama ini tak pernah Jennie dapatkan. Perjalanan kasih bersama Rowoon yang ia perjuangkan, berawal dari perasaan yang murni hingga berujung tekanan. Calon ibu mertua yang tak sudi menerimanya, serta anting merah muda asing di lantai mobil Rowoon.

Masih di hari yang sama. Ia kini duduk di depan altar sang nenek, berbalut kain hitam hingga ujung kaki. Wajahnya kering di bawah tiupan pendingin ruangan. Jejak air matanya telah mengering, dengan kantung mata bengkak yang lelah menangis. Udara yang dingin membuat tubuhnya gemetar, hingga Jennie harus duduk sambil memeluk lutut. Ia menunduk, menyandarkan dahi pada tempurung lutut.

Sisi dinding di hadapannya menjadi pusat dunia Jennie. Sebuah dunia penuh keheningan dan kekosongan yang tak pernah ia jumpai sebelumnya. Matanya mengedip pelan, memandangi rangkaian bunga krisan putih yang menghiasi altar. Di tengah permukaan meja, foto Bu Suji tersenyum dalam bingkai hitam. Sebuah meja kayu pendek menampung sajian makanan dalam piring-piring kecil, bersama aroma dupa yang berbaur dengan udara, menebalkan suasana suram. 

Di balik punggungnya, Jennie dapat mendengar suara riuh piring dan sendok yang beradu. Gumaman rendah dari orang-orang yang tak ia kenal–dan tak mau kenal–menikmati jamuan dan bertukar kata. Bahkan di tengah kematian seseorang, makanan menjadi bagian dari ritual. 

Sayangnya, Jennie terlalu mual untuk memikirkan makanan. Perutnya perih dan kepalanya serasa diikat kuat-kuat oleh sebuah sabuk yang tak kasat mata. Setiap kali ia menutup mata, rasanya tubuhnya dapat roboh kapan saja. Bambam telah berbaik hati memasak untuknya dan semua orang. Jisoo tak lelah menawarkan semangkuk sup atau segelas air setiap dua jam sekali. 

Namun, Jennie merasa lelah. Saat ini, ia tak ingin melakukan apapun. Tak ingin merasakan apapun. Ia ingin mengungkung diri dalam kegelapan dan tenggelam di dalamnya. Waktu adalah musuh yang memutar kisah di masa lalu, yang kini menambah perih pada perut Jennie. Bila ia berhenti memikirkan Rowoon dan kata maaf dalam pesan terakhirnya, Jennie merasa lebih baik. Bila ia berhenti menelan fakta bahwa pria yang ia cintai telah menghilang tanpa kabar, Jennie tak perlu merasakan ujung jari kakinya yang dingin.

Yang tersisa adalah neneknya kini telah mati, tubuh kaku di dalam peti. Ia pergi tanpa diiringi janji yang tak bisa Jennie penuhi. Jari-jari Jennie mencengkeram lengannya kuat-kuat. Ia ingin menangis, tapi tak ada air mata yang keluar. Ayo, menangislah. Setelah itu, kamu akan merasa lebih baik, ucap Jennie pada dirinya sendiri. 

Bencilah hari ini. Tangisilah dunia yang tak berpihak padamu. Tangisi dunia yang merenggut semua yang kamu inginkan.

Hong Suhee benar. Mungkin kamu memang tidak pantas mendapatkan semua ini. Kamu tidak pantas untuk Rowoon dan kekayaan yang ia tawarkan.

Seandainya kamu menikah lebih cepat. Seandainya kamu berhenti bekerja dan memilih menjadi seorang istri. Mungkin saat ini kamu sudah menimang seorang anak, melihat nenekmu tersenyum di taman belakang rumah sambil menggendongnya. Ia akan mengajarkan anakmu bahasa bunga, sambil menikmati torta buatanmu. 

Seandainya kamu tidak bertemu Rowoon di masa kuliah, kesedihanmu akan berkurang satu. Seandainya kamu tidak belajar memasak. Kamu cukup duduk sendirian, di kamar, menangisi ketidakhadiran ibumu di Hari Orang Tua. Kamu pantas untuk merasa sendirian, Jennie. Saat sendirian, kamu lebih jago melewati semuanya, kan?--

Kebencian yang mengitari isi kepalanya seketika berhenti, ketika Jennie merasakan kain tebal menutupi tubuhnya. Ada aroma sandalwood yang ia kenali. Aroma yang lembut dan hangat, menyelimutinya dalam ketenangan yang beberapa kali pernah Jennie rasakan. Kehadiran seseorang terasa nyata di sisinya, dengan aroma serupa yang lebih kuat.

Jennie mendongak, matanya mengunci tatapan Mingyu yang teduh. Wajahnya tampak lelah, tapi ada ketenangan yang ia tawarkan. Kedua tangannya yang besar menarik kerah jas hitam, menutupi tubuh Jennie lebih rapat. Terakhir kali Mingyu menunjukkan wajah itu, adalah ketika Jennie merasakan kram perut di apartemennya. Tanpa kata, pria itu duduk di samping Jennie. Matanya bergerak-gerak, seakan sedang memindai setiap sudut dan fitur wajah wanita di hadapannya. 

“Kamu pasti laper,” bisik Mingyu. Suaranya yang rendah dan serak menggetarkan tubuh Jennie. “Wajahmu udah pucat banget.”

Mingyu memutar tubuhnya, memunggungi Jennie. Saat ia kembali menghadapnya, Mingyu membawa dua mangkuk sup daging hangat. Aromanya yang gurih menggoda hidung Jennie. Permukaannya keruh, dengan bulir-bulir minyak, potongan daging kecoklatan dan irisan lobak yang berpadu. Warna daun bawang yang mengambang begitu segar dipandang. Jennie menelan ludah. 

Pria itu meletakkan satu mangkuk di depan kaki Jennie, sementara ia menikmati semangkuk sup lain di tangannya. Mingyu menggumamkan nada riang, menyesap kuah dari ujung mangkok dan melepaskan kelegaan di udara. Ia mengunyah dengan penuh semangat, di saat perut Jennie merintih.

“Wah, enak banget,” serunya. “Bambam emang jago masak!”

Belum juga isi mangkuknya habis, Mingyu meraih mangkuk lain yang sebelumnya ia letakkan di depan Jennie. Ia pura-pura tak melihat sepasang mata di sampingnya yang mengikuti mangkuk itu. Semakin jauh sup daging dari lantai, mata Jennie semakin membesar. Mingyu melihatnya menelan ludah.

Saat pria itu mengaduknya, uap yang membawa aroma daging kembali menari-nari. Tanpa menunggu Jennie mengiba, Mingyu menyendok kuah sup dan menyodorkannya ke dekat mulut. Namun, Jennie bergeming.

“Kalau kamu mau di sini semalaman, tenang aja, aku bakal nemenin. Jisoo, Bambam dan Seungcheol juga berpikiran sama,” ujar Mingyu. “Tapi, kamu nggak bisa begadang kalau nggak makan. Apa iya kamu mau mogok makan tiga hari?”

Pertanyaan itu membuat Jennie menegakkan diri, menjilati bibirnya yang kering.

“Kamu sendiri yang bilang liat orang makan itu menyenangkan. Sekarang aku penasaran yang kamu omongin itu bener atau nggak.” Mingyu tersenyum, menempelkan tepi sendok ke bibir Jennie. “Aku mau lihat gimana wajahmu kalau lagi makan.”

Jennie menyerah. Ia mencondongkan tubuh, menyesap isi sendok perlahan. Dalam sekejap, lidah dan rongga mulutnya terasa hangat. Setiap rasa menyentuh indra pengecap dengan sempurna. Kuah yang kental, dengan potongan daun bawang yang membangkitkan nafsu makannya. Kehangatan yang menjalar hingga ke dalam perut, membuat Jennie melupakan penatnya isi kepala. Mingyu tak berhenti menyuapi Jennie, sesekali menawarkan potongan daging yang wanita itu terima dengan senang hati. Jennie menghabiskan satu mangkuk sup daging hingga tetesan terakhir.

Mingyu mengangguk-angguk. Dulu, ia tak sepenuhnya paham mengapa Jennie suka melihat orang makan dengan lahap. Namun, melihat rona merah yang perlahan kembali menghiasi pipi Jennie, matanya yang berbinar, dan bibir lembab berlapis minyak dari kuah sup, Mingyu dapat melihat kehidupan kembali memercik di wajah wanita yang ia cintai.

“Mau lagi?” tawar Mingyu.

Jennie mengangguk dengan semangat. 

“Tunggu bentar, ya. Aku ambilin–”

“Nggak usah,” potong Jennie, mengelap bibirnya yang berminyak dengan punggung tangan. Ia meraih lengan Mingyu yang hendak bangkit berdiri, menahannya pergi. “Aku makan di meja aja.”

Chapter 58: the second day, at the funeral.

Chapter Text

Jennie’s POV

Jennie terbangun bersama hangatnya sinar matahari dari jendela yang membelai wajahnya. Ia menyipitkan mata, menghalau sinar yang terlalu terik. Saat mencoba bangkit dari posisi tidurnya, rasa menusuk di kepala membuatnya berbaring lagi. Sambil memijat dahi, Jennie merasakan alas kepalanya yang empuk bergoyang-goyang.

“Masih pusing, Jen?” 

Pertanyaan itu datang dari suara yang begitu dekat. Jennie menengadah, menangkap wajah sang pemilik suara yang sedang memandangnya dari atas. Mingyu juga baru saja bangun, menggosok matanya yang masih berat untuk menjalani hari kedua di rumah duka. Tubuhnya bersandar pada dinding, duduk semalaman dengan kepala Jennie menggunakan pahanya sebagai bantal.

Jennie tersentak bangun–kepalanya seketika berputar. Panas yang tiba-tiba merambati tengkuk dan pipi membuatnya bertanya-tanya. Ini akibatnya kalau nggak makan dan kurang tidur, Jen, pikirnya. Dasar kamu,Drama Queen. Saat menunduk, Jennie menyadari jaket Mingyu menutupi tubuh bagian bawahnya.

Dinginnya udara di dalam ruang duka membuat tubuh Mingyu menggigil. Ia bersin, sambil menggosok-gosok lengannya sebagai usaha menjaga tubuhnya tetap hangat. Jennie menangkap semua itu, lalu memandang jaket tebal yang menyelimutinya semalaman.

“Kalian udah bangun?”

Suara kedua turut membuat Jennie tersentak. Bambam, muncul di hadapan mereka sambil membawa dua mangkuk sup daging. Wajahnya tampak segar, dalam balutan kaus hitam yang rapi. Tak hanya sup, Bambam juga membawa setumpuk kudapan pajeon, dan tumisan daging. “Ayo makan dulu. Sebelum para pelayat berdatangan lagi.”

“Sekarang jam berapa, Bam?” tanya Mingyu, sambil meregangkan lengannya, merasakan setiap tarikan pada ototnya yang masih tertidur.

“Jam 6,” jawab Bambam, melirik waktu di pergelangan tangannya.

“Gue balik dulu, ya, abis ini. Mau mandi, ganti baju. Beresin kerjaan di kantor juga.” Mingyu menggeser dirinya mendekat ke meja, leseh di lantai. Ia menelan ludah. Matanya tak berhenti memandangi setiap mangkok dan piring hidangan yang Bambam siapkan untuknya. Mingyu menggulung lengan kemejanya, dengan sigap mengambil sumpit. “Selesai jam kantor, gue ke sini lagi.”

“Nanti malam lu balik lagi?” tanya Bambam heran, sambil duduk di seberang Mingyu.

Mingyu melemparkan pandangan, mengangguk tanpa kata. “Biar Jennie ada teman kalau dia begadang sampai malam,” gumamnya kemudian.

Bambam ingin membantah, tapi ia segera mengatupkan bibir. Hari ini saja, Bambam tak bisa izin meninggalkan tempat kerja karena tanggung jawabnya sebagai seorang saucier di dapur. Pekerjaannya adalah jiwa bagi masakan Italia. Kalau sampai ia bolos kerja hari ini, bisa-bisa Chef Dom akan mendepaknya dan tak mengizinkan Bambam menginjakkan kaki lagi di dapur Nero&Bianco.

“Capek banget, Mingyu. Abis kerja seharian lu masih mampir ke sini.” Saat melemparkan pertanyaan ketus itu, Bambam menolak untuk memandang mata Mingyu. Ada rasa mengganjal dalam perutnya yang tak bisa ia jelaskan. “Istirahat aja.”

Mingyu menarik sudut bibir, tersembunyi di balik sendok yang terisi oleh kuah sup daging. Ia menyeruputnya perlahan, merasakan gurihnya kaldu yang memanjakan lidah. “Nggak papa. Buat Jennie, aku ada waktu,” tuturnya.

Bambam tercengang. Sejauh ia mengenal Kim Mingyu dalam beberapa bulan terakhir, Bambam belum pernah mendengar kejujuran rasa dari pria di hadapannya. Tak ingin mengartikan kata-kata itu lebih jauh, Bambam mengalihkan perhatian pada sahabatnya yang masih duduk mengutak-atik ponselnya seorang diri. Ia memanggil Jennie, mengajaknya turut sarapan bersama. 

“Jen! Ayo, sarapan dulu! Biar lu melek!” seru Bambam. “Jisoo ngabarin dia lagi perjalanan ke sini, bawain lu baju sama perlengkapan mandi.”

“Iya, ini gue juga baru ngecek pesan dari Jisoo,” timpal Jennie. Jarinya menggulung layar dengan cekatan, menghindari satu nama yang masih muncul di barisan teratas. Setelah meletakkan ponselnya ke dalam tas, Jennie mengambil tempat kosong di samping Mingyu–yang masih sibuk menghabiskan isi piring. Pipinya menggembung, mulutnya sibuk mengunyah.

“Kamu nggak pulang dulu, Jen? Kayaknya masih sempat sebelum pelayat datang,” ujar Mingyu dengan mulut penuh. Jennie melihat ada saus kecap di ujung bibirnya. “Kalau mau balik, aku anterin.”

“Mungkin nanti siang. Atau sore,” balas Jennie. Ia memegang sumpit, mengisi mangkuk nasinya dengan potongan daging. “Aku nunggu Mama atau Jisoo datang dulu.”

“Kalau capek, kamu boleh, kok, pulang. Kamu nggak harus nanggung semua kesedihan sendirian.”

Kata-kata Mingyu menghujam telinga Jennie. Tangannya yang memegang sumpit berhenti sejenak di udara. Bambam melirik keduanya dalam diam, lalu kembali fokus pada makanan di mangkuknya. 

“Iya, aku tahu,” balas Jennie dingin. Sejumlah potongan daging menumpuk di atas mangkuk nasinya. Jennie mengambilnya satu per satu, menikmati rasa gurih yang ia makan bersama nasi dan lauk lainnya. Bambam benar, makan banyak membuatnya lebih siaga.

 

Mingyu’s POV

Seluruh mangkuk dan piring di hadapannya telah kosong. Perutnya tak sanggup lagi menjejalkan potongan daging. Mingyu menepuk perutnya sambil menghembuskan napas lega. Ia duduk santai, sesekali melirik ke arah Jennie yang menikmati sarapannya dengan perlahan. Berbeda dengan dirinya yang dapat menjejalkan banyak lauk sekaligus ke dalam mulut, Jennie makan dengan anggun. Ia bergiliran memasukkan bongkahan kecil dari daging, sejumput nasi, mengunyahnya pelan, menelan. Lalu berpindah pada mangkuk sup, menenggak kaldunya dalam tiga isapan. Berikutnya, ia kembali menikmati potongan daging bersama nasi.

Jennie benar, menonton orang yang sedang makan cukup menyenangkan. Mingyu tak pernah menyadari hal itu sebelumnya. Selama ini, ia hanya fokus pada makanannya sendiri, menelan segala rasa yang berpesta dalam mulut. Ternyata cara makan setiap orang pun berbeda. Mingyu merasa geli sendiri membayangkan kebiasaan makannya yang terkesan bar-bar jika dibandingkan dengan Jennie.

“Kenapa lu senyum-senyum sendiri?” tanya Bambam, memecahkan lamunan.

“Nggak papa,” balas Mingyu cengengesan. “Gue balik, ya. Banyak tugas di kantor. Gue juga harus ngurusin dokumen.”

“Dokumen apaan?”

Mingyu tak menggubris pertanyaan Bambam. Ia mengambil jaket miliknya yang Jennie lipat rapi dan letakkan di balik punggung. Dengan cepat, kedua lengannya menyelip ke dalam lubang tangan, mengaitkan kancing depan.

“Aku balik dulu, ya, Jen,” ucap Mingyu lembut pada wanita di sampingnya. Jennie mengangguk. Suaranya melantang ketika berpamitan pada Bambam. “Gue balik, ya, Bam! Dadah!”

Mingyu berdiri perlahan, merasakan lututnya yang nyeri karena duduk kelamaan. Ia melambaikan tangan kepada dua temannya, berjalan cepat meninggalkan rumah duka. Kali ini, ia tak perlu mengantar Seungcheol pulang karena sahabatnya telah berpamitan semalam. Mingyu membayangkan segarnya mandi air hangat, mencuci rambutnya yang lepek dan menyeduh kopi panas sebelum berangkat ke kantor.

Mobil hitam yang parkir di area terbuka menjadi tujuan dari Mingyu. Satu-satunya mesin motor yang berdiam sejak semalam. Lampunya mengedip pelan saat ia membuka kunci, dengan aroma pewangi mobil yang menyeruak ketika pria itu melangkah masuk ke kursi kemudi. 

Mingyu menyandarkan punggungnya pada jok mobil, akhirnya berada dalam ruangnya sendiri tanpa kehadiran orang lain. Pria itu melepaskan napas panjang, memejamkan mata. Ingatannya kembali pada malam tadi, saat Jennie perlahan tidur di kakinya. 

Dadanya berdebar, membayangkan tekanan kepala Jennie pada pahanya. Bukan karena kedekatan mereka malam itu membangkitkan syahwat, tapi Mingyu tak dapat menghentikan gejolak dalam dirinya. Ia tak ingin malam itu berakhir. Tubuh Jennie yang bergerak naik turun dalam napas perlahan, jari-jarinya yang terkulai lemah di lantai. Pipinya yang bulat. Bulu mata yang lentik, dan rambutnya yang tersibak, memperlihatkan dahinya. Fitur wajah yang biasa saja. Itu hanya sebuah dahi. Namun, Mingyu tak dapat menghentikan dirinya untuk membelai kepala itu. Satu, dua kali sentuhan dengan ujung jari.

Dalam ruangan yang sepi, tanpa ada seorang pun menjadi saksi. Mereka berdua berada dalam ruang yang sama. Tak ada siapapun yang dapat melarangnya untuk menawarkan rasa sayang dalam bentuk usapan lembut. Jennie tak bergerak dalam tidurnya, memberikan kesempatan bagi Mingyu untuk menikmati parasnya yang ayu. Ia menunduk, mendaratkan ciuman singkat pada kening wanita di pangkuannya.

Di dalam mobil, di halaman parkir rumah duka, Kim Mingyu mengusap pipinya yang terasa panas. Seperti seorang bocah puber pengecut yang baru pertama kali jatuh cinta, ia merasa bersalah karena kehilangan kendali. Tiga minggu lagi, Jennie akan lepas darinya. Ia mengulurkan tangan, jari-jarinya menggenggam erat setir mobil. Pada akhirnya, Mingyu hanya seorang pecundang yang memanfaatkan situasi ketika Jennie sedang tak berdaya. 

 

Mingyu luput menyadari kehadiran seorang wanita paruh baya yang baru saja melewati mobilnya. Wanita itu mengenakan gaun hitam, dengan kacamata tanduk bertengger di batang hidung. Rambutnya yang hitam digulung ketat. Satu tangannya menenteng tas mewah, sementara tangan lainnya mengepal erat. Hong Suhee, ibu Rowoon, muncul di rumah duka.

Chapter 59: the she-wolf is coming.

Notes:

mohon maaf updatenya agak lama!

Chapter Text

Kedatangan Hong Suhee di tengah ruang duka bagaikan kerikil yang menyelip di dalam sepatu–wujudnya luput dari mata, tapi begitu indra merasakan kehadirannya, suasana berubah tak nyaman. Wanita paruh baya itu duduk di salah satu meja dengan wajah tertekuk. Separuh wajahnya tersembunyi di balik sapu tangan yang menutupi mulut dan hidung. Dahinya mengernyit, dengan pupil mata bergerak ke sana kemari menghindari setiap tatapan. 

Gaun formal hitam ala kantoran yang ia kenakan tampak kontras dengan pakaian membumi para pelayat lain. Bahannya berkilau redup di bawah paparan cahaya, membuat mereka yang baru datang bertanya-tanya–sebenarnya ini ruang duka atau aula pesta?

Hong Suhee terbatuk-batuk saat aroma dupa semerbak mengisi ruangan,  membuatnya sesak napas. Di sudut ruangan, Bambam menyipitkan mata ke arah wanita itu. Tangannya menggenggam erat nampan plastik, menahan diri untuk tak menyerangnya dengan kata-kata maupun perbuatan. Pandangannya beralih dari Hong Suhee pada sahabatnya, Jennie, yang duduk di seberang si serigala wanita. 

Berbeda dengan wanita berkacamata tanduk itu, Jennie tampak kuyu, dengan wajah berminyak yang belum sempat ia bilas. Rambutnya lepek, dengan hanbok hitam kusut yang telah ia kenakan semalam suntuk. Kedua tangannya terlipat di atas pangkuan, salah satunya mencengkeram erat kain yang menutupi kaki. Jennie menatap lurus ke arah Hong Suhee, mencoba mengartikan kedatangan wanita itu di hari kedua kematian Bu Suji.

Ia mengalihkan pandangan ke sisi kiri dan kanan wanita itu. Bagaimanapun juga ia menunggu, wujud Rowoon hanya seperti hantu yang mengisi udara. Bayang-bayang semu dalam harapan kosong. Jennie yakin, pria itu tak akan pernah datang. Banyak hal yang ingin ia tanyakan pada Rowoon.

Bagaimana kabarnya.

Apakah ia baik-baik saja.

Mengapa ia pergi tanpa kabar, meninggalkannya dalam balutan gaun pengantin sendirian.

Mengapa ponselnya tak dapat dihubungi.

Apakah ia turut bersedih atas kematian Bu Suji.

Apakah ia bersedih sendirian, atau bersama orang lain–bersama wanita lain?

“Saya turut berduka cita, Jennie,” ucap Hong Suhee dalam suara yang teredam di balik sapu tangan sutra. Alis wanita itu menekuk, menyandiwarakan sosok melankolis yang Jennie tak pernah lihat sebelumnya. “Saya … tidak menyangka nenekmu akan berpulang secepat ini.”

Jennie penasaran, apakah bibir di balik sapu tangan itu sedang tersenyum atau mengerut sedih. Ia menunduk, memandangi ruas-ruas jarinya. Bekas-bekas luka akibat sayatan pisau, bulatan karena letupan minyak panas, dan luka terbakar akibat menyenggol tepi papan pemanggang panas. 

Bekas luka di kulit lebih mudah menampilkan cerita dari rasa sakit, sementara hati yang merintih dapat bersembunyi dalam dada. Hong Suhee tak akan pernah mengerti perihnya. Jadi, Jennie hanya diam, menyunggingkan senyum seadanya.

“Selain itu … saya … juga minta maaf,” si serigala wanita lanjut bicara. Matanya yang berkerut memohon belas kasihan. “Benar-benar minta maaf, atas semua yang terjadi. Apalagi antara kamu dan Rowoon. Saya tidak menyangka hubungan kalian akan berujung seperti ini. Sudah saya bilang, kan? Tidak ada hal baik yang akan terjadi jika kalian meneruskan hubungan ini. Tahun-tahun terakhir, hubungan kalian semakin memburuk. Karena itu, saya mohon … lepaskan Rowoon.”

Jennie menutup mata, menggigit bibirnya kuat-kuat. Jari-jarinya meremas gaun hanboknya, menjadi jangkar dari kesabarannya yang mulai goyah. Suara gumaman dari para pelayat berdengung di telinganya, mengingatkan Jennie bahwa ia masih berada di tengah kedukaan.

“Tidak.” Jennie mendengar suaranya gemetar. Hong Suhee menatapnya bingung. Ketika perempuan muda di hadapannya membuka mata, ibu Rowoon merasakan getaran di sepanjang tulang punggung.

“Saya tidak akan mendengarkan apapun kata-kata Tante. Saya mau mendengarnya langsung dari mulut Rowoon,” sambung Jennie kemudian. “Berikan saya nomor Rowoon. Jika perlu, bawa saya ke tempat Rowoon, di manapun dia sedang bersembunyi sekarang.”

Hong Suhee menghela napas panjang, lalu membalas, “Jennie, saya sendiri pun nggak tahu dia ada di mana. Sudahlah, kamu nggak usah menunggu kedatangan Rowoon. Mungkin saat ini dia sedang menyesali perbuatannya. Cukup Tante saja menyampaikan permintaan maaf dari keluarga kami–”

BRAK!

Suara keras itu menutup rapat mulut Hong Suhee, terperanjat ketika Jennie menggebrak meja. Seluruh permukaan meja bergetar. Piring dan gelas berdenting, bahkan ada yang terguling menumpahkan sisa air. Para pelayat di sekitar mereka menoleh, mengamati ketegangan yang terjadi dalam tanda tanya.

Jennie bangkit berdiri dengan tangan terkepal erat. Ia sudah tak tahan lagi. Sebuah tangan dengan lembut menyentuh lengannya, membisikkan kata-kata yang menenangkan.

“Jen, tenang dulu,” bisik Jisoo. Namun, Jennie tak menghiraukan.

“Kalau memang Tante nggak bisa memenuhi permintaan saya, mungkin ada baiknya Tante pergi. Nggak usah repot-repot ke sini kalau pada akhirnya Tante sudah punya keputusan sendiri,” ucap Jennie, memandang rendah ke arah si serigala yang masih duduk  di lantai. “Silakan Tante pergi.”

Suara tepuk tangan terdengar dari arah dapur kecil, yang terletak di belakang ruangan. Bambam, dengan lengan baju tergulung, membuat kedua tangannya beradu dalam suara lantang.

“Benar, Jen!” Ia bersorak. “Kasih tahu perempuan itu apa yang kamu rasain! Kalau perlu, siram dia! Tampar aja sekalian! Supaya dia tahu, kalau keluarganya–dan anaknya–udah nggak pantes nginjak-injak kamu terus!”

“Hei! Jaga mulut kamu, ya! Saya dari keluarga terhormat!” jerit Hong Suhee. Wajahnya memerah hingga ke ubun-ubun, sambil menunjuk ke arah Bambam.

“Tante yang harusnya jaga mulut!” pekik Jennie. Jisoo menggoyangkan tangan sahabatnya, memintanya berhenti berteriak. “Ini pemakaman nenek saya! Saya berhak mengusir orang yang nggak tahu aturan dan sombong seperti Anda!”

Hong Suhee terkesiap, meletakkan tangan di dada. “Kamu … nggak sopan sekali sama saya, ya? Saya ini calon ibu mertua kamu!”

Jennie menggertakkan gigi. Jari-jarinya menarik cincin berwarna perak yang tersemat di jari manis tangan kiri. 

Jisoo, yang melihat hal ini, meneriakkan namanya. “Jennie! Stop!” teriaknya. 

Namun, sudah terlambat. Jennie telah menarik cincin itu lepas dari jarinya. Ia melemparkan cincin pertunangan ke meja, yang memantul dan mendarat di pangkuan Hong Suhee. 

“Dengan begini, kita udah nggak ada hubungan apa-apa lagi, Tante,” ucap Jennie, dalam geraman rendah. Sebelum menyampaikan kata-kata terakhir, Jennie meninggalkan meja. Ia mengambil tas bahu yang bersandar di dinding dekat altar.

Jennie merogoh ke dalam, mengambil sebuah sapu tangan yang bersembunyi di dasar tas. Tangannya gemetar, ketika ia membuka lipatan sapu tangan itu. Sebuah anting dengan bandul kristal berbentuk kelopak bunga berwarna pink muda. Ia meremas asesoris mungil itu dalam genggaman, lalu memberikannya pada Hong Suhee.

“Dan ini. Saya kembalikan,” sambung Jennie kemudian.

Hong Suhee menatap anting itu, mengerutkan kening. “Ini bukan punya saya,” balasnya.

“Mungkin anak Tante tahu,” sahut Jennie cepat. Ia tak sudi lagi menyebut nama itu dengan lidahnya. “Anda kaya, pasti bisa cari tahu siapa perempuan pemilik anting ini. Anggap saja ini belas kasihan saya, supaya Tante menemukan anak kesayangan itu.”

Hong Suhee menganga, tanpa suara. Ia bangkit dari duduknya, memandang Jennie dengan wajah memerah. “Belas kasihan katamu?! Heh, dengar, ya–”

“Bu, sudah cukup.”

Jisoo menyela di antara dua wanita yang terus berseteru. Pupil matanya yang hitam berkelip, menatap Hong Suhee lurus. Ia menyembunyikan tubuh Jennie di balik punggungnya. “Pertengkaran kalian sudah berlangsung terlalu lama. Kalau Anda mendekat sekali lagi, saya akan teriak dan memanggil petugas keamanan,” Jisoo mengancam.

Hong Suhee, dengan wajah merah menyala, tampak seperti kepiting rebus yang salah tempat. Ia menghentakkan kaki, mengayunkan tas tangannya kuat-kuat sambil berjalan menuju pintu keluar. Ia terus mengomel di ambang pintu, hingga suaranya tak terdengar lagi.

“Dasar kamu jalang nggak tahu diuntung! Anak saya sudah baik-baikin kamu bertahun-tahun, begini balasannya?! Saya bersumpah nggak akan mengizinkan kamu ketemu Rowoon lagi! Dasar bajingan! Binal!”

Sumpah serapah itu perlahan menghilang, menjadi gumaman yang kabur. Suasana perlahan kembali hening. Selang beberapa detik kemudian, para pelayat di dalam ruangan mulai bergumam masing-masing, mengisi udara dengan dengungan.

Jisoo membuang napas panjang. Di balik punggungnya, ia mendengar isakan yang tak terbendung. Jennie jatuh berlutut di lantai. Tubuhnya lemas. Air mata berderai. Tubuhnya gemetar. Jisoo hanya dapat memeluknya erat, membelai punggungnya penuh sayang.

“Sudah selesai, Jen. Semua sudah selesai,” bisiknya lirih di telinga Jennie. Jisoo menahan diri, menjadi benteng pertahanan bagi Jennie untuk bersandar. “Kamu sangat berani. Kamu hebat.”

Sementara itu, Bambam berjalan menuju area meja yang sebelumnya ditempati oleh Jennie dan Hong Suhee. Ia menumpuk piring dan gelas yang telah kosong. Ada bekas lipstik merah menyala di bibir gelas. Bambam mengangkut peralatan bekas dipakai oleh Hong Suhee, dan membuangnya ke tempat sampah.

Chapter 60: with hardship comes ease

Chapter Text

Hari ketiga di rumah duka berlalu layaknya hari biasa, seakan-akan kematian telah berbaur dengan kehidupan yang sempat Jennie tinggalkan. Layaknya sel tubuh yang dapat berganti selang beberapa waktu, kematian sang nenek turut melahirkan diri Jennie yang baru. 

Bersama keluarga, Haru, Jisoo, dan Bambam, serta kolega Bu Suji yang hadir di hari terakhir di rumah duka, Jennie mengikuti sesi kremasi. Ia menggenggam foto Bu Suji yang sebelumnya dipajang di altar, sambil mengamati peti mati neneknya dipindahkan. 

Keheningan yang menyelimuti ruangan menggugah nuansa berbeda. Kabut duka yang menggantung di udara perlahan menghilang, berganti dengan khidmat seakan sedang melepaskan teman lama yang akan pergi selamanya.

Wajah-wajah dari mereka yang datang menyiratkan emosi serupa. Jennie melirik barisan lansia yang tertunduk dengan wajah sedih, mengenali beberapa di antaranya. Ada yang pernah makan siang di rumah, ada yang bertemu di taman, dan pesta rumahan yang Jennie tak ingat lagi detailnya.

Di antara mereka, seorang pria paruh baya berambut abu-abu yang disisir klimis, dengan kumis dan janggut tipis, berdiri dengan kedua lengan ringkih bersembunyi di balik punggung. Pipinya cekung, dengan kacamata merosot ke ujung batang hidung. Tubuhnya yang jangkung masih terlihat di antara barisan lansia yang menutupinya di depan. Jennie merasa mengenali wajah itu. 

Jennie terkejut saat pria itu menoleh dan melemparkan pandangan ke arahnya. Pria itu mengangguk lemah, yang Jennie balas dengan gestur serupa. Namun, selepas acara kremasi, pria itu menghilang.

 

Jennie dan pihak keluarga mengantar para pelayat hingga ke pintu depan. Setelah tamu terakhir berpamitan, Jennie menarik napas panjang. Ia merentangkan tangan, merasakan setiap otot yang tegang. Sensasi hangat mengalir sepanjang lengan, seakan menghidupkan lagi tubuhnya yang sempat lelah. 

Wanita itu menengadah, memandang langit. Di atas kepala, bentangan warna biru yang lembut mengisi angkasa, bersama barisan awan tipis yang membubarkan diri. Seakan alam pun telah bosan menaungi Jennie dalam kesedihan. 

“Dari sini, lu mau ke mana, Jen?” tanya Bambam, yang berdiri di sisi Jennie. Ia ikut menatap langit dengan mata menyipit. Rambutnya tampak lebih berantakan daripada biasanya.

“Gue mau balik ke rumah Nenek dulu,” jawabnya. “Ada beberapa barang yang harus dibereskan. Gue juga harus balikin baju sewa.”

“Butuh tumpangan?”

Jennie menggeleng. “Ada Jiho yang bisa nganterin. Lu habis ini balik ke restoran, kan? Ya udah, buruan jalan sana.”

Bambang diam sejenak, menatap sahabatnya yang melemparkan senyum tipis. “Lu kapan balik kerja lagi?” tanyanya.

“Besok juga udah kerja. Kayaknya,” Jennie membuang napas. “Gue nggak boleh bersedih terus.”

“Kalaupun lu mau cuti, gue bisa bantu omongin ke Chef Dom–”

“Nggak usah, Bam. Gue nggak enak sama beliau. Gue juga udah bolak-balik bolos kerja. Setelah ini, gue harus gas di akhir tahun, supaya bisa nabung uang lagi,” Jennie membantah. Baginya, waktu bersedih sudah habis. Dalam waktu dua hari, ia telah patah hati. Tak hanya sekali, tapi dua kali. 

Rasanya sudah cukup ia bersedih. Tenaga dan pikirannya telah terkuras mencari jawaban ke mana menghilangnya Rowoon. Jika ibunya saja tidak tahu, Jennie tak akan menyia-nyiakan waktu mencari pria yang telah mendepaknya begitu saja di hari pernikahan mereka. Ia menentang, menyanggupi, lalu menghilang. Jennie sudah lelah dengan semua keraguan–yang pada akhirnya justru meninggalkannya sendirian.

“Bulan ini waktunya kompetisi menu baru, kan?” Bambam mengingatkan. “Mungkin … lu bisa fokus di hal itu.”

Jennie menganga. Ia benar-benar lupa dengan kesempatan yang hanya datang tiga bulan sekali itu. “Oh iya! Kompetisi bikin menu baru, ya? Oke, gue harus pikirin lagi idenya. Gue sempat catet, tuh, tapi ada di mana, ya? Duh, perlu bongkar-bongkar meja di kamar, nih!”

“Jen,” panggil Bambam.

“Iya?”

Bambam mengulurkan tangan, menepuk kepala sahabatnya pelan. Tatapan matanya menjadi lembut, seperti angin semilir yang menerpa wajah.

“Pelan-pelan aja, oke? Gue tahu lu bukan tipe orang yang sedih berlarut-larut. Tapi, terkadang lu nggak harus menentang arus untuk sampai ke tepian. Berenang pelan-pelan aja. Ikutin lu mau dibawa ke mana. Nanti lu juga sampai, kok,” ucap Bambam panjang lebar.

Jennie buru-buru merapatkan bibir, mengendalikan diri yang hendak memecahkan tangisan. Ia menunduk dan mengangguk pelan. Bambam melangkah mendekat, meraih Jennie ke dalam pelukan.

“Apapun yang terjadi, gue dan Jisoo akan selalu di sini, oke?” sambung pria itu. Jennie mengangguk lagi, mengistirahatkan sisi kepalanya di bahu Bambam. Mereka saling memeluk, berbagi kekuatan agar dapat bangkit bersama.

Di balik punggung mereka, seseorang berdeham. Jennie melepaskan diri dari Bambam, menangkap sosok jangkung yang berdiri dengan mata sendu. Pria berambut klimis dengan warna abu-abu yang Jennie lihat saat upacara kremasi tadi.

“Maaf, kamu Kim Jennie, ya?” ucap pria itu dengan suara parau.

“Iya, betul,” balas Jennie, tampak bingung.

Pria itu meraih ke dalam kantung jasnya, lalu menyerahkan sebuah kartu nama berwarna putih. Bahannya tebal, dengan tinta emas timbul yang memamerkan nama dan jabatan si pria tua.

“Perkenalkan, nama saya Bong Junsu. Saya adalah pengacara keluarga Bu Suji.” Jennie membaca nama yang tertera, sama persis dengan ucapan pria di hadapannya. Pria itu berdehem lagi, sebelum melanjutkan, “Awalnya saya berniat untuk mampir ke rumah Bu Suji dalam beberapa waktu ke depan. Tapi saat melihat Anda, saya merasa memperkenalkan diri sekarang lebih baik daripada nanti.”

“Lalu, apakah ada yang ingin dibicarakan, Pak?” tanya Jennie.

Bong Junsu menggeleng. “Untuk saat ini tidak. Setelah Anda merasa lebih baik, kita bisa bicara. Hubungi saja nomor yang ada di kartu. Permisi.”

Ruang gerak Jennie untuk menyela begitu sempit, hingga kesempatan menahan pria itu pergi pun menguap begitu saja. Dengan langkah-langkah kaki yang pendek, si pengacara tua pergi sambil menenteng tas jinjing berbahan kulit di satu tangan.

*

Setelah menyelesaikan seluruh acara di rumah duka, Jennie pun akhirnya pulang ke rumah Bu Suji bersama Haru, Jiho dan Yejin. Mobil melambat saat memasuki halaman, sebelum akhirnya berhenti tepat di depan teras. 

Jiho berpamitan karena harus kembali ke kantor, sementara Yejin juga harus bekerja. Jennie memilih untuk tinggal, menghabiskan sisa hari untuk membereskan rumah. Ia melambaikan tangan kepada kedua orang tuanya, membiarkan mobil itu kembali melaju pergi.

“Nak Jennie lapar? Saya buatkan makanan, ya?” tanya Haru, mengiringi langkah Jennie ke dalam rumah.

“Boleh. Haru mau masak apa?” tanya Jennie.

“Udaranya agak dingin. Saya mau masak sundubu jiggae.

Sulit membendung air liur ketika Jennie membayangkan kuah hangat kemerahan itu di balik pelupuk mata.

“Aku mau, Haru! Buat agak pedas, ya!”

Haru mengangguk, segera beranjak menuju dapur. Langkah kakinya menggema di lorong, meninggalkan Jennie sendirian. Berada di ruang tengah rumah sang nenek, membuat Jennie merasa asing. Ia bertanya-tanya apakah rumah Bu Suji selalu sesunyi ini, apalagi hanya ia dan Haru yang kini tinggal bersama.

Jennie memilih untuk kembali ke kamar tamu, tempat terakhir ia melepaskan gaun pengantin sewaan yang gagal menjadi saksi sebuah janji suci. Ia berjalan cepat melewati pintu kamar Bu Suji yang menutup, seakan takut bayang-bayang memori detik-detik terakhir kematian sang nenek mengikuti.

Di dalam kamar, Jennie memandang gaun berwarna putih yang menggantung di knop pintu lemari. Kondisinya masih sama seperti saat ia membawanya pulang–licin hingga ke ujung gaun, luput dari bukti bahwa pakaian itu pernah dikenakan. Jennie menghela napas, duduk di ujung tempat tidur. Akhirnya, ia sendiri lagi.

Selama sepuluh tahun terakhir, ia telah menitipkan hati pada seseorang. Ia menelan setiap pil pahit yang dilemparkan oleh Hong Suhee, merasakan perih dari racun yang menyebar di dalam sistem tubuh. Jennie selalu berhasil bertahan, meyakinkan Rowoon sekali lagi bahwa mereka pantas bersama. Ia meyakinkan diri untuk menjadi seseorang, merintis karier tanpa bantuan siapapun. Ternyata, sejauh apapun Jennie berusaha, pada akhirnya Rowoon menafikan hubungan mereka.

Selama apapun ia menjaga hati, Rowoon memilih untuk pergi. Apapun alasannya, kata-kata Jisoo benar–menjadi nomor satu tak berarti apapun. Jennie bukanlah seorang pemenang.

Jennie menekuk lutut, memeluk kakinya rapat ke arah tubuh. Hari ini, ia sungguh lelah. Bila saja ia dapat bersandar di bahu seseorang. Sebuah nama terlintas di benaknya, tapi Jennie terlalu takut untuk menyebutnya dengan lantang.

Hari ini orang itu tak datang ke rumah duka. Jiho berkata, Mingyu sedang sibuk mengurus visa dan membimbing juniornya untuk mengambil alih beberapa proyek setelah ia pergi. Jennie memeluk dirinya sendiri lebih erat. Dalam waktu dekat, Mingyu akan berada jauh di seberang lautan. Membayangkannya saja membuat Jennie gusar.

Suara ketukan di pintu membuyarkan lamunan. Jennie melompat bangkit dari tempat tidur, berlari kecil ke arah pintu. Haru, sang asisten rumah tangga, berdiri dengan gugup.

“Makanannya sudah siap, Jennie,” ucap Haru.

“Oke. Yuk, kita makan!” ajak Jennie riang. Namun, Haru tak bergeming. Jari-jarinya memainkan tepian baju, matanya bergerak liar. Menyadari gelagatnya yang aneh, Jennie tak tinggal diam. “Kenapa, Haru?”

“Anu … Nak Jennie … boleh saya meminta sesuatu?” Suara Haru gemetar.

“Boleh. Haru mau minta apa?”

Haru menggigit bibir, sebelum suaranya memecah sunyi. “Saya minta … tolong jangan usir saya dari rumah ini.”

Jennie tertegun.

“Karena Nyonya sudah tidak ada, berarti pekerjaan saya sudah selesai.  Tapi, saya tidak mau kembali ke desa. Di kampung halaman, saya sudah tidak punya siapa-siapa lagi.” Lambat laun, suara Haru semakin lirih. Ia sesenggukan. Air mata jatuh satu per satu, tumpah ke pipinya yang bulat. “Bekerja di rumah ini membuat saya senang. Kalaupun Nak Jennie tidak sanggup membayar saya, biarkan saya mengurus rumah ini. Saya bisa mencari pekerjaan di tempat lain. Tetangga sekitar sini banyak yang menawarkan saya pekerjaan. Tapi, izinkan saya tetap tinggal di sini. Saya ingin merawat barang-barang peninggalan Nyonya Suji. Beliau sangat baik. Sudah memperlakukan saya seperti anak sendiri. Izinkan saya berbakti untuk Nyonya sampai napas terakhir.”

Sambil menyeka jejak air mata, Haru merasakan dua buah lengan melingkari lehernya. Jennie menariknya dalam pelukan. Semakin lama, semakin erat.

“Bagaimana bisa saya ngusir Haru dari rumah ini? Kamu sudah bersama Nenek, bahkan sejak saya masih kecil,” bisik Jennie di telinga Haru. “Dibandingkan saya, Haru telah menghabiskan lebih banyak waktu bersama Nenek. Saya yakin Nenek akan senang jika kamu terus ada di sini.”

Tangisan Haru pecah. Air mata yang awalnya menetes dalam sunyi, kini ditemani oleh raungan lepas dari dua orang yang berdiri di ambang pintu. Jennie menepuk punggung Haru, meyakinkannya bahwa ia berhak untuk tinggal lebih lama–jika perlu, selamanya–di rumah itu.

“Nak Jennie tidak perlu khawatir soal warisan,” ucap Haru kemudian, setelah dirinya lebih tenang. Ia berjalan beriringan bersama Jennie menuju ruang makan. “Nyonya Suji memang pernah bilang tidak akan mewariskan apapun padamu. Saya percaya itu hanya gertak sambal. Nak Jennie adalah orang yang paling beliau sayangi.”

Jennie meremas tangan Haru singkat, berterima kasih setelah mendengar kata-kata itu. Benar atau tidaknya, hanya Bu Suji yang tahu.

Chapter 61: her recipe to find love

Chapter Text

“Kamu yakin udah siap kerja hari ini?” tanya Chef Dom dengan dahi berkerut. Kehadiran Jennie di dapur Nero&Bianco sehari setelah upacara kremasi sang nenek membuat kepala setiap orang menoleh. Bahkan sang kepala koki yang memaklumi tragedi dalam keluarga Jennie pun bereaksi.

“Siap, Chef,” ucap Jennie tegas, mengikat tali celemek yang melingkari pinggangnya. “Saya nggak betah kalau nggak bekerja. Pikiran jadi kemana-mana.”

Chef Dom menghela napas dan menggelengkan kepala. “Kalau memang itu yang kamu mau, jangan sampai saya hari ini teriak karena kerjaan kamu nggak becus, ya.”

“Siap, Chef.”

“Oke! Semuanya! Ayo kumpul dulu!” seru Chef Dom dengan suara lantang, bagaikan singa jantan  yang membangunkan kerumunan. Ia menepuk tangan, membangkitkan jiwa-jiwa yang masih mengantuk pagi itu. 

Para koki dan pramusaji Nero&Bianco berkumpul di area makan. Kursi-kursi masih ditata terbalik, bertumpu pada meja, membuat ruangan terasa lebih lega. Matahari pagi menembus jendela, menerangi lantai ubin berwarna terakota. Chef Dom berdiri di tengah ruangan, dengan tangan melipat di depan dada.

“Sebentar lagi peperangan sesungguhnya di restoran kita akan segera tiba. Malam Natal dan Tahun Baru,” sang pemimpin memulai. Ia melemparkan pandangan ke seluruh mata yang ada di ruangan. “Seperti tahun-tahun biasanya, minggu terakhir adalah waktunya bagi kalian mengikuti tantangan membuat menu baru. Kalian bebas membuat apapun. Mulai dari antipasto, primo, secondo, maupun dolce.

Pastikan setiap masakan yang kalian buat memiliki tema yang erat kaitannya dengan libur akhir tahun. Tidak hanya rasa, tekstur dan estetika, tapi juga cerita di baliknya. Waktu persiapan kalian dimulai dari Senin hingga Jumat. Di hari Sabtu, peserta mempresentasikan masakan mereka. Mengerti?”

Si, va bene!

“Saya mengharapkan kalian tidak hanya membuat menu sekreatif mungkin, tapi juga memiliki jiwa yang sejalan dengan Nero&Bianco.” Chef Dom menambahkan. “Buatlah menu yang membuat setiap orang dapat memahami siapa pemilik tangan yang meracik makanan tersebut. Karena di restoran ini, kalian adalah manusia dengan hati. Paham?”

Si, va bene!

“Kalau kalian sudah paham, kita lanjutkan pertemuan pagi ini ke agenda berikutnya,” ucap sang kepala koki. Acara pagi itu pun bergulir, membahas persiapan bahan dan ekspektasi kedatangan para tamu baik di pagi maupun malam hari.

Di balik punggung para koki yang berbaris di hadapannya, Jennie mengepalkan tinju. Tantangan membuat masakan baru yang akan terpampang di buku menu restoran dapat menjadi ajang pembuktian diri bahwa ia layak bertahan. Jennie harus memanfaatkan kesempatan sebaik-baiknya.

*

“Lalu, Nak Jennie akan membuat apa?” tanya Haru, sambil mengelap meja makan. Jennie duduk di kursi seberang, membolak-balik buku catatan. Buku-buku referensi masakan Italia menumpuk di meja, dengan stiker-stiker penanda menjuntai di tepi halaman.

Mereka masih berkumpul di meja makan selepas makan malam. Haru menumpuk peralatan makan yang telah selesai dipakai, sementara Jennie duduk lunglai di kursi. Sambil lanjut menginap di rumah mendiang Bu Suji, Jennie menceritakan pergulatannya memikirkan menu baru yang akan ia ikutsertakan akhir pekan ini. Sialnya, pikiran Jennie kosong.

“Itu dia, Haru. Aku nggak tahu,” Jennie merengek. Ia menyandarkan punggung, dengan kepala menatap langit-langit. “Kalau aku mau buat primo, pasti udah kalah duluan sama Bambam. Untuk dolce, aku belum tahu mau buat apa. Masa iya buat torta doang?”

Haru bergeming, segan memberikan tanggapan. Sebagi seorang asisten rumah tangga dan juru masak menu rumahan, preferensi makanan pilihannya akan bertolak belakang dengan kebutuhan Jennie. Membuat makanan yang artistik juga bukan keahliannya. Haru hanya tahu cara memasak makanan yang enak di lidah.

“Haru,” panggil Jennie, tiba-tiba menegakkan diri di kursi. Buku yang bersandar di pangkuannya terguling ke lantai. “Kalau kamu jadi aku, apa yang akan kamu masak?”

Haru menggaruk-garuk kepala. “Saya … nggak tahu, Jen. Saya kan bukan koki restoran. Saya cuma tahu masak makanan rumahan.”

“Maksudku, apa yang kamu pikirkan waktu memilih menu masakan setiap harinya? Misalnya, kenapa hari ini kamu bikin samgyetang dan banchan?” Jennie melemparkan pandangan tajam, membuat Haru gugup.

“Yah … karena … udara hari ini dingin. Tiga hari terakhir Nak Jennie pasti kelelahan karena pemakaman Nyonya. Saya pikir, makan makanan yang bergizi dan hangat dapat mengembalikan stamina,” jawab Haru.

“Jadi, kamu mempertimbangkan dampak makanannya ke tubuhku?”

Haru mengangguk cepat. “Tapi, saya tidak berpikir terlalu banyak setiap hari. Terkadang saya melihat bahan-bahan apa saja yang masih tersedia dan memasak seadanya. Kalau ada bumbu-bumbu yang kurang, tinggal mampir ke toko dekat rumah. Buat saya, yang penting Jennie–ataupun Nyonya–berselera makan.”

Jennie bergumam rendah. Pernyataan Haru membuatnya berpikir, bahwa memasak tak sekedar menduplikasi menu, melarutkan rasa, tapi juga meninggalkan jejak bagi penikmatnya. Sepertinya Jennie harus memikirkan ide yang lebih serius.

*

“Nggak usah terlalu dipikirin serius, lah, Jen. Buat aja yang estetik dengan bahan-bahan yang mengingatkan orang-orang tentang musim liburan. Misalnya, rempah-rempah, buah beri, labu, atau coklat,” Jisoo beradu argumen dengan sahabatnya di ruang loker, sambil menyesap kopi hangat. Keduanya duduk di dapur, menikmati sarapan sebelum mulai bekerja.

Jennie menceritakan pembicaraannya dengan Haru di malam sebelumnya, dan tak menyangka Jisoo akan berkata sebaliknya.

Jisoo menambahkan, “Bukan bermaksud meremehkan kemampuanmu memasak, ya. Karena kamu seorang pastry chef yang ahli dalam pembuatan dolce, aku rasa penikmatnya akan terhibur dengan makanan yang sedap dipandang mata.”

“Aku tahu, Jisoo. Tapi, aku nggak mau mereka pulang dan kesan yang mereka dapatkan hanyalah ‘kuenya tadi cantik’,” balas Jennie gusar. “Aku mau menu yang aku buat meninggalkan kesan yang mendalam. Membuat mereka merasa bahwa akhir tahun bersama orang tersayang terasa spesial.”

Jisoo mengangkat alisnya tinggi-tinggi, lalu meletakkan kopi di meja konter. Ia menatap Jennie tajam, dan berkata pelan, “Kamu tahu kenapa akhir tahun di restoran adalah masa paling menyenangkan sekaligus melelahkan bagi para pramusaji?”

Jennie menggeleng.

“Karena jumlah permintaan full course bisa meningkat hingga lima kali lipat,” sahut Jisoo dengan wajah serius. “Para pelanggan tetap maupun baru akan datang bersama keluarga atau teman-teman sekantor. Mereka bisa datang berempat, berenam, bahkan satu lusin! Itu artinya, para koki harus memasak ekstra lebih banyak daripada biasanya.”

Jisoo meletakkan tangannya di bahu Jennie dan menggoyangkan tubuhnya.

“Makanya, please, jangan buat menu yang terlalu ribet!” keluhnya. “Menu yang simpel akan sangat membantu kami para cameriere dan cameriera di akhir tahun! Kami perlu kerja sat-set selama akhir tahun, membawakan ratusan piring sepanjang malam.”

“Oi, lu jangan sabotase idealismenya Jennie, dong!” seru Bambam dari seberang meja. Ia sedang sibuk memilah tomat dan mencucinya di bak. “Kalaupun dia mau bikin menu yang ruwet, itu haknya Jennie sebagai seorang chef. Di situlah keahliannya teruji. Lu nggak denger apa kata Chef Dom kemarin? Harus ada cerita di balik menu yang kita buat.”

Jisoo memutar matanya. “Dan berapa kali kalian para koki kelabakan karena menu yang idealis? Pada akhirnya, masakan yang bertahan lama di menu hanya segelintir. Sisanya terlupakan dan nggak pernah dibuat lagi.”

Bambam mencibir–ia sendiri pernah mengalaminya. Masakan yang pernah ia buat lolos kurasi ketat dari Chef Dom, tapi hanya sesaat. Ketika Bambam menawarkan pasta dengan campuran buah bit buatannya untuk masuk ke dalam menu, sang pemimpin menolak. Pola yang berulang akan terasa membosankan, ungkapnya saat itu.

Setelah Bambam terdiam, Jisoo melanjutkan, “Menurut gue, membuat menu yang praktis tapi tetap melekatkan ciri khas Nero&Bianco bukan hal yang mustahil, kok. Gue yakin lu tetap bisa membuat sesuatu yang fenomenal, Jen!”

Tapi apa? Gerutu Jennie dalam hati. Menu macam apa yang mudah dibuat, membekas di dalam hati, dan dapat bertahan lama dalam daftar menu restoran?!

Chapter 62: the real family dinner, sans him

Chapter Text

Jennie’s POV

Derasnya salju yang turun di luar rumah membuat jantung Jennie berdebar. Malam itu, seharusnya Jiho dan Yejin sudah tiba di rumah Bu Suji. Namun, teras rumah masih gelap dari lampu sorot mobil ketika Jennie mengintip lewat jendela.  Salju turun dengan deras, menutupi jalanan dengan gundukan putih. Cuaca buruk seakan menghisap warna dari bumi, membuat nuansa kelabu meliputi setiap penjuru.

Jennie meremas ujung sweternya kuat-kuat, khawatir rencananya untuk makan malam bersama orang tuanya terpaksa dibatalkan. Peralatan makan telah lengkap menghiasi meja, bersama panci dan wajan yang siap memanaskan makanan sewaktu-waktu. Haru, mengelap tangan dengan celemek, mengganti saluran TV beberapa kali, mencari berita terkini tentang kondisi cuaca.

“Belum ada kabar, Jen?” tanya Haru. Jennie menggeleng. “Di TV juga tidak ada berita apapun.”

“Pesan terakhir Mama 30 menit yang lalu,” sahut Jennie, mengintip kembali isi pesan yang ditinggalkan oleh Yejin. Simbol di ujung layar menunjukkan bahwa sinyal telepon masih menguat. “Apa mungkin terjebak macet, ya?”

“Bisa jadi. Atau mereka mencari jalan memutar. Sepertinya sedang macet di mana-mana,” ucap Haru, mengulang berita yang disampaikan oleh pembawa acara. “Mau saya panaskan supnya, Jen?”

“Tunggu sebentar lagi, deh, Haru.”

Belum juga waktu menaruh jeda pada kata-kata Jennie, ia mendengar suara klakson mobil dari arah pintu depan. Dengan langkah cepat, Jennie bergegas menuju ke teras rumah. Udara yang dingin serasa menusuk kulit ketika ia melangkah keluar, ketika sebuah sedan hitam berhenti. Dari dalam mobil, Yejin melambaikan tangan kepada sang putri.

“Mama!” panggil Jennie, merapatkan bagian depan jaket menutupi dada. Setelah mesin mobil mati, Yejin dan Jiho serentak keluar dari mobil. Salju yang jatuh meninggalkan jejak-jejak kristal es di rambut pasangan paruh baya itu. Dengan tertatih-tatih, keduanya meninggalkan mobil.

Jennie menyambut mereka dengan sukacita, buru-buru menarik Yejin masuk ke dalam rumah. “Ayo masuk! Dingin banget di luar!”

Di balik punggung Jiho, yang tersisa hanyalah mobil yang diam di teras rumah. Permukaan yang hitam perlahan tertutup salju. Selain mereka berdua, sosok yang Jennie kira akan turut hadir dalam acara malam itu tak terlihat.

Bersama Jennie, Jiho dan Yejin melewati pintu depan. Suhu ruangan meluluhkan kebekuan yang sempat menggerogoti tulang, membuat keduanya lebih rileks. Yejin melepaskan jaket tebal yang ia kenakan, menyerahkannya pada Haru yang turut menyambut kedatangan mereka.

“Ya ampun, cuacanya gila!” protes Jiho, menarik lengan jaketnya lepas dari tubuh. Ia berterima kasih pada Haru karena memberikan perhatian yang sama. “Waktu kami keluar rumah, saljunya masih biasa aja. Di tengah perjalanan, tiba-tiba turun dengan lebat! Hampir aja kami putar balik.”

“Aku sempat was-was karena kalian nggak ada kabar,” ujar Jennie. “Tapi, kalian nggak apa-apa, kan, di jalan?”

“Nggak papa, Sayang. Cuma macet sedikit, tapi setelah itu aman. Jiho nyetir pelan-pelan karena di luar gelap banget,” Yejin beralasan.

“Kalau cuacanya terus memburuk, lebih baik menginap saja hari ini, Bu Yejin,” Haru mengusulkan. “Berita di TV mengatakan sepertinya salju akan turun terus sampai tengah malam.”

Yejin melemparkan pandangan pada Jiho, tampak ragu-ragu. Jennie menangkap ekspresi itu, hingga ia buru-buru menambahkan, “Haru benar, Ma. Kan ada kamar tamu. Kalian bisa pakai kalau misalnya saljunya nggak berhenti juga. Bahaya kalau pulang dalam cuaca seperti ini.”

“Nanti saya bisa siapkan kamarnya,” Haru menegaskan.

“Terima kasih, ya,” Yejin berkata, dengan senyuman lembut. “Mudah-mudahan, sih, saljunya nggak memburuk.”

“Kalau begitu, saya panaskan dulu makanannya sebentar, ya.” Haru izin mengundurkan diri untuk beranjak ke dapur. Sementara itu, Jennie menawarkan minuman hangat kepada Jiho dan Yejin yang berisitrahat di sofa.

“Jiho?” panggil Jennie, menawarkan secangkir minuman rempah yang biasanya ia buat.

“Iya, Jen?”

“Mingyu … nggak ikut?” tanya Jennie dalam gumaman rendah pada Jiho.

“Mingyu ada acara sama teman-temannya hari ini. Aku udah ajakin dia waktu di jam kantor. Tapi, Mingyu bilang dia udah ada janji. Katanya, sih, sekalian perpisahan karena Mingyu mau berangkat ke London,” jawab Jiho. Ia menyesap seduhan buatan Jennie, merasakan kehangatan menyebar ke sekujur tubuh.

“Oh.” Jennie mengangguk pelan. Ia melewatkan Yejin yang mengamati sang putri dari sudut matanya.

“Aku kurang tahu juga dia jadi pergi atau nggak. Apalagi cuacanya buruk kayak gini,” Jiho menambahkan. “Apa mau aku tanyain? Siapa tahu dia bisa mampir.”

“Ng, nggak usah!” potong Jennie gugup, matanya membelalak mendengar pertanyaan Jiho. “Kasihan juga kalau dia maksain datang ke sini.”

Aroma gurih menyeruak dari arah meja makan, ketika Haru membawa semangkuk sup hangat yang ia letakkan di atas meja. Perut Jiho yang keroncongan mulai antusias.

“Kita makan, yuk. Aku bikin sup tomat yang pas buat menghangatkan perut,” ajak Jennie. Jiho dan Yejin bangkit dari duduk, tampak antusias dengan hidangan yang telah Jennie persiapkan. “Kalian makan dulu supnya, aku buatin pastanya dulu di dapur, ya.”

Bersama-sama, Jiho dan Yejin duduk di meja makan. Mata mereka terpaku pada mangkuk berisikan sup kental berwarna merah, dengan isian kacang putih, wortel dan taburan parutan keju di permukaan. Sementara itu, Jennie menuju dapur, mempersiapkan diri untuk merebus pasta.

Sambil mengenakan celemek, Jennie mengingatkan dirinya untuk mengendalikan diri. Jujur saja, ada kekecewaan yang menghampirinya ketika Jiho mengabarkan Mingyu punya acara sendiri. Selama ini, Jennie baik-baik saja di saat Mingyu menikmati kehidupannya sendiri. 

Ketidakhadiran Mingyu di malam ini bukanlah hal yang besar. Malam ini adalah malam bersama keluarga, sebagai pemenuhan janji Jennie memasak untuk mereka. Kehadiran Jiho dan Yejin baginya sudah cukup. Jennie menarik napas panjang, mencelupkan pasta kering ke dalam panci berisi air mendidih.

 

Mingyu’s POV

Kim Mingyu bergeming di kursinya ketika seorang teman wanita duduk di sampingnya, mengelus lengan pria itu dengan sentuhan menggoda. Aroma parfum yang  kuat sempat membuyarkan konsentrasi Mingyu dari bisikan mesra yang menggelitik telinga. Seorang teman lama yang namanya sesekali melintas di kepala, namun tak pernah Mingyu ingat benar-benar. Bisa jadi Heejin, Jimin–Mingyu tak ingat. Mereka pernah bercinta bersama, di antara dialog mesum yang saling menginginkan tubuh satu sama lain.

Dalam kafe yang temaram, keduanya duduk di sofa sambil menikmati pemandangan salju yang turun di balik jendela. Gelas limun non-alkohol milik Mingyu hampir kosong, bersama piring-piring kudapan yang telah tandas.

Jari wanita itu naik turun, menyusuri setiap lekuk otot di lengan Mingyu. Pria itu mengamati dalam diam, terpaku pada kuteks berwarna merah marun yang melapisi permukaan kukunya. Rok mini menyingkap sepasang paha yang mulus, bersama belahan dada yang biasanya membuat Mingyu hilang kendali.

Malam ini, kemolekan tubuh bukanlah yang Mingyu cari.

“Mingyu, abis dari sini lu nggak ke mana-mana, kan?” bisik wanita di sampingnya, di antara suara musik dansa yang membahana. “Mampir ke apartemen, yuk? Pacar gue lagi di luar kota.”

Gestur yang sama. Hasrat yang sama. Mingyu pernah begitu akrab dengan nafsu itu.

Bila temannya melontarkan pertanyaan itu enam bulan lalu, Mingyu tak perlu berpikir dua kali untuk berkata iya. Enam bulan lalu, kehadirannya dalam acara serupa hanya punya satu tujuan: tidur dengan perempuan manapun yang menginginkannya malam ini. 

Sementara teman-temannya saling bercumbu, berdansa, dan menikmati alkohol, energi Mingyu sudah habis malam ini. Ia ingin segera pulang ke rumah dan tidur.

“Sori, gue nggak mood hari ini,” tolak Mingyu dengan senyum singkat. Ia menarik tangannya dari genggaman si teman wanita, menggeser diri ke sudut terjauh sofa. “Kalau lu butuh temen tidur, sama yang lain aja.”

Sang wanita tak menyerah. Ia kembali mendekat, kali ini melingkarkan lengannya di tubuh Mingyu. Dadanya menekan sisi tubuh pria itu, membuatnya gelagapan.

“Ayolah. Lu kenapa sih? Kita kan ngumpul biar lu seneng hari ini, tapi malah kusut terus sepanjang malam. Pasti stres, ya,  karena mau pindahan?” si  teman wanita memaksa. “Gue bisa bikin lu senang, kok, mau berapa ronde pun–”

“--Oke, udah cukup, Soobin! Permisi, gue mau duduk di sebelah sobat gue!” potong Seungcheol, yang tiba-tiba muncul di antara mereka. Ia duduk di antara Subin dan Mingyu, memaksa keduanya memisahkan diri. Subin, dengan wajah kesal, bangkit dari duduknya dan meninggalkan sofa.

Dengan wajah polos, Seungcheol meletakkan dua gelas limun yang dibawanya di permukaan meja kaca. Mingyu menahan tawa karena tingkah sahabatnya, meninju bahu Seungcheol sebagai ucapan terima kasih.

“Seenggaknya tuh muka jangan ditekuk-tekuk banget biar nggak bikin orang lain bete,” gerutu Seungcheol. Mingyu meraih gelas limun yang Seungcheol tinggalkan di meja. Paduan rasa asam dan manis yang dingin menyelimuti lidah. “Teman-teman lu kan dateng buat bikin lu senang hari ini. Senang-senang lah sedikit.”

“Iya, iya,” balas Mingyu. “Gue juga maunya senang-senang. Tapi, nggak tahu kenapa rasanya jadi nggak semangat. Mungkin karena cuaca.”

Seungcheol mendengus, menyunggingkan senyum ejekan. Ia menyandarkan diri pada punggung sofa, mengangkat alis tinggi-tinggi sambil menatap sahabatnya. “Kim Mingyu, bete karena cuaca? Sejak kapan?” candanya.

“Sejak hari ini,” balas Mingyu ketus. “Mungkin gue bertambah tua.”

Seungcheol melepaskan tawa. “Lu orang terakhir di dunia ini, yang gue kenal gelisah karena umur, apalagi cuaca? Lu kenapa, sih? Sumpah aneh banget hari ini!”

Mingyu menyipitkan mata, tak percaya dengan kata-kata yang keluar dari mulut Seungcheol.

“Ayo, sini cerita. Mumpung di antara temen-teman yang lain, cuma kita doang yang nggak mabok,” Seungcheol menepuk lengan Mingyu. “Lu ada masalah apa?”

Mingyu melirik sahabatnya, tampak enggan untuk memulai. Namun, seperti buku yang telanjang, Seungcheol dapat membaca isi pikirannya meski Mingyu belum mengutarakan kata-kata.

“Kenapa, sih? Soal Jennie?”

Untung saja lampu-lampu gantung di dalam kafe berpendar redup. Jika tidak, Seungcheol dapat menangkap telinga Mingyu yang merah padam. Meski bibir sahabatnya merapat, Seungcheol dapat menangkap jawabannya. “Kenapa lagi? Lu ditolak?” tanyanya.

“Bukan,” Mingyu buru-buru membantah. “Hari ini Jiho dan Yejin diajak makan malam di rumah neneknya Jennie. Gue diajak, tapi gue nggak bisa ikut karena udah janjian sama kalian.”

Bibir Seungcheol membulat, lalu melemparkan pertanyaan retorik, “Jadi, lu kesel karena nggak bisa ikutan acara makan malam itu?”

Mingyu diam.

“Ya kalau lu kesel, menyesal, datang aja ke rumah neneknya.”

“Mana bisa gue dateng tanpa alasan? Lagian ini udah malam. Mereka pasti udah selesai makan,” sanggah Mingyu.

“Kalau lu nggak enak datang ke rumahnya malam-malam, telepon aja dia.”

Mingyu mengatupkan bibirnya lagi.

“...Lu punya nomor telepon Jennie, kan?”

Mingyu melirik Seungcheol, lalu menggeleng lemah.

“Lu nggak minta?”

“Udah pernah, tapi dia nolak. Dengan alasan dia takut gue berniat macam-macam,” jawab Mingyu. Jarinya menyusuri bibir gelas. “Waktu itu dia masih sama Rowoon. Gue nangkepnya sih karena dia mau setia sama tunangannya dan males diganggu sama cowok lain.”

“Terus? Sekarang mereka udah putus, kan?--Yah, mengingat si Rowoon nggak tahu menghilang ke mana,” sahut Seungcheol. “Berarti, lu bebas dong mau kontak Jennie?”

“Gue … nggak yakin Jennie ngerasa nyaman kalau gue deketin dia sebagai laki-laki.”

“Kenapa? Karena kalian ‘keluarga’?” Seungcheol membuat tanda kutip dengan jari-jarinya di udara.

“Itu salah satu alasannya.”

“Tapi, kalian kan nggak ada hubungan darah.”

Mingyu diam, lagi.

“Gini deh. Gimana lu bisa tahu apa yang dia rasain kalau lu nggak tanya?” balas Seungcheol. Ia memutar tubuh, menghadap sahabatnya. “Selama ini, lu gampang aja deketin cewek manapun. Mereka pun nggak segan tidur sama lu–bukan berarti gue melihat Jennie sama seperti mereka, ya. Maksud gue, apa iya lu mau pergi ninggalin Seoul tanpa pernah mencari jawaban dari perasaan lu sendiri? Lu mau ngulang kesalahan yang sama seperti dulu?”

Mingyu memahami pertanyaan itu. Ia pernah mencintai seseorang dalam diam dan melepaskan rasa itu demi hubungan platonik yang perlahan berubah menjadi asing. 

“Mau sampai kapan lu terus mematahkan hati lu sendiri, Mingyu?” tanya Seungcheol, meneguk limun dingin di tangannya. “Lu juga berhak mengejar harapan untuk bahagia. Mungkin jalannya sulit dan panjang, karena lu harus mengambil hati yang sempat berlabuh selama sepuluh tahun lebih di tempat lain. Tapi, gue juga nggak mau ngeliat lu terus-terusan membuang waktu untuk orang-orang yang jelas-jelas nggak menginginkan hati lu. Gue juga mau ngeliat lu bahagia. Lu tahu itu, kan?”

Chapter 63: the inheritance

Chapter Text

Kehadiran Bong Junsu di ruang tamu rumah mendiang Bu Suji seakan memindahkan dinginnya udara ke dalam hunian. Pria itu duduk di tengah sofa, dengan tubuh membungkuk. Tas kerja berbahan kulit yang ia bawa bersandar di kaki sofa. Bong Junsu merentangkan satu tangan sambil memegang selembar dokumen, dengan mata tua yang menyipit, mencoba mengenali barisan huruf yang tercetak di kertas.

Jendela dapur memperlihatkan salju yang telah berhenti sejak semalam, menyisakan gundukan putih yang menutupi setiap permukaan di bumi. Nuansa yang sendu memantul hingga ke langit, menyembunyikan matahari dari pandangan. Jennie mengisi dua cangkir dengan seduhan teh di dapur. Perpaduan aroma melati dan teh yang pekat membantunya terjaga. 

“Silakan,  Pak Junsu,” Jennie menawarkan, ketika ia tiba di ruang tamu. Cangkir-cangkir menempati tengah meja kopi, menghindari bersentuhan dengan tumpukan map dan dokumen yang menyebar di permukaan.

Bong Junsu diam, hanya menjawab dengan anggukan lemah. Setelah baki yang dibawanya kosong, Jennie duduk di seberang Bong Junsu, menatapnya lurus. Kehadiran pria tua yang sempat menyapa Jennie di pemakaman Bu Suji hari itu ada di luar rencana. Bong Junsu mengungkapkan hal yang sama, ketika Jennie menyambutnya di pintu depan.

“Kedatangan saya hari ini untuk membicarakan perihal warisan yang ditinggalkan oleh Bu Suji,” ucap si pengacara lambat-lambat, dengan suara parau. “Sebenarnya, hari ini saya ada janji bertemu dengan adik-adik beliau. Tapi, perasaan saya mengatakan bahwa saya harus mampir bertemu Anda dulu, Nona Kim.”

“Panggil saja saya Jennie, Pak,” ucap Jennie mengoreksi. Bong Junsu melemparkan pandangan dari balik kacamatanya yang merosot ke ujung hidung, tapi bibirnya yang berkerut mengatup diam.

Bong Junsu meraih sebuah map kertas berwarna hitam, terletak di tumpukan teratas. Ia menyelipkan jari di antara lembaran dokumen di dalamnya, lalu berhenti ketika menemukan kertas yang ia butuhkan. Pria itu berdeham, matanya menyusuri barisan kalimat dengan mata yang hanya tinggal segaris.

Jennie menelan ludah, meremas tangannya dengan gugup.

“Ini dia,” ucap Bong Junsu kemudian. “Saya akan bacakan isi surat wasiat Park Suji, yang sempat beliau tuliskan saat di rumah sakit–”

“Sebentar, Pak,” potong Jennie. Dahinya mengerut tajam. “Di rumah sakit? Maksudnya, waktu nenek saya dirawat terakhir kali?”

“Dilihat dari tanggalnya, surat ini dibuat sebulan lalu,” jawab Bong Junsu. “Boleh saya lanjutkan?”

“I, iya. Maaf. Silakan.”

Pria itu berdeham lagi, sebelum mulai membacakan surat di tangannya, “‘Bersama surat ini, saya, Park Suji, menunjuk cucu saya, Kim Jennie, sebagai salah satu ahli waris sah dari harta dan benda yang saya tinggalkan. Ia berhak mendapatkan bagian dari saham perusahaan keluarga, dengan syarat dapat menunjukkan akte pernikahan yang sah. 

Saya menunjuk Bong Junsu sebagai pihak yang melakukan verifikasi terhadap keabsahan dokumen pernikahan cucu saya, sebelum pemindahan surat saham kepadanya. Apabila Kim Jennie tidak dapat memberikan bukti surat nikahnya kepada pihak ketiga yang saya tunjuk, maka ia tidak akan mendapatkan bagian saham dari perusahaan keluarga.”

Suasana hening. Bong Junsu selesai bicara dan memberikan surat itu kepada Jennie. Jennie menyambut, membaca ulang setiap barisan kata dalam diam. Bahkan hingga akhir hayatnya, Bu Suji berpegang teguh pada kata-katanya.

“Kamu sudah paham maksud wasiatnya?” tanya Bong Junsu, mengambil tas kulit dari lantai.

“Sudah, Pak Junsu. Seperti yang Nenek pernah bilang, saya tidak akan mendapat warisan kalau tidak menikah sebelum berusia 30 tahun,” ucap Jennie dengan rasa getir di dada. Kepergian sang nenek menjadikannya orang asing yang membawa kenangan. Jennie melihat sekeliling ruangan. Bahkan, ia mungkin tak pantas lagi berada di ruangan ini. “Berarti, saya harus segera berkemas dan kembali ke apartemen saya.”

“Kenapa begitu?” tanya pria tua di hadapannya.

“Karena rumah ini kan harta Nenek juga. Surat wasiat itu mengatakan saya tidak berhak atas harta miliknya, kan?”

Bibir Bong Junsu menekukkan senyum, mempertegas kerutan di sekitar bibirnya. Ia memegang sebuah amplop putih, menyerahkannya pada Jennie. “Nona Kim, percayalah. Nenekmu bukan orang sekejam itu.”

Dengan wajah bingung, Jennie menerima amplop dari tangan Bong Junsu dan membukanya. Di dalamnya, terdapat beberapa lembar kertas. Satu kertas putih dengan ketikan rapi, dan dua lembar kertas berisikan tulisan tangan yang Jennie kenali. Tulisan tangan Bu Suji.

“Ini apa, Pak?” tanyanya.

“Baca saja. Saya tidak tahu isinya,” ujar Bong Junsu, lalu menyesap teh. Cangkir berdenting lembut ketika ia meletakkannya kembali di meja. 

Jennie menunduk, menemukan namanya tercantum di baris pertama surat tulisan tangan itu. Ia menahan napas, membaca perlahan.

 

Teruntuk Jennie tersayang,

 

Ketika kamu menerima surat ini, mungkin Nenek sudah tak ada lagi di dunia. Nenek sudah pergi ke tempat yang jauh, tanpa rasa sakit yang menyesakkan dada. Bila hari itu tiba, Nenek harap kamu menangis, tapi secukupnya saja. Rindukan Nenek seperti saat aku selalu menunggu kedatanganmu ke rumah. Rindukan nenek tua ini yang selalu berterima kasih pada kelembutan hatimu.

Nenek ingat di hari kamu datang ke rumah pertama kali. Rambutmu yang hitam, pipimu yang bulat, dengan mata besar penuh keingintahuan. Serupa dengan wajah kecil ayahmu dulu, yang tak sempat lagi Nenek pandang. Kamu masih begitu kecil, siap masuk sekolah di tahun berikutnya.

Kehadiranmu bagaikan oase di padang pasir, bagi hati Nenek yang tandus semenjak kepergian ayahmu. Ia memilih untuk menghilang, karena Nenek yang terlalu keras padanya. Menentang seluruh keputusan hidupnya, bahkan saat ia memilih untuk menikahi Yejin, ibumu. Mungkin ia sudah pergi ke surga lebih dulu dari Nenek. Nenek tidak tahu. Bagaimanapun juga, yang tersisa hanyalah kerinduan dan penyesalan sebagai seorang ibu yang akan Nenek bawa sampai ke alam kubur.

Bila saja Nenek dapat memutar waktu kembali, atau menjalani hidup untuk kedua kali, Nenek berharap dapat bertemu kamu lagi. Nenek harap menjadi ibu dari ayahmu lagi, dan kamu menjadi cucuku lagi. Tapi, dalam keadaan yang lebih baik, supaya kamu dapat bertumbuh dalam pelukan ayahmu. Supaya Nenek bisa memiliki waktu lebih banyak memasak dan berbagi resep denganmu.

Oleh karena itu, dalam surat ini, Nenek titip sampaikan salam permintaan maaf kepada Yejin, ibumu, karena tak pernah merangkulnya lebih dekat. Sampaikan juga rasa terima kasih Nenek karena telah kuat merawatmu seorang diri. Semoga kebahagiaan barunya dapat mengisi rasa sepi yang selama ini ia pendam. Karena Nenek tahu rasanya menjadi perempuan kesepian.

Jennie-ku sayang,

Setelah kepergianku, tak ada harta dan benda yang seberharga dirimu. Apapun yang Nenek miliki, tak ada bandingannya dengan kasihmu yang tanpa pamrih. Nenek tahu bagaimana kamu selalu berusaha membuatku senang, agar Nenek tak perlu mengkhawatirkan isi hatimu yang sebenarnya.

Bila saat ini kamu telah menemukan seseorang yang kamu cintai, Nenek harap keinginanmu bersamanya lebih kuat daripada memikirkan kebahagiaan orang lain. Nenek harap kamu memilih bersama dia karena kebaikan hatinya. Hati yang kokoh seperti batu karang, meski kamu menjadi badainya. Karena tidak ada cinta yang lebih tulus dari orang yang mau berada di sisimu, bahkan di saat terburuk sekalipun. Siapapun orang itu, Nenek berharap ia juga mencintai mimpi-mimpimu.

Bersama surat ini, Nenek juga menitipkan wasiat lain, yang aku harap dapat membantu mewujudkan impianmu. Ada tabungan yang telah Nenek persiapkan atas namamu. Gunakanlah untuk melanjutkan impianmu. Atau gunakan untuk membangun toko roti yang kamu impikan.

Nenek juga titip Haru. Sampaikan pada Haru bahwa Nenek mempercayainya untuk menjaga rumah, yang dapat ia tinggali tanpa batas waktu. Nenek titipkan surat-suratnya kepada Pak Junsu yang akan membantu mengurus semuanya. Jennie tak usah khawatir. Pak Junsu adalah orang yang baik. Bila kamu membutuhkan tempat tinggal atau uang tambahan, kamu bisa menggunakan rumah ini sebagai jaminan. Nenek serahkan rumah itu kepadamu, Jennie.

Ketika udara perlahan menjadi hangat, Nenek titip rawat taman di depan ruang tamu, ya. Biarkan bunganya bermekaran. Kamu juga boleh menanam apapun di sana. Bila mungkin, Nenek akan datang sesekali seperti kupu-kupu putih di musim semi.

Nenek sangat menyayangimu, Jennie. Terima kasih telah lahir ke dunia ini dan menjadi cucu Nenek.

Penuh cinta,

Park Suji

 

Titik-titik air tumpah membasahi permukaan kertas di tangan Jennie. Dalam diam, ia menyeka air matanya, membuka lembaran kedua. Sebuah surat wasiat berisi pernyataan seperti yang disebutkan dalam surat. 

Setidaknya, ada kabar gembira yang dapat Jennie bagikan kepada Haru. Ia pasti akan sangat senang mengetahui dapat tinggal di rumah Bu Suji selamanya.

Chapter 64: looking for the love’s recipe

Chapter Text

Jennie’s POV

Kedatangan Jennie di dapur Nero&Bianco membawa semangat baru yang membuat rekan kerjanya tercengang. Setelah mengganti pakaian dengan seragam kerja, Jennie membuka buku jurnal resepnya. Catatan dan sketsa yang terakhir kali ia torehkan pada lembaran kertas membuat isi kepalanya berputar. Tidak, Jennie membutuhkan lebih dari sekedar kue coklat.

Jari-jarinya mengetuk meja, sementara tangan yang lain mulai menulis, mengisi halaman yang masih kosong. Jennie menggambar berbagai bentuk wadah. Mulai dari gelas, mangkuk, cangkir, hingga piring kecil. Ia mencatat setiap bahan yang mengingatkannya pada musim dingin dan akhir tahun.  Semakin ia mencoba memikirkan menu baru yang rumit, semakin sulit rasanya mewujudkan hal baru.

Jennie mengacak rambutnya, geram pada dirinya yang tak juga menemukan ide baru untuk menu yang akan ia ikut sertakan di akhir pekan. Sebuah gambar gelas dengan potongan kue di dalamnya mendapatkan silang besar dari Jennie. Begitupun sajian berbentuk bola-bola di piring kecil.

“Serius banget. Kerutan lu nambah, tuh,” goda Bambam, menghampiri Jennie sambil menyeruput kopi paginya. “Belum dapet ide buat menu baru?”

Jennie hanya mengerutkan bibir,  membalik halaman baru. “Kalau nggak bisa bantuin, jangan gangguin deh,” ucapnya ketus. “Inget ya, kita rival sampai hari Sabtu!”

Bambam menahan tawa. Pria itu berjalan mendekat, menyandarkan punggung di tepi meja konter. “Yaelah, judes amat. Gue kan cuma nanya. Emangnya kalau rival saling bantu bakal didiskualifikasi?”

“Gue bertekad buat dapat spot di menu akhir tahun. Jadi, kalau lu mau bantuin, jangan setengah-setengah. Jangan kasih gue ide aneh-aneh!” ancam Jennie, menunjuk hidung Bambam sambil menyipitkan mata. Sahabatnya menyeringai, menyentil ujung jari Jennie.

“Ya udah, sini. Ide lu nyangkut di mana? Siapa tahu gue bisa kasih jalan keluar,” ucap Bambam, melirik ke buku catatan Jennie.

“Jadi, ide gue nyangkut di tiga hal: kue, tiramisu, atau pie. Gue perlu bahan yang mengingatkan setiap orang tentang musim dingin sejak gigitan pertama. Yang penting, masaknya nggak ribet.” Jennie menjabarkan setiap ide dan kebutuhannya. Bambam menyerap setiap kata-kata itu dengan perlahan, menimbang-nimbang apakah ia dapat memberikan masukan tambahan.

“Boleh gue liat catatan lu?” minta Bambam. Jennie dengan senang hati memberikan bukunya. Mata pria itu memindai setiap daftar bahan yang telah Jennie tuliskan. “Dari semua bahan yang lu tulis ini–labu, apel, kayu manis, lemon, cengkeh–sebenarnya menarik sih. Tapi masakan Italia bukan tentang teknik yang ribet dan makan waktu berjam-jam untuk memasaknya.”

“Gue tahu, Bam. Tapi, kalau gue nggak coba hal yang baru, makanan pencuci mulut gue bakal biasa aja. Mana bisa gue menang dengan menawarkan torta doang?” keluh Jennie.

“Iya,  sih,” gumam Bambam, melipat lengannya di depan dada. “Gini, deh. Kalau lu bersikukuh memasukkan langkah tambahan dalam cara masak lu, seenggaknya bikin esensi yang kuat kenapa lu harus mewujudkan ide itu.”

“Esensi?” Dahi Jennie mengerut.

“Iya. Misalnya, menu yang lu buat dapat menyatukan keluarga, memberikan kenangan pada anak-anak. Atau, lu mengolah menu warisan keluarga misalnya. Chef Dom sendiri bilang, kan, bahwa tema dalam masakan kali ini juga penting? Gue rasa Dom bakal setuju berkompromi dengan cara masak lu kalau maknanya kuat.” Bambam menjelaskan panjang lebar, membuat Jennie mempertimbangkan kembali idenya. Ia menggigit jari, tak yakin apakah ide yang telah ia punya cukup untuk membuat Chef Dom terkesima.

“Kenapa lu nggak coba ngecek buku-buku resep mendiang nenek lu?” tanya Bambam. “Karena beliau juga lu jadi suka masak, kan?”

“Gue udah minta bantuan Haru buat cari buku-buku resepnya, tapi belum sempat gue liat satu-satu. Dan sebenarnya, Nenek nggak banyak ngajarin menu-menu spesial. Cuma masakan rumahan biasa,” jawab Jennie, dengan senyum canggung.

“Apa iya nggak ada menu buatan Bu Suji yang lu ingat?” Bambam melanjutkan diskusi. “Atau  yang baru-baru ini lu buat? Biasanya orang-orang dulu kan punya tradisi membuat makanan tertentu untuk musim tertentu.”

“Yang baru-baru ini gue buat,” gumam Jennie pada dirinya sendiri. Bila ia menilik waktu belakangan ini, hanya ada satu menu yang selalu Jennie buat setiap tahun. Minuman rempah hangat yang ia seduh dan nikmati bersama Mingyu terakhir kali. Hari ketika salju turun perlahan, mereka berbagi selimut di ruang TV. hanya duduk berdua, menikmati segelas rempah hangat yang manis dan masam. Membayangkannya saja membuat Jennie tersenyum.

Bambam menjentikkan jari di depan wajah Jennie. “Oi, kok lu ngelamun?” tanyanya bingung.

“Hah?--Ng, nggak papa. Gue keinget sesuatu,” balas Jennie gugup. Namun, bagaimana caranya ia mengubah sebuah minuman menjadi makanan yang sesuai dengan tema musim dingin?

 

Mingyu’s POV

Lampu sen mobil mengedip dua kali saat Mingyu menekan tombol pada kuncinya. Asap tipis keluar dari hidungnya setiap kali Mingyu membuang napas. Ia merapatkan kerah jaket menutupi leher, berjalan cepat sambil menenteng seikat bunga peony di tangan. Mingyu menyusuri lantai berlapis paving berwarna terakota, menghantarkannya ke depan pintu gedung kolumbarium.

Sebuah gedung abu-abu berbentuk sederhana, terbagi menjadi sisi sayap kanan dan kiri. Di bagian tengah, terdapat pintu masuk berukuran besar nan lebar yang terbuat dari kaca.

Ia menahan pintu untuk seorang wanita paruh baya yang hendak meninggalkan bangunan. Mingyu mendapatkan ucapan terima kasih sebagai balasan. Setelah wanita itu menjauh, Mingyu melangkah masuk. Langkah kakinya menggema ke seluruh ruangan, seakan menegaskan kehadirannya di dalam ruangan. Benar saja, seorang wanita muda di balik meja resepsi yang panjang segera berdiri untuk menyambut Mingyu.

“Selamat siang,” sapa sang resepsionis yang mengenakan seragam serba hitam.

“Siang. Saya mau melayat ke tempat Ibu Park Suji. Beliau ditempatkan di sini kurang lebih minggu lalu,” ucap Mingyu. “Saya… belum tahu lokasi abu beliau di mana.”

“Apa ada dokumen penyerta yang dibawa, untuk saya cek di database?” tanya petugas ramah. Mingyu meraih ke dalam saku celana, menunjukkan foto dokumen yang sempat dibagikan oleh Yejin kepadanya. Sang petugas menyambut ponsel itu, dan meminta Mingyu menunggu.

Sambil menanti informasi dari petugas di balik meja, Mingyu memandang sekeliling. Langit-langit yang tinggi dengan skylight memperlihatkan langit kota Seoul yang mendung sejak pagi. Setidaknya, hari ini salju berhenti sejenak. Sinar matahari yang menembus kaca atap menyinari ruangan dengan lembut, seakan mengaburkan makna kematian yang menyelimuti setiap sudut bangunan.

“Untuk abu Ibu Park ada di sisi sayap B, lorong kelima,” ucap si resepsionis tiba-tiba, membuat Mingyu melompat kaget. “Anda tinggal mengikuti papan penunjuk yang ada di dinding, ya, Pak.”

“Oke, terima kasih.”

Mingyu meninggalkan meja resepsi, melangkah perlahan agar tapak kakinya tak menggemakan suara keras sepanjang lorong. Ia mengikuti arah papan penunjuk, seperti yang disarankan oleh resepsionis.

Semakin jauh ia melangkah ke dalam, udara semakin menusuk kulit. Tanda-tanda kehidupan seakan lenyap, yang tersisa hanya suara dari mesin pendingin yang meniupkan udara di atas kepala. Lantai dan dinding yang berlapis batu marmer putih membentuk lorong panjang, yang memecah ke sisi kiri dan kanan.  

Ketika sampai di koridor yang dituju, Mingyu berbelok, memasuki gang yang berbeda. Corak lantai telah berubah menjadi warna kecoklatan, memberikan sedikit kehangatan di dalam ruangan. Di sisi kiri dan kanannya terdapat dinding setinggi langit-langit, dengan kotak-kotak kaca berbentuk persegi. Sebagian besar berisikan guci abu para mendiang yang telah meninggal. Mingyu berjalan pelan, mengamati setiap kotak di dinding. Beberapa guci berdampingan dengan papan nama dan foto pemilik abu. Pigura yang dibuat dari kelopak bunga berwarna-warni menghiasi seluruh dinding. 

Mingyu berhenti ketika menemukan nama Park Suji di dinding, dengan sebuah guci berwarna putih gading. Ada foto wanita tua yang tersenyum ke arahnya, diletakkan di samping guci. 

Mingyu menggantungkan buket bunga kecil yang dibawanya pada pengait di sisi kanan kotak Bu Suji. Pria itu menutup mata, menjalin jari-jarinya, mengirimkan doa kepada mendiang. Di antara doa yang ia panjatkan, suara Bu Suji muncul dari pertemuan terakhir mereka. Hari itu, Mingyu mengunjungi Bu Suji setelah rapat di luar kantor. Ada dorongan kuat yang menyarankan Mingyu untuk bertemu nenek Jennie.

Di antara potongan apel yang ia tawarkan, Bu Suji meletakkan tangannya yang kering dan berkerut di atas tangan Mingyu, menatapnya sendu. 

Genggaman itu semakin erat, saat Bu Suji berkata, “Nak, saya titip jaga Jennie, ya.”

Bagi Mingyu, begitu sulit menghapuskan dinginnya ujung-ujung jari tua itu dari ingatan. Saa itu, kata-kat Bu Suji pun membingungkan.

 “Tapi, Jennie kan akan segera menikah. Pasti suaminya bisa menjaga dia,” bantah Mingyu sambil tersenyum. “Saya … cuma kerabat jauh saja.”

Bu Suji menggelengkan kepala. Perlahan, bibirnya membentuk senyuman. Bukan sapaan mengasihi, melainkan tekukan jahil seakan ia tahu rahasia yang Mingyu simpan di dada.

“Saya memang sudah tua, tapi saya tidak bodoh,” tukas Bu Suji. “Caramu memandang Jennie, saya pernah melihatnya. Dulu, saya pernah bersikeras menentang kebahagiaan anak saya. Untuk Jennie, saya tidak ingin mengulang kesalahan yang sama. Saya tahu Jennie memilih menikahi orang lain, tapi saya harap kamu dapat terus menjaganya untuk saya. Meski dari kejauhan. Meski hanya sebagai teman, sebagai kerabat. Janji, ya?”

Mingyu membuka mata, menatap foto Bu Suji yang masih tersenyum padanya. Kala itu, Mingyu tak mengerti rasa yang menghimpit dadanya. Kala itu, Mingyu berpikir jatuh cinta pada Jennie adalah hal yang mustahil.

Ketika wanita itu telah kehilangan cinta lamanya, apakah masih ada ruang bagi Mingyu untuk menyusup? Bagaimanapun juga, menyimpan rasa dan memendam ketangguhan untuk sepuluh tahun lamanya adalah benteng pertahanan yang telah dihantam ribuan badai.

Bolehkah ia mencintai wanita yang sedang patah hati karena laki-laki yang ia pilih menghilang tanpa jejak? Apa boleh Mingyu terus berharap pada wanita yang tak menginginkannya? 

Seandainya Bu Suji masih ada di sini, Mingyu berharap wanita tua itu dapat menjawab keresahannya. Mingyu membuang napas panjang, duduk di bangku yang berada di tengah lorong.

Dari kejauhan, terdengar langkah kaki yang perlahan semakin mendekat. Sebuah suara yang ia kenali memanggil namanya.

“Mingyu?”

Mingyu menoleh, mendapati sang pemilik suara adalah Jennie, berdiri jauh darinya. Ia juga membawa sebuah buket bunga peony kecil berwarna merah muda, serupa dengan buket yang Mingyu bawa. Wanita itu tampak terkejut, sambil memaksakan senyum canggung yang menghiasi wajah.

Tidak bisa. Sepertinya Mingyu tidak bisa berhenti mencintai Jennie. Debaran di dalam dadanya adalah saksi nyata.

Chapter 65: the missing face.

Chapter Text

Pria yang duduk di bangku panjang berlapis marmer tampak familier. Ia bangkit saat Jennie berjalan ke arah kotak abu Bu Suji, memangkas jarak di antara mereka. Genggaman tangan Jennie pada buket bunga mengencang, sementara matanya terpaku pada Mingyu yang melemparkan senyum ramah.

“Aku kaget ketemu kamu di sini,” ungkap Jennie.

“Mumpung lagi di luar, jadi aku mampir sekalian,” balas Mingyu. “Soalnya aku nggak sempat ikut acara kremasi Bu Suji, kan.”

“Oh.” Jennie mengangguk pelan.

“Kamu sendiri? Jam segini di luar restoran?”

“Aku abis ngurus berkas untuk perpanjangan sertifikat profesi. Sebelum balik ke restoran, nggak tahu kenapa aku ingin ke sini,” jawab Jennie. Ia menunjukkan buket bunga yang dibawanya. “Aku mau berdoa untuk Nenek dulu, ya.”

Mingyu mengiyakan, lalu duduk kembali di bangku. Sementara itu, Jennie mendekat ke arah kotak kaca abu, menggantungkan bunga seperti yang dilakukan Mingyu sebelumnya. Ia merapatkan tangan, memejamkan mata, mengirimkan doa dalam keheningan yang panjang. Lorong kembali sunyi untuk sesaat.

Setelah mengamini doanya, Jennie melangkah mundur, duduk di sisi bangku yang kosong. Mingyu menggeser diri, memberikan cukup ruang di antara mereka. Untuk sesaat, keduanya berdiam diri. Keheningan yang tercipta begitu menenangkan, di tengah lorong yang disinari lampu fluoresen dari langit-langit. Foto Bu Suji yang tersenyum padanya membangkitkan memori Jennie bersama sang nenek.

“Mingyu.” Jennie memanggil.

“Hm?”

“Boleh aku cerita sesuatu?”

“Cerita aja.”

Jennie menarik napas, membayangkan pintu rumah sang nenek yang tampak menjulang tinggi. Ia kembali pada tubuh seorang anak kecil, menggandeng tangan ibunya takut-takut. Seorang wanita tua keriput keluar dari pintu itu, menatap Jennie dingin.

“Waktu aku kecil, aku pikir arti keluarga hanyalah ada aku dan mamaku aja. Meski hidup kami sederhana, aku merasa duniaku dengan Mama sudah cukup bahagia. Hingga suatu hari, saat aku masih TK, Mama membawaku ke rumah Nenek.

Aku tidak mengenali siapa wanita tua itu. Wajahnya berkerut masam, rambutnya kala itu masih abu-abu, dan belum menggunakan tongkat. Aku mengira Nenek hanyalah teman tua Mama, karena mamaku memang memiliki banyak kenalan karena kerja di dunia televisi. Tapi, tanpa banyak penjelasan, Mama sesekali membawaku kembali ke rumah Nenek.

Setiap kali aku datang, rumah Nenek selalu wangi masakan. Mulai dari ayam goreng, daging panggang, sup, dan berbagai macam kue. Terkadang aku mengendap ke dapur, mencoba diam-diam mengaduk isi panci sebelum Nenek berteriak ‘Jangan dipegang! Panas! Anak kecil jangan main di dapur!’” Jennie melepaskan tawa kecil, setelah meniru nada bicara sang nenek. Foto Bu Suji masih tersenyum padanya, membuat air mata Jennie mulai berkumpul di pelupuk mata.

Ia melanjutkan. “Hal yang luput dari perhatianku adalah waktu menjadi proses paling egois dalam hidup ini.”

Mingyu mengerutkan kening. “Kenapa kamu mikir gitu?”

“Karena waktu nggak peduli jika saat ini kamu sedang sedih, kecewa, bahagia, muda, tua, laki-laki, atau perempuan. Waktu terus saja bergerak. Waktu nggak punya tombol jeda, supaya kita bisa berhenti sebentar saat sedang bahagia. Waktu juga nggak punya tombol yang mempercepat lajunya, apalagi di saat kita sedih. Waktu cuma berhenti ketika seseorang mati. Ironisnya, yang masih hidup, harus bertahan dalam bayang-bayang memori dari orang yang telah pergi.”

Jennie dapat mendengar pria di sampingnya bergumam rendah. Kepalanya miring ke satu sisi, dengan mata yang bergerak-gerak ke arah langit-langit. Keheningan di antara mereka membuat Jennie mengalihkan perhatian pada buket bunga yang menggantung di sisi kanan kotak abu sang nenek.

“Kamu yang bawa buket bunga itu?” tanya Jennie, menunjuk rangkaian bunga peony berwarna pink muda di dinding.

“Iya. Jujur, aku nggak tahu mau bawa bunga apa sebelum ke sini. Tapi, di antara bunga yang lain, bunga peony itu yang paling segar di toko,” sahut Mingyu.

“Bunga peony itu bunga kesayangannya Nenek,” ujar Jennie, menyunggingkan senyum. “Sebenarnya, bunga itu tumbuh di taman depan ruang keluarga. Tapi, karena musim dingin, jadinya nggak mekar. Kalau nanti musim semi, perdu di sana akan dipenuhi bunga itu.”

“Wah, pasti cantik banget.”

“Mhm.”

“Jennie?”

“Iya?”

“Aku udah pernah cerita kenapa aku jadi arsitek?” tanya Mingyu.

Kini, berganti Jennie yang melempar gumaman. “Karena kamu dibiayain oleh Jiho?” tebaknya.

“Itu benar. Tapi, ada alasan lain.”

“Karena kamu mau terlihat keren di depan gebetan?” goda Jennie, membuat Mingyu mendenguskan tawa.

“Kurang lebih benar. Tapi ada alasan lain lagi,” ucap pria itu sambil melagu.

Jennie mencoba memikirkan alasan lain, namun mengurungkan niat untuk menggoda Mingyu lebih jauh. Ia menggelengkan kepala.

“Waktu kecil, aku punya sahabat. Ia tinggal di rumah bergaya tradisional, yang telah dihuni oleh keluarganya secara turun-temurun. Rumah itu mirip seperti rumah nenekmu, tapi lebih kuno. Ada taman kecil di bagian tengah rumah, seperti halnya taman di rumah Bu Suji. Rumah itu nggak besar, tapi melebar. Mataharinya masuk ke dalam, tapi tidak terik. Di siang hari, ruang-ruangnya terasa dingin. Di sore hari, lantainya hangat dari matahari sore. Setiap kali aku main ke sana, rasanya nggak mau pulang. Bahkan aku pernah iseng bilang ke orang tua sahabatku, supaya mau mengangkatku sebagai anak.”

Jennie tertawa kecil, memutar matanya saat membayangkan jahilnya Mingyu kecil memohon pada orang tua sahabatnya.

“Di badan seorang bocah kecil, nggak bisa tinggal di rumah temanku rasanya ngeselin banget. Tapi, ketika udah di umur sekarang, malah jadi cerita yang lucu, ya?” Mingyu melanjutkan.

Jennie tertegun mendengar kata-kata itu.

“Yang kamu bilang soal waktu, mungkin benar. Waktu sangat egois. Tapi, kalau waktu nggak terus berjalan, mungkin aku akan terus ada di tubuh Mingyu kecil dan merengek kepada ibuku selamanya. Kalau waktu berhenti saat itu, aku nggak akan pernah bertumbuh. Aku nggak akan punya impian untuk membangun rumah tinggalku sendiri, suatu saat nanti. Untuk sekarang, mungkin aku belum mewujudkan mimpi itu. Tapi, karena waktu terus berjalan, peluang itu akan selalu ada.”

Jennie merenung. Kehilangan bertubi-tubi yang ia rasakan belakangan ini serupa dengan Mingyu kecil yang merengek minta diadopsi. Kesedihan karena dunia terasa kejam, merenggut apa yang seharusnya dapat menjadi miliknya–kesetiaan Rowoon dan pengakuan dari sang nenek karena mewujudkan satu mimpinya.

“Jadi,” sahut Jennie dengan suara gemetar, memandang pria di sampingnya. “Maksudmu, suatu saat nanti aku bisa mencintai seseorang lagi?”

Mingyu menoleh. Sepasang mata itu mengedip lembut, menatap Jennie penuh kehangatan seperti segelas coklat hangat yang menghangatkan ujung jari. Ketika pria itu mengangguk pelan, air mata yang tertahan mencoba pecah lagi.

“Suatu saat nanti, aku akan tersenyum ketika membayangkan wajah nenekku? Bahwa kepergiannya bukan menjadi cerita yang aku sesali?” tanya Jennie. Ia ragu apakah akan mendapatkan jawaban, tapi Mingyu mengangguk.

“Sama seperti bunga peony di kebun nenekmu,” sambung Mingyu. “Di musim semi nanti akan mekar, dan kamu akan tersenyum saat melihatnya. Bahwa nenekmu sayang sama kamu, Jen, apapun yang terjadi.”

Benteng pertahanan Jennie runtuh. Butiran air mata itu jatuh, bersama pedih dan kasih yang masih tersisa untuk sang nenek. Bila Jennie melangkah ke rumah itu lagi, sosok Bu Suji yang tersenyum kini menjadi sekedar bayangan niskala. Tangannya yang membelai kepala Jennie. Tawanya yang renyah. Duduk bersama di ruang keluarga sambil menikmati kue panggang yang Jennie bawa untuk neneknya. Suatu saat nanti, ia akan tersenyum ketika mengingat semua kejadian yang pernah nyata.

Dalam senyap, Mingyu menggeser diri. Ia mendekati Jennie dan merengkuhnya dalam pelukan. Ia membiarkan kepala wanita itu merebah di lekuk leher. Tubuh Jennie berguncang, bersama isak tangis yang masih menumpahkan luka, bergumam rendah di dalam lorong. Mingyu bergeming, sementar tangannya yang bebas membelai kepala Jennie dengan tenang.

“Jen,” bisik Mingyu. “Kamu punya mimpi, kan?”

Jennie menganggut dalam pelukan.

“Ayo kita terus menjalani hidup, sambil berusaha mewujudkan mimpi masing-masing. Aku akan bangun rumah, kamu gapai mimpimu. Oke?”

Jennie melepaskan diri. Sambil menyeka air mata dan lendir yang berkumpul di lubang hidung, Jennie mengatur napas. Suaranya sengau, ketika ia berkata, “Aku mau sekolah lagi dan punya toko roti sendiri.”

“Aku akan bangun toko roti itu untukmu,” bisik Mingyu dengan bibir mengembang. Pria itu meremas tangan Jennie, sambil berkata, “Nanti aku rancang dengan jendela-jendela yang besar, supaya aroma roti dan kue yang kamu buat menyebar ke seluruh tetangga. Biar nanti para nenek, kakek, ibu, ayah, dan bocil SD berdatangan, berebutan mengambil pastry yang baru matang.”

Jennie terkikik geli membayangkan ide itu. “Diskon setiap Jumat untuk para nenek dan es coklat untuk para bocil? Dan promosiin jasa arsitekmu ke para ibu muda?” candanya.

Mingyu nyengir. “Terdengar seperti bisnis yang menguntungkan buatku.”

Jennie tertawa lepas.

Namun, udara seakan lupa untuk mengisi dadanya ketika jari-jari Mingyu mengaitkan helaian rambut Jennie ke balik telinga. Tangan Mingyu menetap di sisi wajahnya, telapaknya hangat menekan pipi Jennie. Dentuman bagaikan genderang perang mengisi telinga, seirama dengan degup jantung Jennie yang mengisyaratkan sinyal peringatan ketika wajah pria itu mendekat. Napas yang hangat beradu, menggelitik ujung hidung. Jennie menutup mata, merasakan sentuhan lembut bibir Mingyu di bibirnya.

Chapter 66: late night talking.

Chapter Text

“Jen.”

Sang pemilik nama membisu. Matanya menatap jauh keluar jendela. Langit tampak biru seperti bentangan kain satin, bersama helaian awan tipis yang bergerak pelan. Hangatnya matahari menerpa wajah, membuat wajah Jennie berseri. Rasa kantuk yang datang memaksanya untuk menyipitkan mata. Namun, setiap kali pelupuknya menutup, wajah Mingyu terbayang lagi.

Mingyu yang memangkas jarak di antara mereka. Dalam sekejap mata, pipi mereka bersentuhan. Bibir yang beradu dalam ciuman mesra. Tangan Mingyu yang menahan kepala Jennie tetap tegak, sambil menumpahkan rasa dan hasrat tersembunyi yang Jennie hindari sebelumnya.

Namun, di hari itu, Jennie menerimanya dengan tangan terbuka. Ke mana kewarasan ketika ia membutuhkannya?

“Jennie!”

Teriakan itu membuat Jennie melompat kaget. Jisoo, membelalakkan mata sambil menunjuk ke arah bak cuci di hadapan Jennie.

“Apa sih?!” pekiknya.

“Itu! Airnya luber!”

Jennie menunduk, memekik ketika air telah mencapai bibir bak cuci. Padahal wadah stainless steel itu cukup dalam, dapat merendam hingga siku manusia dewasa. Luapan air tumpah ke lantai, membasahi sepatu dan celana Jennie. Jisoo menyambar, segera menutup keran. Para koki yang berada di sekitar mereka ikut gaduh, penasaran dengan kekacauan yang tiba-tiba terjadi.

Jennie meraih ke dalam bak, mengangkat tumpukan panci dan baskom yang menindih lubang pembuangan. Setelah lubangnya terbuka, gravitasi segera menarik air turun ke dalam pipa pembuangan. Permukaannya mulai surut, membentuk pusaran air yang mengeluarkan suara seperti angsa yang tercekik.

“Lu ngapain, sih?” tanya Jisoo geram, yang telah kembali sambil membawa tongkat pel. “Bentar lagi jam makan siang selesai! Kenapa pikiran lu malah kemana-mana?!”

“Sori,” gumam Jennie lirih. Ia melangkah mundur, membiarkan Jisoo mengelap genangan air di lantai yang mulai melebar. “Gue … banyak pikiran.”

“Dari kemarin lu aneh, tahu nggak?”

Di antara tangan Jisoo yang bergerak cepat maju dan mundur saat menggunakan pel, pikiran Jennie kembali melayang pada kejadian kemarin.

Setelah kejadian di kolumbarium, Jennie dan Mingyu menutup rapat bibir, mengabaikan reaksi yang sewajarnya mereka lontarkan satu sama lain. Pria itu bangkit berdiri, menawarkan diri untuk mengantar Jennie kembali ke restoran. Jam kerja paruh kedua akan segera dimulai, jadi sang koki harus segera kembali.

Udara di dalam mobil sepanjang perjalanan terasa mencekik. Sementara Mingyu fokus menyetir, Jennie membuang muka, memandang keluar jendela. Sedikit gerakan saja dari Mingyu membuatnya tersentak, tapi Jennie pura-pura cuek.

Bungkamnya Jennie membuat Jisoo menaruh curiga, tapi ia memilih untuk menunggu. Bagaimanapun, kejadian bertubi-tubi yang menimpa Jennie meninggalkan jejak yang nyata. Seringkali Jisoo menangkap sahabatnya termenung panjang, sebelum akhirnya menguasai diri dan kembali bekerja.

“Kalau emang lu nggak mau cerita, ya udah nggak papa” ucap Jisoo, mendesah panjang. “Gue cuma khawatir karena belakangan lu banyak ngelamun, Jen. Kalau lu capek, coba ambil cuti aja sehari.”

Jennie menggeleng cepat. “Gue nggak enak kalau potong hari kerja lagi,” sahutnya. “Kayaknya gue cuma stress karena belum dapat ide mau buat menu baru apa. Padahal waktunya udah mepet.”

“Semua orang juga bakal ngerti, kok, kalau lu skip tantangan kali ini, Jen,” tukas Jisoo, menegakkan gagang pel. “Toh masih ada kan kesempatan lainnya? Lu nggak perlu memaksakan diri.”

“Justru tantangan dari Chef Dom bikin gue lupa tentang kejadian-kejadian kemarin, Jisoo,” balas Jennie, meletakkan kedua tangan di bahu sahabatnya. Ia menatap mata Jisoo lekat-lekat. “Supaya lu berhenti khawatir, nanti malam nginep tempat gue, yuk? Lu bisa jadi juri buat menu yang lagi gue kembangin. Gimana?”

Jisoo menyipitkan mata. “Lu nggak bakal ngeracunin gue, kan?”

“Nggak lah!” Jennie mencibir. “ … Paling murus-murus dikit.”

Jisoo menyikut pinggang Jennie, lalu keduanya tertawa bersama.

*

Seperti janjinya, Jennie menyuguhkan–tak hanya satu–piring-piring kecil berisikan varian prototipe percobaan menu baru yang ia ikut sertakan dalam tantangan Chef Dom. Jisoo, duduk di meja makan apartemen Jennie sambil menepuk perut. Karet pinggang celananya mulai mengetat. Sudah lebih dari setengah lusin kudapan yang ia coba, tapi Jennie belum juga puas dengan komentarnya.

“Yang ini terlalu manis.”

“Kuenya terlalu kering.”

“Krimnya asam!”

“Rasanya aneh.”

Dengan teguh, Jennie menelan komentar-komentar itu, sambil berharap percobaan berikutnya akan memuaskan lidah Jisoo. Namun, tangan dan pinggangnya mulai pegal karena terus mengaduk, memanggang dan memadukan berbagai bahan di dapur. Hingga menjelang tengah malam, ia tak juga mendapatkan pujian yang diinginkan.

“Jen.” Jisoo menggeram, sambil mengangkat tangan. “Gue nyerah buat malam ini. Udah kenyang banget!”

Jennie mengacungkan jari telunjuknya, seraya menyerang sahabatnya dengan tatapan memohon. “Satuuu lagi, plis! Gue yakin yang berikutnya sempurna, Jisoo!”

Jisoo menyilangkan tangan di depan dada, menggeleng kuat-kuat. “Sori. Kalau makan sepiring lagi, gue bakal muntah!”

Jennie menghela napas panjang. Dua hari menjelang kompetisi menu baru, harapan akan hasil yang sempurna semakin pupus. Mangkuk dan piring kotor telah menumpuk di bak cuci. Isi kardus telur hanya tinggal sebutir.

Melihat sahabatnya menunduk sambil memandang dapur yang kotor, Jisoo melontarkan semangat. “Mungkin karena seharian ini pikiran lu ke mana-mana, Jen. Makanya hasilnya nggak maksimal. Mendingan kita mandi, terus tidur. Besok kalau lu masih semangat, kita coba lagi, oke?” bujuk Jisoo.

“Tahu nggak, sih, yang bikin gue sebel apa?” tanya Jennie, memandang sahabatnya dengan wajah kusut. “Idenya udah ada di otak. Gue udah kebayang gimana tampilan akhirnya, tapi kenapa hasilnya jelek semua?”

Jisoo mengangkat bahu. Ia berpegangan pada punggung kursi, mendorong tubuhnya yang terasa berat bangkit dari duduk. Perlahan, ia berjalan mendekat, meletakkan kedua tangan di bahu Jennie dan membuatnya berputar menghadapnya.

“Mau lu paksain dengan begadang sampai subuh pun percaya deh, hasilnya nggak bakal maksimal,” Jisoo menekankan. “Mendingan sekarang lu mandi, gue yang beresin cucian.”

“Tapi–”

Jisoo tak menerima alasan lain. Ia menggaet tangan Jennie, menuntunnya menuju kamar mandi. “Sekarang mendingan lu ambil handuk, piyama, terus mandi air hangat yang lama. Buang semua rasa capek yang udah numpuk di badan lu,” ucap Jisoo. “Abis itu kita gosip cantik sampai ketiduran. Oke?”

Perlawanan apapun akan sia-sia jika Jisoo sudah mengambil alih kendali. Jennie menurut saja. Ia mengambil set piyama dan pakaian dalam dari lemari, lalu membawa dirinya ke kamar mandi. Setelah pintu menutup, sayup-sayup suara perkakas metal beradu terdengar dari dapur.

Saat melucuti pakaiannya, Jennie menatap pantulan dirinya di cermin. Rambutnya yang panjang begitu berantakan, beberapa helai menempel di pipi. Matanya cekung dengan kantung yang tebal. Pipinya kempis, membuatnya tampak seperti kucing tua yang kelaparan. 

 

Sambil berbaring di tempat tidur, langit-langit kamar Jennie menjadi pemandangannya di sisa malam itu. Kedua tangan dan kakinya merentang lebar, menguasai seluruh permukaan ranjang.

Jisoo baru saja keluar dari kamar mandi, mengenakan setelan piyama yang ia pinjam dari Jennie. Rambutnya membentuk cepol di puncak kepala, dengan pembuluh darah seluruh tubuh yang membuka lebar, mengalirkan rona ke pipinya yang mulus. Ia merasa lebih rileks, meski perutnya masih begah.

“Geser, dong,” goda Jisoo, mendorong tubuh Jennie ke sisi lain ranjang. Ia hanya terkekek ketika mendengar sahabatnya menggerutu. Jisoo menepuk bantal, menyandarkan kepala di permukaannya yang empuk. Ia bergabung dengan Jennie menatap langit-langit. “Kalau besok pagi gue bisa boker, gue siap makan setengah lusin masakan lu lagi.”

Jennie mengerutkan hidung.

Mengabaikan protes yang menghiasi wajah Jennie, Jisoo menarik selimut hingga menutupi dada. Ia memutar tubuhnya menghadap Jennie, berbaring pada satu sisi. “Tidur, yuk. Besok kita bangun pagi dan masak lagi, oke?” ajaknya. 

“Oke.” Jennie turut membungkus tubuhnya dalam selimut. Namun, rasa kantuk belum sepenuhnya meliputi mata dan tubuhnya yang lelah. Ada hal yang masih mengganjal di benaknya, yang mengusiknya seharian. Dalam bisikan, Jennie memanggil, “Jisoo?”

“Hm?”

Jennie melirik.

Jisoo telah menutup matanya. 

Sambil kembali menatap langit-langit, Jennie berkata, “Mingyu … nyium gue.”

Tanpa aba-aba, Jisoo membelalakkan mata. “HAH?!” teriaknya, membuat Jennie terlonjak kaget. Ia melompat duduk di tempat tidur, dengan kepala sedikit berputar karena bangkit tiba-tiba. “Bentar, bentar–bisa nggak lu mundur sedikit, ceritain dari awal gimana dia bisa nyium lu? Di mana? Kapan?--Kenapa?!”

Jennie menceritakan semuanya, mulai dari pertemuan mereka di kolumbarium, hingga Mingyu mengantarnya kembali ke restoran.  Awal yang sederhana, tanpa ekspektasi, hingga akhir yang canggung, tanpa ekspresi.

Semakin jauh Jennie membeberkan kejadian kemarin pada Jisoo, semakin tebal panas yang menjalari pipi dan telinganya. Tubuhnya bereaksi aneh, ketika memikirkan wajah dan sentuhan Mingyu yang seakan masih melekat.

Jisoo mendengarkan semua itu dalam diam. Bahunya jatuh, matanya mencari-cari jawaban di udara. Bibirnya membuka dan menutup, hingga akhir cerita. Belum lagi reaksi Jennie yang menyembunyikan diri di balik selimut, dengan pipi merona dan mata berbinar–roman yang telah lama sirna dari wajahnya.

“Terus?” tanya Jisoo. Jennie menatapnya, mengerutkan kening. “Apa yang lu rasain waktu kalian … lalu, setelah itu?”

Jennie berpikir keras, mencoba mencari penyangkalan. Mencoba mencari arti lain dari debaran di dadanya. Mencoba menghalau rasa yang membuncah, yang tak ingin ia simpulkan sebagai keegoisan semata.

“Waktu itu, gue nggak bisa mikir apa-apa. Kosong aja. Tapi, gue … nggak ngerasa benci. Gue nggak jijik,” gumam Jennie. “Gue justru ngerasa hidup lagi.”

“Lu … suka sama Mingyu?” tanya Jisoo lembut, memetik kesimpulan yang belum sepenuhnya ia yakini.

Jennie menggelengkan kepala cepat. 

“Gue nggak tahu,” ucapnya lirih. Hawa panas membakar wajahnya, hingga ke ubun-ubun. “Gue takut buat narik kesimpulan itu. Gue nggak tahu kenapa dia ngelakuin itu, Jisoo.”

Jisoo mengerutkan kening. Di satu sisi, ia ingin menarik kerah piyama Jennie dan mengguncang tubuhnya, membawanya ke depan cermin. Agar sahabatnya dapat melihat sendiri rona wajah yang menjadi reaksi sahih dari kebingungannya.

Di saat yang bersamaan, Jisoo berpikir mungkin sudah waktunya bagi Jennie untuk mencari sendiri jawabannya.

“Kalau gitu, lu tanya sendiri aja sama Mingyu,” usul Jisoo kemudian, mengangkat bahu. “Gue rasa nggak ada ruginya.”

Chapter 67: he visits the kitchen.

Chapter Text

Dalam kurun waktu kurang dari satu tahun sejak menyelesaikan studi di Jerman, Mingyu mengira membereskan meja kerjanya akan menjadi perkara mudah. Di akhir jam kerja, Seungcheol menghalanginya pergi dengan wajah masam.

“Udah beresin dokumen kerjaan lu belum? Gue nggak mau tahu. Pokoknya waktu lu tinggal, gue nggak mau repot acak-acak meja lu, ya!” omel Seungcheol.

“Bisa besok aja, nggak? Gue capek banget ini,” keluh Mingyu. Namun, ekspresi wajah seniornya membuat Mingyu berhenti membantah. “Oke, oke. Gue kerjain sekarang.”

Sedari matahari condong ke sisi barat hingga berganti bulan, Mingyu masih berkutat di mejanya, memilah-milah map ke rak yang berbeda. Sebagian ia pindahkan ke rak paling atas–untuk dokumen proyek yang telah tuntas. Rak kedua untuk proyek yang sedang berjalan dan akan dilimpahkan kepada Seungcheol. Tumpukan map kertas di atas meja untuk proyek yang masih dalam tahap perencanaan.

Ia memastikan setiap dokumen sekali lagi, membandingkannya dengan arsip data pada komputer. Mingyu merangkum setiap tautan, gambar revisi, dan nomor-nomor klien yang dapat Seungcheol hubungi sewaktu-waktu. Setelah semuanya beres, Mingyu melempar dirinya ke kursi, mengistirahatkan punggung yang mulai nyeri.

Ruang kerjanya telah sepi, dengan bilik-bilik kosong yang gelap. Langit malam tampak seperti kain beludru berwarna biru laut, dengan titik-titik kecil berkelip dan menyebar tak terarah.

Mingyu menatap meja kerja yang telah rapi, tersisa sebuah laptop kerja yang akan ia bawa ke London, atas izin Jiho. Sambil menarik kursinya mendekat ke arah meja, Mingyu mengambil tas jinjing yang ia simpan di laci bawah.

Ia membereskan perkakas pelengkap laptopnya, seperti catu daya dan mouse, memasukkannya ke dalam tas jinjing yang tebal. Sambil membenamkan setiap benda ke dalam tas, benak Mingyu melanglang buana pada hari ia mencium Jennie. Setiap kali memori itu melintas, rasanya Mingyu ingin menendang sesuatu. 

Seharusnya ia dapat menahan diri–atau setidaknya memilih tempat lain yang lebih pantas untuk mencium wanita itu. Bukan di depan abu Bu Suji.

Mingyu memijat tengkuknya yang terasa panas, berharap ia cukup berani untuk membuang ingatan itu. Bagaimana bisa ia pergi melintasi benua sambil membawa kerinduan yang ia pendam secara sepihak? Mingyu menutup mata, berharap dapat bertemu Jennie sekali lagi. Namun, alasan apa lagi yang dapat ia gunakan untuk menunggunya di tepi jalan, sambil menatap pintu depan Nero&Bianco yang terang benderang?

“Mingyu.”

Suara itu memecah keriuhan yang menggerogoti akal sehat Mingyu. Ia menegakkan diri, melihat Jiho melambaikan tangan dari ambang pintu ruang kerjanya. Ia melambaikan tangan, meminta adiknya untuk mendekat. Tanpa tanya, Mingyu menurut. 

“Kenapa, Jiho?” Mingyu masuk ke dalam ruangan sang CEO. “Gue kira lu lagi meeting.

“Baru selesai,’ jawabnya singkat. Ia bangkit dari kursi kerjanya sambil membawa ponsel. “Mingyu, lu sama Jennie nggak punya nomor telepon satu sama lain?”

Mingyu tertegun. “Nggak. Emangnya kenapa?”

Jiho tertawa kecil, lalu berkata, “Nggak papa. Ini … Jennie minta nomor lu.”

Dahi Mingyu mengerut tajam.

“Boleh gue kasih, ya?”

Mingyu menggigit bibir, kehilangan alasan untuk menolak. Ia mengangguk pelan. “Oke, kasih aja.”

Jemari Jiho mengetik layar ponsel dengan cepat. Selepas mengirimkan balasan, perhatiannya beralih kepada sang adik tiri. “Jadi, gimana persiapan buat ke London? Udah semua?”

“Udah. Paspor, visa, koper juga udah semua.”

“Pesawat lu jam berapa?”

“Jam 11 malam.”

Jiho menyandarkan punggung di tepi meja, melipat tangan di depan dada. Tatapannya menerawang jauh untuk sesaat. “Kayaknya nggak keburu kalau gue nganter lu ke bandara. Ada rencana mau makan malam di Nero&Bianco hari itu sama Yejin,” ucap sang kakak.

“Oh. Lu udah pesan tempat?” tanya Mingyu.

“Udah. Itu juga hampir nggak kebaikan slot.”

“Ya, udah. Lu nggak usah nganter. Gue bisa naik taksi aja. Daripada makan buru-buru. Nggak enak sama Yejin, kan?” Mingyu menyarankan.

Wajah Jiho berubah kusut, membuat Mingyu menahan tawa.

“Gue udah bukan bocah lagi, Jiho,” tambahnya. “Belakangan ini lu sibuk kerja sana-sini, apalagi semenjak hilang kontak dengan Rowoon. Lu berhak menikmati malam minggu sama istri lu.”

Sang CEO memutar matanya, memasang wajah sebal. “Udahlah, nggak usah sebut nama itu lagi di kantor ini. Kalau perlu, kita boikot sekalian,” Jiho menggerutu, sambil memijat dahinya. “Gara-gara dia, gue udah nolak-nolakin tawaran proyek yang masuk karena dijanjiin proyek besar. Untung masih ada beberapa kerjaan yang on going!”

Mingyu hanya bisa menepuk bahu sang kakak, yang turut menanggung akibat dari menghilangnya Kim Rowoon dari muka bumi. 

“Lu juga. Jangan betah, ya, di London. Kalau nggak mau balik, gue bakal seret lu pulang,” Jiho mengancam, menunjuk hidung adiknya.

“Buset,” Mingyu tergelak. “Iya, iya. Gue pasti bakal balik!”

Selepas berbagi kelakar, Mingyu pun berpamitan. Baru beberapa langkah dari pintu, ponsel yang ia simpan di saku berdering. Sebuah nomor asing terpampang di layar. Mingyu sempat berpikir untuk menolak panggilan masuk itu, tapi ia teringat pada Jiho yang memberikan nomornya pada Jennie.

Mingyu menarik napas, menerima panggilan itu. “Halo,” sapanya. Tak ada balasan. “Halo?”

“Halo. Mingyu?”

Suara itu memanggil namanya lembut, dalam melodi yang akrab di telinga. Ada getaran di ujung tuturan, perlahan menepi menjadi kesunyian. Degup jantung Mingyu berpacu, mengharapkan dugaan dalam kepalanya benar. “Iya, benar,” balas Mingyu lambat-lambat. “Ini siapa, ya?”

“Hei. Ini Jennie.”

Jantungnya serasa lepas dari rongga dada, jatuh bebas hingga ke beradu dengan isi perut. Bibir Mingyu gemetar, menarik sisi riang dirinya ke permukaan. Namun, sosok itu hilang entah ke mana. “Hei,” balasnya singkat. Mingyu merasa bodoh.

“Aku dapat nomormu dari Jiho. Maaf, ya, kalau lancang minta ke dia,” ujar Jennie.

“Ng, nggak papa!” suara Mingyu pecah, melengking aneh. Ia berdeham. “Jiho tadi cerita kamu minta nomorku. Aku udah kasih izin. Tenang aja.”

“Kamu lagi sama Jiho?” tanya suara di seberang, terkejut. “Di rumah?”

“Nggak. Masih di kantor. Tapi aku udah mau pulang.”

“Oh,” gumam Jennie. Ada keheningan panjang, lagi. “Kalau kamu nggak ada acara setelah ini, bisa nggak kita ketemu?”

“Sekarang?”

“Iya. Aku masih di restoran. Aku butuh bantuanmu.”

*

Jennie: Kalau udah sampai, langsung masuk aja. Aku ada di dapur.

 

Mingyu membaca pesan terakhir dari Jennie sekali lagi, setelah mematikan mesin mobil. Ia menarik napas panjang dan membuangnya perlahan. Setelah menghitung satu, dua dan tiga, Mingyu memijakkan kaki di jalan aspal. 

Lampu jalan menyoroti sedan hitam yang ia parkir di tepi jalan. Lengangnya jalan raya membuatnya leluasa untuk membuka pintu, sambil merapikan kerah jaketnya menutupi leher. Udara dingin Seoul menghantam tubuh, memaksanya berjalan cepat menyusuri lorong bagian belakang Nero&Bianco.

Sebuah pintu ganda menjadi sasaran kedatangannya. Dari jendela kecil di tengah-tengah daun pintu, Mingyu mengintip ke dalam. Dapur yang terang benderang tampak sepi, tersisa segelintir orang berseragam putih yang mengangkut tumpukan panci, wajan, dan selusin sudip. Di antara mereka masih saling bercakap, sementara yang lain bersiap pulang.

Mingyu mendorong pintu, melangkah masuk. Kehangatan udara di dalam ruangan seperti selimut yang menyambutnya ramah, kontras dengan suhu jalanan yang menggerogoti tulang.

“Mingyu!” seru seseorang. Mingyu menoleh, menangkap Jisoo sedang melambaikan tangan padanya. Ia mengenakan jaket tebal berwarna biru, dengan wajah kuyu tapi matanya masih berapi-api. “Baru nyampe? Jennie udah nungguin tuh!”

“Ini nggak papa gue masuk ke dalam?” tanya Mingyu ragu.

“Nggak papa!” balas Jisoo riang. “Kepala koki dan capo cameriere udah pulang, jadi santai aja. Asal lu nggak berantakin dapur, pasti aman. Oh iya, Jennie ada di belakang. Lu ikutin aja lorong ini, terus belok kiri. Stasiun kerja dia di belakang.”

Jisoo menunjuk ke arah lorong di antara barisan kompor dan meja konter berbahan stainless steel di depan Mingyu.

“Oke. Makasih, ya,” balas Mingyu. “Lu mau pulang? Mau gue anterin?”

“Nggak usah. Gue mau makan dulu sama temen-temen abis ini. Tapi, makasih tawarannya,” Jisoo menyunggingkan senyum. “Gue titip Jennie, oke? Bilangin dia jangan kemalaman pulangnya. Besok masih kerja!”

Selepas Jisoo berpamitan, Mingyu melawan rasa canggung yang menyelimutinya. Ia memandang sekeliling. Peralatan memasak berlapis metal, dinding-dinding berlapis keramik putih, dan rak-rak tinggi di atas kepala, membuatnya merasa asing. Meja konter yang lebar rapat sejajar dinding, tampak berkilau di bawah sinar lampu yang dingin.

Mengikuti arahan Jisoo, Mingyu melanjutkan langkahnya hingga ke ujung lorong. Ia berbelok ke kiri, mendapati punggung seseorang sedang membungkuk ke arah meja konter. Rambutnya yang panjang diikat ekor kuda, tampak berminyak. Mudah bagi pria itu untuk mengenali Jennie.

Mingyu mengetuk meja perlahan. Jennie menoleh. Ia tampak terkejut mendapati Mingyu sedang menatapnya.

“Loh, kamu udah dateng? Ya ampun, aku nggak nyadar,” ungkap Jennie. Ia mengelap tangannya pada celemek yang melingkari pahanya. “Tunggu, ya. Bentar lagi kuenya matang. Kamu duduk aja dulu.”

Mingyu menurut. Ia mengambil kursi terdekat dan duduk diam. Sambil menunggu, aroma apel yang manis bersama adonan tepung yang dipanggang dalam oven menjadi hiburan bagi panca indranya. Mingyu mengendus lagi. Kali ini ada sentuhan kayu manis dan cengkeh di antaranya.

“Enak banget baunya,” Mingyu tanpa sadar kelepasan bicara. Jennie yang mendengar kata-kata itu hanya tersenyum. 

Suara metal digeser, pinggan diangkat dari dalam oven. Bentuknya bulat, berisikan torta berwarna keemasan yang baru selesai dipanggang. Dengan pisau di tangan, Jennie mengambil seperdelapan bagian kue itu dan meletakkannya di piring kecil. Ia membelahnya jadi dua bagian, lalu mengambil wadah dingin berisikan yogurt. Dengan sendok es krim, Jennie mengambil bulatan sempurna, menggabungkannya di piring bersama potongan kue. Sebagai penutup, Jennie menuangkan saus kental berwarna beri, membentuk kurva yang melingkari kudapan di tengah piring.

Jennie membawa piring itu ke hadapan Mingyu dan menawarkannya sebuah sendok. Dengan senyum merekah, Jennie memperkenalkan menu barunya, “Grandma’s Sbrisolona–nama sementaranya. Torta ala Italia dengan lapisan apel manis dan ricotta. Ada yogurt lemon dan saus beri sebagai pelengkap.”

Mingyu merasakan air liurnya berkumpul di dalam mulut saat memandang hidangan penutup yang tak hanya cantik, tapi juga menggoda nafsu makannya. Ia mengambil potongan kecil kue dengan isian apel, mencium aroma almon di permukaannya. Dalam satu gigitan, perpaduan rasa manis, gurih dan sentuhan kayu manis begitu memanjakan lidah. Teksturnya yang crumbly terasa ringan di mulut.

“Wow,” gumamnya, membelalakkan mata. “Kuenya pas, nggak terlalu manis. Tapi karena ada isian apel, rasanya jadi berimbang.”

“Kuenya masih panas, jadi mungkin bakal lebih pas kalau suhu ruang. Atau dingin, aku belum yakin,” Jennie menambahkan. “Coba kamu makan bareng yogurt dan sausnya.”

Mingyu memenuhi sendoknya dengan potongan kue, apel, yogurt dan saus beri. Ia memakannya bersamaan, seperti saran Jennie. Yogurt yang lumer meninggalkan sisa asam dari lemon, berpadu dengan isian apel. Saus beri  yang asam mempertajam penciumannya, menguatkan rasa rempah yang bersembunyi di antara paduan rasa. Pria itu menganga.

“Ini,” gumam Mingyu, memandang isi piringnya yang tak lagi utuh. Namun, hatinya bungah ketika seluruh rasa menyatu dalam mulut. Hidangan itu mengingatkannya pada malam ia duduk bersama Jennie di apartemennya terakhir kali. “Ini … seperti minuman rempah buatan nenekmu.”

Jennie tersenyum puas. “Aku senang kamu ingat minuman itu,” ucapnya penuh percaya diri.

Chapter 68: for the last time.

Chapter Text

“Memori minuman rempah ini awalnya hanya menjadi ceritaku dan Nenek, tapi sekarang kamu ada di dalamnya,” ujar Jennie, menarik kursi dan duduk di samping Mingyu. “Dan … itu sangat menggangguku belakangan ini.”

Tubuh Mingyu membeku. Tangannya mengepal, menggenggam sendok di tangan kuat-kuat. Kata-kata Jennie membuat isi kepalanya berantakan. Namun, pikirannya berhenti ketika wanita di hadapannya menjernihkan udara.

“Sori, omonganku kedengarannya aneh, ya?” Jennie tampak gusar, menyadari kesalahannya. “Maksudku, sejak kenal kamu, banyak hal yang terjadi membuatku berpikir tentang diriku sendiri. Mulai dari hal-hal yang penting. Masa depan. Impian. Arti keluarga. Keegoisanku. Dan kelemahanku juga.”

“Keegoisan?” Mingyu mendengus. “Egois sebelah mananya, sih? Kita emang belum kenal lama, tapi kayaknya aku nggak lihat itu ada di kamu.”

“Aku egois, Mingyu,” Jennie membantah. “Aku ngotot mempertahankan hubungan yang mungkin sebenarnya udah rapuh. Yang ikatannya udah longgar, tapi aku abaikan karena ada garis akhir yang sebentar lagi tercapai. Aku tabrak semua hambatan, nggak peduli aku dan Rowoon berdarah-darah. Tapi, bukannya saling mengobati, kami cuma bertahan dengan luka.”

Ada getaran di ujung ucapan itu yang membuat Mingyu turut menahan perih. Jennie menunduk, menyembunyikan wajahnya yang memerah. 

Jennie melanjutkan, sambil membuat tanda kutip di udara. “Dan ternyata, Rowoon ‘terluka parah’,” ucapnya, menyunggingkan senyuman pahit. “Makanya dia nggak kuat, dan memilih pergi. Tapi, udahlah. Kita nggak perlu bahas dia lagi.”

 Ketika Jennie mengangkat kepala, Mingyu sedang menatapnya dengan penuh kehangatan, seperti matahari pertama di musim semi. Ia hanya duduk diam, meraih tangan Jennie dan menggenggamnya erat. 

Untuk sesaat, kata-kata yang ingin ia sampaikan kepada Mingyu buyar berhamburan. Jennie menenangkan diri, menarik napas, lalu berkata, “Yang mau aku bilang adalah, aku bersyukur udah ngenal kamu, Mingyu. Makanan ini aku buat sebagai ucapan terima kasih karena kamu ada di banyak momen, meski kita baru kenal sebentar.

Semua yang kamu lakukan buat aku. Caramu menjaga orang-orang sekitar dalam diam. Kamu yang hadir untuk orang lain. Kamu yang ngalah, menghindari konfrontasi. Enggak tahu sudah berapa banyak lagi yang kamu berikan ke semua orang. Di saat sulit, kamu ada buat aku. Aku harap, berikutnya aku bisa jadi bagian dari kebahagiaanmu. Dan kamu juga terus ngejar kebahagiaanmu sendiri.”

“Aku lagi mengusahakan itu,” balas Mingyu sambil tertawa kecil. “Cuma nggak tahu deh, si sumber bahagianya nyadar atau nggak.”

Sekilas, mata mereka bertemu. Rasa gugup yang menghimpit dada Jennie membuatnya memalingkan wajah. Pipinya terasa hangat.

“Aku nggak pernah ngasih apa-apa ke kamu, Mingyu. Jadi, aku nggak tahu apa aku cukup baik–.”

Mingyu mencondongkan tubuh, meraih dagu Jennie, memaksanya mengangkat kepala lebih tegak.

“Tugas seorang pria itu bukan menerima, tapi menjaga perempuan yang dia sayang,” ucap Mingyu lembut. “Kalau rasa yang aku punya berbalas, berarti aku udah ngelakuin hal yang benar, setidaknya satu kali. Kalau aku maunya versi terbaik dari kamu, mestinya aku nggak ngerayu waktu kita pertama kali ketemu,” canda Mingyu. “Udah kucel, berminyak, keringetan–”

Jennie terkesiap. “Ih! Nyebelin!” Ia melayangkan bogem mentah ke arah Mingyu, menghantam bahunya pelan. Tawa pria itu meledak. 

“Tapi bener juga, sih,” sahut Jennie, setelah tawanya mereda. “Seleramu aneh.”

“Jadi, Nona Cantik,” goda Mingyu, menggenggam kedua tangan Jennie erat. “Terima kasih karena sebelum aku pergi, kamu menyempatkan diri membuat sepiring hidangan manis ini. Aku yakin nenekmu pasti bangga kamu berhasil buat–”

“Bentar, bentar,” potong Jennie. “Kamu pikir aku buat ini sebagai penghormatan buat Nenek?”

Mingyu melemparkan tatapan bingung. Wajah itu menggemaskan, membuat Jennie menyadari bahwa ia belum sepenuhnya jujur pada laki-laki di depannya.

“Piring ini bukan tentang nenekku, Mingyu,” Jennie tertawa kecil. “Ini tentang kita. Isi piring ini adalah perasaanku ke kamu. Aku meminjam resep nenek aja.” Perlahan, sepasang mata itu berkerlip, seakan menghidupkan kembali cahaya kecil yang sempat padam. “Kue ini tentang kamu dan keinginanku untuk bersamamu. Mungkin isinya nggak sempurna. Berantakan dan perlu perbaikan sana-sini. Aku yang sekarang ini pun begitu. Tapi, aku harap kamu mau menerimanya.”

Jennie bangkit dari kursinya, berdiri di hadapan Mingyu dengan senyum mengembang. Lengannya perlahan melingkari tubuh pria itu, mendekapnya erat. Jennie membenamkan wajah di kerah jaket Mingyu, menghirup aroma tubuhnya yang hangat. Besok, Jennie akan kehilangan kesempatan untuk berada begitu dekat dengan pria yang ia inginkan.

“Kamu harus balik ke Seoul. Oke?” bisiknya, dengan suara teredam di antara lapisan jaket yang tebal. “Aku akan tunggu kamu pulang.”

Suara jaket Mingyu yang bergesekan memudar menjadi kesunyian, ketika lengannya membalas pelukan Jennie. Keduanya berdiam diri, saling berbagi kehangatan tubuh, menyangkal waktu yang hendak menjauhkan dua hati.

“Aku pasti balik,” bisik Mingyu. “Aku punya alasan kuat sekarang.”

Jennie tersenyum. Ia menarik diri untuk sesaat dan mengecup bibir Mingyu singkat. Napas mereka perlahan berjalan seirama, ketika pria itu membalas dengan kecupan panjang.

Chapter 69: something old, something new

Chapter Text

Menjelang akhir pekan, suasana di gedung Nero&Bianco menegang. 

Di akhir jam operasional, para koki yang biasanya kelelahan, masih menyimpan tenaga cadangan. Mereka rela tinggal lebih lama demi mengukir nama dalam kompetisi menu akhir tahun. Siapapun yang dapat menyajikan masakan terbaik, berhak memasukkan karyanya dalam daftar menu spesial. Kemampuan mereka akan diakui oleh Chef Dom, sekaligus menarik hati para pelanggan setia dan baru restoran.

Beberapa rekan sejawat Jennie telah mempresentasikan hidangan terlebih dahulu. Mulai dari sajian antipasto, primo, hingga secondo, setidaknya 2-3 orang berpartisipasi. Bambam, salah satu yang ikut serta, berhasil menggaet satu slot untuk menu pastanya yang menggunakan daging domba. Dengan mudahnya ia mendapatkan tempat, seakan cukup membengkokkan besi dengan tangan kosong.

Jennie turut mencoba masakan pasta buatan Bambam. Ia mengakui kemampuan sahabatnya yang pantas mendapat apresiasi tertinggi dari Chef Dom. Saus ragu yang ia buat mampu menghasilkan tekstur yang lembut, rasa yang dalam, nan menggugah selera. Perpaduan dengan tagliatelle yang ia buat sendiri memberikan paduan rasa yang seimbang. Dengan senyum sumringah, Bambam mendapat kehormatan untuk menempati satu slot dalam daftar menu, tanpa ada koreksi maupun kritik tajam dari sang kepala koki.

Keberhasilan Bambam membuat Jennie gugup.

Bersama mereka yang menunggu giliran, Jennie menenggelamkan diri di stasiun kerja. Keheningan sempat terasa mencekam, di antara peralatan memasak yang berdenting dan air mendidih.

Jennie mengeluarkan pinggan panas berisi kue dengan tesktur garing dan remahan berwarna keemasan. Aroma apel berpadu dengan kayu manis, membangkitkan nuansa akhir tahun yang kental. Jennie menahan napas, menuangkan saus beri ke sekeliling piring sajian. Warnanya yang merah kontras dengan permukaan keramik putih, disajikan bersama yogurt dan potongan kue. 

Waktunya bagi para pembuat menu dolce menunjukkan keahlian. Dengan dagu tegak, Jennie membawa karyanya ke hadapan Chef Dom. Sang kepala koki memandang isi piring dengan antusias.

“Oke, Jennie. Apa yang kamu buat?” tanya Chef Dom, mengangkat garpu.

“‘Cupido Della Nonna’, Chef,” jawab Jennie. Di antara dentingan alat makan yang memecah kue, ia menjelaskan, “Saya membuat sbrisolona dengan lapisan ricotta dan selai apel, yang dapat dimakan bersama yogurt dan saus beri. Saya mencoba mengangkat tema ‘keluarga’ dalam hidangan ini. Tidak hanya untuk pasangan muda, tapi juga anak-anak dan para lansia. Teksturnya yang renyah bisa menjadi sensori yang menarik untuk anak-anak. Mereka juga bisa menikmatinya sambil makan dengan tangan. Sementara para pasangan tua tidak perlu menggigit makanan yang keras.”

Chef Dom mengangkat alis. Ia meletakkan garpu dan mengambil potongan kue dengan tangan. Para koki di dalam ruangan tertawa kecil, tapi Jennie justru puas karena sang kepala menghargai idenya. 

“Namanya menggemaskan sekali,” ucap Chef Dom kemudian, menyapukan saus beri pada satu sisi kue. “Apakah mendiang nenekmu seorang dewi cinta?”

Jennie tertawa kecil. “Bukan, Chef. Tapi … bisa dibilang begitu? Resep ini saya buat karena terinspirasi dari minuman rempah yang Nenek ajarkan pada saya. Saat mampir ke rumahnya, kami selalu menikmati minuman itu sambil makan torta yang saya bawa, apalagi di musim dingin.

Baru-baru ini, saya menikmati minuman rempah itu bersama seseorang. Orang ini telah menjadi sosok yang spesial buat saya. Kami sempat berbagi minuman rempah itu, saling berbagi cerita dan menikmati makanan bersama. Jadi, meski Nenek sudah tidak ada, kini ada seseorang yang membawa kehangatan yang terasa familier.”

Chef Dom mengangguk-angguk. “Dan sepertinya orang ini membawa pengaruh yang baik untukmu, Jen?”

Dengan telinga memerah, Jennie mengangguk. “Iya, Chef.”

Chef Dom menjilati ujung-ujung jarinya. Isi piring telah tandas tak bersisa. Ia menyandarkan punggung di kursi, tersenyum puas. “Sepertinya akan sayang kalau pelanggan kita nggak tahu masakan spesial ini,” ujarnya. “Kamu harus kerja keras di akhir tahun, ya, Jennie.”

Jennie membelalak. Senyumnya mengembang. Menu masakannya berhasil mendapat slot di daftar menu akhir tahun.

*

“Wah, selamat, ya, Sayang!” seru Yejin di telepon. Dalam perjalanannya menyusuri trotoar, Jennie menggunakan sisa malam untuk mengabari ibunya. Langkahnya terasa ringan saat meninggalkan dapur Nero&Bianco, menyusuri trotoar beton yang sepi.

Jennie pun bercerita bahwa selain dirinya dan Bambam, ada dua menu spesial lain yang melengkapi sajian di akhir pekan. Namun, Yejin mengabaikan bagian itu. Ia lebih tertarik pada masakan putrinya mendapat tempat spesial di daftar menu. “Masakanmu lolos untuk menu akhir tahun? Berarti Mama bisa nyicipin, dong?” tanyanya.

“Iya, Ma,” balas Jennie. “Udah pesan meja sama Jiho, kan? Mama harus coba, ya.”

“Pasti! Jiho juga pasti semangat buat nyobain. Waktu terakhir kali nyoba tiramisu buatanmu, dia nggak berhenti ngomongin selama seminggu!” seru Yejin. “Kali ini dia pasti lebih semangat, apalagi menu buatanmu hanya untuk waktu terbatas.”

“Kalau kalian nanti datang, jangan lupa kabarin aku, ya,” ucap Jennie. “Nanti aku siapin potongan kue yang lebih besar untuk Jiho.”

Yejin tergelak.

“Ya, udah, Ma. Aku lagi jalan pulang. Besok aku hubungi lagi, ya.”

“Oke, Sayang. Hati-hati, ya. Pakai jaket tebal, kan? Udaranya dingin belakangan ini. Jangan sampai kamu sakit,” Yejin mengingatkan putrinya yang tahun depan berusia 30 tahun.

“Iya, Ma. Bye.”

Jennie memutus kontak. Layar ponselnya berubah menjadi hitam, namun ia memiliki keinginan untuk menghubungi satu nomor lagi. Ia mencari sebuah nama yang baru-baru ini tersimpan di ponselnya. 

Dadanya berdebar ketika mendengar nada dering monoton terus berulang, diam-diam berharap nada itu segera berubah menjadi suara yang ia kenal.

Dering terputus. Suara Mingyu menyapa telinga Jennie.

“Hei, Jen.”

“Hei, Mingyu.”

Hening yang panjang.

“Halo?” tanya Mingyu.

Tiba-tiba Jennie merasa gugup. Rasanya seperti bocah SMP yang sedang menelepon gebetan untuk pertama kali. Jennie merasa konyol.

“Hei, sori. Tiba-tiba kepalaku nge-blank.”

“Oh, aku kira koneksinya terputus. Kenapa, Jen?”

“Aku cuma mau ngabarin,” ucap Jennie berlambat-lambat. Ia menengadah, melihat langit musim dingin yang cerah. Bintang bertaburan di langit, mengirimkan nuansa yang syahdu ke dalam hatinya. “Masakanku masuk menu akhir tahun!”

“Oh, ya?” suara Mingyu berubah riang. “Selamat, ya! Yang kamu buatin kemarin itu?”

“Iya,” balas Jennie. “Chef Dom bilang profil makanannya masih bisa dibuat lebih nendang lagi, jadi besok beliau mau diskusi untuk meningkatkan rasanya. Padahal, aku sempat ragu kalau kue buatanku nggak akan memenuhi standar rasa dari Nero&Bianco.”

“Berarti bosmu melihat kalau masakanmu punya peluang jadi lebih baik, kan? Gimana pun juga, kerja di dapur restoran juga bentuk kolaborasi. Sama seperti di kantorku, hasil akhir adalah kerja keras satu tim, bukan prestasi individu.”

 “Benar juga, sih.” Jennie mengangguk, menggumamkan nada riang. “Maaf, ya, aku telpon kamu malam-malam.”

“Nggak papa. Aku juga masih belum tidur. Belum selesai packing,” jawab Mingyu.

Benar juga. Besok, pria di seberang telepon akan terbang ke London. Di saat Jennie mendapatkan apa yang ia inginkan, Mingyu akan berada di sisi lain dunia di waktu yang bersamaan. Namun, mereka sudah berjanji akan bertemu lagi. Walau ada rasa ragu Mingyu akan mampu memenuhi janjinya, Jennie mencoba menaruh harapan itu pada hubungan mereka yang perlahan semakin erat.

Bagaimanapun juga, Mingyu sudah menciumnya dua kali. Bila pria itu berani mengkhianatinya, Jennie tak akan sungkan menghajarnya.

“Besok pesawatmu jam berapa, Mingyu?” tanya Jennie, mencoba mengalihkan isi kepalanya dari pikiran yang mulai berantakan.

“Jam 11 malam. Tapi aku berangkat dari sore. Takut macet di jalan,” jawabnya lugas.

“Maaf aku nggak bisa nganter.”

Mingyu tertawa kecil. “Kalau kamu nganter nanti aku malah nggak mau pergi.”

“Kok gitu?”

“Habisnya, belum juga kita sempat pacaran, udah aku tinggal.”

Kata-kata itu membuat wajah Jennie terbakar.

Chapter 70: the she-wolf surrenders

Chapter Text

Di hari Natal, keriuhan di Nero&Bianco terasa sejak para pelanggan mengantre di ruang resepsi. Di atas jam 7 malam, mereka yang telah memesan tempat bergantian mengisi meja-meja. Bila sebuah keluarga bangkit berdiri meninggalkan meja, keluarga lain telah siap menempati. 

Kaki-kaki para pramusaji bergerak gesit, menguras stamina yang perlahan mencapai titik terendah. Sayangnya, ruang bagi mereka untuk menarik napas sesaat hanyalah mitos belaka. Bibir yang tersenyum, kesigapan menjawab pertanyaan, hingga mengangkut piring kosong adalah bagian rutinitas kecil yang menjadi krusial.

Di balik dinding dapur, setiap tangan bekerja di antara kompor dan meja konter yang sibuk meramu dan memadukan bahan untuk menyajikan menu terbaik. Para koki tak hanya menyiapkan salad, tapi juga potongan daging, pasta, serta sup pelengkap selera.

“Dua menu set A, satu menu set B! Prawn scampi dan tiga ‘Cupido’!” teriak Chef Dom di antara panci dan wajan metal yang beradu. “Ayo, semangat! Malam ini baru saja dimulai!”

“Si, va bene!” balas para anak buah tanpa mengalihkan pandangan dari stasiun kerja masing-masing. Hawa panas dari kompor membuat setiap wajah berkeringat, menyalakan bara api dalam diri untuk melewati malam yang panjang.  

Jennie dengan sigap meracik pesanan, di antara gelas-gelas yang ia persiapkan untuk menu lainnya. Kue kering baru telah siap di nampan panggang, sementara adonan baru mulai dibuat. Semakin larut, pesanan dolce akan mulai menumpuk. Jari-jari Jennie terus mengisi nampan dengan remahan adonan, menata piring di meja sebelum oven berdenting. 

Kepalanya sibuk menghitung waktu dan mengatur kerja, sambil mempersiapkan hidangan penutup lain. Di luar perkiraannya, menu baru lebih cepat menarik perhatian daripada hidangan khas Nero&Bianco. 

“‘Cupido’ udah siap? Meja 10 udah nunggu!” teriak seorang pramusaji dari balik meja konter.

“Sepuluh detik!” teriak Jennie. Tangannya gemetar saat menuangkan saus di sekeliling kue. Setiap titik saus yang meleset ke tepi piring, Jennie bersihkan dengan lap sebelum sang pramusaji menarik piring dari hadapannya.

Tiga puluh menit menjelang berhentinya waktu operasional, sisa tenaga yang dimiliki oleh para koki telah berada di ujung tanduk. Kaki-kaki mereka mulai menyeret, wajah-wajah pucat serupa zombi berlalu lalang dalam mode otomatis. Otak mereka terus berputar, sementara insting mengendalikan tubuh.

“Jennie.” Suara Jisoo memanggil. Ia tampak lebih berantakan daripada biasanya, namun masih lebih bernyawa dibandingkan para koki dapur. 

Jennie mendekati sang pramusaji, mencoba mengartikan wajahnya yang menegang. Dalam benaknya, terlintas sebuah nama yang Jennie kira akhirnya muncul di permukaan. Namun, dugaannya meleset, tapi tak terlalu jauh.

“Hong Suhee hari ini datang,” gumam Jihan, takut-takut menyampaikan berita itu. “Dia minta ketemu.”

Seperti dejavu, Jennie membuang napas panjang. Ia melonggarkan ikatan celemek di pinggang, meletakkannya di meja. Mau apa lagi si serigala itu?

 Jennie merapikan rambut sebisanya sambil memandang pantulan dirinya di cermin. Ia menggulung lengan seragamnya, membuatnya seimbang antara bagian kiri dan kanan. Udara panas dari dapur perlahan membaur dengan sejuknya angin dari pendingin udara di ruang makan. Riuh rendah suara pengunjung adalah gumaman yang menenangkan, di antara tawa dan anak kecil yang merajuk.

Wanita paruh baya itu duduk di meja yang menempel sisi dinding. Ia tampak gelisah, berkali-kali mengangkat gelas anggur ke depan bibir untuk meletakkannya lagi. Jennie melangkah, mendekati Hong Suhee. Dengan tangan bersembunyi di balik punggung, Jennie menyapanya dingin. “Selamat malam, Nyonya Hong.”

Wanita itu mendongak, tampak terkejut mendengar sapaan yang terasa asing. Bagi Jennie, Hong Suhee bukan siapa-siapa lagi.

“Selamat malam, Jennie,” sapa Hong Suhee balik. Ia menunjuk kursi di seberangnya yang kosong. “Silakan duduk.”

Suaranya yang terdengar lembut, seperti seekor anak rusa yang tunduk. Dagu yang biasanya mendongak tinggi kini banyak menunduk. Alisnya yang biasa meruncing kini membentuk garis kurva tipis yang bergerak turun. Taring sang serigala telah tumpul. Melihat Hong Suhee meruntuhkan pertahanan, Jennie memilih untuk menurut. Ia duduk di kursi dalam diam.

Hong Suhee menjilati bibir merahnya beberapa kali. Mulutnya komat-kamit, tapi kata-kata yang terdengar seperti bahasa raban para batita.

“Maaf, saya nggak dengar,” Jennie berkomentar, membuat wanita paruh baya itu tertegun.

“Kemarin saya mendapat telepon. Dari Lisa,” ucap Hong Suhee. “Dia berada di New York. Bersama Rowoon.” 

Jennie tak mengira akan mendengar nama itu lagi, bersanding dengan nama lain yang telah ia coba hapus dari ingatan. Namun, di sudut hati terdalamnya, Jennie mendengar otaknya berbisik: tentu saja mereka bersama. Tentu saja. 

“Lisa bilang kondisi Rowoon tidak baik. Tante mencoba bicara dengannya, tapi Rowoon menolak.” Hong Suhee tercekat. Ia mengambil sapu tangan dari dalam tas di pangkuan. Jarinya menyelip ke balik kacamata, mencoba menyeka air mata yang berkumpul di pelupuk mata. Eyeliner yang ia kenakan luntur ke permukaan sapu tangan. “Tante bilang mau menyusul ke sana, tapi Lisa bilang jangan. Dia bilang Rowoon nggak mau ketemu Tante. Dia membenci Tante, Jennie.”

Jennie menutup mata. Rahangnya menegang. Kenapa ia harus duduk, dalam tubuh lelah setelah bekerja lebih dari 10 jam, untuk mendengar curhatan wanita tua yang ia benci?

Rowoon tidak baik-baik saja. Kalimat itu berputar di kepalanya. Dengan situasi yang terjadi di antara mereka, Jennie hancur berantakan sendirian. Namun, baik Rowoon maupun ibunya–bahkan Lisa, tak peduli. Mereka melanjutkan hidup, sementara Jennie kehilangan neneknya.

“Tante nggak tahu harus gimana kalau Rowoon nggak mau pulang. Kondisi kantor juga kacau balau. Para wartawan mulai berkumpul setiap hari di depan kantor. Kalau mereka sampai tahu Rowoon menghilang tanpa alasan yang jelas, bisa-bisa usaha kami hancur,” keluh sang serigala.

Sudah cukup.

“Kalau tidak ada yang mau dibicarakan lagi, saya permisi dulu.” Ucapan dingin itu membuat Hong Suhee membelalak. Ia bangkit dari kursi, tapi wanita itu menahannya pergi.

“Kenapa kamu bersikap sedingin itu, Jennie? Saya datang ke sini, merendahkan diri, untuk meminta pertolonganmu membujuk Rowoon pulang!” jerit Hong Suhee sambil mencengkeram lengan Jennie. Beberapa mata di meja lain melirik, saling berbisik tentang keributan yang terjadi. “Cuma kamu yang bisa bicara dengan dia!”

Jennie menampik tangan berkerut itu dengan tegas. Di matanya, Hong Suhee hanyalah semut hitam kecil tak berdaya. Dunianya tentang anak laki-laki yang sempurna adalah khayalan tinggi, luput mengakui keberadaan buah hati yang telah tumbuh menjadi pria dewasa. Jennie telah melakukan segalanya dalam sepuluh tahun terakhir, agar Rowoon setia pada keluarga–pada ibunya yang posesif.

“Bukannya Bu Suhee sendiri yang ingin saya pergi dari kehidupan Rowoon? Kenapa sekarang meminta tolong saya untuk mengembalikan anakmu?” tantang Jennie. “Rowoon pergi bukan karena saya. Dia sudah memilih. Sejak dulu, Rowoon telah memilih. Tapi Anda tidak mau mendengarkan demi martabat dan gengsi. Saya sekedar rakyat jelata, tidak punya kekuatan untuk bersanding dengan keluarga Anda.”

Hong Suhee mematung. Wajahnya pucat mendengar kata-kata Jennie  yang menghujam egonya. Tangannya yang sempat menyentuh Jennie menggantung lemas di sisi tubuh.

Jennie mendengus. “Lihat betapa beruntungnya Anda. Keinginan Anda sudah tercapai, Bu, tanpa perlu menyuap saya dengan uang,” ujarnya. “Semoga Anda menikmati hidangan malam ini. Permisi.”

Sang koki berbalik, melangkah menjauh. Tangannya mengepal erat, menahan diri untuk tidak menangis.

Di balik punggungnya, Hong Suhee jatuh terduduk di kursi. Matanya menatap kosong, dengan lengan lunglai berayun di sisi kursi. Pertahanan egonya runtuh. Entah kapan ia akan mendapatkan anaknya kembali.

Chapter 71: the call.

Notes:

(See the end of the chapter for notes.)

Chapter Text

Orang bilang, satu pintu tertutup akan membuka pintu lainnya. Membiarkan pintu lama tetap terbuka saat menghadapi dunia yang baru hanya akan menyesatkanmu dalam kegamangan. Kamu tidak tahu harus melangkah maju atau kembali menyelesaikan perkara lama. Namun, ada saatnya kamu cukup menutup pintu, mengakhiri yang harus diakhiri.

Jennie berdiri di tengah ruangan Chef Dom pagi itu, setelah melewati malam Natal yang panjang. Restoran tutup hingga jam makan siang, memberikan kesempatan kepada para koki yang lelah untuk beristirahat. Jennie justru meluangkan paginya berhadapan dengan sang kepala koki, yang hari itu tampak segar dalam balutan kemeja berpola garis biru dan celana khaki.

“Maaf, ya, kamu harus datang ke restoran jam segini,” ucap Chef Dom, merasa bersalah. Ia berdiri di depan meja kerja yang berlapis cat hijau, menyandarkan punggung di tepinya. Ia bersedekap, memperlihatkan otot kekar di balik balutan kain kemeja.

“Tidak masalah, Chef. Kebetulan saya juga mau mampir ke rumah ibu saya setelah ini,” Jennie beralasan, memasang senyum di wajah.

“Sebenarnya saya mau menyampaikan ini kemarin, tapi kehabisan waktu. Kalian juga pulang larut malam, perlu banyak istirahat,” Chef Dom memulai. Ia meraih tumpukan pamflet di balik punggung dan menyerahkannya kepada Jennie. “Saya ingin memberikan ini padamu kemarin.”

Jennie menerima selebaran itu, membaca barisan judulnya perlahan. ‘Italian Chef Academy’. Dengan dahi berkerut, ia kembali memandang Chef Dom.

Saat tersenyum, kerutan di sekitar bibir Chef Dom turun melengkung. “Saya menawarkan hal yang sama pada Bambam, tapi dia bilang akan mempertimbangkannya dulu. Alasannya karena keluarganya akan datang dari Thailand saat kelas kursus dimulai. Gimana dengan kamu, Jen?” tanya sang kepala koki hangat.

“Saya mau, Chef!” seru Jennie, mengeratkan genggamannya pada selebaran hingga tepiannya menekuk. “Tentu saja! Saya mau pergi!”

Tawa Chef Dom membahana dalam ruang kantornya yang sempit. “Saya punya dua teman dekat di lokasi yang berbeda. Satu di Roma, satu lagi di Calabria. Mereka adalah koki-koki hebat yang dapat memberikan ilmu mendalam tentang masakan Itali. Manapun yang kamu pilih akan menjadi pengalaman yang menyenangkan. 

Kamu pegang saja selebaran itu, pertimbangkan di rumah. Setelah kamu memutuskan, saya akan bantu membuatkan surat referensi yang bisa kamu gunakan untuk ikut kursus singkatnya di musim semi.”

“Chef, saya tidak tahu harus ngomong apa,” gumam Jennie. Suaranya gemetar. Ia tak sabar untuk pulang ke rumah, membaca selebaran itu dengan teliti, dan membayangkan dirinya menikmati udara Itali.

Chef Dom mendekat, menepuk bahu Jennie dengan tangannya yang besar. Dengan tatapan berbinar, pria itu mengutarakan barisan kata yang tak akan pernah Jennie lupakan. “Kamu memiliki potensi untuk berdiri di kakimu sendiri, Jennie. Saya tahu suatu saat nanti kamu akan pergi dari restoran saya. Mungkin kamu akan membuka restoran sendiri, toko roti, atau bekerja di tempat yang lebih bergengsi. Saya tidak tahu. Tapi, apapun pilihanmu nanti, saya yakin jalan itu yang paling tepat untukmu. Jangan berhenti memasak, ya.”

Jennie mengangguk, menjabat tangan Chef Dom kuat-kuat. Di musim semi nanti, ia akan pergi ke Itali!

*

Jennie berjalan mondar-mandir di kamarnya. Ketika sudah mencapai dinding, ia berbalik, lanjut melangkah hingga ke ujung dinding yang lain. Selama nada dering telepon yang monoton masih terdengar di telinga, Jennie tak berhenti.

Panggilan itu berubah menjadi suara gemerisik yang terdengar dari sisi lawan bicaranya. Suara erangan yang rendah dan parau menyapanya.

“...’lo?” gumam Mingyu di telepon.

“Mingyu, aku bakal ke Itali musim semi nanti!” teriak Jennie, mengabaikan kesadaran Mingyu yang belum terkumpul benar. “Tadi bosku manggil aku ke kantornya, terus dia nawarin dua pamflet sekolah kuliner di Itali! Dua! Aku bisa pilih salah satu dan berangkat atas rekomendasi dia!”

“Jen–pelan-pelan. Aku … nggak ngerti kamu ngomong apa–”

Jennie menahan napas, mengulangi dirinya sendiri. “Aku. Bakal. Ke. Itali. Musim. Semi. Nanti!”

“Itali?” ulang Mingyu. Ia terdiam cukup lama. “Wow. Itu … berita bagus, kan?”

Minimnya antusiasme pria pujaannya membuat Jennie merengut. “Kamu kok nggak antusias gitu, sih? Ini impianku, loh,” protesnya.

Mingyu mendesah panjang, lalu berkata, “Jen … sekarang jam 2 pagi di London.”

Jennie terkesiap. Ia melirik ke arah jam dinding di atas pintu kamar. Angka menunjukkan jam 11 siang waktu Seoul. Ia terduduk lemas, menyadari kesalahannya. Jennie lupa Mingyu sedang menetap di sisi lain dunia. “Ya ampun … aku lupa.” Suara tawa Mingyu terdengar lirih di telepon. “Iya, nggak papa. Kamu nggak sabar mau kasih tahu aku?”

“Maaf, ya… kamu lagi tidur, ya?”

“Tadinya sih lagi tidur. Bentar, ya, aku cuci muka dulu,” balas Mingyu.

“Kalau kamu ngantuk, kita bisa ngobrol nanti, kok–halo? Halo? Mingyu?”

Separuh dari kata-kata Jennie tak sampai ke telinga Mingyu, karena pria itu telah menghilang sejenak. Jennie dapat mendengar suara pintu yang menutup. Tak lama membuka lagi. Sesaat kemudian, suara Mingyu terdengar lebih jernih dan bersemangat di telepon saat menyapanya.

“Selamat, ya. Mimpimu sekolah di Itali akan segera terwujud,” ucap Mingyu riang, membuat Jennie tersenyum.

“Nggak sekolah juga, sih. Mungkin cuma kursus beberapa bulan,” bantah Jennie.

“Sekolah, kursus, keduanya sama aja buatku. Kamu bakal belajar banyak hal dari ahlinya. Itu bakal jadi pengalaman yang menyenangkan.”

Jennie menunduk, memandang dua brosur tebal di pangkuannya. Kata-kata Mingyu terngiang di telinganya. Mimpimu sekolah di Itali akan segera terwujud.

“Jen?”

“Hm?”

“Kalau kamu pergi ke Itali nanti, mungkin nggak, ya, kita ketemu?”

Pertanyaan Mingyu membangkitkan gairah dalam dada Jennie yang tak terpikirkan sebelumnya.

“Kalau dengan pesawat, kayaknya cuma butuh 2-3 jam dari London ke Itali. Kayaknya seru kalau aku bisa main ke sana di akhir pekan,” Mingyu menambahkan.

“Kalau itu bukan hal yang mustahil, kenapa nggak?” Jennie menyahut. Ia dapat membayangkan berjalan-jalan di antara gang di salah satu kota Itali bersama Mingyu. Mampir ke toko-toko lokal, mencicipi berbagai pizza, pasta, dan gelato. Duduk bersama di taman kota sambil minum kopi. Saling tertawa dan bermesraan. “Aku hutang janji jalan-jalan sama kamu. Kalau bisa, kita keliling naik vespa.”

“Wah, seru tuh!”

“Mingyu.”

“Iya?”

“Terima kasih, ya, kamu udah percaya dengan impianku,” ucap Jennie. “Ada masanya aku berpikir memasak hanya sekedar caraku bertahan hidup. Memasak sekedar kesenangan di masa kecil. Tapi, kamu menguatkan aku bahwa memasak adalah hidup yang aku inginkan.

Aku merasa mimpiku nggak lagi mustahil. Ternyata, punya orang yang percaya dengan mimpi kita semenyenangkan ini rasanya.”

“Sama-sama,” balas Mingyu.

“Berikutnya, kita wujudkan mimpimu bareng-bareng, ya!” ujar Jennie bersemangat, mengepalkan tinju ke udara–meski Mingyu tak dapat melihatnya. “Apapun mimpi itu, aku akan dukung kamu.”

“Ha? Tapi mimpiku udah terwujud, kok,” sahut Mingyu. “Sekarang aku pacaran dengan perempuan yang aku sayang, meski terpisah oleh jarak dan waktu~”

Jennie mendecakkan lidah, merasa geli mendengar rayuan Mingyu yang melagu. Sementara pria di seberang telepon tertawa lepas.

“Dasar gombal,” gumam Jennie.



- THE END -

Notes:

terima kasih yang udah mampir. dengan ini fanfic Jennie's Cookbook To Love udah mencapai garis finish.
Kepikiran sih untuk nulis versi extended perjalanan Jennie ke Itali, tapi entar dulu yak! wkwkwk.