Chapter Text
Dalam sekejap mata, Mingyu telah terkurung dalam pelukan Lisa. Lengannya melingkari leher pria itu, memeluknya erat. Tubuh mereka berimpit, tak menyisakan ruang bagi udara untuk menyusup di antaranya. Mingyu mendesah rendah, merasakan manis di ujung lidah Lisa yang bertaut dengannya. Tangannya meraba lekuk tubuh yang masih terbalut gaun berbahan satin itu, terasa dingin di telapak tangan.
Lisa melepaskan diri, menahan kepala Mingyu tetap tegak dalam genggaman tangannya. Ia menciumi bibir pria itu lembut, sebelum menarik lengan Mingyu dan membawanya duduk di sofa.
Pria itu membiarkan Lisa mengangkangi dan duduk di pangkuannya. Roknya terangkat, membuat kaki Lisa yang telanjang memeluk pinggang Mingyu. Dalam ruangan berlampu temaram, dengan tubuh terjepit di antara sofa dan tubuh Lisa, Mingyu tak melawan. Ia mengamati jari-jari Lisa yang dengan cekatan melonggarkan kancing kemejanya. Ujung-ujung jarinya membelai kulit Mingyu yang terbuka, menyusuri lekuk ototnya dari dada hingga perut.
Mingyu menyusupkan tangannya ke balik rok gaun marun itu dan meremas paha Lisa, membuatnya mengerang lemah.
Bibir yang bertaut sesekali melepaskan desahan dan decakan di kala mereka saling menarik nafas. Namun, hal itu tak menghentikan keduanya untuk larut dalam ciuman yang panas. Mingyu mengerang ketika Lisa melenggangkan pinggangnya, membuat pangkal paha mereka saling bergesekan. Gairah keduanya tak dapat terbendung lagi.
Mingyu membenamkan wajahnya di leher Lisa, mencium aroma mawar dan oud yang menipis di permukaan kulit. Nafasnya tersengal, seirama dengan pinggang Lisa yang bergerak teratur. Sambil mengulum kulit pada lekukan leher wanita dalam pelukannya, Mingyu mengerang ketika Lisa membenamkan jari di antara helaian rambutnya.
Gaun Lisa mulai melonggar, menampakkan belahan dadanya yang menggoda Mingyu. Ia mendaratkan ciuman pada celah antara buah dadanya, membuat Lisa menggeliat sesaat.
“Ah… Mm…” rintihan Lisa memenuhi telinganya, membuat Mingyu hilang akal. Gairah mengambil alih akal sehatnya, membuatnya menginginkan tubuh itu menjadi miliknya malam ini. Hingga Mingyu mendengar kata yang terlepas dari bibir Lisa.
“...Rowoon…”
Sebuah kata–tepatnya, sebuah nama–yang membuat sesi bercinta mereka terhenti seketika. Sebuah nama yang membuat keduanya sempat saling bertatapan dalam mobil, ketika mereka tahu bahwa seseorang rela kembali dari kota untuk Jennie.
Tubuh Mingyu seketika mematung ketika mendengar nama itu. Lisa, tak kalah terkejut, menyadari bahwa ia telah kelepasan mengucapkan nama rahasia.
Mingyu menarik diri, mencoba memroses apakah ia benar-benar mendengar nama Rowoon keluar dari mulut Lisa. Menyadari ia telah merusak suasana, Lisa buru-buru mengoreksi diri. Sinar lampu di meja menyoroti wajahnya yang tampak panik.
“M, Mingyu. Maaf. Barusan–maksudku–” Lisa gelagapan. Namun, nasi telah menjadi bubur.
“Kamu barusan … nyebut nama Rowoon,” potong Mingyu. Bibir Lisa membuka dan menutup, tapi tak ada kata yang keluar.
Mingyu melepaskan diri dari kaki jenjang Lisa yang memeluknya, mengancingkan kembali kemejanya yang terbuka. Semakin banyak kancing baju yang kembali menutup, pikiran Mingyu semakin jernih. Di saat yang bersamaan, ia merasa bodoh.
Gelagat Lisa saat pertemuan makan siang mereka.
Kehadirannya di pesta pernikahan Jiho, mewakili pria yang seharusnya menjadi tamu undangan.
Air mukanya yang sesekali menegang setiap kali nama Rowoon melintas dalam pembicaraan.
Dekorasi interior apartemen Lisa yang maskulin.
Rowoon adalah ambisi yang Lisa bicarakan. Ia menginginkan pria itu, apapun caranya, meski harus meninggalkan sahabatnya. Meski mungkin harus menyakiti sahabatnya.
“Mingyu, maafin aku–” Lisa bangkit dari sofa, merapikan kembali gaunnya yang hampir lepas dari tubuh. Ia menarik lengan Mingyu, tapi pria itu menampiknya. “Ini nggak seperti yang kamu pikirin!”
“Oh, ya? Menurutku situasi ini cukup jelas–”
“Aku dan Rowoon nggak ada apa-apa!”
“Aku nggak peduli kamu ada hubungan apa dengan Rowoon. Tapi, kamu berani nggak bilang kata-katamu barusan ke Jennie?” tanya Mingyu. Ia terlambat menyadari, menyebut nama Jennie dalam pembicaraan itu adalah kesalahan fatal.
Seperti menekan tombol pemicu yang salah, ekspresi wajah Lisa seketika menjadi tajam ketika mendengar nama itu. Keheningan di ruangan itu terasa dingin, seakan Lisa yang sesaat lalu penuh gairah telah menghilang.
Yang tersisa adalah wanita penuh rahasia yang tabirnya perlahan tersibak di hadapan Mingyu. Keengganan Lisa untuk menjawab pertanyaan itu menjelaskan segalanya.
“Kamu tahu, kan, kalau Jennie dan Rowoon bertunangan?” tanya Mingyu. Alisnya menekuk tajam.
Untuk sesaat, Lisa mengatur nafas. Sambil melipat tangan di atas perut, ia melanjutkan, “Apa yang kamu tahu tentang jatuh cinta, Mingyu? Apa kamu pernah jatuh cinta pada seseorang sampai rasanya mau mati ketika nggak bersama dia?”
*
Jennie’s POV
Melewati tengah malam, Jennie akhirnya dapat merasa lebih rileks setelah sampai di apartemennya. Ruangan-ruangan yang sunyi, setelah seharian ditinggal oleh penghuninya. Untuk hari ini, ia dapat beristirahat sejenak karena Bambam menawarkan diri untuk berjaga di rumah sakit. Jisoo dan Haru menemaninya, demi nenek Jennie yang masih terbaring lemah di ICU.
Meski ada musibah yang terjadi pada anggota keluarganya, Jennie merasakan letupan kebahagiaan karena Rowoon ada bersamanya. Selepas membersihkan diri, ia mendapati kekasihnya tertidur di ranjangnya, dengan jari-jari kakinya menggantung di ujung tempat tidur.
“Sayang?” panggil Jennie lembut, membawa dirinya duduk di tepi tempat tidur. Nafas Rowoon naik turun dengan teratur di balik selimut. Ia tampak lelap sambil memeluk bantal berbentuk kepala beruang milik Jennie. Jennie tersenyum, membelai kepala kekasihnya penuh sayang.
Di tengah hubungan mereka yang belakangan ini menegang, serta restu yang tak kunjung turun dari Hong Suhee, Jennie bersyukur karena dapat menyentuh Rowoon malam ini. Hari ini begitu panjang dan melelahkan. Berbaring di ranjang yang sama dengan Rowoon adalah terapi yang ia butuhkan malam ini. Jennie bangkit dari tempat tidur, mematikan setiap lampu di kamarnya. Kegelapan terasa menenangkan, dengan suara-suara kendaraan di kejauhan yang entah kenapa masih berlalu lalang.
Jennie memanjat tempat tidur, mengisi sisi ranjang yang kosong. Ia berbaring, berlindung dalam selimut. Ketika hendak memeluk punggung Rowoon, pria itu tiba-tiba menggeliat. Ia berbalik, menghadap Jennie dengan kelopak mata yang terasa berat untuk membuka.
“Aku ketiduran …” gumam Rowoon dengan suara parau. “Sori, Sayang.”
Bibir Jennie mengembangkan senyum lembut. Ia membelai pipi Rowoon, lalu melarikan jari-jarinya di antara helaian rambut pria itu. “Nggak papa. Kamu pasti capek banget,” bisiknya. “Tidur, yuk.”
Rowoon menggeser dirinya mendekat, menarik kekasihnya dalam pelukan. Jennie membenamkan wajah di sisi leher Rowoon, yang masih menyisakan aroma linen dari kerah bajunya. Ia merasakan tangan Rowoon mengusap punggungnya, membuat Jennie lebih tenang. Dalam pelukan itu ia merasa aman untuk meruntuhkan dinding ketegaran barang sejenak. Jennie berharap malam ini waktu bergerak lebih lambat, agar ia bisa memiliki Rowoon lebih lama.
